Category Archives: inspirasi

Masterchef US season 4: Fruitfulness

Standar

Dua-tiga bulan terakhir ini saya menonton ajang pencarian bakat Masterchef US season 4 secara rutin. Season 1-3 saja saya nggak pernah ngikutin, cuma nonton kalo pas lagi nyetel aja. Kalau season 4 ini, saya sengaja meluangkan waktu pada saat weekend untuk nonton di Starworld.

Selama ini sih saya lebih suka nonton Junior Masterchef karena lebih “manusiawi”. Para juri memperlakukan anak-anak peserta ajang pencarian bakat ini dengan halus, bahkan pada saat mereka melakukan kesalahan. Sangat berbeda dengan peserta dewasa yang kadang dimaki sampai makanan buatan mereka dibuang.

Tapi entah kenapa season 4 ini saya tertarik untuk mengikuti. Mungkin karena ada drama yang cukup menarik, di mana ada peserta bernama Krissi yang menjadi public enemy. Menurut saya justru ada peserta antagonis yang arogan dan gemar mencaci inilah yang membuat Masterchef US season 4 lebih menarik.

Masterchef-US-Season-4-Contestants

Nggak cuma Krissi, karakter peserta lain pun cukup menarik, apalagi jika dikaitkan dengan kompetisi masak-memasak yang lumayan ketat ini. Minggu kemarin saya menyaksikan episode Top 3 di mana hanya tersisa Jessie, Natasha dan Luca sebegai pesertanya.

Jessie adalah peserta tercantik pada season 4 ini. Setidaknya menurut saya. Dengan wajah cantik, hidung mancung, rambut blonde panjang dan tubuh langsing, awalnya Jessie hanya disangka bermodal tampang. Tapi pada kenyataannya dia memang pandai memasak sehingga bisa sampai posisi top 3.

Pada setiap penampilannya, saya selalu melihat Jessie menggunakan high heels. Saya sempat bingung sih, apa ya mungkin dia masak pake high heels? Saya baru tahu di episode top 3 kalau Jessia selalu mengganti sepatunya dengan flat shoes pada saat memasak. Mungkin maksudnya biar tetep chantique kalau di depan juri.

Jessie dikenal sebagai peserta yang pintar mengatur waktu. Waktu 45-90 menit yang diberikan untuk menyelesaikan tugas selalu diatur dengan baik sehingga masakan bisa matang dan disajikan tepat waktu.

MC4_Jessie-Lysiak

Pada episode top 3 ini, Jessie sempat teledor melupakan salah satu bahan yang cukup penting, yaitu mentega. Sudah menjadi aturan bahwa peserta dilarang kembali ke pantry pada saat memasak, sehingga satu-satunya jalan adalah meminta dari peserta lain.

Pertama Jessie meminta kepada Natasha. Natasha memiliki 3 blok mentega yang tidak digunakan, sementara Jessie hanya membutuhkan 1 sendok saja. Sebagai pesaing, Natasha berhak untuk memberikan atau menolak permintaan Jessie. Dan Natasha memilih untuk tidak memberikan mentega pada si gadis pirang.

Natasha tidak bisa dibilang jahat karena ia hanya mencoba melindungi dirinya. Bisa saja karena mentega tersebut, masakan Jessie lebih unggul sehingga Natasha bisa dieliminasi. Ini adalah bagian dari strategi. Sebagai peserta Masterchef US, Natasha memang dikenal ambisius dan pandai mengatur waktu.

MC4_Natasha-Crnjac

Ditolak oleh Natasha, Jessie beralih ke Luca. Peserta berdarah Italia ini langsung memberikan sekotak mentega pada Jessie bahkan sebelum diminta. Beberapa episode sebelumnya pun, Luca pernah memberikan bahan masakan pada Natasha karena ia lupa mengambil dari pantry.

Entah settingan atau tidak, menurut saya Luca memang peserta yang paling baik hati. Selain mau berbagi bahan masakan dengan peserta lain, Luca selalu memberikan semangat pada peserta lain. Misalnya saja pada saat ada episode “coming back”, di mana peserta yang sudah tereliminasi berkesempatan kembali ke kompetisi, Luca menyambut dengan gembira. Padahal peserta lain malah nampak nggak suka dan bermuram durja.

MC4_Luca-Manfe

Saya memang belum menonton episode final. Tapi saya sudah tahu bahwa Luca lah pemenag kompetisi masak terbesar di Amerika ini. Menurut saya, kebaikan dan kemurahan hati Luca lah yang telah membawanya menuju kemenangan. Luca mau membagikan benih berupa “kemurahan hati” sehingga akhirnya bisa berbuah “kemenangan”.

Bukan suatu kebetulan jika tema di gereja tempat saya beribadah adalah “fruitfulness” alias “berbuah”. “Buah” adalah lambang untuk sesuatu yang bisa kita berikan untuk orang lain. Selama ini, buah sering dikaitkan dengan berkat berupa kekayaan materi yang bisa kita bagikan pada orang lain. Padahal, buah yang bisa kita berikan pada orang lain bisa berupa kemurahan hati yang kita lakukan.

Contohnya saja Luca yang memberikan “buah” berupa kemurahan hati saat Jessie dan Natasha membutuhkan pertolongan. “Buah” yang diberikan pada orang lain memiliki biji atau benih yang secara tidak langsung kita tanamkan pada orang lain. Suatu saat benih yang kita tabur akan berakar, bertumbuh dan berbuah. Buah yang dihasilkan dari benih yang kita tanam pun bisa kita nikmati kembali, bahkan dalam jumlah yang lebih besar karena dari satu benih bisa menghasilkan banyak buah.

“Buah” yang dinikmati Luca adalah kemenangan Masterchef US season 4. Karena mau memberi buah berupa kemurahan hati pada pesaingnya, Luca mendapat 250.000 USD, buku memasa karangannya sendiri dan yang pasti kesempatan lebih besar di dunia kuliner.

