Arsip Blog

sebuah tempat bernama “rumah”

Standar

Bulan Juni lalu, film animasi Madagascar 3: Europe’s Most Wanted mulai tayang di bioskop tanah air. Saya termasuk salah satu orang beruntung yang bisa menonton film ini 2 hari sebelum ditayangkan secara serentak. Bukan bajakan lho.. Tapi undangan dari Gandaria City untuk liputan pemutaran film, sekaligus meliput agenda kegiatan di mall tersebut yang mengusung tema Madagascar 3 selama musim liburan. Cerita liburan bersama Madagascar di Gandaria City dapat disaksikan disini. *sekalian promo liputan* :p

Sebulan kemudian, film animasi lainnya juga ditayangkan di layar lebar Indonesia. Film Ice Age 4: Continental Drift yang penuh dengan adegan kocak dapat disaksikan para pecinta film. Sayangnya, kali ini saya tidak seberuntung sebelumnya. Saya tidak berkesempatan lagi menonton film ini sebelum ditayangkan serentak. Namun untungnya saya menonton di bioskop Kuningan City, yang karena masih belum lama beroperasi, tarif menonton pada akhir pekan hanya 25 ribu rupiah. πŸ˜€

Kedua film yang saya sebutkan di atas memiliki banyak persamaan. Kedua film ini memang sama-sama termasuk jenis film animasi. Namun tak hanya itu saja, dari segi isi cerita dan pesan moral pun ada persamaannya. Setidaknya menurut saya. (Kalo belum nonton filmnya, mending stop baca sekarang juga karena mengandung spoiler.)

Persahabatan yang unik
Film Magagascar dan Ice Age sama-sama bercertita tentang persahabatan hewan-hewan. Madagascar menceritakan petualangan Alex si singa, Melman si jerapah, Marty si Zebra dan Gloria si kuda nil dari kebun binatang Central Park New York, yang pergi berkeliling dunia. Sementara Ice age menceritakan kisah petualangan tiga sahabat Manny si mammoth, Sid si kukang dan Diego si macan bergigi pedang pada zaman es.

Kalau dilihat, persahabatan semacam itu tentu tidak mungkin terjadi pada alam liar sesungguhnya. Mana ada hewan karnivora bersahabat dengan hewan herbivora, yang notabene mangsanya sendiri. Mana ada juga kuda nil naksir jerapah, atau tikus tanah naksir mammoth. Namun saya rasa justru inilah yang ingin disampaikan melalui kedua film ini. Bahwa persahabatan tidak melihat perbedaan yang ada. Bahkan dengan segala perbedaan itu, hewan-hewan di setiap fil bisa menjadi keluarga yang sangat dekat.

Bertemu “keluarga” lain
Pada film Madagascar ketiga, dikisahkan bahwa Alex dan kawan-kawan meninggalkan benua Afrika untuk pulang ke “rumah” mereka di New York, yang tak lain adalah kebun binatang Central Park. Mereka merindukan kehidupan di kandang hewan yang nyaman, tidak perlu menghadapi petualangan dan penuh decak kagum dari para pengunjung.

Siapa sangka, saat meninggalkan Afrika mereka malah terjebak di Eropa dan harus dikejar-kejar Chantal Dubois, pemburu hewan liar di Monako. Saat lari dari Chantal itulah, Alex dan kawan-kawan bertemu dengan kelompok sirkus yang sedang berkeliling menggunakan kereta api. Mereka berjumpa dengan Vitaly si harimau yang merupakan bintang panggung kelompok sirkus tersebut. Ada juga Gia si macan tutul betina yang berhasil merebut perhatian Alex.

Dalam film Ige Age terbaru, Manny dan kawan-kawan yang terpisah dari kelompoknya akibat longsornya tanah es, berjumpa dengan sekelompok hewan yang mengarungi lautan untuk merampas barang-barang hewan lain, alias kelompok bajak laut. Bajak laut pimpinan Captain Gutt si monyet besar ini berhasil menyandera Manny dan kawan-kawan dengan bantuan tangan kanannya, Shira si macan betina.

Menemukan “rumah”
Pertemuan Alex dengan kelompok sirkus Vitaly, membawa mereka kembali ke New York. Bahkan Alex, Marty, Melman dan Gloria pun ikut serta dalam pertunjukan sirkus di New York. Namun kerinduan mereka pada kenyamanan kebun binatang Central Park membuat mereka terpaksa pergi dari kelompok sirkus tersebut.

