Category Archives: serba serbi

Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Standar
Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Sebagai penduduk negara tropis, saya belum pernah liat salju secara langsung. Palingan liat bunga es di kulkas yang (kayanya) mirip salju. Atau wahana salju-saljuan di mall yang dibuat untuk anak-anak. Walaupun bukan salju beneran, tetep aja gabisa megang. Cih! Makanya pas temen saya ngajakin ke Jepang untuk melihat tumpukan salju di pegunungan Tateyama, Jepang, langsung saya iyain aja.

Waktu ke Jepang bulan April-Mei kemaren, sebetulnya saya pengen banget ke Universal Studio Osaka. Tapi apa daya, budget buat ke Tateyama udah lumayan gede. Untuk tiket terusan dari Nagano menuju Toyama aja udah habis ¥9.000 atau sekitar Rp 1.100.000.

Keberangkatan menuju Tateyama saya mulai dari stasiun Shinjuku di Tokyo. Di lantai 2 stasiun Shinjuku ada agen perjalanan yang dikelola oleh JR group. Di agen perjalanan tersebut, saya dan teman saya disambut oleh dua nenek-nenek di bagian informasi. Tadinya rada underestimate pas mau nanya ke nenek-nenek, takutnya ga paham. Walaupun rada terbata-bata, mereka ternyata bisa menyampaikan informasi tentang Tateyama dengan baik. Kami diarahkan ke loket untuk membeli tiket terusan Tateyama Alpine Route. Tiket terusan Tateyama Alpine Route hanya boleh dibeli oleh turis asing. Makanya pas beli tiket, kita harus melampirkan paspor. Konon katanya beli tiket terusan lebih murah dan praktis daripada beli tiket ketengan. Tiket terusan merupakan cara praktis untuk menikmati perjalanan dari kota Nagano ke kota Toyama dengan rangkaian tur melewati gunung salju. 

Wujud tiket terusan Kurobe-Tateyama Alpine Route

Setelah beli tiket, selanjutnya cari tiket bus untuk pergi ke kota Nagano. Tadinya sih saya berencana untuk berangkat ke Nagano tengah malam supaya besok paginya bisa langsung berangkat ke Tateyama. Tapi ternyata, keberangkatan saya bertepatan dengan Golden Week, libur panjangnya orang Jepang. Jadi bus malam saat itu tidak tersedia dan hanya ada 2 tiket terakhir untuk keberangkatan jam 3 sore. Mau tidak mau, tiket bus seharga ¥3.900 (sekitar 400 ribuan) pun terbeli.

Perjalanan dari kota Tokyo menuju Nagano memakan waktu sekitar 4 jam. Karena saat di Tokyo udara ga terlalu dingin, pas berangkat saya memakai celana pendek. Sampai di Nagano ternyata saya salah kostum. Dinginnya alamaaakkk. Walaupun sudah masuk musim semi, suhu udara di Tokyo dan Nagano ternyata beda banget. Saya pun berjalan kaki dari terminal menuju penginapan sambil menggigil kedinginan.

Salah kostum di Nagano yang dingin

Di Nagano saya menginap di Unicorn Hotel yang dipesan dari situs booking.com. Pengelola hotel yang masih lumayan muda menyambut saya dan teman saya dengan baik. Dia menanyakan kami mau ke mana saja selama di Nagano. Karena hanya berencana untuk ke Tateyama, kami memang tidak mencari tahu tentang kota Nagano. Si pengelola hotel pun menginformasikan kepada kami beberapa tempat wisata di Nagano, salah satunya kuil Zenko-Ji yang bisa didatangi dengan berjalan kaki. Sebetulnya ada juga pemandian air panas yang lokasinya rada jauh, jadi kayanya kami memang ga bakal sempat ke sana. 

Setelah cek in, kami pergi keluar untuk mencari makan. Berbeda dengan Tokyo yang masih gampang mencari makanan pada malam hari, di Nagano ternyata warung-warung makan sudah pada tutup jam 10. Toko yang buka 24 jam palingan minimarket seperti 7&i atau Lawson. Selain makan, untuk menghangatkan tubuh saya juga membeli sake mini seharga ¥100 saja. 

Sake seharga ¥100 atau 12 ribu rupiah saja

Besok paginya, saya dan teman saya bangun jam 6 pagi supaya sempat mengunjungi kuil Zenko-Ji yang ternyata adalah salah satu kuil tertua di Jepang. Karena udah tau bakal dingin banget, saya memakai legging dan sweater yang dilengkapi dengan teknologi heattech sebagai penghangat (belinya di Uniqlo Jakarta). 

Dari penginapan menuju kuil Zenko-Ji cukup memakan waktu 5-10 menit saja. Yang bikin bahagia, saya ketemu pohon sakura yang masih ada bunganya (walaupun bunga sakuranya udah lemes). Padahal, musim bunga sakura sudah berakhir sekitar akhir Maret. 

Horeeee ketemu Sakuraaaa

Dalam perjalanan menuju kuil Zenko-Ji pun menyenangkan. Saya melewati rumah-rumah bergaya lawas yang sulit dijumpai selama di Tokyo. Sebelum memasuki area kuil pun, saya melewati deretan toko-toko penjual souvenir yang lagi-lagi bergaya lawas. 

Gerbang besar kuil Zenko-Ji

Deretan toko bergaya lawas di sekitar kuil Zenko-Ji

Sampai di bangunan kuil, saya pikir bakalan sepi karena masih jam 6 pagi. Tapi ternyata kuil Zenko-Ji udah lumayan rame. Bentuk kuil Zenko-Ji sebetulnya ga jauh beda sama kuil Senso-Ji di Tokyo (namanya kok mirip-mirip ya). Di bagian depan ada tungku besar untuk menancapkan dupa. Di bagian teras ada kotak untuk memasukkan persembahan (berupa uang, bukan sayur mayur hasil bumi). Di bagian dalam ada biksu dan masyarakat yang sedang berdoa (di dalam kuil ga boleh foto-foto).

Pas lagi liat-liat kuil bagian dalam, tiba-tiba ada keramaian! Orang-orang pada keluar dari kuil untuk berbaris di depan tangga. Bahkan saking penuhnya, sampai ada yang berjejalan di teras kuil. Ternyata, saat itu adalah pergantian biksu besar. Jadi saat biksu besar mau masuk ke kuil, masyarakat berbaris untuk memohon berkat. Begitu pun saat biksu besar keluar, masyarakat berbaris lagi untuk memohon berkat.

