Category Archives: curcol

Sakit Gigi Atau Sakit Hati?

Standar

Sekitar 2 minggu yang lalu, tepatnya hari Minggu pagi yang ceria, tiba-tiba gigi saya ngilu. Saya pun langsung berasumsi kalau sakit ini gara-gara gigi geraham bungsu yang tumbuh karena sebelumnya juga pernah beberapa kali sakit yang sama di bagian gigi kanan bawah paling ujung.

Keesokan harinya, sakit gigi saya tambah parah. Apalagi waktu itu lagi liputan di Bandung, jadi ga bisa menikmati makanan-makanan enak deh di Bandung.

Berkali-kali saya mengeluh sakit gigi gara-gara gigi tumbuh. Tapi rekan kamerawati saya bilang dia juga lagi tumbuh gigi tapi ga sakit. Malah horor saja saya dengernya, soalnya selama ini saya pikit wajar kalo tumbuh gigi geraham bungsu tuh sakit.

Biasanya kalo sakit gigi gara-gara tumbuh, paling 2 hari doang. Nah ini sampai hari ketiga kok ga sembuh-sembuh dan malah tambah parah. Saya nggak bisa mangap lebih lebar dari 1 jari. Jadi untuk makan menderitanya setengah mati dan saya cuma makan oatmeal untuk beberapa hari.

Karena sakit giginya luar biasa, saya berasumsi sendiri kalo saya kena radang gusi. Langsung browsing dan ternyata radang gusi tuh gara-gara nggak rajin bersihin gigi. Padahal saya rajin sikat gigi, tapi kenapa saya sakit yak..

Buat mengatasi sakit yang saya kira radang gusi, saya cuma minum painkiller dan berkumur pake mouthwash. Agak lumayan berkurang sih.. Apalagi saya sempat mewawancarai dokter herbal yang ternyata bisa akupuntur juga. Saya pun ditawari diakupuntua biar sakit giginya berkurang.

Mejik! Ditusuk jarum akupuntur selama kurang lebih 20 menit, sakit gigi saya berkurang jauh. Bahkan yang tadinya kalo buat nelen sakit, jadi nggak sakit sama sekali.

image

ditusuk-tusuk jarum

image

Sayangnya pengurangan sakit gigi ga berlangsung permanen. Pas buat makan, giginya sakit lagi. Akhirnya saya pun memutuskan untuk ke dokter gigi untuk pertama kalinya dalam hidup.

Cari dokter gigi yang saya pikir gampang ternyata tidak. Pertama saya coba mengunjungi klinik gigi di daerag Kemang dengan maksus biar nggak jauh dari kosan. Eh ternyata dokternya penuh sampe dua hari ke depan. Betek banget deh.

Besoknya saya coba telpon ke rumah sakit di Duren Tiga, denan maksud biar ga jauh dari kantor. Eh ternyata saya telpon nggak ada yang jawab. Yasudah sorenya habia kerja saya datang langsung ke RS dan ternyata poliklinik gigi udah tutup dan baru buka 2 hari lagi. Betek lagi.

Dari RS saya coba keliling-keliling dan nemu Klinik Gigi Royal Dent di Duren Tiga juga. Untungnya klinik lagi sepi dan saya bisa langsung diperiksa tanpa tetek bengek.

Pas diperiksa, dokter giginya langsung tau apa masalahnya. Ternyata bukan radang gigi gara-gara saya nggak sikat gigi. Tapi karena geraham bungsu saya tumbuh miring dan mendesak gigi dan gusi lainnya. Itulah yang bikin sakit nggak ketulungan.

Biar nggak sakit-sakit lagi, saya harus menjalani operasi buat mencabut gigi bungsu. Agak horor juga denger kata “operasi”. Saya langsung teringat operasi usus buntu akhir 2012 kemaren.

image

kursi pesakitan

Setelah seminggu saya minum obat untuk mengurangi bengkaknya, saya pun menjalani operasi tanggal 31 Mei 2013. Saya jadi tau perasaan orang-orang yang nggak mau dicabut giginya kalo sakitnya udah sembuh.

Tapi karena saya nggak mau sakit gigi lagi dan udah ijin bos, mau nggak mau saya harus operasi.

Operasi dimulai dengan suntik bius lokal. Sumpah saya takut banget sama yang namanya disuntik. Apalagi yabg disuntik gusinya. Bayangin aja udah serem! Entah berapa titik yang dikasih bius, saya udah nggak peduli.

Setelah dibius, gigi saya mulai “digarap”. Nggak tau diapain aja. Pokoknya alat-alat kedokteran yang mengeluarkan bunyi-bunyi aneh bikin tambah horor. Di tengah operasi, saya masih merasakan ngilu pada saat giginya mau dicabut. Suntik bius lokal pun ditambahkan lagi biar saya merasa kebas.

