Monthly Archives: April 2012

monolog Siti si bakul tenongan

Standar

Masyarakat Indonesia suka drama. Mungkin itu yang melatarbelakangi kotbah di gereja tadi sore dalam rangka perayaan Paskah. Jika biasanya kotbah hanya disampaikan oleh seorang pendeta atau pembicara, kali ini kotbah disampaikan dengan bentuk yang lain, yaitu talk show yang dibantu dengan drama.

Drama dimulai dengan monolog seorang tukang kue keliling (kalo di Jogja disebut bakul tenongan) bernama Siti, yang berkeluh kesah tentang keadaannya. Begini kurang lebih monolog Siti, yang juga menggambarkan kondisi sebagian besar masyarakat Indonesia:

“Wah paskah ra paskah yo podo wae. Podo wae rekasane. Bayangke wae, wis mubeng-mubeng tekan jam semenen lagi oleh 25ewu. Bojoku ki wis mati. Ora ninggali bondo, malah ninggali anak 2 gek mangane do akeh-akeh. Tambah mumet taun iki anakku sing mbarep mlebuh SMA, sing cilik mlebu SMP. Aduh puyeeenngg..!!”

Buat yang gak ngerti bahasa Jawa, kurang lebih terjemahannya seperti ini:

“Wah paskah gak paskah sama saja. Sama saja menderitanya. Bayangkan saja, sudah berputar-putar sampai jam segini baru dapat 25ribu. Suamiku itu sudah meninggal. Bukannya meninggalkan harta, malah meninggalkan 2 anak yang makannya banyak. Tambah pusing tahun ini anak sulungku masuk SMA, yang kecil masuk SMP. Aduh pusiiiiinnnggg!!!”

Baru mendengar monolog itu saja, saya rasanya sudah malu. Selama ini saya seringkali merasa sebagai orang yang cukup memiliki banyak masalah. Tapi nyatanya dari drama monolog saja, saya dapat melihat bahwa masalah saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Siti si bakul tenongan. Dan pastinya, banyak Siti-Siti lain di dunia ini yang punya masalah berat.

Drama belum berakhir sampai di situ. Setelah monolog Siti, ada tayangan video Lena Maria, seorang wanita yang tidak sempurna secara fisik, namun selalu mensyukuri apa yang dia miliki, bukan menggerutu atas apa yang tidak dia miliki.

Di hari Paskah yang merupakan perayaan kebangkitan Yesus dari kematian, kita diharapkan selalu berpegang teguh pada janjiNya. Tuhan tidak menjanjikan harta kekayaan yang berlimpah-limpah atau menjamin bahwa umatNya tidak akan memiliki masalah. Namun Tuhan menjamin bahwa Dia akan selalu ada untuk kita dalam segala kondisi. Ketika ada masalah dalam hidup dan kita mengangkat tangan, Tuhan pasti turun tangan.

Hidup saya sendiri juga tak lepas dari masalah. Malah dari kecil saya sudah terbiasa hidup susah. Tapi nyantanya Tuhan tetap pelihara saya. Tuhan tidak membiarkan saya kelaparan, homeless atau putus sekolah. Meskipun sulit, Tuhan tetap menjaga hidup saya sampai sekarang. Malahan ketika hidup kita terasa sulit, saat itulah kita dapat mengingat kasih Tuhan yang luar biasa.

Kenapa saya malah jadi kotbah yak? Hehehee.. Ga bermaksud sih, cuma pengen berbagi pengalaman.

Di acara perayaan Paskah tadi juga ada persembahan lagu dari pemuda gereja yang menyanyikan sebuah lagu dengan musik keroncong. Sebuah lagu berjudul “nderek Gusti” yang membangkitkan kenangan saya. Lagi itu merupakan salah satu lagu bahasa Jawa favorit saya yang liriknya begini:

Sakjege aku nderek gusti

Uripku tansah diberkahi

Atiku ayem tentrem, atiku ayem tentrem

Kabeh iku Gusti Yesus kang maringi

Sakjege aku nderek gusti

Uripku tansah diberkahi

Atiku ayem tentrem, atiku ayem tentrem

Kabeh iku Gusti Yesus kang maringi

Matur nuwun, matur nuwun

Matur nuwun Gusti Yesus kula matur nuwun

Matur nuwun, matur nuwun

Matur nuwun Gusti Yesus kula matur nuwun

Arti dari lagu ini adalah:
Semenjak aku mengikut Yesus
Hidupku selalu diberkati
Hatiku aman dan tenteram
Semua itu pemberian Tuhan Yesus
Terima kasih, terima kasih
Tuhan Yesus, saya berterima kasih

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Korintus 12:9).

balas dendam masa kecil

Standar

Makan malam saya hari ini adalah pizza. Saya pun jadi teringat masa kecil saya. Saat itu saya sangat amat jarang sekali makan pizza. Gak hanya pizza, tapi juga makanan-makanan fastfood lainnya semacam McD, KFC, Texas Chicken dan sebagainya.