Pagi-pagi kuil Zenko-Ji udah rame

Memohon berkat dari biksu besar

Puas melihat keagungan kuil Zenko-Ji, kami pun bergegas kembali ke penginapan. Setelah mandi dan sarapan, kami berjalan kaki menuju terminal Nagano selama kurang lebih 15 menit. Sampai di terminal sih rada bingung mau naik bis yang mana. Bis untuk menuju Ogizawa ternyata ada di bagian belakang terminal, tepatnya di platform 25. Saat itu penumpang bis dari Nagano menuju Ogizawa ternyata ga banyak. Cuma ada saya dan teman saya, 4 orang anak muda dan satu keluarga dari Indonesia juga. Tinggal menujukka tiket terusan yang sudah kita beli, supir bus pun akan mengijinkan kita naik bus tanpa biaya lagi.

Saya agak lupa perjalanan dari Nagano ke Ogizawa memakan waktu berapa lama. Kalau ga salah sih sekitar 2 jam. Selama perjalanan, kadang saya melihat ada deretan pohon sakura yang masih berbunga. Ada sakura pink, ada juga sakura putih. Sayangnya kita ga boleh berhenti buat foto-foto. Jadi ya cukup dilihat dan dikenang dalam hati.

Deretan bunga sakura dalam perjalanan Nagano-Ogizawa. Photo by Silvano Hajid.

Deretan gunung salju mulai nampak di kejauhan

Semakin mendekat ke Ogizawa, di kanan kiri jalan mulai nampak potongan-potongan es beku. Sampai di stasiun Ogizawa, saya langsung takjub melihat salju beneran untuk pertama kali. Sebetulnya pengen banget langsung pegang. Tapi sudah ada garis pembatas supaya turis ga masuk ke area salju. 

Pengen banget megang es nya tapi ga boleh

Dari Ogizawa lah perjalanan Alpine Route kita mulai. Di Ogizawa, kita naik bus menuju ke bendungan Kurobe. Perjalanan menuju Kurobe DAM sih ga istimewa karena hanya melewati terowongan buatan. Jadi ga ada pemandangan apa-apa. Satu-satunya hiburan hanya informasi tentang Alpine route di TV bagian depan yang menggunakan bahasa Jepang. Istimewanya, bus yang kita naiki bukan bus biasa. Bus bergerak dengan tenaga listrik yang dihantarkan melalui tiang besi mirip bombom car.

Selfie di depan bus bombom car. Tapi blur.

Setelah turun dari bus, kita berjalan kaki melewati terowongan menuju bendungan Kurobe yang dikelilingin gunung-gunung bersalju. Kurobe dam merupakan bendungan terbesar di Jepang. Saat musim panas, biasanya aliran air akan dibuka dan debura airnya akan menghasilkan pelangi. Tapi karena lagi musim semi dan masih bersalju, jadi kita ga bisa liat pelanginya.

Kurobe dam kaya di Swiss yaa.. (padahal belom pernah ke Swiss)

Selfie di Kurobe dam sambil bawa gembolan

Puas melihat bendungan dan gunung-gunung salju, waktunya naik ke gunung salju beneran. Kita ga perlu susah-susah mendaki gunung lewati lembah kok. Sudah ada kereta yang relnya miring untuk membawa kita ke puncak bukit bernama cable car. Saya pernah naik kereta sejenis di Penang, Malaysia. Karena cukup unik dan jarang dilihat, banyak turis yang mengabadikan gambar si kereta sebelum naik.

Perjalanan ke puncak belum berakhir dengan kereta rel miring. Masih ada ropeway alias kereta gantung yang bisa memuat puluhan manusia ke puncak gunung salju. Saat naik kereta miring maupun kereta gantung, para turis akan berebutan untuk duduk atau berdiri di dekat jendela. Termasuk saya. Hahahahaa.. Masa udah jauh-jauh ke Tateyama tapi ga bisa foto-foto karena salah posisi.

Kereta miring di Alpine Route

Ropeway Alpine Route

Pemandangan dari dalam ropeway

Selfie di dalam kereta gantung. Abaikan Silpano dan rambut njegrik saya.

Ini dia yang ditunggu-tunggu. Puncak Tateyama! Selain melihat gunung salju dari ketinggian, pengunjung juga bisa mainan salju di titik ini. Akhirnya saya bisa megang salju beneran! 

Ternyata salju itu dingin bro! (Menurut nganaaa). Kalau soal dingin sih mungkin ga jauh beda sama bunga es di kulkas. Tapi suhu udara yang sangat dingin di pegunungan membuat saya ga berani berlama-lama kalo megang salju. Sempat lah sok-sok an mau bikin boneka salju ala Olaf-nya Frozen. Tapi baru bikin bola salju kecil aja dinginnya udah kebangetan. 

Satu lagi yang wajib dilihat kalo udah di Tateyama. Jalanan dengan dinding salju! Selama bulan Mei-Juni, biasanya dinding salju alias snow wall bisa dilihat pengunjung. 

Salju pertama dalam hidup. Pake kacamata item karena pantulan cahaya matahari ke salju bikin silau.

Jalan di antara dinding salju

Area Tateyama tutup jam 5 sore. Bus untuk menuju kota Toyama biasanya juga berakhir sekitar pukul 5 sore. Walaupun menyengangkan, harus ingat waktu untuk pulang. Dari titik terkahir di Tateyama menuju kota Toyama, kita menggunakan kereta tua selama 1 jam-an. Karena udah capek dan batre habis, saya ga sempat foto-fotoin kereta tuanya. Yang pasti, sampai di stasiun Toyama tiket terusan akan dimita oleh petugas. Padahal tadinya tiket terusan itu bakal saya jadikan kenang-kenangan.

Pemandangan berupa salju dan pegunungan bersalju biasanya hanya bisa dilihat pada musim semi bulan Mei-Juni. Sementara pada musim panas maupun gugur, pemandangan bukan lagi berupa salju, melainkan pepohonan dengan warna daun menguning. Pada musim dingin, Tateyama-Kurobe Alpine Route tidak dibuka untuk umum.