Saat kembali berada di dalam kandang, mereka justru tidak lagi menemukan kenyamanan yang mereka rasakan dulu. Mereka justru merindukan saat-saat berpetualang bersama. Bahkan mereka rindu untuk kembali mempertunjukkan kemampuan mereka di panggung sirkus. Alex dan kawan-kawan pun sadar, bahwa mereka telah menemukan rumah dan keluarga baru. Keluarga yang penuh keceriaan dan ada dukungan satu sama lain. Bukan rumah yang sepi tanpa gelak tawa kebahagiaan di kandang kotak mereka.

Shira si macan betina dalam film Ige Age 4 pun merasakan hal yang sama. Saat disandera oleh Diego, ia melihat ada kebersamaan yang hangat pada persahabatan aneh Manny-Sid-Diego. Shira pun melihat kehidupan keluarganya selama ini yang penuh kekejaman dan tekanan di bawah pimpinan Captain Gutt.

————————————————-

Siapa sangka dalam petualangan sekelompok hewan aneh itu, mereka justru menemukan “rumah” baru. Rumah di mana mereka dapat merasa nyaman. Menerima setiap perbedaan. Saling mendukung satu sama lain.

Hewan-hewan dalam kedua film tersebut merefleksikan kebutuhan manusia akan kasih sayang dan penerimaan dalam suatu kelompok, yang membuatnya merasa nyaman. Kebutuhan untuk tinggal di dalam sebuah “rumah”. Tidak harus mewah atau bergelimang harta seperti yang dimiliki Shira si macan betina. Cukup rumah sederhana dengan kehangatan kasih sayang dari anggota keluarga. Tanpa disengaja, mereka sudah pulang ke “rumah” yang mereka rindukan selama ini.

Dan di sinilah saya saat ini. Menunggu kereta api di stasiun Gambir yang akan membawa saya menuju kota di mana saya dibesarkan. Di mana ada keluarga yang menyayangi saya. Ada ibu yang selalu mendoakan saya di setiap langkah yang saya ambil. Sebuah tempat yang saya sebut sebagai “rumah”.

Wherever there is laughter ringing

Someone smiling someone dreaming

We can live together there

Love will be our home

Wherever there are children singin

Where a tender heart is beating

We can live together there

Love will be our home

πŸ™‚

liputan sosok Anne Avantie: the untold story

Standar

Pada suatu sore yang cerah, saat saya hendak menyantap makan siang yang sedikit terlambat di foodcourt kantor, terdengarlah nada dering notifikasi BBM dari ponsel saya. Ternyata dari produser saya. Agak gimana gitu kalo terima BBM dari bos, karena biasanya ada tugas baru yang artinya bisa menggagalkan rencana saya untuk bobok bobok unyu. *semoga gak dibaca bos*

Isinya memang penugasan, tapi bukan untuk sore itu. Produser saya menugaskan untuk pergi ke Semarang guna meliput profil Anne Avantie, yang rencananya akan ditayangkan menjelang hari Kartini 21 April. Saya pun diminta untuk membuat janji peliputan melalui mas Damar Sinuko, koresponden Trans 7 di Semarang.

Tidak sulit untuk membuat janji peliputan di tengah kesibukan bunda Anne. Bahkan beliau menyediakan 1 hari khusus untuk peliputan. Saya pun terus berkoordinasi dengan asisten bunda Anne di Semarang untuk menentukan tanggal yang tepat. Akhirnya disepakati bahwa peliputan akan dilakukan pada hari Selasa, 17 April 2012.

Liputan sosok Anne Avantie sudah ditayangkan di Redaksi Siang Trans 7 hari Jumat, 20 April 2012, tepat satu hari sebelum hari Kartini. Karena itulah saya berani menuliskan cerita tentang peliputan ini. “Untold”nya mungkin sudah banyak beredar di media. Tapi tidak ada dalam tayangan Redaksi Siang karena pertimbangan durasi.

Selain Anne Avantie, saya pun ditugaskan untuk mencari materi liputan lainnya di sekitar Semarang, Jogja dan Solo. Saya berangkat ke Jogja 3 hari sebelum liputan profil Anne Avantie, untuk menyelesaikan beberapa tugas lainnya.

