Monthly Archives: September 2013

Partikel, Malibu Country dan Iman

Standar

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca novel karya Dewi Lestari yang merupakan seri keempat dari serial Supernova, yaitu Partikel. Cukup lama sih saya tidak membaca karya sastra yang lumayan serius. Buku-buku terakhir yang saya baca adalah bacaan ringan jenaka ala-ala Raditya Dika yang isinya seperti buku harian.

Novel dan cerpen karya Dewi Lestari lainnya sellau sanggup menghipnotis saya untuk terpaku pada bacaan dan melupakan hal lainnya. Seperti novel Perahu Kertas yang meskipun covernya lucu, tetapi isinya sanggup mengaduk-aduk emosi yang bahkan tidak saya alami saat menonton filmnya.

Novel Partikel bercerita tentang Zarah, seorang gadis yang tidak pernah mengenyam pendidikan SD dan SMP tapi langsung duduk di bangku SMA pada usia 14 tahun. Kecerdasannya merupakan tempaat ayahnya, seorang dosen IPB yang lebih percaya sistem pendidikannya sendiri daripada pembelajaran di sekolah. Karena pengajaran dan kedekatannya dengan sang ayah lah, Zarah rela berkeliling dunia untuk mencari keberadaan ayahnya yang suatu hari menghilang secara tiba-tiba.

Membaca novel Partikel butuh kesiapan mental dan iman yang kuat. Jika tidak, kemampuan berbahasa Dewi Lestari yang menggunakan sudut pandang orang pertama pada karyanya ini bisa menggoyahkan iman.

Novel Partikel menunjukkan jika Dewi Lestari melakukan riset mendalam. Di Partikel kita akan banyak bertemu logika tentang penciptaan bumi, evolusi, alien dan bagaimana alam semesta merupakan jawaban bagi setiap permasalahan kita.

Jika iman tentang keberadaan Tuhan tidak kuat, bisa dipastikan seseorang akan dengan mudahnya memilih jalan untuk tidak percaya kepada Tuhan lagi. Novel ini bagus kok untuk menambah pengetahuan. Jadi bukan novelnya yang harus dihindari atau dimusnahkan, tetapi pertahanan iman kita yang harus kuat sebelum membaca.

Cerita tentang ketidakpercayaan seseorang kepada Tuhan juga baru saja saya saksikan di sitkom Malibu Country semalam. Saya sih baru belakangan ini menyadari kalau Malibu Country ternyata lucu dan bisa dijadikan pembelajaran bagi para orang tua.

Pada episode yang saya tonton, dikisahkan keluarga Reba, ibu paruh baya yang memiliki dua anak remaja, sedang merayakan Natal. Saat sedang beribadah di Gereja, anak perempuan Reba, June, tidak antusias dalam mengikuti ibadah. June mengaku pada kakak laki-lakinya, Cash, bahwa dirinya tidak mempercayai keberadaan Tuhan karena tidak ada bukti keberadaanNya.

June tidak ingin ibunya mengetahui hal ini. Hingga akhirnya June tidak mau lagi ke Gereja dan Cash memberitahu kondisi yang sebetulnya kepada sang ibu. Di sinilah saya melihat jika Reba, sang ibu bersikap demokratis dan menghormati pilihan putrinya.

Pada novel Partikel, Zarah yang tidak percaya Tuhan dimusuhi dan dipaksa melakukan ritual-ritual agama oleh keluarganya. Sebaliknya, pada sitkom Malibu Country, Reba justru memberi pengertian pada putrinya tentang iman dan tidak memaksakannya.

Reba: kenapa kamu tidak percaya Tuhan? Ada kejadian kah yang membuatmu begitu?
June: tidak ada kejadian, hanya saja aku tidak melihat Tuhan itu ada. Saat perceraian ayah dan ibu, aku berdoa setiap hari dan beriman jika keadaan akan membaik. Tapi nyatanya tidak. Entah karena Tuhan tidak mendengar atau Dia memang tidak ada.
Reba: iman tidak membuat hal buruk tidak terjadi pada kita. Tapi iman memberi kita kemampuan untuk melalui hal buruk.

Kata-kata terakhir Reba itulah yang akhirnya menyadarkan June dan akhirnya ia mau pergi ke Gereja. Tanpa dipaksa. Tanpa dimusuhi.

Dan kebetulan sekali, tema di Gereja JPCC bulan ini adalah iman. Beriman atau tidak beriman adalah soal pribadi dan tidak bisa dipaksa. Cukup memberi contoh berupa perilaku sehari-hari kepada orang lain, bahwa iman sanggup membawa kita pada hidup yang lebih baik. Jadi daripada memusuhi keyakinan lain, lebih baik menguatkan iman sendiri.

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Lukas 17:6).