Monthly Archives: Mei 2012

Cheaters never win and winners never cheat

Standar

Adakah di dunia ini seseorang yang gak pernah nyontek seumur hidupnya? Mungkin ada, tapi hanya sebagian kecil dari populasi manusia di Bumi. Mencontek hanya salah satu perbuatan curang yang paling banyak dilakukan orang-orang, apalagi pada masa sekolah.

Waktu SD sih saya gak pernah nyontek. Bahkan setiap ulangan harian atau mengerjakaan PS (pekerjaan sekolah, lawannya PR), setiap siswa akan membangun benteng pertahanan supaya teman sebangku gak bisa nyontek. Walopun gak nyontek, bukan berarti saya tidak melakukan kecurangan lainnya. Waktu kelas 3 SD, saya bekerjasama dengan teman sebangku untuk mengganti jawaban pada saat pencocokan. Yah lumayanlah mendongkrak nilai sedikit-sedikit.

Saya bersekolah di SD Tarakanita, sekolah swasta Katolik yang mengutamakan kedisiplinan, sehingga kecurangan seperti mencontek sangat minim terjadi. Lulus SD saya bersekolah di SMP Negeri. Di sinilah saya mulai mengenal budaya mencontek berjamaah. Mulai dari mengerjakan PR di sekolah (yang tentu saja menjiplak jawaban teman, hingga memberi kode-kode tertentu pada saat ulangan umum.

Jaman SMA, yang namanya dunia contek mencontek semakin menjadi. Apalagi, teman-teman yang otaknya encer gak pernah pelit membagi ilmu (baca: jawaban PR/ulangan) kepada teman lainnya. Untungnya, waktu Ujian Akhir Nasional, saya cukup percaya diri untuk menjawab sendiri tanpa mencontek (soalnya cuma matematika, bhs Indonesia sama bhs Inggris sih). :))

Lalu apa yang saya dapat dari mencontek? Nilai yang lebih baik jika dibandingkan dengan belajar sendiri, tentu saya dapatkan. Tapi saya jadi tidak bisa mengerti bagaimana prosesnya hingga sebuah jawaban dapat terpecahkan. Sebut saja soal-soal fisika atau kimia yang membutuhkan perhitungan khusus. Saya hanya tinggal nyontek sehingga tidak tahu cara untuk menyelesaikannya sendiri. Pantas saja saya tidak lulus UM-UGM, lha wong pas jaman SMA nyontek melulu. *baru nyadar*

Tadi pagi, sambil zapping pada saat nonton TV, saya berhenti pada tayangan animasi Mr Bean di Disney Channel. Saya memang masih suka nonton kartun, maklum lah masih 21 tahun.. *ditimpuk sandal*.

Di tayangan tersebut, diceritakan tentang Mr Bean yang mengikuti kompetisi memelihara tanaman semangka. Semangka terbesar yang dapat dihasilkan peserta, nantinya akan menjadi pemenang. Mr Bean pun merawat tanaman semangkanya dengan baik. Namun saingan Mr Bean, yaitu tetangganya sendiri, berusaha menjatuhkan Mr Bean dengan berbagai cara.

Malam menjelang penjurian, tetangga Mr Bean memasukkan ulat-ulat rakus ke dalam semangka di kebun Mr Bean. Namun tidak disangka, ternyata pagi harinya semangka milik Mr Bean yang ukurannya sangat besar masih dalam kondisi utuh. Si tetangga pun berbuat curang lagi dengan melepas keempat ban mobil Mr Bean dengan harapan ia terlambat datang ke acara penjurian.

Lagi-lagi, Mr Bean berhasil datang ke penjurian dengan membawa semangka raksasanya. Si tetangga yang jahat berbuat curang lagi dengan menukar semangka miliknya yang berukuran lebih kecil pada saat Mr Bean lengah. Pada saat penimbangan, si tetangga menang karena semangkanya (yg sebenarnya milik Mr Bean) paling berat. Namun pada saat penyerahan piala, semangkanya mendadak kempes dan ulat-ulat rakus keluar dari dalam semangka. Mr Bean yang sejak awal menanam semangka dengan jujur pun akhirnya menjadi pemenang.

