Monthly Archives: Maret 2011

nobody’s great at everything

Standar

“Wis gedhe kok senenge nonton sepongbob”, begitulah komentar ibu saya dan orang-orang dewasa lainnya jika saya menonton serial kartun Spongebob Squarepants. Ya, walaupun usia saya sudah bukan anak-anak lagi (tapi muka masih imut kaya anak-anak), saya masih suka menonton kartun dan power rangers. Bukan hal yang aneh jika orang dewasa menonton kartun, tapi biasanya sih kartun yang masih ada mikirnya atau berbau dewasa kaya Detective Conan, Avatar, One Piece ataupun Crayon Shinchan (sebetulnya Shinchan tuh bukan buat anak-anak ya). Tapi kartun yang saya suka malah kartun yang “anak-anak banget” kaya Spongebob Squarepants, Fairly Odd Parents, Jimmy Neutron dan Tom and Jerry.

spongebob squarepants

Walaupun kartun tersebut untuk anak-anak, namun jalan cerita dan pesan moral yang terkandung dapat diterapkan untuk kehidupan orang dewasa. Salah satu episode serial Spongebob Squarepants berjudul Pressure misalnya, mengandung pesan moral yang sangat cocok diterapkan untuk orang dewasa. Episode tersebut bercerita tentang persaingan makhluk laut (sea creatures) yang diwakili oleh Spongebob Squarepants, Patrick Starfish, Squidword Tentacles dan Eugene Crab dengan makhluk darat (land creatures) yang diwakili oleh Sandy Cheeks, tupai cerdas yang hidup di dasar laut.

Sebenarnya cerita ini berawal dari persaingan Spongebob dan Sandy saja. Namun di Krusty Krab, persaingan malah melebar antara makhluk laut dan makhluk darat. Spongebob dan kawan-kawan beranggapan bahwa makhluk lautlah yang terbaik. Mereka dapat bernapas dalam air dan dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dikerjakan makhluk darat. Karena tidak mau kalah, Sandy pun melepas helm dan baju pelindungnya. Karena Sandy memang makhluk darat, dia tidak dapat bertahan lama di dalam air tanpa alat bantu. Ia pun segera mengambil stoples acar sebagai pengganti helm. Masih tidak mau kalah, Sandy pun menantang keempat makhluk laut tersebut untuk naik ke darat dan bertahan 1 menit saja. Awalnya Spongebob dan kawan-kawan menanggapi tantangan tersebut dengan bersemangat. Namun sampai di pinggir pantai, mereka pun ragu dan saling menunjuk, siapakah yang akan naik pertama kali. Akhirnya mereka pun naik ke darat dan bertemu dengan sekawanan burung camar kelaparan yang malah mengejar mereka untuk dijadikan santapan. Sandy yang sudah menunggu di dalam air selama 1 menit pun mengaku kalah dan naik ke darat untuk menyusul mereka. Mendapati teman-taman lautnya diserang burung camar, Sandy yang pandai silat pun langsung mengejar mereka. Sekembalinya ke dalam laut, mereka semua menyadari bahwa masing-masing mempunyai kelebihan, tapi tidak ada seorangpun yang hebat dalam segala hal.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita dituntut untuk hebat dalam segala hal. Misalnya saja, orang tua akan selalu menuntut anaknya untuk hebat dalam semua mata pelajaran dan hebat dalam setiap les yang diikuti. Padahal setiap anak memiliki bakat dan minat masing-masing. Anak yang pintar di pelajaran matematika dan fisika belum tentu hebat dalam pelajaran bahasa. Atau anak yang berbakat di bidang seni belum tentu pintar di bidang akuntansi. Orang tua selayaknya membimbing dan mendorong anak untuk mendalami bidang yang diminati agar bisa fokus dan menjadi hebat di masa depan.

Kalau dalam bidang pekerjaan, seringkali malah kita sendiri yang memaksakan diri untuk menjadi hebat dalam hal lain. Misalnya seseorang yang berjiwa seni memaksakan diri untuk bekerja di bidang marketing. Bisa saja dia sukses dengan dunia marketingnya. Namun apakah dia bahagia dengan apa yang dijalaninya? Ataukah ia malah merasa sesak seperti Sandy si tupai yang memaksakan diri untuk melepas helm dan baju pelindungnya ketika di dalam air?

