Category Archives: Uncategorized

Pesan Hotel di Goyangan Transjakarta

Standar

Saya ingat betul, waktu itu hari raya tahun baru China alias Imlek. Saya dan ketiga teman saya, Dita, Penta dan Riska janjian ketemu di Sarinah sebelum berangkat ke Klenteng Dharma Jaya Glodok. Tak satupun dari kami berempat beretnis tionghoa. Tapi kami ingin melihat langsung bagaimana kemeriahan Imlek di klenteng tertua di Jakarta.

Tiga orang sudah datang di Sarinah, tinggal menunggu satu orang lagi. Sambil menunggu, saya browsing hotel di aplikasi Traveloka. Saya dan kedua teman saya yang lain, Arini dan Nanil, berencana traveling ke tiga negara Asia Tenggara, yaitu Vietnam, Kamboja dan Thailand. Tiket Jakarta – Ho Chi Minh dan Bangkok – Jakarta sudah ada di inbox email kami masing-masing. Jadi kami tinggal mencari hotel di empat kota, yaitu Ho Chi Minh, Phnom Penh, Siem Reap dan Bangkok. 

Semua teman saya, baik yang hendak pergi ke Glodok maupun pergi ke 3 negara sebetulnya saling kenal. Kami semua teman SMA. Tapi saya merahasiakan kepergian ke 3 negara karena pengennya tiba-tiba sudah cek in di luar negeri. Jadi saya browsing hotel sambil ngumpet-ngumpet. Kalau ketahuan lagi browsing hotel, pasti bakal ditanyain macam-macam.

Malam sebelumnya, saya, Arini dan Nanil sudah membahas hotel mana saja yang kira-kira akan mendapat kehormatan untuk kami singgahi. Karena pergi bertiga, biasannya kami akan mencari penginapan yang bisa ditiduri 3 orang dalam 1 ruangan. Beruntung, kalau browsing lewat aplikasi Traveloka, kita bisa memilih berapa orang yang akan tinggal dalam satu kamar. Hasil yang keluar pun benar-benar hotel yang menyediakan triple room. Jadi kami nggak perlu repot lagi pencet sana sini untuk mengecek ketersediaan kamar triple. 

Selanjutnya soal harga. Namanya liburan kere hore, budget kami terbatas. Nggak mungkin kami nginep di hotel berbintang-bintang dengan harga jutaan rupiah. Di Traveloka, kami bisa menentukan range harga sesuai kemampuan. Enaknya lagi, kami nggak perlu pusing mikirin biaya-biaya tambahan, karena harga yang tertera sudah all in. 

Tiap kota, kami membatasi 2 hingga 3 kandidat hotel. Semua kandidat hotel sudah memenuhi syarat triple room dan harga terjangkau. Syarat tak tertulis berikutnya adalah: lokasi hotel dari akses transportasi umum dan ketersediaan wifi (selama pergi keluar negeri, kami nggak pernah sewa wifi portable atau beli sim card setempat. Parah sih). Dengan aplikasi Traveloka, kami bisa melihat lokasi hotel di peta dan tempat-tempat menarik apa saja yang bisa ditemui di sekitar hotel (yang bisa dijangkau dengan jalan kaki tentunya).

Syarat terakhir yang sebetulnya nggak terlalu penting: apakah hotelnya instagramable? (Karena bagaimanapun kami hanyalah pemuda pemudi kampung yang ingin keluar negeri). Melalui foto-foto yang terdapat di aplikasi Traveloka, kami bisa menilai apakah kandidat hotel bisa dijadikan lokasi untuk selfie atau sekedar nongkrong-nongkrong cantique.

Pembahasan soal hotel di 4 kota kami lanjutkan pada pagi hari, saat saya sedang menunggu di Sarinah. Meeting virtual lewat aplikasi chatting terus berlangsung, sampai satu orang teman lagi datang dan kami harus beranjak dari Sarinah. Dari restoran cepat saji menuju halte Transjakarta, pandangan saya terus tertunduk pada handphone. Masih rapat soal hotel mana yang bisa memenangkan hati kami. 

Pintu bus Transjakarta terbuka. Kami berempat langsung masuk mencari tempat duduk yang kosong. Waktu itu bus nggak terlalu penuh. Tapi sialnya, sudah nggak ada tempat duduk yang tersisa. Mau nggak mau saya berdiri sambil chattingan. Percayalah, butuh keahlian khusus untuk bisa berdiri tegak sambil chatting di handphone. 

