Monthly Archives: Januari 2012

ada apa di tahun 2011?

Standar

Sembilan hari sudah kita meninggalkan tahun 2011. Berbagai hal sudah kita dapatkan di tahun 2011, baik keberhasilan maupun kegagalan, yang dapat kita jadikan pelajaran untuk melangkah di tahun 2012.

Kalo di kantor saya ada kaleidoskop pemberitaan selama tahun 2011, saya pun tak mau kalah. Saya juga mau mengingat dan mengabadikan apa saja yang sudah saya dapatkan di tahun 2011 kemarin. Mungkin kesannya telat, tapi ga papa lah daripada ga sama sekali. *pembenaran* :p

JANUARI
Bulan Januari adalah bulan pergumulan bagi saya. Pergumulan untuk dapat meraih cita-cita saya sejak kecil, yaitu menjadi seorang wartawan. Di pergantian tahun, saya berdoa pada Tuhan agar di tahun 2011 saya mendapat apa yang menjadi kerinduan saya. Di bulan ini, lagu Sari Simorangkir berjudul “bagi Tuhan tak ada yang mustahil” terus terngiang di benak saya.

FEBRUARI
Bulan Februari rupanya menjadi awal jawaban doa saya. Di bulan ini, saya memasukkan lamaran di Trans 7. Tak hanya itu, untuk pertama kalinya saya mengikuti sebuah casting. Bukan sembarang casting, tapi casting news presenter news Trans 7. Sebagai pengalaman pertama, tentu saya sangat grogi. Apalagi, banyak peserta casting yang secara fisik penampilannya lebih oke. Selain itu, tak sedikit yang sudah punya pengalaman menjadi penyiar radio dan presenter TV, baik lokal maupun nasional. Saya ingat sekali, waktu itu materi casting adalam membaca lead berita tentang susu formula yang tercemar bakteri sakazakii.

MARET
Sambil menunggu hasil casting presenter, saya pergi ke pulau Dewata untuk bekerja dan berlibur. Bahkan saya berkesempatan menikmati indahnya pulau Nusa Lembongan yang lumayan jauh dari Bali. Pengalaman saya di Bali kala itu bisa dilihat di sini.
Di bulan Maret ini pun saya menjalani proses lanjutan dari casting news presenter, yaitu psikotes dan casting studio. Psikotes sih bukan hal istimewa, tapi casting di studio lengkap dengan wardrobe dan make up, tentu membuat saya nervous setengah mati. Saya ingat, yang meng-casting saya wakti itu adalah mba Zweta Manggarani, yang nantinya akan mengajari saya juga. πŸ™‚

APRIL
Masih kelanjutan dari serangkaian casting news presenter, bulan April adalah bulan penentuan. Saya diwawancara oleh pejabat-pejabat divisi news Trans 7. Waktu itu kami berkelompok terdiri dari 3 pria dan 3 wanita, berdiskusi tentang isu terkini dan melakukan live report. Meskipun cuma pura-pura, tetap saja rasanya grogi. Di bulan ini juga saya di menjalani wawancara terakhir dengan mas Revi, section head HRD yang kemudian berlanjut dengan penandatanganan MoU antara saya dengan Trans 7. Sebelum masuk kerja di bulan Mei, saya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman guna meminta restu orang tua. :’)

MEI
Di bulan Mei, saya resmi bergabung di Trans 7 sebagai reporter. Pergumulan saya selama ini pun terjawab sudah. Namun ini bukanlah akhir, namun menjadi awal pembelajaran saya sebagai seorang wartawan televisi.
Di bulan inilah saya belajar liputan, wawancara, on cam, bikin naskah, dan sebagainya. Awalnya memang kagok karena baru pertama kali. Tapi lama-kelamaan terbiasa juga, meskipun masih belum sempurna.

JUNI
Bulan Juni jelas spesial buat saya, karena di bulan inilah usia saya bertambah. Berbagai ucapan selamat dan doa saya terima, supaya saya menjadi orang yang berhasil dan lebih baik. Di bulan ini juga saya siaran perdana sebagai news presenter program Redaksi Utama. Mungkin program ini bukan program unggulan, apalagi durasinya yang tak sampai 3 menit. Namun di sinilah saya diajari mba Zweta Manggarani supaya ga grogi dan belibet saat membacakan berita.

