Monthly Archives: Juli 2012

belajar dari serial TV, bisakah?

Standar

Image

“How I met your mother”, “happy endings”, “friends with benefits”, “raising hope”, “new girl” dan serial TV komedi amerika lainnya tentu tak asing bagi penonton channel Star World. Akhir-akhir ini saya sering sekali menyaksikan serial-serial di atas, sewaktu saya memiliki waktu senggang di kosan. Serial-serial tersebut kebanyakan bercerita tentang persahabatan kaum dewasa muda di Amerika Serikat. Jauh lebih menarik ketimbang sinetron-sinetron yang belakangan ini banyak bertema remaja dan berbau girlband.

Cerita persahabatan memang banyak menjadi inti cerita pada serial TV Amerika. Jika dilihat dari gaya hidup para tokoh yang sesuka hati dan menganut sex bebas, tentu tidak cocok dengan gaya hidup orang Indonesia pada umumnya. Sebut saja hubungan ganjil Ben dan Sara dalam serial “friends with benefits”. Atau si kocak barney dalam serial “how I met your mother” yang sering digambarkan sebagai pria yang hobi bergonta ganti pasangan.

Di balik gambaran gaya hidup yang sembarangan, nyatanya tetap ada nilai positif yang dapat diambil dari setiap episode yang saya saksikan. Apalagi dengan durasi yang hanya 20an menit, kita disuguhkan adegan dan dialog yang tidak membosankan. Berbeda dengan sinetron yang berdurasi panjang dan banyak mengulang-ulang adegan sehingga membuat penonton cerdas cepat merasa bosan. Bukan berarti cerita dalam sinetron tidak mengandung nilai positif, tapi dengan adegan yang bertele-tele dan seringkali tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, sulit untuk menemukan nilai positifnya.

Jadi nilai positif apa yang bisa kita dapatkan dari serial TV yang banyak mengumbar gaya hidup bebas? Seperti yang sudah saya katakan tadi, nilai persahabatan menjadi tema utama pada kebanyakan serial TV Amerika. Memiliki sekelompok sahabat seperti kisah dalam serial-serial tersebut nampak sangat menyenangkan. Kita bisa bercerita, berbagi kisah, pergi bersama dan melakukan segala sesuatu bersama. Pada kenyataannya, memang itu yang kita butuhkan sebagai manusia, sebagai makhluk sosial.

Masih ingat dengan penembakan massal yang dilakukan James Holmes yang meniru Joker saat menonton film “The Dark Night Rises”? Saya tidak tahu betul apa yang menyebabkan James bisa bertindak senekat itu, mengingat dia adalah mahasiswa doktoral di Universitas Colorado. Namun berdasarkan wawancara dengan Reza Indragiri Amriel, seorang psikolog forensik, hal serupa dapat terjadi pada siapa saja yang mengalami frustasi dan tidak memiliki tempat untuk berbagi pikiran. Karena itulah, memiliki sahabat yang siap mendengarkan keluh kesah kita sangatlah penting. Tak perlu memberikan jalan keluar, cukup tangan yang terbuka dan telinga untuk mendengar.

Dalam setiap episode, serial TV pasti memiliki tema berbeda. Dan seperti yang saya katakan tadi, ada nilai positif yang bisa kita serap dalam setiap episode. Seperti serial “friends with benefits” yang baru saja saya saksikan. Premis ceritanya sih tentang Ben dan Sara yang berkencan ganda dengan pasangan lain. Tapi yang ingin saya ceritakan justru side bar nya. Diceritakan bahwa tokoh bernama Riley menjalin hubungan dengan seorang pria yang selalu berkata jujur dalam segala hal, sekalipun itu menyakitkan. Sahabat Riley, Aaron dan Fitz menilai bahwa tidak semua hal perlu diungkapkan secara jujur. Mereka menganggap bahwa terlalu sering mengungkapkan isi hati justru dapat merusak persahabatan.