Dalam perjalanan, kami menemui kata sepakat. Terpilih lah masing-masing hotel di tiap kota.  Karena bertugas untuk memesan hotel, saya langsung buka aplikasi Traveloka dan melakukan pemesanan. Semua proses pemesanan hotel saya lakukan sambil berdiri di dalam bus Transjakarta. Lumayan susah, tapi saya nggak mau buang-buang waktu menunda pemesanan hotel. Takutnya keburu penuh atau lebih parahnya, saya lupa.

Setelah pengisian data-data, waktunya pembayaran. Sebagai pemuda modern kekinian, pembayaran hotel pun saya lakukan lewat mobile banking. Menyengankan sekali jadi kids jaman now. Semua serba gampang. Bahkan mau reservasi hotel pun nggak perlu susah nelpon sana sini. Tinggal tekan-tekan toucshcsreen, email bukti pemesanan hotel pun sampai ke inbox. 

Sambil tersenyum mantap, saya forward email bukti pemesanan tiket kepada Arini dan Nanil. Saya kantongi handphone dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Glodok.

photo story: trip to Bali

Standar

Yak! Kali ini saya mau pamer pengalaman saya bersenang-senang di Bali. Meskipun ga sepenuhnya bersenang-senang karena ada unsur kerjanya dikit, yang penting saya have fun di sana. ๐Ÿ˜€ Oh ya, ini merupakan pengalaman saya kedua pergi ke Pulau Dewata itu. Sebelumnya saya pernah ke sana tahun 2004 untuk kegiatan study tour SMA.

Berbeda dengan pengalaman pertama saya ke Bali naik bis pariwisata, kali ini saya menumpang pesawat terbang. Seharusnya sih saya naik Garuda Indonesia Airlines, namun karena saya terlambat datang ke check in counter padahal saya harus ada di Denpasar sebelum pukul 13.30 WITA, jadinya saya naik pesawat Air Asia. Baru kali itu saya menumpang pesawat Air Asia dan saya pun baru tahu kalau jarak antar tempat duduk begitu sempit (hampir sama kaya Lion lah) dan GA DAPET MAKAN!! Sekedar makanan kecil atau permen pun nggak dikasih. Kalau mau makan, ya beli. Agak kesal sih karena saya belum makan dari pagi karena biasanya di Garuda dapet makanan. Tapi ya sudahlah, yang penting saya berangkat dan sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai dengan selamat ๐Ÿ™‚

di bandara

bandara Bali

 

Dari bandara, saya langsung menuju pantai Sanur untuk selanjutnya naik speed boat menuju tempat berikutnya. Baru pertama kali saya pergi ke Sanur karena dulu belum sempat mengunjunginya. Ternyata di Sanur lebih banyak turis lokal daripada turis asing. Suasana nya pun masih sangat Indonesia, tidak seperti di Kuta yang “bule banget”.

sampai di sanur

sanur

 

Lokasi speed boat cukup jauh dari bibir pantai sehingga saya yang tadinya memakai sepatu harus bertelanjang kaki dan melipat celana untuk meminimalisir basah. Selain itu saya pun harus berjibaku mengangkat koper yang lumayan berat dari bibir pantai ke kapal. Sebenarnya saya ingin duduk di luar agar dapat merasakan angin dan melihat deburan air laut yang terbelah oleh kapal. Namun karena saya harus menjalani tes kamera 3 hari ke depan, terpaksa saya duduk di dalam agar tidak tersengat sinar matahari. Di dalam kapal rasanya seperti naik metro mini yang melewati jalan berbatu-batu. Bahkan beberapa kali saya ikut menjerit karena dikagetkan oleh hentakan kapal yang begitu kuat.

Kurang lebih 30 menit kemudian, saya sampai di sebuah pulau bernama Nusa Lembongan yang terletak di sebelah tenggara Pulau Bali.

Nusa Lembongan

 

Saya tidak tahu pasti di sisi pulau yang mana saya mendarat. Dan begitu mendarat, saya kembali berjibaku mengangkat koper dari kapal menuju bibir pantai yang lagi-lagi berjarak cukup jauh. Namun semuanya seolah terbayar dengan keindahan pantai di Nusa Lembongan yang begitu indah dengan pasir putih dan air yang begitu jernih.

mendarat di Pulau Nusa Lembongan

 

