Category Archives: poto poto

Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Standar
Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Sebagai penduduk negara tropis, saya belum pernah liat salju secara langsung. Palingan liat bunga es di kulkas yang (kayanya) mirip salju. Atau wahana salju-saljuan di mall yang dibuat untuk anak-anak. Walaupun bukan salju beneran, tetep aja gabisa megang. Cih! Makanya pas temen saya ngajakin ke Jepang untuk melihat tumpukan salju di pegunungan Tateyama, Jepang, langsung saya iyain aja.

Waktu ke Jepang bulan April-Mei kemaren, sebetulnya saya pengen banget ke Universal Studio Osaka. Tapi apa daya, budget buat ke Tateyama udah lumayan gede. Untuk tiket terusan dari Nagano menuju Toyama aja udah habis ¥9.000 atau sekitar Rp 1.100.000.

Keberangkatan menuju Tateyama saya mulai dari stasiun Shinjuku di Tokyo. Di lantai 2 stasiun Shinjuku ada agen perjalanan yang dikelola oleh JR group. Di agen perjalanan tersebut, saya dan teman saya disambut oleh dua nenek-nenek di bagian informasi. Tadinya rada underestimate pas mau nanya ke nenek-nenek, takutnya ga paham. Walaupun rada terbata-bata, mereka ternyata bisa menyampaikan informasi tentang Tateyama dengan baik. Kami diarahkan ke loket untuk membeli tiket terusan Tateyama Alpine Route. Tiket terusan Tateyama Alpine Route hanya boleh dibeli oleh turis asing. Makanya pas beli tiket, kita harus melampirkan paspor. Konon katanya beli tiket terusan lebih murah dan praktis daripada beli tiket ketengan. Tiket terusan merupakan cara praktis untuk menikmati perjalanan dari kota Nagano ke kota Toyama dengan rangkaian tur melewati gunung salju. 

Wujud tiket terusan Kurobe-Tateyama Alpine Route

Setelah beli tiket, selanjutnya cari tiket bus untuk pergi ke kota Nagano. Tadinya sih saya berencana untuk berangkat ke Nagano tengah malam supaya besok paginya bisa langsung berangkat ke Tateyama. Tapi ternyata, keberangkatan saya bertepatan dengan Golden Week, libur panjangnya orang Jepang. Jadi bus malam saat itu tidak tersedia dan hanya ada 2 tiket terakhir untuk keberangkatan jam 3 sore. Mau tidak mau, tiket bus seharga ¥3.900 (sekitar 400 ribuan) pun terbeli.

Perjalanan dari kota Tokyo menuju Nagano memakan waktu sekitar 4 jam. Karena saat di Tokyo udara ga terlalu dingin, pas berangkat saya memakai celana pendek. Sampai di Nagano ternyata saya salah kostum. Dinginnya alamaaakkk. Walaupun sudah masuk musim semi, suhu udara di Tokyo dan Nagano ternyata beda banget. Saya pun berjalan kaki dari terminal menuju penginapan sambil menggigil kedinginan.

Salah kostum di Nagano yang dingin

Di Nagano saya menginap di Unicorn Hotel yang dipesan dari situs booking.com. Pengelola hotel yang masih lumayan muda menyambut saya dan teman saya dengan baik. Dia menanyakan kami mau ke mana saja selama di Nagano. Karena hanya berencana untuk ke Tateyama, kami memang tidak mencari tahu tentang kota Nagano. Si pengelola hotel pun menginformasikan kepada kami beberapa tempat wisata di Nagano, salah satunya kuil Zenko-Ji yang bisa didatangi dengan berjalan kaki. Sebetulnya ada juga pemandian air panas yang lokasinya rada jauh, jadi kayanya kami memang ga bakal sempat ke sana. 

Setelah cek in, kami pergi keluar untuk mencari makan. Berbeda dengan Tokyo yang masih gampang mencari makanan pada malam hari, di Nagano ternyata warung-warung makan sudah pada tutup jam 10. Toko yang buka 24 jam palingan minimarket seperti 7&i atau Lawson. Selain makan, untuk menghangatkan tubuh saya juga membeli sake mini seharga ¥100 saja. 

Sake seharga ¥100 atau 12 ribu rupiah saja

Besok paginya, saya dan teman saya bangun jam 6 pagi supaya sempat mengunjungi kuil Zenko-Ji yang ternyata adalah salah satu kuil tertua di Jepang. Karena udah tau bakal dingin banget, saya memakai legging dan sweater yang dilengkapi dengan teknologi heattech sebagai penghangat (belinya di Uniqlo Jakarta). 

