Category Archives: aneh aneh saja

#10tahunAADC

Standar

Konon hari ini adalah peringatan 10 tahun diluncurkannya film Ada Apa Dengan Cinta. Saya jadi ingat pertama kali nonton film ini di bioskop pada tahun 2002 lalu.

Waktu itu saya masih tinggal di Yogyakarta, dan tercatat sebagai salah satu siswa di SLTP Negeri 7 Yogyakarta. Tahun 2002, di Jogja tidak ada yang namanya bioskop twenty one. Kalo mau nonton film, satu-satunya pilihan bioskop yang paling mendingan adalah bioskop Mataram.

Letaknya di daerah Lempuyangan. Saya lupa nama jalannya, yang pasti tepat di depannya ada fly over. Jadi bioskop Mataram ini udah paling keren, walopun cuma punya satu studio saja. Kondisi fisiknya pun saat itu sudah tidak bagus. Bangkunya bau dan konon banyak tikusnya (belom pernah liat langsung sih).

Kembali ke AADC. Film Ada Apa Dengan Cinta ini merupakan film pertama setelah sekian tahun perfilman Indonesia mati suri. Begitu sih katanya. Tapi memang saat itu jarang sekali ada film Indonesia yang bermutu. Bahkan kalo di tempat rental VCD mau pinjem film Indonesia, pasti konotasinya “film begituan”.

Gara-gara film AADC yang mengangkat tentang kehidupan remaja SMA juga, akhirnya banyak sinetron-sinetron yang tokoh utamanya adalah anak SMA. Mengangkat kisah anak SMA ke dalam cerita sinetron seolah-olah menjadi tren saat itu.

Karena dulu saya adalah anak SMP yang (sok) gaul, jadi saya menyempatkan diri untuk nonton film AADC yang digembar-gemborkan orang-orang itu. Walaupun sudah diluncurkan pada bulan Februari, sepertinya film ini agak telat masuk ke Yogyakarta. Saya lupa bulan apa, tapi waktu itu kalo ga salah jaman-jaman ujian akhir.

AADC yang sebegitu fenomenalnya dan diputar di sebuah bioskop kecil di Yogyakarta, tentu sangat tidak sebanding. Animo masyarakat yang ingin menonton film ini begitu besar, sementara kapasitas bioskop tidak memadahi. Bahkan tindakan anarkis sempat terjadi, sampai-samapi meja loket penjualan tiket rusak dan terbalik. Kalo saya sudah jadi reporter, pasti udah PTC deh.. :p

Saya lupa berapa harga tiket resmi waktu itu. Yang pasti, saya dan teman-teman membeli tiket dari calo karena ga ada lagi tiket resmi. Sebagai remaja yang masih polos, tentu saya dan teman-taman mencari jalan mudah. Apalagi, waktu itu kami nontonnya setelah pulang sekolah. Jadi ga mungkin kalo kami nunggu sampe jam pemutaran film di malam hari. Kami pun mendapat tiket dari calo yang jam pemutarannya masih agak sore.

Harga tiket calo yang kami dapat saat itu sekitar 7000-10000 rupiah. Saya agak lupa. Kalo sekarang sih harga segitu sangat murah. Tapi di tahun 2002, buat anak kelas 3 SMP yang uang sakunya cuma dua ribu rupiah sehari, sudah termasuk transport, tentu lumayan berat. Namun demi eksistensi di dunia pergaulan saat itu, saya pun memaksakan diri untuk nonton film AADC.

Filmnya sih memang bagus, walaupun saat itu ada beberapa scene yang tidak saya mengerti. Mungkin memang belum umurnya sih, jadi ya wajar lah.. Saya baru memahami secara utuh film AADC itu setelah diputar di televisi dan saya sudah berusia lebih dewasa.

