Monthly Archives: Januari 2014

Beautifully Lombok

Standar

Perjalanan saya ke lombok diawali dengan drama yang memilukan. Jadi begini ceritanya.. Pagi-pagi buta jam 3 saya sudah berangkat dari kantor menuju bandara, dengan estimasi sampai bandara sebelum jam 4 dan langsung cek in untuk penerbangan jam 5 pagi. Sampai di loket cek in, terjadilah pembicaraan antara saya dan mbak-mbak counter yang menggoncangakan jiwa.

Saya: mbak, mau cek in..
Mbak-mbak: wah ini penerbangannya mundur, jauh banget lho.. Penerbangan yang ini dibatalkan.
Saya: hah, mundur jadi jam berapa mbak?
Mbak-mbak: jadi jam 10.30. Kita udah sms dan email ke penumpang kok.. Gak terima?
Saya: hah nggak tuh mbak.. Sms ke no mana?
Mbak-mbak: 08190819xxxx
Saya: wah itu nomor GS atau UPM kayanya. Ga diinfoin ke saya.. *cek in dengan langkah lunglai*

Jadilah saya dan kameramen menunggu dari jam 4 pagi sampai jam 10 untuk boarding. Enam jam di bandara itu zonk banget! Mana malamnya sengaja nggak tidur karena takut nggak bisa bangun, eh ternyata di bandara malah harus nunggu 6 jam. Segala posisi udah dicobain biar bisa tidur. Tinggal kayang aja yang belom. Mungkin ini bisa jadi pelajaran, lain kali jangan ambil penerbangan subuh-subuh. Kasian pilotnya.

Di Lombok, saya menginap di Hotel Jayakarta yang letaknya di jalan raya Senggigi. Kalau dari Mataram, bisa ditempuh dalam waktu 20-30 menit lah.. Sebelumnya saya memang sudah browsing tentang hotel Jayakarta. Dari websitenya, saya tau kalau di belakang hotel berbatasan langsung dengan pantai. Jadilah saya pilih hotel ini, siapa tau kalau galau malam-malam bisa jalan-jalan di pantai. Selain itu saya juga sengaja bawa sepatu olahraga, rencananya untuk jogging sambil menyusuri pantai di pagi hari.

Tapi rencana ya tinggal rencana. Bangun pagi malesnya minta ampun. Kalau nggak dijemput supir untuk liputan, pasti juga masih betah di kasur. Pengen jalan sambil gegalauan di pantai pas malam pun gagal gimbal. Karena cuaca sedang jelek, mendung menutupi bintang-bintang yang semestinya kelihatan. Ombaknya tinggi dan anginnya kenceng banget. Ntar yang ada bukan ngobatin galau, tapi malah masuk angin.

Saya tidak tahu pasti tarif hotel Jayakarta Lombok, karena sudah diurus dari kantor. Ruangan kamar sih bagus, dengan lantai kayu dan ada tempat lesehan buat ngopi-ngopi. Ada balkon juga yang kalau spotnya bagus bisa ke laut atau kolam renang. Tapi yang bikin ilfil, tahun 2014 TV kamar hotel masih TV tabung, dengan layar cembung pula. Tapi ya sudahlah daripada ndak ada hiburan di kamar.

Di Lombok, saya berkeliling dari kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat dan Lombok Utara. Yang membuat saya kagum, jalan aspal yang saya lewati semua dalam kondisi baik dan mulus. Aspal berlubang sangat jarang saya temui. Menurut saya sih, infrastuktur yang baik bisa menjadi wajah yang baik bagi tempat wisata, apalagi banyak wisatawan asing yang datang ke Lombok.

Desa Sade, Penuh Tradisi
Di Pulau Lombok, saya berkunjung ke Desa Sade, perkampungan suku Sasak di Lombok Tengah. Awalnya saya pikir Sade itu bacanya dengan ‘e’ dari ‘setan’. Ternyata bacanya dengan ‘e’ dari ‘elang’. Sade. Desa Sade memang desa wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Sebelum ke desa Sade bisa saja sih browsing dulu supaya tau sejarah dan tradisi di sana. Tapi sepertinya akan lebih baik kalau menggunakan jasa guide. Pemandu wisata bisa menjelaskan dengan rinci tentang desa Sade.

image

Semua rumah di desa Sade bentuknya sama. Dinding terbuat dari bilik bambu (gedhek dalam bahasa Jawa) dengan atap dari ilalang. Pintu masuk rumahnya sengaja dibuat pendek, dengan filosofi tamu yang masuk ke dalam rumah otomatis memberi penghormatan pada pemilik rumah.