Saya lahir dan tumbuh di tengah keluarga sederhana dan serba berkecukupan, yang artinya tak ada dana berlebih untuk makan di restoran-restoran tersebut. Bahkan makan di luar pun sangat jarang. Sehari-hari ya makan masakan ibu di rumah. Segala macam jajanan seperti es krim dan coklat yang jadi idola anak-anak pun lumayan jarang saya dapatkan.

Tak hanya dalam hal makanan, waktu kecil pun saya sangat jarang diajak jalan-jalan. Paling pol ya ke malioboro atau alun-alun yang letaknya tak jauh dari rumah. Jalan kaki juga udah nyampe. Saya bisa makan enak dan jalan-jalan kalo ada teman yang merayakan ulang tahun atau ada keluarga jauh yang datang.

Kondisi mulai agak mendingan waktu saya duduk di bangku SMA. Saya mendapat sepeda motor pertama saya, yang artinya bisa saya gunakan ke manapun saya inginkan. Tapi tak semudah itu juga sih, mengingat uang saku anak SMA yang pas-pasan. Palingan saya main ke rumah teman sambil mengerjakan tugas-tugas kelompok. Entah kenapa waktu SMA banyak sekali tugas kelompok, yang akhirnya membuat teman sekelompok jadi sahabat sampai sekarang. :’)

Sampai kuliah pun saya masih jarang pergi ke tempat anak-anak muda biasa nongkrong. Itu sebabnya jangan bertanya di mana tempat-tempat gaul di Jogja. Saya tidak banyak tahu, karena saya memang bukan anak nongkrong.

Selepas kuliah, saya langsung meninggalkan Jogja untuk bekerja di Jakarta. Di Jakarta, saya mendapat penghasilan dari keringat saya sendiri. Saya pun bisa membeli semua hal yang jarang saya nikmatii sewaktu kecil. Misalnya seperti pizza yang sedang saya nikmati ini. Bahkan kalau mau, saya bisa menikmati semua makanan yang saya inginkan untuk membalaskan dendam masa kecil saya. Tapi tentu saja saya tahu kalau itu bukan pola makan yang sehat.

Tinggal di Jakarta pun mungkin salah satu wujud balas dendam saya. Waktu kecil kan saya jarang bepergian. Saat ini saya bukan hanya bepergian dari rumah, tapi saya sudah tinggal di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah.

Semenjak bekerja pun saya baru bisa menikmati enaknya hura-hura menggunakan uang sendiri. Makan enak, nonton bioskop, karaokean, nongkrong-nongkrong, bisa saya lakukan tanpa perlu kuatir membebani orang tua. Saya juga sering berkelakar dengan sahabat-sahabat saya, bahwa kami bangga menjadi anak yang tidak gaul di masa lalu. Kami lebih bangga hura-hura dengan jerih payah sendiri, daripada anak-anak lain yang lebih gaul tapi dengan uang orang tua.

Mungkin kisah masa kecil saya agak kasihan ya. Masih banyak sih yang lebih kasihan daripada saya. Tapi saya bersyukur diberi kesempatan untuk melewati masa-masa sulit. Dengan begitu, saya bisa menghargai apa yang saya dapatkan dengan susah payah. Saya bisa mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu, saya harus berusaha keras.

Yang pasti, masih ada keinginan-keinginan lain yang belum terwujud untuk membalaskan dendam masa kecil saya. Dan sampai sekarang saya masih berusaha mewujudkannya. Hehehehee ๐Ÿ˜€

(า‚’ฬ€โŒฃ’ฬ)9

BBMe mbah mu po?

Standar

Setelah kulit menghitam akibat liputan unjuk rasa. Setelah seminggu ini berjaga-jaga sambil deg-degan kalau unjuk rasa berlangsung ricuh. Akhrinya semalam diputuskan kalau harga BBM ga jadi naik tanggal 1 April ini. Kabar gembira bagi mereka yang sejak kemarin menentang habis-habisan rencana pemerintah menaikkan harga BBM.

Memang nampak ada keragu-raguan dari pemerintah dan DPR tentang hal ini. Namun saya yakin keputusan yang diambil pemerintah sudah dipikirkan masak-masak bagi kebaikan bangsa ini.