Ketika kita sudah dewasa, kita sendiri lah yang harusnya tau kemampuan diri kita. Kita sendiri lah yang mengerti apa yang membuat kita bahagia. Orang-orang memang selalu beranggapan bahwa dalam memilih pekerjaan janganlah terlalu idealis. Pilih saja pekerjaan yang menghasilkan uang banyak tanpa peduli apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan bidang atau passion kita. Namun saya pikir, kita menjalani kehidupan kita masing-masing dan tidak ada salahnya jika kita memilih jalan hidup sesuai hasrat kita sekalipun harus menjalani semuanya dari nol. Toh ketika kita merasa sesak karena bekerja di bidang yang “terpaksa” kita jalani, mereka tidak membantu kita. Saya menjalani hidup saya sendiri baik susah maupun senang. Sebagai orang dewasa (secara pemikiran, bukan sekedar usia) kita bertanggung jawab terhadap diri kita dan masa depan kita sendiri. Jika memang bakatmu adalah bisnis dan malah bekerja atau kuliah di bidang kedokteran, bukankah ga nyambung? Jika memang kita bahagia menjadi seorang seniman meskipun bayarannya kecil, saya rasa itu jauh lebih berharga daripada orang yang “terpakasa”. Dan saya juga percaya jika kita menekuni bidang yang kita suka dan terus mengembangkan diri, suatu hari nanti kita akan memetik buah yang manis berupa kesuksesan, baik kesuksesan dalam bidang finansial maupun kepuasan diri.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film Thailand berjudul “The Little Comedian”. Film ini menceritakan tentang Tok, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang ingin menjadi pelawak HANYA karena ayah dan kakeknya adalah pelawak juga. Namun sekeras-kerasnyaia mencoba untuk melucu, lawakannya tetap garing dan tidak ada yang tertawa. Ia tambah sakit hati ketika ayahnya tidak mau lagi mengajaknya naik panggung untuk melawak, tapi justru mengajak adik perempuannya yang masih kecil.

Ternyata Tok ingin menjadi pelawak bukan karena keinginannya sendiri. Ia hanya takut jika ia tidak  bisa melawak, maka ayahnya tidak akan menyayanginya lagi. Namun ayah Tok memang bijaksana. Meskipun ia sering menggoda Tok karena lawakannya yang tidak lucu, namun ia berkata bahwa ia mendukung Tok menjadi apapun yang ia inginkan. Ayahnya akan tetap menyayanginya meskipun ia tidak mewarisi bakat lucu dari ayah dan kakeknya.

Sama seperti Tok, seringkali kita memilih jalan hidup kita hanya karena ingin membuat orang lain bahagia. Kita takut jika kita tidak menjadi seperti yang orang lain inginkan, maka kita tidak akan dianggap ada. Karena itu bertanyalah pada diri kita sendiri. Apakah memang kita bahagia dengan pilihan kita? Ataukah saat ini kita seperti Spongebob dan kawan-kawan yang memaksakan diri naik ke darat tapi malah dikejar-kejar burung camar? Dalam episode tersebut, mereka menyadari bahwa tidak ada seseorang yang hebat dalam segala hal. Jadi mari kita memaksimalkan bakat yang ada pada diri kita dan jangan memaksakan diri untuk melakukan hal yang memang bukan bidang kita.

Keadaan sekarang mungkin masih jauh dari mimpi dan keinginan kita. Namun dengan keyakinan, terus berpegang pada mimpi kita dan terus berusaha, saya percaya suatu hari nanti kita akan sukses dan bahagia! Keputusan untuk masa depan kita ada di tangan kita sendiri. Jika kita memang tidak bahagia dengan keadaan kita sekarang, ada baiknya jika kita “membakar jembatan” dan mulai menggapai ke langit dimana mimpi kita tergantung.

🙂

photo story: trip to Bali

Standar

Yak! Kali ini saya mau pamer pengalaman saya bersenang-senang di Bali. Meskipun ga sepenuhnya bersenang-senang karena ada unsur kerjanya dikit, yang penting saya have fun di sana. 😀 Oh ya, ini merupakan pengalaman saya kedua pergi ke Pulau Dewata itu. Sebelumnya saya pernah ke sana tahun 2004 untuk kegiatan study tour SMA.

