Category Archives: sekedar opini

Perjalanan ke Angkor Wat – cukup satu hari

Standar

​Sekitar pukul 8 malam saya dan 2 orang teman saya sampai di kota Siem Reap. Minibus yang kami tumpangi dari Phnom Penh memelankan lajunya saat memasuki tempat pemberhentian. Pool minibus yang mirip seperti pool travel di Jakarta. Meskipun belum berhenti sepenuhnya, minibus sudah dikelilingi orang-orang yang berteriak dalam bahasa lokal (dan tentunya saya ga paham mereka ngomong apa). Ternyata mereka adalah supir tuktuk yang menawarkan jasanya pada penumpang minibus. Turun dari minibus, kami disambut bak selebriti yang dikelilingi paparazi. Kami bingung mau pilih tukang tuktuk yang mana.
Kebingungan kami berlangsung cukup lama, sampai-sampai hanya tinggal satu tuktuk saja yang belum berhasil merayu penumpang. Celakanya, saat kami mau tawar menawar harga sama si tukang tuktuk, ternyata dia ga bisa berbahasa Inggris. Seorang bapak-bapak berusia 40-an mendatangi kami untuk membantu. Ternyata bapak-bapak ini adalah teman si tukang tuktuk juga. Tawar menawar pun kami lakukan dengan si bapak yang lumayan lancar berbahasa Inggris. Tarif tuktuk untuk mengantar kami ke hotel di sekitar Angkor Night Market mencapai kesepakatan. Nggak cuma itu, kami juga ditawari menggunakan jasa tuktuknya untuk mengantar kami ke kawasan Angkor Wat keesokan paginya. Dengan catatan, tukang tuktuk akan datang jam 5 pagi dan jika ternyata kami bangun kesiangan, kami tetap harus membayar tarif yang sudah disepakati.
Tuktuk pun membawa kami menuju Hotel Bayon Boutique yang letaknya agak jauh dari pool travel. Bapak-bapak tadi pun ikut mengantar kami dan menceritakan sedikit tentang Siem Reap. Si bapak juga kadang mengajak kami bercanda (yang menurut kami jayus) dan lama-kelamaan, bercandaan si bapak makin menjurus ke arah porno. Bersamaan dengan itu, tuktuk membawa kami ke jalan-jalan kecil, jauh dari jalan raya. Jalanan makin lama makin kecil dan gelap. Bukan lagi jalan aspal, tapi jalan tanah berbatu-batu. Si bapak masih terus mengeluarkan candaan berbau porno, sementara kami tertawa kecut sambil melirik satu sama lain. Mau dibawa kemana kita???
Tuktuk berhenti di jalanan sepi dan si supir bicara pada si bapak (yang lagi-lagi saya ga paham mereka ngomong apa). Si bapak mulai menelepon. Kami pun mencoba bersikap santai sambil mengobrol. Isi obrolan pun tak jauh dari kecemasan kami yang sedang berada di tempat sepi.
Kami bisa bernafas lega setelah si bapak bilang kalau jalan yang kita lalui salah. Tuktuk memutar arah dan kami kembali melewati jalanan yang tidak terlalu sepi. Sampailah kami ke hotel dan si bapak mengingatkan kami untuk bangun subuh supaya bisa melihat matahari terbit di Angkor Wat.
Di hotel, kami menemukan beberapa brosur tentang Angkor Wat dalam bahasa Inggris. Dari brosur itulah kami mendapat informasi kalau turis harus berpakaian sopan jika mengunjungi Angkor Wat. Pakaian harus berlengan dan celana harus menutupi lutut. Bukan persyaratan yang sulit, karena saya ga mungkin berpakaian seksi. Dua teman perempuan saya pun ga pernah berpakaian serba terbuka. 
Kami bukanlah manusia yang terbiasa bangun pagi, apalagi saat liburan. Tapi demi melihat matahari terbit, kami bisa bangun subuh dan menemui tukang tuktuk yang ternyata sudah datang dari jam 4 pagi (kali ini tanpa si bapak cabul). Tuktuk membawa kami ke jalan raya menuju Angkor Wat. Di jalan, kami menemui tuktuk-tuktuk lain yang membawa turis dari berbagai negara. 
Tak lama, kami sampai ke sebuah gedung baru berarsitektur ala Kamboja. Saya pikir sudah sampai, tapi ternyata gedung itu hanyalah tempat penjualan tiket. Saat memasuki gedung, sebanyak 31 loket yang dibuka dipenuhi antrian manusia. Kami langsung memilih antrian yang kira-kira ga terlalu panjang. Sampai di loket, kami difoto untuk dicetak di tiket seharga 20 Dollar Amerika (per 1 Februari 2017, harga tiket 37 dollar). Setelah semua mendapat tiket one-day-pass, kami kembali ke tuktuk untuk melanjutkan perjalanan menuju Angkor Wat.

One day pass ticket

Di Angkor Wat, ratusan turis sudah duduk-duduk cantik di pinggir kolam untuk menanti sang mentari muncul dari balik deretan candi. Beberapa hanya memandang takjub saat matahari mulai menampakkan wujudnya. Sebagian besar langsung beraksi dengan kamera DSLR, kamera poket maupun ponsel untuk mengabadikan momen magis tersebut.

Pertama kali sunrise-an di luar negeri

Pemburu sunrise di Angkor Wat

Setelah atraksi matahari terbit usai, para turis mulai meninggalkan area kolam untuk berkeliling di Angkor Wat. Begitu juga kami, yang berkeliling sambil berfoto di setiap sudut candi yang kira-kira instagramable. Di pusat candi, kami melihat orang-orang mengantri. Ternyata untuk naik ke bagian utama candi, pengunjung harus bergantian. Di sekitar antrian, ada petugas yang berpatroli untuk melihat kelayakan berpakaian pengunjung. Kalau ada turis yang berpakaian tidak sopan, petugas akan menyuruhnya keluar dari antrian. Meskipun di brosur maupun website di internet sudah ada info tentang tata cara berpakaian, saya heran kenala ada saja turis yang hanya memakai tank top dan celana super pendek. Angkor Wat memang candi yang sudah diakui Unesco sebagai peninggalan bersejarah dan menjadi tujuan wisata turis dari berbagai belahan dunia. Tapi bagaimanapun, Angkor Wat merupakan bangunan yang sampai sekarang masih digunakan untuk beribadah oleh umat Buddha.

Puncak bangunan candi di Angkor Wat

Puas mengelilingi Angkor Wat, kami menuju ke warung-warung makan yang terdapat di sekitar candi. Di sekitar warung-warung tenda, banyak anak kecil berusia 10 tahunan yang menawarkan kartu pos seharga 1 dollar untuk 10 lembar. “Waaann daaleee.. (Kemudian mereka akan mulai menghitung jumlah kartu pos satu persatu) wan tu sri fo faif sik seven eit nein ten”. Meskipun kami tidak tertarik untuk membeli, mereka terus menawarkan kartu pos dengan penawaran yang unik. Bukan menurunkan harga, mereka malah menaikkan harganya. “Oke two dollar / no / ok three / piye to ki bocah? (Ni anak gimana sih?)”.

