Tag Archives: wisma kasih bunda

liputan sosok Anne Avantie: the untold story

Standar

Pada suatu sore yang cerah, saat saya hendak menyantap makan siang yang sedikit terlambat di foodcourt kantor, terdengarlah nada dering notifikasi BBM dari ponsel saya. Ternyata dari produser saya. Agak gimana gitu kalo terima BBM dari bos, karena biasanya ada tugas baru yang artinya bisa menggagalkan rencana saya untuk bobok bobok unyu. *semoga gak dibaca bos*

Isinya memang penugasan, tapi bukan untuk sore itu. Produser saya menugaskan untuk pergi ke Semarang guna meliput profil Anne Avantie, yang rencananya akan ditayangkan menjelang hari Kartini 21 April. Saya pun diminta untuk membuat janji peliputan melalui mas Damar Sinuko, koresponden Trans 7 di Semarang.

Tidak sulit untuk membuat janji peliputan di tengah kesibukan bunda Anne. Bahkan beliau menyediakan 1 hari khusus untuk peliputan. Saya pun terus berkoordinasi dengan asisten bunda Anne di Semarang untuk menentukan tanggal yang tepat. Akhirnya disepakati bahwa peliputan akan dilakukan pada hari Selasa, 17 April 2012.

Liputan sosok Anne Avantie sudah ditayangkan di Redaksi Siang Trans 7 hari Jumat, 20 April 2012, tepat satu hari sebelum hari Kartini. Karena itulah saya berani menuliskan cerita tentang peliputan ini. “Untold”nya mungkin sudah banyak beredar di media. Tapi tidak ada dalam tayangan Redaksi Siang karena pertimbangan durasi.

Selain Anne Avantie, saya pun ditugaskan untuk mencari materi liputan lainnya di sekitar Semarang, Jogja dan Solo. Saya berangkat ke Jogja 3 hari sebelum liputan profil Anne Avantie, untuk menyelesaikan beberapa tugas lainnya.

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Selasa pagi pukul 9, saya bersama kameramen dan supir mendatangi lokasi liputan yang telah disepakati. Kami datang ke Wisma Kasih Bunda di kawasan Kesatrian, Semarang. Wisma Kasih Bunda adalah rumah singgah yang menaungi penderita hidrosepalus, yang didirikan bunda Anne 12 tahun yang lalu.

Di Wisma ini, saya melihat beberapa penderita hidrosepalus, mulai dari bayi hingga orang dewasa. Sambil menunggu bunda Anne, saya mengobrol dengan mbak Eta, asisten bunda Anne sekaligus kepala Wisma Kasih Bunda, tentang pelayanan di wisma itu.

Wisma ini memberi pelayanan kepada para penderita hidrosepalus, mulai dari pra operasi hingga pasca operasi. Bekerjasama dengan RS Elisabeth dan seorang dokter bedah, wisma ini telah membantu ratusan pasien tidak mampu. Pasien tidak dipungut biaya sama sekali. Inilah yang membuat keluarga penderita, khususnya kaum ibu, sangat bersyukur dengan keberadaan Wisma Kasih Bunda.

Kebetulan pagi itu ada kunjungan dari 3 sekolah taman kanak-kanak di Semarang. Suasana pun sangat ramai dengan “kicauan” para murid, ditambah lagi dengan speaker super kencang yang cukup memekakkan telinga. Sambil sesekali melihat jam tangan, saya terus menengok ke arah jalanan, mencari tahu apakah bunda Anne sudah tiba.

Setelah menunggu selama 1,5 jam, bunda Anne pun tiba dengan Toyota Alphard hitamnya. Beliau tidak sendiri, tapi ditemani oleh seorang asisten yang (maaf) wajahnya tidak sempurna. Bunda juga mengajak Aris, penderita hidrosepalus berusia 12 tahun, yang merupakan pasien pertama Wisma Kasih Bunda.

Aris nampak begitu dekat dengan bunda Anne, bahkan nampak sangat manja dengan selalu memeluk beliau. Aris merupakan jawaban doa Anne Avantie, yang 12 tahun silam selalu bertanya-tanya, pelayanan seperti apa yang Tuhan ingin lakukan dalam hidupnya.

12 tahun yang lalu, Yoseph Henry, suami bunda Anne menunjukkan sebuah surat kabar yang berisi tentang seorang bayi di Rembang yang membutuhkan uluran tangan berupa biaya operasi hidrosepalus. Anne pun tergerak ala kadarnya. Beliau hanya ingin menyumbang sebesar 100.000 rupiah, melalui seorang kerabatnya. Tanpa disangka, ternyata bantuan itu disalahartikan. Uang tersebut dianggap sebagai biaya transportasi untuk pergi ke Semarang guna penanganan lebih lanjut.