Kisah yang hampir sama juga terdapat dalam salah satu episode serial “happy endings”. Dikisahkan bahwa Dana, ibu Penny, datang mengunjungi putrinya dengan alasan akan bernyanyi di salah satu pertunjukan hebat, yang ternyata hanya pertunjukan kapal (boat show). Dana memang dikenal sebagai wanita dengan sejuta kata positif, sehingga dia menganggap show dalam kapal sekalipun merupakan hal hebat yang dapat mengantarnya menjadi penyanyi hebat. Sebaliknya, Penny justru merasa bahwa ibunya terlalu memiliki banyak mimpi sehingga akhirnya Dana patah semangat dan mulai memperkatakan hal-hal negatif. Bahkan Dana mengatakan kata-kata negatif pada sahabat-sahabat Penny yang menyebabkan mereka down. Namun, akhirnya Penny sadar bahwa pikiran-pikiran positif lah yang selama ini menjadi nilai lebih ibunya. Seolah menjadi Dana, Penny mulai memperkatakan hal-hal positif yang membuat ibunya kembali bersemangat.

Entah kenapa kedua serial di atas ditayangkan beriringan. Tema besarnya sih hampir sama, yaitu tentang ucapan yang membangun dan tidak membangun. Pada serial “friends with benefit”, pacar Riley yang selalu berkata jujur mengungkapkan semua hal dalam pikirannya dengan cara negatif. Ketika dia merasa bosan dan tidak menyukai sesuatu, dia akan mengatakan langsung di depan orang tanpa teding aling-aling. Sebaliknya, Dana selalu dalam serial “happy endings” selalu berkata positif sekalipun kondisi yang sedang terjadi tidak sehebat yang dialaminya. Bahkan dana berkata hal positif tentang sahabat-sahabt putrinya, yang membuat semangat mereka menyala.

Dalam wawancara saya dengan psikolog Rose Mini atau yang dikenal dengan bunda Romi, manusia memiliki beberapa cara untuk berkomunikasi. Salah satu yang sering terjadi adalah berkomunikasi secara agresif, yaitu mengungkapkan perasaan yang berpotensi menyebabkan sakit hati pada lawan bicara. Selain itu, tak jarang kita melakukan komunikasi pasif-agresif, yaitu seolah kita berkomunikasi dengan manis di hadapan lawan bicara, kemudian ngomel-ngomel di belakang. Salah satu contoh adalah ketika kita mendapat banyak tugas dari atasan, kita akan menerima (seolah) dengan senang hati, tetapi kemudian mengumpat di belakang. (Sounds familiar?)

Komunikasi yang baik adalah secara asertif, yaitu mengungkapkan isi hati dengan cara yang nyaman dan tenang tanpe menyakiti perasaan lawan bicara, sekalipun yang kita ungkapkan adalah hal yang kurang menyenangkan. Seperti yang dilakukan Dana, ia selalu dapat menyampaikan segala sesuatu dari kacamata positif, sehingga lawan bicara pun dapat menangkap nilai positifnya.

Kedua episode dalam serial di atas mengajarkan kita, bahwa apa yang keluar dari mulut kita dapat mempengaruhi keadaan. Kata-kata positif yang membangun kah, atau kata-kata negatif yang dapat merusak keadaan. Seperti ungkapan “mulutmu harimaumu”, kita harus berhati-hati menggunakan lidah kita. Bahkan tak hanya melalui perkataan yang keluar dari mulut kita, saat ini segala perkataan melalui pesan teks, twitter, status facebook dan berbagai media komunikasi dapat memberi pengaruh pada banyak orang. Jadi, hati-hati dengan apa yang keluar dari mulutmu, karena dari satu mulut yang sama, bisa keluar berkat atau kutuk.

Masih banyak nilai positif yang dapat kita temukan dalam setiap tayangan televisi. Tinggal kita sendiri yang menentukan, apakah kita memilih untuk fokus pada gaya hidup yang kurang sesuai dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, atau kita memilih untuk menikmati setiap adegan lucu sambil menyerap nilai positifnya. Karena tidak semua yang berbau barat itu buruk, dan semua yang berbau lokal itu baik untuk kita.