Itu penampakan dua bocah penjual kartu pos yang pantang menyerah

Dari Angkor Wat, kami menuju candi lain di kawasan Angkor Wat. Seperti candi Bayon yang memikiki ciri khas berupa wajah-wajah sang Buddha dan Ta Phrom yang menjadi lokasi pembuatan film Tomb Raider. Di sekitar Ta Phrom, lagi-lagi kami ditawari suvenir oleh anak-anak. Kali ini bukan kartu pos, melainkan magnet. Karena sebelumnya kami sudah membeli suvenir di Phnom Penh, jadi kami tidak tertarik membeli magnet dari si bocah. Tapi dengan muka melas, si bocah terus menurunkan harga tanpa kami tawar, sampai harga yang ditawarkan lebih rendah daripada di Phnom Penh. Akhirnya kami pun luluh dan membeli dari si bocah.

Bocah melas penjual magnet

Area Angkor Wat sangat luas, sehingga tak cukup satu hari untuk mengelilingi semua candi. Dalam satu hari, kami hanya bisa mengunjungi Angkor Wat, Bayon dan Ta Phrom. Kalau pingin berkeliling ke semua area Angkor Wat, Anda bisa membeli 3 days pass seharga 62 dollar atau 7 days pass seharga 72 dollar.

Sok candid di sekitar Angkor Wat

Yang ini namanya candi Bayon. Candi seribu wajah.

Selfie di Bayon

Ta Phrom yang jadi lokasi syuting film Tomb Raider

Nature wins!

Hidup Hemat (atau pelit?) di Tokyo

Standar

Mengunjungi negara Jepang adalah salah satu cita-cita saya sejak jaman kuliah, sekitar 11 tahun yang lalu (iye gw tua!). Perkenalan saya dengan Jepang bukan dari musik, film atau pun buku sejarah. Saya justru mengenal Jepang dengan berbagai kebiasaan dan tradisinya dari komik, yang pernah saya ceritakan di sini. Saking pinginnya ke Jepang dan saking cintanya sama gratisan, saya sampai ikut kuis segala (walaupun tetep ga menang huft). 

Tanggal 30 April 2017 saya dan seorang teman berangkat dari bandara Soekarno Hatta terminal 2F menuju bandara Haneda di Tokyo. Agak impulsif sih, karena tiket seharga 4,8 juta pp baru dibeli sebulan sebelumnya. Waktu saya berangkat, belum ada penerbangan AirAsia dari Indonesia langsung ke Jepang. Jadi saya harur transit di Kuala Lumpur dulu selama 4 jam. Setelah penerbangan sekitar 7 jam, sampailah saya di Bandara Haneda sekitar pukul 22.30 waktu setempat (jam di Jepang sama kaya WIT).

Karena liburan ke Jepang adalah liburan hemat, saya dan teman saya sengaja untuk menginap di bandara semalam biar ga perlu keluar duit buat hotel. Soalnya, harga penginapan di Jepang lumayan mahal kalo dibandingin negara-negara Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi seperti Thailand, Kamboja dan Vietnam.

Menginap di bandara ternyata jadi pilihan buat traveler (kere) seperti saya. Di lantai 2 bagian kedatangan, kursi-kursi tunggu sudah dipenuhi manusia-manusia selonjoran. Sebetulnya sih saya sudah dapat kursi panjang buat ngelurusin kaki. Tapi, di ruang tunggu lantai 2 ga ada colokan buat ngecharge henpon. Ada colokan sih di meja dekat kursi panjang, tapi jumlahnya sangat terbatas. Akhirnya saya memilih hijrah ke lantai 3 bagian keberangkatan yang jumlah colokannya melimpah. Tapi resikonya, saya ga bisa selonjoran karena kursi panjangnya dipakai duduk oleh fakir colokan seperti saya. Ga papa lah berkorban dikit, yang penting baterai henpon penuh buat foto-foto keesokan harinya. 

Suasana lantai 2 bandara Haneda yang dipenuhi treveler (kere)

Pukul 5 pagi, langit di Tokyo sudah terang. Tapi saya menunggu jam 6 pagi sebelum pergi dari bandara, karena harus mengambil wifi portable Telecom yang sudah saya pesan sebelumnya dari Jakarta. Setelah mengambil wifi portable dan sarapan di Lawson lantai dasar (saya jatuh cinta sama yakitori kulit ayam Lawson!), saya mencari jalan keluar untuk pergi dari bandara. Untuk menuju pusat kota, sebetulnya ada beberapa alternatif seperti naik bus (saya ga tau tarifnya berapa) atau naik taksi dengan tarif ¥7.000 (berdasarkan info google maps, kalo dirupiahkan sekitar IDR840.000). Mahal. Mending duitnya buat beli sepatu. Hahaha.. Pilihan untuk keluar dari bandara jatuh pada monorail dengan harga tiket ¥340 menuju Tenozu Isle.


Transportasi mahal di Tokyo

Keberangkatan saya ke Jepang bisa dibilang mendadak dan kurang riset. Jadi saya ga sempat cari tahu berapa tarif kereta maupun bus untuk keliling Tokyo. Karena saya cukup lama ngendon di bandara, jadi saya bisa cari info ke tourist office di lantai 2. Dari brosur yang saya baca-baca, ada info tentang Tokyo Subway Pass. Buat yang pernah ke Singapore, mirip-mirip lah sama kartu Singapore Tourist Pass yang bisa dipake untuk naik kereta dan bus. Tapi Tokyo Subway Pass cuma bisa dipakai untuk Tokyo Metro dan Toei Subway. Selain dua line kereta itu ada line kereta lain, tapi ga bisa pakai si kartu sakti alias harus bayar lagi. 

Logo kereta yang bisa pakai kartu sakti. Selain logo itu, sebaiknya dihindari karena harus bayar lagi.

Ada 3 jenis kartu Tokyo Metro Subway Pass. Kartu 24 jam seharga ¥800, kartu 48 jam seharga ¥1.200 dan kartu 72 jam seharga ¥1500. Menurut saya sih jauh lebih hemat daripada beli tiket ngeteng. Kalau tiket ngeteng, tarifnya bisa mencapai ¥170-¥310 sekali trip. Dalam sehari saya bisa melakukan beberapa trip, belum kalo pake nyasar. Kalau mau ngeteng, ada alternatif lain selain bayar cash di mesin pembelian tiket, yaitu menggunakan kartu Pasmo dan Suica (semacam e-money yang bisa dipake buat bayar di mini market juga). Tapi kalau pakai e-money tersebut, tarifnya cuma didiskon ¥5 saja. Jadi itungannya tetep mahal. Jalur kereta Tokyo Metro dan Toei mencakup hampir seluruh kawasan Tokyo kok, cuma kudu pinter-pinter baca peta biar tau nyambung-nyambungin jalur yang ga nyambung. Misalnya kalo kita pengen ke Shibuya dari Shinjuku, ga ada akses langsung dengan Tokyo Metro Line. Adanya akses kereta JR Yamada Line. Tapi bisa aja diakali dengan naik kereta ke Akasuka dulu, baru nyambung ke Shibuya. Menunggu kereta datang juga ga lama kok. Lima menit sudah paling lama untuk menunggu kedatangan kereta. Palingan hindari jam-jam orang masuk dan pulang kantor, karena bakal lumayan penuh.