Tiket terusan yang saya gunakan sebetulnya bisa dipakai untuk perjalanan Nagano-Toyama atau sebaliknya, Toyama-Nagano. Kita tinggal memilih mau menelusuri gunung Tateyama dari kota mana. Hanya saja, terusan hanya bisa digunakan one way, tidak bisa bolak balik. Menurut saya sih, kalau pengen melihat salju lebih menyenangkan dari Nagano menuju Toyama. Tensinya cenderung naik. Dari melihat Kurobe dam (yang setelah melihat puncak gunung salju ternyata ge terlalu istimewa), sampai melihat dinding salju dan bermain salju sepuasnya. Kalau dibalik melihat dan bermain salju dulu, baru melihat dam kayanya kurang asik. 

Karena baru pertama kali datang ke tempat sedingin itu, bibir saya sampai kering dan pecah-pecah. Untung di minimarket ada lipbalm khusus untuk mengobati bibir pecah-pecah. 

Perjalanan saya ke Jepang bisa dibilang dadakan dan menghabiskan dana lumayan banyak. Tapi kan uang bisa dicari. Pengalaman, kesempatan dan umur ga bisa diulang. 😃

Dorama Visa Jepang

Standar

Jelang tahun 2017 kemarin, biasanya orang-orang bikin resolusi. Saya sih nggak bikin resolusi kehidupan, malah bikin resolusi piknik 2017. Jadi, sebelum menginjak umur 30 di pertengahan 2017 (iye, gw udah mau 30!), tadinya saya pengen menuntaskan kunjungan ke negara-negara Asia Tenggara. Malaysia, Singapore, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Timor Leste (kalo masuk itungan Asia Tenggara yaa) udah berhasil saya kunjungi. Tinggal Myanmar, Laos, Brunei Darussalam dan Filipina. Tadinya pengen pake fasilitas AirAsia Asean Pass, tapi berhubung temen-temen sepermainan saya tak kunjung memberi tanggapan, jadinya batal deh.

Pertengahan Maret 2017, temen saya ngajakin ke Jepang. Rencana keliling Asia Tenggara akhirnya saya ubah ke Jepang. Secara nekat dan impulsif, pertengahan Maret saya beli tiket AirAsia ke Jepang seharga 4,6 juta untuk keberangkatan 30 April 2017. Padahaaalll.. waktu itu paspor saya udah masuk masa tenggang. Sementara, setelah beli tiket itu saya harus dinas ke luar kota sampe tanggal 11 April. Terus kapan aku ngurus paspornyaaa. 😱

Karena mau pergi ke Jepang, saya berencana bikin paspor elektronik biar bisa masuk Jepang tanpa bayar visa. Kebetulan saya dinasnya di Jawa Timur, jadi bisa sekalian ngurus paspor elektronik. Soalnya untuk bikin paspor elektronik, cuma bisa di kantor imigrasi kelas 1 di Jakarta, Surabaya san Batam. Tapi rencana tinggal rencana, karena selama di Jawa Timur, saya berada di Surabaya cuma 3 hari terakhir. Jadi ga sempat ngurus paspor juga.

Tanggal 12 April jam 7 pagi, saya langsung meluncur ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Saat itu sistem pelayanan pembuatan paspor secara online lagi bermasalah. Jadi mau tidak mau, saya harus datang langsung ke kantor Imigrasi. Untuk membuat paspor elektronik, konon butuh waktu 14 hari kerja. Sementara untuk paspor biasa, butuh waktu 5 hari kerja. HARI KERJA lho yaa.. jadi sabtu-minggu-hari libur ga diitung. Padahal, waktu itu lagi banyak-banyaknya tanggal merah. Tanpa adanya tanggal merah, paspor sata harusnya udah jadi tanggal 19 April. Tapi karena tanggal 14 Jumat Agung, 15-16 sabtu minggu dan tanggal 19 ada pilkada DKI, secara itungan kasar paspor saya baru jadi tanggal 21 April. Tapi saya nggak mau pasrah begitu saja. Selasa tanggal 18 April, saya coba-cona datang lagi dan ternyta paspor (biasa) saya udah jadi. 

Selanjutnyaaa tinggal ngurus visa. Berdasarkan informasi dari website kedutaan besar Jepang, ada beberapa dokumen yang harus saya siapkan. Tiket jelas sudah ada, tinggal diprint. Formulir biodata tinggal diisi, bisa diketik atau tulis tangan. Untuk itinerary, saya ngarang abis. Pokoknya selama seminggu di Jepang, saya bikin itinerary seolah-olah saya cuma keliling Tokyo. Padahal rencananya, saya bakal keliling Tokyo, Nagano dan Osaka. Kenapa saya ga jujur aja? Soalnya untuk keliling ke kota-kota tersebut butuh biaya gede. Nanti saya jelaskan lebih lanjut. Terus untuk bukti pemesanan hotel, saya pesan lewat booking.com yang bisa dicancel tanpa biaya.

Salah satu syarat untuk bikin paspor Jepang adalah rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Ini yang bikin saya deg-degan kalau permohonan visa saya ditolak. Jadiii.. sehari sebelum mengajukan visa, saya mau memindahkan tabungan saya ke rekening lain. Tapi kok ya ndilalah sistem atm nya lagi bermasalah. Jadi saya harus berdrama-drama buat memindahkan rekening tabungan. Nah yang bikin deg-deg an adalah, rekening koran saya perubahannya ekstrim. Kadang banyak banget, kadang nyaris nol. Saldo akhir pun ga seberapa banyak. Padahal menurut info-info yang saya baca, untuk mengajukan visa ke Jepang setidaknya butuh 1.5 juta dikalikan berapa lama di Jepang. Jadi karena saya bakal 8 hari di Jepang, setidaknya saldo mengendap di rekening saya senilai 12 juta rupiah. Entah info ini bener atau tidak, tapi buat jaga-jaga ya sebaiknya diikuti. Untuk tambahan dokumen, saya juga melampirkan paspor lama saya. Ga masuk dalam persyaratan sih, tapi ya biar mereka tau aja saya pernah ke mana.

