Monthly Archives: September 2012

buku lebay yang mencerahkan

Standar

Hari ini tumben-tumbennya saya beli dua buah buku. Biasanya sih saya beli buku kalo ada diskonan atau ada book fair. Buku yang saya beli adalah The Not So Amazing Life of @aMrazing (disingkat #TNSALOA) karya Alexander Thian dan Kala Kali karya duet Valiant Budi Yogi dan Windy Ariestanty. Saya follow akun twitter ketiga penulis tersebut dan dari twit mereka lah saya tertarik membeli kedua buku itu.

 

Karya Valiant Budi Yogi alias Vabyo ini bukanlah yang pertama saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Kedai 1001 Mimpi, Joker dan Bintang Bunting. Buku Kedai 1001 Mimpi saya beli karena tertarik dengan twit berseri om Vabyo tentang kehidupan di Arab Saudi yang selalu diawali dengan “TENG TENG TENG!!” Hingga suatu saat twit tentang Arab-araban berhenti karena bukunya sudah siap edar. (Dan saya terkena jebakannya sehingga akhirnya beli buku). Novel Joker dan Bintang Bunting (yang saya pinjam dari teman) juga menarik. Jalan ceritanya membuat saya harus berpikir keras dan diakhiri dengan kisah yang tak kuduga tak kusangka.

Pengalaman membaca karya-karya om Vabyo membuat saya tidak berpikir dua kali untuk membeli buku Kala Kali. Apalagi di twitter juga banyak twit pujian yang diRT omVabyo dan lagi-lagi menjebak saya untuk membeli bukunya. Eh tapi saya gak tau ding kali aja ada twit hinaan yang tak terRT. :p

Berbeda dengan om Alex. Saya belum pernah membaca karya om Alex dalam buku keroyokan yang berjudul The Journeys dan Cerita Sahabat secara utuh. Saya hanya sering membaca twit-twitnya yang nyinyir dan (kadang suka) menohok. Saya sempat membaca salah satu cerpen om Alex di kumcer Cerita Sahabat berjudul Aku mau Putus. Karena tidak tertarik beli kumcernya, jadi saya cuma numpang baca di toko buku. Waktu baca cerpen itu, entah kenapa saya tidak suka dengan cara bercerita om Alex. Menurut pendapat saya -ini pendapat awam saya lho ya- gaya penulisannya seperti penulis cerpen yang baru berlajar.

Makanya saya agak was-was waktu akan membeli buku #TNSALOA ini. Apakah saya akan menemukan gaya bahasa dan gaya bercerita yang sama? Kebetulan pas beli buku ini gak ada buku yang sudah dibuka, sehingga saya bisa lihat-lihat dulu. Kalo ternyata isinya gak sesuai harapan kan saya rugi 49ribu. Tapi mengingat banyaknya twit pujian yang ditujukan pada karya om Alex ini, saya pun nekat mengambil buku bersampul kuning itu dan membawanya ke kasir bersama Kala Kali.

Sampai di kosan, #TNSALOA lah yang saya buka terlebih dahulu. Dengan menahan napas kurang lebih satu jam, saya mulai membuka halaman pertama buku itu. Gak ada tanda tangannya. *MENURUT NGANA?* Selanjutnya saya membaca bagian “ucapan terima kasih”. Saya sedikit lega karena gaya penulisannya tidak sama seperti cerpen Aku Mau Putus. Bahkan dalam pikiran saya sempat bernostalgia sedang mengisi BulBo (Bulletin Board) yang dulu sangat ngehits pada jaman Friendser. :’)

Lembaran-lembaran buku selanjutnya saya buka dan saya nikmati. Cerita tentang orang-orang ajaib yang pernah datang di counter ponsel om Alex ternyata menarik untuk diikuti. Beberapa cerita pernah saya baca di twit berseri om Alex. Tetapi cerita di buku tentu lebih lengkap dan lebih seri dibandingkan cerita di twitter yang terbatas oleh 140 karakter.

Pengalaman nista om Alex dan konter ajaibnya memiliki satu pesan yang mungkin sudah sering kita dengar: don’t judge a book by its cover. Ungkapan tersebut hanya menjadi kata-kata belaka tanpa pengalaman pribadi. Di buku ini om Alex menceritakan setiap pengalamannya dengan pengunjung konter. Di konter inilah om Alexmenemukan bahwa  ternyata banyak kepribadianseseorang yang tidak sesuai dengan penampilan luarnya.

Kisah mengharukan seperti “Dummy Seharga Dua Juta” dan “Don’t Judge the Heart by the Look” layak menjadi bahan pembelajaran bagi kita. Bagaimana berlapang dada saat kondisi lingkungan tak henti-hentinya memojokkan kita. Bagaimana saat kecerdasan harus kalah oleh himpitan ekonomi, namun kita harus tetap maju dan pantang menyerah.

Gaya bahasa yang sederhana membuat buku ini mudah dicerna. Saya hanya menghabiskan dua jam saja untuk menyelesaikan buku ini. Mengalahkan rekor membaca novel Joker om Vabyo yang memakan waktu 3,5 jam. Tapi jangan kaget kalau banyak kelebayan yang dituangkan dalam buku ini. Gak heran sih, mengingat twit-twit om Alex yang juga sering lebay dengan hestek #mimisantigagalon-nya.

Memang banyak kisah lucu yang membuat kita tertawa di buku #TNSALOA ini. Tapi menurut saya, yang penting adalah bagaimana kita bisa belajar dari “kisah lucu” seseorang untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari, yang pasti sangat sulit untuk dilakukan. Lagi-lagi, kita bisa belajar dari mana saja. Dari buku, dari pengalaman orang lain, juga dari serial TV yang pernah saya posting disini. Karena kita bisa belajar dari mana saja, asal kita mau. 🙂

 

 

Amsal 14:6-8: “Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh. Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya. Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.”