Kartu sakti dan peta yang menentukan jalanku. Tanpanya, aku tak berguna bagai butiran debu.

Kalau baca komik, orang-orang Jepang pergi dan pulang kerja naik kereta. Baju kerja pun rapi banget, pakai jas lengkap dengan dasi. Saya pikir itu cuma ada di komik, tapi ternyata beneran orang-orang kerja bajunya rapi banget. Berbanding terbalik sama baju kerja saya yang kadang pakai seragam, kadang bebas sesuai kebutuhan liputan.

Pekerja-pekerja keluar dari stasiun Tokyo Teleport, Odaiba


Makanan serba mahal

Tokyo merupakan salah satu kota termahal di dunia. Sebagai warga negara Indonesia yang terbiasa makan murah, harga makanan di Tokyo lumayan bikin nyesek. Sekali makan, saya bisa menghabiskan sekitar ¥500 (kalo dirupiahin IDR60.000). Padahal ya makanan biasa aja, semacam ramen maupun rice bowl pinggir jalan. Sekedar jajan pinggir jalan pun lumayan mahal. Harga takoyaki misalnya, dibanderol ¥600 untuk isi 8 biji. 

Namanya lagi di negeri orang, pasti pengen ngicipin makanan yang jadi ciri khasnya. Tapi ada baiknya kalo kita harus ngirit sesekali. Teman perjalanan saya membawa dendeng dari Jakarta, sementara saya bawa abon. Cukup beli nasi di mini market, perut udah ga bakal teriak-teriak lagi. Harga nasi sekitar ¥270 per 3 box. Jadi kami membagi 2 masing-masing 1,5 box. Kalau mau tambahan lauk, bisa juga beli yakitori di Lawson yang harganya lumayan murah, yaitu ¥127. SEKALI LAGI, SAYA PALING SUKA YAKITORI KULIT AYAM! Enak! Buat sarapan, bisa beli onigiri di convenience store juga dengan harga ¥100.

Ngirit sih boleh aja, tapi saya ga mau juga terlalu pelit pada diri sendiri. Walaupun ada kalanya ngirit, ada kalanya saya beli makanan yang harganya lumayan mahal. Di pasar ikan Tsukiji, banyak warung-warung sushi bertebaran. Tapi teman saya mengajak ke Sushizanmai yang konon sudah terkenal se-galaksi bimasakti. Harga sushinya sih bervariasi, tapi saya memilih paket sushi yang lumayan lengkap tapi ga mahal-mahal amat.

Entahlah ini namanya paket apa, harganya ¥2.000

Kalau untuk minuman, harga sebotol air mineral ukuran 600ml biasanya dibanderol ¥90-130, baik di mini market maupun vending machine. Di seluruh penjuru Tokyo, vending machine minuman bisa ditemui di manapun. Jadi ga perlu kuatir kalau lagi jalan tiba-tiba kehausan. Kalau mau hemat, sebetulnya bisa mengisi ulang di keran air minum. Tapi kok saya jarang menemui keran begituan di Tokyo. Alternatifnya, pagi sebelum berangkat plesir saya mengisi ulang air minum di hotel. Hotel-hotel (murah) di Tokyo menyediakan air minum gratis bagi para tamu. Jadi lumayan hemat buat biaya air minum.

Vending machine minuman di salah satu sudut Shibuya. Ajaibnya, semua vending machine yang saya temui ga ada yang rusak.


Tokyo versi modern

Saking demennya sama Jepang, waktu belajar photoshop jaman kuliah dulu saya pernah bikin foto seolah-olah lagi di Tokyo, berlatar belakang gemerlapnya lampu-lampu di kawasan pertokoan. Siapa sangka di tahun 2017 ini saya bisa melihat langsung warna-warni lampu pertokoan di kota Tokyo, baik di kawasan Shinjuku, Akihabara maupun Shibuya. Pusat-pusat shopping di Tokyo tersebut bisa diakses melalui jaringan rel kereta Tokyo Metro. 

Halan halan di Akihabara. Tapi ga ketemu AKB48.

Selfie di Shibuya Cross

Shibuya Cross malam hari

Saya berada di Jepang dari tanggal 30 April sampai 7 Mei. Ternyata, tanggal tersebut pas banget dengan Golden Week, hari liburnya orang Jepang. Ada untungnya ada ruginya juga sih. Untungnya, banyak diskonan di pusat-pusat perbelanjaan. Ruginya, saya gagal ke Osaka karena tiket bus sudah sold out semua. Kegagalan saya ke Osaka akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Kita ngomongin untungnya aja lah yaa.. Berkat Golden Week, turis asing yang belanja di Jepang bisa bebas pajak kalau menunjukkan paspor. Di toko Onitsuka Tiger Shibuya, banyak banget turis asing yang memanfaatkan momen bebas pajak dengan pembelanjaan minimal ¥5.000. Di toko Onitsuka Tiger tersebut, sebagian besar orang Indonesia yang belanja, termasuk saya. 😱 Selain bebas pajak, ada juga tambahan diskon 5%. Sebagai pecinta diskonan minimal 50%, sebetulnya saya merasa terhina. Tapi setelah dikurangi pajak plus diskon 5% tersebut, harga sepatu jauh lebih murah dibandingkan harga di toko online Indonesia.

Shibuya nggak cuma terkenal sama wisata belanja, tapi wisata nyeberang jalan. Rada aneh sih, orang-orang nyeberang jalan aja bisa jadi atraksi wisata gratis. Selama 50 detik, lampu lalu lintas di Shibuya Cross merah. Orang-orang yang mau nyeberang dari keempat sisi langsung melintas secara berbarengan. Salah satu lokasi untuk melihat Shibuya Cross dari ketinggian adalah di lantai dua Starbucks gedung Tsutaya. Penyeberangan lewat zebra cross di Tokyo memang super aman. Kendaraan bakal mengalah pada pejalan kaki yang lagi nyeberang. Berbanding terbalik dengan kota Ho Chi Minh di Vietnam, mau nyeberang aja berasa harus mempertaruhkan nyawa. Tapi di sudut-sudut kota Tokyo seperti Nishi-Azabu, Kiba maupun Minami-Senju yang relatif sepi, ada juga sih akamsi yang asal nyeberang tanpa mempedulikan lampu penyeberangan maupun zebra cross. Tapi karena sepi, jadi ya aman-aman aja.