Setelah semua dokumen siap, Kamis 20 April saya pergi ke kedutaan besar Jepang di Thamrin untuk mengajukan visa. Waktu itu lagi sepi banget, jadi saya cuma nunggu 2 nomor antrian sebelum giliran saya tiba. Karena semua dokumen sudah ada, saya tinggal menyerahkan saja ke loket pengajuan visa. Tadinya saya pikir, bakal diwawancara sama petugasnya. Padahal saya udah siapin jawaban-jawaban sewajarnya kalo ada wawancara. Ternyata dokumen aaya cuma diliat-liat, abis itu dikasih tanda terima untuk mengambil paspor plus visa. Untuk paspor biasa, butuh waktu 4 hari kerja, semetara paspor elektronik cuma butuh waktu 1 hari kerja. Ini tidak adil!

Rabu tanggal 26 April 2017, saya datang lagi untuk mengambil paspor. Loket pengambilan paspor dan visa baru buka pukul 13.30. Tapi pas saya nyampe jam 12, sudah ada belasan orang yang ngantri untuk masuk. Setelah loket buka, saya ambil nomor antrian dan menunggu sampai nomor saya dipanggil. Serahkan tanda terima di loket, bayar Rp 370.000 dan paspor saya sudah dikasih tempelan visa Jepang. Sungguh legaaaa.. 

Visa Jepang

Sungguh waktu yang sangat mepet. Visa baru kelar tanggal 26 April, sementara keberangkatan saya tanggal 30 April. Dan liburan ke Jepang merupakan kepergian saya ke luar negeri pake visa untuk pertama kalinya. Biasanya ke negara yang bebas visa atau pun visa on arrival seperti di Timor Leste.

Next, saya bakal cerita pengalaman hidup selama seminggu di Jepang. Semoga saya ga males! 😃

Dari Komik ke Meja Makan

Standar

Waktu kecil, saya suka banget baca komik. Saya ga punya genre khusus buat baca komik, jadi kalo ada komik nganggur ya pasti saya baca. Biasanya komik bacaan saya sih yang ada lucu-lucunya. Misalnya Crayon Shinchan, Doraemon, Dororonpa, Kobo Chan, Time Limit dan sebagainya. Ada juga komik yang agak-agak cabul kaya Nube Guru Ahli Roh. Komik yang ceritanya di negeri antah berantah kaya Dragon Ball atau Dragon Pigmario. Atau komik serius yang butuh mikir kaya Detektif Conan (dari saya kelas 5 SD sampai sekarang ga tamat-tamat), Detektif Kindaichi dan Q.E.D.

Dulu saya ga mampu beli komik. Minta orang tua juga ga tega, wong harga komik termasuk mahal. Mending buat makan. Saya biasanya minjem komik ke teman atau tetangga, tapi lebih sering nyewa. Dulu, di dekat rumah saya ada persewaan komik, namanya KK book rental. Filosofinya bagus lho, karena nama KK merupakan singkatan dari Kejujuran awal dari Kepercayaan. Namanya nyewa komik emang harus jujur. Dikembalikan dalam keadaan baik dan tepat waktu. 

Harha sewa komik di KK terbilang murah kalo dibandingin tempat persewaan lainnya. Di dekat rumah saya ada tempat persewaan komik lain, namanya Tintin. Biaya pendaftaran 1000 rupiah dan untuk sewa dikenai 350 rupiah per komik selama 2 hari (ini sekitar tahun 97-99 lah yaa). Nah di KK ga dipungut biaya pendaftaran. Harga sewa komik juga lebih murah daripada Tintin, tapi saya lupa sih berapaan hehee.. Apalagi sewa 5 komik bonus 1 komik. Menyenangkan!

Sebetulnya ga butuh waktu lama buat melahap 6 komik sampai habis. Kalo pas nganggur-nganggur, biasanya ga sampe sehari komik-komik sewaan udah selesai saya baca. Karena sering sewa komik yang lucu-lucu, saya sering ketawa sendiri. Apalagi kebiasaan baca komik masih lanjut terus sampai saya kuliah. Ibu saya dulu sering bilang, “wis gede ok wacanane koyo ngono.” (sudah besar kok bacaannya kaya gitu). Tapi sejak tinggal di Jakarta, saya udah ga pernah baca komik karena ga nemu tempat persewaan komik kaya di Jogja. Seringnya baca whatsapp. Padahal baca whatsapp juga sia-sia, wong WA dari saya ga dibales, cuma centang biru doang. Huft. Aku jadi sedih.

Komik-komik yang saya baca biasanya berasal dari Jepang. Kalaupun ada komik yang ga dari Jepang, palingan Paman Gober. Membaca komik cukup menambah pengetahuan yang saya tentang Jepang. Misalnya, ayah Nobita dan ayah Kobo Chan berangkat dan pulang kerja naik kereta. Dari situ saya tahu kalau kereta adalah moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat Jepang. Agak sulit saya bayangkan waktu kecil, karena di Jogja ga ada sistem transportasi kereta dalam kota. Dari komik Doraemon saya juga tahu kalau setiap tahun di Jepang ada festival Koinobori. Saya juga jadi tahu kalau ada festival musim panas, di mana warga Jepang menggunakan Yukata, sejenis kimono yang dipakai khusus untuk musim panas. Sementara saat musim semi, melihat bunga sakura jadi salah satu aktivitas wajib di Jepang. Budaya memberi kado pada saat Natal juga bisa saya ketahui dari komik. Padahal, mayoritas penduduk Jepang menganut keyakinan Shinto dan Buddha. 

Dari komik, sedikit-sedikit saya tahu beberapa makanan khas Jepang. Seperti dorayaki makanan kesukaan Doraemon. Dulu saya pikir, dorayaki adalah makanan yang tercipta dari khayalan Fujiko F Fujio. Ternyata, dorayaki memang makanan tradisional Jepang yang sudah ada sejak awal tahun 1900. Dorayaki yang dulu terasa jauh bagi saya, sekarang dengan mudah didapat. Tinggal mampir ke Indomaret, dorayaki seharga 4500 rupiah sudah bisa saya bawa pulang. Walaupun dorayaki yang aslinya berisi kacang merah, dimodofikasi dengan isi pasta coklat karena disesuaikan dengan lidah Indonesia.