πŸ™‚

sebuah tempat bernama “rumah”

Standar

Bulan Juni lalu, film animasi Madagascar 3: Europe’s Most Wanted mulai tayang di bioskop tanah air. Saya termasuk salah satu orang beruntung yang bisa menonton film ini 2 hari sebelum ditayangkan secara serentak. Bukan bajakan lho.. Tapi undangan dari Gandaria City untuk liputan pemutaran film, sekaligus meliput agenda kegiatan di mall tersebut yang mengusung tema Madagascar 3 selama musim liburan. Cerita liburan bersama Madagascar di Gandaria City dapat disaksikan disini. *sekalian promo liputan* :p

Sebulan kemudian, film animasi lainnya juga ditayangkan di layar lebar Indonesia. Film Ice Age 4: Continental Drift yang penuh dengan adegan kocak dapat disaksikan para pecinta film. Sayangnya, kali ini saya tidak seberuntung sebelumnya. Saya tidak berkesempatan lagi menonton film ini sebelum ditayangkan serentak. Namun untungnya saya menonton di bioskop Kuningan City, yang karena masih belum lama beroperasi, tarif menonton pada akhir pekan hanya 25 ribu rupiah. πŸ˜€

Kedua film yang saya sebutkan di atas memiliki banyak persamaan. Kedua film ini memang sama-sama termasuk jenis film animasi. Namun tak hanya itu saja, dari segi isi cerita dan pesan moral pun ada persamaannya. Setidaknya menurut saya. (Kalo belum nonton filmnya, mending stop baca sekarang juga karena mengandung spoiler.)

Persahabatan yang unik
Film Magagascar dan Ice Age sama-sama bercertita tentang persahabatan hewan-hewan. Madagascar menceritakan petualangan Alex si singa, Melman si jerapah, Marty si Zebra dan Gloria si kuda nil dari kebun binatang Central Park New York, yang pergi berkeliling dunia. Sementara Ice age menceritakan kisah petualangan tiga sahabat Manny si mammoth, Sid si kukang dan Diego si macan bergigi pedang pada zaman es.

Kalau dilihat, persahabatan semacam itu tentu tidak mungkin terjadi pada alam liar sesungguhnya. Mana ada hewan karnivora bersahabat dengan hewan herbivora, yang notabene mangsanya sendiri. Mana ada juga kuda nil naksir jerapah, atau tikus tanah naksir mammoth. Namun saya rasa justru inilah yang ingin disampaikan melalui kedua film ini. Bahwa persahabatan tidak melihat perbedaan yang ada. Bahkan dengan segala perbedaan itu, hewan-hewan di setiap fil bisa menjadi keluarga yang sangat dekat.

Bertemu “keluarga” lain
Pada film Madagascar ketiga, dikisahkan bahwa Alex dan kawan-kawan meninggalkan benua Afrika untuk pulang ke “rumah” mereka di New York, yang tak lain adalah kebun binatang Central Park. Mereka merindukan kehidupan di kandang hewan yang nyaman, tidak perlu menghadapi petualangan dan penuh decak kagum dari para pengunjung.

Siapa sangka, saat meninggalkan Afrika mereka malah terjebak di Eropa dan harus dikejar-kejar Chantal Dubois, pemburu hewan liar di Monako. Saat lari dari Chantal itulah, Alex dan kawan-kawan bertemu dengan kelompok sirkus yang sedang berkeliling menggunakan kereta api. Mereka berjumpa dengan Vitaly si harimau yang merupakan bintang panggung kelompok sirkus tersebut. Ada juga Gia si macan tutul betina yang berhasil merebut perhatian Alex.

Dalam film Ige Age terbaru, Manny dan kawan-kawan yang terpisah dari kelompoknya akibat longsornya tanah es, berjumpa dengan sekelompok hewan yang mengarungi lautan untuk merampas barang-barang hewan lain, alias kelompok bajak laut. Bajak laut pimpinan Captain Gutt si monyet besar ini berhasil menyandera Manny dan kawan-kawan dengan bantuan tangan kanannya, Shira si macan betina.

Menemukan “rumah”
Pertemuan Alex dengan kelompok sirkus Vitaly, membawa mereka kembali ke New York. Bahkan Alex, Marty, Melman dan Gloria pun ikut serta dalam pertunjukan sirkus di New York. Namun kerinduan mereka pada kenyamanan kebun binatang Central Park membuat mereka terpaksa pergi dari kelompok sirkus tersebut.