image

Selain bagian luar, bagian dalam semua rumah pun sama persis. Begitu masuk rumah, kita akan masuk ke ruang tamu sekaligus ruang tidur orang tua dan anak lelaki. Lantainya lebih tinggi sekitar 50cm dari pintu rumah. Di dalam ruang tamu, kita akan melihat 3 undak-undakan untuk menuju ruangan yang lebih dalam. Undak-undakan ini konon melambangkan pijakan masyarakat desa Sade. Tingkatan paling atas melambangkan animisme yang dulu menjadi pijakan suku Sasak. Tingkatan kedua melambangkan Hindu, agama yang dulu pernah menjadi mayoritas. Undakan paling bawah melambangkan Islam, yang menjadi keyakinan semua warga desa Sade.

image

Undak-undakan tersebut akan membawa kita ke ruangan bagian dalam rumah. Ruangan itu adalah ruang bersalin, ruang tidur anak gadis sekaligus dapur. Keluarga yang memiliki anak gadis akan menempatkan anaknya di ruang bagian dalanm untuk menghindari penculikan. Penculikan memang menjadi tradisi warga desa Sasak saat seorang lelaki menginginkan seorang gadis menjadi istrinya. Usia pernikahan di desa Sade pun terbilang cukup belia. Lelaki dan gadis di sana sudah terbiasa menikah di usia 12 tahun. Makanya orang-orang di desa lumayan kaget pas tahu saya masih single di usia 26. Iya saya masih single. Iya umur saya 26. Ini jujur kok.

Masih tentang rumah adat desa Sade. Jika beruntung, kita bisa melihat proses belulut, yaitu mengepel lantai rumah menggunakan kotoran kerbau. Lantai rumah terbuat dari tanah liat yang dicampur sekam padi. Mengepel rumah dengan kotoran kerbau 3 kali seminggu diakui warga bisa membantu menghaluskan lantai, membersihkan debu hingga menambal lubang-lubang di lantai.

Pada hari-hari istimewa seperti ada perningatan, syukuran atau hendak berziarah, warga desa wajib mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Sementara jika tidak ada acara khusus, warga masih diperbolehkan menggunakan kotoran sapi untuk mengepel. Meskipun sebetulnya tidak higienis, warga tetap meneruskan tradisi ini dengan keyakinan kotoran kerbau justru mampu menyucikan rumah dan menolak bala.

Wanita di desa Sade juga mempunyai kebiasaan unik untuk memelihara rambutnya. Mereka tidak membersihkan rambut dengan shampo, tapi dengan santan setiap 3-4 hari sekali. Supaya tetap harum mewangi sepanjang hari, rambut pun diberi lilitan daun pandan yang diuntai dengan bunga-bungaan. Dan memang harum daun pandan selalu menyeruak setiap mereka lewat.

image

Wanita desa Sade tidak boleh menikah sebelum bisa menenun kain. Kain hasil tenunan wanita Sade pun menjadi oleh-oleh khas perkampungan ini. Saya beruntung sempat melihat seorang wanita yang sedang memutar alat pemintal benang tradisional dengan tangan rentanya. Beliau langsung membuat benang dari kapas yang didapat dari tanamannya langsung.

image

Benang-benang putih hasil pintalan biasanya akan diwarnai dengan bahan-bahan alami. Benang yang sudah berwarna baru bisa diproses lagi dengan ditenun menjadi berbagai macam kain seperti songket, sarung, syal hingga selimut. Untuk membuat kain berukuran 0,5 x 1,5 meter dibutuhkan waktu selama 5 hari. Tak heran jika harga yang ditawarkan agak mahal. Tapi jangan segan-segan menawar untuk mendapat harga murah.

Gili Trawangan, Hura-hura Sepanjang Hari
Gili Trawangan adalah tempat yang wajib dikunjungi jika berlibur ke Lombok. Untuk menyeberang ke Gili Trawangan, saya menggunakan speed boat dari teluk Nare. Di teluk Nara (baca: Nare) hanya ada kapal pribadi, jadi harganya cukup tinggi. Kalau ingin yang lebih ekonomis bisa menggunakan kapal umum melalui teluk Bangsal dengan harga 10-15ribu. Tapi karena murah, penumpang dalam 1 kapal bisa mencapai puluhan dengan barang bawaan seabreg-abreg. Karena membutuhkan tumpangan yang cepat dan aman, saya menggunakan speed boat. Kalau untuk liburan sendiri sih jelas saya pilih yang ekonomis. Hihihi..

image

Saat menyeberang, cuaca sedang cerah. Namun tetap saja gelombang laut agak tinggi sehingga membuat perjalanan kapal tersentak-sentak. Agak mirip dengan perjalanan saya dari Pulau Bali menuju Nusa Lembongan yang pernah saya tulis di sini. Perjalanan yang tidak terlalu mulus membuat saya agak mabuk laut. Sampai di Gili Trawangan saya langsung keringat dingin. Antara laper dan mabok. Jadi jangan sampai menyeberang lewat laut dengan kondisi perut kosong.

image

image

Sampai di Gili Trawangan, saya langsung disuguhi hamparan pasir putih, lautan biru dan wisatawan asing yang berlalu lalang. Gili Trawangan memang dirancang tanpa polusi kendaraan bermotor. Di Gili Trawangan, kita bisa menggunakan cidomo (sejenis delman) atau sepeda. Tarif cidomo agak mahal, 125 ribu rupiah untuk berkeliling pulau dengan kapasitas maksimal 3 penumpang. Tapi untuk ke hotel-hotel tertentu, sudah ada tarif masing-masing yang diatur. Kalau mau ekonomis, kita juga bisa menyewa sepeda dengan tarif murah: 15 ribu per jam atau 50rb seharian. Kalau mau lebih irit lagi, jalan kaki juga oke.