Berbeda dengan pengalaman pertama saya ke Bali naik bis pariwisata, kali ini saya menumpang pesawat terbang. Seharusnya sih saya naik Garuda Indonesia Airlines, namun karena saya terlambat datang ke check in counter padahal saya harus ada di Denpasar sebelum pukul 13.30 WITA, jadinya saya naik pesawat Air Asia. Baru kali itu saya menumpang pesawat Air Asia dan saya pun baru tahu kalau jarak antar tempat duduk begitu sempit (hampir sama kaya Lion lah) dan GA DAPET MAKAN!! Sekedar makanan kecil atau permen pun nggak dikasih. Kalau mau makan, ya beli. Agak kesal sih karena saya belum makan dari pagi karena biasanya di Garuda dapet makanan. Tapi ya sudahlah, yang penting saya berangkat dan sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai dengan selamat 🙂

di bandara

bandara Bali

 

Dari bandara, saya langsung menuju pantai Sanur untuk selanjutnya naik speed boat menuju tempat berikutnya. Baru pertama kali saya pergi ke Sanur karena dulu belum sempat mengunjunginya. Ternyata di Sanur lebih banyak turis lokal daripada turis asing. Suasana nya pun masih sangat Indonesia, tidak seperti di Kuta yang “bule banget”.

sampai di sanur

sanur

 

Lokasi speed boat cukup jauh dari bibir pantai sehingga saya yang tadinya memakai sepatu harus bertelanjang kaki dan melipat celana untuk meminimalisir basah. Selain itu saya pun harus berjibaku mengangkat koper yang lumayan berat dari bibir pantai ke kapal. Sebenarnya saya ingin duduk di luar agar dapat merasakan angin dan melihat deburan air laut yang terbelah oleh kapal. Namun karena saya harus menjalani tes kamera 3 hari ke depan, terpaksa saya duduk di dalam agar tidak tersengat sinar matahari. Di dalam kapal rasanya seperti naik metro mini yang melewati jalan berbatu-batu. Bahkan beberapa kali saya ikut menjerit karena dikagetkan oleh hentakan kapal yang begitu kuat.

Kurang lebih 30 menit kemudian, saya sampai di sebuah pulau bernama Nusa Lembongan yang terletak di sebelah tenggara Pulau Bali.

Nusa Lembongan

 

Saya tidak tahu pasti di sisi pulau yang mana saya mendarat. Dan begitu mendarat, saya kembali berjibaku mengangkat koper dari kapal menuju bibir pantai yang lagi-lagi berjarak cukup jauh. Namun semuanya seolah terbayar dengan keindahan pantai di Nusa Lembongan yang begitu indah dengan pasir putih dan air yang begitu jernih.

mendarat di Pulau Nusa Lembongan

 

Setelah menurunkan barang, saya pun langsung digiring menuju hotel untuk menginap. Saat itu saya memang sudah sangat lelah, ngantuk dan lapar. Jadi tawaran untuk langsung ke hotel pun langsung saya iyakan segera. Tidak lama kemudian saya pun terkejut melihat hotel tempat saya menginap. Bentuknya berupa bangunan 2 lantai yang terbuat dari kayu dan atap dari jerami kering. Kamar ada di lantai atas dan bagian bawah hanya terdapat semacam bale-bale untuk bersantai. Pintu masuk dan tangga ada di bagian belakang bangunan. Dan yang membuat terkejut adalah…… KAMAR MANDINYA TERBUKA!!!! Kamar mandi ada di bagian belakang kamar, tanpa atap dan terbuka! Saya langsung terbengong-bengong saat melihatnya.

hotel di Nusa Lembongan

 

Jika melihat suasana hotel dan pantainya sih ala-ala Thailand (walaupun saya belum pernah ke Thailand dan hanya nonton di tipi). Pemandangan dari kamar hotel di lantai atas pun lumayan bagus, walaupun terhalang atap bangunan resto hotel. Oh ya, karena perut sudah menjerit kelaparan, saya pun segera memesan makanan dari resto hotel tersebut. Saya memesan nasi kari sementara teman saya memesan chicken cordon bleu yang dari segi harga dan rasa agak kurang masuk akal. Mungkin karena ini di Bali dan banyak turis asing, jadi harga yang dipatok juga lumayan tinggi.

