Category Archives: informatif

Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Standar
Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Sebagai penduduk negara tropis, saya belum pernah liat salju secara langsung. Palingan liat bunga es di kulkas yang (kayanya) mirip salju. Atau wahana salju-saljuan di mall yang dibuat untuk anak-anak. Walaupun bukan salju beneran, tetep aja gabisa megang. Cih! Makanya pas temen saya ngajakin ke Jepang untuk melihat tumpukan salju di pegunungan Tateyama, Jepang, langsung saya iyain aja.

Waktu ke Jepang bulan April-Mei kemaren, sebetulnya saya pengen banget ke Universal Studio Osaka. Tapi apa daya, budget buat ke Tateyama udah lumayan gede. Untuk tiket terusan dari Nagano menuju Toyama aja udah habis ¥9.000 atau sekitar Rp 1.100.000.

Keberangkatan menuju Tateyama saya mulai dari stasiun Shinjuku di Tokyo. Di lantai 2 stasiun Shinjuku ada agen perjalanan yang dikelola oleh JR group. Di agen perjalanan tersebut, saya dan teman saya disambut oleh dua nenek-nenek di bagian informasi. Tadinya rada underestimate pas mau nanya ke nenek-nenek, takutnya ga paham. Walaupun rada terbata-bata, mereka ternyata bisa menyampaikan informasi tentang Tateyama dengan baik. Kami diarahkan ke loket untuk membeli tiket terusan Tateyama Alpine Route. Tiket terusan Tateyama Alpine Route hanya boleh dibeli oleh turis asing. Makanya pas beli tiket, kita harus melampirkan paspor. Konon katanya beli tiket terusan lebih murah dan praktis daripada beli tiket ketengan. Tiket terusan merupakan cara praktis untuk menikmati perjalanan dari kota Nagano ke kota Toyama dengan rangkaian tur melewati gunung salju. 

Wujud tiket terusan Kurobe-Tateyama Alpine Route

Setelah beli tiket, selanjutnya cari tiket bus untuk pergi ke kota Nagano. Tadinya sih saya berencana untuk berangkat ke Nagano tengah malam supaya besok paginya bisa langsung berangkat ke Tateyama. Tapi ternyata, keberangkatan saya bertepatan dengan Golden Week, libur panjangnya orang Jepang. Jadi bus malam saat itu tidak tersedia dan hanya ada 2 tiket terakhir untuk keberangkatan jam 3 sore. Mau tidak mau, tiket bus seharga ¥3.900 (sekitar 400 ribuan) pun terbeli.

Perjalanan dari kota Tokyo menuju Nagano memakan waktu sekitar 4 jam. Karena saat di Tokyo udara ga terlalu dingin, pas berangkat saya memakai celana pendek. Sampai di Nagano ternyata saya salah kostum. Dinginnya alamaaakkk. Walaupun sudah masuk musim semi, suhu udara di Tokyo dan Nagano ternyata beda banget. Saya pun berjalan kaki dari terminal menuju penginapan sambil menggigil kedinginan.

Salah kostum di Nagano yang dingin

Di Nagano saya menginap di Unicorn Hotel yang dipesan dari situs booking.com. Pengelola hotel yang masih lumayan muda menyambut saya dan teman saya dengan baik. Dia menanyakan kami mau ke mana saja selama di Nagano. Karena hanya berencana untuk ke Tateyama, kami memang tidak mencari tahu tentang kota Nagano. Si pengelola hotel pun menginformasikan kepada kami beberapa tempat wisata di Nagano, salah satunya kuil Zenko-Ji yang bisa didatangi dengan berjalan kaki. Sebetulnya ada juga pemandian air panas yang lokasinya rada jauh, jadi kayanya kami memang ga bakal sempat ke sana. 

Setelah cek in, kami pergi keluar untuk mencari makan. Berbeda dengan Tokyo yang masih gampang mencari makanan pada malam hari, di Nagano ternyata warung-warung makan sudah pada tutup jam 10. Toko yang buka 24 jam palingan minimarket seperti 7&i atau Lawson. Selain makan, untuk menghangatkan tubuh saya juga membeli sake mini seharga ¥100 saja. 

Sake seharga ¥100 atau 12 ribu rupiah saja

Besok paginya, saya dan teman saya bangun jam 6 pagi supaya sempat mengunjungi kuil Zenko-Ji yang ternyata adalah salah satu kuil tertua di Jepang. Karena udah tau bakal dingin banget, saya memakai legging dan sweater yang dilengkapi dengan teknologi heattech sebagai penghangat (belinya di Uniqlo Jakarta). 

Dari penginapan menuju kuil Zenko-Ji cukup memakan waktu 5-10 menit saja. Yang bikin bahagia, saya ketemu pohon sakura yang masih ada bunganya (walaupun bunga sakuranya udah lemes). Padahal, musim bunga sakura sudah berakhir sekitar akhir Maret. 

Horeeee ketemu Sakuraaaa

Dalam perjalanan menuju kuil Zenko-Ji pun menyenangkan. Saya melewati rumah-rumah bergaya lawas yang sulit dijumpai selama di Tokyo. Sebelum memasuki area kuil pun, saya melewati deretan toko-toko penjual souvenir yang lagi-lagi bergaya lawas. 

Gerbang besar kuil Zenko-Ji

Deretan toko bergaya lawas di sekitar kuil Zenko-Ji

Sampai di bangunan kuil, saya pikir bakalan sepi karena masih jam 6 pagi. Tapi ternyata kuil Zenko-Ji udah lumayan rame. Bentuk kuil Zenko-Ji sebetulnya ga jauh beda sama kuil Senso-Ji di Tokyo (namanya kok mirip-mirip ya). Di bagian depan ada tungku besar untuk menancapkan dupa. Di bagian teras ada kotak untuk memasukkan persembahan (berupa uang, bukan sayur mayur hasil bumi). Di bagian dalam ada biksu dan masyarakat yang sedang berdoa (di dalam kuil ga boleh foto-foto).

Pas lagi liat-liat kuil bagian dalam, tiba-tiba ada keramaian! Orang-orang pada keluar dari kuil untuk berbaris di depan tangga. Bahkan saking penuhnya, sampai ada yang berjejalan di teras kuil. Ternyata, saat itu adalah pergantian biksu besar. Jadi saat biksu besar mau masuk ke kuil, masyarakat berbaris untuk memohon berkat. Begitu pun saat biksu besar keluar, masyarakat berbaris lagi untuk memohon berkat.

Pagi-pagi kuil Zenko-Ji udah rame

Memohon berkat dari biksu besar

Puas melihat keagungan kuil Zenko-Ji, kami pun bergegas kembali ke penginapan. Setelah mandi dan sarapan, kami berjalan kaki menuju terminal Nagano selama kurang lebih 15 menit. Sampai di terminal sih rada bingung mau naik bis yang mana. Bis untuk menuju Ogizawa ternyata ada di bagian belakang terminal, tepatnya di platform 25. Saat itu penumpang bis dari Nagano menuju Ogizawa ternyata ga banyak. Cuma ada saya dan teman saya, 4 orang anak muda dan satu keluarga dari Indonesia juga. Tinggal menujukka tiket terusan yang sudah kita beli, supir bus pun akan mengijinkan kita naik bus tanpa biaya lagi.

