Monthly Archives: November 2012

belajar dari ketidaksempurnaan

Standar

Gara-gara malam ini saya susah tidur, saya jadi nguthek-nguthek henpon terus. Iseng-iseng saya buka facebook yang entah sudah berapa lama tidak saya perhatikan lagi. Ada notifikasi dari Karlina, salah seorang teman lama. Lama sekali bahkan, karena saya sudah kenal sejak jaman sekolah minggu. Yah sekitar kelas 4 SD lah kalau saya gak salah ingat.

Dari ngeklik akun facebook Karlina, saya menemukan teman lama lainnya, Ajeng. Dari Ajeng, merembet ke teman lama kami yang lain, Saksomo Ardi. Dari akun facebook, saya beralih ke jejaring sosial lainnya yang sekarang lebih ngetren, twitter. Ternyata teman-teman lama saya pun aktif di jejaring sosial burung biru ini. Dari situlah akhirnya saya stalking teman-teman lama yang sudah saya kenal dari usia belia.

Dari stalking teman-teman lama inilah, saya melihat bahwa mereka masih aktif melakukan pelayanan. Masih sama seperti masa kanak-kanak hingga remaja dulu, saat kami masih aktif dalam berbagai kegiatan gereja. Paduan suara, vocal group, drama natal, pengurus remaja, kunjungan ke rumah-rumah dan sebagainya. Namun ada satu hal yang saya lihat berbeda pada pelayanan mereka. Jika dahulu di gereja kami, GKI Wongsodirjan, pelayanan lebih menitikberatkan pada “kegiatan gerejawi”, kali ini teman-teman saya lebih terpanggil untuk melakukan pelayanan terhadap sesama.

Pikiran saya melayang pada masa kecil, saat saya masih berstatus sebagai anak sekolah minggu. (Di gereja, anak2 biasanya tidak ikut ibadah orang dewasa, tapi ada kegiatan sendiri yang namanya sekolah minggu). Dulu saat sekolah minggu, saya tidak mengerti apa makna menjadi orang Kristen. Saya hanya tau bahwa setiap minggu saya harus ke gereja, yang artinya saya gak bisa nonton kartun-kartun favorit pada hari minggu. Saya hanya tau tentang kisah-kisah alkitab tanpa menyadari bahwa setiap kejadian di alkitab merupakan campur tangan Tuhan.

Beranjak remaja, saya semakin aktif dalam “pelayanan gerejawi”. Saya ikut berbagai kegiatan, sampai-sampai hampir setiap hari saya ada di gereja (di luar sekolah tentunya). Bersama teman-teman lama yang saya sebutkan di atas tadi, saya terlibat dalam keperngurusan remaja gereja. Waktu itu saya jadi sie rohani, yang tugas utamanya mengatur jalannya ibadah setiap minggu. Cari pengkotbah, menentukan liturgos (pemimpin pujian) dan petugas-petugas lainnya, mengawasi persiapan ibadah serta membuat program-program tahunan. Hampir setiap hari sibuk lah pokoknya..

Waktu menjalani berbagai macam kesibukan di gereja, saya merasa tidak ada yang salah. Saya melakukan ini itu untuk gereja dengan judul “pelayanan”. Namun saya baru menyadari, bahwa apa yang saya lakukan belumlah cukup. Saya tidak mengenal siapa yang saya layani, yaitu yang empunya gereja, Tuhan saya. Saya baru menyadarinya saat saya tidak lagi terlibat dalam pelayanan remaja di gereja, tepatnya saat saya duduk di bangku kuliah.

Waktu kuliah dulu, saya sudah tidak aktif lagi di gereja, karena pelayanan saya beralih ke PMK (persekutuan mahasiswa kristen) di kampus Atma Jaya (padahal saya gak kuliah di situ). Dari PMK lah saya belajar tentang lahir baru, mengenal Tuhan, mendengar suara Tuhan dan mengasihi jiwa-jiwa. Saat itulah paradigma tentang “pelayanan” berubah. Pelayanan bukan sekedar sibuk dengan berbagai kegiatan di gereja, melainkan mengasihi dan membawa jiwa-jiwa yang haus akan jamahan Tuhan.