Suasana operasi gigi bener-bener kaya perang. Kata dokter, gigi saya susah banget dicabutnya. Sekitar 45 menit saya harus mangap sambil isi mulut diotak-atik. Pegel mak!

Setelah gigi tercabut, baru diketahui kalo akar gigi saya agak miring, jadi susah dicabutnya. Pokoknya sumber sakit udah diangkat dan saya tinggal recovery aja. Pas biusnya abis, sakitnya luar biasa mak!

Saya nggak mau sakit gigi lagi, karena sakit gigi sama kaya sakit hati. Sama-sama nggak enak makan, nggak enak tidur. Bawaannya pengen nangis muluk. 😥

Kata lagu dangdut, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Menurut saya sih podo wae!

image

di klinik gigi, telponnya pun bentuknya gigi

unexpected journey

Standar

Bulan Desember kemarin saya menjalani operasi usus buntu. Sakit serius pertama yang saya alami selama 25 tahun hidup di dunia ini. Pertama kali juga harus opname dan mengalami bedrest hingga 2 minggu. Lumayan sih jadi gak kerja dan gak ditagih-tagih kerjaan. Kan lagi sakit ceritanya.. hehehe

Di tengah kebosanan menghabiskan waktu cuti untuk bedrest setelah menjalani operasi usus buntu, saya menyempatkan diri untuk mampir ke bioskop di Jogja, Empire XXI. Saya agak takjub melihat animo masyarakat Jogja dalam hal mencari hiburan berupa film layar lebar. Selama tinggal di Jakarta, saya terbiasa membeli tiket mendekati jam tayang film. Kalau bukan film box office, biasanya masih banyak kursi dengan posisi bagus yang masih tersisa. Tapi nampaknya itu tidak berlaku di Jogja. Untuk film pukul 21.45 saja, kursi sudah hampir penuh pada jam 19.00. Oya, film yang saya tonton adalah The Hobbit: Unexpected Jurney. Gak terlalu ngehits kalo dibandingkan Habibie-Ainun atau 5Cm.

Dan ternyata, ada juga calo yang berjualan tiket film. Entah berapa harganya. saya hanya takjub saja, ternyata di Jogja masih ada praktek calo tiket film. Kaya masa-masa suram waktu di Jogja gak ada bioskop 21 sama sekali. Adanya bioskop Mataram yang cuma punya 1 studio dan kalo pas ada film bagus, calo bertebaran di mana-mana. Serem lah pokoknya.

Saya bukan mau cerita tentang Jogja yang masih euforia dengan bioskop sih. Tapi saya mau cerita dikit tentang film yang saya tonton. Sebetulnya saya kurang suka kalo nonton film berdasarkan novel yang novelnya sudah saya baca. Biasanya sih merusak imajinasi dan jalan cerita sedikit melenceng dari novel. Namun untuk film The Hobbit ini, hasilnya jauh lebih bagus dan dramatis daripada imajinasi saya sewaktu membaca novelnya.

Film ini bercerita tentang seorang hobbit bernama Bilbo Baggins yang berpetualang bersama 13 kurcaci dan seorang penyihir bernama Gandalf. Ya, film ini memang masih berkaitan dengan trilogi Lord of the Rings. Makanya ada makhluk-makhluk aneh seperti hobbit (manusia kerdil), dwarf (kurcaci berjanggut), elf (peri) maupun troll (raksasa serem tapi bodoh).

Si Bilbo ini tadinya gak mau ikut berpetualang bersama para kurcaci. Apalagi misi petualangan ini adalah mengalahkan naga penyembur api serta merebut tanah dan harta kekayaan milik bangsa kurcaci yang telah direbut sang naga. Meskipun dengan iming-iming 1/14 bagian harta yang didapat, Bilbo enggan untuk ikut dan lebih memilih tinggal dalam lubang hobbitnya yang nyaman, damai dan banyak makanan.

Tapi saat Bilbo ditinggalkan oleh ketiga belas kurcaci di lubang hobitnya yang nyaman, digambarkan jika Bilbo merasa kesepian dan sendirian. Seolah hidup di lubang hobit yang nyaman tapi sendirian bukanlah cara yang tepat untuk menghabiskan waktunya. Bilbo pun memutuskan untuk mengejar rombongan kurcaci dan mengikuti perjalanan mereka mencari harta karun.

Di situ ada dialog yang cukup mengesankan antara Bilbo dengan Gandalf yang mengajaknya berpetualang. Di situ Gandalf berkata bahwa dirinya tak pernah ragu akan kemampuan Bilbo, sekalipun Bilbo meragukan dirinya sendiri.