Dari penginapan menuju kuil Zenko-Ji cukup memakan waktu 5-10 menit saja. Yang bikin bahagia, saya ketemu pohon sakura yang masih ada bunganya (walaupun bunga sakuranya udah lemes). Padahal, musim bunga sakura sudah berakhir sekitar akhir Maret. 

Horeeee ketemu Sakuraaaa

Dalam perjalanan menuju kuil Zenko-Ji pun menyenangkan. Saya melewati rumah-rumah bergaya lawas yang sulit dijumpai selama di Tokyo. Sebelum memasuki area kuil pun, saya melewati deretan toko-toko penjual souvenir yang lagi-lagi bergaya lawas. 

Gerbang besar kuil Zenko-Ji

Deretan toko bergaya lawas di sekitar kuil Zenko-Ji

Sampai di bangunan kuil, saya pikir bakalan sepi karena masih jam 6 pagi. Tapi ternyata kuil Zenko-Ji udah lumayan rame. Bentuk kuil Zenko-Ji sebetulnya ga jauh beda sama kuil Senso-Ji di Tokyo (namanya kok mirip-mirip ya). Di bagian depan ada tungku besar untuk menancapkan dupa. Di bagian teras ada kotak untuk memasukkan persembahan (berupa uang, bukan sayur mayur hasil bumi). Di bagian dalam ada biksu dan masyarakat yang sedang berdoa (di dalam kuil ga boleh foto-foto).

Pas lagi liat-liat kuil bagian dalam, tiba-tiba ada keramaian! Orang-orang pada keluar dari kuil untuk berbaris di depan tangga. Bahkan saking penuhnya, sampai ada yang berjejalan di teras kuil. Ternyata, saat itu adalah pergantian biksu besar. Jadi saat biksu besar mau masuk ke kuil, masyarakat berbaris untuk memohon berkat. Begitu pun saat biksu besar keluar, masyarakat berbaris lagi untuk memohon berkat.

Pagi-pagi kuil Zenko-Ji udah rame

Memohon berkat dari biksu besar

Puas melihat keagungan kuil Zenko-Ji, kami pun bergegas kembali ke penginapan. Setelah mandi dan sarapan, kami berjalan kaki menuju terminal Nagano selama kurang lebih 15 menit. Sampai di terminal sih rada bingung mau naik bis yang mana. Bis untuk menuju Ogizawa ternyata ada di bagian belakang terminal, tepatnya di platform 25. Saat itu penumpang bis dari Nagano menuju Ogizawa ternyata ga banyak. Cuma ada saya dan teman saya, 4 orang anak muda dan satu keluarga dari Indonesia juga. Tinggal menujukka tiket terusan yang sudah kita beli, supir bus pun akan mengijinkan kita naik bus tanpa biaya lagi.

Saya agak lupa perjalanan dari Nagano ke Ogizawa memakan waktu berapa lama. Kalau ga salah sih sekitar 2 jam. Selama perjalanan, kadang saya melihat ada deretan pohon sakura yang masih berbunga. Ada sakura pink, ada juga sakura putih. Sayangnya kita ga boleh berhenti buat foto-foto. Jadi ya cukup dilihat dan dikenang dalam hati.

Deretan bunga sakura dalam perjalanan Nagano-Ogizawa. Photo by Silvano Hajid.

Deretan gunung salju mulai nampak di kejauhan

Semakin mendekat ke Ogizawa, di kanan kiri jalan mulai nampak potongan-potongan es beku. Sampai di stasiun Ogizawa, saya langsung takjub melihat salju beneran untuk pertama kali. Sebetulnya pengen banget langsung pegang. Tapi sudah ada garis pembatas supaya turis ga masuk ke area salju. 

Pengen banget megang es nya tapi ga boleh

Dari Ogizawa lah perjalanan Alpine Route kita mulai. Di Ogizawa, kita naik bus menuju ke bendungan Kurobe. Perjalanan menuju Kurobe DAM sih ga istimewa karena hanya melewati terowongan buatan. Jadi ga ada pemandangan apa-apa. Satu-satunya hiburan hanya informasi tentang Alpine route di TV bagian depan yang menggunakan bahasa Jepang. Istimewanya, bus yang kita naiki bukan bus biasa. Bus bergerak dengan tenaga listrik yang dihantarkan melalui tiang besi mirip bombom car.

Selfie di depan bus bombom car. Tapi blur.