Kalau ngomongin Shibuya, salah satu ikon yang terkenal adalah anjing Hachiko. Saking terkenalnya, kalau mau foto sama patung Hachiko di depan stasiun Shibuya kudu ngantri sama turis-turis lain. 

Selfie sama Hachiko ❤

Ada satu lagi tempat belanja yang cukup menarik, yaitu di stasiun Tokyo. Meskipun judulnya statsiun, di bagian basement ada juga tempat untuk berbelanja. Tenant yang sengaja saya datangi sampai berlama-lama dan teman saya bete adalah Tomica Shop. Buat yang demen mobil-mobilan Tomica, tempat ini adalah surga! Harga Tomica reguler ga jauh beda sama di Jakarta sih, yaitu ¥450 belum termasuk pajak. Sementara untuk Tomica Premium harganya ¥800-900 belum termasuk pajak. Meskipun dati segi harga ga jauh beda, tapi barangnya komplit. 

Tomica Shop di Stasiun Tokyo

Salah satu hasil buruan di Tomica Shop


Wisata kuil di Tokyo

Di balik gemerlapnya lampu-lampu kota Tokyo, masih tersimpan warisan budaya leluhur berupa kuil yang bisa dijumpai di beberapa tempat di Tokyo. Enaknya, wisata ke kuil-kuil ga dipungut biaya alias gratiiisss.

Salah satu kuil yang wajib dikunjungi adalah kuil Sensoji di Asakusa. Kuil Sensoji adalah kuil terbesar di kota Tokyo. Saya datang ke kuil Sensoji hari Jumat tanggal 5 Mei. Ternyataa.. dari tanggal 5-7 Mei ada perayaan Sanja Matsuri untuk menghormati tiga orang pendiri Sensoji. Jadi saat saya mengunjungi Kuil Sensoji, suasananya rameeeee banget. Karena baru hari pertama, festival Sanja Matsuri yang saya lihat baru mulai dari parade anak-anak. Konon di puncak Sanja Matsuri, suasananya jauh lebih ramai.

Andreas selfie di kuil Sensoji

Parade anak-anak di festival Sanja Matsuri

Di sekitar kuil Sensoji ada deretan kios-kios yang menjual berbagai macam hal. Jajanan, mainan dan pernak-pernik untuk oleh-oleh. Tapi ya gitu. Harganya mahaaaall. Satu buah magnet kulkas harganya ¥400-600. Terlalu mahal buat kantong saya yang pas-pas an. Jadi karena harganya mahal, saya ga beliin oleh-oleh untuk siapapun. Dibilang pelit saya ga peduli, daripada beli oleh-oleh tapi ga bisa makan. 😱

Selain kuil Sensoji, ada juga kuil Nezu di bagian utara Tokyo. Di kuil ini ada deretan gerbang yang selama ini cuma bisa saya lihat di foto instagram orang-orang.

Di Nezu Shrine. Foto: Silvano Hajid

Ada kuil Meiji yang letaknya tak jauh dari Shibuya. Serta kuil Bentendo di tengah-tengah Ueno Park.

Pas ke kuil Meiji, ada pernikahan tradisional Jepang

Kuil Bentendo di tengah Danau Shinobazu


Istana kekaisaran Jepang

Jepang adalah negara monarki yang bertahan cukup lama. Istana kekaisaran yang terletak di tengah kota, tak jauh dari stasiun Tokyo menjadi salah satu daya tarik wisata. Tapiiiii.. istana kekaisaran ga bisa dikunjungi kaya di Thailand maupun Kamboja. Konon, dalam setahun istana kekaisaran Jepang hanya dua kali dibuka untuk umum. Turis yang ingin melihat istana kekaisaran cuma bisa menengok dari kejauhan di jembatan Nijubashi. 

Cuma bisa melihat dari kejauhan tanpa memiliki. Kaya kamu. Iya.. Kamuu..


Patung Liberty di Tokyo

Nggak cuma kota New York yang punya patung Liberty. Di Tokyo juga ada, tepatnya di Odaiba. Untuk menuju ke Odaiba, kita ga bisa pakai Tokyo Metro Subway Pass. Jalur ke Odaiba cuma dilalui Rinkai Line yang artinya kita kudu bayar lagi untuk naik kereta. Ukuran patung Liberty nya memang nggak sebesar di kota New York. Dan sepertinya, Odaiba Statue of Liberty belum menjadi salah satu tujuan turis yang datang ke Tokyo. Bahkan, nampaknya orang Jepang sendiri ga ngeh ada patung Liberty. Soalnya pas udah di pinggir pantai, saya nanya ke anak muda yang lagi nongkrong di sekitar situ. Saya nanyain soal patung Liberty dan mereka ga tau sama sekali.

Mirip New York lah yaaa..


Tokyo Tower

Menara setinggi 332.6 meter yang berdiri tegak di kawasan Minato merupakan salah satu ikon utama Tokyo. Untuk menuju ke sana, saya berhenti di stasiun Akabanebashi menggunakan Tokyo Metro Subway Pass. Keluar dari stasiun Akabanebashi, sosok megah Tokyo Tower langsung terlihat. Saat mengunjungi Tokyo Tower, kebetulan pas menjelang perayaan koinobori, perayaan untuk anak laki-laki di Jepang. Jadi di pelataran Tokyo Tower, terpasang ratusan layang-layang koinobori warna-warni. Untuk naik ke menara dan melihat Tokyo dari ketinggian, sebetulnya nggak mahal. Cuma ¥900 saja. Tapi entah kenapa saya nggak kepingin naik. Ntar aja naik menara Eiffel kalo suatu hari berkesempataj mengunjungi Paris. Jadi saya cuma foto-foto aja dengan latar belakang menara Tokyo. 

Koinobori warna warni di pelataran Tokyo Tower

Foto di taman seberang Tokyo Tower

Kalau ke Jepang, biasanya turis akan mengunjungi Tokyo Disneyland maupun Universal Studio di Osaka. Tadinya saya berniat ke Universal Studio karena pengen ke wahana Harry Potternya. Harga tiket Universal Studio maupun Disneyland sama-sama mahal, sekitar 900 ribuan kalo dirupiahkan. Akhirnya saya ga mengunjungi keduanya. Bukan karena pelit, tapi saya lebih memilih berkunjung ke gunung salju Tateyama dengan tarif lebih mahal, yaitu ¥9000 atau sekitar 1 juta rupiah. Cerita soal gunung salju Tateyama akan saya ceritakan di episode lain.

Sampai jumpa!