Perjalanan yang dilakukan Bilbo pun tak selalu mulus. Berkali-kali Bilbo dipandang sebelah mata oleh ketua rombongan kurcaci. Apalagi Bilbo hanya satu-satunya hobit di antara 13 kurcaci. Berkali-kali Bilbo ingin menyerah dan kembali ke lubang hobitnya yang nyaman. Di film sih ceritanya belum selesai, tapi di novelnya diceritakan kalau Bilbo dan kawan-kawan akhirnya berhasil merebut kembali harta milik bangsa kurcaci.

Cerita Bilbo membuat saya teringat pengalaman saya tepat 4 tahun yang lalu. Saat saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta dari kota Yogyakarta yang berhati nyaman. Januari 2009 saya meninggalkan Jogja, tempat saya dibesarkan selama 20 tahun. Sama seperti Bilbo, tak mudah untuk memutuskan pergi dari tempat yang nyaman. Namun saya sadar, jika memilih tinggal di “lubang hobit”, saya mungkin tidak akan melihat dunia dengan segala kebaikan dan keburukannya.

Waktu kuliah dulu, saya bermimpi menjadi reporter di stasiun TV swasta. Saya hanya bisa berkhayal melakukan peliputan-peliputan dan muka saya nongol di tivi sambil pegang-pegang mic. Di Jakarta pun saya tak langsung mendapat apa yang saya cita-citakan. Saya pernah bekerja di bidang yang sama sekali tidak saya kuasai dan tidak saya mengerti.

Saya pernah berkerja sebagai kru FTV. Pekerjaan yang sangat menyita waktu dan tenaga. Berkali-kali saya ingin berhenti dan kembali ke lubang hobit yang nyaman. Tapi saya tak ingin menjadi beban bagi orang tua saya, makanya saya tahan-tahanin aja.

Tapi yang namanya kerja tanpa passion memang gak maksimal. Saya hanya bertahan selama setahun lebih dikit dan memutuskan untuk berhenti. Menjalani hidup tanpa pekerjaan tetap dan hanya mengandalkan side job-side job gak jelas pun menjadi kehidupan saya selanjutnya. Di situ saya melihat bahwa Tuhan gak pernah tidur. Dia gak pernah biarkan saya hidup berkekurangan. Segala sesuatu dicukupkan, sambil saya terus berharap untuk mengejar mimpi saya sebagai reporter.

Tahun 2011 impian saya terwujud. Saya menjadi seorang reporter di Trans 7. Bayangkan kalau saya memilih untuk menyerah dan kembali ke lubang hobit yang nyaman. Ada kalanya saya meragukan kemampuan saya sendiri, sama seperti Bilbo. Gandalf yang tak pernah meragukan Bilbo menjadi representasi Tuhan yang tak pernah meragukan kita. Bahwa kita pasti mampu meraih apapun yang kita inginkan sesuai kehendakNya.

Tahun 2013 adalah tahun kelima saya tinggal di ibukota. Banyak hal yang terjadi selama 4 tahun saya tinggal di Jakarta. Tahun 2012 yang baru saja berlalu pun menyisakan kenangan yang tidak sedikit. Bahkan bisa dikatakan tahun 2012 bagaikan roller coaster. Saya dibawa naik dan turun secara tiba-tiba. bahkan banyak hal yang tidak saya harapkan terjadi di tahun 2012.

Tapi saya diingatkan dengan kisah Yunus yang masuk ke dalam perut ikan besar. Yunus yang semula tinggal di kapal yang nyaman harus berpindah tinggal di dalam perut ikan (bisa dibayangkan dong perut ikan tuh pasti jauh gak lebih nyaman daripada kapal). Namun justru di dalam perut ikan yang gak nyaman lah Yunus dibawa memenuhi tujuan hidupnya. Sedangkan kalau dia tinggal di kapal yang nyaman dia malah dibawa pergi menjauh dari tujuan hidupnya.

Segala ketidaknyamanan yang saya alami di tahun 2012 mungkin menjadi cara Tuhan untuk membawa saya pada impian dan tujuan yang jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Sama seperti Yunus yang harus tinggal di perut ikan untuk memenuhi tujuannya. Sama seperti Bilbo yang harus mengalami banyak hal buruk untuk memperoleh tujuannya mendapat harta karun.

Tahun 2013 ini akan menjadi tahun yang luar biasa, dimana impian besar saya akan terwujud. Amin! 🙂

 

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” – Ratapan 3:22-23

penting gak sih?

Standar

Setiap kali pulang ke Jogja, saya selalu menyempatkan diri untuk hura-hura dengan para sahabat. Sekedar makan bersama, berkumpul di basecamp atau bernyanyi sepuasnya di sebuah bilik karaoke. Kami menyebutnya sebagai katarsis, yaitu meluapkan segala bentuk emosi yang selama ini kami pendam.