Setelah menurunkan barang, saya pun langsung digiring menuju hotel untuk menginap. Saat itu saya memang sudah sangat lelah, ngantuk dan lapar. Jadi tawaran untuk langsung ke hotel pun langsung saya iyakan segera. Tidak lama kemudian saya pun terkejut melihat hotel tempat saya menginap. Bentuknya berupa bangunan 2 lantai yang terbuat dari kayu dan atap dari jerami kering. Kamar ada di lantai atas dan bagian bawah hanya terdapat semacam bale-bale untuk bersantai. Pintu masuk dan tangga ada di bagian belakang bangunan. Dan yang membuat terkejut adalah…… KAMAR MANDINYA TERBUKA!!!! Kamar mandi ada di bagian belakang kamar, tanpa atap dan terbuka! Saya langsung terbengong-bengong saat melihatnya.

hotel di Nusa Lembongan

 

Jika melihat suasana hotel dan pantainya sih ala-ala Thailand (walaupun saya belum pernah ke Thailand dan hanya nonton di tipi). Pemandangan dari kamar hotel di lantai atas pun lumayan bagus, walaupun terhalang atap bangunan resto hotel. Oh ya, karena perut sudah menjerit kelaparan, saya pun segera memesan makanan dari resto hotel tersebut. Saya memesan nasi kari sementara teman saya memesan chicken cordon bleu yang dari segi harga dan rasa agak kurang masuk akal. Mungkin karena ini di Bali dan banyak turis asing, jadi harga yang dipatok juga lumayan tinggi.

pemandangan dari kamar hotel

nasi kari sapi dan chicken cordon bleu

Walaupun badan pegal-pegal dan kurang istirahat, rasanya sayang jika hanya tidur-tiduran di sini. Jadi sehabis makan, saya beristirahat sebentar dan kemudian berjalan-jalan menyusuri pantai. Ternyata pemandangan di Nusa Lembongan memang indah. Banyak kapal-kapal dan speed boat di pinggir pantai. Saya pun menyusuri pantai sampai ujung yang berupa tebing karang. Dan tentu saja tak lupa untuk menyalurkan bakat saya di bidang modelling, hehehe :p

pemandangan pantai

di pinggir pantai

menjelang sunset sekitar pukul 18.00 WITA

 

Satu hal ย yang saya lupa dari Bali, yaitu PERBEDAAN WAKTU! Saya terbiasa di zona waktu WIB dan lupa mengatur jam saya ke zona WITA. Maka terjadilah hal yang tidak diinginkan. Seharusnya saya sudah siap pada pukul 6 sore waktu bali untuk menyeberang ke kapal pesiar di tengah laut sana. Namun jam segitu saya masih foto-foto di pantai. ๐Ÿ˜ฆ ย Akhirnya dengan mandi apa adanya, saya pun bersiap-siap dengan kecepatan super agar tidak ketinggalan kapal. Sekitar pukul 19.00 WITA, saya menyeberang ke kapal pesiar SEA SAFARI CRUISES untukk berpesta pora.hihihi.. ๐Ÿ˜€

SAFARI CRUISES

hiburan di atas kapal

 

Kapal pesiar ini berhenti di tengah laut dan terombang-ambing kesana kemari sehingga bikin mabuk. Padahal hari itu juga terjadi gempa dan tsunami di Jepang dan sempat dikabarkan bahwa gelombang tsunami juga akan sampai ke perairan Indonesia. Saya sih tidak terlalu kuatir, karena saya tahu bahwa yang terancam adalah kepulauan di wilayah utara Indonesia sementara saya sedang berada di daerah selatan.

Acara di kapal berlangsung sampai malam dan kami kembali ke hotel sekitar pukul 12 malam di tengah hujan lebat. Karena cuaca buruk dan penumpang speed boat bisa dibilang overload padahal saya tidak bisa berenang,ย maka saya pun memakai rompi pelampung.

pake pelampung

Keesokan paginya, saya bangun dengan badan masih pegal-pegal, namun tak menyurutkan niat saya untuk menikmatipagi hari di Nusa Lembongan. Saya pun kembali menyusuri pantai. Kali ini saya tak membawa kamera karena memang hanya ingin bermain air di pantai. Sayang seribu sayang, sekitar pukul 10 waktu setempat, hujan kembali turun dengan derasnya sehingga terpaksa saya kembali ke hotel dan bersiap-siap kembali ke Pulau Bali pukul 11.

