rekane arep sugih malah dadi kere

Standar

Dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, tentu kita mengenal yang namanya paribahasa. Seperti “bagai telur di ujung tandu”, “bagai air di daun talas” dan “bagai pungguk merindukan bulan”.

Begitu juga dalam bahasa Jawa, ada ungkapan-ungkapan untuk menunjukkan suatu arti tertentu, misalnya “durung pecus keselak besus” yang artinya menginginkan sesuatu yang belum waktunya. Ada juga ungkapan “ngenteni ndhoge blorok”, yang berarti mengharapkan sesuatu yang belum pasti.

Nah, waktu jaman SMA dulu, saya dan teman-teman membuat sebuah paribahasa sendiri untuk menunjukkan perasaan kami yang tak terungkapkan. “Rekane arep sugih malah dadi kere”, dalam bahasa Indonesia artinya “maksud ingin kaya, tetapi malah jadi miskin”.

Ungkapan tersebut muncul pada suatu senin siang. Waktu SMA dulu, upacara bendera hari senin diadakan 2 minggu sekali. Saat tidak ada upacara, jam pelajaran yang semestinya berjumlah 8, berkurang menjadi 7. Jam ke 7 dan 8 yang semestinya sesudah istirahat kedua, menjadi jam ke 6 dan 7 yang diselingi waktu istirahat.

Namanya anak sekolah, pasti kepingin cepet-cepet pulang. Saat guru bahasa Inggris kami, bu Sri Lestari (yang mempunyai banyak julukan lain) menawarkan untuk meniadakan waktu istirahat, sehingga kami bisa pulang lebih awal daripada kelas lainnya, kami pun mengiyakan.

Jika dihitung, semestinya jam ke 6 itu dimulai pukul 11.15-12.00, diselingi istirahat 12.00-12.20 dan dilanjutkan jam ke 7 pukul 12.20-13.00. Jika istirahat ditiadakan, seharusnya kami sudah keluar dari kelas pukul 12.40 atau 20 menit lebih awal dari kelas lainnya.

Namun apa mau dikata, sudah jam 12.40, guru yang baik hati itu tidak menunjukkan tanda-tanda hendak memulangkan kami. Saat diingatkan, beliau malah marah-marah sambil berkata “kalian mau soalnya dibahas ga!!??” Sebagai anak baik-baik, kami hanya bisa diam sambil menangis dan berkata dalam hati, “ngelih buuu.. :(”

Akhirnya, kelas pun berakhir pukul 13.05, yang artinya lebih lambat daripada kelas lainnya. Plus kami tidak mendapat waktu istirahat. Yang tadinya ingin pulang cepat, akhirnya kami sekelas malah harus pulang lebih lambat.

Akibat kejadian tersebut, muncullah paribahasa ala kami, yaitu “rekane arep sugih malah dadi kere.” Sejak itu, paribahasa itu sering kami gunakan jika ada hal yang justru merugikan saat kami mengharapkan keuntungan.

Misalnya seperti siang ini. Waktu saya berangkat pagi-pagi dengan harapan bisa pulang cepat sehingga bisa mengerjakan yang lain, justru saya mendapat tambahan tugas yang dipastikan kepulangan saya pun terlambat 😦

*menangis dalam hati*

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s