Kepulangan saya ke Jogja biasanya gak terlalu lama. Makanya saya harus memanfaatkan waktu sempit sebaik-baiknya untuk dapat memuaskan keluarga, teman-teman dan diri saya sendiri tentunya. Mengunjungi keluarga besar, jelas sudah jadi agenda wajib. Bisa-bisa diomelin mamak kalo gak mampir-mampir ke rumah sodara.

Sudah jadi kebiasaan saya untuk gak woro-woro di social media tentang kepulangan saya ke Jogja. Males aja kalo terus banyak yang ngajakin pergi atau sekedar ketemuan. *padahal gak ada yg ngajakin juga sik* Saya hanya memberi kabar kepulangan saya hanya pada sahabat terdekat saya supaya bisa meluangkan waktu untuk hura-hura.

Prioritas saya jelas melepas rindu dengan teman-teman dekat yang memang sudah tersebar di seluruh pelosok nusantara. Tapi ada kalanya teman dekat saya tidak bisa datang karena ada keperluan lain, padahal kami sudah lama gak ketemu dan jauh-jauh datang dari daerah yang berbeda. Sebagai sahabat lama yang dulu sangat akrab, tentu saya kecewa. Tapi apakah saya berhak untuk marah?

Saya sadar betul bahwa prioritas tiap orang berbeda-beda. Mungkin saya menjadikan sahabat saya sebagai salah satu prioritas untuk bertemu. Namun apakah saya cukup penting untuk dijadikan prioritas oleh sahabat saya? Belum tentu. Sahabat saya masih punya keluarga, pacar dan kepeentingan lain yang mungkin jauh lebih berarti daripada sekedar berkumpul dengan sahabat lama.

Salah satu esensi menjadi orang dewasa adalah kita dapat melihat segala sesuatu lebih terbuka. Gak melulu memandang keinginan dan kepentingan kita sendiri, tapi juga kepentingan orang lain. Dan kita juga bisa memilih untuk tetap tidak terima saat sahabat kita tidak menjadikan kita sebagai prioritas, atau kita bersikap legowo dan maklum akan kepentingan lain.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film yang banyak dihina-hina karena jalan ceritanya yang “agak porno”. Dilihat dari posternya, film Ted memang nampak seperti film anak-anak karena tokoh utamanya adalah boneka beruang. Tapi film ini dikategorikan dalam film dewasa karena agak menyerempet ke arah pornografi juga.

Film Ted bercerita tentang seorang anak bernama John yang tidak punya teman dan berharap boneka beruangnya bisa hidup sehingga mereka bisa berteman selamanya. Berkat Pak Tarno dengan bim-salabim-nya, boneka beruang bernama Ted itu bisa hidup dan bicara layaknya manusia. Hanya saja ukuran badannya tetap sebesar boneka beruang. *padahal Ted ini makan dan minum jugak lho* *bingung*

Nah hingga dewasa, si John tetap bersahabat bahkan tinggal bersama Ted. Diceritakan bahwa John memiliki pacar bernama Lori yang ingin agar John bisa melepas Ted. Di sinilah kedewasaan John diuji. Dia harus memilih antara Lori dan masa depan, atau memilih Ted yang artinya dia akan selalu terjebak dalam sifat kanak-kanaknya.

Meskipun film ini banyak dicaci karena unsur pornonya, saya justru merasa bahwa banyak yang dapat kita petik dari film ini. Film Ted mengajarkan kita untuk dapat memilih skala prioritas. Mana yang kita anggap lebih penting? Masa depan atau masa lalu? Bersenang-senang dengan teman lama atau menjalin hubungan dengan seseorang yang kita anggap spesial? Karir atau pertemanan?

Saat ini saya masih mudah berhubungan, bertemu, hura-hura atau meminta bantuan pada sahabat saya. Namun jika suatu hari nanti saya tidak lagi menjadi prioritasnya, ya saya harus siap. Marah-marah pun tidak ada gunanya. Justru malah keliatan seperti anak kecil yang gak bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.

Seseorang mungkin begitu penting bagi kita. Namun apakah kita cukup penting bagi dia?

🙂

yang hilang biarlah berlalu..