Saya agak lupa perjalanan dari Nagano ke Ogizawa memakan waktu berapa lama. Kalau ga salah sih sekitar 2 jam. Selama perjalanan, kadang saya melihat ada deretan pohon sakura yang masih berbunga. Ada sakura pink, ada juga sakura putih. Sayangnya kita ga boleh berhenti buat foto-foto. Jadi ya cukup dilihat dan dikenang dalam hati.

Deretan bunga sakura dalam perjalanan Nagano-Ogizawa. Photo by Silvano Hajid.

Deretan gunung salju mulai nampak di kejauhan

Semakin mendekat ke Ogizawa, di kanan kiri jalan mulai nampak potongan-potongan es beku. Sampai di stasiun Ogizawa, saya langsung takjub melihat salju beneran untuk pertama kali. Sebetulnya pengen banget langsung pegang. Tapi sudah ada garis pembatas supaya turis ga masuk ke area salju. 

Pengen banget megang es nya tapi ga boleh

Dari Ogizawa lah perjalanan Alpine Route kita mulai. Di Ogizawa, kita naik bus menuju ke bendungan Kurobe. Perjalanan menuju Kurobe DAM sih ga istimewa karena hanya melewati terowongan buatan. Jadi ga ada pemandangan apa-apa. Satu-satunya hiburan hanya informasi tentang Alpine route di TV bagian depan yang menggunakan bahasa Jepang. Istimewanya, bus yang kita naiki bukan bus biasa. Bus bergerak dengan tenaga listrik yang dihantarkan melalui tiang besi mirip bombom car.

Selfie di depan bus bombom car. Tapi blur.

Setelah turun dari bus, kita berjalan kaki melewati terowongan menuju bendungan Kurobe yang dikelilingin gunung-gunung bersalju. Kurobe dam merupakan bendungan terbesar di Jepang. Saat musim panas, biasanya aliran air akan dibuka dan debura airnya akan menghasilkan pelangi. Tapi karena lagi musim semi dan masih bersalju, jadi kita ga bisa liat pelanginya.

Kurobe dam kaya di Swiss yaa.. (padahal belom pernah ke Swiss)

Selfie di Kurobe dam sambil bawa gembolan

Puas melihat bendungan dan gunung-gunung salju, waktunya naik ke gunung salju beneran. Kita ga perlu susah-susah mendaki gunung lewati lembah kok. Sudah ada kereta yang relnya miring untuk membawa kita ke puncak bukit bernama cable car. Saya pernah naik kereta sejenis di Penang, Malaysia. Karena cukup unik dan jarang dilihat, banyak turis yang mengabadikan gambar si kereta sebelum naik.

Perjalanan ke puncak belum berakhir dengan kereta rel miring. Masih ada ropeway alias kereta gantung yang bisa memuat puluhan manusia ke puncak gunung salju. Saat naik kereta miring maupun kereta gantung, para turis akan berebutan untuk duduk atau berdiri di dekat jendela. Termasuk saya. Hahahahaa.. Masa udah jauh-jauh ke Tateyama tapi ga bisa foto-foto karena salah posisi.

Kereta miring di Alpine Route

Ropeway Alpine Route

Pemandangan dari dalam ropeway

Selfie di dalam kereta gantung. Abaikan Silpano dan rambut njegrik saya.

Ini dia yang ditunggu-tunggu. Puncak Tateyama! Selain melihat gunung salju dari ketinggian, pengunjung juga bisa mainan salju di titik ini. Akhirnya saya bisa megang salju beneran! 

Ternyata salju itu dingin bro! (Menurut nganaaa). Kalau soal dingin sih mungkin ga jauh beda sama bunga es di kulkas. Tapi suhu udara yang sangat dingin di pegunungan membuat saya ga berani berlama-lama kalo megang salju. Sempat lah sok-sok an mau bikin boneka salju ala Olaf-nya Frozen. Tapi baru bikin bola salju kecil aja dinginnya udah kebangetan. 

Satu lagi yang wajib dilihat kalo udah di Tateyama. Jalanan dengan dinding salju! Selama bulan Mei-Juni, biasanya dinding salju alias snow wall bisa dilihat pengunjung. 

Salju pertama dalam hidup. Pake kacamata item karena pantulan cahaya matahari ke salju bikin silau.

Jalan di antara dinding salju

Area Tateyama tutup jam 5 sore. Bus untuk menuju kota Toyama biasanya juga berakhir sekitar pukul 5 sore. Walaupun menyengangkan, harus ingat waktu untuk pulang. Dari titik terkahir di Tateyama menuju kota Toyama, kita menggunakan kereta tua selama 1 jam-an. Karena udah capek dan batre habis, saya ga sempat foto-fotoin kereta tuanya. Yang pasti, sampai di stasiun Toyama tiket terusan akan dimita oleh petugas. Padahal tadinya tiket terusan itu bakal saya jadikan kenang-kenangan.

Pemandangan berupa salju dan pegunungan bersalju biasanya hanya bisa dilihat pada musim semi bulan Mei-Juni. Sementara pada musim panas maupun gugur, pemandangan bukan lagi berupa salju, melainkan pepohonan dengan warna daun menguning. Pada musim dingin, Tateyama-Kurobe Alpine Route tidak dibuka untuk umum.

Tiket terusan yang saya gunakan sebetulnya bisa dipakai untuk perjalanan Nagano-Toyama atau sebaliknya, Toyama-Nagano. Kita tinggal memilih mau menelusuri gunung Tateyama dari kota mana. Hanya saja, terusan hanya bisa digunakan one way, tidak bisa bolak balik. Menurut saya sih, kalau pengen melihat salju lebih menyenangkan dari Nagano menuju Toyama. Tensinya cenderung naik. Dari melihat Kurobe dam (yang setelah melihat puncak gunung salju ternyata ge terlalu istimewa), sampai melihat dinding salju dan bermain salju sepuasnya. Kalau dibalik melihat dan bermain salju dulu, baru melihat dam kayanya kurang asik. 

Karena baru pertama kali datang ke tempat sedingin itu, bibir saya sampai kering dan pecah-pecah. Untung di minimarket ada lipbalm khusus untuk mengobati bibir pecah-pecah. 

Perjalanan saya ke Jepang bisa dibilang dadakan dan menghabiskan dana lumayan banyak. Tapi kan uang bisa dicari. Pengalaman, kesempatan dan umur ga bisa diulang. 😃

Dorama Visa Jepang

Standar

Jelang tahun 2017 kemarin, biasanya orang-orang bikin resolusi. Saya sih nggak bikin resolusi kehidupan, malah bikin resolusi piknik 2017. Jadi, sebelum menginjak umur 30 di pertengahan 2017 (iye, gw udah mau 30!), tadinya saya pengen menuntaskan kunjungan ke negara-negara Asia Tenggara. Malaysia, Singapore, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Timor Leste (kalo masuk itungan Asia Tenggara yaa) udah berhasil saya kunjungi. Tinggal Myanmar, Laos, Brunei Darussalam dan Filipina. Tadinya pengen pake fasilitas AirAsia Asean Pass, tapi berhubung temen-temen sepermainan saya tak kunjung memberi tanggapan, jadinya batal deh.