Anne yang saat itu baru saja pulang dari ziarah di Gua Maria Kerep Ambarawa pun terkejut. Sebuah mobil yang berisi seorang bayi penderita hidrosepalus berhenti di depan rumahnya. Dalam kebingungannya, Anne meminta petunjuk dari Tuhan.

“Saya masukkan tangan ke jarinya, saya berdoa. Tuhan kalo Kau kehendaki utk saya bekerja utk org2 seperti mereka, beri tanda. Kemudian dia genggam tangan saya, di situ saya menangis.”

Sejak itulah, Anne Avantie mulai membantu para penderita hidrosepalus. Bahkan, melalui Wisma Kasih Bunda, beliau juga membantu pasien lainnya seperti atrecia ani, cerebral atropi, megacolon dan sebagainya.

Setelah mendokumentasikan kegiatan bunda Anne di Wisma Kasih Bunda, kami pun bergegas menuju lokasi peliputan berikutnya, yaitu rumah tinggal sekaligus rumah produksinya. Saya diajak untuk naik ke mobil Bu Anne, supaya bisa memberi gambaran tentang peliputan di rumah nantinya.

Di dalam mobil, bunda Anne mulai bercerita tentang kesehariannya. Sebagai fashion designer kondang, rupanya Anne memiliki kebiasaan yang jarang dimiliki rekan seprofesinya. Seorang perancang busana yang identik dengan hidup glamour dan dunia hiburan malam, ternyata tidak ada dalam diri Anne Avantie. Bahkan Anne mengaku, bahwa dirinya tidak terbiasa tidur larut malam. Sekitar pukul 9 malam, Anne akan menguap sebagai pertanda untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Kebiasaan uniknya berlanjut di pagi hari. Beliau terbiasa bangun pukul 3 pagi. Aktivitasnya selalu dimulai dengan doa pagi, menulis artikel untuk majalah rohani dan memasak. Sungguh amat jauh dari bayangan saya tentang perancang busana papan atas. Apalagi, dari perbincangan kami, nampak bahwa bunda Anne sangat religius dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Karena saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang, bunda Anne mengajak kami untuk mampir makan siang di tempat favoritnya. Bukan rumah makan mewah dengan hidangan jetser, melainkan warung tahu pong pinggir jalan yang terletak di Jl. Gajah Mada.

Bunda Anne pun memakan nasi yang ditemani tahu pong, telur dan gimbalan udang dengan lahapnya. Sambal dan potongan lobak tak lupa menemani santap siang saat itu. Tak hanya makan di tempat, Anne juga memesan beberapa posri tahu pong untuk oleh-oleh ke Jakarta, karena sore itu beliau akan berangkat ke ibukota menggunakan kereta api.

Kenapa kereta api? Ternyata bunda Anne memiliki pobhia ketinggian. Karena itulah, ke manapun pergi, beliau selalu menggunakan jalan darat. Jadi sebagai perancang busana, bunda Anne belum pernah mengunjungi kota-kota pusat mode dunia seperti Paris, Milan atau New York. Namun hal ini tidak beliau anggap sebagai kekurangan. Sebaliknya, dengan tidak berani terbang, Anne lebih fokus untuk menjadi berkat bagi orang-orang sekitar.

Ke manapun pergi, Anne Avantie selalu ditemani seorang asisten untuk sekedar menata rambutnya, membawakan tas dan dompet, serta mengoperasikan ponselnya. Anne mengakui, dirinya tidak mahir mengoperasikan telepon genggamnya, baik untuk telepon, sms, bbm atau menyimpan nomor kontak sekalipun. Karena itulah, kehadiran seorang asisten sangat penting baginya.

Usai makan, kami melanjutkan perjalanan. Penumpang mobil bertambah dengan keberadaan Ciello, cucu bunda Anne yang dijemput pada saat kami sedang menyantap tahu pong. Ternyata kami tidak langsung pulang ke rumah, karena Ciello ingin membeli mainan terlebih dahulu. Perasaan saya agak ketar-ketir karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, sementara Anne sudah harus berangkat ke stasiun pukul 15.00. Untungnya mereka tidak lama mampir ke toko mainan, sehingga perjalanan dapat segera dilanjutkan.

