Monthly Archives: Februari 2011

Tentang NoComplaintWeek

Standar

Selama seminggu ini, ada gerakan NoComplaintWeek yang berlangsung sejak hari senin tanggal 14 hingga 20Februari. NoComplaintWeek mengajak orang-orang untuk tidak mengeluh selama seminggu, di dunia nyata dan dunia maya. Jika tidak mengeluh di dunia maya seperti twitter atau facebook, tentu tidak terlalu sulit. Namun jika menahan keluhan di dunia nyata? Tentu saja itu tantangan berat!

Menurut saya gerakan ini merupakan ajang untuk introspeksi diri. Seringkali kita mengeluh hanya karena kejadian kecil. Misalnya saja tentang peristiwa yang baru saja terjadi dan masih hangat diperbincangkan, yaitu: UberTwitter yang mati suri! Sebenarnya hal tersebut bukan masalah besar. Toh masih banyak aplikasi lain yang bisa dipakai untuk twitteran. Atau misalnya ketika catering kantor tidak sesuai dengan selera kita. Dengan cepat kita bisa mengeluh, “ck..kok lauknya ini sih..” Hey, bukankah masih bisa makan itu merupakan anugerah? 🙂

Tanpa kita sadari, “mengeluh” sudah menjadi gaya hidup kita. Jika ada yang tidak sesuai dengan kehendak kita, dengan cepat kalimat keluhan meluncur dari lidah kita. Berdasarkan kesaksian teman-teman di blog tersebut, seringkali kita terlambat menyadari bahwa kita baru saja mengeluh. Tapi masih untung kalau sadar sih, daripada udah ngeluh tapi ga sadar! Dari kesadaran itulah kita dapat introspksi diri dan memperbaiki sikap. Kita mulai berlatih untuk mengendalikan diri untuk tidak mengeluh lagi. Dan bahkan lebih baik lagi, kita melatih diri untuk selalu bersyukur.

Jika “mengeluh” saja dapat menjadi gaya hidup kita, saya pikir “bersyukur” juga bisa. Kita dapat bersyukur untuk segala sesuatu yang kita terima, meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan harapan. Daripada mengeluh karena banyak kerjaan, bukankah sebaiknya kita bersyukur karena di luar sana masih banyak orang yang menganggur? Daripada kita mengeluh karena hujan turun padahal kendaraan baru saja dicuci, alangkah baiknya jika kita bersyukur karena hujan membuat udara menjadi sejuk dan enak buat tidur siang. :p

Selama seminggu kita telah belajar mengendalikan diri untuk tidak mengeluh. Namun alangkah baiknya jika hari-hari kedepan kita masih mengendalikan diri. Tidak usah muluk-muluk untuk melanjutkan sampai NoComplaintMonth segala. Cukup kita sendiri yang melatih diri untuk tidak mengeluh dan senantiasa bersyukur. Karena mengeluh tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik, sedangkan sabar dan bersyukur merupakan salah satu kunci sukses.

Saya bukan orang yang sempurna. Saya pun seringkali mengeluh. Namun saya juga ingin mengubah kebiasaan saya yang buruk sehingga saya tidak menjadi pribadi yang pengeluh, namun menjadi pribadi yang selalu bersyukur. Jika kita melihat orang-orang yang keadaannya jauh lebih susah daripada kita, tentu tidak ada alasan bagi kita untuk mengeluh, seperti yang dapat kita lihat di sini
Hidup kita pasti lebih menyenangkan jika kita mulai bersyukur. 🙂

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).

🙂

lampu hijau pelatih kesabaran

Standar

32. Bila lampu hijau pada lampu lalu lintas menyala artinya kendaraan harus…

a. berhenti                                                        c. jalan terus

b. hati-hati                                                        d. dilarang parkir

Ini salah satu contoh soal siswa SD mengenai rambu-rambu lalu lintas. Dan sebagai siswa cerdas tentu saya akan memilih jawaban c. Setahu saya sampai sekarang pun arti dari lampu pengatur lalu lintas masih sama, hanya saja mungkin ditambah “syarat dan ketentuan berlaku”. Apa saja syarat dan ketentuan itu?

