Pesan Hotel di Goyangan Transjakarta

Standar

Saya ingat betul, waktu itu hari raya tahun baru China alias Imlek. Saya dan ketiga teman saya, Dita, Penta dan Riska janjian ketemu di Sarinah sebelum berangkat ke Klenteng Dharma Jaya Glodok. Tak satupun dari kami berempat beretnis tionghoa. Tapi kami ingin melihat langsung bagaimana kemeriahan Imlek di klenteng tertua di Jakarta.

Tiga orang sudah datang di Sarinah, tinggal menunggu satu orang lagi. Sambil menunggu, saya browsing hotel di aplikasi Traveloka. Saya dan kedua teman saya yang lain, Arini dan Nanil, berencana traveling ke tiga negara Asia Tenggara, yaitu Vietnam, Kamboja dan Thailand. Tiket Jakarta – Ho Chi Minh dan Bangkok – Jakarta sudah ada di inbox email kami masing-masing. Jadi kami tinggal mencari hotel di empat kota, yaitu Ho Chi Minh, Phnom Penh, Siem Reap dan Bangkok. 

Semua teman saya, baik yang hendak pergi ke Glodok maupun pergi ke 3 negara sebetulnya saling kenal. Kami semua teman SMA. Tapi saya merahasiakan kepergian ke 3 negara karena pengennya tiba-tiba sudah cek in di luar negeri. Jadi saya browsing hotel sambil ngumpet-ngumpet. Kalau ketahuan lagi browsing hotel, pasti bakal ditanyain macam-macam.

Malam sebelumnya, saya, Arini dan Nanil sudah membahas hotel mana saja yang kira-kira akan mendapat kehormatan untuk kami singgahi. Karena pergi bertiga, biasannya kami akan mencari penginapan yang bisa ditiduri 3 orang dalam 1 ruangan. Beruntung, kalau browsing lewat aplikasi Traveloka, kita bisa memilih berapa orang yang akan tinggal dalam satu kamar. Hasil yang keluar pun benar-benar hotel yang menyediakan triple room. Jadi kami nggak perlu repot lagi pencet sana sini untuk mengecek ketersediaan kamar triple. 

Selanjutnya soal harga. Namanya liburan kere hore, budget kami terbatas. Nggak mungkin kami nginep di hotel berbintang-bintang dengan harga jutaan rupiah. Di Traveloka, kami bisa menentukan range harga sesuai kemampuan. Enaknya lagi, kami nggak perlu pusing mikirin biaya-biaya tambahan, karena harga yang tertera sudah all in. 

Tiap kota, kami membatasi 2 hingga 3 kandidat hotel. Semua kandidat hotel sudah memenuhi syarat triple room dan harga terjangkau. Syarat tak tertulis berikutnya adalah: lokasi hotel dari akses transportasi umum dan ketersediaan wifi (selama pergi keluar negeri, kami nggak pernah sewa wifi portable atau beli sim card setempat. Parah sih). Dengan aplikasi Traveloka, kami bisa melihat lokasi hotel di peta dan tempat-tempat menarik apa saja yang bisa ditemui di sekitar hotel (yang bisa dijangkau dengan jalan kaki tentunya).

Syarat terakhir yang sebetulnya nggak terlalu penting: apakah hotelnya instagramable? (Karena bagaimanapun kami hanyalah pemuda pemudi kampung yang ingin keluar negeri). Melalui foto-foto yang terdapat di aplikasi Traveloka, kami bisa menilai apakah kandidat hotel bisa dijadikan lokasi untuk selfie atau sekedar nongkrong-nongkrong cantique.

Pembahasan soal hotel di 4 kota kami lanjutkan pada pagi hari, saat saya sedang menunggu di Sarinah. Meeting virtual lewat aplikasi chatting terus berlangsung, sampai satu orang teman lagi datang dan kami harus beranjak dari Sarinah. Dari restoran cepat saji menuju halte Transjakarta, pandangan saya terus tertunduk pada handphone. Masih rapat soal hotel mana yang bisa memenangkan hati kami. 

Pintu bus Transjakarta terbuka. Kami berempat langsung masuk mencari tempat duduk yang kosong. Waktu itu bus nggak terlalu penuh. Tapi sialnya, sudah nggak ada tempat duduk yang tersisa. Mau nggak mau saya berdiri sambil chattingan. Percayalah, butuh keahlian khusus untuk bisa berdiri tegak sambil chatting di handphone. 

Dalam perjalanan, kami menemui kata sepakat. Terpilih lah masing-masing hotel di tiap kota.  Karena bertugas untuk memesan hotel, saya langsung buka aplikasi Traveloka dan melakukan pemesanan. Semua proses pemesanan hotel saya lakukan sambil berdiri di dalam bus Transjakarta. Lumayan susah, tapi saya nggak mau buang-buang waktu menunda pemesanan hotel. Takutnya keburu penuh atau lebih parahnya, saya lupa.

Setelah pengisian data-data, waktunya pembayaran. Sebagai pemuda modern kekinian, pembayaran hotel pun saya lakukan lewat mobile banking. Menyengankan sekali jadi kids jaman now. Semua serba gampang. Bahkan mau reservasi hotel pun nggak perlu susah nelpon sana sini. Tinggal tekan-tekan toucshcsreen, email bukti pemesanan hotel pun sampai ke inbox. 

Sambil tersenyum mantap, saya forward email bukti pemesanan tiket kepada Arini dan Nanil. Saya kantongi handphone dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Glodok.

Iklan

Perjalanan ke Angkor Wat – cukup satu hari

Standar

​Sekitar pukul 8 malam saya dan 2 orang teman saya sampai di kota Siem Reap. Minibus yang kami tumpangi dari Phnom Penh memelankan lajunya saat memasuki tempat pemberhentian. Pool minibus yang mirip seperti pool travel di Jakarta. Meskipun belum berhenti sepenuhnya, minibus sudah dikelilingi orang-orang yang berteriak dalam bahasa lokal (dan tentunya saya ga paham mereka ngomong apa). Ternyata mereka adalah supir tuktuk yang menawarkan jasanya pada penumpang minibus. Turun dari minibus, kami disambut bak selebriti yang dikelilingi paparazi. Kami bingung mau pilih tukang tuktuk yang mana.
Kebingungan kami berlangsung cukup lama, sampai-sampai hanya tinggal satu tuktuk saja yang belum berhasil merayu penumpang. Celakanya, saat kami mau tawar menawar harga sama si tukang tuktuk, ternyata dia ga bisa berbahasa Inggris. Seorang bapak-bapak berusia 40-an mendatangi kami untuk membantu. Ternyata bapak-bapak ini adalah teman si tukang tuktuk juga. Tawar menawar pun kami lakukan dengan si bapak yang lumayan lancar berbahasa Inggris. Tarif tuktuk untuk mengantar kami ke hotel di sekitar Angkor Night Market mencapai kesepakatan. Nggak cuma itu, kami juga ditawari menggunakan jasa tuktuknya untuk mengantar kami ke kawasan Angkor Wat keesokan paginya. Dengan catatan, tukang tuktuk akan datang jam 5 pagi dan jika ternyata kami bangun kesiangan, kami tetap harus membayar tarif yang sudah disepakati.
Tuktuk pun membawa kami menuju Hotel Bayon Boutique yang letaknya agak jauh dari pool travel. Bapak-bapak tadi pun ikut mengantar kami dan menceritakan sedikit tentang Siem Reap. Si bapak juga kadang mengajak kami bercanda (yang menurut kami jayus) dan lama-kelamaan, bercandaan si bapak makin menjurus ke arah porno. Bersamaan dengan itu, tuktuk membawa kami ke jalan-jalan kecil, jauh dari jalan raya. Jalanan makin lama makin kecil dan gelap. Bukan lagi jalan aspal, tapi jalan tanah berbatu-batu. Si bapak masih terus mengeluarkan candaan berbau porno, sementara kami tertawa kecut sambil melirik satu sama lain. Mau dibawa kemana kita???
Tuktuk berhenti di jalanan sepi dan si supir bicara pada si bapak (yang lagi-lagi saya ga paham mereka ngomong apa). Si bapak mulai menelepon. Kami pun mencoba bersikap santai sambil mengobrol. Isi obrolan pun tak jauh dari kecemasan kami yang sedang berada di tempat sepi.
Kami bisa bernafas lega setelah si bapak bilang kalau jalan yang kita lalui salah. Tuktuk memutar arah dan kami kembali melewati jalanan yang tidak terlalu sepi. Sampailah kami ke hotel dan si bapak mengingatkan kami untuk bangun subuh supaya bisa melihat matahari terbit di Angkor Wat.
Di hotel, kami menemukan beberapa brosur tentang Angkor Wat dalam bahasa Inggris. Dari brosur itulah kami mendapat informasi kalau turis harus berpakaian sopan jika mengunjungi Angkor Wat. Pakaian harus berlengan dan celana harus menutupi lutut. Bukan persyaratan yang sulit, karena saya ga mungkin berpakaian seksi. Dua teman perempuan saya pun ga pernah berpakaian serba terbuka. 
Kami bukanlah manusia yang terbiasa bangun pagi, apalagi saat liburan. Tapi demi melihat matahari terbit, kami bisa bangun subuh dan menemui tukang tuktuk yang ternyata sudah datang dari jam 4 pagi (kali ini tanpa si bapak cabul). Tuktuk membawa kami ke jalan raya menuju Angkor Wat. Di jalan, kami menemui tuktuk-tuktuk lain yang membawa turis dari berbagai negara. 
Tak lama, kami sampai ke sebuah gedung baru berarsitektur ala Kamboja. Saya pikir sudah sampai, tapi ternyata gedung itu hanyalah tempat penjualan tiket. Saat memasuki gedung, sebanyak 31 loket yang dibuka dipenuhi antrian manusia. Kami langsung memilih antrian yang kira-kira ga terlalu panjang. Sampai di loket, kami difoto untuk dicetak di tiket seharga 20 Dollar Amerika (per 1 Februari 2017, harga tiket 37 dollar). Setelah semua mendapat tiket one-day-pass, kami kembali ke tuktuk untuk melanjutkan perjalanan menuju Angkor Wat.