Setelah turun dari bus, kita berjalan kaki melewati terowongan menuju bendungan Kurobe yang dikelilingin gunung-gunung bersalju. Kurobe dam merupakan bendungan terbesar di Jepang. Saat musim panas, biasanya aliran air akan dibuka dan debura airnya akan menghasilkan pelangi. Tapi karena lagi musim semi dan masih bersalju, jadi kita ga bisa liat pelanginya.

Kurobe dam kaya di Swiss yaa.. (padahal belom pernah ke Swiss)

Selfie di Kurobe dam sambil bawa gembolan

Puas melihat bendungan dan gunung-gunung salju, waktunya naik ke gunung salju beneran. Kita ga perlu susah-susah mendaki gunung lewati lembah kok. Sudah ada kereta yang relnya miring untuk membawa kita ke puncak bukit bernama cable car. Saya pernah naik kereta sejenis di Penang, Malaysia. Karena cukup unik dan jarang dilihat, banyak turis yang mengabadikan gambar si kereta sebelum naik.

Perjalanan ke puncak belum berakhir dengan kereta rel miring. Masih ada ropeway alias kereta gantung yang bisa memuat puluhan manusia ke puncak gunung salju. Saat naik kereta miring maupun kereta gantung, para turis akan berebutan untuk duduk atau berdiri di dekat jendela. Termasuk saya. Hahahahaa.. Masa udah jauh-jauh ke Tateyama tapi ga bisa foto-foto karena salah posisi.

Kereta miring di Alpine Route

Ropeway Alpine Route

Pemandangan dari dalam ropeway

Selfie di dalam kereta gantung. Abaikan Silpano dan rambut njegrik saya.

Ini dia yang ditunggu-tunggu. Puncak Tateyama! Selain melihat gunung salju dari ketinggian, pengunjung juga bisa mainan salju di titik ini. Akhirnya saya bisa megang salju beneran! 

Ternyata salju itu dingin bro! (Menurut nganaaa). Kalau soal dingin sih mungkin ga jauh beda sama bunga es di kulkas. Tapi suhu udara yang sangat dingin di pegunungan membuat saya ga berani berlama-lama kalo megang salju. Sempat lah sok-sok an mau bikin boneka salju ala Olaf-nya Frozen. Tapi baru bikin bola salju kecil aja dinginnya udah kebangetan. 

Satu lagi yang wajib dilihat kalo udah di Tateyama. Jalanan dengan dinding salju! Selama bulan Mei-Juni, biasanya dinding salju alias snow wall bisa dilihat pengunjung. 

Salju pertama dalam hidup. Pake kacamata item karena pantulan cahaya matahari ke salju bikin silau.

Jalan di antara dinding salju

Area Tateyama tutup jam 5 sore. Bus untuk menuju kota Toyama biasanya juga berakhir sekitar pukul 5 sore. Walaupun menyengangkan, harus ingat waktu untuk pulang. Dari titik terkahir di Tateyama menuju kota Toyama, kita menggunakan kereta tua selama 1 jam-an. Karena udah capek dan batre habis, saya ga sempat foto-fotoin kereta tuanya. Yang pasti, sampai di stasiun Toyama tiket terusan akan dimita oleh petugas. Padahal tadinya tiket terusan itu bakal saya jadikan kenang-kenangan.

Pemandangan berupa salju dan pegunungan bersalju biasanya hanya bisa dilihat pada musim semi bulan Mei-Juni. Sementara pada musim panas maupun gugur, pemandangan bukan lagi berupa salju, melainkan pepohonan dengan warna daun menguning. Pada musim dingin, Tateyama-Kurobe Alpine Route tidak dibuka untuk umum.

Tiket terusan yang saya gunakan sebetulnya bisa dipakai untuk perjalanan Nagano-Toyama atau sebaliknya, Toyama-Nagano. Kita tinggal memilih mau menelusuri gunung Tateyama dari kota mana. Hanya saja, terusan hanya bisa digunakan one way, tidak bisa bolak balik. Menurut saya sih, kalau pengen melihat salju lebih menyenangkan dari Nagano menuju Toyama. Tensinya cenderung naik. Dari melihat Kurobe dam (yang setelah melihat puncak gunung salju ternyata ge terlalu istimewa), sampai melihat dinding salju dan bermain salju sepuasnya. Kalau dibalik melihat dan bermain salju dulu, baru melihat dam kayanya kurang asik. 

Karena baru pertama kali datang ke tempat sedingin itu, bibir saya sampai kering dan pecah-pecah. Untung di minimarket ada lipbalm khusus untuk mengobati bibir pecah-pecah. 