Saat kembali berada di dalam kandang, mereka justru tidak lagi menemukan kenyamanan yang mereka rasakan dulu. Mereka justru merindukan saat-saat berpetualang bersama. Bahkan mereka rindu untuk kembali mempertunjukkan kemampuan mereka di panggung sirkus. Alex dan kawan-kawan pun sadar, bahwa mereka telah menemukan rumah dan keluarga baru. Keluarga yang penuh keceriaan dan ada dukungan satu sama lain. Bukan rumah yang sepi tanpa gelak tawa kebahagiaan di kandang kotak mereka.

Shira si macan betina dalam film Ige Age 4 pun merasakan hal yang sama. Saat disandera oleh Diego, ia melihat ada kebersamaan yang hangat pada persahabatan aneh Manny-Sid-Diego. Shira pun melihat kehidupan keluarganya selama ini yang penuh kekejaman dan tekanan di bawah pimpinan Captain Gutt.

————————————————-

Siapa sangka dalam petualangan sekelompok hewan aneh itu, mereka justru menemukan “rumah” baru. Rumah di mana mereka dapat merasa nyaman. Menerima setiap perbedaan. Saling mendukung satu sama lain.

Hewan-hewan dalam kedua film tersebut merefleksikan kebutuhan manusia akan kasih sayang dan penerimaan dalam suatu kelompok, yang membuatnya merasa nyaman. Kebutuhan untuk tinggal di dalam sebuah “rumah”. Tidak harus mewah atau bergelimang harta seperti yang dimiliki Shira si macan betina. Cukup rumah sederhana dengan kehangatan kasih sayang dari anggota keluarga. Tanpa disengaja, mereka sudah pulang ke “rumah” yang mereka rindukan selama ini.

Dan di sinilah saya saat ini. Menunggu kereta api di stasiun Gambir yang akan membawa saya menuju kota di mana saya dibesarkan. Di mana ada keluarga yang menyayangi saya. Ada ibu yang selalu mendoakan saya di setiap langkah yang saya ambil. Sebuah tempat yang saya sebut sebagai “rumah”.

Wherever there is laughter ringing

Someone smiling someone dreaming

We can live together there

Love will be our home

Wherever there are children singin

Where a tender heart is beating

We can live together there

Love will be our home

πŸ™‚

kenangan MOS tak terlupakan

Standar

Hari ini tanggal 16 Juli 2012, bertepatan dengan awal tahun ajaran baru. Bagi yang baru masuk ke jenjang pendidikan sekolah menengah, pasti ada yang namanya MOS atau Masa Orientasi Sekolah. MOS ini menjadi ajang pengenalan murid-murid baru ke lingkungan sekolah. Mumpung lagi musim MOS, saya pengen cerita tentang masa MOS saya sewaktu SMA sepuluh tahun yang lalu.

Tadi siang udah sempat cerita di twitter sih. Tapi karena keterbatasan karakter dan besarnya kemungkinan hilang ditelan timeline, saya memutuskan untuk cerita di blog aja. Biar lebih afdol. Tapi ceritanya dimulai dari lulus SMP yak, biar agak panjangan dikit :p

Image
———————————————————————————————————————————–

Cerita berawal dari suatu siang pada tahun 2002. Dengan menggunakan seragam putih biru, saya harap-harap cemas melihat pengumuman nilai Ujian Nasional (UN) SLTP. Agak lupa sih waktu itu pengumumannya ditempel di kertas atau dibagikan amplop satu persatu. Pokoknya waktu itu nilai UN saya lumayan bagus: 41,91. Kalo dibagi 6 mata pelajaran, rata-ratanya ga sampe 7 sih. Tapi di masa itu, NUM segitu termasuk lumayan bagus. Apalagi banyak teman-teman saya yang NUM-nya hanya 39.

Karena tergolong lumayan itulah, waktu ada teman dari kelas lain menanyakan NUM saya, dia malah berkata: “woh kowe ki jebule pinter to.” Kalo saya lulusnya baru-baru ini, pasti langsung saya jawab: “MENURUT NGANA??”