Pertengahan Maret 2017, temen saya ngajakin ke Jepang. Rencana keliling Asia Tenggara akhirnya saya ubah ke Jepang. Secara nekat dan impulsif, pertengahan Maret saya beli tiket AirAsia ke Jepang seharga 4,6 juta untuk keberangkatan 30 April 2017. Padahaaalll.. waktu itu paspor saya udah masuk masa tenggang. Sementara, setelah beli tiket itu saya harus dinas ke luar kota sampe tanggal 11 April. Terus kapan aku ngurus paspornyaaa. 😱

Karena mau pergi ke Jepang, saya berencana bikin paspor elektronik biar bisa masuk Jepang tanpa bayar visa. Kebetulan saya dinasnya di Jawa Timur, jadi bisa sekalian ngurus paspor elektronik. Soalnya untuk bikin paspor elektronik, cuma bisa di kantor imigrasi kelas 1 di Jakarta, Surabaya san Batam. Tapi rencana tinggal rencana, karena selama di Jawa Timur, saya berada di Surabaya cuma 3 hari terakhir. Jadi ga sempat ngurus paspor juga.

Tanggal 12 April jam 7 pagi, saya langsung meluncur ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Saat itu sistem pelayanan pembuatan paspor secara online lagi bermasalah. Jadi mau tidak mau, saya harus datang langsung ke kantor Imigrasi. Untuk membuat paspor elektronik, konon butuh waktu 14 hari kerja. Sementara untuk paspor biasa, butuh waktu 5 hari kerja. HARI KERJA lho yaa.. jadi sabtu-minggu-hari libur ga diitung. Padahal, waktu itu lagi banyak-banyaknya tanggal merah. Tanpa adanya tanggal merah, paspor sata harusnya udah jadi tanggal 19 April. Tapi karena tanggal 14 Jumat Agung, 15-16 sabtu minggu dan tanggal 19 ada pilkada DKI, secara itungan kasar paspor saya baru jadi tanggal 21 April. Tapi saya nggak mau pasrah begitu saja. Selasa tanggal 18 April, saya coba-cona datang lagi dan ternyta paspor (biasa) saya udah jadi. 

Selanjutnyaaa tinggal ngurus visa. Berdasarkan informasi dari website kedutaan besar Jepang, ada beberapa dokumen yang harus saya siapkan. Tiket jelas sudah ada, tinggal diprint. Formulir biodata tinggal diisi, bisa diketik atau tulis tangan. Untuk itinerary, saya ngarang abis. Pokoknya selama seminggu di Jepang, saya bikin itinerary seolah-olah saya cuma keliling Tokyo. Padahal rencananya, saya bakal keliling Tokyo, Nagano dan Osaka. Kenapa saya ga jujur aja? Soalnya untuk keliling ke kota-kota tersebut butuh biaya gede. Nanti saya jelaskan lebih lanjut. Terus untuk bukti pemesanan hotel, saya pesan lewat booking.com yang bisa dicancel tanpa biaya.

Salah satu syarat untuk bikin paspor Jepang adalah rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Ini yang bikin saya deg-degan kalau permohonan visa saya ditolak. Jadiii.. sehari sebelum mengajukan visa, saya mau memindahkan tabungan saya ke rekening lain. Tapi kok ya ndilalah sistem atm nya lagi bermasalah. Jadi saya harus berdrama-drama buat memindahkan rekening tabungan. Nah yang bikin deg-deg an adalah, rekening koran saya perubahannya ekstrim. Kadang banyak banget, kadang nyaris nol. Saldo akhir pun ga seberapa banyak. Padahal menurut info-info yang saya baca, untuk mengajukan visa ke Jepang setidaknya butuh 1.5 juta dikalikan berapa lama di Jepang. Jadi karena saya bakal 8 hari di Jepang, setidaknya saldo mengendap di rekening saya senilai 12 juta rupiah. Entah info ini bener atau tidak, tapi buat jaga-jaga ya sebaiknya diikuti. Untuk tambahan dokumen, saya juga melampirkan paspor lama saya. Ga masuk dalam persyaratan sih, tapi ya biar mereka tau aja saya pernah ke mana.

Setelah semua dokumen siap, Kamis 20 April saya pergi ke kedutaan besar Jepang di Thamrin untuk mengajukan visa. Waktu itu lagi sepi banget, jadi saya cuma nunggu 2 nomor antrian sebelum giliran saya tiba. Karena semua dokumen sudah ada, saya tinggal menyerahkan saja ke loket pengajuan visa. Tadinya saya pikir, bakal diwawancara sama petugasnya. Padahal saya udah siapin jawaban-jawaban sewajarnya kalo ada wawancara. Ternyata dokumen aaya cuma diliat-liat, abis itu dikasih tanda terima untuk mengambil paspor plus visa. Untuk paspor biasa, butuh waktu 4 hari kerja, semetara paspor elektronik cuma butuh waktu 1 hari kerja. Ini tidak adil!

Rabu tanggal 26 April 2017, saya datang lagi untuk mengambil paspor. Loket pengambilan paspor dan visa baru buka pukul 13.30. Tapi pas saya nyampe jam 12, sudah ada belasan orang yang ngantri untuk masuk. Setelah loket buka, saya ambil nomor antrian dan menunggu sampai nomor saya dipanggil. Serahkan tanda terima di loket, bayar Rp 370.000 dan paspor saya sudah dikasih tempelan visa Jepang. Sungguh legaaaa.. 

Visa Jepang

Sungguh waktu yang sangat mepet. Visa baru kelar tanggal 26 April, sementara keberangkatan saya tanggal 30 April. Dan liburan ke Jepang merupakan kepergian saya ke luar negeri pake visa untuk pertama kalinya. Biasanya ke negara yang bebas visa atau pun visa on arrival seperti di Timor Leste.

Next, saya bakal cerita pengalaman hidup selama seminggu di Jepang. Semoga saya ga males! 😃

Dari Komik ke Meja Makan

Standar

Waktu kecil, saya suka banget baca komik. Saya ga punya genre khusus buat baca komik, jadi kalo ada komik nganggur ya pasti saya baca. Biasanya komik bacaan saya sih yang ada lucu-lucunya. Misalnya Crayon Shinchan, Doraemon, Dororonpa, Kobo Chan, Time Limit dan sebagainya. Ada juga komik yang agak-agak cabul kaya Nube Guru Ahli Roh. Komik yang ceritanya di negeri antah berantah kaya Dragon Ball atau Dragon Pigmario. Atau komik serius yang butuh mikir kaya Detektif Conan (dari saya kelas 5 SD sampai sekarang ga tamat-tamat), Detektif Kindaichi dan Q.E.D.

Dulu saya ga mampu beli komik. Minta orang tua juga ga tega, wong harga komik termasuk mahal. Mending buat makan. Saya biasanya minjem komik ke teman atau tetangga, tapi lebih sering nyewa. Dulu, di dekat rumah saya ada persewaan komik, namanya KK book rental. Filosofinya bagus lho, karena nama KK merupakan singkatan dari Kejujuran awal dari Kepercayaan. Namanya nyewa komik emang harus jujur. Dikembalikan dalam keadaan baik dan tepat waktu. 