LAMPU MERAH yang menyala artinya kendaraan harus berhenti. Namun sepertinya hal tersebut tidak berlaku jika kebetulan jalanan sepi dan tidak ada polisi.

LAMPU KUNING berarti kendaraan harus berjalan pelan-pelan atau hati-hati sekaligus sebagai peringatan sebelum lampu merah menyala. Sekarang ini justru ketika lampu kuning menyala, kendaraan justru memacu kendaraannya lebih cepat sehingga ga kena lampu merah.

LAMPU HIJAU artinya kendaraan boleh berjalan kembali, kecuali jika ada pejabat lewat sehingga pak polisi menahan laju kendaraan.

Sebagai warga negara yang baik, seharusnya kita mematuhi rambu-rambu lalu lintas demi keselamatan diri sendiri dan orang lain. Kalaupun ga mikirin pengguna jalan lain, paling tidak pikirkanlah keselamatan diri sendiri. Pikirkanlah keluarga yang menunggu di rumah atau pacar yang menanti di ujung pengkolan.

Beberapa waktu yang lalu ketika melewati perempatan pancoran, saya melihat seorang bapak-bapak mengendarai sepeda motor melanggar lampu merah. Tepat sesudah dia melintas, lewatlah sebuah truk besar dari arah berlawanan. Saya tidak habis pikir mengapa bapak itu nekat menerobos lampu merah, padahal lima detik kemudian lampu hijau menyala. LIMA DETIK saja dia tidak mau menunggu. Seburu-buru apa sih dia sampai menunggu lima detik saja ga mau. Bayangkan jika saat menerobos dia malah tertabrak truk dan lumpuh atau bahkan meninggal. Bukankah hal tersebut malah menyusahkan keluarganya, istrinya dan anak-anaknya. Saya ga tau juga sih apakah dia sudah berkeluarga atau belum.

Hal serupa juga sering terjadi di perempatan cililitan. Lampu hijau belum menyala namun orang-orang sudah keburu menerobos. Padahal disana kendaraan-kendaraan besar seperti truk, bis kota dan busway sering lewat. Mengerikan!

Kenapa sih orang-orang jakarta (dan saya yakin terjadi juga di kota lain) begitu terburu-buru sampai mempertaruhkan nyawa untuk menerobos lampu lalu lintas? Apalagi waktu yang dikorbankan juga tidak seberapa. Paling hanya hitungan detik. Apa susahnya sabar sedikit tapi selamat sampai tujuan. Tidak ada orang yang mati karena sabar. Yang ada justru sebaliknya.

Sabar adalah ketika kita mampu mengendalikan diri untuk bertindak dengan akal sehat dan kepala dingin. Kesabaran tidak diperoleh begitu saja, namun dari pengalaman hidup. Ada kalanya sesuatu hal membuat kita naik pitam dan ngomel-ngomel. Dari situlah kita dapat belajar untuk mempraktekkan kesabaran. Ketika kita menghadapi masalah dengan sabar, niscaya kita dapat menguraikan benang kusut sehingga masalah dapat terselesaikan dengan baik. Sama seperti ketika kita sabar di jalanan, kita pasti samapi di tujuan dengan selamat. Bayangkan jika kita menghadapi masalah dengan menggerutu. Pasti masalah tersebut bukannya selesai, tapi malah tambah ruwet dan menghasilkan masalah baru dan mendatangkan penyakit!

Di twitter sedang ada gerakan NoCompalintWeek yaitu gerakan untuk tidak menggerutu selama seminggu. Menurut saya gerakan ini baik untuk melatih kesabaran kita. Memang awalnya terpaksa, namun lama kelamaan “keterpaksaan” itu akan menjadi gaya hidup kita. Berawal dari “terpaksa sabar” seminggu, kemudian 2 minggu, 3 minggu, sebulan dan seterusnya, sampai “kesabaran” itu mendarah daging dalam kehidupan kita.

