Category Archives: techno

Kerjaan lancar, (semoga) jodoh pun lancar

Standar

“Enak ya kak kerjaannya jalan-jalaaaaan terus..”

“Pengen deh suatu hari nanti bisa jadi kaya kakak..”

“Enak ya sering ketemu artis, orang-orang terkenal, masuk tipi..”

Bagi gue dan teman-teman yang kerja di media TV, ucapan kaya gitu kayanya udah jadi santapan sehari-hari. Kalo denger orang ngomong kaya gitu, atau di twitter ada yang komen kaya gitu, gue sih biasanya cuma senyum-senyum aja. Hehehee..

Kerja jadi reporter TV kaya gue emang nampak enak dan menyenangkan. Emang menyenangkan sih, soalnya kerjaan ini nggak mengharuskan kita duduk 8 jam di belakang meja. Nggak sekedar menjalani rutinitas rumah-kantor-makan siang-kantor-pulang. Gue emang tiap hari kerja di luar kantor, yah bisa dibilang jalan-jalan lah, yang bikin gue tau daerah-daerah di Jakarta. Bahkan kadang-kadang gue lebih tau jalan daripada orang yang dari kecil udah tinggal di Jakarta. *congkak*

Selain bisa “jalan-jalan” tiap hari, gue juga bisa ketemu banyak orang. Tua, muda, kaya, miskin, cewek, cowok, ngondek, semua udah pernah. Bahkan kadang juga ditraktir makan enak sih.. Hihihi.. Tapiii.. Kerjaan yang nampak enak tuh bukan berarti nggak ada konsekuensinya lhoo.. Misalnya aja kalo kerjaan normal kan dari pagi sampe sore, nah kalo pekerja media sih sering sampe larut malam bahkan sampaipagi. Terus tanggal merah nggak libur, alias gue nggak pernah ngerasain yang namanya long weekend. But I love my job, jadi ya buat gue sih fine-fine aja selama gue masih bisa berkarya (plus libur 2 hari seminggu) :p Masih kedengeran enak gak kerjaan gue? hahahaaa..

Kaya gue bilang tadi, kerja sebagai reporter menuntut gue untuk ketemu banyak orang. Nah untuk kebutuhan liputan, kadang gue butuh orang-orang dengan kriteria khusus, termasuk orang-orang terkenal. Dan ketika gue harus cari nomor kontak nara sumber, gue sering banget pake teknologi yang namanya “search twitter”. Misalnya waktu itu gue mau meliput kegiatan mbak Valencia (@justsilly), gue nggak tau mau kontak ke siapa. Dengan bermodalkan twitter, gue follow mbak Valencia dan menanyakan kontaknya.

 

Untung gue pake layanan BIS dari simPATI, makanya nggak perlu nunggu lama, mention gw ke mbak Valencia nyampe dan beliau langsung nge-DM nomor kontaknya.

Langsung deh gue telpon dan kerjaan gue pun lantjar djaja. 😀

Selain nambah koleksi nara sumber, gue juga bisa nambah temen lewat twitter. Kaya pengalaman gue pas lagi tugas di Medan bulan lalu. Kebetulan gue lagi bikin liputan tentang teri Medan, dan gue lagi butuh nara sumber yang doyan banget sama teri Medan. Karena nggak ada kenalan orang Medan, gue coba cari-cari sendiri siapa warga Medan yang cakep dan doyan teri.

Gue pun mengeluarkan jurus “search twitter” andalan gue. Gue ngetik “artis medan” dan beberapa nama orang terkenal pun muncul. Sayangnya pada tinggal di Jakarta, padahal gue mau liputan di Medan. Akhirnya gue nemu satu akun twitter punya penyiar radio Prambors, si Windi Septia Dewi (@windiseptiadewi). Gue lihat avatar sama foto-foto di Instagram cakep juga, langsung deh gue follow dan minta kontaknya.

cari artis medan

cari artis medan

Liputan bareng Windi pun seru banget, gue liput kegiatannya di studio Prambors, terus ikut ke rumahnya buat meliput Windi sama nyokapnya lagi masak teri. Di situlah gue pertama kali ngerasain makanan khas Medan, daun ubi tumbuk yang dimasak sama ikan sale. Rasanya enyaaaakkk bangeettt..!!

