Monthly Archives: September 2011

wartawan VS sma

Standar

Hari ini, timeline twitter saya diramaikan oleh teman-teman wartawan yang emosi pada anak-anak SMA 6 Jakarta. Jadi ceritanya hari jumat lalu ada cameraman TRANS7 yang dipukuli anak-anak SMA waktu lagi meliput tawuran antar pelajar. Tidak terima dengan perlakuan anak-anak tersebut, para wartawan melakukan aksi protes pada kepala sekolah terkait. Tak disangka, wartawan yang sedang protes dan meliput menjadi sasaran amuk siswa SMA.

Di akun twitter, beberapa anak SMA mengaku bangga telah memukuli wartawan. Tak hanya itu, teman-teman mereka juga mendukung perbuatan yang sarat kekerasan tersebut. Tak heran jika di timeline saya, yang sebagian adalah wartawan juga, banyak makian dan cemoohan pada anak-anak SMA yang melakukan pemukulan.

Saya sangat mengerti jika teman-teman wartawan marah dan emosi karena perilaku para siswa SMA itu. Namun jika membalas dengan makian, cemoohan, kata-kata kasar dan kutukan, apa bedanya kaum wartawan yang lebih dewasa dan berpendidikan, dengan anak-anak itu?

Saya pernah mewawancarai Adrianus Meliala, seorang kriminolog, tentang konflik yang terjadi di Ambon beberapa waktu yang lalu. Adrianus mengatakan, bahwa konflik yang terjadi di Indonesia kebanyakan merupakan konflik-konflik lama yang belum terselesaikan. Jika diibaratkan, konflik yang terjadi seperti api dalam sekam, yang tinggal menunggu pemicu kecil untuk bisa terbakar. Konflik yang terjadi biasanya juga merupakan konflik turunan, dimana permasalahan generasi sebelumnya terus mengakar pada generasi berikutnya, sehingga konflik tidak pernah usai.

Begitu juga yang biasa terjadi pada anak-anak SMA. Para siswa tingkat atas selalu menanamkan bibit kekerasan dan permusuhan pada para siswa tingkat bawah. Misalnya sekolah A terkenal bermusuhan dengan sekolah B. Siswa-siswi baru di kedua sekolah tersebut, yang sebelumnya tidak ada masalah apapun, jadi bermusuhan gara-gara doktrin yang ditanamkan siswa lama. Ketika nantinya siswa baru ini menjadi murid lama, ia akan menanamkan hal yang sama pada murid baru, sehingga permusuhan terus terjadi.

Pemicu kerusuhan biasanya hanya masalah sepele. Bisa saja hanya saling ejek, adu mulut yang kemudian berakhir dengan tawuran. Tidak diperlukan pemicu besar untuk membuat 2 kelompok yang bermusuhan terlibat bentrok.

Selama ini, dua kelompok maupun dua sekolah yang berseteru tidak pernah ada penyelesaiannya. Jadi meskipun penyebab masalah awal sudah tidak ada, kebencian dan kemarahan terus tertanam. Begitu juga peristiwa wartawan vs siswa SMA ini, bisa berlarut-larut jika tidak diselesaikan secara baik-baik.

Tidak ada manfaatnya jika kedua belah pihak hanya saling balas-membalas. Yang satu dipukul, yang lain balas pukul. Yang satu dimaki, yang lain balas memaki. Biarlah para guru dan orang tua yang memberi hukuman pada siswa SMA yang memang bersalah. Tidak perlu kaum wartawan turun tangan sendiri. Begitu juga jika ada oknum wartawan yang bersalah atau menyalahgunakan profesi, biarlah dia diadili dengan undang-undang yang berlaku. Jangan siswa SMA yang langsung bertindak untuk menghakimi.

Jangan sampai masalah yang semestinya dapat diselesaikan dengan kepala dingin, justru semakin melebar kemana-mana. Dan jangan jadikan ini sebagai ajang permusuhan wartawan dengan siswa SMA.

Jadi ingat salah satu lagu favorit saya waktu kecil:

Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui

Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa satria
Yang mau memaafkan

πŸ™‚

ramalan

Standar

Kemarin saya baru saja mengunjungi sebuah salon di Bangka, Jakarta Selatan. Seperti biasa, sembari menunggu antrian, saya membaca-baca majalah yang sudah lumayan lama. Dan seperti kebanyakan majalah, di situ terdapat halaman yang berisi ramalan zodiak.

Saya jadi ingat ketika masih abg dulu, saya suka sekali membaca halaman ramalan bintang. Bahkan, bagian ramalan-lah yang pertama kali saya buka ketika membaca majalah. Ramalan bintang yang saya baca biasanya terdiri dari ramalan umum, keuangan, cinta dan hari baik. Dan favorit saya tentu saja tentang keuangan. Ada juga majalah yang menyediakan halaman khusus untuk zodiak si doi.