Dari Komik ke Meja Makan

Standar

Waktu kecil, saya suka banget baca komik. Saya ga punya genre khusus buat baca komik, jadi kalo ada komik nganggur ya pasti saya baca. Biasanya komik bacaan saya sih yang ada lucu-lucunya. Misalnya Crayon Shinchan, Doraemon, Dororonpa, Kobo Chan, Time Limit dan sebagainya. Ada juga komik yang agak-agak cabul kaya Nube Guru Ahli Roh. Komik yang ceritanya di negeri antah berantah kaya Dragon Ball atau Dragon Pigmario. Atau komik serius yang butuh mikir kaya Detektif Conan (dari saya kelas 5 SD sampai sekarang ga tamat-tamat), Detektif Kindaichi dan Q.E.D.

Dulu saya ga mampu beli komik. Minta orang tua juga ga tega, wong harga komik termasuk mahal. Mending buat makan. Saya biasanya minjem komik ke teman atau tetangga, tapi lebih sering nyewa. Dulu, di dekat rumah saya ada persewaan komik, namanya KK book rental. Filosofinya bagus lho, karena nama KK merupakan singkatan dari Kejujuran awal dari Kepercayaan. Namanya nyewa komik emang harus jujur. Dikembalikan dalam keadaan baik dan tepat waktu. 

Harha sewa komik di KK terbilang murah kalo dibandingin tempat persewaan lainnya. Di dekat rumah saya ada tempat persewaan komik lain, namanya Tintin. Biaya pendaftaran 1000 rupiah dan untuk sewa dikenai 350 rupiah per komik selama 2 hari (ini sekitar tahun 97-99 lah yaa). Nah di KK ga dipungut biaya pendaftaran. Harga sewa komik juga lebih murah daripada Tintin, tapi saya lupa sih berapaan hehee.. Apalagi sewa 5 komik bonus 1 komik. Menyenangkan!

Sebetulnya ga butuh waktu lama buat melahap 6 komik sampai habis. Kalo pas nganggur-nganggur, biasanya ga sampe sehari komik-komik sewaan udah selesai saya baca. Karena sering sewa komik yang lucu-lucu, saya sering ketawa sendiri. Apalagi kebiasaan baca komik masih lanjut terus sampai saya kuliah. Ibu saya dulu sering bilang, “wis gede ok wacanane koyo ngono.” (sudah besar kok bacaannya kaya gitu). Tapi sejak tinggal di Jakarta, saya udah ga pernah baca komik karena ga nemu tempat persewaan komik kaya di Jogja. Seringnya baca whatsapp. Padahal baca whatsapp juga sia-sia, wong WA dari saya ga dibales, cuma centang biru doang. Huft. Aku jadi sedih.

Komik-komik yang saya baca biasanya berasal dari Jepang. Kalaupun ada komik yang ga dari Jepang, palingan Paman Gober. Membaca komik cukup menambah pengetahuan yang saya tentang Jepang. Misalnya, ayah Nobita dan ayah Kobo Chan berangkat dan pulang kerja naik kereta. Dari situ saya tahu kalau kereta adalah moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat Jepang. Agak sulit saya bayangkan waktu kecil, karena di Jogja ga ada sistem transportasi kereta dalam kota. Dari komik Doraemon saya juga tahu kalau setiap tahun di Jepang ada festival Koinobori. Saya juga jadi tahu kalau ada festival musim panas, di mana warga Jepang menggunakan Yukata, sejenis kimono yang dipakai khusus untuk musim panas. Sementara saat musim semi, melihat bunga sakura jadi salah satu aktivitas wajib di Jepang. Budaya memberi kado pada saat Natal juga bisa saya ketahui dari komik. Padahal, mayoritas penduduk Jepang menganut keyakinan Shinto dan Buddha. 

Dari komik, sedikit-sedikit saya tahu beberapa makanan khas Jepang. Seperti dorayaki makanan kesukaan Doraemon. Dulu saya pikir, dorayaki adalah makanan yang tercipta dari khayalan Fujiko F Fujio. Ternyata, dorayaki memang makanan tradisional Jepang yang sudah ada sejak awal tahun 1900. Dorayaki yang dulu terasa jauh bagi saya, sekarang dengan mudah didapat. Tinggal mampir ke Indomaret, dorayaki seharga 4500 rupiah sudah bisa saya bawa pulang. Walaupun dorayaki yang aslinya berisi kacang merah, dimodofikasi dengan isi pasta coklat karena disesuaikan dengan lidah Indonesia.

Dorayaki produk Sari Roti

Nggak cuma dorayaki, makanan-makanan yang dulu cuma saya baca di komik, sekarang sudah bisa tersedia di meja makan. Dan ga perlu jauh-jauh ke Jepang, cukup datang ke restoran Jepang yang mudah ditemui di Jakarta. Misalnya, di komik Time Limit, tokoh Nina Onoda sangat menyukai takoyaki. Ada juga cerita tentang okonomiyaki yang ternyata mirip takoyaki, tapi berbeda bentuk. Takoyaki berbentuk bola-bola, sementara okonomiyaki berbetuk bulat pipih.

Nina Onoda makan okonomiyaki dan takoyaki

Okonomiyaki di salah satu resto Jepang di Jakarta

Di komik Doraemon, ada cerita saat mulut Giant bau bawang setelah makan gyoza. Saya lupa cerita tersebut ada di komik nomor berapa. Tapi saya ingat betul, di komik Doraemon versi Indonesia, ada keterangan kecil tentang gyoza. Kurang lebih keterangannya kaya gini: gyoza: sejenis siomay yang terbuat dari bawang putih. Waktu saya kecil, yang kebayang ya siomay ala mas-mas yang keliling kampung naik sepeda. Tapi sekarang, saya bisa ikut merasakan gyoza yang dimakan Giant.

Penampakan gyoza di meja makan

Saya tidak tahu apakah dulu pemerintah Jepang sengaja mengekspor komik-komiknya keluar negeri untuk memperkenalkan budaya negeri matahari terbit. Tapi yang jelas, Jepang berhasil menyebarkan informasi tentang kebiasaan, budaya dan makanannya. Menurut saya, dulu restoran khas Jepang ga mudah dicari. Apalagi di Jogja, tempat saya dibesarkan. Kalaupun ada, restoran Jepang biasanya mahal dan ga mungkin terjagkau di kantong saya. Waktu remaja dulu saya pernah sih makan di restoran Jepang, namanya Tenpura Hana. Restonya bagus dan kayanya mahal (soalnya saya cuma ditraktir, jadi gatau harganya hahaa..). Sekarang, restoran khas Jepang di Jogja banyak ditemui. Begitu juga di Jakarta, tempat tinggal saya sekarang. Di satu mall aja saya menemukan lebih dari 10 restoran khas Jepang dengan berbagai bentuk.