Harha sewa komik di KK terbilang murah kalo dibandingin tempat persewaan lainnya. Di dekat rumah saya ada tempat persewaan komik lain, namanya Tintin. Biaya pendaftaran 1000 rupiah dan untuk sewa dikenai 350 rupiah per komik selama 2 hari (ini sekitar tahun 97-99 lah yaa). Nah di KK ga dipungut biaya pendaftaran. Harga sewa komik juga lebih murah daripada Tintin, tapi saya lupa sih berapaan hehee.. Apalagi sewa 5 komik bonus 1 komik. Menyenangkan!

Sebetulnya ga butuh waktu lama buat melahap 6 komik sampai habis. Kalo pas nganggur-nganggur, biasanya ga sampe sehari komik-komik sewaan udah selesai saya baca. Karena sering sewa komik yang lucu-lucu, saya sering ketawa sendiri. Apalagi kebiasaan baca komik masih lanjut terus sampai saya kuliah. Ibu saya dulu sering bilang, “wis gede ok wacanane koyo ngono.” (sudah besar kok bacaannya kaya gitu). Tapi sejak tinggal di Jakarta, saya udah ga pernah baca komik karena ga nemu tempat persewaan komik kaya di Jogja. Seringnya baca whatsapp. Padahal baca whatsapp juga sia-sia, wong WA dari saya ga dibales, cuma centang biru doang. Huft. Aku jadi sedih.

Komik-komik yang saya baca biasanya berasal dari Jepang. Kalaupun ada komik yang ga dari Jepang, palingan Paman Gober. Membaca komik cukup menambah pengetahuan yang saya tentang Jepang. Misalnya, ayah Nobita dan ayah Kobo Chan berangkat dan pulang kerja naik kereta. Dari situ saya tahu kalau kereta adalah moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat Jepang. Agak sulit saya bayangkan waktu kecil, karena di Jogja ga ada sistem transportasi kereta dalam kota. Dari komik Doraemon saya juga tahu kalau setiap tahun di Jepang ada festival Koinobori. Saya juga jadi tahu kalau ada festival musim panas, di mana warga Jepang menggunakan Yukata, sejenis kimono yang dipakai khusus untuk musim panas. Sementara saat musim semi, melihat bunga sakura jadi salah satu aktivitas wajib di Jepang. Budaya memberi kado pada saat Natal juga bisa saya ketahui dari komik. Padahal, mayoritas penduduk Jepang menganut keyakinan Shinto dan Buddha. 

Dari komik, sedikit-sedikit saya tahu beberapa makanan khas Jepang. Seperti dorayaki makanan kesukaan Doraemon. Dulu saya pikir, dorayaki adalah makanan yang tercipta dari khayalan Fujiko F Fujio. Ternyata, dorayaki memang makanan tradisional Jepang yang sudah ada sejak awal tahun 1900. Dorayaki yang dulu terasa jauh bagi saya, sekarang dengan mudah didapat. Tinggal mampir ke Indomaret, dorayaki seharga 4500 rupiah sudah bisa saya bawa pulang. Walaupun dorayaki yang aslinya berisi kacang merah, dimodofikasi dengan isi pasta coklat karena disesuaikan dengan lidah Indonesia.

Dorayaki produk Sari Roti

Nggak cuma dorayaki, makanan-makanan yang dulu cuma saya baca di komik, sekarang sudah bisa tersedia di meja makan. Dan ga perlu jauh-jauh ke Jepang, cukup datang ke restoran Jepang yang mudah ditemui di Jakarta. Misalnya, di komik Time Limit, tokoh Nina Onoda sangat menyukai takoyaki. Ada juga cerita tentang okonomiyaki yang ternyata mirip takoyaki, tapi berbeda bentuk. Takoyaki berbentuk bola-bola, sementara okonomiyaki berbetuk bulat pipih.

Nina Onoda makan okonomiyaki dan takoyaki

Okonomiyaki di salah satu resto Jepang di Jakarta

Di komik Doraemon, ada cerita saat mulut Giant bau bawang setelah makan gyoza. Saya lupa cerita tersebut ada di komik nomor berapa. Tapi saya ingat betul, di komik Doraemon versi Indonesia, ada keterangan kecil tentang gyoza. Kurang lebih keterangannya kaya gini: gyoza: sejenis siomay yang terbuat dari bawang putih. Waktu saya kecil, yang kebayang ya siomay ala mas-mas yang keliling kampung naik sepeda. Tapi sekarang, saya bisa ikut merasakan gyoza yang dimakan Giant.

Penampakan gyoza di meja makan

Saya tidak tahu apakah dulu pemerintah Jepang sengaja mengekspor komik-komiknya keluar negeri untuk memperkenalkan budaya negeri matahari terbit. Tapi yang jelas, Jepang berhasil menyebarkan informasi tentang kebiasaan, budaya dan makanannya. Menurut saya, dulu restoran khas Jepang ga mudah dicari. Apalagi di Jogja, tempat saya dibesarkan. Kalaupun ada, restoran Jepang biasanya mahal dan ga mungkin terjagkau di kantong saya. Waktu remaja dulu saya pernah sih makan di restoran Jepang, namanya Tenpura Hana. Restonya bagus dan kayanya mahal (soalnya saya cuma ditraktir, jadi gatau harganya hahaa..). Sekarang, restoran khas Jepang di Jogja banyak ditemui. Begitu juga di Jakarta, tempat tinggal saya sekarang. Di satu mall aja saya menemukan lebih dari 10 restoran khas Jepang dengan berbagai bentuk.

Beberapa restoran khas Jepang di Central Park Mall dan Neo Soho

Di komik-komik yang saya baca, makanan khas Jepang biasanya ditampilkan dalam bentuk sederhana. Misalnya warung ramen, kalau di komik bentuknya biasa aja, mungkin mirip warung mie ayam. Sementara di sini, restoran khas Jepang dibuka di pusat perbelanjaan dengan tampilan mewah. Kehebatan Jepang dalam memperkenalkan kebudayaannya patut diacungi jempol. Buat yang pengen merasakan kebudayaan Jepang yang biasanya cuma bisa dilihat di komik, bisa mendatangi restoran khas Jepang maupun festival-festival budaya yang sering diselenggarakan di Indonesia. Tapi buat yang merasa hal tersebut ga cukup, bisa datang ke Jepang untuk merasakan pengalaman langsung, ga cuma lewat komik. Otomatis, pendapatan Jepang dari pariwisata akan bertambah. Apalagi, sekarang bisa ke Jepang tanpa visa asalkan pakai paspor elektronik.

Saya sih baru sebatas baca komik, makan di restoran khas Jepang dan datang ke festival budaya Jepang. Waktu kuliah, saya pernah coba-coba daftar beasiswa Monbukagakusho untuk kuliah di Jepang. Tujuannya ya pengen belajar sekaligus melihat langsung kehidupan di Jepang. Tapi sayang. Gagal. (Ga tau diri sih, wong beasiswanya buat jurusan teknik). 