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Selasa pagi pukul 9, saya bersama kameramen dan supir mendatangi lokasi liputan yang telah disepakati. Kami datang ke Wisma Kasih Bunda di kawasan Kesatrian, Semarang. Wisma Kasih Bunda adalah rumah singgah yang menaungi penderita hidrosepalus, yang didirikan bunda Anne 12 tahun yang lalu.

Di Wisma ini, saya melihat beberapa penderita hidrosepalus, mulai dari bayi hingga orang dewasa. Sambil menunggu bunda Anne, saya mengobrol dengan mbak Eta, asisten bunda Anne sekaligus kepala Wisma Kasih Bunda, tentang pelayanan di wisma itu.

Wisma ini memberi pelayanan kepada para penderita hidrosepalus, mulai dari pra operasi hingga pasca operasi. Bekerjasama dengan RS Elisabeth dan seorang dokter bedah, wisma ini telah membantu ratusan pasien tidak mampu. Pasien tidak dipungut biaya sama sekali. Inilah yang membuat keluarga penderita, khususnya kaum ibu, sangat bersyukur dengan keberadaan Wisma Kasih Bunda.

Kebetulan pagi itu ada kunjungan dari 3 sekolah taman kanak-kanak di Semarang. Suasana pun sangat ramai dengan “kicauan” para murid, ditambah lagi dengan speaker super kencang yang cukup memekakkan telinga. Sambil sesekali melihat jam tangan, saya terus menengok ke arah jalanan, mencari tahu apakah bunda Anne sudah tiba.

Setelah menunggu selama 1,5 jam, bunda Anne pun tiba dengan Toyota Alphard hitamnya. Beliau tidak sendiri, tapi ditemani oleh seorang asisten yang (maaf) wajahnya tidak sempurna. Bunda juga mengajak Aris, penderita hidrosepalus berusia 12 tahun, yang merupakan pasien pertama Wisma Kasih Bunda.

Aris nampak begitu dekat dengan bunda Anne, bahkan nampak sangat manja dengan selalu memeluk beliau. Aris merupakan jawaban doa Anne Avantie, yang 12 tahun silam selalu bertanya-tanya, pelayanan seperti apa yang Tuhan ingin lakukan dalam hidupnya.

12 tahun yang lalu, Yoseph Henry, suami bunda Anne menunjukkan sebuah surat kabar yang berisi tentang seorang bayi di Rembang yang membutuhkan uluran tangan berupa biaya operasi hidrosepalus. Anne pun tergerak ala kadarnya. Beliau hanya ingin menyumbang sebesar 100.000 rupiah, melalui seorang kerabatnya. Tanpa disangka, ternyata bantuan itu disalahartikan. Uang tersebut dianggap sebagai biaya transportasi untuk pergi ke Semarang guna penanganan lebih lanjut.

Anne yang saat itu baru saja pulang dari ziarah di Gua Maria Kerep Ambarawa pun terkejut. Sebuah mobil yang berisi seorang bayi penderita hidrosepalus berhenti di depan rumahnya. Dalam kebingungannya, Anne meminta petunjuk dari Tuhan.

“Saya masukkan tangan ke jarinya, saya berdoa. Tuhan kalo Kau kehendaki utk saya bekerja utk org2 seperti mereka, beri tanda. Kemudian dia genggam tangan saya, di situ saya menangis.”

Sejak itulah, Anne Avantie mulai membantu para penderita hidrosepalus. Bahkan, melalui Wisma Kasih Bunda, beliau juga membantu pasien lainnya seperti atrecia ani, cerebral atropi, megacolon dan sebagainya.

Setelah mendokumentasikan kegiatan bunda Anne di Wisma Kasih Bunda, kami pun bergegas menuju lokasi peliputan berikutnya, yaitu rumah tinggal sekaligus rumah produksinya. Saya diajak untuk naik ke mobil Bu Anne, supaya bisa memberi gambaran tentang peliputan di rumah nantinya.