Sabar bukan berarti kita menyerah dalam menghadapi masalah, tapi untuk mengendalikan diri sehingga kita dapat mengambil keputusan benar untuk menyelesaikan masalah.

 

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32)

🙂

ahmadiyah

Standar

Sejak tadi siang, timeline di twitter saya ramai membicarakan tentang “penyerbuan” ormas agama ke tempat tinggal ahmadiyah di di Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang. Tadinya saya tidak mau berkomentar karena ini menyangkut SARA dan memang kedua pihak yang bertikai tidak ada sangkut pautnya dengan keyakinan yang saya anut. Namun saya merasa tergelitik ketika membaca salah satu twit yang tertulis demikian:
@rezagunawan: “Diam itu emas” tdk selalu tepat. Buat saya pribadi, diam tak beropini krn topik agama itu SARA, justru menyirami kekerasan beragama

Timeline twitter saya berisi berbagai macam opini tentang kejadian ini. Ada yang memaki-maki ormas yang melakukan penyerbuan. Sebagian bertanya-tanya tentang pihak kepolisian yang seolah-olah malah membiarkan aksi tersebut. Banyak juga yang sudah menebak reaksi presiden tentang kejadian ini.

Saya sadar bahwa saya tidak berkompeten untuk mengatur apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan pemimpin negara ini. Saya juga tidak ingin memaki atau bahkan mengutuk pihak-pihak yang menyerbu warga ahmadiyah.

Kekerasan terhadap warga Ahmadiyah sebenarnya bukanlah hal baru. Hal ini sebenarnya dipicu oleh sebagian umat Islam yang tidak terima jika warga Ahmadiyah menyebut dirinya Muslim. Pada dasarnya memang ada perbedaan antara ajaran Islam yang sesungguhnya dengan ajaran ahmadiyah

Saya tidak akan membahas perbedaan ajaran tersebut. Saya hanya ingin membagikan bahwa dalam setiap keyakinan, pasti ada perbedaan pendapat tentang kebenaran, bahkan sampai dianggap sesat.

Saya adalah orang Kristen. Dalam ajaran agama Kristen, Yesus adalah Allah sejati dan Manusia sejati. Ia adalah jalan satu-satunya untuk kita dapat memperoleh kekekalan bersamaNya. Umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Allah yang turun ke bumi, ke dunia manusia yang fana dan penuh kedagingan untuk menebus umat manusia dari dosa.
Kami yang meyakini hal tersebut menyebut diri kami sebagi orang Kristen yang artinya pengikut Kristus. Namun ada juga keyakinan yang menganggap bahwa Yesus bukanlah Allah. Keyakinan tersebut mengajarkan bahwa Yesus hanyalah malaikat tertinggi ataupun manusia sakti. Dan orang-orang yang mengimaninya juga menyebut dirinya Kristen. Dan kami umat Kristen menganggap mereka adalah ajaran sesat.
Namun bukan berarti umat Kristen menyerbu, mengusir atau bahkan membunuh orang-orang yang dianggap sesat. Kami hanya memperkuat iman kepercayaan kami sendiri, agar ketika ada pihak yang ingin mendoktrinasi kami dengan ajaran sesat, iman kami tetap kuat dan tidak goyah.

Bukan hal baru bagi umat Kristen menghadapi sepak terjang ajaran sesat seperti saksi Yehova, kristen science ataupun gereja mormon. Namun yang kami lakukan adalah tetap waspada dan memperingatkan kepada umat Kristen agar jangan sampai terjebak untuk masuk ke dalam ajaran yang salah.

