Monthly Archives: April 2011

Kenapa Jakarta?

Standar

Semua orang Indonesia tentu tahu apa itu Jakarta. Kota besar yang merupakan ibukota negara Indonesia ini merupakan salah satu kota tersibuk di dunia. Bahkan ada pepatah mengatakan “Jakarta tak pernah mati”. Pepatah tersebut memang cocok untuk keadaan kota Jakarta yang tidak pernah sepi, bahkan di pagi buta sekalipun. Maka tak heran jika di Jakarta banyak terdapat mini market dan restoran cepat saji yang buka 24 jam.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 2001. Waktu itu saya ke Jakarta dalam rangka studi wisata yang diadakan sekolah saya. Sudah menjadi tradisi di sekolah saya bahwa siswa kelas 3 SMP akan berstudi wisata ke luar kota. Pada saat itu kami selaku siswa diberi 3 macam pilihan untuk kota yang akan dikunjungi, yaitu Jakarta, Bali atau Jakarta-Bogor-Bandung. Setelah diadakan jajak pendapat, diputuskan bahwa kami akan berstudi wisata ke Jakarta-Bogor-Bandung.

Sebagai remaja berusia 14 tahun, kemegahan kota Jakarta begitu menakjubkan. Saya melihat begitu banyak gedung pencakar langit. Begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Saya juga melihat secara langsung bangunan bernama monas yang merupakan simbol kota Jakarta. Saya dan rombongan mengunjungi beberapa tempat wisata dan sejarah, seperti Dufan, Lubang Buaya, Monas, Keong Mas, Mangga Dua, PP Iptek dan sebagainya.

Selain kekaguman saya tentang kemegahan Jakarta, pada saat itu saya juga prihatin pada polusi dan kemacetan di kota ini. Sebagai rombongan studi wisata, tentu saya pergi dari tempat yang satu ketempat yang lain menggunakan bus besar. Saya merasakan lamanya berada dalam perjalanan karena macet dimana-mana. Saya juga melihat dari kejauhan, gedung-gedung pencakar langit seperti tertutup kabut yang ternyata adalah polusi kendaraan bermotor.

Ketika saya dan rombongan meninggalkan Jakarta, saya bertanya-tanya dalam hati apakah suatu hari nanti saya dapat kembali ke kota ini. Kini sudah 10 tahun berlalu sejak saat itu dan sudah 2 tahun lebih saya tinggal di Jakarta. 2 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berkenalan dengan kota Jakarta. Kota yang nampak indah dan megah jika dilihat dari kejauhan. Kota yang menjanjikan impian dan kesuksesan bagi siapa saja yang datang untuk mengadu nasib.

2 tahun tinggal di Jakarta, saya melihat beberapa hal menyebalkan dari kota ini. Saya tidak suka kendaraan umum seperti Metro Mini, Kopaja, angkot dan bajaj yang berasap tebal dan berjalan seenak wudelnya sendiri. Saya tidak suka kemacetan yang merusak mood dan menyebabkan saya terlambat. Saya tidak suka genangan air yang menyebabkan kendaraan hampir mogok. Saya yakin hal yang saya alami tersebut pasti dialami juga oleh penduduk Jakarta lainnya.

Jika begitu banyak hal menyebalkan di Jakarta, lantas mengapa saya masih mau tinggal di sini? Jakarta bukan hanya sekedar Ibukota negara. Jakarta adalah pusat dari berbagai hal di Indonesia. Pusat pemerintahan, pusat perekonomian, pusat bisnis, pusat hiburan, pusat informasi dan pusat-pusat lainnya. Passion saya adalah bekerja di bidang jurnalistik televisi dan saya memang ingin bekerja di stasiun televisi nasional. Nah, karena semua stasiun TV nasional ada di Jakarta, maka mau tidak mau saya berusaha untuk mendapatkan apa yang saya inginkan di kota ini.

Tidak salah jika banyak orang ingin tinggal dan bekerja di Jakarta. Yang salah adalah orang-orang yang datang tanpa tujuan, tanpa pendidikan dan tanpa ketrampilan. Jika apa yang kita inginkan hanya ada di Jakarta, maka tidak ada salahnya jika kita mencoba dan berusaha mendapatkannya. Namun jika apa yang kita impikan dan cita-citakan masih terbuka di tempat lain, maka sebaiknya kita mencoba juga di tempat itu.