Saya kembali menumpangi speed boat untuk kembali ke Pulau Bali, tepatnya di pantai Sanur. Karena cuaca mendung dan matahari tidak menyengat, saya memberanikan diri duduk di bagian belakang kapal den merasakan deburan air dan angin.Ternyata getaran di bagian belakang tidak terlau terasa jika dibandingkan duduk di bagian dalam kapal.

duduk di bagian belakang speed boat

 

Sampai di Sanur, saya segera membersihkan diri dari pasir yang menempel di kaki. Dari Sanur saya mampir ke tempat makan bernama “babi guling sanur”. Makanannya berupa nasi dan seperangkat babi-babian. Ada babi guling, kulit babi kering, sate babi dan lain lain.

babi guling sanur

 

Sebelum berangkat ke bandara, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat terkenal di sekitar pantai kita walaupun hanya sebentar. ๐Ÿ™‚ Sebenarnya saya juga sempat mampir ke toko oleh-oleh bernama “Erlangga”. Namun menurut saya, barang-barang yang ada tidak jauh berbeda dengan barang-barang di Mirota Batik Yogyakarta. Mungkin karena kedua propinsi tersebut mengutamakan keindahan alam, seni dan budaya sebagai daya tarik wisatanya.

zero ground

jalan legian

pantai kuta yang ngehits

kuta dilihat dari circle K di seberang

Setelah bersenang-senang, saya pun menuju bandara dan langsung terbang menuju Jakarta dengan selamat. Kali ini saya menumpang pesawat Garuda, jadi dijamin nyaman dan ga akan kelaparan ๐Ÿ˜€

 

Untuk perjalanan berikutnya, semoga saya bisa ke tempat lain yang lebih unik dan ngehits, bahkan ke luar negeri. hihihi.. :p

burlesque

Standar

Beberapa waktu yang lalu saya menonton “Burlesque”, film yang menurut saya sangat menarik dan sarat pesan moral. Film ini bercerita tentang Ali (diperankan oleh Christina Aguilera), ย seorang gadis asal Iowa dalam usahanya meraih cita-cita menjadi seorang bintang di LA. Pada akhirnya ia memang menjadi bintang panggung di sebuah klub bernama “burlesque” milik seorang wanita bernama Tess (diperankan oleh Cher).

Film yang mengangkat cerita tentang seseorang yang berhasil meraih impian memang banyak, namun menurut saya film ini tidak hanya menceritakan tntang keberhasilan seseorang meraih mimpi,tetapi juga berbagai godaan ketika seseorang sedang berada di atas.

 

Menggapai impian

Di film ini, Ali yang berasal dari Iowa yang ingin menjadi bintang mengawali usahanya dengan datang ke burlesque dan menonton pertunjukan yang sedang digelar. Ketika ia menemui Tess dan ingin melamar menjadi seorang penari, ia ditolak. Meskipun ditolak, bukan berarti ia menyerah. Ia malah menjadi seorang pelayan di klub tersebut, yang berarti tidak ada hubungannya sama sekali dengan impiannya.

Setiap orang pasti mempunyai impian atau cita-cita. Sewaktu saya masih kecil saya sering ditanya: “kalo gede pengen jadi apa?” Dan saya rasa semua orang pasti juga pernah ditanya begitu. Bahkan Ria Enes dan susan pernah menyanyikan lagu tentang cita-cita, yang liriknya begini:

susan..susan..susan..kalo gede mau jadi apa?

aku kepengen pinter biar jadi dokter

Sewaktu kecil entah mengapa saya tidak pernah menjawab ingin menjadi dokter meskipin kebanyakan anak-anak, bahkan sampai sekarang, bercita-cita jadi dokter. Sewaktu kecil saya justru menjawab ingin menjadi wartawan. Sounds weird, huh? Anak kecil yang belum tau kerasnya dunia orang dewasa ingin mejadi seorang wartawan. Waktu itu saya hanya mengerti bahwa wartawan adalah orang yang cari berita.

Untuk menjadi seorang wartawan atau jurnalis, saya mengambil keputusan untuk kuliah di jurusan komunikasi selepas SMA. Namun apa mau dikata, saya yang ingin kuliah di Universitas Gajah Mada jurusan komunikasi ternyata tidak lulus UM UGM maupun SPMB waktu itu. Akhirnya saya pun kuliah di Akademi Komunikasi Indonesia jurusan Broadcasting Radio-TV. Disana saya banyak mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan jurnalistik. Yah paling tidak bisa jadi bekal jika kelak beneran jadi wartawan ๐Ÿ˜€

Selepas kuliah saya bekerja di salah satu stasiun TV swasta sebagai Asisten Produksi di departemen drama. Tidak ada hubungannya dengan dunia jurnalistik, namun saya mau mencobanya. Siapa tau bisa jadi batu loncatan. Namun tidak seperti Ali yang tidak menyerah meskipun harus jadi pelayan dulu, saya justru menyerah.