One day pass ticket

Di Angkor Wat, ratusan turis sudah duduk-duduk cantik di pinggir kolam untuk menanti sang mentari muncul dari balik deretan candi. Beberapa hanya memandang takjub saat matahari mulai menampakkan wujudnya. Sebagian besar langsung beraksi dengan kamera DSLR, kamera poket maupun ponsel untuk mengabadikan momen magis tersebut.

Pertama kali sunrise-an di luar negeri

Pemburu sunrise di Angkor Wat

Setelah atraksi matahari terbit usai, para turis mulai meninggalkan area kolam untuk berkeliling di Angkor Wat. Begitu juga kami, yang berkeliling sambil berfoto di setiap sudut candi yang kira-kira instagramable. Di pusat candi, kami melihat orang-orang mengantri. Ternyata untuk naik ke bagian utama candi, pengunjung harus bergantian. Di sekitar antrian, ada petugas yang berpatroli untuk melihat kelayakan berpakaian pengunjung. Kalau ada turis yang berpakaian tidak sopan, petugas akan menyuruhnya keluar dari antrian. Meskipun di brosur maupun website di internet sudah ada info tentang tata cara berpakaian, saya heran kenala ada saja turis yang hanya memakai tank top dan celana super pendek. Angkor Wat memang candi yang sudah diakui Unesco sebagai peninggalan bersejarah dan menjadi tujuan wisata turis dari berbagai belahan dunia. Tapi bagaimanapun, Angkor Wat merupakan bangunan yang sampai sekarang masih digunakan untuk beribadah oleh umat Buddha.

Puncak bangunan candi di Angkor Wat

Puas mengelilingi Angkor Wat, kami menuju ke warung-warung makan yang terdapat di sekitar candi. Di sekitar warung-warung tenda, banyak anak kecil berusia 10 tahunan yang menawarkan kartu pos seharga 1 dollar untuk 10 lembar. “Waaann daaleee.. (Kemudian mereka akan mulai menghitung jumlah kartu pos satu persatu) wan tu sri fo faif sik seven eit nein ten”. Meskipun kami tidak tertarik untuk membeli, mereka terus menawarkan kartu pos dengan penawaran yang unik. Bukan menurunkan harga, mereka malah menaikkan harganya. “Oke two dollar / no / ok three / piye to ki bocah? (Ni anak gimana sih?)”.

Itu penampakan dua bocah penjual kartu pos yang pantang menyerah

Dari Angkor Wat, kami menuju candi lain di kawasan Angkor Wat. Seperti candi Bayon yang memikiki ciri khas berupa wajah-wajah sang Buddha dan Ta Phrom yang menjadi lokasi pembuatan film Tomb Raider. Di sekitar Ta Phrom, lagi-lagi kami ditawari suvenir oleh anak-anak. Kali ini bukan kartu pos, melainkan magnet. Karena sebelumnya kami sudah membeli suvenir di Phnom Penh, jadi kami tidak tertarik membeli magnet dari si bocah. Tapi dengan muka melas, si bocah terus menurunkan harga tanpa kami tawar, sampai harga yang ditawarkan lebih rendah daripada di Phnom Penh. Akhirnya kami pun luluh dan membeli dari si bocah.

Bocah melas penjual magnet

Area Angkor Wat sangat luas, sehingga tak cukup satu hari untuk mengelilingi semua candi. Dalam satu hari, kami hanya bisa mengunjungi Angkor Wat, Bayon dan Ta Phrom. Kalau pingin berkeliling ke semua area Angkor Wat, Anda bisa membeli 3 days pass seharga 62 dollar atau 7 days pass seharga 72 dollar.

Sok candid di sekitar Angkor Wat

Yang ini namanya candi Bayon. Candi seribu wajah.

Selfie di Bayon

Ta Phrom yang jadi lokasi syuting film Tomb Raider

Nature wins!

Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Standar
Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Sebagai penduduk negara tropis, saya belum pernah liat salju secara langsung. Palingan liat bunga es di kulkas yang (kayanya) mirip salju. Atau wahana salju-saljuan di mall yang dibuat untuk anak-anak. Walaupun bukan salju beneran, tetep aja gabisa megang. Cih! Makanya pas temen saya ngajakin ke Jepang untuk melihat tumpukan salju di pegunungan Tateyama, Jepang, langsung saya iyain aja.

Waktu ke Jepang bulan April-Mei kemaren, sebetulnya saya pengen banget ke Universal Studio Osaka. Tapi apa daya, budget buat ke Tateyama udah lumayan gede. Untuk tiket terusan dari Nagano menuju Toyama aja udah habis ¥9.000 atau sekitar Rp 1.100.000.

Keberangkatan menuju Tateyama saya mulai dari stasiun Shinjuku di Tokyo. Di lantai 2 stasiun Shinjuku ada agen perjalanan yang dikelola oleh JR group. Di agen perjalanan tersebut, saya dan teman saya disambut oleh dua nenek-nenek di bagian informasi. Tadinya rada underestimate pas mau nanya ke nenek-nenek, takutnya ga paham. Walaupun rada terbata-bata, mereka ternyata bisa menyampaikan informasi tentang Tateyama dengan baik. Kami diarahkan ke loket untuk membeli tiket terusan Tateyama Alpine Route. Tiket terusan Tateyama Alpine Route hanya boleh dibeli oleh turis asing. Makanya pas beli tiket, kita harus melampirkan paspor. Konon katanya beli tiket terusan lebih murah dan praktis daripada beli tiket ketengan. Tiket terusan merupakan cara praktis untuk menikmati perjalanan dari kota Nagano ke kota Toyama dengan rangkaian tur melewati gunung salju. 

Wujud tiket terusan Kurobe-Tateyama Alpine Route

Setelah beli tiket, selanjutnya cari tiket bus untuk pergi ke kota Nagano. Tadinya sih saya berencana untuk berangkat ke Nagano tengah malam supaya besok paginya bisa langsung berangkat ke Tateyama. Tapi ternyata, keberangkatan saya bertepatan dengan Golden Week, libur panjangnya orang Jepang. Jadi bus malam saat itu tidak tersedia dan hanya ada 2 tiket terakhir untuk keberangkatan jam 3 sore. Mau tidak mau, tiket bus seharga ¥3.900 (sekitar 400 ribuan) pun terbeli.