Standar

Kehilangan sesuatu, baik itu barang atau seseorang, tentu membawa beban tersendiri bagi kita. Itulah yang saya alami sekitar 2 bulan yang lalu. Kehilangan sebuah ponsel yang baru saya miliki tak sampai 1 bulan. Sebuah ponsel Mito 720 yang bisa buat nonton tipi. Kisah singkat saya bersama si Mito bisa dibaca disini. Untung saja kebersamaan saya bersama si Mito hanya beberapa minggu, belum sampai 3,5 tahun. Kalau kebersamaan kami selama itu dan akhirnya harus pupus di tengah jalan, pasti rasanya menyakitkan. *iki opo sih*

Tapi sesuatu yang hilang pasti ada gantinya. Dan harus lebih baik. Sebagai ganti Mito yang hilang sebetulnya saya mengincar ponsel bersistem operasi Android. Beberapa ponsel Android murah sudah saya incar, seperti Samsung Galaxy Y dan Sony Xperia Tipo.

 

Kedua ponsel ini harganya di atas 1,2 juta rupiah. Membuat saya harus berpikir berulang kali untuk memilikinya, karena saya sudah menggunakan Blackberry. Menurut saya, orang dengan dua smartphone agak aneh dan bikin boros tagihan pulsa.

Hingga suatu hari, tepatnya Jumat minggu lalu, saya berkeliling masjid Tebet Mas sambil menunggu rekan saya sholat jumat. Di halaman masjid terdapat sebuah stand Smartfren. Iseng-iseng saya melihat ke stand tersebut. Ternyata di situ tersedia gadget bersistem operasi Android. Ada Smartfren Andro Tab, semacam versi murahnya Galaxy Tab. Yang menarik perhatian saya justru ponsel bersistem operasi Android yang dijual cukup murah, yaitu 1,4 jutaan untuk ponsel berlayar 4 inch dan 800 ribuan untuk yang berlayar 3,5 inch. Keduanya sudah menggunakan Android 4.0 Ice Cream Sandwich.

Saya sangat tertarik, karena harganya sangat murah dan ketika dicoba, touchscreennya sangat mulus, begitu pula saat mencoba streaming aplikasi MyTrans. Kelebihannya lagi, ponsel ini bisa digunakan sebagai sumber hotspot mobile. Jadi jika tadinya saya ingin memiliki ponsel Android tanpa berlangganan internet dan hanya mengandalkan WiFi saja, sepertinya saya bisa mendapat lebih dari ponsel ini. Apalagi belakangan modem Smartfren yang setahun lalu saya beli dengan harga sangat murah sudah mulai error. Saya pikir tidak ada salahnya jika saya membeli ponsel seharga 800ribuan dan menggunakannya sebagai pengganti modem.

Saya tidak langsung membeli di halaman masjid itu, karena saya masih harus berpikir dan harus melanjutkan pekerjaan terlebih dahulu. Namun namanya sudah naksir, pasti kepikiran terus sepanjang hari dan sepanjang weekend. Akhirnya saya pun membeli ponsel Smartfren Andromax Hisense E860 dengan sistem operasi Android 4.0.3.

 

Mito 720 saya pun sudah tergantikan. Dan sesuai tujuan saya membeli Mito dulu, saya masih bisa menonton tayangan Trans 7 melalui aplikasi MyTrans. Kadang memang suka putus-putus, tapi itu pun sudah cukup buat saya. Saya juga bisa memensiunkan modem yang sudah error, karena saya bisa berselancar menggunakan WiFi pribadi melalui ponsel ini. Ibaratnya sekali makan, dua tiga menu terlampaui.

 

Berbagai aplikasi dan games yang selama ini hanya bisa saya mainkan melalui tablet milik teman saya pun kini bisa saya miliki sendiri. Saya bisa eksis di Intagram, main Draw Something atau pun main Air Traffic Controller. Buat yang menggalau gara-gara keinget mantan terus, mungkin ponsel ini bisa dijadikan pelarian karena banyaknya aplikasi-aplikasi unyu dan gratis.

Coba saja game Temple Run, di mana seolah-olah kita lari dari sebuah kuildan dikejar-kejar makhluk menyeramkan. Anggap saja kita sedang lari dari kenyataan hidup. Lari dari kenyataan bahwa kita masih menyimpan cinta. Lari dari kenyataan bahwa kita masih mengharapkannya kembali. *iki kok malah galau to*

Yang pasti, semoga henpon ini bisa awet di tangan saya dan gak ditaro sembarangan kaya Mito 720 yang berakhir dengan kehilangan. Dan mungkin Smartfren butuh bintang iklan, saya bersedia.. *tetep*

Hahahaaa 😀

bermimpi lagi dan lagi

Standar

Film yang mengangkat tema dunia tarian selalu menarik hati saya. Libur terakhir kemarin pun (ya, saat orang lain libur sampai tanggal 23, saya sudah masuk tanggal 21) saya manfaatkan untuk menonton film Step Up 4 Revolution. Hentakan musik dan gerakan tubuh yang seirama dengan musik mewarnai hampir seluruh bagian film.