JULI
Memasuki bulan Juli, saya masih liputan dan siaran seperti biasa. Namun kegiatan saya masih ditambah dengan pelatihan laporan langsung program “ayo mudik”. Walaupun lebaran masih lama, persiapan dan pelatihan sudah dimulai sejak bulan Juli. Seminggu dua kali, saya dan tim berlatih untuk memberikan laporan langsung. Bukan hal yang mudah untuk melaporkan kejadian yang kita lihat selama 3 menit. Mungkin 3 menit bukan waktu yang lama jika kita sekedar menonton TV. Tapi ketika harus melaporkan kejadian langsung, ternyata 3 menit adalah waktu yang lumayan panjang.

AGUSTUS
Akhirnya tibalah saatnya untuk mempraktekkan apa yang sudah saya pelajari selama lebih dari 1 bulan. Untuk pertama kalinya, saya melakukan live report di program Redaksi Pagi. Saat itu, saya melaporkan tentang kerusakan jalan di Depok, yang merupakan akses dari Bogor menuju Jakarta. Di akhir bulan Agustus, saya dan tim “ayo mudik” berangkat ke Indramayu, Brebes dan Cirebon selama 9 hari untuk peliputan dan laporan langsung kondisi jalanan menjelang Idul Fitri. Pengalaman dinas luar kota pertama yang sangat menyenangkan dan penuh suasana kekeluargaan. Ada kejadian lucu yang saya alami, yaitu ketika saya sempat terjatuh 1 menit sebelum on air.

SEPTEMBER
Pekerjaan di bulan september masih seperti biasa, yaitu liputan dan siaran. Hanya saja, ada kejadian yang lumayan mengganggu saya dalam bekerja, yaitu BINTITAN!! Kalo waktu on cam atau siaran saya pake kacamata, artinya kelopak saya agak bengkak. Kalo ga siaran, ya berarti kondisi mata saya ga memungkinkan untuk siaran. Ga tanggung-tanggung, di bulan ini saya bintitan sampai dua kali. Pertama di kiri, kedua di kanan. Saya pun jadi bahan olokan teman-teman saya di kantor. *sedih* Bahkan, bintitan saya yang kedua harus disembuhkan dengan cara insisi atau operasi kecil untuk mengeluarkan isi kelopak mata. Kedengarannya serem sih, tapi demi kesembuhan, ya apa mau dikata. πŸ™‚

OKTOBER
Di bulan Oktober ini, saya kembali diberi kepercayaan untuk live report. Kali ini, saya melakukan laporan langsung dari panggung OVJ yang saat itu sedang roadshow di kota asal saya, yaitu Yogyakarta. Begitu urusan pekerjaan selesai, saya pun extend di Jogja selama 2 hari untuk berlibur. Senangnya pulang kampung dibayari kantor.. ^^

NOVEMBER
Bulan November saya diberi tanggung jawab baru untuk mengerjakan liputan program Redaksi Siang. Jika sebelumnya saya biasa liputan hard news, kali ini saya banyak meliput berita soft news dan feature.
Di bulan ini, saya juga diberi kepercayaan lagi untuk terlibat dalam event besar, yaitu pernikahan putra bungsu presiden SBY, Ibas dengan Aliya, putri Hatta Rajasa. Hari pertama saya liputan dan live report dari lokasi siraman mempelai pria, yaitu di kediaman presidan SBY di puri Cikeas, Bogor. Dua hari berikutnya saya melanjutkan dengan liputan dan live report di Istana Cipanas. Walaupun melelahkan dan sempat kehujanan, pengalaman live report di Istana Presiden tentu tak akan saya lupakan. πŸ™‚

DESEMBER
Nah, di penghujung tahun 2011, untuk pertama kalinya saya DLK (dinas luar kota) beneran. Kalo biasanya untuk liputan khusus dan live report, kali ini saya DLK untuk meliput liburan di Batu, Jawa Timur. Saya berkesempatan pergi ke daerah wisata seperti Jatim Park, Batu Secret Zoo, Taman Safari II, pemandian Cangar dan taman Dayu. Bahkan saya juga bisa bermain high rope, paintball, waterpark yang selama ini cuma bisa saya lihat di TV :D. Oya, saya juga mulai siaran Redaksi Pagi Akhir Pekan yang durasinya 1 jam. Rasanya dag dig dug dhuer!!
Di bulan Desember ini saya juga kembali pulang kampung untuk merayakan Natal bersama keluarga.