Perjalanan dari kota Tokyo menuju Nagano memakan waktu sekitar 4 jam. Karena saat di Tokyo udara ga terlalu dingin, pas berangkat saya memakai celana pendek. Sampai di Nagano ternyata saya salah kostum. Dinginnya alamaaakkk. Walaupun sudah masuk musim semi, suhu udara di Tokyo dan Nagano ternyata beda banget. Saya pun berjalan kaki dari terminal menuju penginapan sambil menggigil kedinginan.

Salah kostum di Nagano yang dingin

Di Nagano saya menginap di Unicorn Hotel yang dipesan dari situs booking.com. Pengelola hotel yang masih lumayan muda menyambut saya dan teman saya dengan baik. Dia menanyakan kami mau ke mana saja selama di Nagano. Karena hanya berencana untuk ke Tateyama, kami memang tidak mencari tahu tentang kota Nagano. Si pengelola hotel pun menginformasikan kepada kami beberapa tempat wisata di Nagano, salah satunya kuil Zenko-Ji yang bisa didatangi dengan berjalan kaki. Sebetulnya ada juga pemandian air panas yang lokasinya rada jauh, jadi kayanya kami memang ga bakal sempat ke sana. 

Setelah cek in, kami pergi keluar untuk mencari makan. Berbeda dengan Tokyo yang masih gampang mencari makanan pada malam hari, di Nagano ternyata warung-warung makan sudah pada tutup jam 10. Toko yang buka 24 jam palingan minimarket seperti 7&i atau Lawson. Selain makan, untuk menghangatkan tubuh saya juga membeli sake mini seharga ¥100 saja. 

Sake seharga ¥100 atau 12 ribu rupiah saja

Besok paginya, saya dan teman saya bangun jam 6 pagi supaya sempat mengunjungi kuil Zenko-Ji yang ternyata adalah salah satu kuil tertua di Jepang. Karena udah tau bakal dingin banget, saya memakai legging dan sweater yang dilengkapi dengan teknologi heattech sebagai penghangat (belinya di Uniqlo Jakarta). 

Dari penginapan menuju kuil Zenko-Ji cukup memakan waktu 5-10 menit saja. Yang bikin bahagia, saya ketemu pohon sakura yang masih ada bunganya (walaupun bunga sakuranya udah lemes). Padahal, musim bunga sakura sudah berakhir sekitar akhir Maret. 

Horeeee ketemu Sakuraaaa

Dalam perjalanan menuju kuil Zenko-Ji pun menyenangkan. Saya melewati rumah-rumah bergaya lawas yang sulit dijumpai selama di Tokyo. Sebelum memasuki area kuil pun, saya melewati deretan toko-toko penjual souvenir yang lagi-lagi bergaya lawas. 

Gerbang besar kuil Zenko-Ji

Deretan toko bergaya lawas di sekitar kuil Zenko-Ji

Sampai di bangunan kuil, saya pikir bakalan sepi karena masih jam 6 pagi. Tapi ternyata kuil Zenko-Ji udah lumayan rame. Bentuk kuil Zenko-Ji sebetulnya ga jauh beda sama kuil Senso-Ji di Tokyo (namanya kok mirip-mirip ya). Di bagian depan ada tungku besar untuk menancapkan dupa. Di bagian teras ada kotak untuk memasukkan persembahan (berupa uang, bukan sayur mayur hasil bumi). Di bagian dalam ada biksu dan masyarakat yang sedang berdoa (di dalam kuil ga boleh foto-foto).

Pas lagi liat-liat kuil bagian dalam, tiba-tiba ada keramaian! Orang-orang pada keluar dari kuil untuk berbaris di depan tangga. Bahkan saking penuhnya, sampai ada yang berjejalan di teras kuil. Ternyata, saat itu adalah pergantian biksu besar. Jadi saat biksu besar mau masuk ke kuil, masyarakat berbaris untuk memohon berkat. Begitu pun saat biksu besar keluar, masyarakat berbaris lagi untuk memohon berkat.

Pagi-pagi kuil Zenko-Ji udah rame

Memohon berkat dari biksu besar

Puas melihat keagungan kuil Zenko-Ji, kami pun bergegas kembali ke penginapan. Setelah mandi dan sarapan, kami berjalan kaki menuju terminal Nagano selama kurang lebih 15 menit. Sampai di terminal sih rada bingung mau naik bis yang mana. Bis untuk menuju Ogizawa ternyata ada di bagian belakang terminal, tepatnya di platform 25. Saat itu penumpang bis dari Nagano menuju Ogizawa ternyata ga banyak. Cuma ada saya dan teman saya, 4 orang anak muda dan satu keluarga dari Indonesia juga. Tinggal menujukka tiket terusan yang sudah kita beli, supir bus pun akan mengijinkan kita naik bus tanpa biaya lagi.

Saya agak lupa perjalanan dari Nagano ke Ogizawa memakan waktu berapa lama. Kalau ga salah sih sekitar 2 jam. Selama perjalanan, kadang saya melihat ada deretan pohon sakura yang masih berbunga. Ada sakura pink, ada juga sakura putih. Sayangnya kita ga boleh berhenti buat foto-foto. Jadi ya cukup dilihat dan dikenang dalam hati.

Deretan bunga sakura dalam perjalanan Nagano-Ogizawa. Photo by Silvano Hajid.

Deretan gunung salju mulai nampak di kejauhan

Semakin mendekat ke Ogizawa, di kanan kiri jalan mulai nampak potongan-potongan es beku. Sampai di stasiun Ogizawa, saya langsung takjub melihat salju beneran untuk pertama kali. Sebetulnya pengen banget langsung pegang. Tapi sudah ada garis pembatas supaya turis ga masuk ke area salju. 

Pengen banget megang es nya tapi ga boleh

Dari Ogizawa lah perjalanan Alpine Route kita mulai. Di Ogizawa, kita naik bus menuju ke bendungan Kurobe. Perjalanan menuju Kurobe DAM sih ga istimewa karena hanya melewati terowongan buatan. Jadi ga ada pemandangan apa-apa. Satu-satunya hiburan hanya informasi tentang Alpine route di TV bagian depan yang menggunakan bahasa Jepang. Istimewanya, bus yang kita naiki bukan bus biasa. Bus bergerak dengan tenaga listrik yang dihantarkan melalui tiang besi mirip bombom car.

Selfie di depan bus bombom car. Tapi blur.

Setelah turun dari bus, kita berjalan kaki melewati terowongan menuju bendungan Kurobe yang dikelilingin gunung-gunung bersalju. Kurobe dam merupakan bendungan terbesar di Jepang. Saat musim panas, biasanya aliran air akan dibuka dan debura airnya akan menghasilkan pelangi. Tapi karena lagi musim semi dan masih bersalju, jadi kita ga bisa liat pelanginya.

Kurobe dam kaya di Swiss yaa.. (padahal belom pernah ke Swiss)

Selfie di Kurobe dam sambil bawa gembolan

Puas melihat bendungan dan gunung-gunung salju, waktunya naik ke gunung salju beneran. Kita ga perlu susah-susah mendaki gunung lewati lembah kok. Sudah ada kereta yang relnya miring untuk membawa kita ke puncak bukit bernama cable car. Saya pernah naik kereta sejenis di Penang, Malaysia. Karena cukup unik dan jarang dilihat, banyak turis yang mengabadikan gambar si kereta sebelum naik.

Perjalanan ke puncak belum berakhir dengan kereta rel miring. Masih ada ropeway alias kereta gantung yang bisa memuat puluhan manusia ke puncak gunung salju. Saat naik kereta miring maupun kereta gantung, para turis akan berebutan untuk duduk atau berdiri di dekat jendela. Termasuk saya. Hahahahaa.. Masa udah jauh-jauh ke Tateyama tapi ga bisa foto-foto karena salah posisi.

Kereta miring di Alpine Route

Ropeway Alpine Route

Pemandangan dari dalam ropeway

Selfie di dalam kereta gantung. Abaikan Silpano dan rambut njegrik saya.