Dorayaki produk Sari Roti

Nggak cuma dorayaki, makanan-makanan yang dulu cuma saya baca di komik, sekarang sudah bisa tersedia di meja makan. Dan ga perlu jauh-jauh ke Jepang, cukup datang ke restoran Jepang yang mudah ditemui di Jakarta. Misalnya, di komik Time Limit, tokoh Nina Onoda sangat menyukai takoyaki. Ada juga cerita tentang okonomiyaki yang ternyata mirip takoyaki, tapi berbeda bentuk. Takoyaki berbentuk bola-bola, sementara okonomiyaki berbetuk bulat pipih.

Nina Onoda makan okonomiyaki dan takoyaki

Okonomiyaki di salah satu resto Jepang di Jakarta

Di komik Doraemon, ada cerita saat mulut Giant bau bawang setelah makan gyoza. Saya lupa cerita tersebut ada di komik nomor berapa. Tapi saya ingat betul, di komik Doraemon versi Indonesia, ada keterangan kecil tentang gyoza. Kurang lebih keterangannya kaya gini: gyoza: sejenis siomay yang terbuat dari bawang putih. Waktu saya kecil, yang kebayang ya siomay ala mas-mas yang keliling kampung naik sepeda. Tapi sekarang, saya bisa ikut merasakan gyoza yang dimakan Giant.

Penampakan gyoza di meja makan

Saya tidak tahu apakah dulu pemerintah Jepang sengaja mengekspor komik-komiknya keluar negeri untuk memperkenalkan budaya negeri matahari terbit. Tapi yang jelas, Jepang berhasil menyebarkan informasi tentang kebiasaan, budaya dan makanannya. Menurut saya, dulu restoran khas Jepang ga mudah dicari. Apalagi di Jogja, tempat saya dibesarkan. Kalaupun ada, restoran Jepang biasanya mahal dan ga mungkin terjagkau di kantong saya. Waktu remaja dulu saya pernah sih makan di restoran Jepang, namanya Tenpura Hana. Restonya bagus dan kayanya mahal (soalnya saya cuma ditraktir, jadi gatau harganya hahaa..). Sekarang, restoran khas Jepang di Jogja banyak ditemui. Begitu juga di Jakarta, tempat tinggal saya sekarang. Di satu mall aja saya menemukan lebih dari 10 restoran khas Jepang dengan berbagai bentuk.

Beberapa restoran khas Jepang di Central Park Mall dan Neo Soho

Di komik-komik yang saya baca, makanan khas Jepang biasanya ditampilkan dalam bentuk sederhana. Misalnya warung ramen, kalau di komik bentuknya biasa aja, mungkin mirip warung mie ayam. Sementara di sini, restoran khas Jepang dibuka di pusat perbelanjaan dengan tampilan mewah. Kehebatan Jepang dalam memperkenalkan kebudayaannya patut diacungi jempol. Buat yang pengen merasakan kebudayaan Jepang yang biasanya cuma bisa dilihat di komik, bisa mendatangi restoran khas Jepang maupun festival-festival budaya yang sering diselenggarakan di Indonesia. Tapi buat yang merasa hal tersebut ga cukup, bisa datang ke Jepang untuk merasakan pengalaman langsung, ga cuma lewat komik. Otomatis, pendapatan Jepang dari pariwisata akan bertambah. Apalagi, sekarang bisa ke Jepang tanpa visa asalkan pakai paspor elektronik.

Saya sih baru sebatas baca komik, makan di restoran khas Jepang dan datang ke festival budaya Jepang. Waktu kuliah, saya pernah coba-coba daftar beasiswa Monbukagakusho untuk kuliah di Jepang. Tujuannya ya pengen belajar sekaligus melihat langsung kehidupan di Jepang. Tapi sayang. Gagal. (Ga tau diri sih, wong beasiswanya buat jurusan teknik). 

Andreas di acara Jak-Japan Matsuri

Tapi gapapa, suatu hari nanti pasti saya bisa liburan ke Jepang. Konon, bulan Maret-April adalah waktu terbaik buat yang pengen liat bunga sakura bermekaran. Buat yang sibuk, pemalas kaya saya atau ga mau ribet, tinggal klik Paket Tour Jepang. Bisa juga klik HAnavi untuk paket eksklusif.

Seperti kata Rangga di AADC 2, traveling itu tentang menambah pengalaman, bukan sekedar bersenang-senang. Kurang lebih sih gitu. 😅

HIS Travel Indonesia

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Lebaran Adalah Tradisi

Standar

Dentuman kembang api, riuhnya kumandang takbir dan bersalam-salaman sudah saya lihat dan rasakan sejak semalam. Setelah Kementrian Agama menyatakan bahwa Idul Fitri 1434H jatuh pada hari ini, suasanya Lebaran langsung terasa di jalanan dan di kantor saya.

Tinggal di Indonesia artinya sudah terbiasa dengan suasana Ramadan dan Lebaran. Sejak kecil, saya selalu melihat lalu lalang warga kampung yang berjalan di depan rumah menuju ke lapangan untuk menjalankan Sholat Ied. Berjalan kaki sambil menenteng sajadah, mukena dan koran bekas sambil bercengkerama dengan keluarga, sudah jamak saya lihat dari tahun ke tahun.

Lebaran hari pertama, biasanya anak-anak di kampung saya akan berkeliling ke rumah-rumah tetangga untuk bersilaturahmi. Saat berkunjung biasanya anak-anak ini akan mendapat “salam tempel” yang jumlahnya beragam, mulai dari 100 rupiah sampai 500 rupiah. Saya pun nggak ketinggalan mengikuti kegiatan tahunan anak-anak di kampung tersebut. Saya dan anak-anak lainnya seringkali berkunjung sampai ke kampung sebelah yang bahkan tidak kami kenal. Namun kami tetap disambut, diberi makanan dan yang paling penting dikasih uang. Saat Lebaran, saya bisa mengumpulkan uang hingga 5000 rupiah. Jumlah yang cukup banyak untuk anak-anak tahun 90an. Orang tua saya tidak pernah melarang saya untuk berkunjung ke rumah tetangga bersama anak-anak lainnya. Warga yang saya kunjungi pun tidak pernah menolak, walaupun saya tidak merayakan Lebaran.