Beberapa restoran khas Jepang di Central Park Mall dan Neo Soho

Di komik-komik yang saya baca, makanan khas Jepang biasanya ditampilkan dalam bentuk sederhana. Misalnya warung ramen, kalau di komik bentuknya biasa aja, mungkin mirip warung mie ayam. Sementara di sini, restoran khas Jepang dibuka di pusat perbelanjaan dengan tampilan mewah. Kehebatan Jepang dalam memperkenalkan kebudayaannya patut diacungi jempol. Buat yang pengen merasakan kebudayaan Jepang yang biasanya cuma bisa dilihat di komik, bisa mendatangi restoran khas Jepang maupun festival-festival budaya yang sering diselenggarakan di Indonesia. Tapi buat yang merasa hal tersebut ga cukup, bisa datang ke Jepang untuk merasakan pengalaman langsung, ga cuma lewat komik. Otomatis, pendapatan Jepang dari pariwisata akan bertambah. Apalagi, sekarang bisa ke Jepang tanpa visa asalkan pakai paspor elektronik.

Saya sih baru sebatas baca komik, makan di restoran khas Jepang dan datang ke festival budaya Jepang. Waktu kuliah, saya pernah coba-coba daftar beasiswa Monbukagakusho untuk kuliah di Jepang. Tujuannya ya pengen belajar sekaligus melihat langsung kehidupan di Jepang. Tapi sayang. Gagal. (Ga tau diri sih, wong beasiswanya buat jurusan teknik). 

Andreas di acara Jak-Japan Matsuri

Tapi gapapa, suatu hari nanti pasti saya bisa liburan ke Jepang. Konon, bulan Maret-April adalah waktu terbaik buat yang pengen liat bunga sakura bermekaran. Buat yang sibuk, pemalas kaya saya atau ga mau ribet, tinggal klik Paket Tour Jepang. Bisa juga klik HAnavi untuk paket eksklusif.

Seperti kata Rangga di AADC 2, traveling itu tentang menambah pengalaman, bukan sekedar bersenang-senang. Kurang lebih sih gitu. 😅

HIS Travel Indonesia

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Hari Ibu Tanpa Ibu

Standar

Hari ini hari ibu. Di keluarga saya, tidak pernah ada yang istimewa tiap tanggal 22 Desember. Maklum, keluarga saya bukan keluarga romantis. Bukan keluarga yang saling mengungkapkan rasa sayang lewat ucapan atau perbuatan. Mau hari ibu, hari pahlawan, ulang tahun atau hari kelulusan, semua lempeng-lempeng aja. Bahkan waktu saya lulus SD dengan NEM 43,31 pun (angka segitu dulu termasuk bagus yaa..) ga ada perlakuan istimewa. Dikasih kado kek. Lebihin uang jajan kek. Diajak makan enak kek. Ga ada. Ga ada duitnya juga sik. 

Hidup di keluarga yang lempeng membuat saya belajar hidup lebih mandiri. Waktu lulus SMP, saya cari SMA sendiri. Daftar sendiri. Nunggu pengumuman sendiri. Begitu pula waktu lulus SMA. Saya cari kampus dan daftar sendiri. Sampai lulus kuliah dan cari kerja pun, saya lakukan sendiri. Tapi bukan berarti semua biaya pendidikan saya sendiri juga. Saya bisa lulus kuliah karena perjuangan seorang ibu. 

Sejak saya masih anak-anak, ibu saya membuka warung kecil di rumah. Bangun jam 4 subuh buat siapin jualan. Lanjut ke pasar naik sepeda hitam berkeranjang. Pulang dari pasar langsung berjibaku di dapur sambil berjualan sampai siang. Belum cukup pengorbanan ibu sampai di situ. Dulu, setiap ada uang berlebih sedikit, ibu pasti membeli emas. Bukan sekedar untuk bersolek, emas dijadikan benda investasi. Setiap jelang bayar uang gedung atau daftar ulang sekolah, emas milik ibu dijual lagi. Begitu terus sampai saya lulus kuliah dan akhirnya keluar dari kota Jogja untuk bekerja di Jakarta.

1 Januari 2009, saya hijrah ke Jakarta. Ibu melepas saya di stasiun Yogyakarta dengan berlinang air mata. Berpisah dengan anak bungsu yang sudah dirawat selama 21 tahun, mungkin jadi salah satu hal terberat dalam hidupnya. Sementara saya, terlalu bersemangat mengadu nasib di ibukota sehingga lupa menanyakan apa yang ibu rasakan saat itu. Air mata ibu pun selalu jatuh saat mengantar saya ke bandara maupun stasiun, setiap saya pulang ke Jogja. Semalam apapun jam keberangkatan kereta maupun pesawat, ibu selalu bersikeras untuk ikut. Padahal saya selalu bilang, ga diantar pun ga papa.

Sejak akhir 2015, kondisi kesehatan ibu menurun. Ibu ga bisa lagi ikut melepas kepergian saya ke ibukota. Tapi air mata beliau tetap tumpah saat saya berpamitan di sisi tempat tidurnya. Sampai akhirnya pada tanggal 27 September 2016, bukan ibu yang melepas kepergian saya kembali ke ibukota. Sebaliknya, saya yang melepas kepergian ibu untuk selama-lamanya. Sedih sudah pasti, tapi saya tahu ibu sudah tidak merasakan sakit lagi. Di balik kesedihan pun, saya merasa bersyukur karena bisa menemani ibu hingga hembusa napas terakhirnya.

Tak ada yang sia-sia dari doa dan pengorbanan seorang ibu. Seorang ibu tidak akan menghitung seberapa besar pengorbanan yang sudah dilakukan untuk anak-anaknya. Seperti salah satu dialog dalam serial Devious Maids yang selalu membuat saya terkenang akan pengorbanan ibu: 

“Whatever sacrifices i make for you are none of your business. All you’ve got to do is grow up and be happy. And i’ll have everything i’ve ever wanted.” 
Selamat hari ibu ☺

Doeloe Sekarang

Standar

image

Hampir 5 tahun jadi bagian Divisi News Trans7, belum pernah saya se-sentimentil ini untuk sebuah program. Enam bulan di Redaksi Harian. Enam bulan di Redaksi Siang. Setahun di Warna. Sembilan bulan di Bumi Langit. Tiga bulan di New Warna. Setahun lebih dua bulan di Doeloe Sekarang.

Bukan faktor jangka waktu yang membuat saya sentimentil. Tapi karena setahun dua bulan yang lalu, sekitar Januari 2015, embrio program ini dibentuk. Tangan saya ikut terlinat membentuk program ini. Buah pikiran saya ikut menyumbangkan ide. Membentuk pola. Membuat alur. Menembus batas-batas program hingga berkembang seperti sekarang.

Walaupun ide dasar program Doeloe Sekarang bukan milik saya, tapi saya ikut menaburkan benih-benih kreatifitas dalam pembentukannya. Membuat program ini menjadi seperti “anak” saya. Seperti orang tua yang nggak rela kalau anaknya dihina. Dibentak. Dipermalukan oleh orang lain. Saya pun nggak rela kalau program ini hanya dipandang sebelah mata. Sedih saat ruh program hanya sedikit, bahkan tak nampak sama sekali dalam tayangan. Berduka saat share anjlok. Ikut bahagia saat share melonjak tinggi melebihi sinetron India.

