Monthly Archives: Agustus 2012

yang hilang biarlah berlalu..

Standar

Kehilangan sesuatu, baik itu barang atau seseorang, tentu membawa beban tersendiri bagi kita. Itulah yang saya alami sekitar 2 bulan yang lalu. Kehilangan sebuah ponsel yang baru saya miliki tak sampai 1 bulan. Sebuah ponsel Mito 720 yang bisa buat nonton tipi. Kisah singkat saya bersama si Mito bisa dibaca disini. Untung saja kebersamaan saya bersama si Mito hanya beberapa minggu, belum sampai 3,5 tahun. Kalau kebersamaan kami selama itu dan akhirnya harus pupus di tengah jalan, pasti rasanya menyakitkan. *iki opo sih*

Tapi sesuatu yang hilang pasti ada gantinya. Dan harus lebih baik. Sebagai ganti Mito yang hilang sebetulnya saya mengincar ponsel bersistem operasi Android. Beberapa ponsel Android murah sudah saya incar, seperti Samsung Galaxy Y dan Sony Xperia Tipo.

 

Kedua ponsel ini harganya di atas 1,2 juta rupiah. Membuat saya harus berpikir berulang kali untuk memilikinya, karena saya sudah menggunakan Blackberry. Menurut saya, orang dengan dua smartphone agak aneh dan bikin boros tagihan pulsa.

Hingga suatu hari, tepatnya Jumat minggu lalu, saya berkeliling masjid Tebet Mas sambil menunggu rekan saya sholat jumat. Di halaman masjid terdapat sebuah stand Smartfren. Iseng-iseng saya melihat ke stand tersebut. Ternyata di situ tersedia gadget bersistem operasi Android. Ada Smartfren Andro Tab, semacam versi murahnya Galaxy Tab. Yang menarik perhatian saya justru ponsel bersistem operasi Android yang dijual cukup murah, yaitu 1,4 jutaan untuk ponsel berlayar 4 inch dan 800 ribuan untuk yang berlayar 3,5 inch. Keduanya sudah menggunakan Android 4.0 Ice Cream Sandwich.

Saya sangat tertarik, karena harganya sangat murah dan ketika dicoba, touchscreennya sangat mulus, begitu pula saat mencoba streaming aplikasi MyTrans. Kelebihannya lagi, ponsel ini bisa digunakan sebagai sumber hotspot mobile. Jadi jika tadinya saya ingin memiliki ponsel Android tanpa berlangganan internet dan hanya mengandalkan WiFi saja, sepertinya saya bisa mendapat lebih dari ponsel ini. Apalagi belakangan modem Smartfren yang setahun lalu saya beli dengan harga sangat murah sudah mulai error. Saya pikir tidak ada salahnya jika saya membeli ponsel seharga 800ribuan dan menggunakannya sebagai pengganti modem.

Saya tidak langsung membeli di halaman masjid itu, karena saya masih harus berpikir dan harus melanjutkan pekerjaan terlebih dahulu. Namun namanya sudah naksir, pasti kepikiran terus sepanjang hari dan sepanjang weekend. Akhirnya saya pun membeli ponsel Smartfren Andromax Hisense E860 dengan sistem operasi Android 4.0.3.

 

Mito 720 saya pun sudah tergantikan. Dan sesuai tujuan saya membeli Mito dulu, saya masih bisa menonton tayangan Trans 7 melalui aplikasi MyTrans. Kadang memang suka putus-putus, tapi itu pun sudah cukup buat saya. Saya juga bisa memensiunkan modem yang sudah error, karena saya bisa berselancar menggunakan WiFi pribadi melalui ponsel ini. Ibaratnya sekali makan, dua tiga menu terlampaui.

 

Berbagai aplikasi dan games yang selama ini hanya bisa saya mainkan melalui tablet milik teman saya pun kini bisa saya miliki sendiri. Saya bisa eksis di Intagram, main Draw Something atau pun main Air Traffic Controller. Buat yang menggalau gara-gara keinget mantan terus, mungkin ponsel ini bisa dijadikan pelarian karena banyaknya aplikasi-aplikasi unyu dan gratis.