pemandangan dari kamar hotel

nasi kari sapi dan chicken cordon bleu

Walaupun badan pegal-pegal dan kurang istirahat, rasanya sayang jika hanya tidur-tiduran di sini. Jadi sehabis makan, saya beristirahat sebentar dan kemudian berjalan-jalan menyusuri pantai. Ternyata pemandangan di Nusa Lembongan memang indah. Banyak kapal-kapal dan speed boat di pinggir pantai. Saya pun menyusuri pantai sampai ujung yang berupa tebing karang. Dan tentu saja tak lupa untuk menyalurkan bakat saya di bidang modelling, hehehe :p

pemandangan pantai

di pinggir pantai

menjelang sunset sekitar pukul 18.00 WITA

 

Satu hal  yang saya lupa dari Bali, yaitu PERBEDAAN WAKTU! Saya terbiasa di zona waktu WIB dan lupa mengatur jam saya ke zona WITA. Maka terjadilah hal yang tidak diinginkan. Seharusnya saya sudah siap pada pukul 6 sore waktu bali untuk menyeberang ke kapal pesiar di tengah laut sana. Namun jam segitu saya masih foto-foto di pantai. 😦  Akhirnya dengan mandi apa adanya, saya pun bersiap-siap dengan kecepatan super agar tidak ketinggalan kapal. Sekitar pukul 19.00 WITA, saya menyeberang ke kapal pesiar SEA SAFARI CRUISES untukk berpesta pora.hihihi.. 😀

SAFARI CRUISES

hiburan di atas kapal

 

Kapal pesiar ini berhenti di tengah laut dan terombang-ambing kesana kemari sehingga bikin mabuk. Padahal hari itu juga terjadi gempa dan tsunami di Jepang dan sempat dikabarkan bahwa gelombang tsunami juga akan sampai ke perairan Indonesia. Saya sih tidak terlalu kuatir, karena saya tahu bahwa yang terancam adalah kepulauan di wilayah utara Indonesia sementara saya sedang berada di daerah selatan.

Acara di kapal berlangsung sampai malam dan kami kembali ke hotel sekitar pukul 12 malam di tengah hujan lebat. Karena cuaca buruk dan penumpang speed boat bisa dibilang overload padahal saya tidak bisa berenang, maka saya pun memakai rompi pelampung.

pake pelampung

Keesokan paginya, saya bangun dengan badan masih pegal-pegal, namun tak menyurutkan niat saya untuk menikmatipagi hari di Nusa Lembongan. Saya pun kembali menyusuri pantai. Kali ini saya tak membawa kamera karena memang hanya ingin bermain air di pantai. Sayang seribu sayang, sekitar pukul 10 waktu setempat, hujan kembali turun dengan derasnya sehingga terpaksa saya kembali ke hotel dan bersiap-siap kembali ke Pulau Bali pukul 11.

Saya kembali menumpangi speed boat untuk kembali ke Pulau Bali, tepatnya di pantai Sanur. Karena cuaca mendung dan matahari tidak menyengat, saya memberanikan diri duduk di bagian belakang kapal den merasakan deburan air dan angin.Ternyata getaran di bagian belakang tidak terlau terasa jika dibandingkan duduk di bagian dalam kapal.

duduk di bagian belakang speed boat

 

Sampai di Sanur, saya segera membersihkan diri dari pasir yang menempel di kaki. Dari Sanur saya mampir ke tempat makan bernama “babi guling sanur”. Makanannya berupa nasi dan seperangkat babi-babian. Ada babi guling, kulit babi kering, sate babi dan lain lain.

babi guling sanur

 

Sebelum berangkat ke bandara, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat terkenal di sekitar pantai kita walaupun hanya sebentar. 🙂 Sebenarnya saya juga sempat mampir ke toko oleh-oleh bernama “Erlangga”. Namun menurut saya, barang-barang yang ada tidak jauh berbeda dengan barang-barang di Mirota Batik Yogyakarta. Mungkin karena kedua propinsi tersebut mengutamakan keindahan alam, seni dan budaya sebagai daya tarik wisatanya.