Bagi saya, Lebaran bukan sekedar perayaan umat Muslim setelah 30 hari berpuasa. Lebaran adalah perayaan agama yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia. Karena tidak hanya umat Muslim saja yang pulang kampung, bermaaf-maafan dan makan ketupat opor. Seluruh masyarakat Indonesia merasakan Lebaran, merayakan Lebaran dan saya bangga menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Selamat berlebaran semuanya.. Mohon maaf lahir dan batin..

image

Mike dan Sullivan – berlian dalam kubangan

Standar

Udah pada nonton film The Conjuring belom? Film horor yang konon katanya bisa membuat bulu kaki berdiri dan nggak bisa tidur seminggu? Saya diajakin nonton film ini beberapa kali sih. Tapi saya masih waras dan menolak setiap rongrongan seorang teman yang nggak henti-hentinya merayu saya buat nonton The Conjuring.

Sebetulnya sih lumayan penasaran sama The Conjuring, soalnya banyak yang membicarakan film karya sutradara James Wan ini. Tapi rasa penasaran saya kalah jauh sama rasa horornya. Baru nonton trailernya aja udah serem, gimana nonton film utuhnya?

Saya memang bukan tipe orang yang suka nonton film horor. Film horor terakhir yang saya tonton adalah Laddaland, film horor asal Thailand yang seremnya bikin ga berani tidur dengan lampu dimatikan. Saya bukannya takut sih nonton horor. Saya cuma jijik. *denial*

Kalau mau ngajakin saya nonton, mending ngajakin nonton film yang penuh dengan khayalan dan angan-angan. Alih-alih film horor, saya lebih suka film animasi dan fantasi yang penontonnya lebih banyak anak-anak. Mungkin karena usia saya masih belasan tahun, jadi masih suka film animasi yang jalan ceritanya nggak bikin kita harus mikir.

Sekitar 1-2 bulan yang lalu, pas musim libur sekolah, di bioskop sedang memutar film Monsters University. Film ini merupakan prequel dari film Monsters Inc yang bercerita tentang kehidupan di dunia monster, dunia lain dari dunia manusia.

Kalau udah nonton film Monsters Inc, pasti tahu kalau film ini berkisah tentang Mike Wazowski dan James Sullivan, sepasang monster yang paling hebat dalam mengumpulkan suara teriakan anak-anak manusia.

Monsters University menceritakan bagaimana awal pertemuan Mike dan Sullivan jauh sebelum mereka bekerja di Monsters Inc. Sejak kecil, Mike yang bertubuh pendek dan cenderung lucu (nggak seperti monster kebanyakan yanng wujudnya horor) sudah tahu apa yang menjadi cita-citanya jika kelak dia dewasa nanti.

Berapa banyak dari kita yang sejak kecil sudah tau apa yang kita cita-citakan? Kalau ditanya orang “kalo gede nanti mau jadi apa?”, paling jawaban kita standar anak kecil seperti mau jadi dokter, pilot, astronot, polisi dan sebagainya. Ada nggak yang udah punya cita-cita spesifik sejak kecil, misalnya: “pengen jadi direktur marketing yang sukses di Citibank” atau “pengen jadi pilot di maskapai Emirates”? Nah si Mike ini dari kecil cita-citanya udah spesifik, yaitu jadi scary monster alias monster yang tugasnya menakuti-nakuti manusia di perusahaan Monsters Inc.

Menjadi seekor scary monster adalah salah satu pekerjaan bergengsi di dunia monster. Kalau di dunia manusia, kira-kira jadi apa ya? Reporter TV mungkin? Hehehehee..

mike wazowski yang unyu

Kalau sudah tau mau jadi apa kalau dewasa nanti, tentu nggak susah untuk menentukan jalan hidup. Seperti Mike misalnya yang udah bercita-cita jadi scary monster, dia melakukan segala cara untuk bisa masuk ke Monster University sebagai scare student. Banyak dari kita yang nggak tau mau jadi apa saat sudah dewasa nanti sehingga bingung menentukan arah hidup.

Kalau udah tau cita-cita kita, pasti nggak bingung deh waktu SMA mau pilih jurusan IPA atau IPS. Atau nggak mungkin kita bingung menentukan jurusan apa yang tepat untuk kita saat mendaftar ke Universitas. Kebanyakan justru memilih jurusan yang paling populer, kampus terbaik atau bahkan hanya mengikuti jalan yang sudah disiapkan orang tua.

Saya dulu juga sempat bingung mau pilih jurusan apa saat mendaftar UM-UGM dan SPMB. Cita-cita waktu kecil sih jadi wartawan, tapi waktu SMA malah memilih jurusan IPA. Nggak lolos UM-UGM dan SPMB, saya akhirnya kuliah di Akademi Komunikasi Indonesia jurusan broadcasting TV yang akhirnya membawa saya untuk bekerja sebagi reporter, sesuai cita-cita saya waktu kecil.

Memiliki cita-cita dan memperjuangkannya dengan gigih ternyata nggak cukup kuat bagi Mike untuk mewujudkan mimpinya. Mike yang rajin belajar dan mengetahui semua teori tentang menakut-nakuti, memiliki wujud yang lucu sehingga dinilai tidak berbakat. Berbeda dengan Sullivan yang sudah memiliki wujud mengerikan, tetapi malas belajar sehingga dia pun dinilai kurang memenuhi syarat untuk menjadi scary monster. 

Singkat cerita dan supaya nggak spoiler2 amat (padahal udah spoiler dari tadi) , Mike dan Sullivan harus dikeluarkan dari kampus karena kesalahan mereka. Namun bukan berarti mereka menyerah. Sepasang sahabat ini akhirnya memilih untuk bekerja di Monsters Inc sebagai penyortir surat, suatu pekerjaan yang mungkin nggak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Walaupun nggak sesuai passion, mereka melakukan yang terbaik dalam pekerjaan mereka sebagai penyortir surat. Saat dipindahkan di bagian lain pun, mereka tetap menunjukkan kualitas mereka dengan menghasilkan pekerjaan terbaik. Hingga akhirnya mereka menjadi sepasang scary monsters yang menghasilkan tenaga teriakan paling banyak.

Kisah Mike dan Sullivan bisa saja dialami manusia seperti kita. Bekerja tidak sesuai passion, digaji rendah dan nampak sangat jauh dari cita-cita. Tapi dengan setia dalam setiap perkara yang dipercayakan pada mereka, akhirnya Mike dan Sullivan bisa bekerja sesuai keinginan mereka. Untuk mencapai suatu tujuan yang sama, beberapa orang mungkin bisa ke sana dengan mulus. Tapi nggak sedikit juga yang harus memutar jauh dan melalui proses yang panjang.