Coba saja game Temple Run, di mana seolah-olah kita lari dari sebuah kuildan dikejar-kejar makhluk menyeramkan. Anggap saja kita sedang lari dari kenyataan hidup. Lari dari kenyataan bahwa kita masih menyimpan cinta. Lari dari kenyataan bahwa kita masih mengharapkannya kembali. *iki kok malah galau to*

Yang pasti, semoga henpon ini bisa awet di tangan saya dan gak ditaro sembarangan kaya Mito 720 yang berakhir dengan kehilangan. Dan mungkin Smartfren butuh bintang iklan, saya bersedia.. *tetep*

Hahahaaa 😀

bermimpi lagi dan lagi

Standar

Film yang mengangkat tema dunia tarian selalu menarik hati saya. Libur terakhir kemarin pun (ya, saat orang lain libur sampai tanggal 23, saya sudah masuk tanggal 21) saya manfaatkan untuk menonton film Step Up 4 Revolution. Hentakan musik dan gerakan tubuh yang seirama dengan musik mewarnai hampir seluruh bagian film.

Sama seperti film bertema tarian lainnya, Step Up 4 Revolution ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang ingin menunjukkan pada dunia bahwa seseorang dapat meraih kesuksesan melalui tarian. Pada awalnya tujuan mereka sederhana saja, yaitu ingin memenangkan kontes dari Youtube. Namun tujuan mereka berubah haluan saat sebuah perusahaan pengembang hendak menghancurkan lingkungan tempat tinggal mereka.

Film bertema tarian yang saya saksikan sebelumnya adalah Streetdance 2.  Saya menyaksikan kedua film ini dalam format 3D. Bukannya nggaya, tapi karena kebetulan bioskopnya lagi promo, jadi harganya murah. Hehehe.. ;p

Film Streetdance 2 juga bercerita tentang Ash, seorang penari yang ingin memenangkan kontes penari jalanan terbaik se-Eropa. Mengumpulkan penari dari berbagai belahan Eropa dan mempelajari tarian latin menjadi cara jitu Ash untuk memenangkan kontes.

Kedua film berlatar dunia tarian ini memiliki satu pesan yang sama: follow you passion. Para tokoh dalam film sering menemukan kenyataan bahwa menjadikan tari sebagai profesi tidaklah mudah.

“berapa banyak perbandingan orang yang sukses sebagai penari? 1 banding 1000? 1 banding 10000?”

Begitulah kata Bill Anderson, salah satu tokoh dalam film Step Up 4 saat mengingatkan putrinya, Emily Anderson yang bersikeras ingin berkarir sebagai seorang penari. Kenyataannya memang begitulah adanya. Seseorang yang sukses dari menari tidaklah sebanyak orang yang sukses dari bekerja kantoran.

Bekerja sesuai passion tentu menjadi dambaan bagi banyak orang (yang tau apa passionnya). Namun memang harus disadari, bekerja sesuai passion tidak menjamin kehidupan akan dilimpahi kemakmuran. Kalo kata iklan salah satu provider, hidup itu bebas untuk memilih (asal bisa membuat orang di sekitar pun senang).

Kita bebas memilih untuk bekerja sesuai passion tapi kurang makmur, atau bekerja tidak sesuai passion tapi bisa jadi kaya secara materi. Sebebas-bebasnya memilih, tentu kita harus mempertimbangkan setiap konsekuensinya. Bagi saya, orang tua menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan ke mana arah hidup saya.

Saya pernah menjalani pekerjaan yang tidak sesuai impian saya dengan gaji yang jauh dari makmur (kasihan banget yak). Tapi saya bertahan selama setahun dengan pertimbangan tidak ingin lagi menyulitkan orang tua yang sudah membiayai saya sejak kecil hingga lulus kuliah. Saya harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, meskipun artinya saya harus makan ati setiap hari.

Dalam kedua film di atas, para tokoh seolah begitu mudah menjalani hidup sesuai passion. Yah karena pertimbangan durasi, perjuangan para tokoh untuk meraih mimipi pun akhirnya tidak sia-sia dan menjadi kenyataan.

Ash dan kawan-kawan dalam film Streetdance 2 akhirnya memeproleh kemenangan pada kontes penari jalanan se-Eropa. Sementara sekelompok penari dalam film Step Up 4 akhirnya sukses menghalangi perusahaan pengembang untuk menghancurkan lingkungan tempat tinggal mereka, plus mendapat kontrak dari salah satu perusahaan sepatu terkemuka di dunia.

Tidak pernah berhenti berjuang menjadi kunci bagi para tokoh untuk akhirnya meraih impian mereka. Perjuangan mereka berujung pada kesuksesan dan membawa mereka pada kemakmuran.