Ini dia yang ditunggu-tunggu. Puncak Tateyama! Selain melihat gunung salju dari ketinggian, pengunjung juga bisa mainan salju di titik ini. Akhirnya saya bisa megang salju beneran! 

Ternyata salju itu dingin bro! (Menurut nganaaa). Kalau soal dingin sih mungkin ga jauh beda sama bunga es di kulkas. Tapi suhu udara yang sangat dingin di pegunungan membuat saya ga berani berlama-lama kalo megang salju. Sempat lah sok-sok an mau bikin boneka salju ala Olaf-nya Frozen. Tapi baru bikin bola salju kecil aja dinginnya udah kebangetan. 

Satu lagi yang wajib dilihat kalo udah di Tateyama. Jalanan dengan dinding salju! Selama bulan Mei-Juni, biasanya dinding salju alias snow wall bisa dilihat pengunjung. 

Salju pertama dalam hidup. Pake kacamata item karena pantulan cahaya matahari ke salju bikin silau.

Jalan di antara dinding salju

Area Tateyama tutup jam 5 sore. Bus untuk menuju kota Toyama biasanya juga berakhir sekitar pukul 5 sore. Walaupun menyengangkan, harus ingat waktu untuk pulang. Dari titik terkahir di Tateyama menuju kota Toyama, kita menggunakan kereta tua selama 1 jam-an. Karena udah capek dan batre habis, saya ga sempat foto-fotoin kereta tuanya. Yang pasti, sampai di stasiun Toyama tiket terusan akan dimita oleh petugas. Padahal tadinya tiket terusan itu bakal saya jadikan kenang-kenangan.

Pemandangan berupa salju dan pegunungan bersalju biasanya hanya bisa dilihat pada musim semi bulan Mei-Juni. Sementara pada musim panas maupun gugur, pemandangan bukan lagi berupa salju, melainkan pepohonan dengan warna daun menguning. Pada musim dingin, Tateyama-Kurobe Alpine Route tidak dibuka untuk umum.

Tiket terusan yang saya gunakan sebetulnya bisa dipakai untuk perjalanan Nagano-Toyama atau sebaliknya, Toyama-Nagano. Kita tinggal memilih mau menelusuri gunung Tateyama dari kota mana. Hanya saja, terusan hanya bisa digunakan one way, tidak bisa bolak balik. Menurut saya sih, kalau pengen melihat salju lebih menyenangkan dari Nagano menuju Toyama. Tensinya cenderung naik. Dari melihat Kurobe dam (yang setelah melihat puncak gunung salju ternyata ge terlalu istimewa), sampai melihat dinding salju dan bermain salju sepuasnya. Kalau dibalik melihat dan bermain salju dulu, baru melihat dam kayanya kurang asik. 

Karena baru pertama kali datang ke tempat sedingin itu, bibir saya sampai kering dan pecah-pecah. Untung di minimarket ada lipbalm khusus untuk mengobati bibir pecah-pecah. 

Perjalanan saya ke Jepang bisa dibilang dadakan dan menghabiskan dana lumayan banyak. Tapi kan uang bisa dicari. Pengalaman, kesempatan dan umur ga bisa diulang. 😃

Hidup Hemat (atau pelit?) di Tokyo

Standar

Mengunjungi negara Jepang adalah salah satu cita-cita saya sejak jaman kuliah, sekitar 11 tahun yang lalu (iye gw tua!). Perkenalan saya dengan Jepang bukan dari musik, film atau pun buku sejarah. Saya justru mengenal Jepang dengan berbagai kebiasaan dan tradisinya dari komik, yang pernah saya ceritakan di sini. Saking pinginnya ke Jepang dan saking cintanya sama gratisan, saya sampai ikut kuis segala (walaupun tetep ga menang huft). 

Tanggal 30 April 2017 saya dan seorang teman berangkat dari bandara Soekarno Hatta terminal 2F menuju bandara Haneda di Tokyo. Agak impulsif sih, karena tiket seharga 4,8 juta pp baru dibeli sebulan sebelumnya. Waktu saya berangkat, belum ada penerbangan AirAsia dari Indonesia langsung ke Jepang. Jadi saya harur transit di Kuala Lumpur dulu selama 4 jam. Setelah penerbangan sekitar 7 jam, sampailah saya di Bandara Haneda sekitar pukul 22.30 waktu setempat (jam di Jepang sama kaya WIT).

Karena liburan ke Jepang adalah liburan hemat, saya dan teman saya sengaja untuk menginap di bandara semalam biar ga perlu keluar duit buat hotel. Soalnya, harga penginapan di Jepang lumayan mahal kalo dibandingin negara-negara Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi seperti Thailand, Kamboja dan Vietnam.

Menginap di bandara ternyata jadi pilihan buat traveler (kere) seperti saya. Di lantai 2 bagian kedatangan, kursi-kursi tunggu sudah dipenuhi manusia-manusia selonjoran. Sebetulnya sih saya sudah dapat kursi panjang buat ngelurusin kaki. Tapi, di ruang tunggu lantai 2 ga ada colokan buat ngecharge henpon. Ada colokan sih di meja dekat kursi panjang, tapi jumlahnya sangat terbatas. Akhirnya saya memilih hijrah ke lantai 3 bagian keberangkatan yang jumlah colokannya melimpah. Tapi resikonya, saya ga bisa selonjoran karena kursi panjangnya dipakai duduk oleh fakir colokan seperti saya. Ga papa lah berkorban dikit, yang penting baterai henpon penuh buat foto-foto keesokan harinya. 

Suasana lantai 2 bandara Haneda yang dipenuhi treveler (kere)

Pukul 5 pagi, langit di Tokyo sudah terang. Tapi saya menunggu jam 6 pagi sebelum pergi dari bandara, karena harus mengambil wifi portable Telecom yang sudah saya pesan sebelumnya dari Jakarta. Setelah mengambil wifi portable dan sarapan di Lawson lantai dasar (saya jatuh cinta sama yakitori kulit ayam Lawson!), saya mencari jalan keluar untuk pergi dari bandara. Untuk menuju pusat kota, sebetulnya ada beberapa alternatif seperti naik bus (saya ga tau tarifnya berapa) atau naik taksi dengan tarif ¥7.000 (berdasarkan info google maps, kalo dirupiahkan sekitar IDR840.000). Mahal. Mending duitnya buat beli sepatu. Hahaha.. Pilihan untuk keluar dari bandara jatuh pada monorail dengan harga tiket ¥340 menuju Tenozu Isle.


Transportasi mahal di Tokyo

Keberangkatan saya ke Jepang bisa dibilang mendadak dan kurang riset. Jadi saya ga sempat cari tahu berapa tarif kereta maupun bus untuk keliling Tokyo. Karena saya cukup lama ngendon di bandara, jadi saya bisa cari info ke tourist office di lantai 2. Dari brosur yang saya baca-baca, ada info tentang Tokyo Subway Pass. Buat yang pernah ke Singapore, mirip-mirip lah sama kartu Singapore Tourist Pass yang bisa dipake untuk naik kereta dan bus. Tapi Tokyo Subway Pass cuma bisa dipakai untuk Tokyo Metro dan Toei Subway. Selain dua line kereta itu ada line kereta lain, tapi ga bisa pakai si kartu sakti alias harus bayar lagi. 

Logo kereta yang bisa pakai kartu sakti. Selain logo itu, sebaiknya dihindari karena harus bayar lagi.

Ada 3 jenis kartu Tokyo Metro Subway Pass. Kartu 24 jam seharga ¥800, kartu 48 jam seharga ¥1.200 dan kartu 72 jam seharga ¥1500. Menurut saya sih jauh lebih hemat daripada beli tiket ngeteng. Kalau tiket ngeteng, tarifnya bisa mencapai ¥170-¥310 sekali trip. Dalam sehari saya bisa melakukan beberapa trip, belum kalo pake nyasar. Kalau mau ngeteng, ada alternatif lain selain bayar cash di mesin pembelian tiket, yaitu menggunakan kartu Pasmo dan Suica (semacam e-money yang bisa dipake buat bayar di mini market juga). Tapi kalau pakai e-money tersebut, tarifnya cuma didiskon ¥5 saja. Jadi itungannya tetep mahal. Jalur kereta Tokyo Metro dan Toei mencakup hampir seluruh kawasan Tokyo kok, cuma kudu pinter-pinter baca peta biar tau nyambung-nyambungin jalur yang ga nyambung. Misalnya kalo kita pengen ke Shibuya dari Shinjuku, ga ada akses langsung dengan Tokyo Metro Line. Adanya akses kereta JR Yamada Line. Tapi bisa aja diakali dengan naik kereta ke Akasuka dulu, baru nyambung ke Shibuya. Menunggu kereta datang juga ga lama kok. Lima menit sudah paling lama untuk menunggu kedatangan kereta. Palingan hindari jam-jam orang masuk dan pulang kantor, karena bakal lumayan penuh.