Bukankah sebenarnya apa yang dialami umat Kristen juga sama dengan umat Islam? Sama-sama ada ajaran sesat yang menyatakan diri Kristen atau Islam. Solusinya cukup memperkuat iman diri sendiri dan memperingatkan umat yang lain agar waspada dan tidak terjebak ajaran sesat. Tidak perlu menyerbu, mengusir apalagi membunuh.

Saya percaya banyak umat Islam yang berpikiran maju dan tidak mudah terporvokasi. Namun segelintir umat Islam yang melakakukan kekerasa terhadap pihak lain sungguh mengkhawatirkan dan dapat merusak kerukunan bangsa. Saya hanya ingin bangsa ini rukun dan damai. Jangan hanya karena persoalan agama, kita memusuhi saudara sebangsa. Perang fisik dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya menimbulkan kerugian.

Demikian pendapat pribadi saya tentang penyerbuan terhadap warga Ahmadiyah. Mari kita tingkatkan iman dan keyakinan kita agar tidak mudah jatuh ke dalam ajaran sesat. Jauhi kekerasan dan hadapi setiap persoalan dengan damai.

Be blessed 🙂

burlesque

Standar

Beberapa waktu yang lalu saya menonton “Burlesque”, film yang menurut saya sangat menarik dan sarat pesan moral. Film ini bercerita tentang Ali (diperankan oleh Christina Aguilera),  seorang gadis asal Iowa dalam usahanya meraih cita-cita menjadi seorang bintang di LA. Pada akhirnya ia memang menjadi bintang panggung di sebuah klub bernama “burlesque” milik seorang wanita bernama Tess (diperankan oleh Cher).

Film yang mengangkat cerita tentang seseorang yang berhasil meraih impian memang banyak, namun menurut saya film ini tidak hanya menceritakan tntang keberhasilan seseorang meraih mimpi,tetapi juga berbagai godaan ketika seseorang sedang berada di atas.

 

Menggapai impian

Di film ini, Ali yang berasal dari Iowa yang ingin menjadi bintang mengawali usahanya dengan datang ke burlesque dan menonton pertunjukan yang sedang digelar. Ketika ia menemui Tess dan ingin melamar menjadi seorang penari, ia ditolak. Meskipun ditolak, bukan berarti ia menyerah. Ia malah menjadi seorang pelayan di klub tersebut, yang berarti tidak ada hubungannya sama sekali dengan impiannya.

Setiap orang pasti mempunyai impian atau cita-cita. Sewaktu saya masih kecil saya sering ditanya: “kalo gede pengen jadi apa?” Dan saya rasa semua orang pasti juga pernah ditanya begitu. Bahkan Ria Enes dan susan pernah menyanyikan lagu tentang cita-cita, yang liriknya begini:

susan..susan..susan..kalo gede mau jadi apa?

aku kepengen pinter biar jadi dokter

Sewaktu kecil entah mengapa saya tidak pernah menjawab ingin menjadi dokter meskipin kebanyakan anak-anak, bahkan sampai sekarang, bercita-cita jadi dokter. Sewaktu kecil saya justru menjawab ingin menjadi wartawan. Sounds weird, huh? Anak kecil yang belum tau kerasnya dunia orang dewasa ingin mejadi seorang wartawan. Waktu itu saya hanya mengerti bahwa wartawan adalah orang yang cari berita.

Untuk menjadi seorang wartawan atau jurnalis, saya mengambil keputusan untuk kuliah di jurusan komunikasi selepas SMA. Namun apa mau dikata, saya yang ingin kuliah di Universitas Gajah Mada jurusan komunikasi ternyata tidak lulus UM UGM maupun SPMB waktu itu. Akhirnya saya pun kuliah di Akademi Komunikasi Indonesia jurusan Broadcasting Radio-TV. Disana saya banyak mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan jurnalistik. Yah paling tidak bisa jadi bekal jika kelak beneran jadi wartawan 😀

Selepas kuliah saya bekerja di salah satu stasiun TV swasta sebagai Asisten Produksi di departemen drama. Tidak ada hubungannya dengan dunia jurnalistik, namun saya mau mencobanya. Siapa tau bisa jadi batu loncatan. Namun tidak seperti Ali yang tidak menyerah meskipun harus jadi pelayan dulu, saya justru menyerah.

