Monthly Archives: Mei 2014

I hate(d) English!

Standar

Namanya bu Iis. Sampai sekarang saya juga tidak tahu nama panjangnya. Untuk ukuran guru SD swasta di Yogyakarta, bu Iis termasuk guru yang menarik. Cantik, tinggi semampai dan suka memakai rok pendek. Bu Iis adalah guru bahasa Inggris yang mengajar di kelas saya selama 3 tahun, mulai dari kelas 4 sampai 6 SD.

 

Saya pikir sih saya termasuk beruntung, karena punya kesempatan belajar bahasa Inggris dari kelas 4 SD, sementara kakak tertua saya baru mulai belajar bahasa Inggris di kelas 1 SMP.  Tahun pertama belajar bahasa Inggris, saya cuma belajar yang paling bahasa Inggris yang paling simple.

 

“My name is Andre. I live in Yogyakarta.”

“This is a cat. This is a dog. This is a flower.”

“You are beautiful. She is a teacher.”

 

Yah kurang lebih begitu lah yang saya pelajari di kelas 4 SD. Dua tahun berikutnya, bahasa Inggris yang dipelajari mulai bikin kepala pusing. Bu Iis sudah mengajarkan tenses pada murid-muridnya. Sampai sekarang aja saya masih pusing sama tenses, gimana pas SD dulu? Apalagi, di rumah juga tidak ada yang bisa saya tanyai tentang bahasa Inggris.

 

Saya sekolah di SD Tarakanita Yogyakarta yang mayoritas muridnya berasal dari kaum berada. Saya sekolah di situ bukan karena orang kaya, tapi karena sekolah itu dekat dengan tempat tinggal saya. Tinggal ngesot lah kalo kata orang jaman sekarang. Saat teman-teman saya kesulitan dalam belajar bahasa Inggris di sekolah, mereka bisa bertanya pada guru les panggilan atau guru les di ELTI (dulu di Jogja, ELTI termasuk ngehits). Nah saya Cuma bisa mengandalkan pelajaran di sekolah saja. Soal vocabulary, saya hanya mengandalkan sebuah kamus buluk pemberian tante.

 

Saya ingat, dulu pernah mendapat PR untuk menerjemahkan sebuah artikel berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. ZONK banget! Saya panas dingin memikirkan bagaimana mengerjakan PR itu. Berdalih meminjam catatan teman, saya akhirnya mencontek terjemahannya. Waktu SD dulu, mencontek adalah perbuatan yang sangat sangat sangat hina. Tapi ya mau gimana lagi, daripada saya dapat nilai nol besar?

 

Lulus dari SD berkualitas bagus dengan peraturan ketat, saya melanjutkan sekolah di SLTP Negeri 7 Yogyakarta. Termasuk sekolah negeri berkualitas menengah lah. Di sekolah ini, saya mendapat pelajaran bahasa Inggris dari dasar lagi. Seperti mengulang pelajaran yang sudah saya terima di SD. Makanya waktu ulangan, saya sering dapat nilai bagus. Bahkan ulangan bahasa Inggris pertama di kelas 1, saya mendapat nilai 10. teman-teman saya banyak yang berdecak kagum. Kalau jaman itu sudah segaul sekarang, mungkin saya bakal bilang: “Yaelah biasa aja keleus!”

 

Guru bahasa Inggris waktu SLTP tidak semenyenangkan dan sepintar guru waktu SD. Bahkan guru waktu kelas 1 terkenal mesum. Tapi entah kenapa saya tidak pernah dimesumi (yakali!). Mungkin inilah yang membuat saya tidak lagi suka dengan bahasa Inggris, berbeda dengan semangat belajar sewaktu SD.

 

Di bangku SLTP, mata pelajaran yang diterima sudah lebih kompleks daripada di SD. Mata pelajaran IPA sudah terfokus menjadi fisika dan biologi. Mata pelajaran IPS terbagi menjadi sejarah, ekonomi dan geografi. Mata pelajaran lain menyita fokus yang lebih banyak, sehingga bahasa Inggris bukan menjadi prioritas saya. Pelajaran bahasa Inggris yang saya terima pun hanya begitu-begitu saja. Ilmu bahasa Inggris yang saya terima seolah tidak berkembang. Bukan salah gurunya memang, tapi pada akhirnya saya memilih untuk antipati pada pelajaran bahasa Inggris.

 

Di bangku SMA, pelajaran bahasa Inggris yang saya terima sudah lebih rumit. Selain tenses yang bikin pusing, masih ada gerund, kalimat aktif-pasif, conditional sentences dan materi lainnya yang tak kalah ruwet. Ditambah lagi, guru bahasa Inggris sewaktu SMA terkenal galak tanpa alasan. Entah karena saya yang sudah antipati duluan, otak saya yang terbatas atau cara mengajar yang tidak menyenangkaan, saya semakin antipati bahkan takut saat pelajaran bahasa Inggris.

