ramalan

Standar

Kemarin saya baru saja mengunjungi sebuah salon di Bangka, Jakarta Selatan. Seperti biasa, sembari menunggu antrian, saya membaca-baca majalah yang sudah lumayan lama. Dan seperti kebanyakan majalah, di situ terdapat halaman yang berisi ramalan zodiak.

Saya jadi ingat ketika masih abg dulu, saya suka sekali membaca halaman ramalan bintang. Bahkan, bagian ramalan-lah yang pertama kali saya buka ketika membaca majalah. Ramalan bintang yang saya baca biasanya terdiri dari ramalan umum, keuangan, cinta dan hari baik. Dan favorit saya tentu saja tentang keuangan. Ada juga majalah yang menyediakan halaman khusus untuk zodiak si doi.

Bukan hanya ramalan di majalah saja, saya juga suka menyaksikan acara TV yang ada ramalan bintangnya. Saya bahkan menyediakan waktu khusus untuk menunggu acara TV tersebut. Meskipun saya suka membaca dan menonton ramal-meramal tersebut, saya tidak 100% percaya. Setelah membaca atau menonton, biasanya saya malah lupa isi dari ramalan zodiak saya.

Seiring berjalannya waktu, saya mendapat pengajaran bahwa sebagai orang Kristen, saya tidak boleh percaya pada ramalan bintang. Jangankan percaya, membaca saja pun kalau bisa tidak dilakukan. Tapi namanya abg, saya terkadang masih tergoda untuk membaca ramalan nasib berdasarkan zodiak saya.

Bagi sebagian orang, ramalan zodiak seolah menjadi kebutuhan. Dan di zaman tekonogi seperti sekarang, tidak diperlukan majalah bulanan atau acara TV mingguan untuk mengetahui ramalan nasib. Cukup online dari ponsel, kita dapat mengetahui ramalan terkini. Bahkan ada juga akun twitter yang berisi ramalan dengan jumlah followers hingga ratusan ribu.

Di timeline saya, tak jarang akun-akun ramalan ini di-retweet oleh orang-orang yang saya follow. Bahkan dengan mantapnya, di depan “RT” terdapat tambahan tulisan seperti “true!”, “indeed”, “setuju” dan “amin!”. Saya sendiri kadang tergoda untuk melihat ramalan zodiak saya.

Kalau untuk sekedar iseng saja, ramalan nasib seperti ini tidaklah bermasalah. Namun jika si pembaca begitu percaya, bahkan menentukan jalan hidupnya berdasarkan ramalan, tentu menjadi masalah. Apalagi jika ramalannya berisi peringatan tentang hal buruk, kita bisa saja melakukan segala cara untuk menghindarinya.

Saya jadi ingat suatu kisah dalam mitologi Yunani. Dikisahkan, seorang raja menikahkan ketujuh putrinya dengan tujuh pangeran dari negeri seberang. Namun ternyata, seorang ahli nujum meramalkan bahwa sang raja akan mati di tangan menantunya. Untuk menghindari kematian, sang raja memerintahkan ketujuh putrinya untuk membunuh suami masing-masing pada malam pertama. Keenam putrinya melakukan apa yang diperintahkan ayahnya. Namun seorang putri yang sudah terlanjur mencintai suaminya, tidak mengindahkan perintah ayahnya. Sang pangeran yang tersisa pun marah karena keenam saudaranya dibunuh secara tidak langsung oleh raja. Pangeran tersebut akhirnya membunuh raja untuk membalas dendam.

Kisah tentang ramalan juga ada di film “Kungfu Panda 2″. Dikisahkan bahwa menurut ramalan, pangeran merak akan dikalahkan oleh pendekar hitam putih, yang diartikan sebagai seekor panda. Untuk menghindarinya, pangeran merak yang jahat menghabisi satu desa yang berpenduduk kaum Panda. Dan akhirnya, si pangeran merak memang dikalahkan oleh seekor panda yang sempat terselamatkan pada malam pembantaian.

Moral dari kedua cerita tersebut, janganlah kita percaya mentah-mentah kepada sebuah ramalan. Kedua kisah tersebut adalah contoh dari usaha menghindari ramalan, yang justru berakhir dengan ramalan yang menjadi kenyataan.

Dari situ kita juga bisa belajar untuk selalu berpikir positif. Karena apapun yang ada di dalam pikiran kita, baik positif maupun negatif, itulah yang nantinya menjadi kenyataan. Jika kita berpikir positif dan selalu optimis, tentu apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.

Coba pikirkan, keadaan kita saat ini merupakan buah pemikiran kita di masa lalu. Jika saya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang reporter, saat ini saya pasti bukanlah seorang reporter. Dan apa yang akan terjadi di masa depan, merupakan buah pemikiran kita di masa kini. Karena itu, pikirkanlah hal-hal yang baik dan bermanfaat, sehingga di masa depan nanti kita bisa memetik buahnya.

————————————————-

Janganlah kamu melakukan telaah atau ramalan.” (Imamat 19:26b).

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8).

🙂

One response »

  1. Dulu saya juga membaca ramalan, tapi setelah mengetahui bahwa ramalan sebaiknya tidak di baca, saya tidak pernah membacanya (Kecuali gak sengaja liat di twitter, itu pun langsung saya lewati)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s