Andreas di acara Jak-Japan Matsuri

Tapi gapapa, suatu hari nanti pasti saya bisa liburan ke Jepang. Konon, bulan Maret-April adalah waktu terbaik buat yang pengen liat bunga sakura bermekaran. Buat yang sibuk, pemalas kaya saya atau ga mau ribet, tinggal klik Paket Tour Jepang. Bisa juga klik HAnavi untuk paket eksklusif.

Seperti kata Rangga di AADC 2, traveling itu tentang menambah pengalaman, bukan sekedar bersenang-senang. Kurang lebih sih gitu. 😅

HIS Travel Indonesia

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Kurang Piknik

Gambar

image

Setelah 2 tahun nggak nulis di blog. Akhirnya nulis lagi. Hahaa.. Bukan karena kurang piknik, justru karena kebanyakan piknik (baca: kerja sambil tamasya dikit). Alhamdulilah, karena kerjaan sebagai reporter, sepanjang 2015 bisa pergi ke mana-mana. Dibayarin pula. Kalau liat akun instagram saya, mungkin dikira saya traveller yang hobi keliling Indonesia. Hahaa..

Di sosial media kaya Path atau Instagram, banyak meme yang isinya tentang kurang piknik. Misalnya, kurang piknik menyebabkan nyinyir, suka mengeluh, suka begunjing dan bikin setres.

Kalau saya pergi keluar kota atau keluar negeri, sebagian besar karena penugasan kantor. Kalau pergi dengan kocek sendiri, mana mampu sebulan sekali saya beli tiket pesawat PP, sewa hotel, sewa mobil, jajan plus hura-hura. Namanya kerjaan, ya saya harus tanggung jawab dulu buat pekerjaan. Fokus untuk kelarin liputan seperti yang direncanakan. Sementara untuk piknik atau hura-hura ya kudu pinter atur waktu alias colongan.

Bisa pergi ke kota atau desa atau negara lain, memberi saya kesempatan untuk melihat kehidupan manusia lain. Bagaimana mereka hidup. Bagaimana mereka berinteraksi. Keyakinan apa yang membuat mereka bertahan hidup.

Saat melihat hidup manusia yang bahagia karena kesederhanaan atau karena harta, membuat saya belajar untuk mencapai kebahagiaan. Saat melihat hidup orang lain yang serba kekurangan, membuat saya bersyukur untuk hidup yang saya miliki.

Melihat dunia luar dan kehidupan manusia yang unik membuat saya lebih toleran. Orang yang tidak pernah atau jarang bepergian dan melihat hidup kelompok manusia lain, bisa jadi membuat pikirannya sempit dan sulit untuk toleran. Mungkin ini yang disebut kurang piknik menyebabkan nyinyir.

Di luar sana banyak kelompok manusia yang memiliki keyakinan yang tidak biasa. Salah satu desa di Madura masyarakatnya lebih nyaman tidur beralaskan pasir daripada tidur di kasur. Warga desa Komodo di Pulau Komodo percaya kalau binatang komodo adalah saudara mereka. Warga Sianjur Mula Mula di Sumatera Utara meyakini kalau semua suku Batak, bahkan semua orang yang memiliki marga berasal dari sana.

Salah atau benar, keyakinan itu yang dipercaya kelompok-kelompok manusia di luar sana. Buat manusia “normal”, tidur di pasir mungkin disebut “kafir”. Meyakini persaudaraan sama komodo mungkin disebut “dosa”. Mempercayai kalau semua orang yang memiliki marga berasal dari Sianjur Mula Mula bisa jadi disebut “naif”. Tapi itulah keunikan mereka. Kalau kita nggak mau percaya, ya nggak papa. Yang penting kita menghargai apa yang mereka yakini. Menghargai asal usul yang mereka percayai. Semakin banyak keunikan yang kita lihat, makin tinggi level toleransi kita.

Buat orang-orang yang hobi “mengkafirkan” orang lain, bisa jadi mereka kurang piknik. Kurang melihat kehidupan lain di luar kotak kehidupannya.

Mungkin saya sok menggurui. Tapi ini yang saya yakini: rajin piknik membuat pikiran segar dan makin toleran. Next time saya tulis pengalaman waktu keluar kota. Kalo sempat dan niat. Hehee..

Beautifully Lombok

Standar

Perjalanan saya ke lombok diawali dengan drama yang memilukan. Jadi begini ceritanya.. Pagi-pagi buta jam 3 saya sudah berangkat dari kantor menuju bandara, dengan estimasi sampai bandara sebelum jam 4 dan langsung cek in untuk penerbangan jam 5 pagi. Sampai di loket cek in, terjadilah pembicaraan antara saya dan mbak-mbak counter yang menggoncangakan jiwa.

Saya: mbak, mau cek in..
Mbak-mbak: wah ini penerbangannya mundur, jauh banget lho.. Penerbangan yang ini dibatalkan.
Saya: hah, mundur jadi jam berapa mbak?
Mbak-mbak: jadi jam 10.30. Kita udah sms dan email ke penumpang kok.. Gak terima?
Saya: hah nggak tuh mbak.. Sms ke no mana?
Mbak-mbak: 08190819xxxx
Saya: wah itu nomor GS atau UPM kayanya. Ga diinfoin ke saya.. *cek in dengan langkah lunglai*

Jadilah saya dan kameramen menunggu dari jam 4 pagi sampai jam 10 untuk boarding. Enam jam di bandara itu zonk banget! Mana malamnya sengaja nggak tidur karena takut nggak bisa bangun, eh ternyata di bandara malah harus nunggu 6 jam. Segala posisi udah dicobain biar bisa tidur. Tinggal kayang aja yang belom. Mungkin ini bisa jadi pelajaran, lain kali jangan ambil penerbangan subuh-subuh. Kasian pilotnya.

Di Lombok, saya menginap di Hotel Jayakarta yang letaknya di jalan raya Senggigi. Kalau dari Mataram, bisa ditempuh dalam waktu 20-30 menit lah.. Sebelumnya saya memang sudah browsing tentang hotel Jayakarta. Dari websitenya, saya tau kalau di belakang hotel berbatasan langsung dengan pantai. Jadilah saya pilih hotel ini, siapa tau kalau galau malam-malam bisa jalan-jalan di pantai. Selain itu saya juga sengaja bawa sepatu olahraga, rencananya untuk jogging sambil menyusuri pantai di pagi hari.

Tapi rencana ya tinggal rencana. Bangun pagi malesnya minta ampun. Kalau nggak dijemput supir untuk liputan, pasti juga masih betah di kasur. Pengen jalan sambil gegalauan di pantai pas malam pun gagal gimbal. Karena cuaca sedang jelek, mendung menutupi bintang-bintang yang semestinya kelihatan. Ombaknya tinggi dan anginnya kenceng banget. Ntar yang ada bukan ngobatin galau, tapi malah masuk angin.

Saya tidak tahu pasti tarif hotel Jayakarta Lombok, karena sudah diurus dari kantor. Ruangan kamar sih bagus, dengan lantai kayu dan ada tempat lesehan buat ngopi-ngopi. Ada balkon juga yang kalau spotnya bagus bisa ke laut atau kolam renang. Tapi yang bikin ilfil, tahun 2014 TV kamar hotel masih TV tabung, dengan layar cembung pula. Tapi ya sudahlah daripada ndak ada hiburan di kamar.

