gajah di mata orang buta

Standar

Pernahkah anda mendengar cerita tentang 3 orang buta mendeskripsikan gajah? Jadi begini ceritanya..

Ada 3 orang buta yang baru pertama kali bertemu gajah. Karena tidak bisa melihat, mereka hanya meraba-raba gajah untuk mengetahui seperti apakah bentuk gajah itu. Namun tiap orang meraba bagian tubuh yang berbeda. Orang buta yang memegang bagian telinga berkata bahwa gajah itu tipis seperti kipas. Orang buta yang meraba bagian kaki mendeskripsikan gajah seperti batang pohon yang kuat. Orang ketiga yang meraba bagian belalai berpendapat bahwa gajah itu panjang dan lentur seperti ular.

Tiap orang buta mendeskripsikan gajah sesuai dengan apa yang mereka rasakan. Pengetahuan akan bentuk gajah akan terus tertanam dalam pikiran mereka, jika tidak ada yang memberi tahu bahwa itu hanyalah bagian tubuh gajah. Mereka juga bisa mencari tahu dengan meraba bentuk keseluruhan gajah, sehingga tidak lagi berpikir bahwa gajah hanyalah seperti ular atau seperti kipas atau batang pohon.

Tadi sore saya menonton sebuah program TV di National Geopraphic Adventure channel yang bernama Ultimate Traveler. Program bergenre reality show itu bercerita tentang 6 pemuda asal Inggris yang harus berpetualang dari Jakarta menuju Flores hanya bermodalkan peta dan uang saku 200 ribu rupiah per hari.

Saya tidak tahu apakah reality show buatan Nat Geo sama seperti buatan production house di Indonesia, yang banyak unsur rekayasanya. Namun yang pasti, pada episode yang saya saksikan tadi sore, keenam pemuda yang terdiri dari 3 pria dan 3 wanita itu baru pertama kali datang di Jakarta. Begitu turun dari bandara, mereka berkumpul di suatu tempat untuk kemudian mencari tempat menginap. Dalam perjalanan, mereka melihat gubuk-gubuk di pinggiran jalan tol dan berkata bahwa sepertinya mereka berada di negara yang sangat miskin.

Keenam pemuda itu digambarkan melewati jalanan Jakarta yang super sibuk dan macet. Ada satu adegan dimana keenam orang peserta melewati pedagang-pedagang buah dan salah seorang pemudi menutup hidung seolah-olah ada bau menyengat. Saya tidak tau apa yang dia cium. Namun gambar yang saya lihat, ia hanya melewati pedagang buah pisang. Jadi apanya yang bau?

Drama masih berlanjut saat mereka mendapat hotel untuk menginap. Sebagai orang Indonesia yang sudah 3 tahun tinggal di Jakarta, saya tidak tahu di mana mereka menginap. Yang pasti, mereka menginap di hotel dengan tarif 120 ribu per malam. Peserta membagi diri menjadi 2 kelompok, sehingga tiap kamar dihuni oleh 3 orang. Jadi tiap orang harus membayar 40 ribu rupiah, atau seperlima dari uang saku mereka.

Namanya hotel murah meriah, wajar lah ya kalo kondisinya ga bagus. Para peserta seolah terlihat syok harus bermalam di tempat seperti itu. Batin saya, kalo mau yang enak ya harganya mahal cuy!

Selain program Ultimate Traveler, program Don’t Tell My Mother juga pernah mengangkat tentang Indonesia. Ada 4 hal yang dibahas di program itu. Pertama adalah tentang polisi syariah di Aceh. Kedua adalah tentang kehidupan masyarakat transgender di Yogyakarta. Ketiga adalah pembahasan sebuah pemakaman mewah bernama San Diego Hills di sekitar Jakarta. Terakhir, program ini menggambarkan nasib orang utan di Kalimantan, yang dibandingkan dengan kerjasama antara alam dan manusia di perkebunan kopi luwak.

Dari kedua program tersebut, dapat saya lihat bagaimana Indonesia di mata dunia Internasional. Namun sayangnya, masyarakat internasional hanya melihat sebagian kecil Indonesia dari program-program TV tersebut. Terus terang, jika seandainya saya adalah warga negara asing dan baru pertama kali melihat tentang Indonesia melalui program Ultimate Traveler itu, saya tidak tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. Padahal, masih banyak hal tentang Indonesia yang belum mereka lihat.

Seperti 3 orang buta yang mendeskripsikan gajah berbeda-beda, orang yang hanya melihat sebagian kecil tentang Indonesia dapat berpikir bahwa Indonesia bukan negara yang nyaman untuk dikunjungi. Memang benar bahwa masih banyak kemiskinan, birokrasi yang njelimet, keamanan yang belum sepenuhnya terjamin atau udara yang tidak bersih. Namun masih ada lho budaya Indonesia yang menarik. Masih ada alam yang masih alami dan menarik untuk dikunjungi. Masih banyak kuliner lezat yang menanti untuk disantap.

Mungkin ini PR bagi orang Indonesia, untuk turut menjaga supaya Indonesia menjadi negara yang layak untuk dikunjungi. Supaya masyarakat internasional dapat melihat Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya sepenggal kisah yang disaksikan melalui media. Seperti mata uang yang memiliki 2 sisi, setiap hal pasti juga memiliki 2 sisi, termasuk Indonesia. Indonesia isinya bukan yang buruk-buruk aja kok. Banyak hal-hal positif yang dapat kita kenalkan pada dunia internasional.

🙂

“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7).

One response »

  1. i’ve been thinkin the same! bahwa, ketika kita melihat acara sejenis Dont Tell My Mother (which is my favorite and i always watch it WITH my mother!) i personally said right away; “THIS is the real Indonesia!” dan saya tepuk tangan sambil berdiri setelah acara itu selesai. serius. tengah malam itu saya berdiri sendiri di depan televisi dan bertepuk tangan. =)

    sesuatu yg begiru jujur dan gamblang dan tanpa rekayasa. Diego Bunuel si creative producer merangkap pembawa acara pun tanpa ‘wigah-wigih’ (ini apa coba bhs indonesianya??lol) menanyakan hal2 tabu yg mungkin nggak akan ditanyakan dan nggak kepikiran utk ditanyakan. tp saat pertanyaan itu dilemparkan ke masyarakat yg bersangkutan, kita sebagai org yg sebangsa akan “oh iya ya~ kenapa ya?” because we live with that rules and regulations since the day we born.

    Dont Tell My Mother [that i’m in Indonesia] mmg bukan episode pertama yg saya tonton. tp dari episode itulah saya memetik satu hal yg paling penting bahwa yg namanya liputan, travelers itu harus mengulas semua sisi dari satu negara yg dikunjungi. keamanan, bahayanya, kuliner, budaya hal2 tabu, dsb. jadi ketika kita datang ke negara org lain, kita tau dimana kita harus waspada krn byk copet, dmn kita nggak boleh berisik krn itu tempat sakral dll.

    ibaratnya negara kelas bawah belum tentu nggak punya pemandangan alam yg memukau, begitu pula sebaliknya, negara maju yg dipandang penuh kemakmuran juga tentu punya area dimana org2 yg tinggal disitu harus mengais rejeki mati2an.

    btw, ini kok malah aku jd promosi Don’t Tell My Mother sih?? f(o.O) hahaha!

    sekarang yg paling penting adalah bagaimana kita sebagai org indonesia berusaha menunjukkan citra baik dan (lebih baik lagi kalo bisa) mempromosikan negara ini dan budayanya.

    “sudahkan kita melakukannya?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s