zero ground

jalan legian

pantai kuta yang ngehits

kuta dilihat dari circle K di seberang

Setelah bersenang-senang, saya pun menuju bandara dan langsung terbang menuju Jakarta dengan selamat. Kali ini saya menumpang pesawat Garuda, jadi dijamin nyaman dan ga akan kelaparan 😀

 

Untuk perjalanan berikutnya, semoga saya bisa ke tempat lain yang lebih unik dan ngehits, bahkan ke luar negeri. hihihi.. :p

Menuju Puncak

Standar

Pada tahun 2003, Indonesia sempat diramaikan dengan kehadiran suatu ajang pencarian bakat di salah satu stasiun TV swasta. Program tersebut bernama AFI. Pada saat itu hampir semua orang membicarakannya, bahkan tak sedikit yang ngefans habis-habisan dan merelakan sebagian pulsanya untuk mendukung salah satu peserta agar tak tereliminasi. Saya sendiri mengikuti acara tersebut. Mulai dari diary AFI sampai konser AFI. Tak dapat dipungkiri bahwa program tersebut memang menarik, apalagi AFI merupakan ajang pencarian bakat menyanyi pertama di Indonesia yang disiarkan di seluruh Nusantara.

Sebagai penggemar AFI (dulu tentunya, sekarang udah nggak), sudah pasti saya hapal lagu “Menuju Puncak” yang merupakan theme song dari acara tersebut. Bahkan saya sering mengikuti gerakan para akademia saat menyanyikan lagu tersebut. Menurut saya, lagu “Menuju Puncak” memang sarat akan semangat anak muda dalam meraih impian dan cita-cita walaupun harus melewati jalan yang berliku. *halah*

Menurut saya, sifat lirik lagu sama seperti puisi yaitu multi tafsir. Jadi penafsiran suatu lirik lagu atau puisi bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Dan menurut penafsiran saya, inilah maksud dari tiap lirik “Menuju Puncak”

Bukan mudah meniti langkah ke angkasa
Kita sering mendangar ungkapan “gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempunyai cita-cita. Jika tanpa cita-cita dan keinginan, apa yang akan kita gantung di langit? Setinggi langit berarti tak ada batasan untuk mimpi kita. Karena itu bermimpilah yang besar! Jangan pernah takut bermimipi karena banyak hal besar di dunia ini berawal dari imajinasi. Selanjutnya yang harus kita lakukan adalah menangkap cita-cita yang sudah kita gantungkan tinggi-tinggi. Dan hal tersebut tentu bukanlah hal yang mudah.

bukan mudah mengubah mimpi jadi asa pasti
Dari hanya sekedar cita-cita, kita harus berusaha menjadikannya sebagai harapan pasti, bukan hanya harapan semu. Misalnya saja ketika kita kecil bercita-cita menjadi dokter. Ketika beranjak dewasa tentu dia harus memilih sekolah yang baik, mungkin saja mengambil jurusan IPA di sekolah dan harus mengikuti ujian yang sulit untuk dapat masuk ke perguruan tinggi. Meskipun hanya sedikit demi sedikit dan tampak berjalan lambat, namun secara pasti ia mendekati cita-citanya.

bukan mudah menggapai bintang yang berkilauan
Bintang disini berarti cita-cita dan mimpi kita. Bukan cita-cita yang biasa, namun cita-cita yang berkilauan. Jika kita bermimpi menjadi pengusaha, bermimpilah menjadi pengusaha yang sukses dan mendapat laba yang besar. Jika ingin menjadi penulis, bermimpilah menjadi penulis dengan buku best seller dan dapat hidup berkelimpahan dari menulis. Jika bercita-cita jadi wartawan, jadilah wartawan yang luar biasa dan bekerja di kantor berita besar seperti CNN atau VOA. Berkilauan berarti kita berbeda dari orang kebanyakan dan menjadi pusat perhatian karena kiluaan kita.