Di Lombok, saya berkeliling dari kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat dan Lombok Utara. Yang membuat saya kagum, jalan aspal yang saya lewati semua dalam kondisi baik dan mulus. Aspal berlubang sangat jarang saya temui. Menurut saya sih, infrastuktur yang baik bisa menjadi wajah yang baik bagi tempat wisata, apalagi banyak wisatawan asing yang datang ke Lombok.

Desa Sade, Penuh Tradisi
Di Pulau Lombok, saya berkunjung ke Desa Sade, perkampungan suku Sasak di Lombok Tengah. Awalnya saya pikir Sade itu bacanya dengan ‘e’ dari ‘setan’. Ternyata bacanya dengan ‘e’ dari ‘elang’. Sade. Desa Sade memang desa wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Sebelum ke desa Sade bisa saja sih browsing dulu supaya tau sejarah dan tradisi di sana. Tapi sepertinya akan lebih baik kalau menggunakan jasa guide. Pemandu wisata bisa menjelaskan dengan rinci tentang desa Sade.

image

Semua rumah di desa Sade bentuknya sama. Dinding terbuat dari bilik bambu (gedhek dalam bahasa Jawa) dengan atap dari ilalang. Pintu masuk rumahnya sengaja dibuat pendek, dengan filosofi tamu yang masuk ke dalam rumah otomatis memberi penghormatan pada pemilik rumah.

image

Selain bagian luar, bagian dalam semua rumah pun sama persis. Begitu masuk rumah, kita akan masuk ke ruang tamu sekaligus ruang tidur orang tua dan anak lelaki. Lantainya lebih tinggi sekitar 50cm dari pintu rumah. Di dalam ruang tamu, kita akan melihat 3 undak-undakan untuk menuju ruangan yang lebih dalam. Undak-undakan ini konon melambangkan pijakan masyarakat desa Sade. Tingkatan paling atas melambangkan animisme yang dulu menjadi pijakan suku Sasak. Tingkatan kedua melambangkan Hindu, agama yang dulu pernah menjadi mayoritas. Undakan paling bawah melambangkan Islam, yang menjadi keyakinan semua warga desa Sade.

image

Undak-undakan tersebut akan membawa kita ke ruangan bagian dalam rumah. Ruangan itu adalah ruang bersalin, ruang tidur anak gadis sekaligus dapur. Keluarga yang memiliki anak gadis akan menempatkan anaknya di ruang bagian dalanm untuk menghindari penculikan. Penculikan memang menjadi tradisi warga desa Sasak saat seorang lelaki menginginkan seorang gadis menjadi istrinya. Usia pernikahan di desa Sade pun terbilang cukup belia. Lelaki dan gadis di sana sudah terbiasa menikah di usia 12 tahun. Makanya orang-orang di desa lumayan kaget pas tahu saya masih single di usia 26. Iya saya masih single. Iya umur saya 26. Ini jujur kok.

Masih tentang rumah adat desa Sade. Jika beruntung, kita bisa melihat proses belulut, yaitu mengepel lantai rumah menggunakan kotoran kerbau. Lantai rumah terbuat dari tanah liat yang dicampur sekam padi. Mengepel rumah dengan kotoran kerbau 3 kali seminggu diakui warga bisa membantu menghaluskan lantai, membersihkan debu hingga menambal lubang-lubang di lantai.

Pada hari-hari istimewa seperti ada perningatan, syukuran atau hendak berziarah, warga desa wajib mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Sementara jika tidak ada acara khusus, warga masih diperbolehkan menggunakan kotoran sapi untuk mengepel. Meskipun sebetulnya tidak higienis, warga tetap meneruskan tradisi ini dengan keyakinan kotoran kerbau justru mampu menyucikan rumah dan menolak bala.

Wanita di desa Sade juga mempunyai kebiasaan unik untuk memelihara rambutnya. Mereka tidak membersihkan rambut dengan shampo, tapi dengan santan setiap 3-4 hari sekali. Supaya tetap harum mewangi sepanjang hari, rambut pun diberi lilitan daun pandan yang diuntai dengan bunga-bungaan. Dan memang harum daun pandan selalu menyeruak setiap mereka lewat.

image

Wanita desa Sade tidak boleh menikah sebelum bisa menenun kain. Kain hasil tenunan wanita Sade pun menjadi oleh-oleh khas perkampungan ini. Saya beruntung sempat melihat seorang wanita yang sedang memutar alat pemintal benang tradisional dengan tangan rentanya. Beliau langsung membuat benang dari kapas yang didapat dari tanamannya langsung.

image

Benang-benang putih hasil pintalan biasanya akan diwarnai dengan bahan-bahan alami. Benang yang sudah berwarna baru bisa diproses lagi dengan ditenun menjadi berbagai macam kain seperti songket, sarung, syal hingga selimut. Untuk membuat kain berukuran 0,5 x 1,5 meter dibutuhkan waktu selama 5 hari. Tak heran jika harga yang ditawarkan agak mahal. Tapi jangan segan-segan menawar untuk mendapat harga murah.

Gili Trawangan, Hura-hura Sepanjang Hari
Gili Trawangan adalah tempat yang wajib dikunjungi jika berlibur ke Lombok. Untuk menyeberang ke Gili Trawangan, saya menggunakan speed boat dari teluk Nare. Di teluk Nara (baca: Nare) hanya ada kapal pribadi, jadi harganya cukup tinggi. Kalau ingin yang lebih ekonomis bisa menggunakan kapal umum melalui teluk Bangsal dengan harga 10-15ribu. Tapi karena murah, penumpang dalam 1 kapal bisa mencapai puluhan dengan barang bawaan seabreg-abreg. Karena membutuhkan tumpangan yang cepat dan aman, saya menggunakan speed boat. Kalau untuk liburan sendiri sih jelas saya pilih yang ekonomis. Hihihi..

image

Saat menyeberang, cuaca sedang cerah. Namun tetap saja gelombang laut agak tinggi sehingga membuat perjalanan kapal tersentak-sentak. Agak mirip dengan perjalanan saya dari Pulau Bali menuju Nusa Lembongan yang pernah saya tulis di sini. Perjalanan yang tidak terlalu mulus membuat saya agak mabuk laut. Sampai di Gili Trawangan saya langsung keringat dingin. Antara laper dan mabok. Jadi jangan sampai menyeberang lewat laut dengan kondisi perut kosong.

image

image

Sampai di Gili Trawangan, saya langsung disuguhi hamparan pasir putih, lautan biru dan wisatawan asing yang berlalu lalang. Gili Trawangan memang dirancang tanpa polusi kendaraan bermotor. Di Gili Trawangan, kita bisa menggunakan cidomo (sejenis delman) atau sepeda. Tarif cidomo agak mahal, 125 ribu rupiah untuk berkeliling pulau dengan kapasitas maksimal 3 penumpang. Tapi untuk ke hotel-hotel tertentu, sudah ada tarif masing-masing yang diatur. Kalau mau ekonomis, kita juga bisa menyewa sepeda dengan tarif murah: 15 ribu per jam atau 50rb seharian. Kalau mau lebih irit lagi, jalan kaki juga oke.