Di dalam mobil, bunda Anne mulai bercerita tentang kesehariannya. Sebagai fashion designer kondang, rupanya Anne memiliki kebiasaan yang jarang dimiliki rekan seprofesinya. Seorang perancang busana yang identik dengan hidup glamour dan dunia hiburan malam, ternyata tidak ada dalam diri Anne Avantie. Bahkan Anne mengaku, bahwa dirinya tidak terbiasa tidur larut malam. Sekitar pukul 9 malam, Anne akan menguap sebagai pertanda untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Kebiasaan uniknya berlanjut di pagi hari. Beliau terbiasa bangun pukul 3 pagi. Aktivitasnya selalu dimulai dengan doa pagi, menulis artikel untuk majalah rohani dan memasak. Sungguh amat jauh dari bayangan saya tentang perancang busana papan atas. Apalagi, dari perbincangan kami, nampak bahwa bunda Anne sangat religius dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Karena saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang, bunda Anne mengajak kami untuk mampir makan siang di tempat favoritnya. Bukan rumah makan mewah dengan hidangan jetser, melainkan warung tahu pong pinggir jalan yang terletak di Jl. Gajah Mada.

Bunda Anne pun memakan nasi yang ditemani tahu pong, telur dan gimbalan udang dengan lahapnya. Sambal dan potongan lobak tak lupa menemani santap siang saat itu. Tak hanya makan di tempat, Anne juga memesan beberapa posri tahu pong untuk oleh-oleh ke Jakarta, karena sore itu beliau akan berangkat ke ibukota menggunakan kereta api.

Kenapa kereta api? Ternyata bunda Anne memiliki pobhia ketinggian. Karena itulah, ke manapun pergi, beliau selalu menggunakan jalan darat. Jadi sebagai perancang busana, bunda Anne belum pernah mengunjungi kota-kota pusat mode dunia seperti Paris, Milan atau New York. Namun hal ini tidak beliau anggap sebagai kekurangan. Sebaliknya, dengan tidak berani terbang, Anne lebih fokus untuk menjadi berkat bagi orang-orang sekitar.

Ke manapun pergi, Anne Avantie selalu ditemani seorang asisten untuk sekedar menata rambutnya, membawakan tas dan dompet, serta mengoperasikan ponselnya. Anne mengakui, dirinya tidak mahir mengoperasikan telepon genggamnya, baik untuk telepon, sms, bbm atau menyimpan nomor kontak sekalipun. Karena itulah, kehadiran seorang asisten sangat penting baginya.

Usai makan, kami melanjutkan perjalanan. Penumpang mobil bertambah dengan keberadaan Ciello, cucu bunda Anne yang dijemput pada saat kami sedang menyantap tahu pong. Ternyata kami tidak langsung pulang ke rumah, karena Ciello ingin membeli mainan terlebih dahulu. Perasaan saya agak ketar-ketir karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, sementara Anne sudah harus berangkat ke stasiun pukul 15.00. Untungnya mereka tidak lama mampir ke toko mainan, sehingga perjalanan dapat segera dilanjutkan.

Di rumah, kami berkenalan dengan ibu Ami, ibunda Anne Avantie dan Yoseph Henry suaminya. Anne tidak keberatan saat kami memintanya untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan bersama sang suami sambil menyuapi cucunya.

Kemudian kami diajak untuk naik ke lantai 4 rumahnya yang dirancang menjadi sebuah kapel. Sebagai umat Katolik yang taat, Anne selalu menyempatkan diri untuk memulai aktivitasnya dengan berdoa di kapel. Beliau meminta kepada kami agar wawancara dilakukan di kapel saja. Demi kenyamanan nara sumber, kami pun mengiyakan permintaan tersebut.

Pada sesi wawancara, Anne Avantie mulai bercerita tentang awal karirnya sebagai perancang busana. Sebagai reporter, sebelumnya saya sudah mencari tahu tentang sosok Anne Avantie. Namun ada satu hal yang saya baru tahu, yaitu bahwa beliau hanya lulusan SMP. Anne pernah duduk di bangku SMA, hanya belum sempat menyelesaikannya karena masalah keluarga.

“Menjadi fashion designer itu bukan cita2 saya. Sbg anak lulusan smp, yg sma saja tdk tamat, apa yg bisa saya cita2kan? Tapi saya percaya bahwa suatu hari bakat saya akan menjadi pelabuhan paling indah.”

Anne memulai karirnya dengan membuat kostum panggung pada tahun 1989. Segala upaya pernah dilakukan untuk membuat karyanya menjadi trendsetter, termasuk mencoba membuat gaun pengantin. Setelah 7 tahun, barulah Anne mencoba peruntungannya dengan membuat kebaya modern.