Kartu sakti dan peta yang menentukan jalanku. Tanpanya, aku tak berguna bagai butiran debu.

Kalau baca komik, orang-orang Jepang pergi dan pulang kerja naik kereta. Baju kerja pun rapi banget, pakai jas lengkap dengan dasi. Saya pikir itu cuma ada di komik, tapi ternyata beneran orang-orang kerja bajunya rapi banget. Berbanding terbalik sama baju kerja saya yang kadang pakai seragam, kadang bebas sesuai kebutuhan liputan.

Pekerja-pekerja keluar dari stasiun Tokyo Teleport, Odaiba


Makanan serba mahal

Tokyo merupakan salah satu kota termahal di dunia. Sebagai warga negara Indonesia yang terbiasa makan murah, harga makanan di Tokyo lumayan bikin nyesek. Sekali makan, saya bisa menghabiskan sekitar ¥500 (kalo dirupiahin IDR60.000). Padahal ya makanan biasa aja, semacam ramen maupun rice bowl pinggir jalan. Sekedar jajan pinggir jalan pun lumayan mahal. Harga takoyaki misalnya, dibanderol ¥600 untuk isi 8 biji. 

Namanya lagi di negeri orang, pasti pengen ngicipin makanan yang jadi ciri khasnya. Tapi ada baiknya kalo kita harus ngirit sesekali. Teman perjalanan saya membawa dendeng dari Jakarta, sementara saya bawa abon. Cukup beli nasi di mini market, perut udah ga bakal teriak-teriak lagi. Harga nasi sekitar ¥270 per 3 box. Jadi kami membagi 2 masing-masing 1,5 box. Kalau mau tambahan lauk, bisa juga beli yakitori di Lawson yang harganya lumayan murah, yaitu ¥127. SEKALI LAGI, SAYA PALING SUKA YAKITORI KULIT AYAM! Enak! Buat sarapan, bisa beli onigiri di convenience store juga dengan harga ¥100.

Ngirit sih boleh aja, tapi saya ga mau juga terlalu pelit pada diri sendiri. Walaupun ada kalanya ngirit, ada kalanya saya beli makanan yang harganya lumayan mahal. Di pasar ikan Tsukiji, banyak warung-warung sushi bertebaran. Tapi teman saya mengajak ke Sushizanmai yang konon sudah terkenal se-galaksi bimasakti. Harga sushinya sih bervariasi, tapi saya memilih paket sushi yang lumayan lengkap tapi ga mahal-mahal amat.

Entahlah ini namanya paket apa, harganya ¥2.000

Kalau untuk minuman, harga sebotol air mineral ukuran 600ml biasanya dibanderol ¥90-130, baik di mini market maupun vending machine. Di seluruh penjuru Tokyo, vending machine minuman bisa ditemui di manapun. Jadi ga perlu kuatir kalau lagi jalan tiba-tiba kehausan. Kalau mau hemat, sebetulnya bisa mengisi ulang di keran air minum. Tapi kok saya jarang menemui keran begituan di Tokyo. Alternatifnya, pagi sebelum berangkat plesir saya mengisi ulang air minum di hotel. Hotel-hotel (murah) di Tokyo menyediakan air minum gratis bagi para tamu. Jadi lumayan hemat buat biaya air minum.

Vending machine minuman di salah satu sudut Shibuya. Ajaibnya, semua vending machine yang saya temui ga ada yang rusak.


Tokyo versi modern

Saking demennya sama Jepang, waktu belajar photoshop jaman kuliah dulu saya pernah bikin foto seolah-olah lagi di Tokyo, berlatar belakang gemerlapnya lampu-lampu di kawasan pertokoan. Siapa sangka di tahun 2017 ini saya bisa melihat langsung warna-warni lampu pertokoan di kota Tokyo, baik di kawasan Shinjuku, Akihabara maupun Shibuya. Pusat-pusat shopping di Tokyo tersebut bisa diakses melalui jaringan rel kereta Tokyo Metro. 

Halan halan di Akihabara. Tapi ga ketemu AKB48.

Selfie di Shibuya Cross

Shibuya Cross malam hari

Saya berada di Jepang dari tanggal 30 April sampai 7 Mei. Ternyata, tanggal tersebut pas banget dengan Golden Week, hari liburnya orang Jepang. Ada untungnya ada ruginya juga sih. Untungnya, banyak diskonan di pusat-pusat perbelanjaan. Ruginya, saya gagal ke Osaka karena tiket bus sudah sold out semua. Kegagalan saya ke Osaka akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Kita ngomongin untungnya aja lah yaa.. Berkat Golden Week, turis asing yang belanja di Jepang bisa bebas pajak kalau menunjukkan paspor. Di toko Onitsuka Tiger Shibuya, banyak banget turis asing yang memanfaatkan momen bebas pajak dengan pembelanjaan minimal ¥5.000. Di toko Onitsuka Tiger tersebut, sebagian besar orang Indonesia yang belanja, termasuk saya. 😱 Selain bebas pajak, ada juga tambahan diskon 5%. Sebagai pecinta diskonan minimal 50%, sebetulnya saya merasa terhina. Tapi setelah dikurangi pajak plus diskon 5% tersebut, harga sepatu jauh lebih murah dibandingkan harga di toko online Indonesia.

Shibuya nggak cuma terkenal sama wisata belanja, tapi wisata nyeberang jalan. Rada aneh sih, orang-orang nyeberang jalan aja bisa jadi atraksi wisata gratis. Selama 50 detik, lampu lalu lintas di Shibuya Cross merah. Orang-orang yang mau nyeberang dari keempat sisi langsung melintas secara berbarengan. Salah satu lokasi untuk melihat Shibuya Cross dari ketinggian adalah di lantai dua Starbucks gedung Tsutaya. Penyeberangan lewat zebra cross di Tokyo memang super aman. Kendaraan bakal mengalah pada pejalan kaki yang lagi nyeberang. Berbanding terbalik dengan kota Ho Chi Minh di Vietnam, mau nyeberang aja berasa harus mempertaruhkan nyawa. Tapi di sudut-sudut kota Tokyo seperti Nishi-Azabu, Kiba maupun Minami-Senju yang relatif sepi, ada juga sih akamsi yang asal nyeberang tanpa mempedulikan lampu penyeberangan maupun zebra cross. Tapi karena sepi, jadi ya aman-aman aja.

Kalau ngomongin Shibuya, salah satu ikon yang terkenal adalah anjing Hachiko. Saking terkenalnya, kalau mau foto sama patung Hachiko di depan stasiun Shibuya kudu ngantri sama turis-turis lain. 

Selfie sama Hachiko ❤

Ada satu lagi tempat belanja yang cukup menarik, yaitu di stasiun Tokyo. Meskipun judulnya statsiun, di bagian basement ada juga tempat untuk berbelanja. Tenant yang sengaja saya datangi sampai berlama-lama dan teman saya bete adalah Tomica Shop. Buat yang demen mobil-mobilan Tomica, tempat ini adalah surga! Harga Tomica reguler ga jauh beda sama di Jakarta sih, yaitu ¥450 belum termasuk pajak. Sementara untuk Tomica Premium harganya ¥800-900 belum termasuk pajak. Meskipun dati segi harga ga jauh beda, tapi barangnya komplit. 

Tomica Shop di Stasiun Tokyo

Salah satu hasil buruan di Tomica Shop


Wisata kuil di Tokyo

Di balik gemerlapnya lampu-lampu kota Tokyo, masih tersimpan warisan budaya leluhur berupa kuil yang bisa dijumpai di beberapa tempat di Tokyo. Enaknya, wisata ke kuil-kuil ga dipungut biaya alias gratiiisss.