 

Mengambil kesempatan

Sewaktu Ali menjadi pelayan, Tess mengadakan audisi untuk menjadi penari di klubnya. Ali pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan nekad menari di hadapan Tess dan ia pun diterima menjadi penari di burlesque.

Setelah menjadi penari pun, bukan berarti kehidupannya mulus mulus saja. Salah satu rekan yang iri pada kemampuan Ali berusaha menjatuhkannya dengan cara mematikan lagu pada saat pertunjukan tari sedang berlangsung. Namun Ali justru memanfaatkan kejadian itu untuk menunjukkan kemampuannya dalam bernyanyi dan semenjak itu ia malah menjadi bintang utama. Jika ia tidak mengambil kesempatan untuk bernyanyi, entah berapa lama lagi akan datang kesempatan untuk menjadi bintang utama.

Kadang-kadang kesempatan datang secara tiba-tiba. Ketika kesempatan itu terbuka, kita harus segera memutuskan untuk segera mengambilnya atau melepasnya dan menunggu ia datang lagi, namun entah kapan. Saya sendiri bukan orang yang cepat tanggap dalam mengambil kesempatan. Saya seringkali berpikir ribuan kali ketika ia datang, sehingga ia tiba-tiba berlalu begitu saja.

 

Dedikasi

Dikisahkan bahwa Tess terlilit hutang yang cukup banyak sehingga ia harus memutuskan apakah akan menjual klub nya ataukah mempertahankannya dan kemudian disita oleh bank. Saat itu Ali menolong Tess mencari jalan keluar sehingga akhirnya klub tersebut selamat sehingga Ali dan teman yang lain tetap dapat bekerja disana.

Dedikasi bukan sekedar setia pada perusahaan dan tidak tergoda pada tawaran lain. Dedikasi lebih dari itu. Melakukan tugas di luar pekerjaan dan tanggung jawab kita sendiri. Memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan kita. Merelakan (bukan karena terpaksa) hal-hal pribadi demi pekerjaan kita tanpa mengeluh. Itulah dedikasi.

Saya teringat sebuah cerita. Ada sepasang kakek nenek yang ingn bermalam di suatu hotel di kota kecil. Namun ternyata hotel tersebut penuh sehingga kakek nenek tersebut tak dapat bermalam, padahal sudah tengah malam dan tak mungkin melakukan perjalanan tanpa istirahat. Manajer hotel kecil tersebut yang sebenarnya mendapat jatah kamar pun akhirnya merelakan kamarnya digunakan pasangan tersebut karena tidak tega melihat mereka terlunta-lunta di jalanan. Selang beberapa waktu sesudah kejadian itu, sang manajer hotel kecil tersebut mendapat surat panggilan untuk bekerja di hotel bintang lima di New York yang ternyata milik kakek yang pernah ditolongnya.

Cerita ini mungkin klise,namun kita dapat melihat bahwa orang yang merelakan segala sesuatu dan melakukan lebih dari tugasnya pasti akan mendapat promosi sebagai balasan dari dedikasinya.

 

====================================================

Saya sendiri belum mendapatkan apa yang saya impikan dan cita-citakan. Saya masih berusaha untuk mengambil setiap kesempatan untuk menjadi seorang jurnalis. Menggapai impian memang tidak selalu mudah. Banyak yang harus dilakukan dan dipelajari hingga akhirnya impian itu tercapai. Dari film burlesque, kita dapat belajar bagaimana mengambil kesempatan untuk masa depan yang lebih baik dan bagaimana kita bersikap ketika sedang di “atas”.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”  (Yeremia 29:11)

🙂