Rancangan kebaya Anne Avantie awalnya tidak diterima masyarakat. Kebaya yang bentuknya “aneh” justru dianggap merusak pakem kebaya selama ini. Anne pun bercerita tentang sebuah majalah yang memberi judul berita “ibu Kartini menangis melihat kebaya Anne Avantie”. Namun beliau tak patah arang. Anne terus berkarya, dan kini kebayanya tak hanya menjadi trendsetter, tetapi juga mengangkat derajat kebaya sebagai identitas bangsa.

Sebagai designer, siapa sangka bahwa Anne tidak mahir dalam menjahit, membuat pola atau menggunting. Namun, Tuhan justru memberinya kelebihan dengan inspirasi yang terus mengalir, sehingga rancangannya dapat menjadi karya bernilai jual tinggi.

“Kebaya itu buat saya bukan sepotong baju. Kebaya itu buat saya sebuah pembaharuan hidup. Kebaya itu sarana untuk saya dilihat, didengar dan meneladankan hidup melalui berkat yg saya terima melalui kebaya.”

Usai wawancara, kami menyempatkan diri untuk melihat rumah produksinya. Melalui rumah produksinya, Anne turut membuka lapangan kerja bagi ratusan karyawan yang tersebar di Semarang, Solo dan Jakarta. Anne sengaja menempatkan rumah produksinya di Semarang, supaya ia bisa menjadi berkat bagi orang sekitar. Uniknya, Anne Avantie mau menerima karyawan yang tidak punya pengalaman kerja sama sekali. Anne ingin membagi ilmu dengan orang-orang, karena dulunya ia pun tidaklah memiliki kemampuan khusus.

Peliputan selesai sekitar pukul 3 sore. Anne Avantie pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke stasiun. Sebelumnya, beliau masih sempat mengadakan rapat kecil di ruang tamu bersama beberapa stafnya. Kebaikan bunda Anne tak hanya sampai di situ. Setelah peliputan, saya masih sempat bertanya pada beliau tentang nara sumber yang bisa memberi informasi tentang sejarah kebaya. Tak hanya mencarikan nara sumber, Anne Avantie bahkan membuatkan janji sehingga tim kami bisa langsung wawancara.

—————————–

Sosok Anne Avantie merupakan salah satu inspirasi “from zero to hero”. Dari lulusan SMP yang tidak istimewa dan dipandang sebelah mata, ia dapat menjadi sosok yang dihormati dalam dunia mode. Sama seperti Daud yang diremehkan lingkungan sekitarnya, yang kemudian bisa mengalahkan Goliat dan menjadi raja Israel, begitu juga Tuhan menjadikan Anne Avantie manjadi seorang pemenang.

Berserah pada Tuhan, intim dengan Sang Pencipta dan menjadi berkat bagi banyak orang, merupakan kunci sukses yang telah dijalani Anne Avantie.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3).

BBMe mbah mu po?

Standar

Setelah kulit menghitam akibat liputan unjuk rasa. Setelah seminggu ini berjaga-jaga sambil deg-degan kalau unjuk rasa berlangsung ricuh. Akhrinya semalam diputuskan kalau harga BBM ga jadi naik tanggal 1 April ini. Kabar gembira bagi mereka yang sejak kemarin menentang habis-habisan rencana pemerintah menaikkan harga BBM.

Memang nampak ada keragu-raguan dari pemerintah dan DPR tentang hal ini. Namun saya yakin keputusan yang diambil pemerintah sudah dipikirkan masak-masak bagi kebaikan bangsa ini.

Bagi saya pribadi, sebetulnya kenaikan harga BBM dapat dimaklumi. Harga minyak mentah dunia memang sedang tinggi. Bahkan dari informasi yang saya baca di portal berita, presiden Amerika Serikat, Barack Obama juga diprotes oleh rakyatnya terkait kenaikan harga minyak ini. Artinya, bukan bangsa Indonesia saja yang harus mengalami kenaikan harga BBM karena bangsa lain pun harus menghadapi kenyataan yang sama.

Bukannya saya tidak peduli dengan masyarakat yang beban hidupnya akan bertambah jika harga BBM naik. Bahkan kalo harga BBM naik, beban hidup saya juga pasti bertambah. Tapi segala kesulitan kan pasti ada jalan keluarnya, asal kita mau berusaha.