Tak perlu dijelaskan, pesan moral dari cerita ini tentu saja tentang si curang yang tak akan pernah meraih keberhasilan. Dalam kasus saya yang selalu mencontek pada jaman sekolah pun, dampkanya juga sama. Tapi benarkah bahwa si curang akan selalu gagal?

Di kehidupan nyata, dikenal ungkapan “jujur ajur” yang artinya perbuatan jujur justru dapat menghancurkan diri sendiri. Seseorang yang jujur malah seringkali dikucilkan dan dianggap aneh. Sebaliknya, kecurangan dianggap sebagai hal yang wajar-wajar saja.

Di dunia pendidikan, kecurangan mungkin hanya berkisar pada contek mencontek saja. Tapi justru dari situlah tertanam benih-benih ketidakjujuran yang dapat berdampak pada jiwa pencuri dan korupsi. Namun seperti judul postingan ini, seseorang yang curang tidak akan pernah menjadi pemenang. Mungkin saat ini si curang sedang menikmati indahnya berada di atas awan. Tinggal tunggu waktu saja, si curang akan jatuh dan mempermalukan dirinya sendiri atas kecurangannya.

🙂

“Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” (Amsal 22:8-9).

liputan sosok Anne Avantie: the untold story

Standar

Pada suatu sore yang cerah, saat saya hendak menyantap makan siang yang sedikit terlambat di foodcourt kantor, terdengarlah nada dering notifikasi BBM dari ponsel saya. Ternyata dari produser saya. Agak gimana gitu kalo terima BBM dari bos, karena biasanya ada tugas baru yang artinya bisa menggagalkan rencana saya untuk bobok bobok unyu. *semoga gak dibaca bos*

Isinya memang penugasan, tapi bukan untuk sore itu. Produser saya menugaskan untuk pergi ke Semarang guna meliput profil Anne Avantie, yang rencananya akan ditayangkan menjelang hari Kartini 21 April. Saya pun diminta untuk membuat janji peliputan melalui mas Damar Sinuko, koresponden Trans 7 di Semarang.

Tidak sulit untuk membuat janji peliputan di tengah kesibukan bunda Anne. Bahkan beliau menyediakan 1 hari khusus untuk peliputan. Saya pun terus berkoordinasi dengan asisten bunda Anne di Semarang untuk menentukan tanggal yang tepat. Akhirnya disepakati bahwa peliputan akan dilakukan pada hari Selasa, 17 April 2012.

Liputan sosok Anne Avantie sudah ditayangkan di Redaksi Siang Trans 7 hari Jumat, 20 April 2012, tepat satu hari sebelum hari Kartini. Karena itulah saya berani menuliskan cerita tentang peliputan ini. “Untold”nya mungkin sudah banyak beredar di media. Tapi tidak ada dalam tayangan Redaksi Siang karena pertimbangan durasi.

Selain Anne Avantie, saya pun ditugaskan untuk mencari materi liputan lainnya di sekitar Semarang, Jogja dan Solo. Saya berangkat ke Jogja 3 hari sebelum liputan profil Anne Avantie, untuk menyelesaikan beberapa tugas lainnya.

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Selasa pagi pukul 9, saya bersama kameramen dan supir mendatangi lokasi liputan yang telah disepakati. Kami datang ke Wisma Kasih Bunda di kawasan Kesatrian, Semarang. Wisma Kasih Bunda adalah rumah singgah yang menaungi penderita hidrosepalus, yang didirikan bunda Anne 12 tahun yang lalu.

Di Wisma ini, saya melihat beberapa penderita hidrosepalus, mulai dari bayi hingga orang dewasa. Sambil menunggu bunda Anne, saya mengobrol dengan mbak Eta, asisten bunda Anne sekaligus kepala Wisma Kasih Bunda, tentang pelayanan di wisma itu.

