Monthly Archives: Januari 2013

unexpected journey

Standar

Bulan Desember kemarin saya menjalani operasi usus buntu. Sakit serius pertama yang saya alami selama 25 tahun hidup di dunia ini. Pertama kali juga harus opname dan mengalami bedrest hingga 2 minggu. Lumayan sih jadi gak kerja dan gak ditagih-tagih kerjaan. Kan lagi sakit ceritanya.. hehehe

Di tengah kebosanan menghabiskan waktu cuti untuk bedrest setelah menjalani operasi usus buntu, saya menyempatkan diri untuk mampir ke bioskop di Jogja, Empire XXI. Saya agak takjub melihat animo masyarakat Jogja dalam hal mencari hiburan berupa film layar lebar. Selama tinggal di Jakarta, saya terbiasa membeli tiket mendekati jam tayang film. Kalau bukan film box office, biasanya masih banyak kursi dengan posisi bagus yang masih tersisa. Tapi nampaknya itu tidak berlaku di Jogja. Untuk film pukul 21.45 saja, kursi sudah hampir penuh pada jam 19.00. Oya, film yang saya tonton adalah The Hobbit: Unexpected Jurney. Gak terlalu ngehits kalo dibandingkan Habibie-Ainun atau 5Cm.

Dan ternyata, ada juga calo yang berjualan tiket film. Entah berapa harganya. saya hanya takjub saja, ternyata di Jogja masih ada praktek calo tiket film. Kaya masa-masa suram waktu di Jogja gak ada bioskop 21 sama sekali. Adanya bioskop Mataram yang cuma punya 1 studio dan kalo pas ada film bagus, calo bertebaran di mana-mana. Serem lah pokoknya.

Saya bukan mau cerita tentang Jogja yang masih euforia dengan bioskop sih. Tapi saya mau cerita dikit tentang film yang saya tonton. Sebetulnya saya kurang suka kalo nonton film berdasarkan novel yang novelnya sudah saya baca. Biasanya sih merusak imajinasi dan jalan cerita sedikit melenceng dari novel. Namun untuk film The Hobbit ini, hasilnya jauh lebih bagus dan dramatis daripada imajinasi saya sewaktu membaca novelnya.

Film ini bercerita tentang seorang hobbit bernama Bilbo Baggins yang berpetualang bersama 13 kurcaci dan seorang penyihir bernama Gandalf. Ya, film ini memang masih berkaitan dengan trilogi Lord of the Rings. Makanya ada makhluk-makhluk aneh seperti hobbit (manusia kerdil), dwarf (kurcaci berjanggut), elf (peri) maupun troll (raksasa serem tapi bodoh).

Si Bilbo ini tadinya gak mau ikut berpetualang bersama para kurcaci. Apalagi misi petualangan ini adalah mengalahkan naga penyembur api serta merebut tanah dan harta kekayaan milik bangsa kurcaci yang telah direbut sang naga. Meskipun dengan iming-iming 1/14 bagian harta yang didapat, Bilbo enggan untuk ikut dan lebih memilih tinggal dalam lubang hobbitnya yang nyaman, damai dan banyak makanan.

Tapi saat Bilbo ditinggalkan oleh ketiga belas kurcaci di lubang hobitnya yang nyaman, digambarkan jika Bilbo merasa kesepian dan sendirian. Seolah hidup di lubang hobit yang nyaman tapi sendirian bukanlah cara yang tepat untuk menghabiskan waktunya. Bilbo pun memutuskan untuk mengejar rombongan kurcaci dan mengikuti perjalanan mereka mencari harta karun.

Di situ ada dialog yang cukup mengesankan antara Bilbo dengan Gandalf yang mengajaknya berpetualang. Di situ Gandalf berkata bahwa dirinya tak pernah ragu akan kemampuan Bilbo, sekalipun Bilbo meragukan dirinya sendiri.

Perjalanan yang dilakukan Bilbo pun tak selalu mulus. Berkali-kali Bilbo dipandang sebelah mata oleh ketua rombongan kurcaci. Apalagi Bilbo hanya satu-satunya hobit di antara 13 kurcaci. Berkali-kali Bilbo ingin menyerah dan kembali ke lubang hobitnya yang nyaman. Di film sih ceritanya belum selesai, tapi di novelnya diceritakan kalau Bilbo dan kawan-kawan akhirnya berhasil merebut kembali harta milik bangsa kurcaci.

