Monthly Archives: Oktober 2012

penting gak sih?

Standar

Setiap kali pulang ke Jogja, saya selalu menyempatkan diri untuk hura-hura dengan para sahabat. Sekedar makan bersama, berkumpul di basecamp atau bernyanyi sepuasnya di sebuah bilik karaoke. Kami menyebutnya sebagai katarsis, yaitu meluapkan segala bentuk emosi yang selama ini kami pendam.

Kepulangan saya ke Jogja biasanya gak terlalu lama. Makanya saya harus memanfaatkan waktu sempit sebaik-baiknya untuk dapat memuaskan keluarga, teman-teman dan diri saya sendiri tentunya. Mengunjungi keluarga besar, jelas sudah jadi agenda wajib. Bisa-bisa diomelin mamak kalo gak mampir-mampir ke rumah sodara.

Sudah jadi kebiasaan saya untuk gak woro-woro di social media tentang kepulangan saya ke Jogja. Males aja kalo terus banyak yang ngajakin pergi atau sekedar ketemuan. *padahal gak ada yg ngajakin juga sik* Saya hanya memberi kabar kepulangan saya hanya pada sahabat terdekat saya supaya bisa meluangkan waktu untuk hura-hura.

Prioritas saya jelas melepas rindu dengan teman-teman dekat yang memang sudah tersebar di seluruh pelosok nusantara. Tapi ada kalanya teman dekat saya tidak bisa datang karena ada keperluan lain, padahal kami sudah lama gak ketemu dan jauh-jauh datang dari daerah yang berbeda. Sebagai sahabat lama yang dulu sangat akrab, tentu saya kecewa. Tapi apakah saya berhak untuk marah?

Saya sadar betul bahwa prioritas tiap orang berbeda-beda. Mungkin saya menjadikan sahabat saya sebagai salah satu prioritas untuk bertemu. Namun apakah saya cukup penting untuk dijadikan prioritas oleh sahabat saya? Belum tentu. Sahabat saya masih punya keluarga, pacar dan kepeentingan lain yang mungkin jauh lebih berarti daripada sekedar berkumpul dengan sahabat lama.

Salah satu esensi menjadi orang dewasa adalah kita dapat melihat segala sesuatu lebih terbuka. Gak melulu memandang keinginan dan kepentingan kita sendiri, tapi juga kepentingan orang lain. Dan kita juga bisa memilih untuk tetap tidak terima saat sahabat kita tidak menjadikan kita sebagai prioritas, atau kita bersikap legowo dan maklum akan kepentingan lain.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film yang banyak dihina-hina karena jalan ceritanya yang “agak porno”. Dilihat dari posternya, film Ted memang nampak seperti film anak-anak karena tokoh utamanya adalah boneka beruang. Tapi film ini dikategorikan dalam film dewasa karena agak menyerempet ke arah pornografi juga.

Film Ted bercerita tentang seorang anak bernama John yang tidak punya teman dan berharap boneka beruangnya bisa hidup sehingga mereka bisa berteman selamanya. Berkat Pak Tarno dengan bim-salabim-nya, boneka beruang bernama Ted itu bisa hidup dan bicara layaknya manusia. Hanya saja ukuran badannya tetap sebesar boneka beruang. *padahal Ted ini makan dan minum jugak lho* *bingung*

Nah hingga dewasa, si John tetap bersahabat bahkan tinggal bersama Ted. Diceritakan bahwa John memiliki pacar bernama Lori yang ingin agar John bisa melepas Ted. Di sinilah kedewasaan John diuji. Dia harus memilih antara Lori dan masa depan, atau memilih Ted yang artinya dia akan selalu terjebak dalam sifat kanak-kanaknya.

Meskipun film ini banyak dicaci karena unsur pornonya, saya justru merasa bahwa banyak yang dapat kita petik dari film ini. Film Ted mengajarkan kita untuk dapat memilih skala prioritas. Mana yang kita anggap lebih penting? Masa depan atau masa lalu? Bersenang-senang dengan teman lama atau menjalin hubungan dengan seseorang yang kita anggap spesial? Karir atau pertemanan?

Saat ini saya masih mudah berhubungan, bertemu, hura-hura atau meminta bantuan pada sahabat saya. Namun jika suatu hari nanti saya tidak lagi menjadi prioritasnya, ya saya harus siap. Marah-marah pun tidak ada gunanya. Justru malah keliatan seperti anak kecil yang gak bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.

Seseorang mungkin begitu penting bagi kita. Namun apakah kita cukup penting bagi dia?

🙂

berkaca dari GCB (Good Charming Belles)

Standar

Kotbah hari minggu kemarin di gereja bertema “more than words”. Secara spesifik kotbah ini mengajak jemaat untuk menghidupi setiap Firman Tuhan yang tertuang dalam Alkitab. Sebagai pengikut Kristus, kita tidak hanya perlu membaca dan menghapal ayat-ayat alkitab saja, namun juga melakukannya.

Dalam kotbah, meresapi Firman Tuhan dianalogikan dengan membaca surat dari orang spesial. Jika kita menerima surat dari orang yang kita kasihi, pacar misalnya, tentu setiap kata yang tertuang dalam tulisan tidak akan berlalu saja dalal pikiran kita. Bahkan mungkin kita akan membacanya setiap hari hingga kita hapal dan meresapi kata-kata dalam surat tersebut. Surat dari pacar yang memang memiliki hubungan istimewa dengan kita tentu memiliki makna tersendiri bagi kita. Begitu juga dengan Firman Tuhan yang merupakan janji-janji Tuhan dalam hidup kita. Jika kita memiliki hubungan spesial dengan Tuhan, tentu setiap perkataanNya yang tertuang dalam Alkitab tidak akan pernah berlalu begitu saja dalm hidup kita.