Menabur benih berupa “kemurahan hati” alias “generosity” sebetulnya gampang. Hanya kadang-kadang sisi kemanusiaan berupa keegoisan yang enggan melakukannya. Saya sendiri masih butuh terus diingatkan tentang kemurahan hati. Kadang ingat, lebih sering nggak ingat. Tapi satu hal yang pasti, semua yang kita tabur pasti akan kita tuai.

“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:6-7).

Mike dan Sullivan – berlian dalam kubangan

Standar

Udah pada nonton film The Conjuring belom? Film horor yang konon katanya bisa membuat bulu kaki berdiri dan nggak bisa tidur seminggu? Saya diajakin nonton film ini beberapa kali sih. Tapi saya masih waras dan menolak setiap rongrongan seorang teman yang nggak henti-hentinya merayu saya buat nonton The Conjuring.

Sebetulnya sih lumayan penasaran sama The Conjuring, soalnya banyak yang membicarakan film karya sutradara James Wan ini. Tapi rasa penasaran saya kalah jauh sama rasa horornya. Baru nonton trailernya aja udah serem, gimana nonton film utuhnya?

Saya memang bukan tipe orang yang suka nonton film horor. Film horor terakhir yang saya tonton adalah Laddaland, film horor asal Thailand yang seremnya bikin ga berani tidur dengan lampu dimatikan. Saya bukannya takut sih nonton horor. Saya cuma jijik. *denial*

Kalau mau ngajakin saya nonton, mending ngajakin nonton film yang penuh dengan khayalan dan angan-angan. Alih-alih film horor, saya lebih suka film animasi dan fantasi yang penontonnya lebih banyak anak-anak. Mungkin karena usia saya masih belasan tahun, jadi masih suka film animasi yang jalan ceritanya nggak bikin kita harus mikir.

Sekitar 1-2 bulan yang lalu, pas musim libur sekolah, di bioskop sedang memutar film Monsters University. Film ini merupakan prequel dari film Monsters Inc yang bercerita tentang kehidupan di dunia monster, dunia lain dari dunia manusia.

Kalau udah nonton film Monsters Inc, pasti tahu kalau film ini berkisah tentang Mike Wazowski dan James Sullivan, sepasang monster yang paling hebat dalam mengumpulkan suara teriakan anak-anak manusia.

Monsters University menceritakan bagaimana awal pertemuan Mike dan Sullivan jauh sebelum mereka bekerja di Monsters Inc. Sejak kecil, Mike yang bertubuh pendek dan cenderung lucu (nggak seperti monster kebanyakan yanng wujudnya horor) sudah tahu apa yang menjadi cita-citanya jika kelak dia dewasa nanti.

Berapa banyak dari kita yang sejak kecil sudah tau apa yang kita cita-citakan? Kalau ditanya orang “kalo gede nanti mau jadi apa?”, paling jawaban kita standar anak kecil seperti mau jadi dokter, pilot, astronot, polisi dan sebagainya. Ada nggak yang udah punya cita-cita spesifik sejak kecil, misalnya: “pengen jadi direktur marketing yang sukses di Citibank” atau “pengen jadi pilot di maskapai Emirates”? Nah si Mike ini dari kecil cita-citanya udah spesifik, yaitu jadi scary monster alias monster yang tugasnya menakuti-nakuti manusia di perusahaan Monsters Inc.

Menjadi seekor scary monster adalah salah satu pekerjaan bergengsi di dunia monster. Kalau di dunia manusia, kira-kira jadi apa ya? Reporter TV mungkin? Hehehehee..

mike wazowski yang unyu

Kalau sudah tau mau jadi apa kalau dewasa nanti, tentu nggak susah untuk menentukan jalan hidup. Seperti Mike misalnya yang udah bercita-cita jadi scary monster, dia melakukan segala cara untuk bisa masuk ke Monster University sebagai scare student. Banyak dari kita yang nggak tau mau jadi apa saat sudah dewasa nanti sehingga bingung menentukan arah hidup.

Kalau udah tau cita-cita kita, pasti nggak bingung deh waktu SMA mau pilih jurusan IPA atau IPS. Atau nggak mungkin kita bingung menentukan jurusan apa yang tepat untuk kita saat mendaftar ke Universitas. Kebanyakan justru memilih jurusan yang paling populer, kampus terbaik atau bahkan hanya mengikuti jalan yang sudah disiapkan orang tua.

Saya dulu juga sempat bingung mau pilih jurusan apa saat mendaftar UM-UGM dan SPMB. Cita-cita waktu kecil sih jadi wartawan, tapi waktu SMA malah memilih jurusan IPA. Nggak lolos UM-UGM dan SPMB, saya akhirnya kuliah di Akademi Komunikasi Indonesia jurusan broadcasting TV yang akhirnya membawa saya untuk bekerja sebagi reporter, sesuai cita-cita saya waktu kecil.

Memiliki cita-cita dan memperjuangkannya dengan gigih ternyata nggak cukup kuat bagi Mike untuk mewujudkan mimpinya. Mike yang rajin belajar dan mengetahui semua teori tentang menakut-nakuti, memiliki wujud yang lucu sehingga dinilai tidak berbakat. Berbeda dengan Sullivan yang sudah memiliki wujud mengerikan, tetapi malas belajar sehingga dia pun dinilai kurang memenuhi syarat untuk menjadi scary monster. 

