Monthly Archives: Juli 2011

Robohnya Surau Kami

Standar

Sewaktu saya duduk di bangku SMA dulu, guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, ibu Sri Murtiningsih pernah membacakan sebuah cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. Cerpen ini bercerita tentang kisah seorang kakek penjaga surau yang merasa sedih dan murka, sehingga akhirnya bunuh diri karena cerita seorang tokoh bernama Ajo Sidi tentang Surga dan Neraka. Bagi yang belum pernah baca, bisa klik disini dan bisa juga datang ke toko buku terdekat untuk membeli atau sekedar numpang baca. :p

Di cerpen ini, saya tertarik dengan tokoh Ajo Sidi. Saat duduk di kelas 1 SMA dulu, saya berpendapat bahwa Ajo Sidi adalah tokoh antagonis yang secara tidak langsung menyebabkan kematian kakek. Apalagi, diceritakan juga bahwa Ajo Sidi adalah seorang pembual. Tokoh “aku” yang marah pada Ajo Sidi juga mau tak mau mempengaruhi penilaian saya.

Setelah 9 tahun saya tidak membaca cerpen “Robohnya Surau Kami”, kemarin saya berkesempatan untuk membacanya kembali. Saya kembali tertarik dengan tokoh Ajo Sidi. Namun kali ini penilaian saya berubah. Saya tidak lagi menganggap Ajo Sidi sebagai tokoh antagonis, seperti anggapan saya pada saat usia saya masih muda alias masih ababil. Menurut saya, cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh bukanlah bualan belaka. Ia hanya menceritakan kisah yang memang sungguh terjadi. Kisah tentang orang-orang yang menganggap dirinya suci dan rajin namun kurang peduli pada sesamanya.

Meskipun cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh cukup menampar batin si kakek, bukan salah Ajo Sidi jika akhirnya kakek memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menggorok leher menggunakan pisau yang diasahnya sendiri. Menurut saya, justru si kakek yang salah karena bukannya sadar setelah mendengar cerita Ajo Sidi, tapi malah tersinggung. Bukankah akan lebih baik jika si kakek merenungkan cerita tentang Haji Saleh dan kemudian mengambil keputusan untuk mengubah sikapnya selama ini dan menjadi lebih peduli pada sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menjumpai orang-orang seperti Haji Saleh dan kawan-kawannya. Orang “suci” yang memahami kitab suci, rajin beribadah dan selalu berdoa sepanjang hari hingga akhirnya lalai mempedulikan sesama manusia. Sebagai umat Kristen, saya pun sering menjumpai hal semacam itu. Orang-orang yang rajin beribadah, rajin pelayanan dari Senin sampai ketemu Senin lagi. Pulang sekolah, pulang kuliah atau pulang kerja langsung ke gereja untuk mengerjakan berbagai macam kegiatan. Dari latihan paduan suara, rapat natalan, ibadah pemuda, persiapan ibadah, hingga doa semalam suntuk hingga akhirnya keesokan harinya suntuk seharian gara-gara ngantuk.

Kegiatan semacam itu memang bukan hal yang salah. Tetapi ketika kita lebih fokus dalam kegiatan-kegiatan gerejawi yang seolah-olah suci dan kita kurang peka pada kebutuhan orang-orang di sekitar kita, maka sia-sialah semua yang kita kerjakan. Dalam alkitab terdapat 2 hukum yang menjadi pedoman orang Kristen.

Read the rest of this entry