9eN3Ra5i 4L4Y

Standar

aPp4 c1H eAn9 aD4 d1 piK1RaN qt4 k4L0 bCa tLi5aN iN1?

Cukup makan waktu lama untuk menulis kalimat di atas. Saya yakin, ketika membaca tulisan ini, pasti kita langsung berpikir: ALAY!!

Bagi orang yang sudah tidak berusia belasan tahun seperti saya, pasti cukup sulit untuk membaca tulisan tersebut. Membaca saja sulit, apalagi menulisnya. Seperti yang saya katakan tadi, saya butuh waktu lama, bahkan 5 kali lebih lama daripada menulis dalam huruf biasa.

Saya tidak mau membahas soal anak-anak alay. Saya cukup membahas tentang bahasa dan penulisannya saja. Selama ini, bahasa dan tulisan alay dituduh telah merusak tata bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu bangsa ini. (Serius amat yak.. 😀 )

Saya banyak menemui tulisan-tulisan dengan gaya alay di jejaring sosial Facebook. Dan kebanyakan, yang menggunakannya adalah abg-abg berusia belasan tahun. Memang tidak semuanya sih, tapi kebanyakan begitu. Saya sangat maklum jika tulisan bergaya alay sangat digandrungi para abg. Namanya juga remaja, pasti ingin tampil beda dan keluar dari kebiasaan.

Jika saat ini usia saya masih belasan tahun pun, mungkin saya juga akan menggandrungi bahasa alay. Sewaktu saya masih agak muda, saya juga suka menulis dengan gaya alay, meskipun tidak seekstrim sekarang. Dulu, jejaring sosial yang paling nge-hits adalah friendster. Kala itu, saya suka menulis shoutout ataupun testimonial menggunakan gabungan huruf besar-huruf kecil-angka. Saya merasa, tulisan semacam itu sangat keren dan 9ha0L 4Bi3s. 😀

Seiring bertambahnya usia, saya tidak lagi menggunakan gaya tulisan tersebut. Lama-lama malu sendiri. Akhirnya saya insyaf dan kembali pada tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Saya rasa hanya soal waktu saja tulisan bergaya alay akan digunakan abg-abg jaman sekarang. Nantinya saat sudah dewasa, mereka pasti akan malu sendiri dan menganggapnya sebagai masa lalu yang lucu dan malu-maluin. Persis seperti yang saya alami.

Karena itu, tak usah lah sok anti alay. Biarkan saja anak-anak alay berkreasi dengan gayanya sendiri, hingga akhirnya mereka menemukan jati diri sendiri. Kalo dibasmi juga ga akan ada habisnya. Ketika abg-abg beranjak dewasa, akan muncul abg-abg lainnya yang saat ini masih anak-anak. Entah inovasi apalagi yang akan mereka buat.

Bukan berarti membela kaum alay, tapi biarkan saja mereka berkreasi. Hidup udah keras, masa berkreasi sedikit ga boleh.. Kalo emang merasa terganggu dengan tulisan alay, ya ga usah dibaca. Susah amat. Sama seperti makanan, kalo ga doyan ya ga usah dimakan. Masa mau memusuhi yang doyan dan yang bikin makanan? Ya kan.. 🙂

Yah paling tidak inilah pendapat dan ke-sotoy-an saya tentang tulisan alay..
Hidup 4L4Y!! #eh

:p

3 responses »

  1. hahahahahhha….saya ga bisa 4LAY e,,,wkwkwkkk…waktu aku masih belasan tahun juga belum punya HP…belum kenal internetan jg…kenal nya wordstar, DOS, IBM dan semacamnya sedangkan nanti kalo nulis pake tulisan 4LAY kan nanti malah error…wakakakkkk

  2. haaha, ada2 aja kmu mas Andreas .
    ketika kelas 1-2 SMP aku juga 4l4Y kok 😉 seiring berjalannya waktu SaYa uDaH nInGgAlin KeBiAsAAn ng-Al4y itu.. Hoho ;p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s