Monthly Archives: Desember 2011

31 Desember

Standar

Hari ini tanggal 31 Desember 2011. Seperti biasa, di hari terakhir setiap akhir tahun, pasti akan ada persiapan untuk merayakan pergantian tahun.

Kembang api, pesta barbeque, terompet, pesta pora, refleksi diri, doa pribadi dan ibadah keluarga adalah beberapa cara yang dipilih untuk menyambut tahun baru. Dan sebelumnya, dipastikan banyak resolusi tahun baru yang dibuat. Mengenai apa saja yang ingin kita capai di tahun berikutnya.

Di hari terakhir tahun 2011 ini, saya sempat membuat SKI atau sasaran kerja individu tahun 2011. Jadi ceritanya, di kantor saya tiap tahun ada penilaian, yang pertama kali didasarkan pada sasaran kerja selama setahun. Setiap karyawan diwajibkan untuk membuat daftar tentang apa saja yang ingin dicapai dalam waktu setahun. Tak hanya itu saja, sasaran kerja juga harus disertai dengan target waktu dan cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Kedengarannya memang simpel. Tapi dari situ saya belajar, bahwa resolusi hanyalah sekedar impian kosong jika tidak disertai dengan target yang jelas. Dan tak kalah penting, bagaimana cara kita untuk dapat mencapainya.

Misalnya resolusi tahun 2012 adalah memiliki badan six pack. Target pencapaian Juni 2012. Caranya rajin fitnes 3 kali seminggu, ganti nasi putih dengan nasi merah, sarapan oatmeal, minum susu protein setiap hari, dan sebagainya.

Resolusi kosong seperti “punya banyak uang”, “membahagiakan orang tua”, “bekerja dengan lebih baik” memang kedengarannya bagus. Apalagi jika cara mencapainya hanya dengan dijalani saja. Buat apa capek-capek bikin resolusi.

Untuk mencapai sebuah tujuan, kita harus tau caranya. Kita harus mengerti jalan mana saja yang harus kita lewati. Ibarat mencari alamat, jika kita tahu arah dan tujuan, kita dapat mencapainya dengan lebih efisien. Tapi jika tidak tahu arah dan hanya berputar-putar saja, bisa-bisa kita kehabisa waktu dan pada akhirnya tidak pernah mencapai tujuan.

Sebagai manusia, kita memang hanya bisa berdoa dan berusaha. Selebihnya, itu kehendak Tuhan untuk memberikan segala sesuatu yang dipandangNya baik bagi kita.

Selamat tahun baru 2012. Tuhan memberkati dan menyinari engkau dengan wajahNya. Tuhan memberikan kasih karunia dan damai sejahtera di sepanjang tahun 2012.

——————————

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12).

πŸ™‚

1st anniversary

Standar

Ini dia hasil “jualan” tulisan saya di blog selama setahun. Jika mengabaikan homepage dan profil saya, nampaknya tulisan “Robohnya Surau Kami” menduduki peringkat tertinggi pembaca terbanyak. Mungkin karena judul itu memang merupakan karya sastra yang sangat terkenal.

Jadi tadi siang hingga sore, hujan mengguyur Batu, Jawa Timur. Saya yang sedang bekerja pun terpaksa berhenti beberapa saat karena tidak mungkin liputan sambil hujan-hujanan.

Waktu lowong itu pun saya gunakan untuk membaca kembali tulisan-tulisan saya di blog ini. Tidak terasa sudah setahun lebih saya mencurahkan isi pikiran saya melalui tulisan di blog. Pertama kali saya posting blog pada tanggal 19 November 2010. Jadi ceritanya blog saya habis berulang tahun. Kasih kado dong. Hehehe.. πŸ˜€

Iseng-iseng saya melihat jumlah pembaca berdasarkan judul tulisan selama setahun, dan hasilnya ada di atas. Saya tidak menyangka, ternyata saya bisa juga mencurahkan isi hati selama setahun (walopun sempet berhenti lama). Dari tulisan-tulisan tersebut, saya kembali belajar. Karena memang sesungguhnya, murid pertama dari tulisan kita adalah diri kita sendiri.

Membaca kembali tulisan-tulisan saya, rasanya seperti berjumpa dengan kawan lama. Saya harap ungkapan hati dan pikiran saya boleh berguna bagi orang lain.

Pokoknya tetap inspiratif, informatif dan entertaining. *sambil tiup lilin*

πŸ˜€

pengalaman = guru yang baik

Standar

Ungkapan “pengalaman adalah guru yang berharga” memang benar adanya. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Pengalaman hidup yang penuh perjuangan menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama.

Ketika saya sedang dinas liputan di Malang, Jawa Timur, saya mendapat seorang supir bernama Pak Harry. Tadinya saya kira, dia adalah supir biasa seperti supir lain yang sering mengantar saya ketika sedang liputan, baik di Jakarta maupun di luar kota.

Sampai suatu malam dalam perjalanan mencari gereja untuk beribadah, Pak Harry menceritakan pengalaman hidupnya yang membuat saya terkagum-kagum. Beliau bukanlah supir biasa, melainkan pemilik rental mobil dengan 4 armada. Cukup untuk membuat mulut saya menganga lebar. Beliau memang sengaja mengendarai mobil sendiri karena mengaku sulit mencari supir yang berkualitas.

Tidak mudah untuk memulai bisnis yang dijalankan Pak Harry. Beliau mengaku, sekitar tah 90an hidupnya susah sehingga ingin meningkatkan taraf hidup keluarganya. Tahun 2000, Pak Harry pergi meninggalkan Indonesia untuk mengadu nasib di Amerika Serikat. Pada awal kedatangannya, beliau bekerja kasar sebagai pencuci piring bergaji kecil, dengan alasan tidak punya ketrampilan dan tidak bisa berbahasa Inggris.

Tidak puas dengan itu, Pak Harry mulai belajar hal lain di restoran tempatnya bekerja, yaitu memotong bahan makanan. Atasannya yang melihat hal tersebut, memindahkan beliau dari pekerjaan cuci piring ke pekerjaan memotong. Dari situlah keahliannya diasah terus, sehingga akhirnya Pak Harry menjadi chef sushi dengan gaji yang cukup tinggi.

Dari hasil pekerjaannya itulah, beliau dapat mengumpulkan modal untuk memulai bisnis di Indonesia. Sepulangnya di Indonesia, Pak Harry mencoba bisnis rental Play Station, yang berakhir dengan kebangkrutan. Tidak berlama-lama putus asa, beliau mencoba bisnis rental mobil yang saat ini sudah berjumlah 4 kendaraan. Bukan jumlah yang besar memang. Tapi bukankah yang namanya bisnis harus dimulai dari kecil dulu?

Kisah Pak Harry membuat saya malu, karena saat ini saya belum memiliki sesuatu yang dapat saya banggakan. Namun pengalamannya menginspirasi saya, untuk bekerja keras dan terus belajar meningkatkan kemampuan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengubah keadaan sulit menjadi berkelimpahan.

Saya pun ingin suatu hari nanti mendapat pengalaman baru dengan bekerja di luar negeri sesuai dengan bidang yang saya tekuni. Mengumpulkan modal untuk memulai usaha.

Pertemuan saya dengan Pak Harry tentu bukanlah kebetulan belaka. Pertemuan kami membuat saya terinspirasi dan semakin bersemangat mengejar impian. Tidak ada yang mudah, namun mulailah dengan perkara kecil untuk dapat mengerjakan perkara besar.

πŸ™‚

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).