Dengan nilai segitu, rasanya mustahil saya bisa masuk ke SMA favorit saya waktu itu, yaitu SMA Negeri 3. Tahun sebelumnya saja, nilai terendah yang masuk SMA 3 adalah 48 koma sekian. Apa kabar dengan NUM saya yang cuma 41 koma? (Tapi waktu itu nilai emang lagi anjlok, yang masuk SMA 3 nilai terendahnya cuma 44 koma).

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pilihan saya jatuh pada SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 4 Yogyakarta. Selain kualitas, jarak dan ketersediaan transportasi umum untuk menuju ke sana patut dipertimbangkan.

Sistem pendaftaran SMA berbeda dengan sistem waktu saya mendaftar SMP. Waktu mendaftar SMP, masih ada sistem rayon yang sangat membantu jika tidak diterima di sekolah pilihan pertama. Di SMA, sistem pendaftarannya hanya sekali. Kalo ga diterima ya sudah, tidak ada kesempatan untuk diterima di SMA Negeri lainnya.

Saya membeli dua formulir pada hari pertama pendaftaran. Formulir SMA 2 dan SMA 4. Semua saya lakukan sendiri dengan naik kendaraan umum, karena saat itu belum punya kendaraan sendiri. Agak repot memang, tapi demi melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ga papa lah..

Saya tidak langsung memasukkan formulir ke sekolah karena harus menyertakan NUM asli. Saya harus memantau dulu bagaimana perkembangan pendaftar di kedua sekolah tersebut. Karena saat itu saya belum akrab dengan internet, saya memantau lewat harian “Kedaulatan Rakyat”, koran terpopuler di Yogyakarta.

Hari terakhir pendaftaran, saya mulai cemas. Sekolah mana yang akan saya pilih? Saya pun memutuskan untuk memasukkan formulir ke SMA 2 saja. Rencananya, saya mau memantau dulu kondisi pendaftaran di Smada. Kalau sekiranya posisi saya tidak aman, saya bisa langsung pindah ke SMA 4 yang lokasinya lumayan jauh kalo naik kendaraan umum.

Sebenarnya ada sedikit rasa bangga dalam diri saya, karena saya bisa memilih sekolah saya sendiri. Saat anak-anak lain diantarkan orang tuanya untuk mendaftarkan sekolah, saya Β mondar mandir kesana kemari tanpa didampingi orang tua. Bukan orang tua saya jahat. Saya hanya tidak ingin merepotkan mereka, sekalian saya ingin mencoba mandiri.

Detik-detik menjelang penutupan pendaftaran, saya pun mulai cemas. Waktu menunjukkan pukul 16.30, yang artinya setengah jam lagi meja pendaftaran akan ditutup. Jika berdasarkan pantauan, posisi saya masih aman untuk memasukkan formulir. Tapi saya takut, menjelang penutupan akan banyak orang yang memasukkan formulir dan membuat posisi saya tidak aman.

Tapi kalau dipikir-pikir, setengah jam tidaklah cukup kalau saya ingin geser ke SMA 4 di Jalan Magelang. Akhirnya dengan hati yang pasrah, saya menuju meja pendaftaran dan memberikan map merah yang berisi formulir dan NUM. Sesudah itu, mata saya tak lepas dari layar monitor yang menunjukkan jumlah pendaftar dan nilai yang masuk.

Hingga pendaftaran ditutup pukul 17.00, posisi saya nampaknya masih aman. Tapi itu bukan jaminan kalau saya pasti diterima menjadi bagian dari sekolah mewah (mepet sawah) ini. Dengan langkah gontai akibat kelelahan dan kehausan, saya pun pulang ke rumah.

Pada hari pengumuman, saya dan ibu saya mendatangi gedung Smada. Papan pengumuman yang sudah ditempeli berlembar-lembar kertas nampak berdiri kokoh di tengah halaman sekolah. Dengan tergesa-gesa, saya menghampiri papan pengumuman dan menyusuri satu persatu nama-nama calon siswa yang diterima. Waktu itu, urutan calon siswa yang diterima ditulis berurutan sesuai NUMnya. Dan prasie the Lord, nama saya ada di urutan ke-199. Lumayan lah posisinya, saya urutan ke 199 dari 240 murid. πŸ˜€

Setelah melewati masa pembayaran, menjahit baju-baju seragam yang (lagi-lagi) memakan biaya banyak dan mempersiapkan mental, akhirnya tibalah hari pertama masuk sekolah. Bagi anak baru, masuk sekolah bukan pada hari senin, tapi 2 hari sebelumnya pada hari sabtu.