Salah satu kuil yang wajib dikunjungi adalah kuil Sensoji di Asakusa. Kuil Sensoji adalah kuil terbesar di kota Tokyo. Saya datang ke kuil Sensoji hari Jumat tanggal 5 Mei. Ternyataa.. dari tanggal 5-7 Mei ada perayaan Sanja Matsuri untuk menghormati tiga orang pendiri Sensoji. Jadi saat saya mengunjungi Kuil Sensoji, suasananya rameeeee banget. Karena baru hari pertama, festival Sanja Matsuri yang saya lihat baru mulai dari parade anak-anak. Konon di puncak Sanja Matsuri, suasananya jauh lebih ramai.

Andreas selfie di kuil Sensoji

Parade anak-anak di festival Sanja Matsuri

Di sekitar kuil Sensoji ada deretan kios-kios yang menjual berbagai macam hal. Jajanan, mainan dan pernak-pernik untuk oleh-oleh. Tapi ya gitu. Harganya mahaaaall. Satu buah magnet kulkas harganya ¥400-600. Terlalu mahal buat kantong saya yang pas-pas an. Jadi karena harganya mahal, saya ga beliin oleh-oleh untuk siapapun. Dibilang pelit saya ga peduli, daripada beli oleh-oleh tapi ga bisa makan. 😱

Selain kuil Sensoji, ada juga kuil Nezu di bagian utara Tokyo. Di kuil ini ada deretan gerbang yang selama ini cuma bisa saya lihat di foto instagram orang-orang.

Di Nezu Shrine. Foto: Silvano Hajid

Ada kuil Meiji yang letaknya tak jauh dari Shibuya. Serta kuil Bentendo di tengah-tengah Ueno Park.

Pas ke kuil Meiji, ada pernikahan tradisional Jepang

Kuil Bentendo di tengah Danau Shinobazu


Istana kekaisaran Jepang

Jepang adalah negara monarki yang bertahan cukup lama. Istana kekaisaran yang terletak di tengah kota, tak jauh dari stasiun Tokyo menjadi salah satu daya tarik wisata. Tapiiiii.. istana kekaisaran ga bisa dikunjungi kaya di Thailand maupun Kamboja. Konon, dalam setahun istana kekaisaran Jepang hanya dua kali dibuka untuk umum. Turis yang ingin melihat istana kekaisaran cuma bisa menengok dari kejauhan di jembatan Nijubashi. 

Cuma bisa melihat dari kejauhan tanpa memiliki. Kaya kamu. Iya.. Kamuu..


Patung Liberty di Tokyo

Nggak cuma kota New York yang punya patung Liberty. Di Tokyo juga ada, tepatnya di Odaiba. Untuk menuju ke Odaiba, kita ga bisa pakai Tokyo Metro Subway Pass. Jalur ke Odaiba cuma dilalui Rinkai Line yang artinya kita kudu bayar lagi untuk naik kereta. Ukuran patung Liberty nya memang nggak sebesar di kota New York. Dan sepertinya, Odaiba Statue of Liberty belum menjadi salah satu tujuan turis yang datang ke Tokyo. Bahkan, nampaknya orang Jepang sendiri ga ngeh ada patung Liberty. Soalnya pas udah di pinggir pantai, saya nanya ke anak muda yang lagi nongkrong di sekitar situ. Saya nanyain soal patung Liberty dan mereka ga tau sama sekali.

Mirip New York lah yaaa..


Tokyo Tower

Menara setinggi 332.6 meter yang berdiri tegak di kawasan Minato merupakan salah satu ikon utama Tokyo. Untuk menuju ke sana, saya berhenti di stasiun Akabanebashi menggunakan Tokyo Metro Subway Pass. Keluar dari stasiun Akabanebashi, sosok megah Tokyo Tower langsung terlihat. Saat mengunjungi Tokyo Tower, kebetulan pas menjelang perayaan koinobori, perayaan untuk anak laki-laki di Jepang. Jadi di pelataran Tokyo Tower, terpasang ratusan layang-layang koinobori warna-warni. Untuk naik ke menara dan melihat Tokyo dari ketinggian, sebetulnya nggak mahal. Cuma ¥900 saja. Tapi entah kenapa saya nggak kepingin naik. Ntar aja naik menara Eiffel kalo suatu hari berkesempataj mengunjungi Paris. Jadi saya cuma foto-foto aja dengan latar belakang menara Tokyo. 

Koinobori warna warni di pelataran Tokyo Tower

Foto di taman seberang Tokyo Tower

Kalau ke Jepang, biasanya turis akan mengunjungi Tokyo Disneyland maupun Universal Studio di Osaka. Tadinya saya berniat ke Universal Studio karena pengen ke wahana Harry Potternya. Harga tiket Universal Studio maupun Disneyland sama-sama mahal, sekitar 900 ribuan kalo dirupiahkan. Akhirnya saya ga mengunjungi keduanya. Bukan karena pelit, tapi saya lebih memilih berkunjung ke gunung salju Tateyama dengan tarif lebih mahal, yaitu ¥9000 atau sekitar 1 juta rupiah. Cerita soal gunung salju Tateyama akan saya ceritakan di episode lain.

Sampai jumpa!

Dorama Visa Jepang

Standar

Jelang tahun 2017 kemarin, biasanya orang-orang bikin resolusi. Saya sih nggak bikin resolusi kehidupan, malah bikin resolusi piknik 2017. Jadi, sebelum menginjak umur 30 di pertengahan 2017 (iye, gw udah mau 30!), tadinya saya pengen menuntaskan kunjungan ke negara-negara Asia Tenggara. Malaysia, Singapore, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Timor Leste (kalo masuk itungan Asia Tenggara yaa) udah berhasil saya kunjungi. Tinggal Myanmar, Laos, Brunei Darussalam dan Filipina. Tadinya pengen pake fasilitas AirAsia Asean Pass, tapi berhubung temen-temen sepermainan saya tak kunjung memberi tanggapan, jadinya batal deh.

Pertengahan Maret 2017, temen saya ngajakin ke Jepang. Rencana keliling Asia Tenggara akhirnya saya ubah ke Jepang. Secara nekat dan impulsif, pertengahan Maret saya beli tiket AirAsia ke Jepang seharga 4,6 juta untuk keberangkatan 30 April 2017. Padahaaalll.. waktu itu paspor saya udah masuk masa tenggang. Sementara, setelah beli tiket itu saya harus dinas ke luar kota sampe tanggal 11 April. Terus kapan aku ngurus paspornyaaa. 😱

Karena mau pergi ke Jepang, saya berencana bikin paspor elektronik biar bisa masuk Jepang tanpa bayar visa. Kebetulan saya dinasnya di Jawa Timur, jadi bisa sekalian ngurus paspor elektronik. Soalnya untuk bikin paspor elektronik, cuma bisa di kantor imigrasi kelas 1 di Jakarta, Surabaya san Batam. Tapi rencana tinggal rencana, karena selama di Jawa Timur, saya berada di Surabaya cuma 3 hari terakhir. Jadi ga sempat ngurus paspor juga.

Tanggal 12 April jam 7 pagi, saya langsung meluncur ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Saat itu sistem pelayanan pembuatan paspor secara online lagi bermasalah. Jadi mau tidak mau, saya harus datang langsung ke kantor Imigrasi. Untuk membuat paspor elektronik, konon butuh waktu 14 hari kerja. Sementara untuk paspor biasa, butuh waktu 5 hari kerja. HARI KERJA lho yaa.. jadi sabtu-minggu-hari libur ga diitung. Padahal, waktu itu lagi banyak-banyaknya tanggal merah. Tanpa adanya tanggal merah, paspor sata harusnya udah jadi tanggal 19 April. Tapi karena tanggal 14 Jumat Agung, 15-16 sabtu minggu dan tanggal 19 ada pilkada DKI, secara itungan kasar paspor saya baru jadi tanggal 21 April. Tapi saya nggak mau pasrah begitu saja. Selasa tanggal 18 April, saya coba-cona datang lagi dan ternyta paspor (biasa) saya udah jadi. 

