Monthly Archives: Agustus 2013

Lebaran Adalah Tradisi

Standar

Dentuman kembang api, riuhnya kumandang takbir dan bersalam-salaman sudah saya lihat dan rasakan sejak semalam. Setelah Kementrian Agama menyatakan bahwa Idul Fitri 1434H jatuh pada hari ini, suasanya Lebaran langsung terasa di jalanan dan di kantor saya.

Tinggal di Indonesia artinya sudah terbiasa dengan suasana Ramadan dan Lebaran. Sejak kecil, saya selalu melihat lalu lalang warga kampung yang berjalan di depan rumah menuju ke lapangan untuk menjalankan Sholat Ied. Berjalan kaki sambil menenteng sajadah, mukena dan koran bekas sambil bercengkerama dengan keluarga, sudah jamak saya lihat dari tahun ke tahun.

Lebaran hari pertama, biasanya anak-anak di kampung saya akan berkeliling ke rumah-rumah tetangga untuk bersilaturahmi. Saat berkunjung biasanya anak-anak ini akan mendapat “salam tempel” yang jumlahnya beragam, mulai dari 100 rupiah sampai 500 rupiah. Saya pun nggak ketinggalan mengikuti kegiatan tahunan anak-anak di kampung tersebut. Saya dan anak-anak lainnya seringkali berkunjung sampai ke kampung sebelah yang bahkan tidak kami kenal. Namun kami tetap disambut, diberi makanan dan yang paling penting dikasih uang. Saat Lebaran, saya bisa mengumpulkan uang hingga 5000 rupiah. Jumlah yang cukup banyak untuk anak-anak tahun 90an. Orang tua saya tidak pernah melarang saya untuk berkunjung ke rumah tetangga bersama anak-anak lainnya. Warga yang saya kunjungi pun tidak pernah menolak, walaupun saya tidak merayakan Lebaran.

Bagi saya, Lebaran bukan sekedar perayaan umat Muslim setelah 30 hari berpuasa. Lebaran adalah perayaan agama yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia. Karena tidak hanya umat Muslim saja yang pulang kampung, bermaaf-maafan dan makan ketupat opor. Seluruh masyarakat Indonesia merasakan Lebaran, merayakan Lebaran dan saya bangga menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Selamat berlebaran semuanya.. Mohon maaf lahir dan batin..

image

Mike dan Sullivan – berlian dalam kubangan

Standar

Udah pada nonton film The Conjuring belom? Film horor yang konon katanya bisa membuat bulu kaki berdiri dan nggak bisa tidur seminggu? Saya diajakin nonton film ini beberapa kali sih. Tapi saya masih waras dan menolak setiap rongrongan seorang teman yang nggak henti-hentinya merayu saya buat nonton The Conjuring.

Sebetulnya sih lumayan penasaran sama The Conjuring, soalnya banyak yang membicarakan film karya sutradara James Wan ini. Tapi rasa penasaran saya kalah jauh sama rasa horornya. Baru nonton trailernya aja udah serem, gimana nonton film utuhnya?

Saya memang bukan tipe orang yang suka nonton film horor. Film horor terakhir yang saya tonton adalah Laddaland, film horor asal Thailand yang seremnya bikin ga berani tidur dengan lampu dimatikan. Saya bukannya takut sih nonton horor. Saya cuma jijik. *denial*

Kalau mau ngajakin saya nonton, mending ngajakin nonton film yang penuh dengan khayalan dan angan-angan. Alih-alih film horor, saya lebih suka film animasi dan fantasi yang penontonnya lebih banyak anak-anak. Mungkin karena usia saya masih belasan tahun, jadi masih suka film animasi yang jalan ceritanya nggak bikin kita harus mikir.

Sekitar 1-2 bulan yang lalu, pas musim libur sekolah, di bioskop sedang memutar film Monsters University. Film ini merupakan prequel dari film Monsters Inc yang bercerita tentang kehidupan di dunia monster, dunia lain dari dunia manusia.

Kalau udah nonton film Monsters Inc, pasti tahu kalau film ini berkisah tentang Mike Wazowski dan James Sullivan, sepasang monster yang paling hebat dalam mengumpulkan suara teriakan anak-anak manusia.

Monsters University menceritakan bagaimana awal pertemuan Mike dan Sullivan jauh sebelum mereka bekerja di Monsters Inc. Sejak kecil, Mike yang bertubuh pendek dan cenderung lucu (nggak seperti monster kebanyakan yanng wujudnya horor) sudah tahu apa yang menjadi cita-citanya jika kelak dia dewasa nanti.