Wisma ini memberi pelayanan kepada para penderita hidrosepalus, mulai dari pra operasi hingga pasca operasi. Bekerjasama dengan RS Elisabeth dan seorang dokter bedah, wisma ini telah membantu ratusan pasien tidak mampu. Pasien tidak dipungut biaya sama sekali. Inilah yang membuat keluarga penderita, khususnya kaum ibu, sangat bersyukur dengan keberadaan Wisma Kasih Bunda.

Kebetulan pagi itu ada kunjungan dari 3 sekolah taman kanak-kanak di Semarang. Suasana pun sangat ramai dengan “kicauan” para murid, ditambah lagi dengan speaker super kencang yang cukup memekakkan telinga. Sambil sesekali melihat jam tangan, saya terus menengok ke arah jalanan, mencari tahu apakah bunda Anne sudah tiba.

Setelah menunggu selama 1,5 jam, bunda Anne pun tiba dengan Toyota Alphard hitamnya. Beliau tidak sendiri, tapi ditemani oleh seorang asisten yang (maaf) wajahnya tidak sempurna. Bunda juga mengajak Aris, penderita hidrosepalus berusia 12 tahun, yang merupakan pasien pertama Wisma Kasih Bunda.

Aris nampak begitu dekat dengan bunda Anne, bahkan nampak sangat manja dengan selalu memeluk beliau. Aris merupakan jawaban doa Anne Avantie, yang 12 tahun silam selalu bertanya-tanya, pelayanan seperti apa yang Tuhan ingin lakukan dalam hidupnya.

12 tahun yang lalu, Yoseph Henry, suami bunda Anne menunjukkan sebuah surat kabar yang berisi tentang seorang bayi di Rembang yang membutuhkan uluran tangan berupa biaya operasi hidrosepalus. Anne pun tergerak ala kadarnya. Beliau hanya ingin menyumbang sebesar 100.000 rupiah, melalui seorang kerabatnya. Tanpa disangka, ternyata bantuan itu disalahartikan. Uang tersebut dianggap sebagai biaya transportasi untuk pergi ke Semarang guna penanganan lebih lanjut.

Anne yang saat itu baru saja pulang dari ziarah di Gua Maria Kerep Ambarawa pun terkejut. Sebuah mobil yang berisi seorang bayi penderita hidrosepalus berhenti di depan rumahnya. Dalam kebingungannya, Anne meminta petunjuk dari Tuhan.

“Saya masukkan tangan ke jarinya, saya berdoa. Tuhan kalo Kau kehendaki utk saya bekerja utk org2 seperti mereka, beri tanda. Kemudian dia genggam tangan saya, di situ saya menangis.”

Sejak itulah, Anne Avantie mulai membantu para penderita hidrosepalus. Bahkan, melalui Wisma Kasih Bunda, beliau juga membantu pasien lainnya seperti atrecia ani, cerebral atropi, megacolon dan sebagainya.

Setelah mendokumentasikan kegiatan bunda Anne di Wisma Kasih Bunda, kami pun bergegas menuju lokasi peliputan berikutnya, yaitu rumah tinggal sekaligus rumah produksinya. Saya diajak untuk naik ke mobil Bu Anne, supaya bisa memberi gambaran tentang peliputan di rumah nantinya.

Di dalam mobil, bunda Anne mulai bercerita tentang kesehariannya. Sebagai fashion designer kondang, rupanya Anne memiliki kebiasaan yang jarang dimiliki rekan seprofesinya. Seorang perancang busana yang identik dengan hidup glamour dan dunia hiburan malam, ternyata tidak ada dalam diri Anne Avantie. Bahkan Anne mengaku, bahwa dirinya tidak terbiasa tidur larut malam. Sekitar pukul 9 malam, Anne akan menguap sebagai pertanda untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Kebiasaan uniknya berlanjut di pagi hari. Beliau terbiasa bangun pukul 3 pagi. Aktivitasnya selalu dimulai dengan doa pagi, menulis artikel untuk majalah rohani dan memasak. Sungguh amat jauh dari bayangan saya tentang perancang busana papan atas. Apalagi, dari perbincangan kami, nampak bahwa bunda Anne sangat religius dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Karena saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang, bunda Anne mengajak kami untuk mampir makan siang di tempat favoritnya. Bukan rumah makan mewah dengan hidangan jetser, melainkan warung tahu pong pinggir jalan yang terletak di Jl. Gajah Mada.

