Monthly Archives: November 2013

Masterchef US season 4: Fruitfulness

Standar

Dua-tiga bulan terakhir ini saya menonton ajang pencarian bakat Masterchef US season 4 secara rutin. Season 1-3 saja saya nggak pernah ngikutin, cuma nonton kalo pas lagi nyetel aja. Kalau season 4 ini, saya sengaja meluangkan waktu pada saat weekend untuk nonton di Starworld.

Selama ini sih saya lebih suka nonton Junior Masterchef karena lebih “manusiawi”. Para juri memperlakukan anak-anak peserta ajang pencarian bakat ini dengan halus, bahkan pada saat mereka melakukan kesalahan. Sangat berbeda dengan peserta dewasa yang kadang dimaki sampai makanan buatan mereka dibuang.

Tapi entah kenapa season 4 ini saya tertarik untuk mengikuti. Mungkin karena ada drama yang cukup menarik, di mana ada peserta bernama Krissi yang menjadi public enemy. Menurut saya justru ada peserta antagonis yang arogan dan gemar mencaci inilah yang membuat Masterchef US season 4 lebih menarik.

Masterchef-US-Season-4-Contestants

Nggak cuma Krissi, karakter peserta lain pun cukup menarik, apalagi jika dikaitkan dengan kompetisi masak-memasak yang lumayan ketat ini. Minggu kemarin saya menyaksikan episode Top 3 di mana hanya tersisa Jessie, Natasha dan Luca sebegai pesertanya.

Jessie adalah peserta tercantik pada season 4 ini. Setidaknya menurut saya. Dengan wajah cantik, hidung mancung, rambut blonde panjang dan tubuh langsing, awalnya Jessie hanya disangka bermodal tampang. Tapi pada kenyataannya dia memang pandai memasak sehingga bisa sampai posisi top 3.

Pada setiap penampilannya, saya selalu melihat Jessie menggunakan high heels. Saya sempat bingung sih, apa ya mungkin dia masak pake high heels? Saya baru tahu di episode top 3 kalau Jessia selalu mengganti sepatunya dengan flat shoes pada saat memasak. Mungkin maksudnya biar tetep chantique kalau di depan juri.

Jessie dikenal sebagai peserta yang pintar mengatur waktu. Waktu 45-90 menit yang diberikan untuk menyelesaikan tugas selalu diatur dengan baik sehingga masakan bisa matang dan disajikan tepat waktu.

MC4_Jessie-Lysiak

Pada episode top 3 ini, Jessie sempat teledor melupakan salah satu bahan yang cukup penting, yaitu mentega. Sudah menjadi aturan bahwa peserta dilarang kembali ke pantry pada saat memasak, sehingga satu-satunya jalan adalah meminta dari peserta lain.

Pertama Jessie meminta kepada Natasha. Natasha memiliki 3 blok mentega yang tidak digunakan, sementara Jessie hanya membutuhkan 1 sendok saja. Sebagai pesaing, Natasha berhak untuk memberikan atau menolak permintaan Jessie. Dan Natasha memilih untuk tidak memberikan mentega pada si gadis pirang.

Natasha tidak bisa dibilang jahat karena ia hanya mencoba melindungi dirinya. Bisa saja karena mentega tersebut, masakan Jessie lebih unggul sehingga Natasha bisa dieliminasi. Ini adalah bagian dari strategi. Sebagai peserta Masterchef US, Natasha memang dikenal ambisius dan pandai mengatur waktu.

MC4_Natasha-Crnjac

Ditolak oleh Natasha, Jessie beralih ke Luca. Peserta berdarah Italia ini langsung memberikan sekotak mentega pada Jessie bahkan sebelum diminta. Beberapa episode sebelumnya pun, Luca pernah memberikan bahan masakan pada Natasha karena ia lupa mengambil dari pantry.

Entah settingan atau tidak, menurut saya Luca memang peserta yang paling baik hati. Selain mau berbagi bahan masakan dengan peserta lain, Luca selalu memberikan semangat pada peserta lain. Misalnya saja pada saat ada episode “coming back”, di mana peserta yang sudah tereliminasi berkesempatan kembali ke kompetisi, Luca menyambut dengan gembira. Padahal peserta lain malah nampak nggak suka dan bermuram durja.

MC4_Luca-Manfe

Saya memang belum menonton episode final. Tapi saya sudah tahu bahwa Luca lah pemenag kompetisi masak terbesar di Amerika ini. Menurut saya, kebaikan dan kemurahan hati Luca lah yang telah membawanya menuju kemenangan. Luca mau membagikan benih berupa “kemurahan hati” sehingga akhirnya bisa berbuah “kemenangan”.

Bukan suatu kebetulan jika tema di gereja tempat saya beribadah adalah “fruitfulness” alias “berbuah”. “Buah” adalah lambang untuk sesuatu yang bisa kita berikan untuk orang lain. Selama ini, buah sering dikaitkan dengan berkat berupa kekayaan materi yang bisa kita bagikan pada orang lain. Padahal, buah yang bisa kita berikan pada orang lain bisa berupa kemurahan hati yang kita lakukan.

Contohnya saja Luca yang memberikan “buah” berupa kemurahan hati saat Jessie dan Natasha membutuhkan pertolongan. “Buah” yang diberikan pada orang lain memiliki biji atau benih yang secara tidak langsung kita tanamkan pada orang lain. Suatu saat benih yang kita tabur akan berakar, bertumbuh dan berbuah. Buah yang dihasilkan dari benih yang kita tanam pun bisa kita nikmati kembali, bahkan dalam jumlah yang lebih besar karena dari satu benih bisa menghasilkan banyak buah.

“Buah” yang dinikmati Luca adalah kemenangan Masterchef US season 4. Karena mau memberi buah berupa kemurahan hati pada pesaingnya, Luca mendapat 250.000 USD, buku memasa karangannya sendiri dan yang pasti kesempatan lebih besar di dunia kuliner.

Menabur benih berupa “kemurahan hati” alias “generosity” sebetulnya gampang. Hanya kadang-kadang sisi kemanusiaan berupa keegoisan yang enggan melakukannya. Saya sendiri masih butuh terus diingatkan tentang kemurahan hati. Kadang ingat, lebih sering nggak ingat. Tapi satu hal yang pasti, semua yang kita tabur pasti akan kita tuai.

“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:6-7).