—————————

Berbagai pengalaman di sepanjang tahun 2011 memang sangat melekat dalam ingatan saya. Terlebih, tahun 2011 merupakan jawaban doa yang selama ini saya nantikan.

Pada pergantian tahun lalu, seperti biasa saya mengakhirinya dengan beribadah bersama di Gereja Duta Injil. Saya pun mendapat ayat emas yang dapat saya jadikan pegangan selama setahun kedepan.

Saya memang tidak tahu apa yang akan terjadi dan saya alami di tahun 2012 ini. Namun yang saya tahu, kasih Tuhan akan selalu menyertai kemanapun saya melangkah. πŸ™‚

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).

Blessed you.. πŸ™‚

sebuah analogi

Standar

Di sebuah rumah mewah dan megah, tinggallah seorang wanita bernama tante Susi bersama dua orang pembantunya, Bejo dan Trimbil. Suatu hari, tante Susi hendak mengadakan jamuan makan malam di rumahnya. Dipanggillah kedua pembantunya untuk mempersiapkan hidangan.

“Bejo, kamu bikin sup ayam ya.. Bikinnya kaya biasa, tapi ditambah kacang polong sama ayamnya pilih yang fillet. Biar tamu saya ga susah makannya.” perintah tante Susi pada bejo.

“Ya nyah..”, ujar Bejo sembari mencatat pesanan si nyonya.

“Nah kamu Trimbil, bikin puding coklat pake fla, sama tempe garit rasa daging sapi.”

“Iya nyonya..”, jawab Trimbil pada majikan sambil mencatat.

Sesudah mendapat perintah, kedua pembantu itupun meninggalkan majikannya.

————————-

Keesokan harinya, saat hari H jamuan makan tiba, tante Susi mendadak menyuruh Bejo untuk menjemput tamunya di bandara. Karena badan Bejo cuma satu, tak mungkin Bejo menjemput sambil memasak sup ayam.

Tante Susi pun memutuskan supaya Bejo tetap menjemput tamunya, sementara Trimbil mendapat tambahan tugas membuat sup ayam.

“Trimbil, Bejo kan lagi jemput tamu saya. Kamu aja ya yang bikin sup ayamnya.”

“Oh ya nyah, jadi saya bikin tempe garit rasa daging sapi, puding fla sama sup ayam ya nyah.” ujar Trimbil.

Malam pun tiba. Sang tamu undangan sudah siap di meja makan bersama tante Susi. Hidangan pun sudah disiapkan, tinggal disantap saja.

Tiba-tiba, tante Susi berteriak memanggil Trimbil yang sedang bersantai setelah seharian memasak.

“Trimbbiiiilllll…!!!”

“Ya nyaaahhhh…”

“Ini kamu masak sup nya gimana sih. Kan saya udah bilang kalo supnya pake kacang polong sama ayamnya yang fillet. Ini kok kacang polongnya ga ada, terus ayamnya yang biasa? Kamu gimana sih?”

“Lhah, nyonya ndak bilang kalo pake kacang polong segala. Ndak bilang juga kalo pake ayam fillet. Ya saya bikinnya sup ayam yg biasa nyah..”

“Saya udah bilang kok. Makanya kalo orang ngomong tuh didengerin.”

“Nyonya bilangnya sama Bejo kali..”

“Ya kan kamu ada di situ juga waktu saya ngomong sama Bejo. Emang kamu ga dengerin?”

“Saya ada sih nyah, tapi ya ndak saya catet. Lha wong bukan tugas saya.”

“Makanya lain kali nanya-nanya dulu sebelum bikin. Yaudah kamu bikin sup lagi, sesuai permintaan saya tadi.”

“Ya nyah..” ujar Trimbil sambil berlalu.

—————————
Dari cerita di atas, baik si Nyonyah maupun pembantu sama-sama bersalah. Trimbil mengerjakan tugas “seperti biasa” tanpa bertanya pada tante Susi. Sedangkan tante Susi melimpahkan tugas pada Trimbil tanpa memberikan arahan yang jelas.

Jika sejak awal sudah ada kesepakatan, tentu tidak akan ada kesalahan sehingga Trimbil tidak perlu bikin sup ayam lagi. Tapi namanya Trimbil cuma seorang pembantu, mana berani dia menyalahkan tante Susi.

Dan sekarang Trimbil sedang bersiap-siap untuk memasak sup ayam. Kali ini pake kacang polong dan ayam fillet.

Sekian.

~ditulis dari hati yang agak dongkol