Singkat cerita dan supaya nggak spoiler2 amat (padahal udah spoiler dari tadi) , Mike dan Sullivan harus dikeluarkan dari kampus karena kesalahan mereka. Namun bukan berarti mereka menyerah. Sepasang sahabat ini akhirnya memilih untuk bekerja di Monsters Inc sebagai penyortir surat, suatu pekerjaan yang mungkin nggak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Walaupun nggak sesuai passion, mereka melakukan yang terbaik dalam pekerjaan mereka sebagai penyortir surat. Saat dipindahkan di bagian lain pun, mereka tetap menunjukkan kualitas mereka dengan menghasilkan pekerjaan terbaik. Hingga akhirnya mereka menjadi sepasang scary monsters yang menghasilkan tenaga teriakan paling banyak.

Kisah Mike dan Sullivan bisa saja dialami manusia seperti kita. Bekerja tidak sesuai passion, digaji rendah dan nampak sangat jauh dari cita-cita. Tapi dengan setia dalam setiap perkara yang dipercayakan pada mereka, akhirnya Mike dan Sullivan bisa bekerja sesuai keinginan mereka. Untuk mencapai suatu tujuan yang sama, beberapa orang mungkin bisa ke sana dengan mulus. Tapi nggak sedikit juga yang harus memutar jauh dan melalui proses yang panjang.

Ibarat berlian, Mike dan Sullivan tetap memancarkan sinar mereka sehingga akhirnya mereka ditempatkan di mana mereka seharusnya berada. Kalau sebuah berlian jatuh ke kubangan dan berhenti memancarkan sinar, bagaimana mungkin ia ditemukan untuk bisa ditempatkan sesuai nilainya? Berlian yang tetap bersinar sekalipun di kubangan akan mudah ditemukan orang sehingga bisa dipindahkan ke tempat yang semestinya.

Kalau kamu saat ini adalah berlian yang sedang jatuh ke kubangan, tetaplah bersinar seperti Mike dan Sullivan. Jangan redupkan sinarmu dengan cara melakukan hal yang biasa-biasa saja.

 

Lukas 16:10
Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

 

 

🙂

outbound, siapa takut?

Standar

Tanggal 6-8 Desmber lalu, kantor saya mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Acara ini sebetulnya merupakan agenda tahunan bagi karyawan baru, tapi entah mengapa angkatan 2011 yang notabene sudah bekerja selama lebih dari setahun baru diikutsertakan dalam program ini.

Tahun-tahun sebelumnya, program LDK ini bertempat di Kompleks Rindam yang terletak di Condet, Jakarta Timur. Makanya program LDK ini lebih dikenal dengan sebutan “rindam”. Tahun ini sih LDK diadakan di Lakespra Saryanto, Cianjur, Jawa Barat. Tapi dasar sudah terbiasa dengan sebutan “rindam”, LDK yang bertempat di Lakespra pun tetep disebut “rindam”.  Awalnya saya sih malas ikut acara ini, apalagi angkatan sebelumnya sering bercerita kalau program “rindam” sangat amat horor.

Acara ini bertujuan untuk melatih mental dan fisik pekerja media. Maklum lah, sebagai wartawan kami harus disiplin dan siap siaga kapan pun harus meliput sebuah peristiwa. Untuk latihan mental sih agak kurang, bahkan nyaris tidak ada. Hanya latihan fisik dan kedisiplinan yang lebih menonjol. Misalnya saja, selama di lapangan kami diwajibkan memakai seragam loreng lengkap dengan sepatu PDL yang pakenya susah banget, topi dan sabuk yang ada tempat minumnya. Dan pakaian tersebut harus dipakai lengkap saat tiba-tiba pukul tiga pagi barak digedor gedor dan banyak bunyi petasan seolah-olah kami diserang. Pagi buta itu kami harus keluar barak sesegera mungkin, pake seragam, gendong tas yang berat mampus dan tiarap di rerumputan yang dingin.

Liputan tentang program LDK ini bisa dilihat di sini.

Latihan fisik yang lain misalnya adalah turun tebing menggunakan tali, menyeberang dengan tali dan flying fox. Latihan seperti ini tentu berguna saat kami harus ditempatkan di lokasi yang sulit dijangkau. Latihan lain yang cukup menguras tenaga dan bikin pegel seluruh tubuh adalah outbound melintasi perbukitan. Namanya bukit, pasti jalanannya naik dan turun. Sama seperti kehidupan manusia, ada kalanya kita naik dan ada kalanya kita turun. Baik dalam keuangan, kehidupan percintaan, karir dan kesehatan (malah kaya horoskop yak).

Saat jalanan mendaki, kami harus mengeluarkan tenaga ekstra. membawa tubuh yang sudah kelelahan dan kurang tidur aja udah berat, ini masih ditambah ransel sebagong yang lumayan berat (kalo berat atau nggak tergantuk masing-masing sih). Kami hanya tahu bahwa tempat yang kami tuju bernama kampung Sarongge. Di sana kami akan menemukan makanan dan tempat beristirahat yang bisa dibilang ala kadarnya.

Makanan dan tempat istirahat merupakan simbol dari berkat dan keberhasilan. Untuk mencapainya, kita harus bekerja keras yang disimbolkan dengan mendaki gunung. Kita tahu apa tujuan kita, apa yang kita inginkan. Namun yang sering kita tidak ketahui adalah berapa lama dan seberapa sulit kita harus melalui jalan ke sana. Sama seperti mendaki gunung menuju ke tempat istirahat, kita harus bekerja dan mengerahkan tenaga semaksimal mungkin untuk menuju puncak.

inilah tenda tempat kami tinggal selama satu malam

inilah tenda tempat kami tinggal selama satu malam (foto diambil oleh Nadila Fitria)

Tempat istirahat yang kami tuju pun tak lebih dari sekedar tenda besar yang dapat dihuni puluhan orang. Dengan tempat tidur ala TNI yang jauh dari kata empuk, kami  menghabiskan malam. Untung ada sleeping bag, jadi kami tidak seberapa kedinginan tidur di kawasan Puncak. Kondisi seperti ini membuat kita bersyukur, karena sehari-hari kami dapat tidur dengan nyaman di kasur yang empuk. Ruangan dan selimut yang dapat melindungi kita dari panas, hujan dan hawa dingin. Kadang memang perlu kondisi yang serba minimal untuk mengingatkan betapa berharganya semua yang kita alami dan miliki.