Kita bisa menyikapi kenaikan harga BBM dengan dua cara. Pertama, bersungut-sungut dan menganggapnya sebagai beban hidup. Kedua, kita bisa menjadikannya sebagai tantangan, sehingga kita lebih berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam alkitab terdapat sebuah kejadian, dimana bangsa Israel yang terbebas dari penjajahan bangsa Mesir hampir sampai ke Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan. Sebelum mencapai Kanaan, nabi Musa mengutus 12 pengintai untuk melihat keadaan negeri Kanaan yang penuh dengan susu dan madu sebagai lambang kesuburan. Setelah 40 hari, kedua belas pengintai itu kembali dengan dua hasil yang berbeda. Sepuluh pengintai melihat negeri Kanaan sebagai negeri yang penuh kebaikan, namun tidak mungkin menaklukannya karena negeri itu didiami oleh orang-orang kuat. Sementara dua pengintai melihat Kanaan sebagai negeri yang dilimpahi susu dan madu, dan mereka pasti bisa menduduki negeri itu jika Tuhan menyertai mereka.

Sama seperti kisah alkitab di atas, bangsa Indonesia punya dua sikap. Pertama, menganggap kenaikan harga BBM sebagai momok. Sehingga jika BBM jadi naik, dapat dipastikan masyarakat tidak akan sanggup menghadapi biaya hidup yang bertambah. Kedua, sikap optimis bangsa Indonesia yang yakin tetap bisa bertahan hidup di bawah himpitan ekonomi. Persis cerita di atas, sepertinya lebih banyak masyarakat yang pesimis ketimbang optimis.

Sebetulnya harga bensin premium yang direncanakan naik menjadi 6000 rupiah bukanlah harga baru. Tahun 2008 kita pernah mengalami harga setinggi itu, dan nyatanya tetap bisa bertahan hidup kok. Dan kalau dulu ada penurunan harga BBM, berarti kan masih ada kemungkinan harga BBM turun lagi di masa mendatang.

Namun akhirnya pemerintah batal menaikkan harga BBM 1 april ini. Kenaikan akan terjadi jika selama 6 bulan, harga minyak mentah dunia lebih tinggi 15 persen dari estimasi APBN. Meskipun kebijakan untuk menunda kenaikan harga BBM sudah diambil, masih ada saja masyarakat yang berunjuk rasa. Bahkan di salah satu stasiun TV swasta, ada pengunjuk rasa yang menuntut harga BBM tidak boleh naik dalam kondisi apapun. Dalam hati saya berkata, “bbm e mbahmu po..”. Ibaratnya, sudah diberi hati masih minta jantung.

Kalau bicara kesiapan, masyarakat tidak akan pernah siap menghadapi kenaikan harga jika tidak dipaksa. Bahkan di beberapa aku sosial media dikatakan, bahwa masyarakat tidak siap menghadapi kenaikan harga BBM, tapi kebiasaan merokok berjalan terus. Padahal jelas merokok bukan kebutuhan pokok, menghabiskan uang yang tidak sedikit dan menimbulkan penyakit.

Terlepas dari banyaknya kepentingan politik dan pencitraan terkait kenaikan harga BBM, optimis dalam menjalani tantangan hidup perlu ditanamkan bagi bangsa Indonesia. Apapun keputusan yang diambil pemerintah, pasti sudah dipikirkan masak-masak tentang sisi positif dan negatifnya. Dan jangan lupa berdoa dan menyerahkan segala permasalahan kita pada Yang Di Atas.

Inilah pendapat sotoy saya terkait kenaikan harga BBM. Beda pendapat boleh, asal jangan dilakukan dengan kekerasan. πŸ™‚

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” (Roma 13:1).

ada apa di tahun 2011?

Standar

Sembilan hari sudah kita meninggalkan tahun 2011. Berbagai hal sudah kita dapatkan di tahun 2011, baik keberhasilan maupun kegagalan, yang dapat kita jadikan pelajaran untuk melangkah di tahun 2012.

Kalo di kantor saya ada kaleidoskop pemberitaan selama tahun 2011, saya pun tak mau kalah. Saya juga mau mengingat dan mengabadikan apa saja yang sudah saya dapatkan di tahun 2011 kemarin. Mungkin kesannya telat, tapi ga papa lah daripada ga sama sekali. *pembenaran* :p

JANUARI
Bulan Januari adalah bulan pergumulan bagi saya. Pergumulan untuk dapat meraih cita-cita saya sejak kecil, yaitu menjadi seorang wartawan. Di pergantian tahun, saya berdoa pada Tuhan agar di tahun 2011 saya mendapat apa yang menjadi kerinduan saya. Di bulan ini, lagu Sari Simorangkir berjudul “bagi Tuhan tak ada yang mustahil” terus terngiang di benak saya.