Nggak cuma liputan aja, gue sama tim liputan pun jadi akrab sama si Windi ini. Kita dibawa keliling Merdeka Walk yang jadi tempat nongkrong anak-anak di Medan. Nyobain pancake durian di resto Nelayan yang terkenal, foto-foto di pinggir jalan, ngicipin pahitnya liang teh yang ternyata nggak sepahit masa lalu gue, sampai nyobain mainan ala gym di merdeka walk yang bikin dunia gw jungkir balik.

jadi anak ghaol medan

jadi anak ghaol medan

kamu menjungkirbalikkan duniakuh..

kamu menjungkirbalikkan duniakuh..

Kalo gue nggak memanfaatkan social media twitter plus jaringan kuat Telkomsel, mungkin gue nggak bakal mengalami segala keseruan di kota Medan. Kerjaan lancar, dapet temen baru dan yang jelas dapet pengalaman seru. Apalagi sekarang ada paket Blackberry Sosialita yang bikin kita bisa eksis tapi nggak pake mahal. Coba aja klik linkberikut ini: www.telkomsel.com/bb-sosialita

Kali aja nih kalo gue dapet BlackBerry Z10 baru dari simPATI, gue bisa tambah eksis di social media. Jadi kerjaan lancar, pertemanan lancar, jodoh juga lancar. Amin! Hahahaa

😀

yang hilang biarlah berlalu..

Standar

Kehilangan sesuatu, baik itu barang atau seseorang, tentu membawa beban tersendiri bagi kita. Itulah yang saya alami sekitar 2 bulan yang lalu. Kehilangan sebuah ponsel yang baru saya miliki tak sampai 1 bulan. Sebuah ponsel Mito 720 yang bisa buat nonton tipi. Kisah singkat saya bersama si Mito bisa dibaca disini. Untung saja kebersamaan saya bersama si Mito hanya beberapa minggu, belum sampai 3,5 tahun. Kalau kebersamaan kami selama itu dan akhirnya harus pupus di tengah jalan, pasti rasanya menyakitkan. *iki opo sih*

Tapi sesuatu yang hilang pasti ada gantinya. Dan harus lebih baik. Sebagai ganti Mito yang hilang sebetulnya saya mengincar ponsel bersistem operasi Android. Beberapa ponsel Android murah sudah saya incar, seperti Samsung Galaxy Y dan Sony Xperia Tipo.

 

Kedua ponsel ini harganya di atas 1,2 juta rupiah. Membuat saya harus berpikir berulang kali untuk memilikinya, karena saya sudah menggunakan Blackberry. Menurut saya, orang dengan dua smartphone agak aneh dan bikin boros tagihan pulsa.

Hingga suatu hari, tepatnya Jumat minggu lalu, saya berkeliling masjid Tebet Mas sambil menunggu rekan saya sholat jumat. Di halaman masjid terdapat sebuah stand Smartfren. Iseng-iseng saya melihat ke stand tersebut. Ternyata di situ tersedia gadget bersistem operasi Android. Ada Smartfren Andro Tab, semacam versi murahnya Galaxy Tab. Yang menarik perhatian saya justru ponsel bersistem operasi Android yang dijual cukup murah, yaitu 1,4 jutaan untuk ponsel berlayar 4 inch dan 800 ribuan untuk yang berlayar 3,5 inch. Keduanya sudah menggunakan Android 4.0 Ice Cream Sandwich.

Saya sangat tertarik, karena harganya sangat murah dan ketika dicoba, touchscreennya sangat mulus, begitu pula saat mencoba streaming aplikasi MyTrans. Kelebihannya lagi, ponsel ini bisa digunakan sebagai sumber hotspot mobile. Jadi jika tadinya saya ingin memiliki ponsel Android tanpa berlangganan internet dan hanya mengandalkan WiFi saja, sepertinya saya bisa mendapat lebih dari ponsel ini. Apalagi belakangan modem Smartfren yang setahun lalu saya beli dengan harga sangat murah sudah mulai error. Saya pikir tidak ada salahnya jika saya membeli ponsel seharga 800ribuan dan menggunakannya sebagai pengganti modem.

Saya tidak langsung membeli di halaman masjid itu, karena saya masih harus berpikir dan harus melanjutkan pekerjaan terlebih dahulu. Namun namanya sudah naksir, pasti kepikiran terus sepanjang hari dan sepanjang weekend. Akhirnya saya pun membeli ponsel Smartfren Andromax Hisense E860 dengan sistem operasi Android 4.0.3.

 

Mito 720 saya pun sudah tergantikan. Dan sesuai tujuan saya membeli Mito dulu, saya masih bisa menonton tayangan Trans 7 melalui aplikasi MyTrans. Kadang memang suka putus-putus, tapi itu pun sudah cukup buat saya. Saya juga bisa memensiunkan modem yang sudah error, karena saya bisa berselancar menggunakan WiFi pribadi melalui ponsel ini. Ibaratnya sekali makan, dua tiga menu terlampaui.