 

Mengambil kesempatan

Sewaktu Ali menjadi pelayan, Tess mengadakan audisi untuk menjadi penari di klubnya. Ali pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan nekad menari di hadapan Tess dan ia pun diterima menjadi penari di burlesque.

Setelah menjadi penari pun, bukan berarti kehidupannya mulus mulus saja. Salah satu rekan yang iri pada kemampuan Ali berusaha menjatuhkannya dengan cara mematikan lagu pada saat pertunjukan tari sedang berlangsung. Namun Ali justru memanfaatkan kejadian itu untuk menunjukkan kemampuannya dalam bernyanyi dan semenjak itu ia malah menjadi bintang utama. Jika ia tidak mengambil kesempatan untuk bernyanyi, entah berapa lama lagi akan datang kesempatan untuk menjadi bintang utama.

Kadang-kadang kesempatan datang secara tiba-tiba. Ketika kesempatan itu terbuka, kita harus segera memutuskan untuk segera mengambilnya atau melepasnya dan menunggu ia datang lagi, namun entah kapan. Saya sendiri bukan orang yang cepat tanggap dalam mengambil kesempatan. Saya seringkali berpikir ribuan kali ketika ia datang, sehingga ia tiba-tiba berlalu begitu saja.

 

Dedikasi

Dikisahkan bahwa Tess terlilit hutang yang cukup banyak sehingga ia harus memutuskan apakah akan menjual klub nya ataukah mempertahankannya dan kemudian disita oleh bank. Saat itu Ali menolong Tess mencari jalan keluar sehingga akhirnya klub tersebut selamat sehingga Ali dan teman yang lain tetap dapat bekerja disana.

Dedikasi bukan sekedar setia pada perusahaan dan tidak tergoda pada tawaran lain. Dedikasi lebih dari itu. Melakukan tugas di luar pekerjaan dan tanggung jawab kita sendiri. Memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan kita. Merelakan (bukan karena terpaksa) hal-hal pribadi demi pekerjaan kita tanpa mengeluh. Itulah dedikasi.

Saya teringat sebuah cerita. Ada sepasang kakek nenek yang ingn bermalam di suatu hotel di kota kecil. Namun ternyata hotel tersebut penuh sehingga kakek nenek tersebut tak dapat bermalam, padahal sudah tengah malam dan tak mungkin melakukan perjalanan tanpa istirahat. Manajer hotel kecil tersebut yang sebenarnya mendapat jatah kamar pun akhirnya merelakan kamarnya digunakan pasangan tersebut karena tidak tega melihat mereka terlunta-lunta di jalanan. Selang beberapa waktu sesudah kejadian itu, sang manajer hotel kecil tersebut mendapat surat panggilan untuk bekerja di hotel bintang lima di New York yang ternyata milik kakek yang pernah ditolongnya.

Cerita ini mungkin klise,namun kita dapat melihat bahwa orang yang merelakan segala sesuatu dan melakukan lebih dari tugasnya pasti akan mendapat promosi sebagai balasan dari dedikasinya.

 

====================================================

Saya sendiri belum mendapatkan apa yang saya impikan dan cita-citakan. Saya masih berusaha untuk mengambil setiap kesempatan untuk menjadi seorang jurnalis. Menggapai impian memang tidak selalu mudah. Banyak yang harus dilakukan dan dipelajari hingga akhirnya impian itu tercapai. Dari film burlesque, kita dapat belajar bagaimana mengambil kesempatan untuk masa depan yang lebih baik dan bagaimana kita bersikap ketika sedang di “atas”.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” ย (Yeremia 29:11)

๐Ÿ™‚

social networking

Standar

Di masa sekarang ini bukan hal yang aneh jika mencari teman di dunia maya terutama melalui jejaring sosial. Saya sendiri mempunyai beberapa akun di jejaring sosial dari yang udah ga ngetren sampe yang paling update.