Ibarat berlian, Mike dan Sullivan tetap memancarkan sinar mereka sehingga akhirnya mereka ditempatkan di mana mereka seharusnya berada. Kalau sebuah berlian jatuh ke kubangan dan berhenti memancarkan sinar, bagaimana mungkin ia ditemukan untuk bisa ditempatkan sesuai nilainya? Berlian yang tetap bersinar sekalipun di kubangan akan mudah ditemukan orang sehingga bisa dipindahkan ke tempat yang semestinya.

Kalau kamu saat ini adalah berlian yang sedang jatuh ke kubangan, tetaplah bersinar seperti Mike dan Sullivan. Jangan redupkan sinarmu dengan cara melakukan hal yang biasa-biasa saja.

 

Lukas 16:10
Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

 

 

🙂

Kerjaan lancar, (semoga) jodoh pun lancar

Standar

“Enak ya kak kerjaannya jalan-jalaaaaan terus..”

“Pengen deh suatu hari nanti bisa jadi kaya kakak..”

“Enak ya sering ketemu artis, orang-orang terkenal, masuk tipi..”

Bagi gue dan teman-teman yang kerja di media TV, ucapan kaya gitu kayanya udah jadi santapan sehari-hari. Kalo denger orang ngomong kaya gitu, atau di twitter ada yang komen kaya gitu, gue sih biasanya cuma senyum-senyum aja. Hehehee..

Kerja jadi reporter TV kaya gue emang nampak enak dan menyenangkan. Emang menyenangkan sih, soalnya kerjaan ini nggak mengharuskan kita duduk 8 jam di belakang meja. Nggak sekedar menjalani rutinitas rumah-kantor-makan siang-kantor-pulang. Gue emang tiap hari kerja di luar kantor, yah bisa dibilang jalan-jalan lah, yang bikin gue tau daerah-daerah di Jakarta. Bahkan kadang-kadang gue lebih tau jalan daripada orang yang dari kecil udah tinggal di Jakarta. *congkak*

Selain bisa “jalan-jalan” tiap hari, gue juga bisa ketemu banyak orang. Tua, muda, kaya, miskin, cewek, cowok, ngondek, semua udah pernah. Bahkan kadang juga ditraktir makan enak sih.. Hihihi.. Tapiii.. Kerjaan yang nampak enak tuh bukan berarti nggak ada konsekuensinya lhoo.. Misalnya aja kalo kerjaan normal kan dari pagi sampe sore, nah kalo pekerja media sih sering sampe larut malam bahkan sampaipagi. Terus tanggal merah nggak libur, alias gue nggak pernah ngerasain yang namanya long weekend. But I love my job, jadi ya buat gue sih fine-fine aja selama gue masih bisa berkarya (plus libur 2 hari seminggu) :p Masih kedengeran enak gak kerjaan gue? hahahaaa..

Kaya gue bilang tadi, kerja sebagai reporter menuntut gue untuk ketemu banyak orang. Nah untuk kebutuhan liputan, kadang gue butuh orang-orang dengan kriteria khusus, termasuk orang-orang terkenal. Dan ketika gue harus cari nomor kontak nara sumber, gue sering banget pake teknologi yang namanya “search twitter”. Misalnya waktu itu gue mau meliput kegiatan mbak Valencia (@justsilly), gue nggak tau mau kontak ke siapa. Dengan bermodalkan twitter, gue follow mbak Valencia dan menanyakan kontaknya.

 

Untung gue pake layanan BIS dari simPATI, makanya nggak perlu nunggu lama, mention gw ke mbak Valencia nyampe dan beliau langsung nge-DM nomor kontaknya.

Langsung deh gue telpon dan kerjaan gue pun lantjar djaja. 😀

Selain nambah koleksi nara sumber, gue juga bisa nambah temen lewat twitter. Kaya pengalaman gue pas lagi tugas di Medan bulan lalu. Kebetulan gue lagi bikin liputan tentang teri Medan, dan gue lagi butuh nara sumber yang doyan banget sama teri Medan. Karena nggak ada kenalan orang Medan, gue coba cari-cari sendiri siapa warga Medan yang cakep dan doyan teri.

Gue pun mengeluarkan jurus “search twitter” andalan gue. Gue ngetik “artis medan” dan beberapa nama orang terkenal pun muncul. Sayangnya pada tinggal di Jakarta, padahal gue mau liputan di Medan. Akhirnya gue nemu satu akun twitter punya penyiar radio Prambors, si Windi Septia Dewi (@windiseptiadewi). Gue lihat avatar sama foto-foto di Instagram cakep juga, langsung deh gue follow dan minta kontaknya.

cari artis medan

cari artis medan

Liputan bareng Windi pun seru banget, gue liput kegiatannya di studio Prambors, terus ikut ke rumahnya buat meliput Windi sama nyokapnya lagi masak teri. Di situlah gue pertama kali ngerasain makanan khas Medan, daun ubi tumbuk yang dimasak sama ikan sale. Rasanya enyaaaakkk bangeettt..!!

Nggak cuma liputan aja, gue sama tim liputan pun jadi akrab sama si Windi ini. Kita dibawa keliling Merdeka Walk yang jadi tempat nongkrong anak-anak di Medan. Nyobain pancake durian di resto Nelayan yang terkenal, foto-foto di pinggir jalan, ngicipin pahitnya liang teh yang ternyata nggak sepahit masa lalu gue, sampai nyobain mainan ala gym di merdeka walk yang bikin dunia gw jungkir balik.

jadi anak ghaol medan

jadi anak ghaol medan

kamu menjungkirbalikkan duniakuh..

kamu menjungkirbalikkan duniakuh..