Bunda Anne pun memakan nasi yang ditemani tahu pong, telur dan gimbalan udang dengan lahapnya. Sambal dan potongan lobak tak lupa menemani santap siang saat itu. Tak hanya makan di tempat, Anne juga memesan beberapa posri tahu pong untuk oleh-oleh ke Jakarta, karena sore itu beliau akan berangkat ke ibukota menggunakan kereta api.

Kenapa kereta api? Ternyata bunda Anne memiliki pobhia ketinggian. Karena itulah, ke manapun pergi, beliau selalu menggunakan jalan darat. Jadi sebagai perancang busana, bunda Anne belum pernah mengunjungi kota-kota pusat mode dunia seperti Paris, Milan atau New York. Namun hal ini tidak beliau anggap sebagai kekurangan. Sebaliknya, dengan tidak berani terbang, Anne lebih fokus untuk menjadi berkat bagi orang-orang sekitar.

Ke manapun pergi, Anne Avantie selalu ditemani seorang asisten untuk sekedar menata rambutnya, membawakan tas dan dompet, serta mengoperasikan ponselnya. Anne mengakui, dirinya tidak mahir mengoperasikan telepon genggamnya, baik untuk telepon, sms, bbm atau menyimpan nomor kontak sekalipun. Karena itulah, kehadiran seorang asisten sangat penting baginya.

Usai makan, kami melanjutkan perjalanan. Penumpang mobil bertambah dengan keberadaan Ciello, cucu bunda Anne yang dijemput pada saat kami sedang menyantap tahu pong. Ternyata kami tidak langsung pulang ke rumah, karena Ciello ingin membeli mainan terlebih dahulu. Perasaan saya agak ketar-ketir karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, sementara Anne sudah harus berangkat ke stasiun pukul 15.00. Untungnya mereka tidak lama mampir ke toko mainan, sehingga perjalanan dapat segera dilanjutkan.

Di rumah, kami berkenalan dengan ibu Ami, ibunda Anne Avantie dan Yoseph Henry suaminya. Anne tidak keberatan saat kami memintanya untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan bersama sang suami sambil menyuapi cucunya.

Kemudian kami diajak untuk naik ke lantai 4 rumahnya yang dirancang menjadi sebuah kapel. Sebagai umat Katolik yang taat, Anne selalu menyempatkan diri untuk memulai aktivitasnya dengan berdoa di kapel. Beliau meminta kepada kami agar wawancara dilakukan di kapel saja. Demi kenyamanan nara sumber, kami pun mengiyakan permintaan tersebut.

Pada sesi wawancara, Anne Avantie mulai bercerita tentang awal karirnya sebagai perancang busana. Sebagai reporter, sebelumnya saya sudah mencari tahu tentang sosok Anne Avantie. Namun ada satu hal yang saya baru tahu, yaitu bahwa beliau hanya lulusan SMP. Anne pernah duduk di bangku SMA, hanya belum sempat menyelesaikannya karena masalah keluarga.

“Menjadi fashion designer itu bukan cita2 saya. Sbg anak lulusan smp, yg sma saja tdk tamat, apa yg bisa saya cita2kan? Tapi saya percaya bahwa suatu hari bakat saya akan menjadi pelabuhan paling indah.”

Anne memulai karirnya dengan membuat kostum panggung pada tahun 1989. Segala upaya pernah dilakukan untuk membuat karyanya menjadi trendsetter, termasuk mencoba membuat gaun pengantin. Setelah 7 tahun, barulah Anne mencoba peruntungannya dengan membuat kebaya modern.