1. Friendster
Saya mempunyai akun di Friendster dengan nama “andre rijay”. Akun ini saya buat pada bulan desember tahun 2005 dan merupakan jejaring sosial pertama yang saya miliki. Saya membuat akun ini karena tertarik setelah membaca ulasan tentang friendster di majalah GFresh! Karena masih awam dalam menggunakan jejaring sosial, saya sempat lupa me-log-out akun saya dan profil saya diiubah oleh orang iseng.
Di friendster saya berteman dengan siapa saja, baik orang yang saya kenal di dunia nyata ataupun orang yang tidak saya kenal sama sekali. Di friendster pun saya pernah flirting dengan beberapa orang dan mendapat tanggapan, bahkan sampai bertukar nomor ponsel dan saling sms-an. Karena waktu itu saya masih lugu dan belum mengenal cyber crime, saya sembarangan saja berkenalan dengan orang-orang yang pada akhirnya saya tertipu. T.T
Namun berawal dari friendster pula saya menjalin hubungan dengan orang yang saya cintai *tiba2 menyemenye*
Sekarang saya jarang membuka akun friendster saya karena sudah dianggap ketinggalan jaman dan membosankan.

2. Facebook
Saya membuat akun di facebook sekitar bulan oktober 2008 sembari masih aktif di friendster. Saya membuat akun ini (lagi2) karena penasaran. Masa itu kata-kata “facebook” sering dikumandangkan di berbagai media baik majalah, TV maupun radio. Karena penasaran saya pun mencari tahu dan segera membuat akun fb bersamaan dengan membuat akun gmail.
Di facebook saya menggunakan nama asli saya “Andreas Teguh Trijaya”. Waktu itu menurut saya facebook terkesan lebih resmi daripada friendster sehingga saya rasa lebih baik menggunakan nama sebenarnya. (Namun akhir-akhir ini memang dianjurkan memakai nama asli, karena jika menggunakan nama aneh-aneh bisa dianggap 4L4Y).
Belajar dari pengalaman menggunakan FS yang asal menerima siapapun sebagai teman, di FB saya hanya selektif menerima dan mengundang teman. Saat ini 80% dari sekitar 600 friendlist saya kenal. Selebihnya adalah temannya teman ataupun orang baru yang ingin saya kenal. Meskipun banyak yang mengundang saya untuk menjadi teman, saya tidak memasukkannya ke dalam list saya.
Akhir-akhir ini saya sudah jarang update status di FB meskipun saat ini lebih mudah untuk melakukannya melalui ponsel atau BlackBerry. Saya lebih sering sekedar mengomentari status teman saya ataupun mengobrol melalui fitur message karena lebih bersifat probadi dan kita dapat mengobrol secara conference

3. Twitter
Ini jejaring sosial paling baru dan masih banyak digunakan saat ini. Bahkan Indonesia dikatakan sebagai pengguna twitter terbanyak nomor tiga setelah US dan Jepang. Saya pertama kali nge-twit pada tanggal 23 april 2009. Saya membuat akun ini karena konon banyak artis-artis dunia yang menggunakannya, bahkan saya membaca di salah satu situs berita bahwa Ashton Kutcher dan Oprah Winfrey bersaing mencapai 1 juta followers kala itu yang akhirnya dimenangkan oleh Kutcher.
Pada saat pertama kali membuat akun twitter, saya bingung bagaimana cara menggunakannya dan sistem jejaringnya sehingga saya sempat mendiamkan akun ini selama beberapa bulan. Setelah beberapa lama banyak yang menggunakan twitter saya pun kembali mengutak-atiknya dan semenjak menggunakan nokia E63, saya semakin sering nge-twit baik melalui mobile web ataupun aplikasi Snaptu.
Saat ini saya lebih sering mengakses twitter melalui aplikasi UberTwiter karena lebih mudah, praktis dan cepat. Saya pun lebih selektif dalam menentukan siapa saja orang-orang yang saya follow. Selain teman-teman yang memang saya kenal, saya lebih suka following akun twitter yang informatif, inspiratif dan menghibur.
Oh ya, di akun twitter ini saya menggunakan nama “andreygbaikhati”. Saya memilih nama itu karena “baik hati” merupakan perwujudan dari inner beauty. Selain itu karena memang saya orangnya baik hati ๐Ÿ˜€

Meskipun masih ada jejaring sosial yang lain seperti myspace dan PLURK, saya tidak latah dalam membuat akun, karena memang sebaiknya disesuaikan dengan jejaring sosial yang digunakan oleh komunitas kita ๐Ÿ™‚

wong yen

Standar

wong yen lagi gandrung ra perduli mbeldhose gunung
wong yen lagi naksir ra perduli yen perang nuklir

Itu adalah sepenggal lagu “iki weke sopo” yang pernah dinyanyikan oleh maestro campur sari, waljinah dan didi kempot. Arti dari penggalan tersebut adalah, ketika seseorang sedang jatuh cinta, ia tidak akan peduli situasi di sekitarnya baik gunung meletus ataupun perang nuklir.