3 Maret kemarin program Doeloe Sekarang menginjal usia setahun. Program yang membuat saya bisa pergi keliling Indonesia bahkan keluar negeri. Membuat saya lebih toleran terhadap orang lain. Membuat saya belajar tentang arti bijaksana namun tegas. Semakin mengerti kalau “cara berkomunikasi” menentukan “feedback” yang kita terima.

Terima kasih.

Kurang Piknik

Gambar

image

Setelah 2 tahun nggak nulis di blog. Akhirnya nulis lagi. Hahaa.. Bukan karena kurang piknik, justru karena kebanyakan piknik (baca: kerja sambil tamasya dikit). Alhamdulilah, karena kerjaan sebagai reporter, sepanjang 2015 bisa pergi ke mana-mana. Dibayarin pula. Kalau liat akun instagram saya, mungkin dikira saya traveller yang hobi keliling Indonesia. Hahaa..

Di sosial media kaya Path atau Instagram, banyak meme yang isinya tentang kurang piknik. Misalnya, kurang piknik menyebabkan nyinyir, suka mengeluh, suka begunjing dan bikin setres.

Kalau saya pergi keluar kota atau keluar negeri, sebagian besar karena penugasan kantor. Kalau pergi dengan kocek sendiri, mana mampu sebulan sekali saya beli tiket pesawat PP, sewa hotel, sewa mobil, jajan plus hura-hura. Namanya kerjaan, ya saya harus tanggung jawab dulu buat pekerjaan. Fokus untuk kelarin liputan seperti yang direncanakan. Sementara untuk piknik atau hura-hura ya kudu pinter atur waktu alias colongan.

Bisa pergi ke kota atau desa atau negara lain, memberi saya kesempatan untuk melihat kehidupan manusia lain. Bagaimana mereka hidup. Bagaimana mereka berinteraksi. Keyakinan apa yang membuat mereka bertahan hidup.

Saat melihat hidup manusia yang bahagia karena kesederhanaan atau karena harta, membuat saya belajar untuk mencapai kebahagiaan. Saat melihat hidup orang lain yang serba kekurangan, membuat saya bersyukur untuk hidup yang saya miliki.

Melihat dunia luar dan kehidupan manusia yang unik membuat saya lebih toleran. Orang yang tidak pernah atau jarang bepergian dan melihat hidup kelompok manusia lain, bisa jadi membuat pikirannya sempit dan sulit untuk toleran. Mungkin ini yang disebut kurang piknik menyebabkan nyinyir.

Di luar sana banyak kelompok manusia yang memiliki keyakinan yang tidak biasa. Salah satu desa di Madura masyarakatnya lebih nyaman tidur beralaskan pasir daripada tidur di kasur. Warga desa Komodo di Pulau Komodo percaya kalau binatang komodo adalah saudara mereka. Warga Sianjur Mula Mula di Sumatera Utara meyakini kalau semua suku Batak, bahkan semua orang yang memiliki marga berasal dari sana.

Salah atau benar, keyakinan itu yang dipercaya kelompok-kelompok manusia di luar sana. Buat manusia “normal”, tidur di pasir mungkin disebut “kafir”. Meyakini persaudaraan sama komodo mungkin disebut “dosa”. Mempercayai kalau semua orang yang memiliki marga berasal dari Sianjur Mula Mula bisa jadi disebut “naif”. Tapi itulah keunikan mereka. Kalau kita nggak mau percaya, ya nggak papa. Yang penting kita menghargai apa yang mereka yakini. Menghargai asal usul yang mereka percayai. Semakin banyak keunikan yang kita lihat, makin tinggi level toleransi kita.

Buat orang-orang yang hobi “mengkafirkan” orang lain, bisa jadi mereka kurang piknik. Kurang melihat kehidupan lain di luar kotak kehidupannya.

Mungkin saya sok menggurui. Tapi ini yang saya yakini: rajin piknik membuat pikiran segar dan makin toleran. Next time saya tulis pengalaman waktu keluar kota. Kalo sempat dan niat. Hehee..

I hate(d) English!

Standar

Namanya bu Iis. Sampai sekarang saya juga tidak tahu nama panjangnya. Untuk ukuran guru SD swasta di Yogyakarta, bu Iis termasuk guru yang menarik. Cantik, tinggi semampai dan suka memakai rok pendek. Bu Iis adalah guru bahasa Inggris yang mengajar di kelas saya selama 3 tahun, mulai dari kelas 4 sampai 6 SD.

 

Saya pikir sih saya termasuk beruntung, karena punya kesempatan belajar bahasa Inggris dari kelas 4 SD, sementara kakak tertua saya baru mulai belajar bahasa Inggris di kelas 1 SMP.  Tahun pertama belajar bahasa Inggris, saya cuma belajar yang paling bahasa Inggris yang paling simple.

 

“My name is Andre. I live in Yogyakarta.”

“This is a cat. This is a dog. This is a flower.”

“You are beautiful. She is a teacher.”

 

Yah kurang lebih begitu lah yang saya pelajari di kelas 4 SD. Dua tahun berikutnya, bahasa Inggris yang dipelajari mulai bikin kepala pusing. Bu Iis sudah mengajarkan tenses pada murid-muridnya. Sampai sekarang aja saya masih pusing sama tenses, gimana pas SD dulu? Apalagi, di rumah juga tidak ada yang bisa saya tanyai tentang bahasa Inggris.

 

Saya sekolah di SD Tarakanita Yogyakarta yang mayoritas muridnya berasal dari kaum berada. Saya sekolah di situ bukan karena orang kaya, tapi karena sekolah itu dekat dengan tempat tinggal saya. Tinggal ngesot lah kalo kata orang jaman sekarang. Saat teman-teman saya kesulitan dalam belajar bahasa Inggris di sekolah, mereka bisa bertanya pada guru les panggilan atau guru les di ELTI (dulu di Jogja, ELTI termasuk ngehits). Nah saya Cuma bisa mengandalkan pelajaran di sekolah saja. Soal vocabulary, saya hanya mengandalkan sebuah kamus buluk pemberian tante.

 

Saya ingat, dulu pernah mendapat PR untuk menerjemahkan sebuah artikel berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. ZONK banget! Saya panas dingin memikirkan bagaimana mengerjakan PR itu. Berdalih meminjam catatan teman, saya akhirnya mencontek terjemahannya. Waktu SD dulu, mencontek adalah perbuatan yang sangat sangat sangat hina. Tapi ya mau gimana lagi, daripada saya dapat nilai nol besar?

 

Lulus dari SD berkualitas bagus dengan peraturan ketat, saya melanjutkan sekolah di SLTP Negeri 7 Yogyakarta. Termasuk sekolah negeri berkualitas menengah lah. Di sekolah ini, saya mendapat pelajaran bahasa Inggris dari dasar lagi. Seperti mengulang pelajaran yang sudah saya terima di SD. Makanya waktu ulangan, saya sering dapat nilai bagus. Bahkan ulangan bahasa Inggris pertama di kelas 1, saya mendapat nilai 10. teman-teman saya banyak yang berdecak kagum. Kalau jaman itu sudah segaul sekarang, mungkin saya bakal bilang: “Yaelah biasa aja keleus!”

