Monthly Archives: Desember 2012

outbound, siapa takut?

Standar

Tanggal 6-8 Desmber lalu, kantor saya mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Acara ini sebetulnya merupakan agenda tahunan bagi karyawan baru, tapi entah mengapa angkatan 2011 yang notabene sudah bekerja selama lebih dari setahun baru diikutsertakan dalam program ini.

Tahun-tahun sebelumnya, program LDK ini bertempat di Kompleks Rindam yang terletak di Condet, Jakarta Timur. Makanya program LDK ini lebih dikenal dengan sebutan “rindam”. Tahun ini sih LDK diadakan di Lakespra Saryanto, Cianjur, Jawa Barat. Tapi dasar sudah terbiasa dengan sebutan “rindam”, LDK yang bertempat di Lakespra pun tetep disebut “rindam”.  Awalnya saya sih malas ikut acara ini, apalagi angkatan sebelumnya sering bercerita kalau program “rindam” sangat amat horor.

Acara ini bertujuan untuk melatih mental dan fisik pekerja media. Maklum lah, sebagai wartawan kami harus disiplin dan siap siaga kapan pun harus meliput sebuah peristiwa. Untuk latihan mental sih agak kurang, bahkan nyaris tidak ada. Hanya latihan fisik dan kedisiplinan yang lebih menonjol. Misalnya saja, selama di lapangan kami diwajibkan memakai seragam loreng lengkap dengan sepatu PDL yang pakenya susah banget, topi dan sabuk yang ada tempat minumnya. Dan pakaian tersebut harus dipakai lengkap saat tiba-tiba pukul tiga pagi barak digedor gedor dan banyak bunyi petasan seolah-olah kami diserang. Pagi buta itu kami harus keluar barak sesegera mungkin, pake seragam, gendong tas yang berat mampus dan tiarap di rerumputan yang dingin.

Liputan tentang program LDK ini bisa dilihat di sini.

Latihan fisik yang lain misalnya adalah turun tebing menggunakan tali, menyeberang dengan tali dan flying fox. Latihan seperti ini tentu berguna saat kami harus ditempatkan di lokasi yang sulit dijangkau. Latihan lain yang cukup menguras tenaga dan bikin pegel seluruh tubuh adalah outbound melintasi perbukitan. Namanya bukit, pasti jalanannya naik dan turun. Sama seperti kehidupan manusia, ada kalanya kita naik dan ada kalanya kita turun. Baik dalam keuangan, kehidupan percintaan, karir dan kesehatan (malah kaya horoskop yak).

Saat jalanan mendaki, kami harus mengeluarkan tenaga ekstra. membawa tubuh yang sudah kelelahan dan kurang tidur aja udah berat, ini masih ditambah ransel sebagong yang lumayan berat (kalo berat atau nggak tergantuk masing-masing sih). Kami hanya tahu bahwa tempat yang kami tuju bernama kampung Sarongge. Di sana kami akan menemukan makanan dan tempat beristirahat yang bisa dibilang ala kadarnya.

Makanan dan tempat istirahat merupakan simbol dari berkat dan keberhasilan. Untuk mencapainya, kita harus bekerja keras yang disimbolkan dengan mendaki gunung. Kita tahu apa tujuan kita, apa yang kita inginkan. Namun yang sering kita tidak ketahui adalah berapa lama dan seberapa sulit kita harus melalui jalan ke sana. Sama seperti mendaki gunung menuju ke tempat istirahat, kita harus bekerja dan mengerahkan tenaga semaksimal mungkin untuk menuju puncak.

inilah tenda tempat kami tinggal selama satu malam

inilah tenda tempat kami tinggal selama satu malam (foto diambil oleh Nadila Fitria)

Tempat istirahat yang kami tuju pun tak lebih dari sekedar tenda besar yang dapat dihuni puluhan orang. Dengan tempat tidur ala TNI yang jauh dari kata empuk, kami  menghabiskan malam. Untung ada sleeping bag, jadi kami tidak seberapa kedinginan tidur di kawasan Puncak. Kondisi seperti ini membuat kita bersyukur, karena sehari-hari kami dapat tidur dengan nyaman di kasur yang empuk. Ruangan dan selimut yang dapat melindungi kita dari panas, hujan dan hawa dingin. Kadang memang perlu kondisi yang serba minimal untuk mengingatkan betapa berharganya semua yang kita alami dan miliki.

Dalam perjalanan naik turun bukit, kami melihat pemandangan yang luar biasa indah. Jajaran bukit yang masih hijau, perkebunan yang masih asri, sungai yang sejuk dan deretan tanaman teh yang baru pertama kali saya lihat secara langsung. Pemandangan indah ini merupakan simbol dari proses menuju keberhasilan. Saat kita tidak mau melewati proses dan ingin memperoleh kesuksesan dengan cara instan, kita tidak akan bisa melihat betapa indahnya dunia ini. Andai saja untuk menuju tempat istirahat menggunakan kendaraan, kami tidak akan melihat kondisi sekitar lebih jelas. Semua akan menjadi pemandangan yang hanya berlalu begitu saja. Namun saat menjalani proses, kita dapat mengenal banyak pemandangan indah yang merupakan simbol dari karakter orang-orang, sehingga kita dapat saling menghargai satu sama lain.

melintasi perkebunan teh (foto diambil oleh Wahyu Ramadhan)

melintasi perkebunan teh (foto diambil oleh Wahyu Ramadhan)

Dalam outbound, kami banyak mendapat teman baru dan semakin akrab dengan teman lama. Maklum lah, karyawan di perusahaan tempat saya bekerja sangat banyak, sehingga sulit untuk mengenal satu per satu. Karyawan satu divisi aja kadang gak kenal, apalagi beda divisi dan beda gedung. Tapi di sini kami bisa kompak dan saling membantu. Yang kuat membantu yang lemah. Yang tau menuntun yang tidak tahu. Betapa indahnya kalau dalam kehidupan sehari-hari pun kita melakukannya.

peserta LDK

peserta LDK

 

di tengah perjalanan

di tengah perjalanan

Kegiatan outbound yang isinya naik turun bukit dan menyusuri sungai adalah simbol perjuangan dalam menghadapi berbagai masalah untuk menuju kesuksesan. Saat menghadapi masalah, seringkali kita berdoa supaya Tuha mengangkat “gunung masalah’ di hadapan kita. Namun seringkali Tuhan memberikan yang lain. Dia justru memberi kekuatan untuk mendaki gunung. Dia memampukan kita untuk menghadapi setiap masalah yang kita hadapi.

Acara ini memang diwajibkan untuk para karyawan yang terdaftar. Namun sebetulnya bisa saja saya mangkir dengan berbagai alasan. Apalagi acara sejenis pernah saya alami waktu jaman sekolah dulu. Bedanya hanya di faktor usia, sehingga saya dapat berpikir dan merenung lebih dalam dibanding saat usia belasan dahulu. Untung saya memilih untuk ikut, sehingga banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan. 🙂

 

Mazmur 28:7  “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.”