Waktu hari pertama masuk sekolah, sebetulnya saya sudah dibelikan motor baru. Tapi karena masih takut dan belum punya SIM, niat ke sekolah baru pake motor baru biar semangatnya baru pun saya urungkan. Saya kembali menggunakan kendaraan umum ke sekolah. Jaraknya lumayan jauh. Dari rumah saya harus berjalan sekitar 300 meter ke perempatan Pingit. Menunggu bis jalur 15 yang akan membawa saya 1 kilometer ke depan, yang dilanjutkan dengan berjalan kaki (lagi) ke sekolah yang berjarak 300 meter dari pemberhentian bus. *gembrobyos*

Sampai di sekolah, anak-anak baru dikumpulkan di halaman. Satu persatu nama siswa pun disebutkan untuk masuk ke kelas masing-masing. “Aditya Kurnia Pradana.” Guru memanggil murid pertama yang masuk ke kelas 1.1 dengan nomor absen 1. Kemudian nama saya pun dipanggil, yang artinya saya masuk kelas 1.1 dengan nomor urut 2. Lumayan lah ga perlu lama-lama berpanasan di halaman sekolah. Apa kabar yang masuk kelas 1.6 nomor absen 40 ya? Kasian. (Kayanya sih temen SMP saya, Zakia Sekarpratiwi. Salah sendiri namanya pake Z) :p

Setelah seluruh siswa kelas 1.1 masuk kelas, kami pun mulai berkenalan satu sama lain. Ada yang baru kenal, ada yang udah kenal dari SMP, ada juga Panji, teman SD saya yang mukanya bikin pangling.

Tak lama, 4 orang kakak kelas masuk ke kelas kami. 2 siswa dan 2 siswi kelas 2 yang akan menjadi mitra MOS kami. Mitra ini adalah teman kami selama MOS, jadi harus baik hati dan tidak sombong. (Makanya waktu saya kelas 2, saya juga jadi mitra MOS (β€’Λ†βŒ£Λ†β€’). )

Setelah perkenalan dengan cara maju ke depan kelas, kami pun bersiap memilih pengurus kelas. Saya pernah cerita disini, jadi gak usah cerita lagi ya.. Hehehee.. Sesudahnya, kami disuruh mengubah tata letak meja kursi menjadi bentuk U, supaya kami bisa lebih mengenal satu sama lain.

Seperti MOS pada umumnya, kami juga diberi tugas yang aneh-aneh. Disuruh bikin nama punggung, nama meja, nama topi, buku tanda tangan, lengkap dengan kepangan rafia putih-kuning-hitam. Ukurannya pun harus sesuai dengan perintah mitra MOS, karena kalo nggak sesuai bisa dihukum tatib.

Nah, bicara soal tatib, di kelas kami tatibnya galak mampus. Jadi di tengah-tengah penjelasan tentang tugas, tiba-tiba tatib kami yang bernama Burhanuddin Muhammad dan Muvita Rinawati masuk ke kelas dengan kasar, memicingkan mata dengan dagu terangkat sambil melipat tangan. Suasana ceria bersama para mitra mendadak horor. Mereka pun menyebutkan nama, kelas dan nomor absen masing-masing dengan kecepatan ultrasonik, sehingga kesannya lagi kumur-kumur. Parahnya, nama identitas mereka harusnya kami catat untuk keperluan tanda tangan senior. (Yang kalo sekarang dipikir-pikir ternyata ga penting).

Selain tatib, ada juga panitia inti dan senat yang sewaktu-waktu masuk kelas dan memperkenalkan diri. Nah kali panitia inti dan senat ini ramah-ramah, jadi kami gak takut. Malah naksir. #eh

Kembali ke tugas MOS. Kami diberi contoh oleh para mitra tentang ukuran kertas, warna kertas dan sebagainya. Kelas kami terbagi menjadi 2 gugus. Nomor absen 1-20 masuk dalam gugus Amarta dengan kertas asturo biru, sementara 20 lainnya masuk dalam gugus Kunthi dengan kertas asturo merah muda.