Berapa banyak dari kita yang sejak kecil sudah tau apa yang kita cita-citakan? Kalau ditanya orang “kalo gede nanti mau jadi apa?”, paling jawaban kita standar anak kecil seperti mau jadi dokter, pilot, astronot, polisi dan sebagainya. Ada nggak yang udah punya cita-cita spesifik sejak kecil, misalnya: “pengen jadi direktur marketing yang sukses di Citibank” atau “pengen jadi pilot di maskapai Emirates”? Nah si Mike ini dari kecil cita-citanya udah spesifik, yaitu jadi scary monster alias monster yang tugasnya menakuti-nakuti manusia di perusahaan Monsters Inc.

Menjadi seekor scary monster adalah salah satu pekerjaan bergengsi di dunia monster. Kalau di dunia manusia, kira-kira jadi apa ya? Reporter TV mungkin? Hehehehee..

mike wazowski yang unyu

Kalau sudah tau mau jadi apa kalau dewasa nanti, tentu nggak susah untuk menentukan jalan hidup. Seperti Mike misalnya yang udah bercita-cita jadi scary monster, dia melakukan segala cara untuk bisa masuk ke Monster University sebagai scare student. Banyak dari kita yang nggak tau mau jadi apa saat sudah dewasa nanti sehingga bingung menentukan arah hidup.

Kalau udah tau cita-cita kita, pasti nggak bingung deh waktu SMA mau pilih jurusan IPA atau IPS. Atau nggak mungkin kita bingung menentukan jurusan apa yang tepat untuk kita saat mendaftar ke Universitas. Kebanyakan justru memilih jurusan yang paling populer, kampus terbaik atau bahkan hanya mengikuti jalan yang sudah disiapkan orang tua.

Saya dulu juga sempat bingung mau pilih jurusan apa saat mendaftar UM-UGM dan SPMB. Cita-cita waktu kecil sih jadi wartawan, tapi waktu SMA malah memilih jurusan IPA. Nggak lolos UM-UGM dan SPMB, saya akhirnya kuliah di Akademi Komunikasi Indonesia jurusan broadcasting TV yang akhirnya membawa saya untuk bekerja sebagi reporter, sesuai cita-cita saya waktu kecil.

Memiliki cita-cita dan memperjuangkannya dengan gigih ternyata nggak cukup kuat bagi Mike untuk mewujudkan mimpinya. Mike yang rajin belajar dan mengetahui semua teori tentang menakut-nakuti, memiliki wujud yang lucu sehingga dinilai tidak berbakat. Berbeda dengan Sullivan yang sudah memiliki wujud mengerikan, tetapi malas belajar sehingga dia pun dinilai kurang memenuhi syarat untuk menjadi scary monster. 

Singkat cerita dan supaya nggak spoiler2 amat (padahal udah spoiler dari tadi) , Mike dan Sullivan harus dikeluarkan dari kampus karena kesalahan mereka. Namun bukan berarti mereka menyerah. Sepasang sahabat ini akhirnya memilih untuk bekerja di Monsters Inc sebagai penyortir surat, suatu pekerjaan yang mungkin nggak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Walaupun nggak sesuai passion, mereka melakukan yang terbaik dalam pekerjaan mereka sebagai penyortir surat. Saat dipindahkan di bagian lain pun, mereka tetap menunjukkan kualitas mereka dengan menghasilkan pekerjaan terbaik. Hingga akhirnya mereka menjadi sepasang scary monsters yang menghasilkan tenaga teriakan paling banyak.

Kisah Mike dan Sullivan bisa saja dialami manusia seperti kita. Bekerja tidak sesuai passion, digaji rendah dan nampak sangat jauh dari cita-cita. Tapi dengan setia dalam setiap perkara yang dipercayakan pada mereka, akhirnya Mike dan Sullivan bisa bekerja sesuai keinginan mereka. Untuk mencapai suatu tujuan yang sama, beberapa orang mungkin bisa ke sana dengan mulus. Tapi nggak sedikit juga yang harus memutar jauh dan melalui proses yang panjang.

Ibarat berlian, Mike dan Sullivan tetap memancarkan sinar mereka sehingga akhirnya mereka ditempatkan di mana mereka seharusnya berada. Kalau sebuah berlian jatuh ke kubangan dan berhenti memancarkan sinar, bagaimana mungkin ia ditemukan untuk bisa ditempatkan sesuai nilainya? Berlian yang tetap bersinar sekalipun di kubangan akan mudah ditemukan orang sehingga bisa dipindahkan ke tempat yang semestinya.

Kalau kamu saat ini adalah berlian yang sedang jatuh ke kubangan, tetaplah bersinar seperti Mike dan Sullivan. Jangan redupkan sinarmu dengan cara melakukan hal yang biasa-biasa saja.

 

Lukas 16:10
Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

 

 

🙂