Bukan hanya ramalan di majalah saja, saya juga suka menyaksikan acara TV yang ada ramalan bintangnya. Saya bahkan menyediakan waktu khusus untuk menunggu acara TV tersebut. Meskipun saya suka membaca dan menonton ramal-meramal tersebut, saya tidak 100% percaya. Setelah membaca atau menonton, biasanya saya malah lupa isi dari ramalan zodiak saya.

Seiring berjalannya waktu, saya mendapat pengajaran bahwa sebagai orang Kristen, saya tidak boleh percaya pada ramalan bintang. Jangankan percaya, membaca saja pun kalau bisa tidak dilakukan. Tapi namanya abg, saya terkadang masih tergoda untuk membaca ramalan nasib berdasarkan zodiak saya.

Bagi sebagian orang, ramalan zodiak seolah menjadi kebutuhan. Dan di zaman tekonogi seperti sekarang, tidak diperlukan majalah bulanan atau acara TV mingguan untuk mengetahui ramalan nasib. Cukup online dari ponsel, kita dapat mengetahui ramalan terkini. Bahkan ada juga akun twitter yang berisi ramalan dengan jumlah followers hingga ratusan ribu.

Di timeline saya, tak jarang akun-akun ramalan ini di-retweet oleh orang-orang yang saya follow. Bahkan dengan mantapnya, di depan “RT” terdapat tambahan tulisan seperti “true!”, “indeed”, “setuju” dan “amin!”. Saya sendiri kadang tergoda untuk melihat ramalan zodiak saya.

Kalau untuk sekedar iseng saja, ramalan nasib seperti ini tidaklah bermasalah. Namun jika si pembaca begitu percaya, bahkan menentukan jalan hidupnya berdasarkan ramalan, tentu menjadi masalah. Apalagi jika ramalannya berisi peringatan tentang hal buruk, kita bisa saja melakukan segala cara untuk menghindarinya.

Saya jadi ingat suatu kisah dalam mitologi Yunani. Dikisahkan, seorang raja menikahkan ketujuh putrinya dengan tujuh pangeran dari negeri seberang. Namun ternyata, seorang ahli nujum meramalkan bahwa sang raja akan mati di tangan menantunya. Untuk menghindari kematian, sang raja memerintahkan ketujuh putrinya untuk membunuh suami masing-masing pada malam pertama. Keenam putrinya melakukan apa yang diperintahkan ayahnya. Namun seorang putri yang sudah terlanjur mencintai suaminya, tidak mengindahkan perintah ayahnya. Sang pangeran yang tersisa pun marah karena keenam saudaranya dibunuh secara tidak langsung oleh raja. Pangeran tersebut akhirnya membunuh raja untuk membalas dendam.

Kisah tentang ramalan juga ada di film “Kungfu Panda 2″. Dikisahkan bahwa menurut ramalan, pangeran merak akan dikalahkan oleh pendekar hitam putih, yang diartikan sebagai seekor panda. Untuk menghindarinya, pangeran merak yang jahat menghabisi satu desa yang berpenduduk kaum Panda. Dan akhirnya, si pangeran merak memang dikalahkan oleh seekor panda yang sempat terselamatkan pada malam pembantaian.

Moral dari kedua cerita tersebut, janganlah kita percaya mentah-mentah kepada sebuah ramalan. Kedua kisah tersebut adalah contoh dari usaha menghindari ramalan, yang justru berakhir dengan ramalan yang menjadi kenyataan.

Dari situ kita juga bisa belajar untuk selalu berpikir positif. Karena apapun yang ada di dalam pikiran kita, baik positif maupun negatif, itulah yang nantinya menjadi kenyataan. Jika kita berpikir positif dan selalu optimis, tentu apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.

Coba pikirkan, keadaan kita saat ini merupakan buah pemikiran kita di masa lalu. Jika saya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang reporter, saat ini saya pasti bukanlah seorang reporter. Dan apa yang akan terjadi di masa depan, merupakan buah pemikiran kita di masa kini. Karena itu, pikirkanlah hal-hal yang baik dan bermanfaat, sehingga di masa depan nanti kita bisa memetik buahnya.

————————————————-

Janganlah kamu melakukan telaah atau ramalan.” (Imamat 19:26b).

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8).

πŸ™‚

lebaran dan tradisinya

Standar

Dua hari yang lalu baru saja kita merayakan Idul Fitri. Hari kemenangan umat muslim setelah berpuasa satu bulan lamanya. Tidak makan dan tidak minum selama lebih dari 12 jam, dan yang paling penting adalah menahan amarah dan hawa nafsu.

