wartawan VS sma

Standar

Hari ini, timeline twitter saya diramaikan oleh teman-teman wartawan yang emosi pada anak-anak SMA 6 Jakarta. Jadi ceritanya hari jumat lalu ada cameraman TRANS7 yang dipukuli anak-anak SMA waktu lagi meliput tawuran antar pelajar. Tidak terima dengan perlakuan anak-anak tersebut, para wartawan melakukan aksi protes pada kepala sekolah terkait. Tak disangka, wartawan yang sedang protes dan meliput menjadi sasaran amuk siswa SMA.

Di akun twitter, beberapa anak SMA mengaku bangga telah memukuli wartawan. Tak hanya itu, teman-teman mereka juga mendukung perbuatan yang sarat kekerasan tersebut. Tak heran jika di timeline saya, yang sebagian adalah wartawan juga, banyak makian dan cemoohan pada anak-anak SMA yang melakukan pemukulan.

Saya sangat mengerti jika teman-teman wartawan marah dan emosi karena perilaku para siswa SMA itu. Namun jika membalas dengan makian, cemoohan, kata-kata kasar dan kutukan, apa bedanya kaum wartawan yang lebih dewasa dan berpendidikan, dengan anak-anak itu?

Saya pernah mewawancarai Adrianus Meliala, seorang kriminolog, tentang konflik yang terjadi di Ambon beberapa waktu yang lalu. Adrianus mengatakan, bahwa konflik yang terjadi di Indonesia kebanyakan merupakan konflik-konflik lama yang belum terselesaikan. Jika diibaratkan, konflik yang terjadi seperti api dalam sekam, yang tinggal menunggu pemicu kecil untuk bisa terbakar. Konflik yang terjadi biasanya juga merupakan konflik turunan, dimana permasalahan generasi sebelumnya terus mengakar pada generasi berikutnya, sehingga konflik tidak pernah usai.

Begitu juga yang biasa terjadi pada anak-anak SMA. Para siswa tingkat atas selalu menanamkan bibit kekerasan dan permusuhan pada para siswa tingkat bawah. Misalnya sekolah A terkenal bermusuhan dengan sekolah B. Siswa-siswi baru di kedua sekolah tersebut, yang sebelumnya tidak ada masalah apapun, jadi bermusuhan gara-gara doktrin yang ditanamkan siswa lama. Ketika nantinya siswa baru ini menjadi murid lama, ia akan menanamkan hal yang sama pada murid baru, sehingga permusuhan terus terjadi.

Pemicu kerusuhan biasanya hanya masalah sepele. Bisa saja hanya saling ejek, adu mulut yang kemudian berakhir dengan tawuran. Tidak diperlukan pemicu besar untuk membuat 2 kelompok yang bermusuhan terlibat bentrok.

Selama ini, dua kelompok maupun dua sekolah yang berseteru tidak pernah ada penyelesaiannya. Jadi meskipun penyebab masalah awal sudah tidak ada, kebencian dan kemarahan terus tertanam. Begitu juga peristiwa wartawan vs siswa SMA ini, bisa berlarut-larut jika tidak diselesaikan secara baik-baik.

Tidak ada manfaatnya jika kedua belah pihak hanya saling balas-membalas. Yang satu dipukul, yang lain balas pukul. Yang satu dimaki, yang lain balas memaki. Biarlah para guru dan orang tua yang memberi hukuman pada siswa SMA yang memang bersalah. Tidak perlu kaum wartawan turun tangan sendiri. Begitu juga jika ada oknum wartawan yang bersalah atau menyalahgunakan profesi, biarlah dia diadili dengan undang-undang yang berlaku. Jangan siswa SMA yang langsung bertindak untuk menghakimi.

Jangan sampai masalah yang semestinya dapat diselesaikan dengan kepala dingin, justru semakin melebar kemana-mana. Dan jangan jadikan ini sebagai ajang permusuhan wartawan dengan siswa SMA.

Jadi ingat salah satu lagu favorit saya waktu kecil:

Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui

Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa satria
Yang mau memaafkan

🙂

One response »

  1. Posting yang bagus Ndre…
    Andaikan semua orang di Indonesia bisa berpikiran terbuka
    gak akan ada lagi kerusuhan
    Semua orang perlu berproses untuk menjadi dewasa dan berpikiran terbuka
    Yang dewasa yang bisa menjadi garis depan :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s