Perjalanan saya ke Jepang bisa dibilang dadakan dan menghabiskan dana lumayan banyak. Tapi kan uang bisa dicari. Pengalaman, kesempatan dan umur ga bisa diulang. 😃

Beautifully Lombok

Standar

Perjalanan saya ke lombok diawali dengan drama yang memilukan. Jadi begini ceritanya.. Pagi-pagi buta jam 3 saya sudah berangkat dari kantor menuju bandara, dengan estimasi sampai bandara sebelum jam 4 dan langsung cek in untuk penerbangan jam 5 pagi. Sampai di loket cek in, terjadilah pembicaraan antara saya dan mbak-mbak counter yang menggoncangakan jiwa.

Saya: mbak, mau cek in..
Mbak-mbak: wah ini penerbangannya mundur, jauh banget lho.. Penerbangan yang ini dibatalkan.
Saya: hah, mundur jadi jam berapa mbak?
Mbak-mbak: jadi jam 10.30. Kita udah sms dan email ke penumpang kok.. Gak terima?
Saya: hah nggak tuh mbak.. Sms ke no mana?
Mbak-mbak: 08190819xxxx
Saya: wah itu nomor GS atau UPM kayanya. Ga diinfoin ke saya.. *cek in dengan langkah lunglai*

Jadilah saya dan kameramen menunggu dari jam 4 pagi sampai jam 10 untuk boarding. Enam jam di bandara itu zonk banget! Mana malamnya sengaja nggak tidur karena takut nggak bisa bangun, eh ternyata di bandara malah harus nunggu 6 jam. Segala posisi udah dicobain biar bisa tidur. Tinggal kayang aja yang belom. Mungkin ini bisa jadi pelajaran, lain kali jangan ambil penerbangan subuh-subuh. Kasian pilotnya.

Di Lombok, saya menginap di Hotel Jayakarta yang letaknya di jalan raya Senggigi. Kalau dari Mataram, bisa ditempuh dalam waktu 20-30 menit lah.. Sebelumnya saya memang sudah browsing tentang hotel Jayakarta. Dari websitenya, saya tau kalau di belakang hotel berbatasan langsung dengan pantai. Jadilah saya pilih hotel ini, siapa tau kalau galau malam-malam bisa jalan-jalan di pantai. Selain itu saya juga sengaja bawa sepatu olahraga, rencananya untuk jogging sambil menyusuri pantai di pagi hari.

Tapi rencana ya tinggal rencana. Bangun pagi malesnya minta ampun. Kalau nggak dijemput supir untuk liputan, pasti juga masih betah di kasur. Pengen jalan sambil gegalauan di pantai pas malam pun gagal gimbal. Karena cuaca sedang jelek, mendung menutupi bintang-bintang yang semestinya kelihatan. Ombaknya tinggi dan anginnya kenceng banget. Ntar yang ada bukan ngobatin galau, tapi malah masuk angin.

Saya tidak tahu pasti tarif hotel Jayakarta Lombok, karena sudah diurus dari kantor. Ruangan kamar sih bagus, dengan lantai kayu dan ada tempat lesehan buat ngopi-ngopi. Ada balkon juga yang kalau spotnya bagus bisa ke laut atau kolam renang. Tapi yang bikin ilfil, tahun 2014 TV kamar hotel masih TV tabung, dengan layar cembung pula. Tapi ya sudahlah daripada ndak ada hiburan di kamar.

Di Lombok, saya berkeliling dari kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat dan Lombok Utara. Yang membuat saya kagum, jalan aspal yang saya lewati semua dalam kondisi baik dan mulus. Aspal berlubang sangat jarang saya temui. Menurut saya sih, infrastuktur yang baik bisa menjadi wajah yang baik bagi tempat wisata, apalagi banyak wisatawan asing yang datang ke Lombok.