Selama 2 hari, film AADC akan kembali diputar di bioskop. Saya sih ga kepingin nonton, karena saya bukan tipe orang yang suka nonton film 2 kali, apalagi kalo bayar. Tapi kalo ada yang mau bayarin sih saya mau-mau aja.. *murahan*

Yang pasti, film AADC merupakan bagian dalam kehidupan remaja saya. Usia dimana eksistensi dalam pergaulan sangat penting. Kalo ga ikutan kayanya kurang 9h4oL. Dari AADC juga saya belajar bahwa beli tiket di calo itu merugikan!!

Selamat ulang tahun AADC.. *cubit mbak MiLes*

😀

1st anniversary

Standar

Ini dia hasil “jualan” tulisan saya di blog selama setahun. Jika mengabaikan homepage dan profil saya, nampaknya tulisan “Robohnya Surau Kami” menduduki peringkat tertinggi pembaca terbanyak. Mungkin karena judul itu memang merupakan karya sastra yang sangat terkenal.

Jadi tadi siang hingga sore, hujan mengguyur Batu, Jawa Timur. Saya yang sedang bekerja pun terpaksa berhenti beberapa saat karena tidak mungkin liputan sambil hujan-hujanan.

Waktu lowong itu pun saya gunakan untuk membaca kembali tulisan-tulisan saya di blog ini. Tidak terasa sudah setahun lebih saya mencurahkan isi pikiran saya melalui tulisan di blog. Pertama kali saya posting blog pada tanggal 19 November 2010. Jadi ceritanya blog saya habis berulang tahun. Kasih kado dong. Hehehe.. 😀

Iseng-iseng saya melihat jumlah pembaca berdasarkan judul tulisan selama setahun, dan hasilnya ada di atas. Saya tidak menyangka, ternyata saya bisa juga mencurahkan isi hati selama setahun (walopun sempet berhenti lama). Dari tulisan-tulisan tersebut, saya kembali belajar. Karena memang sesungguhnya, murid pertama dari tulisan kita adalah diri kita sendiri.

Membaca kembali tulisan-tulisan saya, rasanya seperti berjumpa dengan kawan lama. Saya harap ungkapan hati dan pikiran saya boleh berguna bagi orang lain.

Pokoknya tetap inspiratif, informatif dan entertaining. *sambil tiup lilin*

😀

9eN3Ra5i 4L4Y

Standar

aPp4 c1H eAn9 aD4 d1 piK1RaN qt4 k4L0 bCa tLi5aN iN1?

Cukup makan waktu lama untuk menulis kalimat di atas. Saya yakin, ketika membaca tulisan ini, pasti kita langsung berpikir: ALAY!!

Bagi orang yang sudah tidak berusia belasan tahun seperti saya, pasti cukup sulit untuk membaca tulisan tersebut. Membaca saja sulit, apalagi menulisnya. Seperti yang saya katakan tadi, saya butuh waktu lama, bahkan 5 kali lebih lama daripada menulis dalam huruf biasa.

Saya tidak mau membahas soal anak-anak alay. Saya cukup membahas tentang bahasa dan penulisannya saja. Selama ini, bahasa dan tulisan alay dituduh telah merusak tata bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu bangsa ini. (Serius amat yak.. 😀 )

Saya banyak menemui tulisan-tulisan dengan gaya alay di jejaring sosial Facebook. Dan kebanyakan, yang menggunakannya adalah abg-abg berusia belasan tahun. Memang tidak semuanya sih, tapi kebanyakan begitu. Saya sangat maklum jika tulisan bergaya alay sangat digandrungi para abg. Namanya juga remaja, pasti ingin tampil beda dan keluar dari kebiasaan.

