Monthly Archives: Agustus 2011

pertama

Standar

Dalam hidup, kita pasti pernah merasakan yang namanya “pertama kali”. Baik itu pertama sekolah, hari pertama bekerja, pertama kali naik pesawat, cinta pertama, bahkan malam pertama. Yang namanya “pertama kali”, biasanya menimbulkan suatu kesenangan tersendiri. Perasaan tidak menentu. Perut terasa geli padahal ga ada yang gelitikin. Jantung berdegup kencang. Pokoknya deg deg seerrr…

Perasaan demikian muncul karena kita belum tau apa yang akan kita hadapi. Sesuatu yang mungkin biasa saja bagi orang yang sudah berkali-kali merasakannya, namun bagi kita yang baru pertama kali, rasanya membuat hati gundah gulana. Banyak pertanyaan hinggap di kepala, hingga biasanya berdampak pada susah tidur. Seperti apa rasanya? Nanti gimana ya? Kalo ada masalah? Bakalan ketemu siapa aja ya? Enak ga ya? Kok kayanya nyeremin?

Besok pagi adalah saat yang bersejarah bagi saya. Hari pertama saya berangkat keluar Jakarta sebagai reporter. Pergi keluar Jakarta memang bukan yang pertama kali, tapi sebagai reporter TV, baru akan saya alami besok pagi. Apalagi, tugas yang saya emban adalah tugas mulia: melaporkan secara langsung kondisi di jalur pantura selama 7 hari. (Tugasnya mulia kan? πŸ˜€ )

Saya belum tau bagaimana rasanya live report di sana. Apa saja yang akan saya hadapi. Siapa saja yang akan saya temui. Meskipun saya sudah membekali diri dengan riset dan peta, tetap saja rasanya kurang. Melihat kondisi suatu daerah secara langsung, dibandingkan dengan membayangkan saja, tentu sangat berbeda.

Suatu hari nanti, saya pasti akan terbiasa dengan live report semacam ini. Namun saat ini, tidak ada salahnya jika saya merasa sangat excited dengan perasaan yang tidak menentu.

Semoga saja setiap hari saya bisa menuliskan pengalaman saya selama bertugas di sana. Dan semoga malam ini saya bisa cepat tidur. Hihihi.. πŸ˜€

Gut nite πŸ™‚

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1).

9eN3Ra5i 4L4Y

Standar

aPp4 c1H eAn9 aD4 d1 piK1RaN qt4 k4L0 bCa tLi5aN iN1?

Cukup makan waktu lama untuk menulis kalimat di atas. Saya yakin, ketika membaca tulisan ini, pasti kita langsung berpikir: ALAY!!

Bagi orang yang sudah tidak berusia belasan tahun seperti saya, pasti cukup sulit untuk membaca tulisan tersebut. Membaca saja sulit, apalagi menulisnya. Seperti yang saya katakan tadi, saya butuh waktu lama, bahkan 5 kali lebih lama daripada menulis dalam huruf biasa.

Saya tidak mau membahas soal anak-anak alay. Saya cukup membahas tentang bahasa dan penulisannya saja. Selama ini, bahasa dan tulisan alay dituduh telah merusak tata bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu bangsa ini. (Serius amat yak.. πŸ˜€ )

Saya banyak menemui tulisan-tulisan dengan gaya alay di jejaring sosial Facebook. Dan kebanyakan, yang menggunakannya adalah abg-abg berusia belasan tahun. Memang tidak semuanya sih, tapi kebanyakan begitu. Saya sangat maklum jika tulisan bergaya alay sangat digandrungi para abg. Namanya juga remaja, pasti ingin tampil beda dan keluar dari kebiasaan.

Jika saat ini usia saya masih belasan tahun pun, mungkin saya juga akan menggandrungi bahasa alay. Sewaktu saya masih agak muda, saya juga suka menulis dengan gaya alay, meskipun tidak seekstrim sekarang. Dulu, jejaring sosial yang paling nge-hits adalah friendster. Kala itu, saya suka menulis shoutout ataupun testimonial menggunakan gabungan huruf besar-huruf kecil-angka. Saya merasa, tulisan semacam itu sangat keren dan 9ha0L 4Bi3s. πŸ˜€

Seiring bertambahnya usia, saya tidak lagi menggunakan gaya tulisan tersebut. Lama-lama malu sendiri. Akhirnya saya insyaf dan kembali pada tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Saya rasa hanya soal waktu saja tulisan bergaya alay akan digunakan abg-abg jaman sekarang. Nantinya saat sudah dewasa, mereka pasti akan malu sendiri dan menganggapnya sebagai masa lalu yang lucu dan malu-maluin. Persis seperti yang saya alami.

Karena itu, tak usah lah sok anti alay. Biarkan saja anak-anak alay berkreasi dengan gayanya sendiri, hingga akhirnya mereka menemukan jati diri sendiri. Kalo dibasmi juga ga akan ada habisnya. Ketika abg-abg beranjak dewasa, akan muncul abg-abg lainnya yang saat ini masih anak-anak. Entah inovasi apalagi yang akan mereka buat.