Di Indonesia, Idul Fitri tidak hanya dirayakan oleh umat muslim saja. Semua orang ikut merasakan aura kemenangan dan sukacita di hari Idul Fitri. Semua orang ikut bersalam-salaman dan bersilaturahmi. Dan yang jelas, di hari Idul Fitri ada kebiasaan masyarakat Indonesia yang lumayan heboh, yaitu pulang kampung.

Menjelang hari Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong mudik ke kampung halaman untuk berlebaran. Dan bukan hanya umat muslim saja yang pulang kampung. Tidak melihat agama dan status sosial, yang namanya lebaran ya pasti pulang kampung. Entah naik mobil yang nyaman tapi tetep kena macet, entah naik motor yang murah meriah tapi rawan kecelakaan, entah berdesakan di dalam kereta ekonomi, pokoknya yang penting pulang kampung.

Nah, ngomong-ngomong soal pulang kampung, seminggu sebelum hari raya saya diberi kesempatan untuk meliput dan melaporkan secara langsung tradisi mudik tersebut. Di Trans7, kami menyebutnya program “Ayo Mudik”. Jelas banyak pengalaman baru di ketiga lokasi saya berada, yaitu di pertigaan Widasari di Indramayu, pertigaan Pejagan di Brebes, dan masjid At Taqwa di Cirebon.

Melakukan peliputan yang berkaitan dengan arus mudik hampir sama dengan peliputan di Jakarta. Hanya saja, saya harus memikirkan tenggat waktu yang sangat terbatas. Selain itu, durasi dari tayangan juga patut diperhitungkan. Dan yang pasti, banyak hal-hal unik yang saya temui selama meliput di jalur pantura.

Melihat pemudik yang menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor tentu sudah biasa. Namun bagaimana dengan pemudik yang menggunakan sepeda kayuh? Saya baru pertama kali melihat ada pemudik yang menggunakan sepeda dari Bekasi menuju Tegal. Sepedanya pun bukan sepeda biasa, namun sepeda unik yang ban belakangnya berukuran jauh lebih besar dari ban biasa.

Ada juga pemudik yang menggunakan mobil barang atau pick up yang sudah diberi atap sehingga dapat dijadikan tempat berteduh. Dan tidak main-main, di bagian bak belakang dapat menampung hingga 12 orang, ditambah dengan barang yang begitu buanyak. Saya yang hanya selama setengah jam mengikuti perjalanan mereka dalam mobil, merasa sangat kegerahan dan kesempitan. Namun mereka dapat berathan semalaman hingga siang hari, yang tujuannya tentu saja untuk bertemu dengan keluarga di kampung.

Selain cara unik pemudik, saya juga bertemu orang-orang di balik layar yang mengatur kelancaran arus lalu lintas. Saya bertemu para petugas polisi yang selalu siaga mengatur lalu lintas dan segera bertindak jika terjadi sesuatu. Saya bertemu petugas dinas perhubungan yang setia mgnhitung setiap kendaraan yang melintas. Saya juga bertemu petugas dari mabes Polri yang mengoperasikan mobil MC3 (mobile command control center), dimana di dalamnya terdapat monitor-monitor CCTV yang dapat mengawasi arus kendaraan di sepanjang jalur pantura.

Dari orang-orang tersebut, saya melihat bahwa bukan hanya kami, kaum wartawan saja yang tidak libur pada hari Idul Fitri. Mereka pun sama seperti kami. Bahkan ada juga yang tidak pernah berlebaran bersama keluarga selama 6 tahun berturut-turut. Selain mereka, masih ada petugas pintu tol, sopir bus, petugas rumah sakit, dan pekerja-pekerja lainnya yang harus tetap bekerja di hari lebaran.

Saya membayangkan diri saya sendiri, jika misalkan di hari Natal besok saya masih harus bekerja dan tidak bisa berkumpul bersama keluarga. Pasti sangat menyedihkan. Namun itulah pilihan saya dan juga teman-teman yang mengharuskan siap siaga sekalipun di hari raya.

Dan pengalaman bekerja di hari raya, pasti menjadi kenangan tersendiri di masa tua nanti. Saya pun sangat menikmati dalam program “Ayo Mudik” ini. Menjadi bagian dari sesuatu yang besar, tentu menjadi pengalaman tak terlupakan. Apalagi, kejadian-kejadian lucu yang membuat bibir ini tersenyum saat mengingatnya.

Selamat hari raya Idul Fitri 1432 Hijriyah.
Mohon maaf lahir dan batin.

πŸ™‚