Saat ini saya belum menjadi “orang sukses” di Jakarta. Namun saya yakin, dengan kerja keras dan doa, suatu hari nanti saya akan menjadi orang sukses di kota ini. Menjadi seorang jurnalis televisi yang baik dan berprestasi. Saya yakin bahwa kita dapat menjadi orang sukses di bidang apapun yang kita geluti jika kita selalu yakin dan percaya.

🙂

SMARTphone with STUPID provider

Standar

Di zaman modern ini, smartphone atau ponsel pintar bukanlah bearang yang sulit ditemui. Di kota besar seperti Jakarta, hampir semua orang kantoran menggunakan smartphone. Saat ini terdapat beberapa OS (Operating System) yang dibenamkan dalam ponsel pintar tersebut, seperti Symbian, BlackBerry OS, iOS, Windows Phone dan yang sedang ngetren Android.

Tidak seperti 10 tahun yang lalu ketika ponsel hanya digunakan untuk bertelepon dan ber-sms, saat ini ponsel juga dapat digunakan untuk kegiatan seperti chatting, browsing, video call, emailing dan social networking. Untuk mendukung semua kegiatan tersebut, tetntu saja dibutuhkan koneksi internet yang kuat dan cepat. Namun sayangnya penyedia layanan di Indonesia sepertinya belum ada yang dapat memberikan layanan internet yang murah dan cepat dengan sinyal yang kuat dan stabil.

Saya sendiri menggunakan smartphone BlackBerry Curve 8900 atau sering disebut Javelin. dan seperti ponsel pintar lainnya, BlackBerry saya pun membutuhkan koneksi internet yang stabil untuk menjalankan aplikasinya. Aplikasi yang paling sering saya gunakan antara lain BBM, Yahoo! Messenger, Browser, OperaMini, UberSocial, Facebook, Email, WordPress dan GoogleMaps. Semua aplikasi tersebut membutuhkan jaringan internet yang stabil.

Meskipun saya menggunakan smartphone, seringkali saya merasa kesal karena labilnya jaringan internet dari penyedia layanan. Padahal saya menggunakan jasa provider besar yang sering mempromosikan kecepatan jaringan internetnya. Misalnya beberapa hari belakangan ini, tiba-tiba saya tidak dapat mengakses internet dari semua aplikasi yang saya gunakan, dan hal tersebut terjadi pada siang dan malam hari. Saya memakai layanan BIS selama 30 hari yang artinya saya dapat menggunakan layanan unlimited selama 24  jam dalam 30 hari. Namun pada kenyataanya, seringkali jaringan internet tidak dapat diakses pada jam-jam tertentu.

Puncaknya pada tanggal 10 April 2011 lalu. Pada siang hari sejak pukul 12 hingga 4 sore saya tidak dapat mengakses internet sama sekali. Dan pada malam hari pukul 9 hingga 12 malam, jaringan internet sulit diakses. Namun jika dilihat dari halaman muka ponsel, tidak ada masalah dengan kekuatan sinyal.

ada sinyal tapi ga bisa akses internet

Pada waktu itu, saya sama sekali tidak bisa mengakses internet dengan semua aplikasi.

bbm pending terus

ga bisa browsing

YM mendadak mati

kalo nyoba sign-in lagi, hasilnya begini

ga bisa ngetwit dan twitter nge freeze selama 3jam

facebook juga ga bisa refresh

Contoh-contoh di atas adalah aplikasi sehari-hari yang tidak dapat diakses. Bayangkan jika saat itu saya sedang tersesat dan tidak dapat mengakses GoogleMaps, pasti saya akan tambah kesal. Atau bayangkan jika saya sedang menunggu email penting dan tak kunjung datang karena akses internet lemah.

Sebagai konsumen tentu saya berhak mendapat fasilitas sesuai dengan nominal yang saya bayarkan. Namun apa mau dikata, memang layanan internet di Indonesia belum ada yang stabil. Saya hanya bisa bersabar hingga suatu saat nanti jaringan internet yang kuat dan stabil dapat saya nikmati.

Semoga saja hal tersebut segera menjadi kenyataan dan tidak ada lagi kekecewaan karena labilnya jaringan internet.

 

🙂

leadership

Standar

“Tuhan, kami mau makan. Berkatilah makanan ini. Amin.”

Doa makan yang sangat sederhana tersebut meluncur dari bibir seorang gadis kecil berusia 4 tahun. Doa yang begitu singkat, namun membuat saya terhenyak. Bukan karena doanya, namun karena keberainiannya mengajukan diri untuk memimpin doa.