Banyak hotel bertebaran di Gili Trawangan. Salah satu yang saya dapat informasinya adalah Hotel Exquisit dengan tarif 1,25 juta per malam yang lokasinya di jalan utama. Tapi hotel-hotel bertarif murah juga banyak kok, seharga 200 ribuan per malam juga ada. Tapi lokasinya ya agak masuk ke dalam.

Sepanjang pantai di Gili Trawangan, banyak wisatawan asing yang berjemur. Benar-benar kaya di tipi-tipi deh, bule-bule gelar tiker, pake sunblock, tengkurep di tiker sambil baca buku atau main gadget. Banyak juga sepasang wisatawan yang cipok-cipokan atau peluk-pelukan di pantai. Bikin sirik aja.

Kalau gak bawa tiker, wisatawan juga tetap bisa kok santai-santai di pantai. Di sepanjang pantai banyak kafe-kafe dan bar yang menyediakan fasilitas bale-bale atau bantal. Segala fasilitas tersedia untuk memanjakan para wisatawan. Soal kebersihan pun jangan kuatir. Selain bebas polusi asap kendaraan, di pantai juga gak ada sampah karena sudah tersedia tempat sampah setiap 100 meter.

Siang hari, wisatawan bisa santai-santai di pantai atau jalan-jalan di sekitar pantai. Kalau malam, wisata yang ditawarkan pun beda lagi.  Wisatawan biasa nongkrong di bar-bar. Kehidupan di Gili Trawangan seolah tak pernah berhenti berdetak, gak seperti 2 pulau lainnya, Gili Meno dan Gili Air yang letaknya bersebelahan.

Bagi yang suka snorkeling pun, banyak kios-kios yanh menawarkan jasa tur snorkeling ke 3 Gili. Tarifnya pun gak mahal, mulai dari 100ribuan per orang. Persewaan masker dan pin juga bertebaran. Kalau pun tidak ingin snorkeling ke 3 Gili, bisa juga snorkeling di sekitar pantai atau dermaga. Sayangnya waktu saya snorkeling di sekitar dermaga, cuaca sedang mendung sehingga tidak ada cahaya matahari yang bisa membuat warna terumbu karang semakin cerah.

Di Gili Trawangan saya mengalami kejadian unik. Saat berjalan menyusuri jalan utama, tiba-tiba ada seorang wanita memanggil saya. Tadinya saya gak sadar kalau saya yang dipanggil, sampai rekan saya mencolek bahu saya. Saya pun langsung melihat sesosok wanita yang memanggil saya sambil memicingkan mata, mencoba mengingat siapakah wanita ini?

image

Begitu wanita ini menyebut namanya “Sekar”, saya langsung melongo sambil berteriak “astagaaaa!!”

Jadi Sekar ini adalah teman SD saya di Jogja. Waktu kelas 4, kami duduk sebangku sehingga lumayan akrab. Yah sering berantem juga sih, sampai kami sering “dipacok-pacokke” kalo lagi berantem karena dianggap sebagai suatu bentuk kemesraan. *anak SD kebanyakan nonton sinetron*

Nah di kelas 4 SD itulah kisah pertemanan kami berakhir karena Sekar harus pindah ke Jepang. Waktu itu sekitar tahun 1996 atau 1997 dan menjadi saat terakhir saya bertemu Sekar. Saat SMP, saya dengar Sekar pindah ke Malaysia. Saya masih lost contact sama Sekar sampai akhirnya tahun 2010 kami follow-followan di twitter, tukeran pin BB, sampe tukeran nomor ponsel. Yah kontak-kontakan sih jarang, paling cuma lewat twitter doang. Bisa dibilang kami sudah gak ketemu selama 16 tahun dan pasti banyak yang berubah. Makanya saya kaget mampus waktu Sekar mengenali saya di Gili Trawangan. What a coincindence!

Karena di Gili Trawangan saya bekerja, tidak banyak yang bisa kami bicarakan. Selain itu, saya juga tak bisa banyak bersantai. Padahal kepingin juga duduk-duduk di pinggir pantai sambil lihatin bule-bule khilaf atau main-main di bibir pantai. Makanya saya bertekad, saya harus pergi ke Gili Trawangan lagi. Bukan untuk bekerja, tapi murni berlibur. *cari tiket murah* *murahan* 🙂

Partikel, Malibu Country dan Iman

Standar

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca novel karya Dewi Lestari yang merupakan seri keempat dari serial Supernova, yaitu Partikel. Cukup lama sih saya tidak membaca karya sastra yang lumayan serius. Buku-buku terakhir yang saya baca adalah bacaan ringan jenaka ala-ala Raditya Dika yang isinya seperti buku harian.

Novel dan cerpen karya Dewi Lestari lainnya sellau sanggup menghipnotis saya untuk terpaku pada bacaan dan melupakan hal lainnya. Seperti novel Perahu Kertas yang meskipun covernya lucu, tetapi isinya sanggup mengaduk-aduk emosi yang bahkan tidak saya alami saat menonton filmnya.

Novel Partikel bercerita tentang Zarah, seorang gadis yang tidak pernah mengenyam pendidikan SD dan SMP tapi langsung duduk di bangku SMA pada usia 14 tahun. Kecerdasannya merupakan tempaat ayahnya, seorang dosen IPB yang lebih percaya sistem pendidikannya sendiri daripada pembelajaran di sekolah. Karena pengajaran dan kedekatannya dengan sang ayah lah, Zarah rela berkeliling dunia untuk mencari keberadaan ayahnya yang suatu hari menghilang secara tiba-tiba.

Membaca novel Partikel butuh kesiapan mental dan iman yang kuat. Jika tidak, kemampuan berbahasa Dewi Lestari yang menggunakan sudut pandang orang pertama pada karyanya ini bisa menggoyahkan iman.

Novel Partikel menunjukkan jika Dewi Lestari melakukan riset mendalam. Di Partikel kita akan banyak bertemu logika tentang penciptaan bumi, evolusi, alien dan bagaimana alam semesta merupakan jawaban bagi setiap permasalahan kita.

Jika iman tentang keberadaan Tuhan tidak kuat, bisa dipastikan seseorang akan dengan mudahnya memilih jalan untuk tidak percaya kepada Tuhan lagi. Novel ini bagus kok untuk menambah pengetahuan. Jadi bukan novelnya yang harus dihindari atau dimusnahkan, tetapi pertahanan iman kita yang harus kuat sebelum membaca.

Cerita tentang ketidakpercayaan seseorang kepada Tuhan juga baru saja saya saksikan di sitkom Malibu Country semalam. Saya sih baru belakangan ini menyadari kalau Malibu Country ternyata lucu dan bisa dijadikan pembelajaran bagi para orang tua.

Pada episode yang saya tonton, dikisahkan keluarga Reba, ibu paruh baya yang memiliki dua anak remaja, sedang merayakan Natal. Saat sedang beribadah di Gereja, anak perempuan Reba, June, tidak antusias dalam mengikuti ibadah. June mengaku pada kakak laki-lakinya, Cash, bahwa dirinya tidak mempercayai keberadaan Tuhan karena tidak ada bukti keberadaanNya.