Jika saat ini usia saya masih belasan tahun pun, mungkin saya juga akan menggandrungi bahasa alay. Sewaktu saya masih agak muda, saya juga suka menulis dengan gaya alay, meskipun tidak seekstrim sekarang. Dulu, jejaring sosial yang paling nge-hits adalah friendster. Kala itu, saya suka menulis shoutout ataupun testimonial menggunakan gabungan huruf besar-huruf kecil-angka. Saya merasa, tulisan semacam itu sangat keren dan 9ha0L 4Bi3s. 😀

Seiring bertambahnya usia, saya tidak lagi menggunakan gaya tulisan tersebut. Lama-lama malu sendiri. Akhirnya saya insyaf dan kembali pada tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Saya rasa hanya soal waktu saja tulisan bergaya alay akan digunakan abg-abg jaman sekarang. Nantinya saat sudah dewasa, mereka pasti akan malu sendiri dan menganggapnya sebagai masa lalu yang lucu dan malu-maluin. Persis seperti yang saya alami.

Karena itu, tak usah lah sok anti alay. Biarkan saja anak-anak alay berkreasi dengan gayanya sendiri, hingga akhirnya mereka menemukan jati diri sendiri. Kalo dibasmi juga ga akan ada habisnya. Ketika abg-abg beranjak dewasa, akan muncul abg-abg lainnya yang saat ini masih anak-anak. Entah inovasi apalagi yang akan mereka buat.

Bukan berarti membela kaum alay, tapi biarkan saja mereka berkreasi. Hidup udah keras, masa berkreasi sedikit ga boleh.. Kalo emang merasa terganggu dengan tulisan alay, ya ga usah dibaca. Susah amat. Sama seperti makanan, kalo ga doyan ya ga usah dimakan. Masa mau memusuhi yang doyan dan yang bikin makanan? Ya kan.. 🙂

Yah paling tidak inilah pendapat dan ke-sotoy-an saya tentang tulisan alay..
Hidup 4L4Y!! #eh

:p

lampu hijau pelatih kesabaran

Standar

32. Bila lampu hijau pada lampu lalu lintas menyala artinya kendaraan harus…

a. berhenti                                                        c. jalan terus

b. hati-hati                                                        d. dilarang parkir

Ini salah satu contoh soal siswa SD mengenai rambu-rambu lalu lintas. Dan sebagai siswa cerdas tentu saya akan memilih jawaban c. Setahu saya sampai sekarang pun arti dari lampu pengatur lalu lintas masih sama, hanya saja mungkin ditambah “syarat dan ketentuan berlaku”. Apa saja syarat dan ketentuan itu?

LAMPU MERAH yang menyala artinya kendaraan harus berhenti. Namun sepertinya hal tersebut tidak berlaku jika kebetulan jalanan sepi dan tidak ada polisi.

LAMPU KUNING berarti kendaraan harus berjalan pelan-pelan atau hati-hati sekaligus sebagai peringatan sebelum lampu merah menyala. Sekarang ini justru ketika lampu kuning menyala, kendaraan justru memacu kendaraannya lebih cepat sehingga ga kena lampu merah.

LAMPU HIJAU artinya kendaraan boleh berjalan kembali, kecuali jika ada pejabat lewat sehingga pak polisi menahan laju kendaraan.

Sebagai warga negara yang baik, seharusnya kita mematuhi rambu-rambu lalu lintas demi keselamatan diri sendiri dan orang lain. Kalaupun ga mikirin pengguna jalan lain, paling tidak pikirkanlah keselamatan diri sendiri. Pikirkanlah keluarga yang menunggu di rumah atau pacar yang menanti di ujung pengkolan.

Beberapa waktu yang lalu ketika melewati perempatan pancoran, saya melihat seorang bapak-bapak mengendarai sepeda motor melanggar lampu merah. Tepat sesudah dia melintas, lewatlah sebuah truk besar dari arah berlawanan. Saya tidak habis pikir mengapa bapak itu nekat menerobos lampu merah, padahal lima detik kemudian lampu hijau menyala. LIMA DETIK saja dia tidak mau menunggu. Seburu-buru apa sih dia sampai menunggu lima detik saja ga mau. Bayangkan jika saat menerobos dia malah tertabrak truk dan lumpuh atau bahkan meninggal. Bukankah hal tersebut malah menyusahkan keluarganya, istrinya dan anak-anaknya. Saya ga tau juga sih apakah dia sudah berkeluarga atau belum.