Dalam perjalanan naik turun bukit, kami melihat pemandangan yang luar biasa indah. Jajaran bukit yang masih hijau, perkebunan yang masih asri, sungai yang sejuk dan deretan tanaman teh yang baru pertama kali saya lihat secara langsung. Pemandangan indah ini merupakan simbol dari proses menuju keberhasilan. Saat kita tidak mau melewati proses dan ingin memperoleh kesuksesan dengan cara instan, kita tidak akan bisa melihat betapa indahnya dunia ini. Andai saja untuk menuju tempat istirahat menggunakan kendaraan, kami tidak akan melihat kondisi sekitar lebih jelas. Semua akan menjadi pemandangan yang hanya berlalu begitu saja. Namun saat menjalani proses, kita dapat mengenal banyak pemandangan indah yang merupakan simbol dari karakter orang-orang, sehingga kita dapat saling menghargai satu sama lain.

melintasi perkebunan teh (foto diambil oleh Wahyu Ramadhan)

melintasi perkebunan teh (foto diambil oleh Wahyu Ramadhan)

Dalam outbound, kami banyak mendapat teman baru dan semakin akrab dengan teman lama. Maklum lah, karyawan di perusahaan tempat saya bekerja sangat banyak, sehingga sulit untuk mengenal satu per satu. Karyawan satu divisi aja kadang gak kenal, apalagi beda divisi dan beda gedung. Tapi di sini kami bisa kompak dan saling membantu. Yang kuat membantu yang lemah. Yang tau menuntun yang tidak tahu. Betapa indahnya kalau dalam kehidupan sehari-hari pun kita melakukannya.

peserta LDK

peserta LDK

 

di tengah perjalanan

di tengah perjalanan

Kegiatan outbound yang isinya naik turun bukit dan menyusuri sungai adalah simbol perjuangan dalam menghadapi berbagai masalah untuk menuju kesuksesan. Saat menghadapi masalah, seringkali kita berdoa supaya Tuha mengangkat “gunung masalah’ di hadapan kita. Namun seringkali Tuhan memberikan yang lain. Dia justru memberi kekuatan untuk mendaki gunung. Dia memampukan kita untuk menghadapi setiap masalah yang kita hadapi.

Acara ini memang diwajibkan untuk para karyawan yang terdaftar. Namun sebetulnya bisa saja saya mangkir dengan berbagai alasan. Apalagi acara sejenis pernah saya alami waktu jaman sekolah dulu. Bedanya hanya di faktor usia, sehingga saya dapat berpikir dan merenung lebih dalam dibanding saat usia belasan dahulu. Untung saya memilih untuk ikut, sehingga banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan. 🙂

 

Mazmur 28:7  “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.”

 

 

berkaca dari GCB (Good Charming Belles)

Standar

Kotbah hari minggu kemarin di gereja bertema “more than words”. Secara spesifik kotbah ini mengajak jemaat untuk menghidupi setiap Firman Tuhan yang tertuang dalam Alkitab. Sebagai pengikut Kristus, kita tidak hanya perlu membaca dan menghapal ayat-ayat alkitab saja, namun juga melakukannya.

Dalam kotbah, meresapi Firman Tuhan dianalogikan dengan membaca surat dari orang spesial. Jika kita menerima surat dari orang yang kita kasihi, pacar misalnya, tentu setiap kata yang tertuang dalam tulisan tidak akan berlalu saja dalal pikiran kita. Bahkan mungkin kita akan membacanya setiap hari hingga kita hapal dan meresapi kata-kata dalam surat tersebut. Surat dari pacar yang memang memiliki hubungan istimewa dengan kita tentu memiliki makna tersendiri bagi kita. Begitu juga dengan Firman Tuhan yang merupakan janji-janji Tuhan dalam hidup kita. Jika kita memiliki hubungan spesial dengan Tuhan, tentu setiap perkataanNya yang tertuang dalam Alkitab tidak akan pernah berlalu begitu saja dalm hidup kita.

Dalam Alkitab ada kaum-kaum yang menganggap diri mereka sebagai orang yang paling mengetahui isi Firman Tuhan. Namun kaum ini hanya sekedar tahu tanpa mengaplikasikan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum ini adalah orang Farisi, ahli taurat dan orang Yahudi.

Tak hanya menganggap diri paling benar dengan mengetahui isi Firman Tuhan, kaum ini juga sering menghakimi orang lain berdasarkan “pengetahuan” mereka. Kedengarannya memang jahat, tapi bisa saja saat ini kita tak ada bedanya dengan kaum Farisi dan ahli taurat ini.

Mungkin agak susah membayangkan bagaimana perilaku kaum ini di masa lalu. Tapi sepertinya perbuatan kaum-yang-merasa-paling-benar ini dapat disaksikan melalui sebuah serial TV berjudul GCB, kependekan dari “Good Charming Belles”.

Serial ini berkisah tentang seorang wanita bernama Amanda Vaughn yang kembali ke kota asalnya, Dallas, Texas, setelah 18 tahun tinggal di California. Amanda terpaksa kembali ke Dallas karena suaminya yang ternyata seorang pelaku penggelapan uang meninggal dan hartanya harus disita.

Kembali ke Dallas, Amanda harus bertemu kembali dengan teman-teman lamanya yang dulu sering di-bullynya. Seperti kebanyakan serial TV Amerika, selalu ada kaum populer yang menyiksa kaum tidak populer. Pada masa sekolah dulu, Amanda yang populer sering mengolok-olok dan mempermainkan teman-teman sekolahnya.