FEBRUARI
Bulan Februari rupanya menjadi awal jawaban doa saya. Di bulan ini, saya memasukkan lamaran di Trans 7. Tak hanya itu, untuk pertama kalinya saya mengikuti sebuah casting. Bukan sembarang casting, tapi casting news presenter news Trans 7. Sebagai pengalaman pertama, tentu saya sangat grogi. Apalagi, banyak peserta casting yang secara fisik penampilannya lebih oke. Selain itu, tak sedikit yang sudah punya pengalaman menjadi penyiar radio dan presenter TV, baik lokal maupun nasional. Saya ingat sekali, waktu itu materi casting adalam membaca lead berita tentang susu formula yang tercemar bakteri sakazakii.

MARET
Sambil menunggu hasil casting presenter, saya pergi ke pulau Dewata untuk bekerja dan berlibur. Bahkan saya berkesempatan menikmati indahnya pulau Nusa Lembongan yang lumayan jauh dari Bali. Pengalaman saya di Bali kala itu bisa dilihat di sini.
Di bulan Maret ini pun saya menjalani proses lanjutan dari casting news presenter, yaitu psikotes dan casting studio. Psikotes sih bukan hal istimewa, tapi casting di studio lengkap dengan wardrobe dan make up, tentu membuat saya nervous setengah mati. Saya ingat, yang meng-casting saya wakti itu adalah mba Zweta Manggarani, yang nantinya akan mengajari saya juga. πŸ™‚

APRIL
Masih kelanjutan dari serangkaian casting news presenter, bulan April adalah bulan penentuan. Saya diwawancara oleh pejabat-pejabat divisi news Trans 7. Waktu itu kami berkelompok terdiri dari 3 pria dan 3 wanita, berdiskusi tentang isu terkini dan melakukan live report. Meskipun cuma pura-pura, tetap saja rasanya grogi. Di bulan ini juga saya di menjalani wawancara terakhir dengan mas Revi, section head HRD yang kemudian berlanjut dengan penandatanganan MoU antara saya dengan Trans 7. Sebelum masuk kerja di bulan Mei, saya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman guna meminta restu orang tua. :’)

MEI
Di bulan Mei, saya resmi bergabung di Trans 7 sebagai reporter. Pergumulan saya selama ini pun terjawab sudah. Namun ini bukanlah akhir, namun menjadi awal pembelajaran saya sebagai seorang wartawan televisi.
Di bulan inilah saya belajar liputan, wawancara, on cam, bikin naskah, dan sebagainya. Awalnya memang kagok karena baru pertama kali. Tapi lama-kelamaan terbiasa juga, meskipun masih belum sempurna.

JUNI
Bulan Juni jelas spesial buat saya, karena di bulan inilah usia saya bertambah. Berbagai ucapan selamat dan doa saya terima, supaya saya menjadi orang yang berhasil dan lebih baik. Di bulan ini juga saya siaran perdana sebagai news presenter program Redaksi Utama. Mungkin program ini bukan program unggulan, apalagi durasinya yang tak sampai 3 menit. Namun di sinilah saya diajari mba Zweta Manggarani supaya ga grogi dan belibet saat membacakan berita.

JULI
Memasuki bulan Juli, saya masih liputan dan siaran seperti biasa. Namun kegiatan saya masih ditambah dengan pelatihan laporan langsung program “ayo mudik”. Walaupun lebaran masih lama, persiapan dan pelatihan sudah dimulai sejak bulan Juli. Seminggu dua kali, saya dan tim berlatih untuk memberikan laporan langsung. Bukan hal yang mudah untuk melaporkan kejadian yang kita lihat selama 3 menit. Mungkin 3 menit bukan waktu yang lama jika kita sekedar menonton TV. Tapi ketika harus melaporkan kejadian langsung, ternyata 3 menit adalah waktu yang lumayan panjang.