Supaya lebih jelas, mitra memberi contoh dengan menggambar di papan tulis. Mitra kami memberi contoh bagaimana membuat nama punggung. Kertas asturo berukuran mirip kertas HVS, hanya lebih besar sedikit dibagi menjadi 3 kotak. Kotak paling atas untuk nama gugus, kotak tengah yang paling besar untuk nomor absen dan kotak paling bawah nama kami masing-masing.

Pada kotak nomor absen, mitra memberi contoh dengan membuat angka 11. Karena kami duduk di kelas 1.1, secara otomatis kami berpikir bahwa itu adalah angka kelas, bukan nomor absen. Dengan pedenya, kami pun menjawab “tidak” saat mitra bertanya: “ada yang belum jelas?”

Pulang sekolah, saya pun langsung berburu perlengkapan perang untuk membuat atribut MOS. Dengan kekuatan bulan dan seluruh anggota keluarga, saya pun mulai menggunting, menempel, mengepang, menulis, menggambar dan sebagainya. Hingga tanpa terasa, waktu menujukkan pukul 10 malam dan saya harus segera mangkal..eh tidur karena besoknya harus ibadah pagi. *anak soleh*

Pulang kebaktian remaja, saya langsung kembali berkutat dengan atribut-atribut yang kini entah dimana keberadaannya. Setelah semua selesai dibuat, tinggal satu yang harus dikerjakan. LAMINATING. Jdaaarr!! Hari minggu fotokopian mana yang buka? Dengan diantarkan om, saya berkeliling Jogja mencari fotokopian.

Saya pun menemukan sebuah tempat fotokopian di daerah Sagan. Di situ ternyata sudah ada teman sekelas saya dari gugus Kunthi. Karena belum saling mengenal, kami hanya saling memandang dan terdiam terpaku. Oh bulan hanya dirimu.. Yang menyaksikan segalanyaa.. *eh malah nyanyi*

Waktu itu sih saya lega, karena si Ivana Krisnawati itu menuliskan angka 11 pada nama punggungnya, yang berarti saya sudah mengerjakan tugas dengan benar.

Keesokan harinya, dengan wajah sumringah saya menuju sekolah. Sesuai aturan, nama punggung dan nama topi sudah harus digunakan mulai gerbang sekolah. Dengan gagah dan penuh percaya diri, saya memasang nama punggung. Saat bertemu dengan teman-teman sekelas (yang semuanya memasang angka 11), saya pun semakin yaqin bahwa pekerjaan saya sudah benar. Walaupun saat melihat nama punggung kelas lain kok angkanya beda-beda.

Kecerian berubah menjadi kekalutan saat tatib masuk ke kelas dan memeriksa atribut kami masing-masing. Betapa terkejutnya mereka, saat melihat semuanya bernomor absen 11. Dengan amukan ala godzila, para tatib pun berteriak-teriak di depan kelas menciutkan nyali kami. Horor bok!

Murid yang salah membuat atribut seharusnya dihukum. Tapi kayanya waktu itu kami gak dihukum, lha wong salahnya seragam. Hahahaa.. Murid bernomor absen 11 yang asli harusnya sih aman. Tapi nyatanya tetep salah, entah ukuran huruf atau kelebihan garis atau apa pun itu, pokoke salah.

Bagi saya dan teman-teman, masa MOS selama 3 hari menjadi ajang mengakrabkan diri satu dengan lainnya. Apalagi dengan adanya insiden angka 11, membuktikan bahwa kami kompak, dalam hal kesalahan sekalipun. :p

Buat dedek-dedek yang lagi menjalani masa MOS, jangan lihat tugas-tugas berat dari kakak kelasnya. Lihat bagaimana tugas-tugas itu membuat keakraban dengan teman-teman baru. Selain itu juga bisa mengakrabkan keluarga, karena sejatinya tugas MOS = tugas keluarga. Hahahaa.. πŸ˜€

Image