Pasti bukan kebetulan belaka, jika serial GCB ini ditayangkan di Star World Asia pada bulan Oktober, sesuai dengan tema kotbah bulan ini, “more than words”. Lalu apa hubungannya serial ini dengan kotbah bulan Oktober?

Lingkungan tempat tinggal para tokoh di serial ini digambarkan sebagai suatu tempat yang menjunjung tinggi kekristenan dan sopan santun. Saya tidak tahu seperti apa kota Dallas yang sesungguhnya (soalnya belum pernah ke sana, semoga suatu hari nanti bisa mampir), namun di serial ini penduduk kota Dallas seolah berbeda dengan penduduk kota New York, Los Angeles atau San Fransisco. Jika selama ini serial TV sering menceritakan betapa bebasnya kehidupan di kota-kota besar Amerika Serikat, tidak demikian dengan serial yang berlatar belakang kota Dallas ini.

Dalam serial ini, ada karakter Carlene, karakter antagonis yang selalu menyerang Amanda. Pada masa lalu, carlene yang tidak populer sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Amanda, karena itulah dia bersikap antipati pada Amanda yang kembali tinggal di lingkungannya. Carlene ini selalu membubuhkan ayat-ayat alkitab pada setiap ucapannya, bahkan dia sangat rajin berdoa. Namun kita bisa gemes sendiri jika melihat sifat Carlene ini. Meskipun dia rajin ke gereja, berdoa dan hapal ayat-ayat alkitab, ternyata hidupnya tak jauh berbeda dengan orang lain. Carlene yang menganggap dirinya paling tahu tentang Firman Tuhan,  ternyata masih suka mencampuri urusan orang lain. Masih suka berbuat curang. Masih menyimpan dendam. Memiliki sebuah restoran berbau porno. Bahkan tak jarang menggunakan ayat alkitab sebagai pembenaran untuk berbuat jahat.

Karakter tokoh lain pun sebelas dua belas. Mereka menganggap bahwa bisa “melayani” di gereja adalah perbuatan yang sangat baik. Padahal yang mereka sebut dengan “melayani” bermaksud untuk memegahkan diri sendiri dan ingin mendapat pujian dari jemaat lain. Misalnya pada salah satu episode, diceritakan bahwa Carlene berebut peran dalam sebuah drama di gereja dengan Cricket, yang tujuannya tentu saja ingin menunjukkan kemampuannya sendiri tanpa mengembalikan setiap pujian kepada Tuhan.

Serial GCB (Good Charming Belles) ini memang disadur dari sebuah novel berjudul GCB dengan kepanjangan berbeda, yaitu Good Christian Bitches. Cukup menggambarkan tentang para karakter di cerita ini.

Dari serial ini kita bisa berkaca, bahwa mungkin kehidupan seperti itulah yang kita jalani. Rajin ke gereja, hapal ayat-ayat dalam alkitab, rajin berdoa, namun dalam diri kita masih banyak sisi kedagingan yang menonjol. Seperti yang menjadi tema kotbah di gereja saya bulan ini, kita harus mengalami sendiri kasih Tuhan dalam hidup. Dengan begitu, kita bisa menghargai dan mencintai setiap perkataan-Nya yang tertuang dalam Alkitab. Bukan sekedar hapal tanpa memiliki ikatan pribadi dengan Tuhan.

Saya sendiri mengaku masih banyak sisi kedagingan yang menonjol dalam diri saya. Saya juga berkaca dari serial GCB, bahwa penampilan luar bukanlah jaminan seseorang memiliki pribadi yang baik. Tuhan tidak mencari orang yang  rajin berdoa dan hapal alkitab seperti Carlene, tapi Tuhan mencari pribadi seperti Amanda, yang mau sadar bahwa hidupnya tidak benar dan dia mau berubah.

Maaf kalo kesannya jadi kotbah di blog. Saya hanya ingin menceritakan bahwa dari mana pun kita bisa belajar dan berkaca. Termasuk serial TV. 🙂

 

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. – Lukas 15:7

buku lebay yang mencerahkan

Standar

Hari ini tumben-tumbennya saya beli dua buah buku. Biasanya sih saya beli buku kalo ada diskonan atau ada book fair. Buku yang saya beli adalah The Not So Amazing Life of @aMrazing (disingkat #TNSALOA) karya Alexander Thian dan Kala Kali karya duet Valiant Budi Yogi dan Windy Ariestanty. Saya follow akun twitter ketiga penulis tersebut dan dari twit mereka lah saya tertarik membeli kedua buku itu.

 

Karya Valiant Budi Yogi alias Vabyo ini bukanlah yang pertama saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Kedai 1001 Mimpi, Joker dan Bintang Bunting. Buku Kedai 1001 Mimpi saya beli karena tertarik dengan twit berseri om Vabyo tentang kehidupan di Arab Saudi yang selalu diawali dengan “TENG TENG TENG!!” Hingga suatu saat twit tentang Arab-araban berhenti karena bukunya sudah siap edar. (Dan saya terkena jebakannya sehingga akhirnya beli buku). Novel Joker dan Bintang Bunting (yang saya pinjam dari teman) juga menarik. Jalan ceritanya membuat saya harus berpikir keras dan diakhiri dengan kisah yang tak kuduga tak kusangka.

Pengalaman membaca karya-karya om Vabyo membuat saya tidak berpikir dua kali untuk membeli buku Kala Kali. Apalagi di twitter juga banyak twit pujian yang diRT omVabyo dan lagi-lagi menjebak saya untuk membeli bukunya. Eh tapi saya gak tau ding kali aja ada twit hinaan yang tak terRT. :p

Berbeda dengan om Alex. Saya belum pernah membaca karya om Alex dalam buku keroyokan yang berjudul The Journeys dan Cerita Sahabat secara utuh. Saya hanya sering membaca twit-twitnya yang nyinyir dan (kadang suka) menohok. Saya sempat membaca salah satu cerpen om Alex di kumcer Cerita Sahabat berjudul Aku mau Putus. Karena tidak tertarik beli kumcernya, jadi saya cuma numpang baca di toko buku. Waktu baca cerpen itu, entah kenapa saya tidak suka dengan cara bercerita om Alex. Menurut pendapat saya -ini pendapat awam saya lho ya- gaya penulisannya seperti penulis cerpen yang baru berlajar.