AGUSTUS
Akhirnya tibalah saatnya untuk mempraktekkan apa yang sudah saya pelajari selama lebih dari 1 bulan. Untuk pertama kalinya, saya melakukan live report di program Redaksi Pagi. Saat itu, saya melaporkan tentang kerusakan jalan di Depok, yang merupakan akses dari Bogor menuju Jakarta. Di akhir bulan Agustus, saya dan tim “ayo mudik” berangkat ke Indramayu, Brebes dan Cirebon selama 9 hari untuk peliputan dan laporan langsung kondisi jalanan menjelang Idul Fitri. Pengalaman dinas luar kota pertama yang sangat menyenangkan dan penuh suasana kekeluargaan. Ada kejadian lucu yang saya alami, yaitu ketika saya sempat terjatuh 1 menit sebelum on air.

SEPTEMBER
Pekerjaan di bulan september masih seperti biasa, yaitu liputan dan siaran. Hanya saja, ada kejadian yang lumayan mengganggu saya dalam bekerja, yaitu BINTITAN!! Kalo waktu on cam atau siaran saya pake kacamata, artinya kelopak saya agak bengkak. Kalo ga siaran, ya berarti kondisi mata saya ga memungkinkan untuk siaran. Ga tanggung-tanggung, di bulan ini saya bintitan sampai dua kali. Pertama di kiri, kedua di kanan. Saya pun jadi bahan olokan teman-teman saya di kantor. *sedih* Bahkan, bintitan saya yang kedua harus disembuhkan dengan cara insisi atau operasi kecil untuk mengeluarkan isi kelopak mata. Kedengarannya serem sih, tapi demi kesembuhan, ya apa mau dikata. πŸ™‚

OKTOBER
Di bulan Oktober ini, saya kembali diberi kepercayaan untuk live report. Kali ini, saya melakukan laporan langsung dari panggung OVJ yang saat itu sedang roadshow di kota asal saya, yaitu Yogyakarta. Begitu urusan pekerjaan selesai, saya pun extend di Jogja selama 2 hari untuk berlibur. Senangnya pulang kampung dibayari kantor.. ^^

NOVEMBER
Bulan November saya diberi tanggung jawab baru untuk mengerjakan liputan program Redaksi Siang. Jika sebelumnya saya biasa liputan hard news, kali ini saya banyak meliput berita soft news dan feature.
Di bulan ini, saya juga diberi kepercayaan lagi untuk terlibat dalam event besar, yaitu pernikahan putra bungsu presiden SBY, Ibas dengan Aliya, putri Hatta Rajasa. Hari pertama saya liputan dan live report dari lokasi siraman mempelai pria, yaitu di kediaman presidan SBY di puri Cikeas, Bogor. Dua hari berikutnya saya melanjutkan dengan liputan dan live report di Istana Cipanas. Walaupun melelahkan dan sempat kehujanan, pengalaman live report di Istana Presiden tentu tak akan saya lupakan. πŸ™‚

DESEMBER
Nah, di penghujung tahun 2011, untuk pertama kalinya saya DLK (dinas luar kota) beneran. Kalo biasanya untuk liputan khusus dan live report, kali ini saya DLK untuk meliput liburan di Batu, Jawa Timur. Saya berkesempatan pergi ke daerah wisata seperti Jatim Park, Batu Secret Zoo, Taman Safari II, pemandian Cangar dan taman Dayu. Bahkan saya juga bisa bermain high rope, paintball, waterpark yang selama ini cuma bisa saya lihat di TV :D. Oya, saya juga mulai siaran Redaksi Pagi Akhir Pekan yang durasinya 1 jam. Rasanya dag dig dug dhuer!!
Di bulan Desember ini saya juga kembali pulang kampung untuk merayakan Natal bersama keluarga.

—————————

Berbagai pengalaman di sepanjang tahun 2011 memang sangat melekat dalam ingatan saya. Terlebih, tahun 2011 merupakan jawaban doa yang selama ini saya nantikan.

Pada pergantian tahun lalu, seperti biasa saya mengakhirinya dengan beribadah bersama di Gereja Duta Injil. Saya pun mendapat ayat emas yang dapat saya jadikan pegangan selama setahun kedepan.

Saya memang tidak tahu apa yang akan terjadi dan saya alami di tahun 2012 ini. Namun yang saya tahu, kasih Tuhan akan selalu menyertai kemanapun saya melangkah. πŸ™‚

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).

Blessed you.. πŸ™‚