Pada kenyataannya, berjuang dalam hidup tidaklah semudah dalam film. Mungkin perlu bertahun-tahun bagi orang-orang yang akhirnya sukses dari mengikuti kata hatinya. Bahkan seringkali saya berpikir, apakah memperjuangkan keinginan harus dilakukan terus menerus? Ataukah ada saatnya kita harus berhenti memperjuangkan keinginan kita dan melihat kemungkinan lain yang dapat membawa kita pada kesuksesan? Dan kapan kah kita harus berhenti berjuang? Lalu apa yang harus dilakukan jika kita sudah meraih impian kita?

Saat ini saya sudah bekerja sebagai reporter di Trans 7. Menjadi seorang reporter memang impian saya sejak kecil. Saya sendiri tidak mengerti kenapa saya tidak pernah bercita-cita menjadi dokter, pilot atau astronot seperti normalnya anak-anak saat ditanya tentang cita-cita. Lalu apa yang harus saya lakukan saat impian saya sudah tercapai?

Bermimpi lagi. Memiliki cita-cita baru. Saat ini saya sudah bekerja sesuai mimpi saya dulu dan sekarang saya memiliki cita-cita baru. Cita-cita yang menjadi alasan saya bangun setiap hari. Yang membuat saya bersemangat menjalani hidup (kecuali pada saat galau). :p

Sampai saatnya tiba, saya hanya bisa menjalani hidup sambil bermimpi dan berusaha, hingga akhirnya saya berhasil meraih impian atau harus berhenti berjuang. Lalu apa mimpi baru saya? Mau tauk aja. Kepo deh! :p

liburan sambil katarsis

Standar

Dalam kehidupan, pasti ada titik jenuh dimana kita merasa ingin lari dari rutinitas dan melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Dalam ilmu psikologi, cara seseorang untuk memperoleh kelegaan jiwa dengan meluapkan setiap emosi disebut katarsis. Saya mengenal istilah katarsis dari seorang teman lulusan psikologi, yang akhirnya kata tersebut sering kami gunakan pada saat kami ingin meluapkan emosi.

Meluapkan emosi bisa dilakukan dengan cara negatif atau positif. Pengrusakan, tindak kekerasan bahkan pembunuhan bisa jadi merupakan wujud peluapan emosi. Tentu saja saya dan teman-teman tidak melakukan tindakan senekat itu. Bisa-bisa masuk TV cuma karena pengen meluapkan emosi secara negatif. Eh padahal saya udah sering sih masuk tipi. Hahahaaa.. *nggaya*

Waktu berkumpul bersama para sahabat pun menjadi saat yang sangat berharga. Pada saat ada waktu berkumpul, saya selalu menyempatkan diri untuk mengungkapkan emosi jiwa melalu beberapa lagu. Ya, lagu. Kami sering menjadikan bilik karaoke sebagai tempat untuk menyalurkan energi negatif kami yang penuh dengan kejenuhan. Dengan para sahabat, saya bisa meluapkan apa saja melalui lagu apa pun. Mau lagu mendayu-ndayu, lagu 90an yang penuh dengan kalimat menye-menye hingga campur sari yang paling enak dinyanyikan sambil joget.

Saya biasa melakukan katarsis di Jogja, di mana sahabat-sahabat saya tinggal. Namun sejak april lalu, salah seorang sahabat saya meninggalkan kota pelajar untuk merasakan bagaimana sulitnya mencari segenggam berlian di ibukota. Lokasi katarsis yang semula sering dilakukan di Jogja pun ikut pindah ke ibukota.

 

Image

Dua minggu yang lalu, saya dan teman-teman pergi ke salah satu lokasi wisata terkenal di Jakarta Utara, sebut saja Dufan. Kami sengaja memilih Dufan untuk bersenang-senang karena sepanjang bulan ramadhan ini, tiket masuk Dufan diskon 50 persen dengan membawa flyer diskon. Diskon tambahan 10 persen juga diberikan bagi pelancong yang menggunakan kartu BCA dan BNI. Namanya juga anak rantau, segala diskon harus dimanfaatkan secara maksimal supaya hemat bersahaja.

Berbagai wahana di Dunia Fantasi kami coba untuk menyalurkan energi negatif kami. Mulai dari wahana sederhana seperti Bianglala yang hanya berputar-putar dari atas ke bawah, wahana ekstrim yang memicu adrenalin, hingga permainan yang nampaknya biasa namun membuat seluruh tubuh sakit dan mual-mual, sebut saja Pontang-pontang.