Jatuh cinta memang membuat seseorang bahagia. Bahkan kata Titik Puspa, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Saya sendiri sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta karena sudah terlalu lama tidak ada yang menarik perhatian saya.

Namun saya ingat ketika sedang jatuh cinta, segala sesuatu yang saya lihat nampak indah dan tidak bercacat. Saya ingin selalu melihat wajahnya, mendangar suaranya, berkomunikasi dengannya dan menjalin keakraban dengannya.
Saat itu segala ingatan tentang dirinya selalu muncul di sela-sela kegiatan saya sehingga saya sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan sesuatu. Bahkan makan dan tidur pun selalu mengingatnya.

Meskipun rasanya seperti terpenjara dalam bayangan semu bernama “jatuh cinta”, namun bukan berarti hal tersebut buruk. Malahan sebaliknya, hati selalu merasa sukacita dan wajah pun nampak selalu gembira sekalipun kurang tidur dan kurang makan ๐Ÿ˜€

Meskipun terkesan berlebihan, namun jatuh cinta memang berjuta rasanya. Maka tidak heran jika lagu-lagu yang bertema jatuh cinta banyak diminati karena memang liriknya mengandung ungkapan perasaan yang dialami si korban cinta :p

pertama kali ku jumpa denganmu kekasihku
Dunia seolah kan runtuh
Makan pun tak enak tidur ku pun tiada nyenyak
Selalu teringat oh dirimu
Inikah oh namanya insan sedang jatuh cinta
Mengapa semua begitu indah dilihat
Begitu sedap dipandang
Seolah kuingin selalu tersenyum
Tapi aku malu padamu

๐Ÿ™‚

Wilhelmina Slater

Standar

Wilhelmina Slater adalah salah satu karakter dalam serial “Ugly Betty” terkenal di Amerika Serikat. Karakter ini diperankan oleh aktris sekaligus pop star Amerika, Vanessa Williams. Saya rasa tidak ada orang lain yang lebih pantas memerankan karakter Willie selain Vanessa sendiri. Dalam serial tersebut, Wilhelmina atau Willie sebenarnya merupakan karakter antagonis. Ia selalu digambarkan sebagai sosok yang arogan dan mau menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Selain itu ia juga sangat ambisius dalam mencapai keinginannya dan menghalalkan segala cara.

Wilhelmina adalah seorang mantan model yang kemudian bekerja sebagai creative director di suatu majalah fashion bernama MODE. Ia sendiri sebenarnya merupakan ikon di dunia fashion dan selalu menjadi trendsetter. Namun tidak puas dengan posisinya sebagai creative director, ia ingin menjadi kepala editor yang kemudian ingin menguasai MODE sepenuhnya. Ia rela melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.

Meskipun Wilhelmina merupakan tokoh antagonis yang sebenarnya patut dibenci dan dimaki-maki (seperti halnya penonton memaki-maki Mischa di sinetron Cinta Fitri), namun ternyata banyak yang menaruh simpati dan menyukai karakter ini. Dalam serial ini, Willie merupakan public enemy yang tidak dibenci banyak orang, bahkan oleh anak kandungnya sendiri.

Kebencian terhadap seseorang sebenarnya merupakan hal yang biasa dalam hidup bermasyarakat. Ketika ada seseorang yang menyakiti hati kita ataupun melakukan sesuatu yang jahat dimata kita, bisa saja kemudian kita membencinya. Namun sebaliknya ketika kita merasa nyaman dan merasa dihargai oleh seseorang, bisa saja kemudian kita mencintainya.

Apakah lawan kata dari “cinta” adalah “benci”? Sebetulnya tidak demikian. Lawan kata dari “cinta” adalah “ketidapedulian”. Ketika kita membenci seseorang, sebenarnya kita menaruh perhatian kita kepada orang tersebut, namun dalam posisi negatif. Konon porsi perhatian dan energi yang kita habiskan untuk “cinta” dan “benci” sama besarnya. Jadi sebenarnya rasa “benci” pun masih menyita perhatian kita. Lain halnya dengan “ketidakpedulian”. Ketika seseorang tidak peduli akan keberadaan kita, hal tersebut sangatlah menyakitkan. Apalagi jika orang yang tidak mempedulikan kita adalah orang yang kita cintai.

Beruntunglah jika masih ada orang yang membenci kita, karena artinya masih ada orang yang memperhatikan kita. Namun bukan berarti kebencian adalah hal yang baik. Alangkah baiknya jika kita saling menghargai, menghormati dan saling memperhatikan tanpa rasa benci. Seorang Wilhelima Slater pun ada kalanya memperhatikan orang lain dan rela mengorbankan gengsinya yang tinggi.