Pelayanan yang pernah saya lakukan di gereja tidak salah, hanya saja belum sempurna karena saya tidak tahu siapa yang saya layani. Namun dari yang tidak sempurna lah saya belajar dan terus berusaha untuk menjadi sempurna di mataNya. Saya memang tidak memahami jalan Tuhan. Mungkin saya memang harus melewati berbagai ketidaksempurnaan sehingga akhirnya saya bisa terus belajar dan mengerti apa arti kesempurnaan. Bukan hanya dalam pelayanan, tetapi juga seluruh aspek kehidupan. Keluarga, pekerjaan, sahabat, masa depan dan semua yang Tuhan percayakan dalam hidup saya.

Saat ini pun saya sedang dihadapkan dengan sesuatu yang baru. Saya tidak mengerti apa yang saya hadapi. Kenapa harus saya alami. Tapi satu hal yang saya percaya, Tuhan akan selalu memberi kekuatan di tengah hujan badai sekalipun. PenyertaanNya sempurna hingga nanti saya memperoleh mahkota yang gilang gemilang. Walaupun sempat galau dan bikin kepala migren, saya percaya bahwa jalan yang saya lewati sesuai dengan kehendakNya. Amin. 🙂

jalanMu tak terselami

oleh setiap hati kami

namun satu hal yang kupercaya

ada rencanaMu yang indah

tiada terduga kasihMu

heran dan besar bagiku

arti kehadiranMu selalu

nyata di dalam hidupku

penyertaanmu sempurna

rancanganMu bagiku penuh damai

aman dan tinggal sejahtera

walau di tengah badai

inginku selalu bersama

rasakan keindahan

arti kehadiranMu, Tuhan..

Ini adalah salah satu lagu kesukaan saya, judulnya Arti KehadiranMU ciptaan Jonathan Prawira. Kalau dilihat, setiap lirik merupakan kepanjangan dari nama Jonathan Prawira. Keren yak.. ^^

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

the emejing Thailand

Standar

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Ketika sebuah jalan terbuka dan kita memang harus masuk ke jalan itu, tidak ada yang bisa menghalangi, menunda atau mempercepat. Seperti yang saya alami 2 bulan yang lalu. Bulan september kemarin saya berencana untuk membuat paspor, sebagai langkah iman untuk go internasional. Waktu itu libur saya masih hari Minggu-Senin, dan berencana bikin paspor pada hari Senin. Namun 3 hari sebelum Senin, yaitu hari Jumat saya disuruh atasan saya untuk segera mengurus paspor hari itu juga. Jadilah sepanjang hari itu saya berjibaku meminjam kartu keluarga milik tante saya, lari-larian mengambil ijazah untuk segera diserahkan ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan.

Waktu mengurus sih saya belum diberi tahu oleh atasan saya, kenapa saya tiba-tiba mak jeganggik disuruh bikin paspor? Ternyata, saya diberi amanah untuk ditugaskan ke Thailand dan membuat satu episode program Redaksi Siang Akhir Pekan. Saya pikir: “mimpi apa saya dipercaya untuk DLN (Dinas Luar Negeri)?” Di kantor saya termasuk masih baru dan belum membuat sesuatu yang spektakuler. Selain itu banyak reporter yang masuk jauh sebelum saya, tapi belum pernah merasakan DLN. Di situlah saya melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui atasan-atasan saya. Saya diberi kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkan.

Tanggal 22 September, saya pun berangkat ke Bangkok menggunakan pesawat Air Asia bersama rombongan wartawan lainnya yang diundang Tourism Authority of Thailand. Perjalanan berlangsung selama kurang lebih 3 jam dan saya sangat grogi karena gak tau apa yang akan saya temui dan hadapi di sana. Cari tau lewat browsing dan tanya-tanya sama teman yang tinggal di Bangkok sih sudah, tapi tetep aja pasti rasanya bakal beda banget. Di Indonesia saya biasa liputan dan membuat naskah untuk Redaksi Siang yang hanya berdurasi 3-5 menit. Nah ini saya disuruh bikin 1 episode Redaksi Siang Akhri Pekan yang durasinya 20 menitan, di luar negeri pula. Tapi ya sudah lah, saya berserah saja kepada Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.. 🙂

Sampai di Bangkok, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Bandara Suvarnabhumi tuh gede banget, kalo jalan kaki bisa gempor. Pantesan di sepanjang jalan banyak travelator sebagai fasilitas untuk pengunjung yang mungkin kelelahan dalam perjalanan. Dan memang banyak sekali turis asing yang datang ke bandara ini. Jam segitu aja di bagian imigrasi antriannya penuh banget. Salah satu bukti keberhasilan pemerintah Thailand mempromosikan pariwisatanya.