Rancangan kebaya Anne Avantie awalnya tidak diterima masyarakat. Kebaya yang bentuknya “aneh” justru dianggap merusak pakem kebaya selama ini. Anne pun bercerita tentang sebuah majalah yang memberi judul berita “ibu Kartini menangis melihat kebaya Anne Avantie”. Namun beliau tak patah arang. Anne terus berkarya, dan kini kebayanya tak hanya menjadi trendsetter, tetapi juga mengangkat derajat kebaya sebagai identitas bangsa.

Sebagai designer, siapa sangka bahwa Anne tidak mahir dalam menjahit, membuat pola atau menggunting. Namun, Tuhan justru memberinya kelebihan dengan inspirasi yang terus mengalir, sehingga rancangannya dapat menjadi karya bernilai jual tinggi.

“Kebaya itu buat saya bukan sepotong baju. Kebaya itu buat saya sebuah pembaharuan hidup. Kebaya itu sarana untuk saya dilihat, didengar dan meneladankan hidup melalui berkat yg saya terima melalui kebaya.”

Usai wawancara, kami menyempatkan diri untuk melihat rumah produksinya. Melalui rumah produksinya, Anne turut membuka lapangan kerja bagi ratusan karyawan yang tersebar di Semarang, Solo dan Jakarta. Anne sengaja menempatkan rumah produksinya di Semarang, supaya ia bisa menjadi berkat bagi orang sekitar. Uniknya, Anne Avantie mau menerima karyawan yang tidak punya pengalaman kerja sama sekali. Anne ingin membagi ilmu dengan orang-orang, karena dulunya ia pun tidaklah memiliki kemampuan khusus.

Peliputan selesai sekitar pukul 3 sore. Anne Avantie pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke stasiun. Sebelumnya, beliau masih sempat mengadakan rapat kecil di ruang tamu bersama beberapa stafnya. Kebaikan bunda Anne tak hanya sampai di situ. Setelah peliputan, saya masih sempat bertanya pada beliau tentang nara sumber yang bisa memberi informasi tentang sejarah kebaya. Tak hanya mencarikan nara sumber, Anne Avantie bahkan membuatkan janji sehingga tim kami bisa langsung wawancara.

—————————–

Sosok Anne Avantie merupakan salah satu inspirasi “from zero to hero”. Dari lulusan SMP yang tidak istimewa dan dipandang sebelah mata, ia dapat menjadi sosok yang dihormati dalam dunia mode. Sama seperti Daud yang diremehkan lingkungan sekitarnya, yang kemudian bisa mengalahkan Goliat dan menjadi raja Israel, begitu juga Tuhan menjadikan Anne Avantie manjadi seorang pemenang.

Berserah pada Tuhan, intim dengan Sang Pencipta dan menjadi berkat bagi banyak orang, merupakan kunci sukses yang telah dijalani Anne Avantie.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3).

henpon baru, alhamdulilah..

Standar

Sudah sejak 3 bulan yang lalu saya ingin menulis tentang alasan saya menggunakan smartphone BlackBerry. Tapi karena sibuk (dan malas), tulisan itu pun tak kunjung dimulai. Saya ingin menulis tentang BlackBerry karena belakangan ini banyak orang yang mengagung-agungkan OS lain, seperti iOS dan android.

Tapi kali ini saya bukan mau menulis tentang smartphone sih, tapi tentang ponsel tidak pintar yang lumayan keren. Jadi minggu lalu saya mendapat nomor CUG (close user group) dari kantor. Nah dengan nomor CUG ini, koordinasi dengan orang-orang kantor lebih gampang karena teleponnya bisa gratis ke sesama CUG. Saya pun tak perlu menggunakan pulsa pribadi (yang sering ga ada) untuk menghubungi nara sumber.

Mendapat sebuah nomor ponsel saja, tentu tidak ada gunanya. Sebelumnya saya sih sudah pakai 2 ponsel untuk 2 nomor. Dengan adanya nomor CUG, saya butuh sebuah ponsel lagi. Pilihan saya pun jatuh pada mito 720.