Makanya saya agak was-was waktu akan membeli buku #TNSALOA ini. Apakah saya akan menemukan gaya bahasa dan gaya bercerita yang sama? Kebetulan pas beli buku ini gak ada buku yang sudah dibuka, sehingga saya bisa lihat-lihat dulu. Kalo ternyata isinya gak sesuai harapan kan saya rugi 49ribu. Tapi mengingat banyaknya twit pujian yang ditujukan pada karya om Alex ini, saya pun nekat mengambil buku bersampul kuning itu dan membawanya ke kasir bersama Kala Kali.

Sampai di kosan, #TNSALOA lah yang saya buka terlebih dahulu. Dengan menahan napas kurang lebih satu jam, saya mulai membuka halaman pertama buku itu. Gak ada tanda tangannya. *MENURUT NGANA?* Selanjutnya saya membaca bagian “ucapan terima kasih”. Saya sedikit lega karena gaya penulisannya tidak sama seperti cerpen Aku Mau Putus. Bahkan dalam pikiran saya sempat bernostalgia sedang mengisi BulBo (Bulletin Board) yang dulu sangat ngehits pada jaman Friendser. :’)

Lembaran-lembaran buku selanjutnya saya buka dan saya nikmati. Cerita tentang orang-orang ajaib yang pernah datang di counter ponsel om Alex ternyata menarik untuk diikuti. Beberapa cerita pernah saya baca di twit berseri om Alex. Tetapi cerita di buku tentu lebih lengkap dan lebih seri dibandingkan cerita di twitter yang terbatas oleh 140 karakter.

Pengalaman nista om Alex dan konter ajaibnya memiliki satu pesan yang mungkin sudah sering kita dengar: don’t judge a book by its cover. Ungkapan tersebut hanya menjadi kata-kata belaka tanpa pengalaman pribadi. Di buku ini om Alex menceritakan setiap pengalamannya dengan pengunjung konter. Di konter inilah om Alexmenemukan bahwa  ternyata banyak kepribadianseseorang yang tidak sesuai dengan penampilan luarnya.

Kisah mengharukan seperti “Dummy Seharga Dua Juta” dan “Don’t Judge the Heart by the Look” layak menjadi bahan pembelajaran bagi kita. Bagaimana berlapang dada saat kondisi lingkungan tak henti-hentinya memojokkan kita. Bagaimana saat kecerdasan harus kalah oleh himpitan ekonomi, namun kita harus tetap maju dan pantang menyerah.

Gaya bahasa yang sederhana membuat buku ini mudah dicerna. Saya hanya menghabiskan dua jam saja untuk menyelesaikan buku ini. Mengalahkan rekor membaca novel Joker om Vabyo yang memakan waktu 3,5 jam. Tapi jangan kaget kalau banyak kelebayan yang dituangkan dalam buku ini. Gak heran sih, mengingat twit-twit om Alex yang juga sering lebay dengan hestek #mimisantigagalon-nya.

Memang banyak kisah lucu yang membuat kita tertawa di buku #TNSALOA ini. Tapi menurut saya, yang penting adalah bagaimana kita bisa belajar dari “kisah lucu” seseorang untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari, yang pasti sangat sulit untuk dilakukan. Lagi-lagi, kita bisa belajar dari mana saja. Dari buku, dari pengalaman orang lain, juga dari serial TV yang pernah saya posting disini. Karena kita bisa belajar dari mana saja, asal kita mau. 🙂

 

 

Amsal 14:6-8: “Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh. Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya. Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.”

 

bermimpi lagi dan lagi

Standar

Film yang mengangkat tema dunia tarian selalu menarik hati saya. Libur terakhir kemarin pun (ya, saat orang lain libur sampai tanggal 23, saya sudah masuk tanggal 21) saya manfaatkan untuk menonton film Step Up 4 Revolution. Hentakan musik dan gerakan tubuh yang seirama dengan musik mewarnai hampir seluruh bagian film.

Sama seperti film bertema tarian lainnya, Step Up 4 Revolution ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang ingin menunjukkan pada dunia bahwa seseorang dapat meraih kesuksesan melalui tarian. Pada awalnya tujuan mereka sederhana saja, yaitu ingin memenangkan kontes dari Youtube. Namun tujuan mereka berubah haluan saat sebuah perusahaan pengembang hendak menghancurkan lingkungan tempat tinggal mereka.

Film bertema tarian yang saya saksikan sebelumnya adalah Streetdance 2.  Saya menyaksikan kedua film ini dalam format 3D. Bukannya nggaya, tapi karena kebetulan bioskopnya lagi promo, jadi harganya murah. Hehehe.. ;p

Film Streetdance 2 juga bercerita tentang Ash, seorang penari yang ingin memenangkan kontes penari jalanan terbaik se-Eropa. Mengumpulkan penari dari berbagai belahan Eropa dan mempelajari tarian latin menjadi cara jitu Ash untuk memenangkan kontes.

Kedua film berlatar dunia tarian ini memiliki satu pesan yang sama: follow you passion. Para tokoh dalam film sering menemukan kenyataan bahwa menjadikan tari sebagai profesi tidaklah mudah.

“berapa banyak perbandingan orang yang sukses sebagai penari? 1 banding 1000? 1 banding 10000?”

Begitulah kata Bill Anderson, salah satu tokoh dalam film Step Up 4 saat mengingatkan putrinya, Emily Anderson yang bersikeras ingin berkarir sebagai seorang penari. Kenyataannya memang begitulah adanya. Seseorang yang sukses dari menari tidaklah sebanyak orang yang sukses dari bekerja kantoran.