Image

Teriakan, makian, tawa bahagia dan canda mewarnai setiap langkah kami di Dunia Fantasi. Itulah wujud luapan emosi kami terhadap penatnya rutinitas hidup. Lelahnya jiwa kami akan “kehidupan nyata” membuat kami sangat menikmati setiap detik di dalam “dunia fantasi”. Waktu mengantri pun kami habiskan dengan saling bercerita, bercanda dan bergosip. *yang terakhir lebih banyak sih* :p

Meluapkan emosi melalui berbagai wahana ternyata membuat otak kami berpikir yang tidak-tidak. Misalnya saja ketika bermain wahana pontang-pontang, kami berpikir bahwa dalam kehidupan sudah pontang panting bekerja, eh di tempat wisata masih harus mengalami pontang-pontang. Permainan ini sebenarnya hanya berputar-putar dengan kecepatan tinggi, jadi kami bertiga (ya, kursinya cukup buat bertiga) seringkali harus mendapat tekanan dari teman lain yang membuat badan sakit semua.

Salah satu kebanggaan kami di Dufan adalah kami merupakan turis yang mandiri. Ketika pengunjung lain bergantian mengabadikan setiap momen, bahkan terkadang bingung mencari pertolongan orang lain, kami tak perlu risau dan gundah gulana. Sebagai turis mandiri, kami menggunakan tripod mini sehingga tak perlu merepotkan orang lain saat ingin mengabadikan gambar bersama.

Image

 

Karena masih dalam suasana berpuasa, kondisi Dufan tidak seramai akhir pekan biasa. Bahkan kami dapat mencoba wahana di dufan lebih dari satu kali. Misalnya saja wahana Tornado dan Kicir-kicir, yang mampu membuat kita mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa saking seramnya. Saat mencoba wahana untuk kedua bahkan ketiga kalinya, kami merasakan bahwa adrenalin yang kami rasakan berkurang jauh daripada waktu pertama mencoba.

Image

Seperti biasa, ketika berkumpul bersama para sahabat waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore yang artinya kami harus segera pergi dari area Dufan.Sangat disayangkan, rencana kami semula untuk menaiki komidi putar sebagai wahana penutup gagal total karena wahana sudah tidak menerima pengujung lagi.akhirnya kami hanya bisa pasrah sambil foto-foto saja. 😦

Berkaca dari pengalaman seru di Dufan bersama sahabat, kami menilai bahwa berlibur adalah salah satu kegiatan penting supaya kondisi mental tetap sehat. Berlibur bersama sahabat pun bukan berarti harus jauh atau mahal. Dengan siapa kitaberlibur jauh lebih penting daripada di mana kita berlibur. 🙂

Mari membaca. Mari menulis. :)

Standar

Sejak kecil, saya hobi membaca. Bukan baca buku tebal, apalagi buku pelajaran. Saya suka membaca komik, terutama komik-komik Jepang. Hobi membaca komik ini didukung dengan teman-teman saya yang punya segudang koleksi komik, ditambah tempat persewaan komik yang jauh lebih terjangkau daripada beli. Alasan saya ga mau beli komik, tentu saja karena harganya mahal dan uang saku saya akan habis sia-sia kalo beli komik. Apalagi saya kalo baca komik cepet banget, paling setengah jam sampai satu jam juga udah selesai. Tergantung jenis komiknya sih.. Kalo komik ringan kaya Doraemon atau Shinchan pastinya lebih cepat dibanding komik yang perlu mikir kaya Detektif Conan atau Q.E.D.

Tempat persewaan komik langganan saya dulu bernama KK, kependenkan dari “Kejujuran awal dari Kepercayaan”. Letaknya tak jauh dari rumah saya, sehingga saya pun bisa sering-sering mengunjungi KK. Di KK inilah saya menemukan kesenangan membaca komik. Bahkan terkadang, saya bisa ketawa-ketawa sendiri waktu baca komik, yang membuat ibu saya geleng-geleng kepala. Padahal saya gak sekedar tertawa lho.. Banyak juga pengetahuan yang bisa kita dapat dari membaca komik. Misalnya saja, dari komik Detektif Conan saya tau bahwa kandungan tanin dalam teh berguna untuk menetralisir bisa ular laut. Atau dari komik Doraemon saya bisa tau apa itu garis cakrawala.

Beranjak remaja, kebiasaan menyewa komik sedikit berkurang karena banyaknya tugas sekolah. Selain komik, saya pun mulai melirik bacaan yang isinya tulisan semua dan ga ada gambarnya. Seperti novel horor karangan R.L Stine atau novel misteri Agatha Christie (padahal yo rodo ra mudeng). Saat remaja pula saya mulai membaca novel Harry Potter yang tebalnya udah kaya Alkitab. Padahal baca Alkitab aja saya jarang. Hehehee.. Dari situlah saya mulai menemukan kesenangan membaca cerita fiksi yang isinya tulisan semua, sehingga hanya mengandalkan imajinasi sendiri saat membaca kata demi kata.