Karena itu jangan biarkan diri kita menjadi orang yang dibenci, apalagi oleh banyak orang. Bukankah lebih baik mempunyai seribu teman daripada satu orang musuh? Jangan lupa untuk selalu meninggalkan kesan yang baik, terutama pada orang yang baru pertama kali bertemu, karena “kesan pertama” begitu mahal harganya dan tak dapat tergantikan lagi.

๐Ÿ™‚

harry potter

Standar

Film Harry Potter 7 part 1 telah ditayangkan secara serentak di bioskop-bioskop Indonesia. Banyak orang berbondong-bondong ingin menyaksikannya di hari pertama, maka beberapa bioskop secara ekstrim memutarnya di 4 studio sekaligus. Saya pun merupakan salah satu yang menonton di hari pertama pemutaran, tepatnya pada jam 21.30 di Setiabudi 21. Saya datang pukul 19.00 dan ternyata kursi sudah hampir terisi penuh, hanya bagian bawah depan layar saja yang tersisa, padahal Setiabudi 21 memutarnya di 3 studio. Beruntung saya hanya datang seorang diri, jadi saya mendapatkan sisa posisi yang nyaman (memang terkadang menonton sendiri lebih menyenangkan daripada beramai2, karena lebih tenang dan bisa mendapatkan posisi nyaman seperti saya ๐Ÿ˜€ )

Seri terakhir Harry Potter ini termasuk film bagus, setidaknya menurut saya. Meskipun seperti biasa, banyak adegan yang berubah dari novel yang saya baca. Cukup mengecawakan, namun sebagai orang yang pernah terlibat di dunia FTV, saya tahu betul pasti ada pertimbangan durasi, efektivitas pemain dan dramaturgi. Jadi saya anggap itu semua tidak masalah, selama jalan ceritanya masih sama seperti yang saya baca di novel.

Saya sudah membaca Harry Potter pertama sejak tahun 2000. Waktu itu saya masih kelas 2 SMP dan mendapat pinjaman dari teman saya karena tertarik dengan bukunya yang tebal. Hehehe.. :p Harga novel Harry Potter sendiri tidak murah, mengingat posisi saya masih siswa SMP dengan uang saku pas-pasan. Novel-novel selanjutnya pun saya pinjam dari teman yang sama, karena beruntungnya saya masih satu SMA dengan teman saya tersebut. Saya sendiri tidak terlalu berminat pada saat film pertama Harry Potter diputar. Bukannya tidak suka, namun tempat tinggal saya di Jogja waktu itu belum memiliki 21 (sungguh kasihan, kami orang Jogja hanya bisa menonton di bioskop Mataram yang suram T.T ).

Penonton atau pembaca setia Harry Potter pasti tahu dengan nama-nama Hermione Granger dan Ronald Weasly. Mereka adalah sehabat Harry yang selalu berpetualang bersama baik di dalam maupun di luar Hogwarts. Dalam seri yang ketujuh, mereka mengalami pasang surut dalam persahabatan mereka. Ada kalanya dimana Harry marah pada Hermione ataupun Ron marah pada Harry dan Hermione marah pada Ron. Namun bukan berarti persahabatan mereka berakhir hanya karena pertengkaran atau perbedaan pendapat. Saya pernah membaca perbedaan antara sahabat dan teman biasa, salah satunya tertulis: belum dapat dikatakan bersahabat jika belum bertengkar! Memang terdengar ekstrim, namun memang hubungan persahabatan dibentuk dari perbedaan pendapat dan gesekan-gesekan yang membuatnya semakin kuat.

Sama seperti persahabatan Harry-Ron-Hermione, alangkah baiknya jika kita mempunyai sahabat. Persahabatan sapat diawali dari berbagai macam hal. Seperti Harry yang menjalin persahabatan karena kebetulan bertemu di salah satu kompartemen Hogwarts Express, mungkin kita pun dapat menemukan sahabat kita seolah-olah secara “kebetulan”. Bisa saja kita menjalin persahabatan di sekolah, di tempat kerja atau bahkan di klub motor. Kita tidak akan pernah menyangka seseorang akan menjadi sahabat kita.

Karena itu selalu tersenyumlah dan ramah pada orang yang kita temui, karena mungkin saja orang yang kita temui akan menjadi sahabat kita. Bersahabatlah!! ๐Ÿ˜€