Cerita Bilbo membuat saya teringat pengalaman saya tepat 4 tahun yang lalu. Saat saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta dari kota Yogyakarta yang berhati nyaman. Januari 2009 saya meninggalkan Jogja, tempat saya dibesarkan selama 20 tahun. Sama seperti Bilbo, tak mudah untuk memutuskan pergi dari tempat yang nyaman. Namun saya sadar, jika memilih tinggal di “lubang hobit”, saya mungkin tidak akan melihat dunia dengan segala kebaikan dan keburukannya.

Waktu kuliah dulu, saya bermimpi menjadi reporter di stasiun TV swasta. Saya hanya bisa berkhayal melakukan peliputan-peliputan dan muka saya nongol di tivi sambil pegang-pegang mic. Di Jakarta pun saya tak langsung mendapat apa yang saya cita-citakan. Saya pernah bekerja di bidang yang sama sekali tidak saya kuasai dan tidak saya mengerti.

Saya pernah berkerja sebagai kru FTV. Pekerjaan yang sangat menyita waktu dan tenaga. Berkali-kali saya ingin berhenti dan kembali ke lubang hobit yang nyaman. Tapi saya tak ingin menjadi beban bagi orang tua saya, makanya saya tahan-tahanin aja.

Tapi yang namanya kerja tanpa passion memang gak maksimal. Saya hanya bertahan selama setahun lebih dikit dan memutuskan untuk berhenti. Menjalani hidup tanpa pekerjaan tetap dan hanya mengandalkan side job-side job gak jelas pun menjadi kehidupan saya selanjutnya. Di situ saya melihat bahwa Tuhan gak pernah tidur. Dia gak pernah biarkan saya hidup berkekurangan. Segala sesuatu dicukupkan, sambil saya terus berharap untuk mengejar mimpi saya sebagai reporter.

Tahun 2011 impian saya terwujud. Saya menjadi seorang reporter di Trans 7. Bayangkan kalau saya memilih untuk menyerah dan kembali ke lubang hobit yang nyaman. Ada kalanya saya meragukan kemampuan saya sendiri, sama seperti Bilbo. Gandalf yang tak pernah meragukan Bilbo menjadi representasi Tuhan yang tak pernah meragukan kita. Bahwa kita pasti mampu meraih apapun yang kita inginkan sesuai kehendakNya.

Tahun 2013 adalah tahun kelima saya tinggal di ibukota. Banyak hal yang terjadi selama 4 tahun saya tinggal di Jakarta. Tahun 2012 yang baru saja berlalu pun menyisakan kenangan yang tidak sedikit. Bahkan bisa dikatakan tahun 2012 bagaikan roller coaster. Saya dibawa naik dan turun secara tiba-tiba. bahkan banyak hal yang tidak saya harapkan terjadi di tahun 2012.

Tapi saya diingatkan dengan kisah Yunus yang masuk ke dalam perut ikan besar. Yunus yang semula tinggal di kapal yang nyaman harus berpindah tinggal di dalam perut ikan (bisa dibayangkan dong perut ikan tuh pasti jauh gak lebih nyaman daripada kapal). Namun justru di dalam perut ikan yang gak nyaman lah Yunus dibawa memenuhi tujuan hidupnya. Sedangkan kalau dia tinggal di kapal yang nyaman dia malah dibawa pergi menjauh dari tujuan hidupnya.

Segala ketidaknyamanan yang saya alami di tahun 2012 mungkin menjadi cara Tuhan untuk membawa saya pada impian dan tujuan yang jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Sama seperti Yunus yang harus tinggal di perut ikan untuk memenuhi tujuannya. Sama seperti Bilbo yang harus mengalami banyak hal buruk untuk memperoleh tujuannya mendapat harta karun.

Tahun 2013 ini akan menjadi tahun yang luar biasa, dimana impian besar saya akan terwujud. Amin! 🙂

 

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” – Ratapan 3:22-23