Desa Sade, Penuh Tradisi
Di Pulau Lombok, saya berkunjung ke Desa Sade, perkampungan suku Sasak di Lombok Tengah. Awalnya saya pikir Sade itu bacanya dengan ‘e’ dari ‘setan’. Ternyata bacanya dengan ‘e’ dari ‘elang’. Sade. Desa Sade memang desa wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Sebelum ke desa Sade bisa saja sih browsing dulu supaya tau sejarah dan tradisi di sana. Tapi sepertinya akan lebih baik kalau menggunakan jasa guide. Pemandu wisata bisa menjelaskan dengan rinci tentang desa Sade.

image

Semua rumah di desa Sade bentuknya sama. Dinding terbuat dari bilik bambu (gedhek dalam bahasa Jawa) dengan atap dari ilalang. Pintu masuk rumahnya sengaja dibuat pendek, dengan filosofi tamu yang masuk ke dalam rumah otomatis memberi penghormatan pada pemilik rumah.

image

Selain bagian luar, bagian dalam semua rumah pun sama persis. Begitu masuk rumah, kita akan masuk ke ruang tamu sekaligus ruang tidur orang tua dan anak lelaki. Lantainya lebih tinggi sekitar 50cm dari pintu rumah. Di dalam ruang tamu, kita akan melihat 3 undak-undakan untuk menuju ruangan yang lebih dalam. Undak-undakan ini konon melambangkan pijakan masyarakat desa Sade. Tingkatan paling atas melambangkan animisme yang dulu menjadi pijakan suku Sasak. Tingkatan kedua melambangkan Hindu, agama yang dulu pernah menjadi mayoritas. Undakan paling bawah melambangkan Islam, yang menjadi keyakinan semua warga desa Sade.

image

Undak-undakan tersebut akan membawa kita ke ruangan bagian dalam rumah. Ruangan itu adalah ruang bersalin, ruang tidur anak gadis sekaligus dapur. Keluarga yang memiliki anak gadis akan menempatkan anaknya di ruang bagian dalanm untuk menghindari penculikan. Penculikan memang menjadi tradisi warga desa Sasak saat seorang lelaki menginginkan seorang gadis menjadi istrinya. Usia pernikahan di desa Sade pun terbilang cukup belia. Lelaki dan gadis di sana sudah terbiasa menikah di usia 12 tahun. Makanya orang-orang di desa lumayan kaget pas tahu saya masih single di usia 26. Iya saya masih single. Iya umur saya 26. Ini jujur kok.

Masih tentang rumah adat desa Sade. Jika beruntung, kita bisa melihat proses belulut, yaitu mengepel lantai rumah menggunakan kotoran kerbau. Lantai rumah terbuat dari tanah liat yang dicampur sekam padi. Mengepel rumah dengan kotoran kerbau 3 kali seminggu diakui warga bisa membantu menghaluskan lantai, membersihkan debu hingga menambal lubang-lubang di lantai.

Pada hari-hari istimewa seperti ada perningatan, syukuran atau hendak berziarah, warga desa wajib mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Sementara jika tidak ada acara khusus, warga masih diperbolehkan menggunakan kotoran sapi untuk mengepel. Meskipun sebetulnya tidak higienis, warga tetap meneruskan tradisi ini dengan keyakinan kotoran kerbau justru mampu menyucikan rumah dan menolak bala.

Wanita di desa Sade juga mempunyai kebiasaan unik untuk memelihara rambutnya. Mereka tidak membersihkan rambut dengan shampo, tapi dengan santan setiap 3-4 hari sekali. Supaya tetap harum mewangi sepanjang hari, rambut pun diberi lilitan daun pandan yang diuntai dengan bunga-bungaan. Dan memang harum daun pandan selalu menyeruak setiap mereka lewat.

image

Wanita desa Sade tidak boleh menikah sebelum bisa menenun kain. Kain hasil tenunan wanita Sade pun menjadi oleh-oleh khas perkampungan ini. Saya beruntung sempat melihat seorang wanita yang sedang memutar alat pemintal benang tradisional dengan tangan rentanya. Beliau langsung membuat benang dari kapas yang didapat dari tanamannya langsung.

image

Benang-benang putih hasil pintalan biasanya akan diwarnai dengan bahan-bahan alami. Benang yang sudah berwarna baru bisa diproses lagi dengan ditenun menjadi berbagai macam kain seperti songket, sarung, syal hingga selimut. Untuk membuat kain berukuran 0,5 x 1,5 meter dibutuhkan waktu selama 5 hari. Tak heran jika harga yang ditawarkan agak mahal. Tapi jangan segan-segan menawar untuk mendapat harga murah.