Selanjutnyaaa tinggal ngurus visa. Berdasarkan informasi dari website kedutaan besar Jepang, ada beberapa dokumen yang harus saya siapkan. Tiket jelas sudah ada, tinggal diprint. Formulir biodata tinggal diisi, bisa diketik atau tulis tangan. Untuk itinerary, saya ngarang abis. Pokoknya selama seminggu di Jepang, saya bikin itinerary seolah-olah saya cuma keliling Tokyo. Padahal rencananya, saya bakal keliling Tokyo, Nagano dan Osaka. Kenapa saya ga jujur aja? Soalnya untuk keliling ke kota-kota tersebut butuh biaya gede. Nanti saya jelaskan lebih lanjut. Terus untuk bukti pemesanan hotel, saya pesan lewat booking.com yang bisa dicancel tanpa biaya.

Salah satu syarat untuk bikin paspor Jepang adalah rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Ini yang bikin saya deg-degan kalau permohonan visa saya ditolak. Jadiii.. sehari sebelum mengajukan visa, saya mau memindahkan tabungan saya ke rekening lain. Tapi kok ya ndilalah sistem atm nya lagi bermasalah. Jadi saya harus berdrama-drama buat memindahkan rekening tabungan. Nah yang bikin deg-deg an adalah, rekening koran saya perubahannya ekstrim. Kadang banyak banget, kadang nyaris nol. Saldo akhir pun ga seberapa banyak. Padahal menurut info-info yang saya baca, untuk mengajukan visa ke Jepang setidaknya butuh 1.5 juta dikalikan berapa lama di Jepang. Jadi karena saya bakal 8 hari di Jepang, setidaknya saldo mengendap di rekening saya senilai 12 juta rupiah. Entah info ini bener atau tidak, tapi buat jaga-jaga ya sebaiknya diikuti. Untuk tambahan dokumen, saya juga melampirkan paspor lama saya. Ga masuk dalam persyaratan sih, tapi ya biar mereka tau aja saya pernah ke mana.

Setelah semua dokumen siap, Kamis 20 April saya pergi ke kedutaan besar Jepang di Thamrin untuk mengajukan visa. Waktu itu lagi sepi banget, jadi saya cuma nunggu 2 nomor antrian sebelum giliran saya tiba. Karena semua dokumen sudah ada, saya tinggal menyerahkan saja ke loket pengajuan visa. Tadinya saya pikir, bakal diwawancara sama petugasnya. Padahal saya udah siapin jawaban-jawaban sewajarnya kalo ada wawancara. Ternyata dokumen aaya cuma diliat-liat, abis itu dikasih tanda terima untuk mengambil paspor plus visa. Untuk paspor biasa, butuh waktu 4 hari kerja, semetara paspor elektronik cuma butuh waktu 1 hari kerja. Ini tidak adil!

Rabu tanggal 26 April 2017, saya datang lagi untuk mengambil paspor. Loket pengambilan paspor dan visa baru buka pukul 13.30. Tapi pas saya nyampe jam 12, sudah ada belasan orang yang ngantri untuk masuk. Setelah loket buka, saya ambil nomor antrian dan menunggu sampai nomor saya dipanggil. Serahkan tanda terima di loket, bayar Rp 370.000 dan paspor saya sudah dikasih tempelan visa Jepang. Sungguh legaaaa.. 

Visa Jepang

Sungguh waktu yang sangat mepet. Visa baru kelar tanggal 26 April, sementara keberangkatan saya tanggal 30 April. Dan liburan ke Jepang merupakan kepergian saya ke luar negeri pake visa untuk pertama kalinya. Biasanya ke negara yang bebas visa atau pun visa on arrival seperti di Timor Leste.

Next, saya bakal cerita pengalaman hidup selama seminggu di Jepang. Semoga saya ga males! 😃

Dari Komik ke Meja Makan

Standar

Waktu kecil, saya suka banget baca komik. Saya ga punya genre khusus buat baca komik, jadi kalo ada komik nganggur ya pasti saya baca. Biasanya komik bacaan saya sih yang ada lucu-lucunya. Misalnya Crayon Shinchan, Doraemon, Dororonpa, Kobo Chan, Time Limit dan sebagainya. Ada juga komik yang agak-agak cabul kaya Nube Guru Ahli Roh. Komik yang ceritanya di negeri antah berantah kaya Dragon Ball atau Dragon Pigmario. Atau komik serius yang butuh mikir kaya Detektif Conan (dari saya kelas 5 SD sampai sekarang ga tamat-tamat), Detektif Kindaichi dan Q.E.D.

Dulu saya ga mampu beli komik. Minta orang tua juga ga tega, wong harga komik termasuk mahal. Mending buat makan. Saya biasanya minjem komik ke teman atau tetangga, tapi lebih sering nyewa. Dulu, di dekat rumah saya ada persewaan komik, namanya KK book rental. Filosofinya bagus lho, karena nama KK merupakan singkatan dari Kejujuran awal dari Kepercayaan. Namanya nyewa komik emang harus jujur. Dikembalikan dalam keadaan baik dan tepat waktu. 

Harha sewa komik di KK terbilang murah kalo dibandingin tempat persewaan lainnya. Di dekat rumah saya ada tempat persewaan komik lain, namanya Tintin. Biaya pendaftaran 1000 rupiah dan untuk sewa dikenai 350 rupiah per komik selama 2 hari (ini sekitar tahun 97-99 lah yaa). Nah di KK ga dipungut biaya pendaftaran. Harga sewa komik juga lebih murah daripada Tintin, tapi saya lupa sih berapaan hehee.. Apalagi sewa 5 komik bonus 1 komik. Menyenangkan!

Sebetulnya ga butuh waktu lama buat melahap 6 komik sampai habis. Kalo pas nganggur-nganggur, biasanya ga sampe sehari komik-komik sewaan udah selesai saya baca. Karena sering sewa komik yang lucu-lucu, saya sering ketawa sendiri. Apalagi kebiasaan baca komik masih lanjut terus sampai saya kuliah. Ibu saya dulu sering bilang, “wis gede ok wacanane koyo ngono.” (sudah besar kok bacaannya kaya gitu). Tapi sejak tinggal di Jakarta, saya udah ga pernah baca komik karena ga nemu tempat persewaan komik kaya di Jogja. Seringnya baca whatsapp. Padahal baca whatsapp juga sia-sia, wong WA dari saya ga dibales, cuma centang biru doang. Huft. Aku jadi sedih.

Komik-komik yang saya baca biasanya berasal dari Jepang. Kalaupun ada komik yang ga dari Jepang, palingan Paman Gober. Membaca komik cukup menambah pengetahuan yang saya tentang Jepang. Misalnya, ayah Nobita dan ayah Kobo Chan berangkat dan pulang kerja naik kereta. Dari situ saya tahu kalau kereta adalah moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat Jepang. Agak sulit saya bayangkan waktu kecil, karena di Jogja ga ada sistem transportasi kereta dalam kota. Dari komik Doraemon saya juga tahu kalau setiap tahun di Jepang ada festival Koinobori. Saya juga jadi tahu kalau ada festival musim panas, di mana warga Jepang menggunakan Yukata, sejenis kimono yang dipakai khusus untuk musim panas. Sementara saat musim semi, melihat bunga sakura jadi salah satu aktivitas wajib di Jepang. Budaya memberi kado pada saat Natal juga bisa saya ketahui dari komik. Padahal, mayoritas penduduk Jepang menganut keyakinan Shinto dan Buddha. 

Dari komik, sedikit-sedikit saya tahu beberapa makanan khas Jepang. Seperti dorayaki makanan kesukaan Doraemon. Dulu saya pikir, dorayaki adalah makanan yang tercipta dari khayalan Fujiko F Fujio. Ternyata, dorayaki memang makanan tradisional Jepang yang sudah ada sejak awal tahun 1900. Dorayaki yang dulu terasa jauh bagi saya, sekarang dengan mudah didapat. Tinggal mampir ke Indomaret, dorayaki seharga 4500 rupiah sudah bisa saya bawa pulang. Walaupun dorayaki yang aslinya berisi kacang merah, dimodofikasi dengan isi pasta coklat karena disesuaikan dengan lidah Indonesia.