Saat itu saya sedang dijamu makan oleh satu keluarga pendeta. Berbagai macam menu seafood sudah terhidang di hadapan kami. Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang, apalagi umat Kristen seperti saya untuk berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Dan tiba-tiba seorang gadis kecil berkata dengan ceria, “Aku ya yang berdoa..” Saat itu saya begitu kagum, karena sebagai orang dewasa saya sendiri tidak memiliki keberanian untuk menawarkan diri. Gadis kecil tersebut memang seorang putri sekaligus cucu pendeta. Namun saya yakin bukan karena itu saja dia bersedia mengajukan diri. Saya yakin karena jiwa kepemimpinan dalam dirinya lah yang membuatnya percaya diri.

Saya rasa kepercayaan diri gadis cilik tersebut tumbuh karena terus dipupuk dan disiram oleh kedua orang tuanya. Namun bagaimana bagi kita yang sudah dewasa? Apakah kita bisa memiliki jiwa pemimpin? Saya sendiri masih terus belajar untuk bisa menjadi pemimpin. Tidak usah jauh-jauh dan berkeinginan menjadi pemimpin yang memiliki banyak anak buah. Mulai saja dari diri kita sendiri. Memimpin diri kita sendiri.

Seorang pemimpin yang baik tidak akan menjerumuskan dan merusak anak buahnya. Sebisa mungkin ia akan membimbing anak buahnya agar melakukan tindakan yang benar sehingga dapat mencapai tujuan. Demikian juga dalam memimpin diri sendiri. Kita mengendalikan diri kita untuk melakukan hal-hal yang benar untuk mencapai tujuan hidup kita.

Misalnya saja dalam hal menjaga tubuh tetap sehat. Sebagai pemimpin yang baik, kita harus mengerti bagaimana memperlakukan tubuh kita agar tetap sehat dan kuat. Tidak begadang, tidak merokok dan minum minuman keras, rajin berolahraga, istirahat cukup dan makan makanan sehat dan teratur. Dalam hal menjaga tubuh sehat saja sudah ada banyak godaan.

Demikian juga dalam hal mencapai tujuan hidup, menggapai cita-cita, kehidupan rohani dan mencari jodoh. Kita harus mengerti apa tujuan kita, dan mencari tahu bagaimana kita dapat mewujudkannya. Selanjutnya kita perlu memimpin diri kita dan menghindari setiap godaan yang ada.

Ketika kita sudah dapat memimpin diri kita sendiri dan orang lain melihatnya, maka pasti kita akan diberi kepercayaan untuk memimpin orang lain. Entah itu dalam hal kepanitiaan, susunan pengurus kelas, kegiatan perkuliahan maupun dalam pekerjaan. Dan sebagai pemimpin, tentu kita dapat menjadi contoh yang baik dan mengarahkan bawahan kita untuk bertindak benar sesuai tujuan.

Jiwa kepemimpinan tidak dapat dinilai oleh diri kita sendiri. Orang lain lah yang melihat dan menilai seberapa pantaskah kita menjadi pemimpin dari tindakan kita. Karena itu kita perlu belajar untuk mulai menjadi pemimpin. Karena cepat atau lambat, nantinya kita akan menjadi pemimpin bagi orang lain.

“TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,” (Ulangan 28:13).

visi dan misi

Standar

Hari ini tanggal 1 April 2011. Artinya sudah 3 bulan kita lalui di tahun 2011 ini. Sudahkah target kita di tahun 2011 mulai terwujud? Kalau saya sih terus terang belum ada yang terwujud (sambil liat catatan visi misi di BB). Sebenarnya sih ada satu target yang sudah hampiiirrr terwujud. Hampir. Nyaris. Tinggal sedikit lagi. Tapi karena saya hanya bisa menunggu, ya sudah menunggu saja meskipun hati ini sudah tak sabar. :p

Hidup ini memang terasa lebih berarti ketika kita memiliki target atau impian. Target itulah yang menjadi alasan kita hidup. Alasan kita untuk bangun setiap pagi. Tanpa target, kita akan merasa hidup ini hampa dan mudah putus asa. Sebagian orang mungkin merasa cukup puas dengan kehidupan yang mengalir saja bagaikan arus sungai dari pegunungan menuju ke laut. Sudah cukup jika dapat melalui siklus hidup lahir-sekolah-kerja-menikah-punya anak-tua-dan kemudian mati.