Gili Trawangan, Hura-hura Sepanjang Hari
Gili Trawangan adalah tempat yang wajib dikunjungi jika berlibur ke Lombok. Untuk menyeberang ke Gili Trawangan, saya menggunakan speed boat dari teluk Nare. Di teluk Nara (baca: Nare) hanya ada kapal pribadi, jadi harganya cukup tinggi. Kalau ingin yang lebih ekonomis bisa menggunakan kapal umum melalui teluk Bangsal dengan harga 10-15ribu. Tapi karena murah, penumpang dalam 1 kapal bisa mencapai puluhan dengan barang bawaan seabreg-abreg. Karena membutuhkan tumpangan yang cepat dan aman, saya menggunakan speed boat. Kalau untuk liburan sendiri sih jelas saya pilih yang ekonomis. Hihihi..

image

Saat menyeberang, cuaca sedang cerah. Namun tetap saja gelombang laut agak tinggi sehingga membuat perjalanan kapal tersentak-sentak. Agak mirip dengan perjalanan saya dari Pulau Bali menuju Nusa Lembongan yang pernah saya tulis di sini. Perjalanan yang tidak terlalu mulus membuat saya agak mabuk laut. Sampai di Gili Trawangan saya langsung keringat dingin. Antara laper dan mabok. Jadi jangan sampai menyeberang lewat laut dengan kondisi perut kosong.

image

image

Sampai di Gili Trawangan, saya langsung disuguhi hamparan pasir putih, lautan biru dan wisatawan asing yang berlalu lalang. Gili Trawangan memang dirancang tanpa polusi kendaraan bermotor. Di Gili Trawangan, kita bisa menggunakan cidomo (sejenis delman) atau sepeda. Tarif cidomo agak mahal, 125 ribu rupiah untuk berkeliling pulau dengan kapasitas maksimal 3 penumpang. Tapi untuk ke hotel-hotel tertentu, sudah ada tarif masing-masing yang diatur. Kalau mau ekonomis, kita juga bisa menyewa sepeda dengan tarif murah: 15 ribu per jam atau 50rb seharian. Kalau mau lebih irit lagi, jalan kaki juga oke.

Banyak hotel bertebaran di Gili Trawangan. Salah satu yang saya dapat informasinya adalah Hotel Exquisit dengan tarif 1,25 juta per malam yang lokasinya di jalan utama. Tapi hotel-hotel bertarif murah juga banyak kok, seharga 200 ribuan per malam juga ada. Tapi lokasinya ya agak masuk ke dalam.

Sepanjang pantai di Gili Trawangan, banyak wisatawan asing yang berjemur. Benar-benar kaya di tipi-tipi deh, bule-bule gelar tiker, pake sunblock, tengkurep di tiker sambil baca buku atau main gadget. Banyak juga sepasang wisatawan yang cipok-cipokan atau peluk-pelukan di pantai. Bikin sirik aja.

Kalau gak bawa tiker, wisatawan juga tetap bisa kok santai-santai di pantai. Di sepanjang pantai banyak kafe-kafe dan bar yang menyediakan fasilitas bale-bale atau bantal. Segala fasilitas tersedia untuk memanjakan para wisatawan. Soal kebersihan pun jangan kuatir. Selain bebas polusi asap kendaraan, di pantai juga gak ada sampah karena sudah tersedia tempat sampah setiap 100 meter.

Siang hari, wisatawan bisa santai-santai di pantai atau jalan-jalan di sekitar pantai. Kalau malam, wisata yang ditawarkan pun beda lagi.  Wisatawan biasa nongkrong di bar-bar. Kehidupan di Gili Trawangan seolah tak pernah berhenti berdetak, gak seperti 2 pulau lainnya, Gili Meno dan Gili Air yang letaknya bersebelahan.

Bagi yang suka snorkeling pun, banyak kios-kios yanh menawarkan jasa tur snorkeling ke 3 Gili. Tarifnya pun gak mahal, mulai dari 100ribuan per orang. Persewaan masker dan pin juga bertebaran. Kalau pun tidak ingin snorkeling ke 3 Gili, bisa juga snorkeling di sekitar pantai atau dermaga. Sayangnya waktu saya snorkeling di sekitar dermaga, cuaca sedang mendung sehingga tidak ada cahaya matahari yang bisa membuat warna terumbu karang semakin cerah.

Di Gili Trawangan saya mengalami kejadian unik. Saat berjalan menyusuri jalan utama, tiba-tiba ada seorang wanita memanggil saya. Tadinya saya gak sadar kalau saya yang dipanggil, sampai rekan saya mencolek bahu saya. Saya pun langsung melihat sesosok wanita yang memanggil saya sambil memicingkan mata, mencoba mengingat siapakah wanita ini?

image

Begitu wanita ini menyebut namanya “Sekar”, saya langsung melongo sambil berteriak “astagaaaa!!”