di dalam bandara Suvarnabhumi

Di bandara, rombongan kami mulai mengaktifkan ponsel masing-masing. Saya sih ogah, karena pasti langsung kena biaya roaming. Dan benar aja, setelah ponsel mulai diaktifkan, muncul notifikasi sms dari provider yang berisi ucapan selamat datang di Thailand, yang ternyata tidak gratis. Rencana saya sih mau jadi fakir wi-fi aja selama di negeri orang. *hemat bersahaja*

Keluar dari bandara, kami langsung mencari makan malam yang sudah sangat amat terlambat. Usai makan, rombongan kembali berurusan dengan dunia per-henpon-an. Kami mencari Seven Eleven untuk membeli nomor lokal, jadi kami bisa mengaktifkan akses layanan Blackberry. Kata pemandu kami, provider dengan akses internet yang cukup baik adalah TrueMove. Saya sih bertahan dengan pendirian saya untuk menggunakan akses wi-fi saja sampai di hotel nanti.

Di Indonesia, saya belum pernah menginap di hotel bintang 5. Nah di Bangkok, saya malah merasakan nyamannya tinggal di Hotel Grand Hyatt Erawan Bangkok. Kamarnya bagus dan besar. Kamar mandinya juga keren. Tapiii.. akses wi-fi di hotel ini gak gratis alias harus bayar. Lumayan mahal lagi, sekitar 700 Baht per 24 jam, setara dengan Rp. 210.000. Jadi batallah rencana saya untuk ber-wi-fi gratisan.

kamar di Hotel Hyatt Erawan Bangkok dengan pemandangan kota dan BTS

Tengah malam, para lelaki berencana jalan-jalan di sekitar hotel untuk melihat-lihat seperti apa kota Bangkok pada malam hari. Sekalian saja saya ikut biar bisa sekalian mampir ke Sevel lagi. Di Sevel, saya membeli kartu perdana TrueMove seharga 150 Baht. Gak tau isi pulsanya berapa, yang penting kartunya aktif dulu. Setelah kartunya aktif, saya menerima sms dengan huruf Thai. Siapa coba yang pusing liat tulisan yang gak bisa dibaca? saya pun mencoba menghubungi customer service untuk menanyakan bagaimana caranya mengaktifkan layanan BB. Entah siapa yang salah, waktu saya minta diubah ke bahasa Inggris, tetep aja mbak-mbaknya ngoceh pake bahasa Thailand.

siapa yang gak pusing liat sms begini?

Untungnya ada teman SMA saya, Atrida Hadianti yang tinggal di Bangkok dan saya sudah punya nomor kontaknya. Jadi saya bisa bertanya-tanya gimana caranya mengaktifkan layanan Blackberry. Untuk layanan 3 hari, ketik BB3 kirim ke nomor 92323. Sedangkan untuk layanan 7 hari ketik BB7 ke nomor yang sama. Kalau tidak salah. tarif untuk 3 hari 70 Baht. Lumayan lah biar bisa tetep eksis di dunia per-BB-an. Hehehehee..

Tujuan pertama kami di Thailand adalah mengunjungi propinsi Ayutthaya yang terletak di utara kota Bangkok. Kami berkendara selama 2-3 jam menggunakan mobil. Waktu itu hari minggu, jadi kondisi lalu lintas tidak terlalu padat. Pada hari biasa, jalanan Bangkok gak kalah macet kaya Jakarta. Tapi di Bangkok agak rapi dan pengguna mobil jarang sekali membunyikan klakson walaupun macet.

lalu lintas Bangkok. Banyak taksi warna pink ;D

Di Ayutthaya, kami mengunjungi istana bernama Bang Pa In. Di sini kami tidak boleh mengambil gambar menggunakan kamera video. Hanya kamera foto saja yang diijinkan masuk. Jadi di sini saya tidak bisa melakukan peliputan. Istana Bang Pa In berisi bangunan-bangunan yang menjadi tempat peristirahatan bagi keluarga Raja. Waktu ke sini, cuaca sangat panas, sehingga kami harus berkeliling dengan kondisi gembrobyos.