Kalo gue nggak memanfaatkan social media twitter plus jaringan kuat Telkomsel, mungkin gue nggak bakal mengalami segala keseruan di kota Medan. Kerjaan lancar, dapet temen baru dan yang jelas dapet pengalaman seru. Apalagi sekarang ada paket Blackberry Sosialita yang bikin kita bisa eksis tapi nggak pake mahal. Coba aja klik linkberikut ini: www.telkomsel.com/bb-sosialita

Kali aja nih kalo gue dapet BlackBerry Z10 baru dari simPATI, gue bisa tambah eksis di social media. Jadi kerjaan lancar, pertemanan lancar, jodoh juga lancar. Amin! Hahahaa

😀

belajar dari ketidaksempurnaan

Standar

Gara-gara malam ini saya susah tidur, saya jadi nguthek-nguthek henpon terus. Iseng-iseng saya buka facebook yang entah sudah berapa lama tidak saya perhatikan lagi. Ada notifikasi dari Karlina, salah seorang teman lama. Lama sekali bahkan, karena saya sudah kenal sejak jaman sekolah minggu. Yah sekitar kelas 4 SD lah kalau saya gak salah ingat.

Dari ngeklik akun facebook Karlina, saya menemukan teman lama lainnya, Ajeng. Dari Ajeng, merembet ke teman lama kami yang lain, Saksomo Ardi. Dari akun facebook, saya beralih ke jejaring sosial lainnya yang sekarang lebih ngetren, twitter. Ternyata teman-teman lama saya pun aktif di jejaring sosial burung biru ini. Dari situlah akhirnya saya stalking teman-teman lama yang sudah saya kenal dari usia belia.

Dari stalking teman-teman lama inilah, saya melihat bahwa mereka masih aktif melakukan pelayanan. Masih sama seperti masa kanak-kanak hingga remaja dulu, saat kami masih aktif dalam berbagai kegiatan gereja. Paduan suara, vocal group, drama natal, pengurus remaja, kunjungan ke rumah-rumah dan sebagainya. Namun ada satu hal yang saya lihat berbeda pada pelayanan mereka. Jika dahulu di gereja kami, GKI Wongsodirjan, pelayanan lebih menitikberatkan pada “kegiatan gerejawi”, kali ini teman-teman saya lebih terpanggil untuk melakukan pelayanan terhadap sesama.

Pikiran saya melayang pada masa kecil, saat saya masih berstatus sebagai anak sekolah minggu. (Di gereja, anak2 biasanya tidak ikut ibadah orang dewasa, tapi ada kegiatan sendiri yang namanya sekolah minggu). Dulu saat sekolah minggu, saya tidak mengerti apa makna menjadi orang Kristen. Saya hanya tau bahwa setiap minggu saya harus ke gereja, yang artinya saya gak bisa nonton kartun-kartun favorit pada hari minggu. Saya hanya tau tentang kisah-kisah alkitab tanpa menyadari bahwa setiap kejadian di alkitab merupakan campur tangan Tuhan.

Beranjak remaja, saya semakin aktif dalam “pelayanan gerejawi”. Saya ikut berbagai kegiatan, sampai-sampai hampir setiap hari saya ada di gereja (di luar sekolah tentunya). Bersama teman-teman lama yang saya sebutkan di atas tadi, saya terlibat dalam keperngurusan remaja gereja. Waktu itu saya jadi sie rohani, yang tugas utamanya mengatur jalannya ibadah setiap minggu. Cari pengkotbah, menentukan liturgos (pemimpin pujian) dan petugas-petugas lainnya, mengawasi persiapan ibadah serta membuat program-program tahunan. Hampir setiap hari sibuk lah pokoknya..

Waktu menjalani berbagai macam kesibukan di gereja, saya merasa tidak ada yang salah. Saya melakukan ini itu untuk gereja dengan judul “pelayanan”. Namun saya baru menyadari, bahwa apa yang saya lakukan belumlah cukup. Saya tidak mengenal siapa yang saya layani, yaitu yang empunya gereja, Tuhan saya. Saya baru menyadarinya saat saya tidak lagi terlibat dalam pelayanan remaja di gereja, tepatnya saat saya duduk di bangku kuliah.

Waktu kuliah dulu, saya sudah tidak aktif lagi di gereja, karena pelayanan saya beralih ke PMK (persekutuan mahasiswa kristen) di kampus Atma Jaya (padahal saya gak kuliah di situ). Dari PMK lah saya belajar tentang lahir baru, mengenal Tuhan, mendengar suara Tuhan dan mengasihi jiwa-jiwa. Saat itulah paradigma tentang “pelayanan” berubah. Pelayanan bukan sekedar sibuk dengan berbagai kegiatan di gereja, melainkan mengasihi dan membawa jiwa-jiwa yang haus akan jamahan Tuhan.

Pelayanan yang pernah saya lakukan di gereja tidak salah, hanya saja belum sempurna karena saya tidak tahu siapa yang saya layani. Namun dari yang tidak sempurna lah saya belajar dan terus berusaha untuk menjadi sempurna di mataNya. Saya memang tidak memahami jalan Tuhan. Mungkin saya memang harus melewati berbagai ketidaksempurnaan sehingga akhirnya saya bisa terus belajar dan mengerti apa arti kesempurnaan. Bukan hanya dalam pelayanan, tetapi juga seluruh aspek kehidupan. Keluarga, pekerjaan, sahabat, masa depan dan semua yang Tuhan percayakan dalam hidup saya.

Saat ini pun saya sedang dihadapkan dengan sesuatu yang baru. Saya tidak mengerti apa yang saya hadapi. Kenapa harus saya alami. Tapi satu hal yang saya percaya, Tuhan akan selalu memberi kekuatan di tengah hujan badai sekalipun. PenyertaanNya sempurna hingga nanti saya memperoleh mahkota yang gilang gemilang. Walaupun sempat galau dan bikin kepala migren, saya percaya bahwa jalan yang saya lewati sesuai dengan kehendakNya. Amin. 🙂

jalanMu tak terselami

oleh setiap hati kami

namun satu hal yang kupercaya

ada rencanaMu yang indah

tiada terduga kasihMu

heran dan besar bagiku

arti kehadiranMu selalu

nyata di dalam hidupku

penyertaanmu sempurna

rancanganMu bagiku penuh damai

aman dan tinggal sejahtera

walau di tengah badai

inginku selalu bersama

rasakan keindahan

arti kehadiranMu, Tuhan..

Ini adalah salah satu lagu kesukaan saya, judulnya Arti KehadiranMU ciptaan Jonathan Prawira. Kalau dilihat, setiap lirik merupakan kepanjangan dari nama Jonathan Prawira. Keren yak.. ^^

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).