Monthly Archives: Februari 2012

rekane arep sugih malah dadi kere

Standar

Dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, tentu kita mengenal yang namanya paribahasa. Seperti “bagai telur di ujung tandu”, “bagai air di daun talas” dan “bagai pungguk merindukan bulan”.

Begitu juga dalam bahasa Jawa, ada ungkapan-ungkapan untuk menunjukkan suatu arti tertentu, misalnya “durung pecus keselak besus” yang artinya menginginkan sesuatu yang belum waktunya. Ada juga ungkapan “ngenteni ndhoge blorok”, yang berarti mengharapkan sesuatu yang belum pasti.

Nah, waktu jaman SMA dulu, saya dan teman-teman membuat sebuah paribahasa sendiri untuk menunjukkan perasaan kami yang tak terungkapkan. “Rekane arep sugih malah dadi kere”, dalam bahasa Indonesia artinya “maksud ingin kaya, tetapi malah jadi miskin”.

Ungkapan tersebut muncul pada suatu senin siang. Waktu SMA dulu, upacara bendera hari senin diadakan 2 minggu sekali. Saat tidak ada upacara, jam pelajaran yang semestinya berjumlah 8, berkurang menjadi 7. Jam ke 7 dan 8 yang semestinya sesudah istirahat kedua, menjadi jam ke 6 dan 7 yang diselingi waktu istirahat.

Namanya anak sekolah, pasti kepingin cepet-cepet pulang. Saat guru bahasa Inggris kami, bu Sri Lestari (yang mempunyai banyak julukan lain) menawarkan untuk meniadakan waktu istirahat, sehingga kami bisa pulang lebih awal daripada kelas lainnya, kami pun mengiyakan.

Jika dihitung, semestinya jam ke 6 itu dimulai pukul 11.15-12.00, diselingi istirahat 12.00-12.20 dan dilanjutkan jam ke 7 pukul 12.20-13.00. Jika istirahat ditiadakan, seharusnya kami sudah keluar dari kelas pukul 12.40 atau 20 menit lebih awal dari kelas lainnya.

Namun apa mau dikata, sudah jam 12.40, guru yang baik hati itu tidak menunjukkan tanda-tanda hendak memulangkan kami. Saat diingatkan, beliau malah marah-marah sambil berkata “kalian mau soalnya dibahas ga!!??” Sebagai anak baik-baik, kami hanya bisa diam sambil menangis dan berkata dalam hati, “ngelih buuu.. :(”

Akhirnya, kelas pun berakhir pukul 13.05, yang artinya lebih lambat daripada kelas lainnya. Plus kami tidak mendapat waktu istirahat. Yang tadinya ingin pulang cepat, akhirnya kami sekelas malah harus pulang lebih lambat.

Akibat kejadian tersebut, muncullah paribahasa ala kami, yaitu “rekane arep sugih malah dadi kere.” Sejak itu, paribahasa itu sering kami gunakan jika ada hal yang justru merugikan saat kami mengharapkan keuntungan.

Misalnya seperti siang ini. Waktu saya berangkat pagi-pagi dengan harapan bisa pulang cepat sehingga bisa mengerjakan yang lain, justru saya mendapat tambahan tugas yang dipastikan kepulangan saya pun terlambat 😦

*menangis dalam hati*

#10tahunAADC

Standar

Konon hari ini adalah peringatan 10 tahun diluncurkannya film Ada Apa Dengan Cinta. Saya jadi ingat pertama kali nonton film ini di bioskop pada tahun 2002 lalu.

Waktu itu saya masih tinggal di Yogyakarta, dan tercatat sebagai salah satu siswa di SLTP Negeri 7 Yogyakarta. Tahun 2002, di Jogja tidak ada yang namanya bioskop twenty one. Kalo mau nonton film, satu-satunya pilihan bioskop yang paling mendingan adalah bioskop Mataram.

Letaknya di daerah Lempuyangan. Saya lupa nama jalannya, yang pasti tepat di depannya ada fly over. Jadi bioskop Mataram ini udah paling keren, walopun cuma punya satu studio saja. Kondisi fisiknya pun saat itu sudah tidak bagus. Bangkunya bau dan konon banyak tikusnya (belom pernah liat langsung sih).

Kembali ke AADC. Film Ada Apa Dengan Cinta ini merupakan film pertama setelah sekian tahun perfilman Indonesia mati suri. Begitu sih katanya. Tapi memang saat itu jarang sekali ada film Indonesia yang bermutu. Bahkan kalo di tempat rental VCD mau pinjem film Indonesia, pasti konotasinya “film begituan”.

Gara-gara film AADC yang mengangkat tentang kehidupan remaja SMA juga, akhirnya banyak sinetron-sinetron yang tokoh utamanya adalah anak SMA. Mengangkat kisah anak SMA ke dalam cerita sinetron seolah-olah menjadi tren saat itu.

Karena dulu saya adalah anak SMP yang (sok) gaul, jadi saya menyempatkan diri untuk nonton film AADC yang digembar-gemborkan orang-orang itu. Walaupun sudah diluncurkan pada bulan Februari, sepertinya film ini agak telat masuk ke Yogyakarta. Saya lupa bulan apa, tapi waktu itu kalo ga salah jaman-jaman ujian akhir.

AADC yang sebegitu fenomenalnya dan diputar di sebuah bioskop kecil di Yogyakarta, tentu sangat tidak sebanding. Animo masyarakat yang ingin menonton film ini begitu besar, sementara kapasitas bioskop tidak memadahi. Bahkan tindakan anarkis sempat terjadi, sampai-samapi meja loket penjualan tiket rusak dan terbalik. Kalo saya sudah jadi reporter, pasti udah PTC deh.. :p

Saya lupa berapa harga tiket resmi waktu itu. Yang pasti, saya dan teman-teman membeli tiket dari calo karena ga ada lagi tiket resmi. Sebagai remaja yang masih polos, tentu saya dan teman-taman mencari jalan mudah. Apalagi, waktu itu kami nontonnya setelah pulang sekolah. Jadi ga mungkin kalo kami nunggu sampe jam pemutaran film di malam hari. Kami pun mendapat tiket dari calo yang jam pemutarannya masih agak sore.

Harga tiket calo yang kami dapat saat itu sekitar 7000-10000 rupiah. Saya agak lupa. Kalo sekarang sih harga segitu sangat murah. Tapi di tahun 2002, buat anak kelas 3 SMP yang uang sakunya cuma dua ribu rupiah sehari, sudah termasuk transport, tentu lumayan berat. Namun demi eksistensi di dunia pergaulan saat itu, saya pun memaksakan diri untuk nonton film AADC.

Filmnya sih memang bagus, walaupun saat itu ada beberapa scene yang tidak saya mengerti. Mungkin memang belum umurnya sih, jadi ya wajar lah.. Saya baru memahami secara utuh film AADC itu setelah diputar di televisi dan saya sudah berusia lebih dewasa.

Selama 2 hari, film AADC akan kembali diputar di bioskop. Saya sih ga kepingin nonton, karena saya bukan tipe orang yang suka nonton film 2 kali, apalagi kalo bayar. Tapi kalo ada yang mau bayarin sih saya mau-mau aja.. *murahan*

Yang pasti, film AADC merupakan bagian dalam kehidupan remaja saya. Usia dimana eksistensi dalam pergaulan sangat penting. Kalo ga ikutan kayanya kurang 9h4oL. Dari AADC juga saya belajar bahwa beli tiket di calo itu merugikan!!

Selamat ulang tahun AADC.. *cubit mbak MiLes*

😀