 

Berbagai aplikasi dan games yang selama ini hanya bisa saya mainkan melalui tablet milik teman saya pun kini bisa saya miliki sendiri. Saya bisa eksis di Intagram, main Draw Something atau pun main Air Traffic Controller. Buat yang menggalau gara-gara keinget mantan terus, mungkin ponsel ini bisa dijadikan pelarian karena banyaknya aplikasi-aplikasi unyu dan gratis.

Coba saja game Temple Run, di mana seolah-olah kita lari dari sebuah kuildan dikejar-kejar makhluk menyeramkan. Anggap saja kita sedang lari dari kenyataan hidup. Lari dari kenyataan bahwa kita masih menyimpan cinta. Lari dari kenyataan bahwa kita masih mengharapkannya kembali. *iki kok malah galau to*

Yang pasti, semoga henpon ini bisa awet di tangan saya dan gak ditaro sembarangan kaya Mito 720 yang berakhir dengan kehilangan. Dan mungkin Smartfren butuh bintang iklan, saya bersedia.. *tetep*

Hahahaaa 😀

henpon baru, alhamdulilah..

Standar

Sudah sejak 3 bulan yang lalu saya ingin menulis tentang alasan saya menggunakan smartphone BlackBerry. Tapi karena sibuk (dan malas), tulisan itu pun tak kunjung dimulai. Saya ingin menulis tentang BlackBerry karena belakangan ini banyak orang yang mengagung-agungkan OS lain, seperti iOS dan android.

Tapi kali ini saya bukan mau menulis tentang smartphone sih, tapi tentang ponsel tidak pintar yang lumayan keren. Jadi minggu lalu saya mendapat nomor CUG (close user group) dari kantor. Nah dengan nomor CUG ini, koordinasi dengan orang-orang kantor lebih gampang karena teleponnya bisa gratis ke sesama CUG. Saya pun tak perlu menggunakan pulsa pribadi (yang sering ga ada) untuk menghubungi nara sumber.

Mendapat sebuah nomor ponsel saja, tentu tidak ada gunanya. Sebelumnya saya sih sudah pakai 2 ponsel untuk 2 nomor. Dengan adanya nomor CUG, saya butuh sebuah ponsel lagi. Pilihan saya pun jatuh pada mito 720.

Saya pertama kali melihat billboard mito 720 di jalan Tendean, waktu mau pulang ke kantor dari liputan. Saya lihat bentuknya menarik, apalagi ga ada tombol-tombolnya alias touchscreen. Di tengah kemacetan, saya pun mencoba browsing tentang ponsel ini. Dari fitur-fiturnya sepertinya menarik, salah satunya ada headphone bluetooth yang termasuk dalam paket penjualannya. Jadi kita bisa mendengarkan musik tanpa gangguan kabel-kabel. melihat harganya pun ternyata tidak mahal. Saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama. *ceile*

Kenapa mito 720? Soalnya bentuknya keren sih. Hehehee.. Sebetulnya sudah sejak lama saya ingin punya ponsel yang ada TVnya. Jadi di manapun saya berada, saya bisa nonton TV. Nah sejak di program Redaksi Siang, saya sering terlewatkan nonton liputan saya karena sedang di lapangan. Seringnya sih kalo liputan saya tayang, saya berhenti di warang makan sambil numpang nonton TV. Tapi kan agak susah ya cari warung yang ada TVnya. Jadi saya pun memutuskan untuk membeli henpon yang ada TVnya.

Kebanyakan henpon TV merupakan produksi China, dengan dilengkapi fasilitas dual sim card. Kebetulan saya memang butuh ponsel yang dual sim card. Jadi ya pas lah..

Di tengah kesibukan yang luar biasa *pret*, saya pergi ke mall ambassador untuk mencari henpon yang dimaksud. Saya datang ke sebuah counter yang menjadi langganan teman saya. Awalnya saya hanya mencari henpon yang ada TVnya, mana tau si tukang henpon punya alternatif yang lebih baik. Dia menawarkan nexian T901 yang ada TVnya, dual sim card dan tombol qwerty. Harganya sih murah, cuma 300 ribuan. Tapi karena memang naksir mito 720, saya pun mencoba bertanya.