Sama seperti film bertema tarian lainnya, Step Up 4 Revolution ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang ingin menunjukkan pada dunia bahwa seseorang dapat meraih kesuksesan melalui tarian. Pada awalnya tujuan mereka sederhana saja, yaitu ingin memenangkan kontes dari Youtube. Namun tujuan mereka berubah haluan saat sebuah perusahaan pengembang hendak menghancurkan lingkungan tempat tinggal mereka.

Film bertema tarian yang saya saksikan sebelumnya adalah Streetdance 2.  Saya menyaksikan kedua film ini dalam format 3D. Bukannya nggaya, tapi karena kebetulan bioskopnya lagi promo, jadi harganya murah. Hehehe.. ;p

Film Streetdance 2 juga bercerita tentang Ash, seorang penari yang ingin memenangkan kontes penari jalanan terbaik se-Eropa. Mengumpulkan penari dari berbagai belahan Eropa dan mempelajari tarian latin menjadi cara jitu Ash untuk memenangkan kontes.

Kedua film berlatar dunia tarian ini memiliki satu pesan yang sama: follow you passion. Para tokoh dalam film sering menemukan kenyataan bahwa menjadikan tari sebagai profesi tidaklah mudah.

“berapa banyak perbandingan orang yang sukses sebagai penari? 1 banding 1000? 1 banding 10000?”

Begitulah kata Bill Anderson, salah satu tokoh dalam film Step Up 4 saat mengingatkan putrinya, Emily Anderson yang bersikeras ingin berkarir sebagai seorang penari. Kenyataannya memang begitulah adanya. Seseorang yang sukses dari menari tidaklah sebanyak orang yang sukses dari bekerja kantoran.

Bekerja sesuai passion tentu menjadi dambaan bagi banyak orang (yang tau apa passionnya). Namun memang harus disadari, bekerja sesuai passion tidak menjamin kehidupan akan dilimpahi kemakmuran. Kalo kata iklan salah satu provider, hidup itu bebas untuk memilih (asal bisa membuat orang di sekitar pun senang).

Kita bebas memilih untuk bekerja sesuai passion tapi kurang makmur, atau bekerja tidak sesuai passion tapi bisa jadi kaya secara materi. Sebebas-bebasnya memilih, tentu kita harus mempertimbangkan setiap konsekuensinya. Bagi saya, orang tua menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan ke mana arah hidup saya.

Saya pernah menjalani pekerjaan yang tidak sesuai impian saya dengan gaji yang jauh dari makmur (kasihan banget yak). Tapi saya bertahan selama setahun dengan pertimbangan tidak ingin lagi menyulitkan orang tua yang sudah membiayai saya sejak kecil hingga lulus kuliah. Saya harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, meskipun artinya saya harus makan ati setiap hari.

Dalam kedua film di atas, para tokoh seolah begitu mudah menjalani hidup sesuai passion. Yah karena pertimbangan durasi, perjuangan para tokoh untuk meraih mimipi pun akhirnya tidak sia-sia dan menjadi kenyataan.

Ash dan kawan-kawan dalam film Streetdance 2 akhirnya memeproleh kemenangan pada kontes penari jalanan se-Eropa. Sementara sekelompok penari dalam film Step Up 4 akhirnya sukses menghalangi perusahaan pengembang untuk menghancurkan lingkungan tempat tinggal mereka, plus mendapat kontrak dari salah satu perusahaan sepatu terkemuka di dunia.

Tidak pernah berhenti berjuang menjadi kunci bagi para tokoh untuk akhirnya meraih impian mereka. Perjuangan mereka berujung pada kesuksesan dan membawa mereka pada kemakmuran.

Pada kenyataannya, berjuang dalam hidup tidaklah semudah dalam film. Mungkin perlu bertahun-tahun bagi orang-orang yang akhirnya sukses dari mengikuti kata hatinya. Bahkan seringkali saya berpikir, apakah memperjuangkan keinginan harus dilakukan terus menerus? Ataukah ada saatnya kita harus berhenti memperjuangkan keinginan kita dan melihat kemungkinan lain yang dapat membawa kita pada kesuksesan? Dan kapan kah kita harus berhenti berjuang? Lalu apa yang harus dilakukan jika kita sudah meraih impian kita?

Saat ini saya sudah bekerja sebagai reporter di Trans 7. Menjadi seorang reporter memang impian saya sejak kecil. Saya sendiri tidak mengerti kenapa saya tidak pernah bercita-cita menjadi dokter, pilot atau astronot seperti normalnya anak-anak saat ditanya tentang cita-cita. Lalu apa yang harus saya lakukan saat impian saya sudah tercapai?