Bekerja sesuai passion tentu menjadi dambaan bagi banyak orang (yang tau apa passionnya). Namun memang harus disadari, bekerja sesuai passion tidak menjamin kehidupan akan dilimpahi kemakmuran. Kalo kata iklan salah satu provider, hidup itu bebas untuk memilih (asal bisa membuat orang di sekitar pun senang).

Kita bebas memilih untuk bekerja sesuai passion tapi kurang makmur, atau bekerja tidak sesuai passion tapi bisa jadi kaya secara materi. Sebebas-bebasnya memilih, tentu kita harus mempertimbangkan setiap konsekuensinya. Bagi saya, orang tua menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan ke mana arah hidup saya.

Saya pernah menjalani pekerjaan yang tidak sesuai impian saya dengan gaji yang jauh dari makmur (kasihan banget yak). Tapi saya bertahan selama setahun dengan pertimbangan tidak ingin lagi menyulitkan orang tua yang sudah membiayai saya sejak kecil hingga lulus kuliah. Saya harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, meskipun artinya saya harus makan ati setiap hari.

Dalam kedua film di atas, para tokoh seolah begitu mudah menjalani hidup sesuai passion. Yah karena pertimbangan durasi, perjuangan para tokoh untuk meraih mimipi pun akhirnya tidak sia-sia dan menjadi kenyataan.

Ash dan kawan-kawan dalam film Streetdance 2 akhirnya memeproleh kemenangan pada kontes penari jalanan se-Eropa. Sementara sekelompok penari dalam film Step Up 4 akhirnya sukses menghalangi perusahaan pengembang untuk menghancurkan lingkungan tempat tinggal mereka, plus mendapat kontrak dari salah satu perusahaan sepatu terkemuka di dunia.

Tidak pernah berhenti berjuang menjadi kunci bagi para tokoh untuk akhirnya meraih impian mereka. Perjuangan mereka berujung pada kesuksesan dan membawa mereka pada kemakmuran.

Pada kenyataannya, berjuang dalam hidup tidaklah semudah dalam film. Mungkin perlu bertahun-tahun bagi orang-orang yang akhirnya sukses dari mengikuti kata hatinya. Bahkan seringkali saya berpikir, apakah memperjuangkan keinginan harus dilakukan terus menerus? Ataukah ada saatnya kita harus berhenti memperjuangkan keinginan kita dan melihat kemungkinan lain yang dapat membawa kita pada kesuksesan? Dan kapan kah kita harus berhenti berjuang? Lalu apa yang harus dilakukan jika kita sudah meraih impian kita?

Saat ini saya sudah bekerja sebagai reporter di Trans 7. Menjadi seorang reporter memang impian saya sejak kecil. Saya sendiri tidak mengerti kenapa saya tidak pernah bercita-cita menjadi dokter, pilot atau astronot seperti normalnya anak-anak saat ditanya tentang cita-cita. Lalu apa yang harus saya lakukan saat impian saya sudah tercapai?

Bermimpi lagi. Memiliki cita-cita baru. Saat ini saya sudah bekerja sesuai mimpi saya dulu dan sekarang saya memiliki cita-cita baru. Cita-cita yang menjadi alasan saya bangun setiap hari. Yang membuat saya bersemangat menjalani hidup (kecuali pada saat galau). :p

Sampai saatnya tiba, saya hanya bisa menjalani hidup sambil bermimpi dan berusaha, hingga akhirnya saya berhasil meraih impian atau harus berhenti berjuang. Lalu apa mimpi baru saya? Mau tauk aja. Kepo deh! :p

belajar dari serial TV, bisakah?

Standar

Image

“How I met your mother”, “happy endings”, “friends with benefits”, “raising hope”, “new girl” dan serial TV komedi amerika lainnya tentu tak asing bagi penonton channel Star World. Akhir-akhir ini saya sering sekali menyaksikan serial-serial di atas, sewaktu saya memiliki waktu senggang di kosan. Serial-serial tersebut kebanyakan bercerita tentang persahabatan kaum dewasa muda di Amerika Serikat. Jauh lebih menarik ketimbang sinetron-sinetron yang belakangan ini banyak bertema remaja dan berbau girlband.

Cerita persahabatan memang banyak menjadi inti cerita pada serial TV Amerika. Jika dilihat dari gaya hidup para tokoh yang sesuka hati dan menganut sex bebas, tentu tidak cocok dengan gaya hidup orang Indonesia pada umumnya. Sebut saja hubungan ganjil Ben dan Sara dalam serial “friends with benefits”. Atau si kocak barney dalam serial “how I met your mother” yang sering digambarkan sebagai pria yang hobi bergonta ganti pasangan.

Di balik gambaran gaya hidup yang sembarangan, nyatanya tetap ada nilai positif yang dapat diambil dari setiap episode yang saya saksikan. Apalagi dengan durasi yang hanya 20an menit, kita disuguhkan adegan dan dialog yang tidak membosankan. Berbeda dengan sinetron yang berdurasi panjang dan banyak mengulang-ulang adegan sehingga membuat penonton cerdas cepat merasa bosan. Bukan berarti cerita dalam sinetron tidak mengandung nilai positif, tapi dengan adegan yang bertele-tele dan seringkali tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, sulit untuk menemukan nilai positifnya.

Jadi nilai positif apa yang bisa kita dapatkan dari serial TV yang banyak mengumbar gaya hidup bebas? Seperti yang sudah saya katakan tadi, nilai persahabatan menjadi tema utama pada kebanyakan serial TV Amerika. Memiliki sekelompok sahabat seperti kisah dalam serial-serial tersebut nampak sangat menyenangkan. Kita bisa bercerita, berbagi kisah, pergi bersama dan melakukan segala sesuatu bersama. Pada kenyataannya, memang itu yang kita butuhkan sebagai manusia, sebagai makhluk sosial.