Dalam Alkitab ada kaum-kaum yang menganggap diri mereka sebagai orang yang paling mengetahui isi Firman Tuhan. Namun kaum ini hanya sekedar tahu tanpa mengaplikasikan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum ini adalah orang Farisi, ahli taurat dan orang Yahudi.

Tak hanya menganggap diri paling benar dengan mengetahui isi Firman Tuhan, kaum ini juga sering menghakimi orang lain berdasarkan “pengetahuan” mereka. Kedengarannya memang jahat, tapi bisa saja saat ini kita tak ada bedanya dengan kaum Farisi dan ahli taurat ini.

Mungkin agak susah membayangkan bagaimana perilaku kaum ini di masa lalu. Tapi sepertinya perbuatan kaum-yang-merasa-paling-benar ini dapat disaksikan melalui sebuah serial TV berjudul GCB, kependekan dari “Good Charming Belles”.

Serial ini berkisah tentang seorang wanita bernama Amanda Vaughn yang kembali ke kota asalnya, Dallas, Texas, setelah 18 tahun tinggal di California. Amanda terpaksa kembali ke Dallas karena suaminya yang ternyata seorang pelaku penggelapan uang meninggal dan hartanya harus disita.

Kembali ke Dallas, Amanda harus bertemu kembali dengan teman-teman lamanya yang dulu sering di-bullynya. Seperti kebanyakan serial TV Amerika, selalu ada kaum populer yang menyiksa kaum tidak populer. Pada masa sekolah dulu, Amanda yang populer sering mengolok-olok dan mempermainkan teman-teman sekolahnya.

Pasti bukan kebetulan belaka, jika serial GCB ini ditayangkan di Star World Asia pada bulan Oktober, sesuai dengan tema kotbah bulan ini, “more than words”. Lalu apa hubungannya serial ini dengan kotbah bulan Oktober?

Lingkungan tempat tinggal para tokoh di serial ini digambarkan sebagai suatu tempat yang menjunjung tinggi kekristenan dan sopan santun. Saya tidak tahu seperti apa kota Dallas yang sesungguhnya (soalnya belum pernah ke sana, semoga suatu hari nanti bisa mampir), namun di serial ini penduduk kota Dallas seolah berbeda dengan penduduk kota New York, Los Angeles atau San Fransisco. Jika selama ini serial TV sering menceritakan betapa bebasnya kehidupan di kota-kota besar Amerika Serikat, tidak demikian dengan serial yang berlatar belakang kota Dallas ini.

Dalam serial ini, ada karakter Carlene, karakter antagonis yang selalu menyerang Amanda. Pada masa lalu, carlene yang tidak populer sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Amanda, karena itulah dia bersikap antipati pada Amanda yang kembali tinggal di lingkungannya. Carlene ini selalu membubuhkan ayat-ayat alkitab pada setiap ucapannya, bahkan dia sangat rajin berdoa. Namun kita bisa gemes sendiri jika melihat sifat Carlene ini. Meskipun dia rajin ke gereja, berdoa dan hapal ayat-ayat alkitab, ternyata hidupnya tak jauh berbeda dengan orang lain. Carlene yang menganggap dirinya paling tahu tentang Firman Tuhan,  ternyata masih suka mencampuri urusan orang lain. Masih suka berbuat curang. Masih menyimpan dendam. Memiliki sebuah restoran berbau porno. Bahkan tak jarang menggunakan ayat alkitab sebagai pembenaran untuk berbuat jahat.

Karakter tokoh lain pun sebelas dua belas. Mereka menganggap bahwa bisa “melayani” di gereja adalah perbuatan yang sangat baik. Padahal yang mereka sebut dengan “melayani” bermaksud untuk memegahkan diri sendiri dan ingin mendapat pujian dari jemaat lain. Misalnya pada salah satu episode, diceritakan bahwa Carlene berebut peran dalam sebuah drama di gereja dengan Cricket, yang tujuannya tentu saja ingin menunjukkan kemampuannya sendiri tanpa mengembalikan setiap pujian kepada Tuhan.

Serial GCB (Good Charming Belles) ini memang disadur dari sebuah novel berjudul GCB dengan kepanjangan berbeda, yaitu Good Christian Bitches. Cukup menggambarkan tentang para karakter di cerita ini.

Dari serial ini kita bisa berkaca, bahwa mungkin kehidupan seperti itulah yang kita jalani. Rajin ke gereja, hapal ayat-ayat dalam alkitab, rajin berdoa, namun dalam diri kita masih banyak sisi kedagingan yang menonjol. Seperti yang menjadi tema kotbah di gereja saya bulan ini, kita harus mengalami sendiri kasih Tuhan dalam hidup. Dengan begitu, kita bisa menghargai dan mencintai setiap perkataan-Nya yang tertuang dalam Alkitab. Bukan sekedar hapal tanpa memiliki ikatan pribadi dengan Tuhan.

Saya sendiri mengaku masih banyak sisi kedagingan yang menonjol dalam diri saya. Saya juga berkaca dari serial GCB, bahwa penampilan luar bukanlah jaminan seseorang memiliki pribadi yang baik. Tuhan tidak mencari orang yang  rajin berdoa dan hapal alkitab seperti Carlene, tapi Tuhan mencari pribadi seperti Amanda, yang mau sadar bahwa hidupnya tidak benar dan dia mau berubah.

Maaf kalo kesannya jadi kotbah di blog. Saya hanya ingin menceritakan bahwa dari mana pun kita bisa belajar dan berkaca. Termasuk serial TV. 🙂

 

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. – Lukas 15:7