 

Ketakutan tidak hanya terjadi pada saat pelajaran bahasa Inggris, tetapi juga pada saat ulangan atau ujian. Karena saya blank sama sekali dengan bahasa Inggris, saya sering mengarang indah saat ujian. Untungnya jaman SMA dulu sudah tidak ada soal essay. Cuma ada pilihan ganda. Jadi kesempatan mengarang lebih besar, pokoknya asal enak didengar. Misalnya ada soal yang pilihannya “is trying”, “has been trying”, “tried” dan “try”, saya akan memilih jawaban yang kedengarannya pantas. Padahal ya tidak menjamin jawabannya bener.

 

Bahasa Inggris semakin horor saat memasuki Ujian Nasional. Saat itu, mata pelajaran yang diujikan adalah matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tahun 2005, nilai minimum untuk bisa lulus adalah 4,25. Walaupun saya tidak bodoh-bodoh amat, nilai minimumitu sudah cukup bikin keder. Apalagi saya juga tidak mengikuti program-program bimbel seperti teman-teman kebanyakan, lagi-lagi karena tidak ada biaya. Untungnya, dengan jurus mengarang indah, saya berhasil lulus walaupun nilai bahasa Inggrisnya hanya sekitar 6.

 

Pentingnya bahasa Inggris justru saya sadari ketika di bangku kuliah. Dosen bahasa Inggris saya di kampus sebetulnya termasuk galak dan tegas. Namanya miss Siwi. Berbading terbalik dengan bu Iis yang cantik dan seksi, miss Siwi berpenampilan unik ala wanita kantoran salah umur. Di usianya yang STW alias setengah tua, miss siwi berpenampilan rambut potongan pendek, bedak putih tebal dan gincu merah merona.

 

Meskipun penampilannya unik, justru miss Siwi lah yang menyadarkan saya pentingnya bahasa Inggris. Pada pertemuan pertama, beliau menanyakan pada seluruh mahasiswa di kelas: “Apa tujuan kalian belajar bahasa Inggris?” Hingga saat itu, saya tidak pernah memikirkan untuk apa saya belajar bahasa Inggris. Selama ini saya hanya belajar supaya tidak gagal ujian. Itu saja. Tidak lebih. Miss Siwi lah yang menyadarkan saya bahwa belajar bahasa Inggris bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri kita sendiri. Untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sejak saat itulah, saya mulai lumayan serius belajar bahasa Inggris. Saya mulai belajar memperkaya kosa kata, mempelajari susunan kata dan menonton serial atau film sambil mendengarkan dialog secara seksama, tak sekedar membaca subtitle seperti yang sering saya lakukan sebelumnya.

 

Sampai saat ini pun, saya masih terus belajar dengan metode tersebut. Saya sering mengunduh serial TV Amerika untuk belajar bahasa Inggris. Karena hasil unduhan, serial TV yang saya tonton tidak ada subtitlenya. Namun justru dari situlah saya bisa melatih kemampuan listening dan saya semakin percaya diri dalam memahami dialog.

 

Walaupun memahami dialog, saya kurang percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Paling saya hanya menyelipkan sedikit bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Campur-campur ala Cinta Laura gitu lah. Pekerjaan saya sebagai reporter kadang mengharuskan saya untuk berkomunikasi secara aktif dengan bahasa Inggris. Namun selama bekerja, saya masih jarang menggunakan bahasa Inggris secara aktif dengan native speaker. Saya beberapa kali mewawancari orang-orang asing yang bukan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu.

 

Saya pernah sih ditugaskan ke luar negeri, yaitu di Thailand. Di sana pun, orang-orang tidak menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Kalau pun ada, bahasa yang digunakan ala kadarnya, sama seperti yang saya lakukan. Yang penting sama-sama tahu. Makanya, saya sangat ingin pergi ke negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu seperti Inggris, Amerika Serikat atau Australia.

 

Nah karena Mister Potato mau mengajak ke Inggris, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Memenangkan hadiah utama ke London bukan sekedar keinginan atau impian saja, tetapi kebutuhan. Saya butuh untuk mencoba menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Di London, mau tidak mau saya harus berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Yang lebih menantang, bahasa Inggris yang digunakan dikenal memiliki logat yang sulit dipahami, berbeda dengan Amerika atau Australia.

 

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk aktualisasi diri. Pergi ke London adalah salah satu pemenuhan aktualisasi diri bagi saya. Untuk membuktikan bahwa sekalipun saya masih pas-pasan dalam berbahasa Inggris, saya bisa pergi ke sana. Saya mampu berkomunikasi dengan keterbatasan yang saya miliki. Seperti yang pernah ditulis Windy Ariestanty di blog dengan judul Mencari Sebuah Handuk, bahasa hanyalah alat pendukung dalam berkomunikasi. Tapi bukan berarti, tidak penting untuk belajar dan mempraktekkan bahasa untuk memperlancar komunikasi.

 

Jadi, Mister Potato, bawalah saya ke London! 🙂

 

 

 

image

#InggrisGratis