Bagi saya pribadi, sebetulnya kenaikan harga BBM dapat dimaklumi. Harga minyak mentah dunia memang sedang tinggi. Bahkan dari informasi yang saya baca di portal berita, presiden Amerika Serikat, Barack Obama juga diprotes oleh rakyatnya terkait kenaikan harga minyak ini. Artinya, bukan bangsa Indonesia saja yang harus mengalami kenaikan harga BBM karena bangsa lain pun harus menghadapi kenyataan yang sama.

Bukannya saya tidak peduli dengan masyarakat yang beban hidupnya akan bertambah jika harga BBM naik. Bahkan kalo harga BBM naik, beban hidup saya juga pasti bertambah. Tapi segala kesulitan kan pasti ada jalan keluarnya, asal kita mau berusaha.

Kita bisa menyikapi kenaikan harga BBM dengan dua cara. Pertama, bersungut-sungut dan menganggapnya sebagai beban hidup. Kedua, kita bisa menjadikannya sebagai tantangan, sehingga kita lebih berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam alkitab terdapat sebuah kejadian, dimana bangsa Israel yang terbebas dari penjajahan bangsa Mesir hampir sampai ke Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan. Sebelum mencapai Kanaan, nabi Musa mengutus 12 pengintai untuk melihat keadaan negeri Kanaan yang penuh dengan susu dan madu sebagai lambang kesuburan. Setelah 40 hari, kedua belas pengintai itu kembali dengan dua hasil yang berbeda. Sepuluh pengintai melihat negeri Kanaan sebagai negeri yang penuh kebaikan, namun tidak mungkin menaklukannya karena negeri itu didiami oleh orang-orang kuat. Sementara dua pengintai melihat Kanaan sebagai negeri yang dilimpahi susu dan madu, dan mereka pasti bisa menduduki negeri itu jika Tuhan menyertai mereka.

Sama seperti kisah alkitab di atas, bangsa Indonesia punya dua sikap. Pertama, menganggap kenaikan harga BBM sebagai momok. Sehingga jika BBM jadi naik, dapat dipastikan masyarakat tidak akan sanggup menghadapi biaya hidup yang bertambah. Kedua, sikap optimis bangsa Indonesia yang yakin tetap bisa bertahan hidup di bawah himpitan ekonomi. Persis cerita di atas, sepertinya lebih banyak masyarakat yang pesimis ketimbang optimis.

Sebetulnya harga bensin premium yang direncanakan naik menjadi 6000 rupiah bukanlah harga baru. Tahun 2008 kita pernah mengalami harga setinggi itu, dan nyatanya tetap bisa bertahan hidup kok. Dan kalau dulu ada penurunan harga BBM, berarti kan masih ada kemungkinan harga BBM turun lagi di masa mendatang.

Namun akhirnya pemerintah batal menaikkan harga BBM 1 april ini. Kenaikan akan terjadi jika selama 6 bulan, harga minyak mentah dunia lebih tinggi 15 persen dari estimasi APBN. Meskipun kebijakan untuk menunda kenaikan harga BBM sudah diambil, masih ada saja masyarakat yang berunjuk rasa. Bahkan di salah satu stasiun TV swasta, ada pengunjuk rasa yang menuntut harga BBM tidak boleh naik dalam kondisi apapun. Dalam hati saya berkata, “bbm e mbahmu po..”. Ibaratnya, sudah diberi hati masih minta jantung.

Kalau bicara kesiapan, masyarakat tidak akan pernah siap menghadapi kenaikan harga jika tidak dipaksa. Bahkan di beberapa aku sosial media dikatakan, bahwa masyarakat tidak siap menghadapi kenaikan harga BBM, tapi kebiasaan merokok berjalan terus. Padahal jelas merokok bukan kebutuhan pokok, menghabiskan uang yang tidak sedikit dan menimbulkan penyakit.

Terlepas dari banyaknya kepentingan politik dan pencitraan terkait kenaikan harga BBM, optimis dalam menjalani tantangan hidup perlu ditanamkan bagi bangsa Indonesia. Apapun keputusan yang diambil pemerintah, pasti sudah dipikirkan masak-masak tentang sisi positif dan negatifnya. Dan jangan lupa berdoa dan menyerahkan segala permasalahan kita pada Yang Di Atas.

Inilah pendapat sotoy saya terkait kenaikan harga BBM. Beda pendapat boleh, asal jangan dilakukan dengan kekerasan. ๐Ÿ™‚

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” (Roma 13:1).