Saat melihat barangnya, saya suka bentuknya. Tapi sayang sih, ukurannya bongsor dan lumayan berat karena casing belakangnya bukan plastik, tetapi besi. Tapi namanya sudah jatuh cinta, walaupun gendut tetap saja menarik hati. Saya pun menukar ponsel itu dengan nominal 500 ribuan. Tidak mahal untuk sebuah ponsel yang lumayan keren.

Saya pun mencoba beberapa fasilitas yang ada di ponsel mito 720. Pertama layar touchscreennya. Dibandingkan dengan BlackBerry saya, jelas bagaikan Nadine Chandrawinata dan Elly Sugigi. Tapi yah namanya ponsel murah, maklum lah.. Yang penting bisa lancar mengoperasikannya. Kemudian saya mencoba TVnya. Waktu dicoba sih agak kresek-kresek, mungkin karena di dalam gedung. Waktu dicoba di luar, ternyata sinyalnya bagus dan gambarnya pun cukup halus. Oke lah untuk nonton TV di jalan..

Saya pun mencoba fasilitas lainnya, yaitu koneksi headphone bluetooth yang tak hanya bisa untuk mendengarkan musik, tetapi bisa juga untuk menelepon. Untuk menelepon sih lancar, tapi untuk mendengarkan musik kadang suka putus-putus. Tergantung letak henponnya sih..

Untuk fasilitas internet, saya tidak mencobanya. Pastinya bakal lemot sih, soalnya cuma ada GPRS saja. Lagipula untuk internet jelas saya mengandalkan BlackBerry saja. Yang penting bisa buat nelpon sama nonton TV. Itu sudah.

Walaupun gak canggih-canggih amat, buat saya henpon mito 720 sudah cukup untuk membantu. Lagipula kan bukan untuk ponsel utama, cuma untuk ponsel tambahan dengan penggunaan minimum. Bentuknya pun keren untuk ditenteng-tenteng.

Tulisan ini bukan iklan yak, cuma mau berbagi pengalaman aja. Tapi kalo ditawarin jadi bintang iklannya boleh juga sih. Heheheee :p

SMARTphone with STUPID provider

Standar

Di zaman modern ini, smartphone atau ponsel pintar bukanlah bearang yang sulit ditemui. Di kota besar seperti Jakarta, hampir semua orang kantoran menggunakan smartphone. Saat ini terdapat beberapa OS (Operating System) yang dibenamkan dalam ponsel pintar tersebut, seperti Symbian, BlackBerry OS, iOS, Windows Phone dan yang sedang ngetren Android.

Tidak seperti 10 tahun yang lalu ketika ponsel hanya digunakan untuk bertelepon dan ber-sms, saat ini ponsel juga dapat digunakan untuk kegiatan seperti chatting, browsing, video call, emailing dan social networking. Untuk mendukung semua kegiatan tersebut, tetntu saja dibutuhkan koneksi internet yang kuat dan cepat. Namun sayangnya penyedia layanan di Indonesia sepertinya belum ada yang dapat memberikan layanan internet yang murah dan cepat dengan sinyal yang kuat dan stabil.

Saya sendiri menggunakan smartphone BlackBerry Curve 8900 atau sering disebut Javelin. dan seperti ponsel pintar lainnya, BlackBerry saya pun membutuhkan koneksi internet yang stabil untuk menjalankan aplikasinya. Aplikasi yang paling sering saya gunakan antara lain BBM, Yahoo! Messenger, Browser, OperaMini, UberSocial, Facebook, Email, WordPress dan GoogleMaps. Semua aplikasi tersebut membutuhkan jaringan internet yang stabil.

Meskipun saya menggunakan smartphone, seringkali saya merasa kesal karena labilnya jaringan internet dari penyedia layanan. Padahal saya menggunakan jasa provider besar yang sering mempromosikan kecepatan jaringan internetnya. Misalnya beberapa hari belakangan ini, tiba-tiba saya tidak dapat mengakses internet dari semua aplikasi yang saya gunakan, dan hal tersebut terjadi pada siang dan malam hari. Saya memakai layanan BIS selama 30 hari yang artinya saya dapat menggunakan layanan unlimited selama 24  jam dalam 30 hari. Namun pada kenyataanya, seringkali jaringan internet tidak dapat diakses pada jam-jam tertentu.