Jadi Sekar ini adalah teman SD saya di Jogja. Waktu kelas 4, kami duduk sebangku sehingga lumayan akrab. Yah sering berantem juga sih, sampai kami sering “dipacok-pacokke” kalo lagi berantem karena dianggap sebagai suatu bentuk kemesraan. *anak SD kebanyakan nonton sinetron*

Nah di kelas 4 SD itulah kisah pertemanan kami berakhir karena Sekar harus pindah ke Jepang. Waktu itu sekitar tahun 1996 atau 1997 dan menjadi saat terakhir saya bertemu Sekar. Saat SMP, saya dengar Sekar pindah ke Malaysia. Saya masih lost contact sama Sekar sampai akhirnya tahun 2010 kami follow-followan di twitter, tukeran pin BB, sampe tukeran nomor ponsel. Yah kontak-kontakan sih jarang, paling cuma lewat twitter doang. Bisa dibilang kami sudah gak ketemu selama 16 tahun dan pasti banyak yang berubah. Makanya saya kaget mampus waktu Sekar mengenali saya di Gili Trawangan. What a coincindence!

Karena di Gili Trawangan saya bekerja, tidak banyak yang bisa kami bicarakan. Selain itu, saya juga tak bisa banyak bersantai. Padahal kepingin juga duduk-duduk di pinggir pantai sambil lihatin bule-bule khilaf atau main-main di bibir pantai. Makanya saya bertekad, saya harus pergi ke Gili Trawangan lagi. Bukan untuk bekerja, tapi murni berlibur. *cari tiket murah* *murahan* 🙂

work(holi)day

Standar

Setelah sekian lama nggak ngeblog, akhirnya saya (sempet) ngeblog juga. Sebenernya emang kangen banget sih nulis-nulis di blog, tapi apa daya sejak pindah ke program Warna, di balik Warna banyak (d)cerita, saya lebih banyak nulis naskah buat program. Kalo sebelumnya di program Redaksi naskahnya cuma 3-5 menitan, di program Warna saya harus bikin naskah 20-22 menitan. Yah akhirnya jadi gak mood nulis blog gara-gara kecapekan ngarang naskah. *alesan*

Tapi yang namanya pekerja media harus siap ditempatkan di manapun. Dan selalu ada sisi positif negatif tersendiri kok. Di program Warna saya bisa eksplor lebih mendalam tentang suatu topik (karena durasinya yang lebih panjang itu). Bekerja di media televisi seperti saya ini juga melatih kerja otak terus lho. Setiap tema liputan selalu memberi pengetahuan baru bagi saya. Misalnya aja saya baru tahu kalau anak perempuan yang mengalami menstruasi sebelum 11 tahun tuh berpotensi punya badan pendek. Atau ternyata daun pepaya memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi daripada buahnya.

Mungkin informasi-informasi kaya gitu banyak sih di internet. Tapi buat orang-orang yang nggak terlalu ngerti internetan, informasi dari tayangan TV bisa sangat berguna. Dan saya seneng banget kalo search di twitter tentang topik yang baru saya bahas, ternyata banyak respon positif.

Walopun bisa eksplor banyak hal, bukan berarti apa aja harus dibahas. Tim liputan kudu riset mateng dan rencanain setiap isi liputan, dan itulah yang suka bikin puyeng *curhat*. Nah karena bisa eksplor apa aja, saya pengen ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Baru 1 bulan di Warna, saya sudah di-acc untuk liputan di Medan, yang dari dulu pengen banget saya kunjungi. Nggak tau kenapa saya pengen banget liat Danau Toba. Mungkin pertanda ketemu jodoh kali yak.. *ngarep*

Waktu yang ditempuh dari medan ke Parapat adalah sekitar 4 jam. Di sepanjang perjalanan kita bakal disuguhi pemandangan kebun kelapa sawit, kebun karen dan pepohonan yang bikin mata adem. Tapi agak serem sih lewat jalanan menuju Parapat, karena ada longsoran di beberapa lokasi. Tapi sampai di Parapat, hamparan Danau Toba langsung bikin mata melek plus hasrat poto-poto pun tak terbendung.

Sebelum turun ke Danau Toba, saya singgah dulu di salah satu warung yang banyak kita jumpai di pinggir tebing. Banyak bodat alias monyet yang mondar-mandir di situ. Tapi saya agak serem sih gara-gara punya pengalaman buruk sama bodat di Kaliurang. Tapi sayangnya pemandangan indah di tempat singgah harus dinodai dengan sampah-sampah berserakan. Di belakang warung-warung yang berjajar, banyak banget sampah bungkus cup mi instan yang kontras sama hijaunya danau dan pepohonan.