Saya teringat suatu kejadian waktu saya baru masuk SMA. Waktu itu kakak pembimbing yang disebut “mitra MOS” hendak membentuk pengurus kelas yang terdiri dari ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris dan bendahara. Karena kami masih murid baru dan belum mengenal satu sama lain, jadi agak susah untuk menentukan siapa yang pantas jadi kandidat pengurus kelas. Akhirnya kakak pembimbing menanyai kami, siapa saja yang pernah menjadi pengurus OSIS sewaktu SMP dulu. Karena saya pernah menjadi pengurus OSIS dan saya adalah anak yang jujur, saya pun ngacung dan menjadi salah satu dari enam anak calon ketua kelas. Kami diberi kesempatan untuk sedikit berorasi tentang visi dan misi jika terpilih menjadi ketua kelas. Anak-anak yang lain berorasi dengan hebatnya dan menjanjikan ini dan itu layaknya calon presiden yang sedang berkampanye. Mereka berorasi tentang kedisiplinan, kebersihan, tata tertib dan hal-hal tentang kepemimpinan. Ketika tiba giliran saya, terus terang saya bingung mau ngomong apa dan mau menjanjikan apa. Sebetulnya saya tidak terlalu tertarik untuk menjadi ketua kelas. Daripada bingung dan banyak menggombal, saya pun berkata: “Maaf, saya tidak punya visi dan misi untuk kelas kita” sambil tersenyum semanis-manisnya. Singkat, padat dan jelas. Pada saat itu teman-teman sekelas menertawakan apa yang baru saja saya katakan. Saya sih tidak tersinggung karena memang itulah kenyataannya. Setelah berorasi, kami diberi kertas untuk memilih siapa yang kami anggap paling pantas untuk menjadi ketua kelas. Saat penghitungan suara, saya terkejut karena suara untuk saya adalah kedua terbanyak setelah Ibnu, teman saya yang berasal dari Bangka dan merupakan siswa terpintar di sana sekaligus pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Tak heran jika Ibnu mendapat suara terbanyak,apalagi orasinya juga bagus. Nah kalo saya? Seorang anak tanpa visi dan misi untuk mengurus kelas, namun malah mendapat suara kedua terbanyak.

Dari cerita tersebut, dapat kita lihat bahwa masih banyak orang yang belum sadar tentang pentingnya visi dan misi dalam menjalani kehidupan. Memang sebenarnya terlalu kecil peristiwa yang saya jadikan contoh. Namun paling tidak ada sesuatu yang kita pelajari dari suatu peristiwa. Jika visi dan misi dianggap penting, tentu seharusnya saya mendapat suara paling sedikit.

Saya sih sempat berpikir, mungkin karena saat itu kami masih sangat muda (bahasa anak sekarang sih: ababil), kami belum terlalu mempedulikan yang namanya masa depan. Tidak peduli apakah pemimpin kami mempunyai visi misi untuk mengurus kelas dengan baik. Namun seiring bertambahnya umur dan tingkat kedewasaan dalam berpikir, saya mulai sadar bahwa sebenarnya visi dan misi justru sangat penting untuk ditanamkan sejak usia muda. Seharusnya sejak muda kita mulai menargetkan sesuatu untuk masa depan kita sehingga kita dapat memantapkan langkah kita selanjutnya. Misalnya jika kita sudah tahu target kita untuk masa depan kita sejak SMA,kita dapat menentukan apakah kita akan masuk jurusan IPA, IPS atau bahasa tanpa kegalauan hati. Kita juga dapat menentukan dimana kita akan kuliah, jurusan apa yang akan kita ambil dan mata kuliah apa saja yang makin mendekatkan kita dengan target.

Saat ini mungkin usia kita sudah tidak muda lagi. Namun bukan berarti kita terlambat untuk mempunyai target bagi kehidupan kita di masa depan. Lebih baik kita terlambat menyadari bahwa ternyata selama ini kita hidup tanpa visi dan misi daripada kita terus menjalani kehidupan yang hanya mengalir begitu saja.

Mumpung kita baru saja memasuki bulan keempat di tahun 2011, tidak ada salahnya jika kita mulai merencanakan target kehidupan kita di tahun ini. Memang tidak mudah untuk mewujudkan setiap target, tapi paling tidak kita berusaha untuk mendapatkan keinginan kita. Karena yang paling penting bukanlah hasil akhir dari dari perjuangan kita, namun proses dalam memperoleh apa yang kita inginkan. Seperti kata Soichiro Honda: “Orang-orang hanya melihat 1% keberhasilan saya tanpa melihat kegagalan saya yang 99%.”

 

🙂