 

Guru bahasa Inggris waktu SLTP tidak semenyenangkan dan sepintar guru waktu SD. Bahkan guru waktu kelas 1 terkenal mesum. Tapi entah kenapa saya tidak pernah dimesumi (yakali!). Mungkin inilah yang membuat saya tidak lagi suka dengan bahasa Inggris, berbeda dengan semangat belajar sewaktu SD.

 

Di bangku SLTP, mata pelajaran yang diterima sudah lebih kompleks daripada di SD. Mata pelajaran IPA sudah terfokus menjadi fisika dan biologi. Mata pelajaran IPS terbagi menjadi sejarah, ekonomi dan geografi. Mata pelajaran lain menyita fokus yang lebih banyak, sehingga bahasa Inggris bukan menjadi prioritas saya. Pelajaran bahasa Inggris yang saya terima pun hanya begitu-begitu saja. Ilmu bahasa Inggris yang saya terima seolah tidak berkembang. Bukan salah gurunya memang, tapi pada akhirnya saya memilih untuk antipati pada pelajaran bahasa Inggris.

 

Di bangku SMA, pelajaran bahasa Inggris yang saya terima sudah lebih rumit. Selain tenses yang bikin pusing, masih ada gerund, kalimat aktif-pasif, conditional sentences dan materi lainnya yang tak kalah ruwet. Ditambah lagi, guru bahasa Inggris sewaktu SMA terkenal galak tanpa alasan. Entah karena saya yang sudah antipati duluan, otak saya yang terbatas atau cara mengajar yang tidak menyenangkaan, saya semakin antipati bahkan takut saat pelajaran bahasa Inggris.

 

Ketakutan tidak hanya terjadi pada saat pelajaran bahasa Inggris, tetapi juga pada saat ulangan atau ujian. Karena saya blank sama sekali dengan bahasa Inggris, saya sering mengarang indah saat ujian. Untungnya jaman SMA dulu sudah tidak ada soal essay. Cuma ada pilihan ganda. Jadi kesempatan mengarang lebih besar, pokoknya asal enak didengar. Misalnya ada soal yang pilihannya “is trying”, “has been trying”, “tried” dan “try”, saya akan memilih jawaban yang kedengarannya pantas. Padahal ya tidak menjamin jawabannya bener.

 

Bahasa Inggris semakin horor saat memasuki Ujian Nasional. Saat itu, mata pelajaran yang diujikan adalah matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tahun 2005, nilai minimum untuk bisa lulus adalah 4,25. Walaupun saya tidak bodoh-bodoh amat, nilai minimumitu sudah cukup bikin keder. Apalagi saya juga tidak mengikuti program-program bimbel seperti teman-teman kebanyakan, lagi-lagi karena tidak ada biaya. Untungnya, dengan jurus mengarang indah, saya berhasil lulus walaupun nilai bahasa Inggrisnya hanya sekitar 6.

 

Pentingnya bahasa Inggris justru saya sadari ketika di bangku kuliah. Dosen bahasa Inggris saya di kampus sebetulnya termasuk galak dan tegas. Namanya miss Siwi. Berbading terbalik dengan bu Iis yang cantik dan seksi, miss Siwi berpenampilan unik ala wanita kantoran salah umur. Di usianya yang STW alias setengah tua, miss siwi berpenampilan rambut potongan pendek, bedak putih tebal dan gincu merah merona.

 

Meskipun penampilannya unik, justru miss Siwi lah yang menyadarkan saya pentingnya bahasa Inggris. Pada pertemuan pertama, beliau menanyakan pada seluruh mahasiswa di kelas: “Apa tujuan kalian belajar bahasa Inggris?” Hingga saat itu, saya tidak pernah memikirkan untuk apa saya belajar bahasa Inggris. Selama ini saya hanya belajar supaya tidak gagal ujian. Itu saja. Tidak lebih. Miss Siwi lah yang menyadarkan saya bahwa belajar bahasa Inggris bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri kita sendiri. Untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sejak saat itulah, saya mulai lumayan serius belajar bahasa Inggris. Saya mulai belajar memperkaya kosa kata, mempelajari susunan kata dan menonton serial atau film sambil mendengarkan dialog secara seksama, tak sekedar membaca subtitle seperti yang sering saya lakukan sebelumnya.

 

Sampai saat ini pun, saya masih terus belajar dengan metode tersebut. Saya sering mengunduh serial TV Amerika untuk belajar bahasa Inggris. Karena hasil unduhan, serial TV yang saya tonton tidak ada subtitlenya. Namun justru dari situlah saya bisa melatih kemampuan listening dan saya semakin percaya diri dalam memahami dialog.

 

Walaupun memahami dialog, saya kurang percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Paling saya hanya menyelipkan sedikit bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Campur-campur ala Cinta Laura gitu lah. Pekerjaan saya sebagai reporter kadang mengharuskan saya untuk berkomunikasi secara aktif dengan bahasa Inggris. Namun selama bekerja, saya masih jarang menggunakan bahasa Inggris secara aktif dengan native speaker. Saya beberapa kali mewawancari orang-orang asing yang bukan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu.

 

Saya pernah sih ditugaskan ke luar negeri, yaitu di Thailand. Di sana pun, orang-orang tidak menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Kalau pun ada, bahasa yang digunakan ala kadarnya, sama seperti yang saya lakukan. Yang penting sama-sama tahu. Makanya, saya sangat ingin pergi ke negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu seperti Inggris, Amerika Serikat atau Australia.

 

Nah karena Mister Potato mau mengajak ke Inggris, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Memenangkan hadiah utama ke London bukan sekedar keinginan atau impian saja, tetapi kebutuhan. Saya butuh untuk mencoba menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Di London, mau tidak mau saya harus berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Yang lebih menantang, bahasa Inggris yang digunakan dikenal memiliki logat yang sulit dipahami, berbeda dengan Amerika atau Australia.

 

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk aktualisasi diri. Pergi ke London adalah salah satu pemenuhan aktualisasi diri bagi saya. Untuk membuktikan bahwa sekalipun saya masih pas-pasan dalam berbahasa Inggris, saya bisa pergi ke sana. Saya mampu berkomunikasi dengan keterbatasan yang saya miliki. Seperti yang pernah ditulis Windy Ariestanty di blog dengan judul Mencari Sebuah Handuk, bahasa hanyalah alat pendukung dalam berkomunikasi. Tapi bukan berarti, tidak penting untuk belajar dan mempraktekkan bahasa untuk memperlancar komunikasi.

 

Jadi, Mister Potato, bawalah saya ke London! 🙂

 

 

 

image

#InggrisGratis