Saya pertama kali melihat billboard mito 720 di jalan Tendean, waktu mau pulang ke kantor dari liputan. Saya lihat bentuknya menarik, apalagi ga ada tombol-tombolnya alias touchscreen. Di tengah kemacetan, saya pun mencoba browsing tentang ponsel ini. Dari fitur-fiturnya sepertinya menarik, salah satunya ada headphone bluetooth yang termasuk dalam paket penjualannya. Jadi kita bisa mendengarkan musik tanpa gangguan kabel-kabel. melihat harganya pun ternyata tidak mahal. Saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama. *ceile*

Kenapa mito 720? Soalnya bentuknya keren sih. Hehehee.. Sebetulnya sudah sejak lama saya ingin punya ponsel yang ada TVnya. Jadi di manapun saya berada, saya bisa nonton TV. Nah sejak di program Redaksi Siang, saya sering terlewatkan nonton liputan saya karena sedang di lapangan. Seringnya sih kalo liputan saya tayang, saya berhenti di warang makan sambil numpang nonton TV. Tapi kan agak susah ya cari warung yang ada TVnya. Jadi saya pun memutuskan untuk membeli henpon yang ada TVnya.

Kebanyakan henpon TV merupakan produksi China, dengan dilengkapi fasilitas dual sim card. Kebetulan saya memang butuh ponsel yang dual sim card. Jadi ya pas lah..

Di tengah kesibukan yang luar biasa *pret*, saya pergi ke mall ambassador untuk mencari henpon yang dimaksud. Saya datang ke sebuah counter yang menjadi langganan teman saya. Awalnya saya hanya mencari henpon yang ada TVnya, mana tau si tukang henpon punya alternatif yang lebih baik. Dia menawarkan nexian T901 yang ada TVnya, dual sim card dan tombol qwerty. Harganya sih murah, cuma 300 ribuan. Tapi karena memang naksir mito 720, saya pun mencoba bertanya.

Saat melihat barangnya, saya suka bentuknya. Tapi sayang sih, ukurannya bongsor dan lumayan berat karena casing belakangnya bukan plastik, tetapi besi. Tapi namanya sudah jatuh cinta, walaupun gendut tetap saja menarik hati. Saya pun menukar ponsel itu dengan nominal 500 ribuan. Tidak mahal untuk sebuah ponsel yang lumayan keren.

Saya pun mencoba beberapa fasilitas yang ada di ponsel mito 720. Pertama layar touchscreennya. Dibandingkan dengan BlackBerry saya, jelas bagaikan Nadine Chandrawinata dan Elly Sugigi. Tapi yah namanya ponsel murah, maklum lah.. Yang penting bisa lancar mengoperasikannya. Kemudian saya mencoba TVnya. Waktu dicoba sih agak kresek-kresek, mungkin karena di dalam gedung. Waktu dicoba di luar, ternyata sinyalnya bagus dan gambarnya pun cukup halus. Oke lah untuk nonton TV di jalan..

Saya pun mencoba fasilitas lainnya, yaitu koneksi headphone bluetooth yang tak hanya bisa untuk mendengarkan musik, tetapi bisa juga untuk menelepon. Untuk menelepon sih lancar, tapi untuk mendengarkan musik kadang suka putus-putus. Tergantung letak henponnya sih..

Untuk fasilitas internet, saya tidak mencobanya. Pastinya bakal lemot sih, soalnya cuma ada GPRS saja. Lagipula untuk internet jelas saya mengandalkan BlackBerry saja. Yang penting bisa buat nelpon sama nonton TV. Itu sudah.

Walaupun gak canggih-canggih amat, buat saya henpon mito 720 sudah cukup untuk membantu. Lagipula kan bukan untuk ponsel utama, cuma untuk ponsel tambahan dengan penggunaan minimum. Bentuknya pun keren untuk ditenteng-tenteng.

Tulisan ini bukan iklan yak, cuma mau berbagi pengalaman aja. Tapi kalo ditawarin jadi bintang iklannya boleh juga sih. Heheheee :p