Hal serupa juga sering terjadi di perempatan cililitan. Lampu hijau belum menyala namun orang-orang sudah keburu menerobos. Padahal disana kendaraan-kendaraan besar seperti truk, bis kota dan busway sering lewat. Mengerikan!

Kenapa sih orang-orang jakarta (dan saya yakin terjadi juga di kota lain) begitu terburu-buru sampai mempertaruhkan nyawa untuk menerobos lampu lalu lintas? Apalagi waktu yang dikorbankan juga tidak seberapa. Paling hanya hitungan detik. Apa susahnya sabar sedikit tapi selamat sampai tujuan. Tidak ada orang yang mati karena sabar. Yang ada justru sebaliknya.

Sabar adalah ketika kita mampu mengendalikan diri untuk bertindak dengan akal sehat dan kepala dingin. Kesabaran tidak diperoleh begitu saja, namun dari pengalaman hidup. Ada kalanya sesuatu hal membuat kita naik pitam dan ngomel-ngomel. Dari situlah kita dapat belajar untuk mempraktekkan kesabaran. Ketika kita menghadapi masalah dengan sabar, niscaya kita dapat menguraikan benang kusut sehingga masalah dapat terselesaikan dengan baik. Sama seperti ketika kita sabar di jalanan, kita pasti samapi di tujuan dengan selamat. Bayangkan jika kita menghadapi masalah dengan menggerutu. Pasti masalah tersebut bukannya selesai, tapi malah tambah ruwet dan menghasilkan masalah baru dan mendatangkan penyakit!

Di twitter sedang ada gerakan NoCompalintWeek yaitu gerakan untuk tidak menggerutu selama seminggu. Menurut saya gerakan ini baik untuk melatih kesabaran kita. Memang awalnya terpaksa, namun lama kelamaan “keterpaksaan” itu akan menjadi gaya hidup kita. Berawal dari “terpaksa sabar” seminggu, kemudian 2 minggu, 3 minggu, sebulan dan seterusnya, sampai “kesabaran” itu mendarah daging dalam kehidupan kita.

Sabar bukan berarti kita menyerah dalam menghadapi masalah, tapi untuk mengendalikan diri sehingga kita dapat mengambil keputusan benar untuk menyelesaikan masalah.

 

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32)

🙂

kebetulan bertemu

Standar

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengobrol dengan sahabat saya. Karena sudah lama tidak bertemu dan biasanya hanya sekedar chatting, maka kami pun mengobrol ngalor ngidul tanpa arah. Mulai dari mengobrol soal rencana liburan, gosip terbaru dari teman, menu sarapan hingga ujung-ujungnya mengobrol tentang sinetron. Kami bukanlah penggemar sinetron. Paling banter kami cuma nonton sekilas ataupun hanya mendengar dialognya saja. Kami membahas salah satu judul sinetron yang sedang ngetrend di kalangan ibu-ibu dan pembantu rumah tangga, yaitu: Putri Yang Ditukar.

Sinetron ini bercerita tentang dua orang gadis yang sejak bayi ditukarkan oleh seseorang karena orang tua mereka bermusuhan. Saya tidak akan membahas jalan cerita sinetron ini atau pun berkomentar tentang ide ceritanya. Waktu itu saya dan teman membahas suatu fenomena yang ajaib, fantastis bombastis dan spektakuler *lebay*. Di sinetron ini dan sinetron lainnya, banyak sekali atau bahkan semuanya merupakan adegan “kebetulan bertemu”. misalnya saja ketika salah seorang tokoh sedang di rumah sakit, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas ada tokoh lain yang juga sedang di rumah sakit. Atau contoh lain ketika sang anak sedang berjualna kue di jalan dan jatuh tersandung, tiba-tiba sang pacar datang entah darimana untuk menolongnya. Contoh lain yang lebih ekstrim ketika sang ayah kandung disandera di gudang yang berada di padang rumput yang luas dan antah berantah, sang putri bisa-bisanya pergi ke tempat yang sama. Pokoknya hampir semua adegan di sinetron ini “kebetulan bertemu”. Teman saya pun sempat memposting ke blog pribadinya http://cikrin.blogdetik.com/2010/12/28/tidak-sengaja-ketemu/