Bang Pa In Palace

Selain Bang Pa In Palace, di Ayutthaya terdapat sebuah kompleks bersejarah yang disebut Ayutthaya Historical Park. Kawasan ini tadinya merupakan ibukota Thailand sebelum dipndahkan ke Bangkok. Perang dengan bangsa Myanmar menyebabkan ibukota Ayutthaya hancur sehingga hanya menyisakan puing-puing bangunan. Ada banyak reruntuhan kuil Buddha yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Agak mirip dengan kompleks candi Prambanan di Yogyakarta, hanya saja di Ayutthaya kuilnya bercorak Buddha.

Salah satu keuinikan di Ayutthaya Historical Park adalah patung kepala Buddha yang terjepit akar pohon Bodhi. Belum diketahui secara jelas bagaimana patung kepala Buddha ini bisa terlilit akar pohon. Selain kepala Buddha, ada juga patung Buddha tidur yang mirip dengan patung di kuil Wat Pho Bangkok. Orang Thailand percaya, jika ada patung Buddha tidur, sebuah kota akan memiliki kekuatan melebihi kota-kota lainnya.

Oh ya, di sekitar kompleks reruntuhan kuil kita bisa menyewa sepeda selama seharian dengan tarif 50 Baht dan meninggalkan kartu identitas saja. Selain sepeda, bisa juga berkeliling pake gajah tunggang. Jalanan di Ayutthaya cukup sepi, jadi gak heran kalau banyak turis-turis asing yang memilih untuk bersepeda.

Ayutthaya Historical Park

Masih berbau istana dan kerajaan, di Bangkok ada sebuah tempat bernama Ananta Samakhom. Tempat ini semacam museum yang berisi barang-barang yang pernah digunakan oleh keluarga kerajaan. Di museum yang dikelola oleh Ratu Sirikit ini, kita tidak boleh mengabadikan gambar sama sekali, walaupun dengan kamera ponsel. Sebelum memasuki bangunan bergaya Eropa ini, segala atribut yang berfungsi sebagai alat dokumentasi wajib dititipkan di locker.

Ananta Samakhom masih sering dipergunakan untuk menyambut tamu-tamu kerajaan. Makanya di sini kita gak boleh berpakaian sembarangan. Untuk laki-laki, kita harus menggunakan celana panjang, sedangkan untuk perempuan harus memakai rok yang menutupi lutut. Jika tidak, kita harus menyewa kain panjang sebelum memasuki area museum.

Ananta Samakhom

Kalo di Ananta Samakhom kita bisa melihat barang-barang keluarga kerajaan, di museum Madam Tussauds Bangkok kita bisa melihat figur-figur terkenal yang biasanya hanya bisa kita lihat di TV. Selebriti, politikus, olahragawan hingga keluarga kerajaan ada di museum patung lilin ini. Saya tentu gak menyia-nyiakan kesempatan berfoto dengan figur-figur terkenal ini. Tapi karena agenda saya di museum ini adalah liputan, saya hanya bisa berkeliling sebentar dan berfoto dengan beberapa figur. Agak sayang sih sebetulnya. Tapi karena gratis, jadi ya gak rugi-rugi amat. Hehehee.. ;p

beberapa figur di Madame Tussauds Bangkok

Tujuan saya berada di museum Madame Tussauds adalah meliput peresmian patung lilin Bung Karno. Ya, Bung Karno presiden pertama kita. Keren kan figur tokoh politik Indonesia bisa ditampilkan di museum berkelas internasional. Keberadaan patung Bung Karno di Madame Tussauds memang digagas oleh Tourism Authority of Thailand di Jakarta untuk mengenang ideologi dan jasa Bung Karno di dunia internasional. Selain itu, figur presiden pertama ini diharapkan bisa menarik wisatawan Indonesia untuk mengunjungi museum Madame Tussauds saat berlibur di Thailand.

Keren ya patung Bung Karno. Kalo bu Mega itu bukan patung, tapi saya lagi wawancara beliau. 🙂

Empat hari di Thailand tentu sangat tidak cukup untuk mengunjungi tempat-tempat seru lainnya. Bahkan saya belum ke kuil Wat Pho, belum ke sungai Chao Phraya, belum ke Pattaya, belum ke Patpong dan belum pernah naik BTS. Makanya saya berharap ini bukan terakhir kalinya saya menginjakkan kaki di negeri gajah putih. Kalo ada yang mau ngundang lagi boleh lho..hihihi..

Liputan saya di Thailand sudah ditayangkan di Redaksi Siang Akhir Pekan 20 Oktober lalu. Kalo belum nonton, ya itu derita elo. hehehe.. Saya share trailernya aja ya di sini. 😀

terima kasih para sponsor 😀