bukan mudah jalanan ini untuk diarungi
Perjalanan meraih mimpi tentu bukanlah hal yang mudah. Untuk menjadi seorang dokter, seseorang harus mengikuti ujian masuk, kuliah dalam waktu yang lama dan tidak mudah, menjalani proses CoAs bahkan harus rela ditempatkan di desa terpencil terlebih dahulu. Seorang penyanyi yang sukses sebelumnya harus latihan bertahun-tahun, pantang makan ini-itu, rela dibayar murah untuk promosi hingga akhirnya dapat meraih sukses. Menjalani proses meraih mimpi memang sulit, penuh hambatan dan tantangan. Namun jika kita dapat melewati semua itu, suatu saat kita akan memetik buah yang manis dari hasil jerih payah kita.

apapun jua bisa terbukti andai langkahmu tidak terhenti
Semua impian kita dapat terwujud jika kita terus melangkah walupun banyak halangan dan tantangan. Banyak hal yang dapat menghentikan langkah kita, baik dari luar maupun dari dalam diri kita. Jika di program AFI, ketika peserta mendapat jumlah sms paling sedikit, otomatis dia akan tereliminasi dan tidak dapat melanjutkan kontes tersebut. Sedikitnya sms yang diterima bisa saja karena kemampuan menyanyinya kurang baik ataupun kelakuan sehari-harinya yang buruk. Kemampuan menyanyi yang kurang baik mungkin saja disebabkan karena malas latihan. Jadi bisa saja pengaruh dari luar dan dari dalam itu saling berkaitan. Jika seorang pengusaha malas berpromosi dan tidak melayani dengan baik, tentu saja mustahil ia dapat menjadi pengusaha sukses. Mari lihat dalam diri kita, faktor apa saja yang dapat menghentikan langkah kita? Mungkin saja selama ini kita malas.

menuju puncak gemilang cahaya mengukir cita seindah asa
Perjalanan meraih cita-cita akan lebih menyenangkan jika kita selalu bersyukur dan tersenyum. Kita pun harus percaya dan yakin bahwa suatu hari nanti impian kita dapat terwujud. Jika bukan kita sendiri yang meyakini mimpi kita, maka siapa lagi? Kita harus yakin bahwa masa depan kita cerah dan kemenangan yang gilang gemilang sudah menunggu di hadapan kita.

menuju puncak impian di hati bersatu janji kawan sejati
Kita harus membagi dan memperkatakan apapun impian kita kepada orang lain. Karena dengan demikian, secara tidak langsung kita mendapat bantuan orang lain untuk meyakini mimpi kita. Seperti agnes monica yang selalu membagi dan memperkatakan mimpinya untuk go internasional, sekarang mimpinya bukan sekedar mimpi. Sedikit demi sedikit mimpinya menjadi kenyataan. Kita pun harus mempunyai sahabat-sahabat yang akan menyemangati kita ketika kita down. Ada kalanya kita merasa keadaan sekarang begitu jauh dari impian kita dan kita putus asa. Saat itulah kita membutuhkan sahabat kita untuk memberi semangat dan meyakinkan kita kembali. Kita pun wajib membangkitkan semangat sahabat kita pada saat mereka merasa putus harapan.

pasti berjaya di akademi fantasi
Konteks lagu ini memang untuk program AFI. Namun menurut saya, dimanapun kita saat ini ditempatkan, itu merupakan sebuah proses yang berharga dalam meraih inpian kita. Dimanapun dan apapun yang sedang kita kerjakan, percayalah bahwa kita akan berjaya. Kita pasti berhasil karena kita diciptakan untuk berhasil, bukan gagal. Kita diciptakan untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Mungkin saat ini seseorang masih bekerja sebagai akuntan di sebuah hotel, padahal cita-citanya menjadi seorang pengusaha. Namun bisa saja disana ia mulai membangun jaringan sehingga ketika cita-cita itu terwujud, ia sudah mempunyai jaringan bisnis. Atau mungkin saja ada orang yang bercita-cita menjadi aktor terkenal, namun saat ini masih menjadi figuran. Dengan latihan, kerja keras dan membangun jaringan, ia pasti berhasil meraih impiannya.

Satu hal yang pasti, pertama kita harus mempunyai cita-cita dan impian. Karena tanpa impian, hidup bagaikan sayur tanpa garam. Seperti kata mbak Agnes: “dream, believe and make it happen”

🙂

-andreygbaikhati-