Monthly Archives: Oktober 2013

Mendem Wedokan

Standar

Dari kecil saya sudah terbiasa mendengarkan lagu-lagu campur sari. Siang-siang setelah pulang sekolah, biasanya di rumah sudah nyetel radio MBS yang memutar lagu campur sari. Nggak heran deh kalau banyak lagu campur sari yang saya tahu bahkan hapal lirik-liriknya.

 

Karena sudah terbiasa sejak kecil, saat di Jakarta pun saya masih suka dengan lagu campur sari. Bahkan salah satu ponsel saya menggunakan lagu “Iki Weke Sopo” dari Didi Kempot sebagai ringtone. Gara-gara itu saya suka diledekin “ya ampuunn jawir bangeett..”. Tapi hal tersebut nggak membuat saya malu tuh.

 

Mendengarkan lagu campur sari di Jakarta tentu cukup langka. Beruntung, di dekat kosan saya sedang ada acara sunatan yang nanggap wayang sekaligus grup campur sari. Lumayan lah mengobati rasa rindu pada lagu campur sari. Nah tadi siang, sayup-sayup saya mendengarkan lagu “Mendem Wedokan” yang aslinya dinyanyikan oleh Paijo dan Yati Pesek.

 

mendem wedokan

Lagu “Mendem Wedokan” berisi tentang seorang pria yang meminta ibunya untuk mencarikan jodoh. Berikut sebagian lirik lagu yang dinyanyikan secara duet:

 

Tole:

Simbok simbok wetengku luwe, ana ketan aku tukokna

Simbok simbok aku wis gedhe, ana perawan coba takokna

 

Simbok:

Tole tole ketane abang, ditaburi klapa parutan

Tole tole rabine gampang, paling penting golek gawean

 

Tole:

Aduh simbok penting kawinan, aku iki wis mendem wedokan

Aduh simbok ra isa turu, awan bengi pengen pengen pengeen ketemuu

 

Simbok:

Ora gampang wong bebojoan kudu bisa golek sandang pangan

Yen mung nuruti mendemmu, apa bojo mbok pakani watu?

 

 

Kalau nggak ngerti bahasa Jawa, saya Bantu terjemahin yaa..

 

Anak:

Ibu, ibu perutku lapar, ada ketan tolong belikan

Ibu ibu aku sudah besar, ada perawan coba tanyakan

 

Ibu:

Nak nak ketannya merah, ditaburi kelapa parutan

Nak nak nikahnya mudah, paling penting cari kerjaan

 

Anak:

Aduh ibu yang penting kawin, aku ini sudah mabok wanita

Aduh ibu tak tak bisa tidur, siang malang ingin ingin ingin bertemu

 

Ibu:

Tidak mudah berumah tangga, harus bisa cari sandang pangan

Kalau hanya menuruti mabokmu, apa istri mau dikasih makan batu?

 

 

Waktu kecil, saya sih Cuma ketawa-ketawa aja dengerin liriknya yang sederhana dan berbau guyonan. Tapi beranjak dewasa, ternyata lirik lagu “Mendem Wedokan” lumayan menohok hati.

 

Kalau dilihat dari liriknya, sepertinya si anak adalah pria dewasa yang secara umur sudah siap menikah, tapi belum bekerja. Sang ibu hanya mengingatkan kalau hidup berumah tangga harus benar-benar siap terutama dalam hal financial.

 

Belakangan ini saya banyak menghadiri acara pernikahan baik teman maupun saudara. Kalau di tempat teman sih datengnya barengan sesame jomblo yang nggak punya gandengan. “Pertanyaan-pertanyaan maut” sangat kecil kemungkinannya ditanyakan kepada saya. Nah kalau di tempat saudara beda lagi ceritanya. “Pertanyaan maut” sudah pasti mengalir dari mulut para kepowan den kepowati. Untungnya orang tua saya nggak pernah kepo menanyakan “pertanyaan maut” itu, walaupun mungkin dalam hati bertanya-tanya juga.

 

Di usia saya sekarang, memang banyak teman-teman yang sudah mengakhiri masa lajang bahkan sudah membawa buntut. Saya sih nggak ambil pusing ya, selama mereka sudah siap lahir batin, kenapa tidak?

 

Seperti lirik lagu “Mendem Wedokan”, hidup berumah tangga harus bisa memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Dari hasil mengamati orang-orang sekitar, ada beberapa tipe pernikahan yang saya lihat. Ada yang menikah setelah siap mental dan fisik. Sudah bekerja, punya rumah dan kendaraan. Ada yang sama-sama memulai dari nol, dengan tujuan maju dan memenuhi kebutuhan bersama-sama. Ada yang menikah dan kemudian masih tinggal bersama orang tua. Ada yang memutuskan hidup mandiri dengan tinggal di kontrakan. Ada juga yang setelah menikah hidup terpisah seperti pada saat masih pacaran.

 

Kalau membaca berita, menyaksikan tayangan TV atau melihat kehidupan pernikahan orang-orang sekitar, banyak yang berakhir tidak bahagia. Ada yang istrinya kabur karena nggak tahan dengan kemiskinan. Ada yang selingkuh karena nggak puas dengan keluarga. Ada yang cekcok terus. Ada yang akhirnya malah membebani anak-anaknya sendiri.

 

Terus terang sih saya lumayan jiper kalau melihat hal-hal demikian. Kalau ditanya apakah saya siap, saya pun nggak tahu jawabannya. Mungkin suatu hari nanti kalau sudah menemukan “the one”, saya baru bisa jawab. Menemukan dan memutuskan “the one” pun merupakan pe-er sendiri.

Yah, buat saya sekarang yang penting bekerja dulu untuk mengumpulkan pundit-pundi. Kalau memang jodohnya, pasti nggak akan terlalu cepat atau terlambat.

 

Mohon maaf kalau curcolnya agak berat.  🙂