NKB 133 ~ tentang rasa bersyukur

Standar

Sudah lebih dari 2 bulan saya tidak menulis di blog ini. Alasannya ada saja.. Kecapekan lah, ga ada ide lah, males lah, dan ujung-ujungnya gara-gara kebanyakan twitteran dan nonton TV. Kalau soal menulis, bukannya saya tidak menulis sama sekali. Setiap hari pun saya menulis naskah-naskah berita untuk pekerjaan saya.

Memang tidak semestinya jika saya menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk tidak mengisi blog ini. Tapi memang ketika sampai kamar kos, rasanya tangan ini sudah tidak mau berkoordinasi dengan otak untuk menghasilkan tulisan (yang semoga bermutu).

Di tengah kesibukan saya dalam pekerjaan dan bermalas-malasan, saya menyempatkan diri untuk sekedar menyapa teman-teman saya lewat twitter atau YM. Pada suatu ketika, teman saya ngetwit sebuah lirik lagu tentang rasa bersyukur. Lagu itu biasa dikumandangkan di gereja GKI, yaitu di buku Nyanyikanlah Kidung Baru no 133. Beginilah lirik lagunya:

Syukur padaMu, ya Allah, atas s’gala rahmatMu;
Syukur atas kecukupan dari kasihMu penuh.
Syukur atas pekerjaan, walau tubuhpun lemban;
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan teman.
Syukur atas bunga mawar, harum, indah tak terp’ri.
Syukur atas awan hitam dan mentari berseri.
Syukur atas suka-duka yang ‘Kau b’ri tiap saat;
Dan FirmanMulah pelita agar kami tak sesat
Syukur atas keluarga penuh kasih yang mesra;
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera.
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah;
Syukur atas pengharapan kini dan selamaNya!

Lagu ini mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur apapun keadaan kita. Bersyukur atas segala sesuatu yang kita miliki. Bersyukur untuk semua yang ada di sekeliling kita. Bersyukur untuk kasih yang boleh kita terima dari keluarga dan sahabat. Bahkan bersyukur untuk setiap hal buruk yang kita alami.

Saya sendiri sangat menyukai lagu ini, terutama pada lirik mengenai pekerjaan. Di situ tertulis “syukur atas pekerjaan walau tubuh pun lemban”. Meskipun tubuh kita lelah, kita masih bisa bersyukur karena kita masih diberi tanggung jawab untuk mengerjakan sesuatu.

Saya pernah ditanya “kak, capek ya jadi reporter?” Dan saya pun menjawab: “ya kalo ga mau capek ga usah kerja :p”.

Saat kita bekerja, kita mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Seorang kuli bangunan harus memeras fisiknya untuk dapat menyelesaikan sebuah bangunan. Seorang akuntan harus menghitung angka-angka hingga menemukan balance. Seorang pengusaha harus terus berpikir untuk berinovasi dan mengembangkan usahanya.

Apapun pekerjaannya, kita harus mengerahkan segenap fisik maupun pikiran untuk bekerja. Tak heran jika tubuh kita pun terasa lelah, meskipun mungkin “hanya” bekerja di belakang meja.

Rasa syukur atas pekerjaan yang kita miliki sangatlah penting, sehingga kita tidak akan bersungut-sungut ketika menemui kesulitan atau harus bekersa “sedikit” lebih keras dari biasanya. Ketika kita bersyukur, kita dapat memberikan yang terbaik. Ketika kita lakukan yang terbaik, jangan heran ketika kita dipromosikan untuk diberi tanggung jawab lebih, yang artinya materi juga lebih.

Jika untuk beryukur pada pekerjaan begitu sulit, coba bayangkan saat kita sedang susah mencari pekerjaan. Bayangkan jutaan orang di luar sana yang masih belum bisa berkarya dan tidak punya alasan untuk bangun di pagi hari. Bayangkan pekerjaan tersulit yang pernah kita kerjakan, dimana pekerjaan kita sekarang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kesulitan kala itu.

Meskipun badan dan pikiran lelah, jangan lupa untuk selalu bersyukur. Fokus saja pada buah yang akan kita terima dari rasa syukur yang kita tanamkan.

🙂

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s