Bermimpi lagi. Memiliki cita-cita baru. Saat ini saya sudah bekerja sesuai mimpi saya dulu dan sekarang saya memiliki cita-cita baru. Cita-cita yang menjadi alasan saya bangun setiap hari. Yang membuat saya bersemangat menjalani hidup (kecuali pada saat galau). :p

Sampai saatnya tiba, saya hanya bisa menjalani hidup sambil bermimpi dan berusaha, hingga akhirnya saya berhasil meraih impian atau harus berhenti berjuang. Lalu apa mimpi baru saya? Mau tauk aja. Kepo deh! :p

balas dendam masa kecil

Standar

Makan malam saya hari ini adalah pizza. Saya pun jadi teringat masa kecil saya. Saat itu saya sangat amat jarang sekali makan pizza. Gak hanya pizza, tapi juga makanan-makanan fastfood lainnya semacam McD, KFC, Texas Chicken dan sebagainya.

Saya lahir dan tumbuh di tengah keluarga sederhana dan serba berkecukupan, yang artinya tak ada dana berlebih untuk makan di restoran-restoran tersebut. Bahkan makan di luar pun sangat jarang. Sehari-hari ya makan masakan ibu di rumah. Segala macam jajanan seperti es krim dan coklat yang jadi idola anak-anak pun lumayan jarang saya dapatkan.

Tak hanya dalam hal makanan, waktu kecil pun saya sangat jarang diajak jalan-jalan. Paling pol ya ke malioboro atau alun-alun yang letaknya tak jauh dari rumah. Jalan kaki juga udah nyampe. Saya bisa makan enak dan jalan-jalan kalo ada teman yang merayakan ulang tahun atau ada keluarga jauh yang datang.

Kondisi mulai agak mendingan waktu saya duduk di bangku SMA. Saya mendapat sepeda motor pertama saya, yang artinya bisa saya gunakan ke manapun saya inginkan. Tapi tak semudah itu juga sih, mengingat uang saku anak SMA yang pas-pasan. Palingan saya main ke rumah teman sambil mengerjakan tugas-tugas kelompok. Entah kenapa waktu SMA banyak sekali tugas kelompok, yang akhirnya membuat teman sekelompok jadi sahabat sampai sekarang. :’)

Sampai kuliah pun saya masih jarang pergi ke tempat anak-anak muda biasa nongkrong. Itu sebabnya jangan bertanya di mana tempat-tempat gaul di Jogja. Saya tidak banyak tahu, karena saya memang bukan anak nongkrong.

Selepas kuliah, saya langsung meninggalkan Jogja untuk bekerja di Jakarta. Di Jakarta, saya mendapat penghasilan dari keringat saya sendiri. Saya pun bisa membeli semua hal yang jarang saya nikmatii sewaktu kecil. Misalnya seperti pizza yang sedang saya nikmati ini. Bahkan kalau mau, saya bisa menikmati semua makanan yang saya inginkan untuk membalaskan dendam masa kecil saya. Tapi tentu saja saya tahu kalau itu bukan pola makan yang sehat.

Tinggal di Jakarta pun mungkin salah satu wujud balas dendam saya. Waktu kecil kan saya jarang bepergian. Saat ini saya bukan hanya bepergian dari rumah, tapi saya sudah tinggal di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah.

Semenjak bekerja pun saya baru bisa menikmati enaknya hura-hura menggunakan uang sendiri. Makan enak, nonton bioskop, karaokean, nongkrong-nongkrong, bisa saya lakukan tanpa perlu kuatir membebani orang tua. Saya juga sering berkelakar dengan sahabat-sahabat saya, bahwa kami bangga menjadi anak yang tidak gaul di masa lalu. Kami lebih bangga hura-hura dengan jerih payah sendiri, daripada anak-anak lain yang lebih gaul tapi dengan uang orang tua.

Mungkin kisah masa kecil saya agak kasihan ya. Masih banyak sih yang lebih kasihan daripada saya. Tapi saya bersyukur diberi kesempatan untuk melewati masa-masa sulit. Dengan begitu, saya bisa menghargai apa yang saya dapatkan dengan susah payah. Saya bisa mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu, saya harus berusaha keras.

Yang pasti, masih ada keinginan-keinginan lain yang belum terwujud untuk membalaskan dendam masa kecil saya. Dan sampai sekarang saya masih berusaha mewujudkannya. Hehehehee 😀

(҂’̀⌣’́)9

BBMe mbah mu po?

Standar

Setelah kulit menghitam akibat liputan unjuk rasa. Setelah seminggu ini berjaga-jaga sambil deg-degan kalau unjuk rasa berlangsung ricuh. Akhrinya semalam diputuskan kalau harga BBM ga jadi naik tanggal 1 April ini. Kabar gembira bagi mereka yang sejak kemarin menentang habis-habisan rencana pemerintah menaikkan harga BBM.