Seiring pertambahan usia dan kecanggihan teknologi, hobi membaca saya berkembang pada blog walking. Saya mulai suka membaca blog-blog yang berisi opini, resensi, kisah inspiratif atau pun tentang pengetahuan umum. Tak ingin hanya menjadi pembaca, saya mencoba membuat blog untuk pertama kalinya pada tahun 2007. Dulu waktu saya masih aktif di jejaring sosial Friendster, ada fitur untuk membuat blog. Saya mencoba membuat blog di situ, dan hasilnya kosong melompong. Saya tidak tahu apa yang harus saya tulis di situ dan saya sadar bahwa menulis ternyata bukan perkara mudah. Makanya dari SD kita dibiasakan membuat karangan. Mungkin itu berguna untuk mengasah kemampuan kita untuk menulis dan mengemukakan pendapat.

Dua tahun kemudian saya mencoba lagi untuk membuat blog. Kali ini saya memilih blogspot sebagai wadah untuk mencoba menyalurkan pikiran saya melalui tulisan. Lagi-lagi hasilnya nihil, karena saya masih tidak mengerti bagiama sebaiknya memulai sebuah paragraf. Bertepatan dengan kebingungan saya untuk mulai menulis di blog, jejaring sosial twitter mulai ngetren di kalangan orang dewasa yang sudah muak dengan alay-alay Facebook. Saya ikut tenggelam pada era twitter, yang akhirnya membuat saya belajar bagaimana mengutarakan pikiran dengan 140 karakter saja.

Pada era twitter banyak orang mulai malas menulis di blog. Alasannya sih “twitter kan microblogging, jadi secara gak langsung gw tetep ngeblog dong..”. Sebaliknya, saya justru ingin menyampaikan isi pikiran saya lebih dari 140 karakter. Saya mulai mencoba lagi untuk membuat sebuah akun blog di WordPress. Alasan saya memilih WordPress adalah kemudahannya dalam mengoperasikan dan adanya aplikasi WordPress for Blackberry yang membuat saya bisa posting blog kapan pun di mana pun.

Berawal dari coba-coba, saya menemukan kesenangan dalam menuangkan isi pikiran saya dalam bentuk tulisan. Walaupun pekerjaan sehari-hari saya juga menulis naskah berita, rasanya lebih menyenangkan jika menulis sesuai keinginan sendiri melalui blog. Yah meskipun kadang isinya suka gak mutu, saya senang bisa mengungkapkan isi hati lewat blog ini. Apalagi kalau tulisan saya bisa menjadi bahan renungan untuk orang lain.

Di samping hobi membaca blog orang lain, saya juga hobi membaca timeline twitter (sebenernya hampir setiap saat sih). Di twitter, saya sering membaca twit berseri baik dari akun yang saya follow maupun akun yang sekedar membuat kepo. Tak tanggung-tanggung, twit berseri bisa mencapai angka ratusan karena keterbatasan karakter. Agak sayang sih menurut saya, mengingat twit berseri yang diberikan biasanya sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan.

Misalnya saja, saya follow akun yang setiap hari memberi tips-tips untuk transaksi saham. Kalau tips tersebut ditulis dalam blog, tentu lebih mudah dicari. Berbeda dengan twit berseri yang begitu mudah tertelan timeline, sehingga sulit dicari jika saya ingin membaca lagi tips-tips sebelumnya.

Saya pernah ditanya oleh seorang teman, bagaimana menemukan ide untuk ngeblog? Sebetulnya ide bisa datang dari mana saja, bahkan dari hal remeh temeh yang kita temui sehari-hari. Seperti tulisan saya balas dendam masa kecil yang idenya datang waktu makan pizza. Atau tulisan saya cheaters never win and winners never cheat yang idenya berasal dari animasi mr Bean. Artinya, banyak pelajaran yang dapat kita petik dari setiap kejadian di sekitar kita.

Sekarang sudah banyak kok aplikasi blog di smartphone. Jadi smartphone kita ga cuma dipake buat microblogging yang karakternya terbatas aja. Dengan blog beneran, kita bisa mulai membagikan apa isi pikiran kita melalui smartphone tanpa dibatasi karakter.

Mari membaca. Mari menulis. 🙂

———————————————–
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” ~ Pramoedya Ananta