Puncaknya pada tanggal 10 April 2011 lalu. Pada siang hari sejak pukul 12 hingga 4 sore saya tidak dapat mengakses internet sama sekali. Dan pada malam hari pukul 9 hingga 12 malam, jaringan internet sulit diakses. Namun jika dilihat dari halaman muka ponsel, tidak ada masalah dengan kekuatan sinyal.

ada sinyal tapi ga bisa akses internet

Pada waktu itu, saya sama sekali tidak bisa mengakses internet dengan semua aplikasi.

bbm pending terus

ga bisa browsing

YM mendadak mati

kalo nyoba sign-in lagi, hasilnya begini

ga bisa ngetwit dan twitter nge freeze selama 3jam

facebook juga ga bisa refresh

Contoh-contoh di atas adalah aplikasi sehari-hari yang tidak dapat diakses. Bayangkan jika saat itu saya sedang tersesat dan tidak dapat mengakses GoogleMaps, pasti saya akan tambah kesal. Atau bayangkan jika saya sedang menunggu email penting dan tak kunjung datang karena akses internet lemah.

Sebagai konsumen tentu saya berhak mendapat fasilitas sesuai dengan nominal yang saya bayarkan. Namun apa mau dikata, memang layanan internet di Indonesia belum ada yang stabil. Saya hanya bisa bersabar hingga suatu saat nanti jaringan internet yang kuat dan stabil dapat saya nikmati.

Semoga saja hal tersebut segera menjadi kenyataan dan tidak ada lagi kekecewaan karena labilnya jaringan internet.

 

🙂

send to many

Standar

Pada musim natal dan tahun baru seperti sekarang ini, pasti banyak ucapan selamat yang datang dari teman, kerabat dan saudara. Ucapan yang kita terima bisa saja dari berbagai media, seperti melalui telepon, sms, mms, email ataupun melalui jejaring seosial seperti facebook dan twitter. Kita pun membalas ucapan dari teman atau kerabat kita tersebut. Karena tidak mau repot, kita biasa menggunakan fasilitas “send-to-many” pada sms ataupun email. Jika menggunakan facebook kita dapat menge-tag akun orang-orang yang ingin kita berikan ucapan. Dan jika menggunakan smartphone BlackBerry, kita bisa menggunakan fasilitas broadcast message.

Tidak ada yang salah dengan fasilitas tersebut. Malahan dengan adanya fitur send-to-many kita dapat menghemat waktu dan tenaga. Dulu saya termasuk orang yang suka menggunakan fitur sms send-to-many ketika hendak mengucapkan “selamat idul fitri”, “selamat natal” ataupun “selamat tahun baru”. Namun seiring bertambahnya usia dan bertambah pula pengetahuan saya tentang hal menghargai dan menghormati, saya tidak lagi menggunakan fitur tersebut. Saya merasa bukankah media seperti sms, mms, BBM atau email sendiri merupakan suatu kemudahan? Bayangkan jika untuk mengirim pesan kita masih harus ber-telegram, berkirim surat konvensional atau bahkan menggunakan merpati pos. Bukankah hal tersebut sangat merepotkan? Mengapa setelah adanya fasilitas yang memudahkan justru kita semakin malas dengan memberi ucapan melalui send-to-many? Menurut saya menggunakan fasilitas tersebut menunjukkan kemalasa kita dan betapa kita kurang menghargai orang lain.

Saat ini saya lebih suka memberi ucapan dengan menuliskan nama orang yang saya tuju. Walaupun ucapan yang saya kirim sama, tapi paling tidak saya meluangkan waktu untuk sekedar memberi nama satu persatu pada setiap ucapan. Hal tersebut juga berlaku ketika saya berulang tahun dan mendapat ucapan melalui facebook. Saya melihat seringkali orang menulis di statusnya seperti ini: “maaf ga bisa bales satu-satu..tapi terima kasih buat semua ucapannya”
Pertanyaan saya adalah, ga bisa bales satu-satu atau tidak mau meluangkan waktu untuk membalas? Jika orang tersebut adalah public figur dengan ucapan selamat beribu-ribu, wajar saja jika tidak ada waktu untuk membalas. Namun kebanyakan teman-teman saya bukanlah publik figur yang mempunyai banyak-sekali-teman-yang-mengucapkan-selamat-ulang-tahun-sehingga-ga-sempat-balas.

Berawal dari hal yang sederhana, ada baiknya jika kita mulai menghargai orang lain. Tidak ada yang salah dengan send-to-many. Namun sebaiknya kita dapat memilah kapan sebaiknya menggunakan fasilitas tersebut. Dengan menghargai dan menghormati orang lain, maka orang lain pun akan menghargai kita. Jangan heran jika kita tidak dihargai orang jika kita tidak mulai belajar untuk menghargai.

senyum, salam, sapa

🙂

*kok malah kaya pegawai pom bensin ya*