Memang nampak ada keragu-raguan dari pemerintah dan DPR tentang hal ini. Namun saya yakin keputusan yang diambil pemerintah sudah dipikirkan masak-masak bagi kebaikan bangsa ini.

Bagi saya pribadi, sebetulnya kenaikan harga BBM dapat dimaklumi. Harga minyak mentah dunia memang sedang tinggi. Bahkan dari informasi yang saya baca di portal berita, presiden Amerika Serikat, Barack Obama juga diprotes oleh rakyatnya terkait kenaikan harga minyak ini. Artinya, bukan bangsa Indonesia saja yang harus mengalami kenaikan harga BBM karena bangsa lain pun harus menghadapi kenyataan yang sama.

Bukannya saya tidak peduli dengan masyarakat yang beban hidupnya akan bertambah jika harga BBM naik. Bahkan kalo harga BBM naik, beban hidup saya juga pasti bertambah. Tapi segala kesulitan kan pasti ada jalan keluarnya, asal kita mau berusaha.

Kita bisa menyikapi kenaikan harga BBM dengan dua cara. Pertama, bersungut-sungut dan menganggapnya sebagai beban hidup. Kedua, kita bisa menjadikannya sebagai tantangan, sehingga kita lebih berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam alkitab terdapat sebuah kejadian, dimana bangsa Israel yang terbebas dari penjajahan bangsa Mesir hampir sampai ke Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan. Sebelum mencapai Kanaan, nabi Musa mengutus 12 pengintai untuk melihat keadaan negeri Kanaan yang penuh dengan susu dan madu sebagai lambang kesuburan. Setelah 40 hari, kedua belas pengintai itu kembali dengan dua hasil yang berbeda. Sepuluh pengintai melihat negeri Kanaan sebagai negeri yang penuh kebaikan, namun tidak mungkin menaklukannya karena negeri itu didiami oleh orang-orang kuat. Sementara dua pengintai melihat Kanaan sebagai negeri yang dilimpahi susu dan madu, dan mereka pasti bisa menduduki negeri itu jika Tuhan menyertai mereka.

Sama seperti kisah alkitab di atas, bangsa Indonesia punya dua sikap. Pertama, menganggap kenaikan harga BBM sebagai momok. Sehingga jika BBM jadi naik, dapat dipastikan masyarakat tidak akan sanggup menghadapi biaya hidup yang bertambah. Kedua, sikap optimis bangsa Indonesia yang yakin tetap bisa bertahan hidup di bawah himpitan ekonomi. Persis cerita di atas, sepertinya lebih banyak masyarakat yang pesimis ketimbang optimis.

Sebetulnya harga bensin premium yang direncanakan naik menjadi 6000 rupiah bukanlah harga baru. Tahun 2008 kita pernah mengalami harga setinggi itu, dan nyatanya tetap bisa bertahan hidup kok. Dan kalau dulu ada penurunan harga BBM, berarti kan masih ada kemungkinan harga BBM turun lagi di masa mendatang.

Namun akhirnya pemerintah batal menaikkan harga BBM 1 april ini. Kenaikan akan terjadi jika selama 6 bulan, harga minyak mentah dunia lebih tinggi 15 persen dari estimasi APBN. Meskipun kebijakan untuk menunda kenaikan harga BBM sudah diambil, masih ada saja masyarakat yang berunjuk rasa. Bahkan di salah satu stasiun TV swasta, ada pengunjuk rasa yang menuntut harga BBM tidak boleh naik dalam kondisi apapun. Dalam hati saya berkata, “bbm e mbahmu po..”. Ibaratnya, sudah diberi hati masih minta jantung.

Kalau bicara kesiapan, masyarakat tidak akan pernah siap menghadapi kenaikan harga jika tidak dipaksa. Bahkan di beberapa aku sosial media dikatakan, bahwa masyarakat tidak siap menghadapi kenaikan harga BBM, tapi kebiasaan merokok berjalan terus. Padahal jelas merokok bukan kebutuhan pokok, menghabiskan uang yang tidak sedikit dan menimbulkan penyakit.

Terlepas dari banyaknya kepentingan politik dan pencitraan terkait kenaikan harga BBM, optimis dalam menjalani tantangan hidup perlu ditanamkan bagi bangsa Indonesia. Apapun keputusan yang diambil pemerintah, pasti sudah dipikirkan masak-masak tentang sisi positif dan negatifnya. Dan jangan lupa berdoa dan menyerahkan segala permasalahan kita pada Yang Di Atas.

Inilah pendapat sotoy saya terkait kenaikan harga BBM. Beda pendapat boleh, asal jangan dilakukan dengan kekerasan. 🙂

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” (Roma 13:1).