Monthly Archives: Februari 2016

Kurang Piknik

Gambar

image

Setelah 2 tahun nggak nulis di blog. Akhirnya nulis lagi. Hahaa.. Bukan karena kurang piknik, justru karena kebanyakan piknik (baca: kerja sambil tamasya dikit). Alhamdulilah, karena kerjaan sebagai reporter, sepanjang 2015 bisa pergi ke mana-mana. Dibayarin pula. Kalau liat akun instagram saya, mungkin dikira saya traveller yang hobi keliling Indonesia. Hahaa..

Di sosial media kaya Path atau Instagram, banyak meme yang isinya tentang kurang piknik. Misalnya, kurang piknik menyebabkan nyinyir, suka mengeluh, suka begunjing dan bikin setres.

Kalau saya pergi keluar kota atau keluar negeri, sebagian besar karena penugasan kantor. Kalau pergi dengan kocek sendiri, mana mampu sebulan sekali saya beli tiket pesawat PP, sewa hotel, sewa mobil, jajan plus hura-hura. Namanya kerjaan, ya saya harus tanggung jawab dulu buat pekerjaan. Fokus untuk kelarin liputan seperti yang direncanakan. Sementara untuk piknik atau hura-hura ya kudu pinter atur waktu alias colongan.

Bisa pergi ke kota atau desa atau negara lain, memberi saya kesempatan untuk melihat kehidupan manusia lain. Bagaimana mereka hidup. Bagaimana mereka berinteraksi. Keyakinan apa yang membuat mereka bertahan hidup.

Saat melihat hidup manusia yang bahagia karena kesederhanaan atau karena harta, membuat saya belajar untuk mencapai kebahagiaan. Saat melihat hidup orang lain yang serba kekurangan, membuat saya bersyukur untuk hidup yang saya miliki.

Melihat dunia luar dan kehidupan manusia yang unik membuat saya lebih toleran. Orang yang tidak pernah atau jarang bepergian dan melihat hidup kelompok manusia lain, bisa jadi membuat pikirannya sempit dan sulit untuk toleran. Mungkin ini yang disebut kurang piknik menyebabkan nyinyir.

Di luar sana banyak kelompok manusia yang memiliki keyakinan yang tidak biasa. Salah satu desa di Madura masyarakatnya lebih nyaman tidur beralaskan pasir daripada tidur di kasur. Warga desa Komodo di Pulau Komodo percaya kalau binatang komodo adalah saudara mereka. Warga Sianjur Mula Mula di Sumatera Utara meyakini kalau semua suku Batak, bahkan semua orang yang memiliki marga berasal dari sana.

Salah atau benar, keyakinan itu yang dipercaya kelompok-kelompok manusia di luar sana. Buat manusia “normal”, tidur di pasir mungkin disebut “kafir”. Meyakini persaudaraan sama komodo mungkin disebut “dosa”. Mempercayai kalau semua orang yang memiliki marga berasal dari Sianjur Mula Mula bisa jadi disebut “naif”. Tapi itulah keunikan mereka. Kalau kita nggak mau percaya, ya nggak papa. Yang penting kita menghargai apa yang mereka yakini. Menghargai asal usul yang mereka percayai. Semakin banyak keunikan yang kita lihat, makin tinggi level toleransi kita.

Buat orang-orang yang hobi “mengkafirkan” orang lain, bisa jadi mereka kurang piknik. Kurang melihat kehidupan lain di luar kotak kehidupannya.

Mungkin saya sok menggurui. Tapi ini yang saya yakini: rajin piknik membuat pikiran segar dan makin toleran. Next time saya tulis pengalaman waktu keluar kota. Kalo sempat dan niat. Hehee..