Di rumah, kami berkenalan dengan ibu Ami, ibunda Anne Avantie dan Yoseph Henry suaminya. Anne tidak keberatan saat kami memintanya untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan bersama sang suami sambil menyuapi cucunya.

Kemudian kami diajak untuk naik ke lantai 4 rumahnya yang dirancang menjadi sebuah kapel. Sebagai umat Katolik yang taat, Anne selalu menyempatkan diri untuk memulai aktivitasnya dengan berdoa di kapel. Beliau meminta kepada kami agar wawancara dilakukan di kapel saja. Demi kenyamanan nara sumber, kami pun mengiyakan permintaan tersebut.

Pada sesi wawancara, Anne Avantie mulai bercerita tentang awal karirnya sebagai perancang busana. Sebagai reporter, sebelumnya saya sudah mencari tahu tentang sosok Anne Avantie. Namun ada satu hal yang saya baru tahu, yaitu bahwa beliau hanya lulusan SMP. Anne pernah duduk di bangku SMA, hanya belum sempat menyelesaikannya karena masalah keluarga.

“Menjadi fashion designer itu bukan cita2 saya. Sbg anak lulusan smp, yg sma saja tdk tamat, apa yg bisa saya cita2kan? Tapi saya percaya bahwa suatu hari bakat saya akan menjadi pelabuhan paling indah.”

Anne memulai karirnya dengan membuat kostum panggung pada tahun 1989. Segala upaya pernah dilakukan untuk membuat karyanya menjadi trendsetter, termasuk mencoba membuat gaun pengantin. Setelah 7 tahun, barulah Anne mencoba peruntungannya dengan membuat kebaya modern.

Rancangan kebaya Anne Avantie awalnya tidak diterima masyarakat. Kebaya yang bentuknya “aneh” justru dianggap merusak pakem kebaya selama ini. Anne pun bercerita tentang sebuah majalah yang memberi judul berita “ibu Kartini menangis melihat kebaya Anne Avantie”. Namun beliau tak patah arang. Anne terus berkarya, dan kini kebayanya tak hanya menjadi trendsetter, tetapi juga mengangkat derajat kebaya sebagai identitas bangsa.

Sebagai designer, siapa sangka bahwa Anne tidak mahir dalam menjahit, membuat pola atau menggunting. Namun, Tuhan justru memberinya kelebihan dengan inspirasi yang terus mengalir, sehingga rancangannya dapat menjadi karya bernilai jual tinggi.

“Kebaya itu buat saya bukan sepotong baju. Kebaya itu buat saya sebuah pembaharuan hidup. Kebaya itu sarana untuk saya dilihat, didengar dan meneladankan hidup melalui berkat yg saya terima melalui kebaya.”

Usai wawancara, kami menyempatkan diri untuk melihat rumah produksinya. Melalui rumah produksinya, Anne turut membuka lapangan kerja bagi ratusan karyawan yang tersebar di Semarang, Solo dan Jakarta. Anne sengaja menempatkan rumah produksinya di Semarang, supaya ia bisa menjadi berkat bagi orang sekitar. Uniknya, Anne Avantie mau menerima karyawan yang tidak punya pengalaman kerja sama sekali. Anne ingin membagi ilmu dengan orang-orang, karena dulunya ia pun tidaklah memiliki kemampuan khusus.

Peliputan selesai sekitar pukul 3 sore. Anne Avantie pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke stasiun. Sebelumnya, beliau masih sempat mengadakan rapat kecil di ruang tamu bersama beberapa stafnya. Kebaikan bunda Anne tak hanya sampai di situ. Setelah peliputan, saya masih sempat bertanya pada beliau tentang nara sumber yang bisa memberi informasi tentang sejarah kebaya. Tak hanya mencarikan nara sumber, Anne Avantie bahkan membuatkan janji sehingga tim kami bisa langsung wawancara.

—————————–

Sosok Anne Avantie merupakan salah satu inspirasi “from zero to hero”. Dari lulusan SMP yang tidak istimewa dan dipandang sebelah mata, ia dapat menjadi sosok yang dihormati dalam dunia mode. Sama seperti Daud yang diremehkan lingkungan sekitarnya, yang kemudian bisa mengalahkan Goliat dan menjadi raja Israel, begitu juga Tuhan menjadikan Anne Avantie manjadi seorang pemenang.

Berserah pada Tuhan, intim dengan Sang Pencipta dan menjadi berkat bagi banyak orang, merupakan kunci sukses yang telah dijalani Anne Avantie.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3).