kerjaan gue paling berat!!

Standar

“kerjaan lo sih enak, cuma duduk di belakang komputer ngitung-ngitung duit.. lhah gue, harus susah nyari nasabah dan ada targetnya.” – ujar Ditto, 26 tahun, karyawan bank swasta pada rekannya di bidang akunting.

“enak ya jadi kamu.. kerjaannya cuma nulis doang bisa dapet duit. Kalo aku sih harus berdiri berjam-jam nawarin produk biar bisa dapet duit.” – kata Lisa, 20 tahun, seorang SPG pada temannya yang berprofesi sebagai penulis skenario.

“jam kerjamu enak ya.. bisa sewaktu-waktu tanpa terikat. Kalo aku tiap hari harus masuk pagi pulang sore.” – tutur Arini, 23 tahun pada sahabatnya yang bekerja freelance sebagai guru piano.

“lo sih enak, kalo kerja cuma ambil gambar doang. Sementara gue harus cari-cari narsum yang artinya ngabisin pulsa. Harus cari banyak data, habis itu pusing bikin naskah.” – tuduh Rino, 25 tahun, reporter TV pada kameramennya.

Kutipan-kutipan di atas hanya sekedar imajinasi saya belaka. Namun, bukankah di kehidupan sehari-hari kita sering berpikir demikian? Berpikir bahwa pekerjaan kita lebih berat, atau bahkan paling berat, jika dibandingkan dengan profesi orang lain.

Dalam mengerjakan sesuatu, seharusnya kita bersyukur dan tidak bersungut-sungut. Semestinya kita mencintai apa yang kita kerjakan, apapun profesi yang sudah kita pilih. PROFESI YANG KITA PILIH, bukan profesi yang dipilihkan orang lain oleh kita, atau profesi yang terpaksa kita jalani karena tidak ada yang lain.

Ibaratnya, pekerjaan kita sama seperti pasangan hidup. Jika kita memilih pasangan hidup secara hati-hati dan dengan pertimbangan matang, demikian juga dalam memilih pekerjaan. Kita harus mengerti apa yang kita mau. Jangan sampai mengerjakan apa yang sama sekali tidak kita cintai, karena saya yakin hasilnya tidak maksimal.

Banyak orang berpikir, jaman sekarang memang susah cari kerja. Bisa kerja aja sudah untung, jadi ga perlu terlalu idealis cari-cari kerja yang sesuai keinginan. Tapi jika memang pekerjaan kita sangat tidak sesuai dengan hati nurani kita, untuk apa dilanjutkan?

Memang ada orang-orang yang terjun ke dalam bidang pekerjaan tertentu yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun hobinya, yang kemudian jatuh cinta pada bidang pekerjaan itu. Namun tak sedikit yang terpaksa masuk ke bidang yang sama sekali tidak disukainya, dan terus bertahan hanya karena merasa sulit untuk meraih pekerjaan impiannya. Atau malah lebih parah, terpaksa bertahan pada pekerjaan yang tidak disukainya tanpa mengetahui apa yang sebetulnya diinginkan.

Saya bersyukur, saat ini saya bisa bekerja sesuai dengan cita-cita masa kecil saya dan sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Pada pekerjaan saya sebagai reporter, saya dapat bertemu berbagai macam manusia dengan pekerjaannya.

Dari seorang pemuda penjaga toilet di sudut terminal yang setiap hari membersihkan toilet dan melayani pengunjung, hingga yang terhormat anggota DPR yang memiliki ruangan nyaman ber-AC dan cincin raksasa yang melingkar di jarinya. Dari seorang ibu yang setiap hari harus berpanas-panas menawarkan jasa penukaran uang, hingga seorang Gubernur yang katanya ahli dalam mengatasi permasalahan.

Dari pengalaman tersebut, saya bisa bersyukur karena saya memiliki pekerjaan yang lebih baik daripada orang-orang yang berpendidikan tidak tinggi. Selain itu, saya juga termotivasi untuk meningkatkan kemampuan saya, sehingga suatu hari nanti saya bisa mencapai titik tertinggi dalam profesi saya.

Pekerjaan bukanlah hal yang patut diremehkan. Bayangkan saja, setiap hari minimal kita bekerja selama 8 jam dari 24 jam yang kita miliki. Artinya, sepertiga waktu dalam kehidupan kita habiskan untuk pekerjaan. Mana mungkin kita tega menyia-nyiakan sepertiga waktu hidup kita untuk sesuatu yang tidak kita cintai? Dan tidak perlu lah kita bersungut-sungut tentang betapa beratnya pekerjaan kita, karena setiap orang sudah punya porsinya sendiri-sendiri.

Pengkotbah 9:10a
“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga”

🙂

6 responses »

  1. Haha. Gw ngalamin banget nih Ndre. “Kerjaan lo enak abis. Kerjaan lo seru banget. Bisa jalan jalan keliling Indonesia. Pengen deh bisa kayak lo.” dan lain lain. Dan lo bener, setiap kalimat yang terucap dari mereka ke gw, setiap kali itu juga gw merasa bersyukur. Walau mereka ga tau juga sebenernya gimana. Hehe.

  2. say my great hello to femi afriadi (ferdi), reporter of Redaksi Sore …he’s my best fiend ever . Even U sometimes I saw U in TV. Great job brota!!! talk bout U’re note, yup I gree with U. We must love our job.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s