Dorayaki produk Sari Roti

Nggak cuma dorayaki, makanan-makanan yang dulu cuma saya baca di komik, sekarang sudah bisa tersedia di meja makan. Dan ga perlu jauh-jauh ke Jepang, cukup datang ke restoran Jepang yang mudah ditemui di Jakarta. Misalnya, di komik Time Limit, tokoh Nina Onoda sangat menyukai takoyaki. Ada juga cerita tentang okonomiyaki yang ternyata mirip takoyaki, tapi berbeda bentuk. Takoyaki berbentuk bola-bola, sementara okonomiyaki berbetuk bulat pipih.

Nina Onoda makan okonomiyaki dan takoyaki

Okonomiyaki di salah satu resto Jepang di Jakarta

Di komik Doraemon, ada cerita saat mulut Giant bau bawang setelah makan gyoza. Saya lupa cerita tersebut ada di komik nomor berapa. Tapi saya ingat betul, di komik Doraemon versi Indonesia, ada keterangan kecil tentang gyoza. Kurang lebih keterangannya kaya gini: gyoza: sejenis siomay yang terbuat dari bawang putih. Waktu saya kecil, yang kebayang ya siomay ala mas-mas yang keliling kampung naik sepeda. Tapi sekarang, saya bisa ikut merasakan gyoza yang dimakan Giant.

Penampakan gyoza di meja makan

Saya tidak tahu apakah dulu pemerintah Jepang sengaja mengekspor komik-komiknya keluar negeri untuk memperkenalkan budaya negeri matahari terbit. Tapi yang jelas, Jepang berhasil menyebarkan informasi tentang kebiasaan, budaya dan makanannya. Menurut saya, dulu restoran khas Jepang ga mudah dicari. Apalagi di Jogja, tempat saya dibesarkan. Kalaupun ada, restoran Jepang biasanya mahal dan ga mungkin terjagkau di kantong saya. Waktu remaja dulu saya pernah sih makan di restoran Jepang, namanya Tenpura Hana. Restonya bagus dan kayanya mahal (soalnya saya cuma ditraktir, jadi gatau harganya hahaa..). Sekarang, restoran khas Jepang di Jogja banyak ditemui. Begitu juga di Jakarta, tempat tinggal saya sekarang. Di satu mall aja saya menemukan lebih dari 10 restoran khas Jepang dengan berbagai bentuk.

Beberapa restoran khas Jepang di Central Park Mall dan Neo Soho

Di komik-komik yang saya baca, makanan khas Jepang biasanya ditampilkan dalam bentuk sederhana. Misalnya warung ramen, kalau di komik bentuknya biasa aja, mungkin mirip warung mie ayam. Sementara di sini, restoran khas Jepang dibuka di pusat perbelanjaan dengan tampilan mewah. Kehebatan Jepang dalam memperkenalkan kebudayaannya patut diacungi jempol. Buat yang pengen merasakan kebudayaan Jepang yang biasanya cuma bisa dilihat di komik, bisa mendatangi restoran khas Jepang maupun festival-festival budaya yang sering diselenggarakan di Indonesia. Tapi buat yang merasa hal tersebut ga cukup, bisa datang ke Jepang untuk merasakan pengalaman langsung, ga cuma lewat komik. Otomatis, pendapatan Jepang dari pariwisata akan bertambah. Apalagi, sekarang bisa ke Jepang tanpa visa asalkan pakai paspor elektronik.

Saya sih baru sebatas baca komik, makan di restoran khas Jepang dan datang ke festival budaya Jepang. Waktu kuliah, saya pernah coba-coba daftar beasiswa Monbukagakusho untuk kuliah di Jepang. Tujuannya ya pengen belajar sekaligus melihat langsung kehidupan di Jepang. Tapi sayang. Gagal. (Ga tau diri sih, wong beasiswanya buat jurusan teknik). 

Andreas di acara Jak-Japan Matsuri

Tapi gapapa, suatu hari nanti pasti saya bisa liburan ke Jepang. Konon, bulan Maret-April adalah waktu terbaik buat yang pengen liat bunga sakura bermekaran. Buat yang sibuk, pemalas kaya saya atau ga mau ribet, tinggal klik Paket Tour Jepang. Bisa juga klik HAnavi untuk paket eksklusif.

Seperti kata Rangga di AADC 2, traveling itu tentang menambah pengalaman, bukan sekedar bersenang-senang. Kurang lebih sih gitu. 😅

HIS Travel Indonesia

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Hari Ibu Tanpa Ibu

Standar

Hari ini hari ibu. Di keluarga saya, tidak pernah ada yang istimewa tiap tanggal 22 Desember. Maklum, keluarga saya bukan keluarga romantis. Bukan keluarga yang saling mengungkapkan rasa sayang lewat ucapan atau perbuatan. Mau hari ibu, hari pahlawan, ulang tahun atau hari kelulusan, semua lempeng-lempeng aja. Bahkan waktu saya lulus SD dengan NEM 43,31 pun (angka segitu dulu termasuk bagus yaa..) ga ada perlakuan istimewa. Dikasih kado kek. Lebihin uang jajan kek. Diajak makan enak kek. Ga ada. Ga ada duitnya juga sik. 

Hidup di keluarga yang lempeng membuat saya belajar hidup lebih mandiri. Waktu lulus SMP, saya cari SMA sendiri. Daftar sendiri. Nunggu pengumuman sendiri. Begitu pula waktu lulus SMA. Saya cari kampus dan daftar sendiri. Sampai lulus kuliah dan cari kerja pun, saya lakukan sendiri. Tapi bukan berarti semua biaya pendidikan saya sendiri juga. Saya bisa lulus kuliah karena perjuangan seorang ibu. 

Sejak saya masih anak-anak, ibu saya membuka warung kecil di rumah. Bangun jam 4 subuh buat siapin jualan. Lanjut ke pasar naik sepeda hitam berkeranjang. Pulang dari pasar langsung berjibaku di dapur sambil berjualan sampai siang. Belum cukup pengorbanan ibu sampai di situ. Dulu, setiap ada uang berlebih sedikit, ibu pasti membeli emas. Bukan sekedar untuk bersolek, emas dijadikan benda investasi. Setiap jelang bayar uang gedung atau daftar ulang sekolah, emas milik ibu dijual lagi. Begitu terus sampai saya lulus kuliah dan akhirnya keluar dari kota Jogja untuk bekerja di Jakarta.

1 Januari 2009, saya hijrah ke Jakarta. Ibu melepas saya di stasiun Yogyakarta dengan berlinang air mata. Berpisah dengan anak bungsu yang sudah dirawat selama 21 tahun, mungkin jadi salah satu hal terberat dalam hidupnya. Sementara saya, terlalu bersemangat mengadu nasib di ibukota sehingga lupa menanyakan apa yang ibu rasakan saat itu. Air mata ibu pun selalu jatuh saat mengantar saya ke bandara maupun stasiun, setiap saya pulang ke Jogja. Semalam apapun jam keberangkatan kereta maupun pesawat, ibu selalu bersikeras untuk ikut. Padahal saya selalu bilang, ga diantar pun ga papa.

Sejak akhir 2015, kondisi kesehatan ibu menurun. Ibu ga bisa lagi ikut melepas kepergian saya ke ibukota. Tapi air mata beliau tetap tumpah saat saya berpamitan di sisi tempat tidurnya. Sampai akhirnya pada tanggal 27 September 2016, bukan ibu yang melepas kepergian saya kembali ke ibukota. Sebaliknya, saya yang melepas kepergian ibu untuk selama-lamanya. Sedih sudah pasti, tapi saya tahu ibu sudah tidak merasakan sakit lagi. Di balik kesedihan pun, saya merasa bersyukur karena bisa menemani ibu hingga hembusa napas terakhirnya.

Tak ada yang sia-sia dari doa dan pengorbanan seorang ibu. Seorang ibu tidak akan menghitung seberapa besar pengorbanan yang sudah dilakukan untuk anak-anaknya. Seperti salah satu dialog dalam serial Devious Maids yang selalu membuat saya terkenang akan pengorbanan ibu: 

“Whatever sacrifices i make for you are none of your business. All you’ve got to do is grow up and be happy. And i’ll have everything i’ve ever wanted.” 
Selamat hari ibu ☺