Banyak hotel bertebaran di Gili Trawangan. Salah satu yang saya dapat informasinya adalah Hotel Exquisit dengan tarif 1,25 juta per malam yang lokasinya di jalan utama. Tapi hotel-hotel bertarif murah juga banyak kok, seharga 200 ribuan per malam juga ada. Tapi lokasinya ya agak masuk ke dalam.

Sepanjang pantai di Gili Trawangan, banyak wisatawan asing yang berjemur. Benar-benar kaya di tipi-tipi deh, bule-bule gelar tiker, pake sunblock, tengkurep di tiker sambil baca buku atau main gadget. Banyak juga sepasang wisatawan yang cipok-cipokan atau peluk-pelukan di pantai. Bikin sirik aja.

Kalau gak bawa tiker, wisatawan juga tetap bisa kok santai-santai di pantai. Di sepanjang pantai banyak kafe-kafe dan bar yang menyediakan fasilitas bale-bale atau bantal. Segala fasilitas tersedia untuk memanjakan para wisatawan. Soal kebersihan pun jangan kuatir. Selain bebas polusi asap kendaraan, di pantai juga gak ada sampah karena sudah tersedia tempat sampah setiap 100 meter.

Siang hari, wisatawan bisa santai-santai di pantai atau jalan-jalan di sekitar pantai. Kalau malam, wisata yang ditawarkan pun beda lagi.  Wisatawan biasa nongkrong di bar-bar. Kehidupan di Gili Trawangan seolah tak pernah berhenti berdetak, gak seperti 2 pulau lainnya, Gili Meno dan Gili Air yang letaknya bersebelahan.

Bagi yang suka snorkeling pun, banyak kios-kios yanh menawarkan jasa tur snorkeling ke 3 Gili. Tarifnya pun gak mahal, mulai dari 100ribuan per orang. Persewaan masker dan pin juga bertebaran. Kalau pun tidak ingin snorkeling ke 3 Gili, bisa juga snorkeling di sekitar pantai atau dermaga. Sayangnya waktu saya snorkeling di sekitar dermaga, cuaca sedang mendung sehingga tidak ada cahaya matahari yang bisa membuat warna terumbu karang semakin cerah.

Di Gili Trawangan saya mengalami kejadian unik. Saat berjalan menyusuri jalan utama, tiba-tiba ada seorang wanita memanggil saya. Tadinya saya gak sadar kalau saya yang dipanggil, sampai rekan saya mencolek bahu saya. Saya pun langsung melihat sesosok wanita yang memanggil saya sambil memicingkan mata, mencoba mengingat siapakah wanita ini?

image

Begitu wanita ini menyebut namanya “Sekar”, saya langsung melongo sambil berteriak “astagaaaa!!”

Jadi Sekar ini adalah teman SD saya di Jogja. Waktu kelas 4, kami duduk sebangku sehingga lumayan akrab. Yah sering berantem juga sih, sampai kami sering “dipacok-pacokke” kalo lagi berantem karena dianggap sebagai suatu bentuk kemesraan. *anak SD kebanyakan nonton sinetron*

Nah di kelas 4 SD itulah kisah pertemanan kami berakhir karena Sekar harus pindah ke Jepang. Waktu itu sekitar tahun 1996 atau 1997 dan menjadi saat terakhir saya bertemu Sekar. Saat SMP, saya dengar Sekar pindah ke Malaysia. Saya masih lost contact sama Sekar sampai akhirnya tahun 2010 kami follow-followan di twitter, tukeran pin BB, sampe tukeran nomor ponsel. Yah kontak-kontakan sih jarang, paling cuma lewat twitter doang. Bisa dibilang kami sudah gak ketemu selama 16 tahun dan pasti banyak yang berubah. Makanya saya kaget mampus waktu Sekar mengenali saya di Gili Trawangan. What a coincindence!

Karena di Gili Trawangan saya bekerja, tidak banyak yang bisa kami bicarakan. Selain itu, saya juga tak bisa banyak bersantai. Padahal kepingin juga duduk-duduk di pinggir pantai sambil lihatin bule-bule khilaf atau main-main di bibir pantai. Makanya saya bertekad, saya harus pergi ke Gili Trawangan lagi. Bukan untuk bekerja, tapi murni berlibur. *cari tiket murah* *murahan* 🙂