Masih ingat dengan penembakan massal yang dilakukan James Holmes yang meniru Joker saat menonton film “The Dark Night Rises”? Saya tidak tahu betul apa yang menyebabkan James bisa bertindak senekat itu, mengingat dia adalah mahasiswa doktoral di Universitas Colorado. Namun berdasarkan wawancara dengan Reza Indragiri Amriel, seorang psikolog forensik, hal serupa dapat terjadi pada siapa saja yang mengalami frustasi dan tidak memiliki tempat untuk berbagi pikiran. Karena itulah, memiliki sahabat yang siap mendengarkan keluh kesah kita sangatlah penting. Tak perlu memberikan jalan keluar, cukup tangan yang terbuka dan telinga untuk mendengar.

Dalam setiap episode, serial TV pasti memiliki tema berbeda. Dan seperti yang saya katakan tadi, ada nilai positif yang bisa kita serap dalam setiap episode. Seperti serial “friends with benefits” yang baru saja saya saksikan. Premis ceritanya sih tentang Ben dan Sara yang berkencan ganda dengan pasangan lain. Tapi yang ingin saya ceritakan justru side bar nya. Diceritakan bahwa tokoh bernama Riley menjalin hubungan dengan seorang pria yang selalu berkata jujur dalam segala hal, sekalipun itu menyakitkan. Sahabat Riley, Aaron dan Fitz menilai bahwa tidak semua hal perlu diungkapkan secara jujur. Mereka menganggap bahwa terlalu sering mengungkapkan isi hati justru dapat merusak persahabatan.

Kisah yang hampir sama juga terdapat dalam salah satu episode serial “happy endings”. Dikisahkan bahwa Dana, ibu Penny, datang mengunjungi putrinya dengan alasan akan bernyanyi di salah satu pertunjukan hebat, yang ternyata hanya pertunjukan kapal (boat show). Dana memang dikenal sebagai wanita dengan sejuta kata positif, sehingga dia menganggap show dalam kapal sekalipun merupakan hal hebat yang dapat mengantarnya menjadi penyanyi hebat. Sebaliknya, Penny justru merasa bahwa ibunya terlalu memiliki banyak mimpi sehingga akhirnya Dana patah semangat dan mulai memperkatakan hal-hal negatif. Bahkan Dana mengatakan kata-kata negatif pada sahabat-sahabat Penny yang menyebabkan mereka down. Namun, akhirnya Penny sadar bahwa pikiran-pikiran positif lah yang selama ini menjadi nilai lebih ibunya. Seolah menjadi Dana, Penny mulai memperkatakan hal-hal positif yang membuat ibunya kembali bersemangat.

Entah kenapa kedua serial di atas ditayangkan beriringan. Tema besarnya sih hampir sama, yaitu tentang ucapan yang membangun dan tidak membangun. Pada serial “friends with benefit”, pacar Riley yang selalu berkata jujur mengungkapkan semua hal dalam pikirannya dengan cara negatif. Ketika dia merasa bosan dan tidak menyukai sesuatu, dia akan mengatakan langsung di depan orang tanpa teding aling-aling. Sebaliknya, Dana selalu dalam serial “happy endings” selalu berkata positif sekalipun kondisi yang sedang terjadi tidak sehebat yang dialaminya. Bahkan dana berkata hal positif tentang sahabat-sahabt putrinya, yang membuat semangat mereka menyala.

Dalam wawancara saya dengan psikolog Rose Mini atau yang dikenal dengan bunda Romi, manusia memiliki beberapa cara untuk berkomunikasi. Salah satu yang sering terjadi adalah berkomunikasi secara agresif, yaitu mengungkapkan perasaan yang berpotensi menyebabkan sakit hati pada lawan bicara. Selain itu, tak jarang kita melakukan komunikasi pasif-agresif, yaitu seolah kita berkomunikasi dengan manis di hadapan lawan bicara, kemudian ngomel-ngomel di belakang. Salah satu contoh adalah ketika kita mendapat banyak tugas dari atasan, kita akan menerima (seolah) dengan senang hati, tetapi kemudian mengumpat di belakang. (Sounds familiar?)

Komunikasi yang baik adalah secara asertif, yaitu mengungkapkan isi hati dengan cara yang nyaman dan tenang tanpe menyakiti perasaan lawan bicara, sekalipun yang kita ungkapkan adalah hal yang kurang menyenangkan. Seperti yang dilakukan Dana, ia selalu dapat menyampaikan segala sesuatu dari kacamata positif, sehingga lawan bicara pun dapat menangkap nilai positifnya.

Kedua episode dalam serial di atas mengajarkan kita, bahwa apa yang keluar dari mulut kita dapat mempengaruhi keadaan. Kata-kata positif yang membangun kah, atau kata-kata negatif yang dapat merusak keadaan. Seperti ungkapan “mulutmu harimaumu”, kita harus berhati-hati menggunakan lidah kita. Bahkan tak hanya melalui perkataan yang keluar dari mulut kita, saat ini segala perkataan melalui pesan teks, twitter, status facebook dan berbagai media komunikasi dapat memberi pengaruh pada banyak orang. Jadi, hati-hati dengan apa yang keluar dari mulutmu, karena dari satu mulut yang sama, bisa keluar berkat atau kutuk.

Masih banyak nilai positif yang dapat kita temukan dalam setiap tayangan televisi. Tinggal kita sendiri yang menentukan, apakah kita memilih untuk fokus pada gaya hidup yang kurang sesuai dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, atau kita memilih untuk menikmati setiap adegan lucu sambil menyerap nilai positifnya. Karena tidak semua yang berbau barat itu buruk, dan semua yang berbau lokal itu baik untuk kita.

🙂