June tidak ingin ibunya mengetahui hal ini. Hingga akhirnya June tidak mau lagi ke Gereja dan Cash memberitahu kondisi yang sebetulnya kepada sang ibu. Di sinilah saya melihat jika Reba, sang ibu bersikap demokratis dan menghormati pilihan putrinya.

Pada novel Partikel, Zarah yang tidak percaya Tuhan dimusuhi dan dipaksa melakukan ritual-ritual agama oleh keluarganya. Sebaliknya, pada sitkom Malibu Country, Reba justru memberi pengertian pada putrinya tentang iman dan tidak memaksakannya.

Reba: kenapa kamu tidak percaya Tuhan? Ada kejadian kah yang membuatmu begitu?
June: tidak ada kejadian, hanya saja aku tidak melihat Tuhan itu ada. Saat perceraian ayah dan ibu, aku berdoa setiap hari dan beriman jika keadaan akan membaik. Tapi nyatanya tidak. Entah karena Tuhan tidak mendengar atau Dia memang tidak ada.
Reba: iman tidak membuat hal buruk tidak terjadi pada kita. Tapi iman memberi kita kemampuan untuk melalui hal buruk.

Kata-kata terakhir Reba itulah yang akhirnya menyadarkan June dan akhirnya ia mau pergi ke Gereja. Tanpa dipaksa. Tanpa dimusuhi.

Dan kebetulan sekali, tema di Gereja JPCC bulan ini adalah iman. Beriman atau tidak beriman adalah soal pribadi dan tidak bisa dipaksa. Cukup memberi contoh berupa perilaku sehari-hari kepada orang lain, bahwa iman sanggup membawa kita pada hidup yang lebih baik. Jadi daripada memusuhi keyakinan lain, lebih baik menguatkan iman sendiri.

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Lukas 17:6).

Sakit Gigi Atau Sakit Hati?

Standar

Sekitar 2 minggu yang lalu, tepatnya hari Minggu pagi yang ceria, tiba-tiba gigi saya ngilu. Saya pun langsung berasumsi kalau sakit ini gara-gara gigi geraham bungsu yang tumbuh karena sebelumnya juga pernah beberapa kali sakit yang sama di bagian gigi kanan bawah paling ujung.

Keesokan harinya, sakit gigi saya tambah parah. Apalagi waktu itu lagi liputan di Bandung, jadi ga bisa menikmati makanan-makanan enak deh di Bandung.

Berkali-kali saya mengeluh sakit gigi gara-gara gigi tumbuh. Tapi rekan kamerawati saya bilang dia juga lagi tumbuh gigi tapi ga sakit. Malah horor saja saya dengernya, soalnya selama ini saya pikit wajar kalo tumbuh gigi geraham bungsu tuh sakit.

Biasanya kalo sakit gigi gara-gara tumbuh, paling 2 hari doang. Nah ini sampai hari ketiga kok ga sembuh-sembuh dan malah tambah parah. Saya nggak bisa mangap lebih lebar dari 1 jari. Jadi untuk makan menderitanya setengah mati dan saya cuma makan oatmeal untuk beberapa hari.

Karena sakit giginya luar biasa, saya berasumsi sendiri kalo saya kena radang gusi. Langsung browsing dan ternyata radang gusi tuh gara-gara nggak rajin bersihin gigi. Padahal saya rajin sikat gigi, tapi kenapa saya sakit yak..

Buat mengatasi sakit yang saya kira radang gusi, saya cuma minum painkiller dan berkumur pake mouthwash. Agak lumayan berkurang sih.. Apalagi saya sempat mewawancarai dokter herbal yang ternyata bisa akupuntur juga. Saya pun ditawari diakupuntua biar sakit giginya berkurang.

Mejik! Ditusuk jarum akupuntur selama kurang lebih 20 menit, sakit gigi saya berkurang jauh. Bahkan yang tadinya kalo buat nelen sakit, jadi nggak sakit sama sekali.

image

ditusuk-tusuk jarum

image

Sayangnya pengurangan sakit gigi ga berlangsung permanen. Pas buat makan, giginya sakit lagi. Akhirnya saya pun memutuskan untuk ke dokter gigi untuk pertama kalinya dalam hidup.

Cari dokter gigi yang saya pikir gampang ternyata tidak. Pertama saya coba mengunjungi klinik gigi di daerag Kemang dengan maksus biar nggak jauh dari kosan. Eh ternyata dokternya penuh sampe dua hari ke depan. Betek banget deh.

Besoknya saya coba telpon ke rumah sakit di Duren Tiga, denan maksud biar ga jauh dari kantor. Eh ternyata saya telpon nggak ada yang jawab. Yasudah sorenya habia kerja saya datang langsung ke RS dan ternyata poliklinik gigi udah tutup dan baru buka 2 hari lagi. Betek lagi.

Dari RS saya coba keliling-keliling dan nemu Klinik Gigi Royal Dent di Duren Tiga juga. Untungnya klinik lagi sepi dan saya bisa langsung diperiksa tanpa tetek bengek.

Pas diperiksa, dokter giginya langsung tau apa masalahnya. Ternyata bukan radang gigi gara-gara saya nggak sikat gigi. Tapi karena geraham bungsu saya tumbuh miring dan mendesak gigi dan gusi lainnya. Itulah yang bikin sakit nggak ketulungan.

Biar nggak sakit-sakit lagi, saya harus menjalani operasi buat mencabut gigi bungsu. Agak horor juga denger kata “operasi”. Saya langsung teringat operasi usus buntu akhir 2012 kemaren.

image

kursi pesakitan

Setelah seminggu saya minum obat untuk mengurangi bengkaknya, saya pun menjalani operasi tanggal 31 Mei 2013. Saya jadi tau perasaan orang-orang yang nggak mau dicabut giginya kalo sakitnya udah sembuh.

Tapi karena saya nggak mau sakit gigi lagi dan udah ijin bos, mau nggak mau saya harus operasi.

Operasi dimulai dengan suntik bius lokal. Sumpah saya takut banget sama yang namanya disuntik. Apalagi yabg disuntik gusinya. Bayangin aja udah serem! Entah berapa titik yang dikasih bius, saya udah nggak peduli.

Setelah dibius, gigi saya mulai “digarap”. Nggak tau diapain aja. Pokoknya alat-alat kedokteran yang mengeluarkan bunyi-bunyi aneh bikin tambah horor. Di tengah operasi, saya masih merasakan ngilu pada saat giginya mau dicabut. Suntik bius lokal pun ditambahkan lagi biar saya merasa kebas.

Suasana operasi gigi bener-bener kaya perang. Kata dokter, gigi saya susah banget dicabutnya. Sekitar 45 menit saya harus mangap sambil isi mulut diotak-atik. Pegel mak!

Setelah gigi tercabut, baru diketahui kalo akar gigi saya agak miring, jadi susah dicabutnya. Pokoknya sumber sakit udah diangkat dan saya tinggal recovery aja. Pas biusnya abis, sakitnya luar biasa mak!

Saya nggak mau sakit gigi lagi, karena sakit gigi sama kaya sakit hati. Sama-sama nggak enak makan, nggak enak tidur. Bawaannya pengen nangis muluk. 😥

Kata lagu dangdut, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Menurut saya sih podo wae!

image

di klinik gigi, telponnya pun bentuknya gigi