Monthly Archives: Desember 2016

Hari Ibu Tanpa Ibu

Standar

Hari ini hari ibu. Di keluarga saya, tidak pernah ada yang istimewa tiap tanggal 22 Desember. Maklum, keluarga saya bukan keluarga romantis. Bukan keluarga yang saling mengungkapkan rasa sayang lewat ucapan atau perbuatan. Mau hari ibu, hari pahlawan, ulang tahun atau hari kelulusan, semua lempeng-lempeng aja. Bahkan waktu saya lulus SD dengan NEM 43,31 pun (angka segitu dulu termasuk bagus yaa..) ga ada perlakuan istimewa. Dikasih kado kek. Lebihin uang jajan kek. Diajak makan enak kek. Ga ada. Ga ada duitnya juga sik. 

Hidup di keluarga yang lempeng membuat saya belajar hidup lebih mandiri. Waktu lulus SMP, saya cari SMA sendiri. Daftar sendiri. Nunggu pengumuman sendiri. Begitu pula waktu lulus SMA. Saya cari kampus dan daftar sendiri. Sampai lulus kuliah dan cari kerja pun, saya lakukan sendiri. Tapi bukan berarti semua biaya pendidikan saya sendiri juga. Saya bisa lulus kuliah karena perjuangan seorang ibu. 

Sejak saya masih anak-anak, ibu saya membuka warung kecil di rumah. Bangun jam 4 subuh buat siapin jualan. Lanjut ke pasar naik sepeda hitam berkeranjang. Pulang dari pasar langsung berjibaku di dapur sambil berjualan sampai siang. Belum cukup pengorbanan ibu sampai di situ. Dulu, setiap ada uang berlebih sedikit, ibu pasti membeli emas. Bukan sekedar untuk bersolek, emas dijadikan benda investasi. Setiap jelang bayar uang gedung atau daftar ulang sekolah, emas milik ibu dijual lagi. Begitu terus sampai saya lulus kuliah dan akhirnya keluar dari kota Jogja untuk bekerja di Jakarta.

1 Januari 2009, saya hijrah ke Jakarta. Ibu melepas saya di stasiun Yogyakarta dengan berlinang air mata. Berpisah dengan anak bungsu yang sudah dirawat selama 21 tahun, mungkin jadi salah satu hal terberat dalam hidupnya. Sementara saya, terlalu bersemangat mengadu nasib di ibukota sehingga lupa menanyakan apa yang ibu rasakan saat itu. Air mata ibu pun selalu jatuh saat mengantar saya ke bandara maupun stasiun, setiap saya pulang ke Jogja. Semalam apapun jam keberangkatan kereta maupun pesawat, ibu selalu bersikeras untuk ikut. Padahal saya selalu bilang, ga diantar pun ga papa.

Sejak akhir 2015, kondisi kesehatan ibu menurun. Ibu ga bisa lagi ikut melepas kepergian saya ke ibukota. Tapi air mata beliau tetap tumpah saat saya berpamitan di sisi tempat tidurnya. Sampai akhirnya pada tanggal 27 September 2016, bukan ibu yang melepas kepergian saya kembali ke ibukota. Sebaliknya, saya yang melepas kepergian ibu untuk selama-lamanya. Sedih sudah pasti, tapi saya tahu ibu sudah tidak merasakan sakit lagi. Di balik kesedihan pun, saya merasa bersyukur karena bisa menemani ibu hingga hembusa napas terakhirnya.

Tak ada yang sia-sia dari doa dan pengorbanan seorang ibu. Seorang ibu tidak akan menghitung seberapa besar pengorbanan yang sudah dilakukan untuk anak-anaknya. Seperti salah satu dialog dalam serial Devious Maids yang selalu membuat saya terkenang akan pengorbanan ibu: 

“Whatever sacrifices i make for you are none of your business. All you’ve got to do is grow up and be happy. And i’ll have everything i’ve ever wanted.” 
Selamat hari ibu ☺