IMG_20130225_161409

bodat di Parapat

sampah di dekat danau

sampah di dekat danau

Sampai di Parapat yang di pinggiran Danau Toba, saya langsung berburu hotel. Beberapa orang yang saya temui di Medan merekomendasikan hotel Inna Parapat yang katanya bisa langsung liat danau begitu buka pintu kamar. Tapi setelah ngecek ke sana, ternyata lagi penuh dan harganya juga agak tinggi. Akhirnya kami berburu hotel ke tempat lain.

Driver pun membawa kami ke hotel Pandu, yang letaknya nggak jauh dari Inna Parapat. Baru nanya rate-nya aja udah kaget karena saking murahnya. Masa ada kamar harganya 40 ribu cobak.. Karena saya bersama seorang kamerawati dan seorang driver, saya butuh 2 kamar. Saya pun memesan kamar yang paling mahal (congkak) seharga 625 ribu rupiah per malam. Ini bukan kamar biasa, karena memang dirancang untuk keluarga. Jadi dalam 1 ruangan ada 2 kamar tidur dengan masing-masing isinya 2 bed, dapur, meja makan 2 kamar mandi dan sebuah sofa bed. Kalo perginya rame-rame enak deh pokoknya.

IMG_20130225_181130

pemandangan pas keluar kamar kaya gini

kamarnya kaya gini

kamarnya kaya gini

Yang bikin tambah seneng adalah, buka kamar pun kita bisa langsung liat pemandangan Danau Toba! Nggak cuma liat, kalo mau nyebur-nyebur unyu pun bisa, soalnya hotel Pandu ini ada di pinggir danau banget. Saya langsung norak pengen liat Danau Toba dari deket. Tadinya saya pikir air Danau Toba tuh keruh, tapi ternyata jernih banget. Itu di bagian hotel sih, nggak tau deh kalau di bagian lain. Saya aja betah main-main di air lebih dari sejam. Enak banget lah pokoknya, berasa punya kolam renang raksasa. Tapi karena saya nggak bisa renang, ya main airnya pake ban pelampung.

Danau Toba ini cocok banget buat menyatukan orang-orang yang suka berantem mau liburan ke gunung atau pantai. Kalo ke gunung bisa liat pemandangan indah dan berhawa sejuk. Kalo ke pantai bisa main air sambil liat sunset or sunrise. Nah di Danau Toba kita bisa dapet semuanya. Bisa main air sambil liat pegunungan dan hawanya sejuk. Makanya di kamar hotel nggak ada ACnya.

IMG_20130226_163749

renang-renang unyu

Ke Danau Toba rasanya kurang lengkap kalo nggak mampir ke Pulau Samosir. Dari Parapat saya ke Tomok, Samosir, menggunakan kapal feri. Tarifnya murah banget, cuma 5 ribu rupiah dengan waktu tempuh 45 menit. Di perjalanan pun bisa liat pemandangan sambil poto-poto unyu. *tetep narsis*

bersama kamerawati sebelum berlayar

bersama kamerawati sebelum berlayar

Sampai di Tomok kita langsung melihat jajaran kios-kios yang menjual berbagai cendera mata. Sebenernya sih pengen beli, tapi karena masih ada liputan, ya nanti dulu lah.. Saya langsung menuju ke lokasi wisata Sigale-gale. Di sini ada 4 rumah adat Batak yang masih dihuni keturunan Raja Sidabutar. Ada juga patung Sigale-gale yang biasa digunakan untuk tarian Batak. Dulunya sih patung Sigale-gale digerakkan oleh roh halus, tapi sekarang udah nggak lagi.

rumah adat Batak

rumah adat Batak

Di Tomok sebetulnya masih ada makam Raja Sidabutar dan museum yang isinya barang-barang khas suku Batak. Tapi karena waktu udah siang dan saya harus segera menyeberang ke Parapat, akhirnya nggak jadi deh. Beli oleh-olehnya juga nggak jadi. Hiks.. *tapi dalam hati tertawa* *pelit*

Menurut saya sih, Danau Toba ini cocok banget kalo jadi lokasi liburan untuk menenangkan diri. Bener-bener liburan, nggak ngapa-ngapain, cuma duduk-duduk unyu sambil liat danau dan gunung plus ditemani gemericik air. Kaya yang saya lakukan sekarang nih, duduk unyu sambil nulis blog ditemani pemandangan indah.

🙂

IMG_20130226_102556