Dalam kehidupan nyata, saya sendiri sangat jarang mengalami yang namanya “kebetulan bertemu”. Sekalipun saya sedang jalan-jalan dan berada di lokasi yang sama dengan teman saya, seringkali kami malah tidak bertemu. Justru saat melihat akun facebook atau twitter-nya, saya baru tahu kalau tadi kita sempat berada di lokasi yang sama.

Salah satu “kebetulan bertemu” yang menurut saya paling menarik adalah ketika saya sedang ada pekerjaan di Balikpapan tepatnya di mall E-Walk. Untuk memperlancar pekerjaan di sana, saya banyak berhubungan dengan salah satu staf bernama Lisa yang ternyata usianya hanya setahun di atas saya (padahal tadinya manggil Bu Lisa). Jadi ceritanya mall E-Walk ini sedang memperingati hari jadi yang pertama. Untuk memeriahkan acara, mereka mengundang band-band dari Jakarta yaitu The Virgin dan Radja. Mungkin sebagai ajang promosi, mereka juga mengundang tim Insert Trans TV untuk meliput kegiatan The Virgin dan Radja selama di Balikpapan. Nah kru Trans TV yang diutus untuk meliput adalah seorang reporter (lupa namanya) dan seorang camera person bernama Evan.

Acara puncak ulang tahun E-Walk diadakan sekitar pukul 7 malam dan selesai pukul 10.30. Setelah acara selesai saya beristirahat sejenak di kamar hotel yang bersebelahan dengan mall dan kemudian keluar mencari makan malam. Tadinya saya malas keluar karena sudah capek sehingga memutuskan untuk delivery saja. Namun ternyata di Balikpapan belum ada franchise makanan cepat saji yang buka 24 jam. jadi daripada saya kelaparan, saya pun ikut keluar saja. Saya makan malam bersama beberapa staf E-Walk, personil dan tim Radja serta kru Trans TV di salah satu warung kaki lima dengan menu ayam penyet, pecel lele dan lain lain.

Yang namanya makan-makan ga mungkin kita diem-dieman aja. Kami pun mengobrol tentang asal usul kami masing-masing. Dari obrolan itu saya menemukan hal yang sangat menarik. Si Evan ternyata berasal dari kota Semarang. Si Lisa berasal dari Pekanbaru namun semasa kecil pernah tinggal di Semarang juga. Semakin lama mengobrol, sepertinya ada benang merah yang menghubungkan Evan dan Lisa di masa lalu (ceile bahasanyee..). Evan bercerita bahwa dia tinggal di Semarang (entah atas entah bawah, saya kurang mengerti), dulu sekolah di TK ini, menumpang nonton TV di tetangga itu dan lain-lain. Ternyata Lisa pun pernah tinggal tak jauh dari Evan dan bersekolah dan menumpang nonton TV di tempat yang sama. Karena mereka seumuran, saya pun nyeletuk: “Jangan jangan kalian temen TK”. Dan sepertinya memang benar bahwa mereka dulunya berteman dan bertetangga namun saling melupakan. Terpisah laut Jawa yang begitu luas namun takdir mempertemukan mereka kembali sebagai manusia dewasa (lebay ah :p).

Menurut saya kisah Evan dan Lisa tadi sangat menarik karena saya pribadi jarang menjumpai “kebetulan bertemu” yang begitu ekstrim. Teman masa kecil yang terpisah jauh namun bertemu kembali secara kebetulan tanpa rekayasa. Tidak seperti sinetron yang kita tonton dimana setiap hari kebetulan bertemu.

Sekian.