Bukan berarti membela kaum alay, tapi biarkan saja mereka berkreasi. Hidup udah keras, masa berkreasi sedikit ga boleh.. Kalo emang merasa terganggu dengan tulisan alay, ya ga usah dibaca. Susah amat. Sama seperti makanan, kalo ga doyan ya ga usah dimakan. Masa mau memusuhi yang doyan dan yang bikin makanan? Ya kan.. πŸ™‚

Yah paling tidak inilah pendapat dan ke-sotoy-an saya tentang tulisan alay..
Hidup 4L4Y!! #eh

:p

kerjaan gue paling berat!!

Standar

“kerjaan lo sih enak, cuma duduk di belakang komputer ngitung-ngitung duit.. lhah gue, harus susah nyari nasabah dan ada targetnya.” – ujar Ditto, 26 tahun, karyawan bank swasta pada rekannya di bidang akunting.

“enak ya jadi kamu.. kerjaannya cuma nulis doang bisa dapet duit. Kalo aku sih harus berdiri berjam-jam nawarin produk biar bisa dapet duit.” – kata Lisa, 20 tahun, seorang SPG pada temannya yang berprofesi sebagai penulis skenario.

“jam kerjamu enak ya.. bisa sewaktu-waktu tanpa terikat. Kalo aku tiap hari harus masuk pagi pulang sore.” – tutur Arini, 23 tahun pada sahabatnya yang bekerja freelance sebagai guru piano.

“lo sih enak, kalo kerja cuma ambil gambar doang. Sementara gue harus cari-cari narsum yang artinya ngabisin pulsa. Harus cari banyak data, habis itu pusing bikin naskah.” – tuduh Rino, 25 tahun, reporter TV pada kameramennya.

Kutipan-kutipan di atas hanya sekedar imajinasi saya belaka. Namun, bukankah di kehidupan sehari-hari kita sering berpikir demikian? Berpikir bahwa pekerjaan kita lebih berat, atau bahkan paling berat, jika dibandingkan dengan profesi orang lain.

Dalam mengerjakan sesuatu, seharusnya kita bersyukur dan tidak bersungut-sungut. Semestinya kita mencintai apa yang kita kerjakan, apapun profesi yang sudah kita pilih. PROFESI YANG KITA PILIH, bukan profesi yang dipilihkan orang lain oleh kita, atau profesi yang terpaksa kita jalani karena tidak ada yang lain.

Ibaratnya, pekerjaan kita sama seperti pasangan hidup. Jika kita memilih pasangan hidup secara hati-hati dan dengan pertimbangan matang, demikian juga dalam memilih pekerjaan. Kita harus mengerti apa yang kita mau. Jangan sampai mengerjakan apa yang sama sekali tidak kita cintai, karena saya yakin hasilnya tidak maksimal.

Banyak orang berpikir, jaman sekarang memang susah cari kerja. Bisa kerja aja sudah untung, jadi ga perlu terlalu idealis cari-cari kerja yang sesuai keinginan. Tapi jika memang pekerjaan kita sangat tidak sesuai dengan hati nurani kita, untuk apa dilanjutkan?

Memang ada orang-orang yang terjun ke dalam bidang pekerjaan tertentu yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun hobinya, yang kemudian jatuh cinta pada bidang pekerjaan itu. Namun tak sedikit yang terpaksa masuk ke bidang yang sama sekali tidak disukainya, dan terus bertahan hanya karena merasa sulit untuk meraih pekerjaan impiannya. Atau malah lebih parah, terpaksa bertahan pada pekerjaan yang tidak disukainya tanpa mengetahui apa yang sebetulnya diinginkan.

Saya bersyukur, saat ini saya bisa bekerja sesuai dengan cita-cita masa kecil saya dan sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Pada pekerjaan saya sebagai reporter, saya dapat bertemu berbagai macam manusia dengan pekerjaannya.

Dari seorang pemuda penjaga toilet di sudut terminal yang setiap hari membersihkan toilet dan melayani pengunjung, hingga yang terhormat anggota DPR yang memiliki ruangan nyaman ber-AC dan cincin raksasa yang melingkar di jarinya. Dari seorang ibu yang setiap hari harus berpanas-panas menawarkan jasa penukaran uang, hingga seorang Gubernur yang katanya ahli dalam mengatasi permasalahan.

Dari pengalaman tersebut, saya bisa bersyukur karena saya memiliki pekerjaan yang lebih baik daripada orang-orang yang berpendidikan tidak tinggi. Selain itu, saya juga termotivasi untuk meningkatkan kemampuan saya, sehingga suatu hari nanti saya bisa mencapai titik tertinggi dalam profesi saya.

Pekerjaan bukanlah hal yang patut diremehkan. Bayangkan saja, setiap hari minimal kita bekerja selama 8 jam dari 24 jam yang kita miliki. Artinya, sepertiga waktu dalam kehidupan kita habiskan untuk pekerjaan. Mana mungkin kita tega menyia-nyiakan sepertiga waktu hidup kita untuk sesuatu yang tidak kita cintai? Dan tidak perlu lah kita bersungut-sungut tentang betapa beratnya pekerjaan kita, karena setiap orang sudah punya porsinya sendiri-sendiri.

Pengkotbah 9:10a
“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga”

πŸ™‚