Tag Archives: trip jepang

Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Standar
Tateyama Kurobe Alpine Route: Salju Pertama Dalam Hidup

Sebagai penduduk negara tropis, saya belum pernah liat salju secara langsung. Palingan liat bunga es di kulkas yang (kayanya) mirip salju. Atau wahana salju-saljuan di mall yang dibuat untuk anak-anak. Walaupun bukan salju beneran, tetep aja gabisa megang. Cih! Makanya pas temen saya ngajakin ke Jepang untuk melihat tumpukan salju di pegunungan Tateyama, Jepang, langsung saya iyain aja.

Waktu ke Jepang bulan April-Mei kemaren, sebetulnya saya pengen banget ke Universal Studio Osaka. Tapi apa daya, budget buat ke Tateyama udah lumayan gede. Untuk tiket terusan dari Nagano menuju Toyama aja udah habis ¥9.000 atau sekitar Rp 1.100.000.

Keberangkatan menuju Tateyama saya mulai dari stasiun Shinjuku di Tokyo. Di lantai 2 stasiun Shinjuku ada agen perjalanan yang dikelola oleh JR group. Di agen perjalanan tersebut, saya dan teman saya disambut oleh dua nenek-nenek di bagian informasi. Tadinya rada underestimate pas mau nanya ke nenek-nenek, takutnya ga paham. Walaupun rada terbata-bata, mereka ternyata bisa menyampaikan informasi tentang Tateyama dengan baik. Kami diarahkan ke loket untuk membeli tiket terusan Tateyama Alpine Route. Tiket terusan Tateyama Alpine Route hanya boleh dibeli oleh turis asing. Makanya pas beli tiket, kita harus melampirkan paspor. Konon katanya beli tiket terusan lebih murah dan praktis daripada beli tiket ketengan. Tiket terusan merupakan cara praktis untuk menikmati perjalanan dari kota Nagano ke kota Toyama dengan rangkaian tur melewati gunung salju. 

Wujud tiket terusan Kurobe-Tateyama Alpine Route

Setelah beli tiket, selanjutnya cari tiket bus untuk pergi ke kota Nagano. Tadinya sih saya berencana untuk berangkat ke Nagano tengah malam supaya besok paginya bisa langsung berangkat ke Tateyama. Tapi ternyata, keberangkatan saya bertepatan dengan Golden Week, libur panjangnya orang Jepang. Jadi bus malam saat itu tidak tersedia dan hanya ada 2 tiket terakhir untuk keberangkatan jam 3 sore. Mau tidak mau, tiket bus seharga ¥3.900 (sekitar 400 ribuan) pun terbeli.

Perjalanan dari kota Tokyo menuju Nagano memakan waktu sekitar 4 jam. Karena saat di Tokyo udara ga terlalu dingin, pas berangkat saya memakai celana pendek. Sampai di Nagano ternyata saya salah kostum. Dinginnya alamaaakkk. Walaupun sudah masuk musim semi, suhu udara di Tokyo dan Nagano ternyata beda banget. Saya pun berjalan kaki dari terminal menuju penginapan sambil menggigil kedinginan.

Salah kostum di Nagano yang dingin

Di Nagano saya menginap di Unicorn Hotel yang dipesan dari situs booking.com. Pengelola hotel yang masih lumayan muda menyambut saya dan teman saya dengan baik. Dia menanyakan kami mau ke mana saja selama di Nagano. Karena hanya berencana untuk ke Tateyama, kami memang tidak mencari tahu tentang kota Nagano. Si pengelola hotel pun menginformasikan kepada kami beberapa tempat wisata di Nagano, salah satunya kuil Zenko-Ji yang bisa didatangi dengan berjalan kaki. Sebetulnya ada juga pemandian air panas yang lokasinya rada jauh, jadi kayanya kami memang ga bakal sempat ke sana. 

Setelah cek in, kami pergi keluar untuk mencari makan. Berbeda dengan Tokyo yang masih gampang mencari makanan pada malam hari, di Nagano ternyata warung-warung makan sudah pada tutup jam 10. Toko yang buka 24 jam palingan minimarket seperti 7&i atau Lawson. Selain makan, untuk menghangatkan tubuh saya juga membeli sake mini seharga ¥100 saja. 

Sake seharga ¥100 atau 12 ribu rupiah saja

Besok paginya, saya dan teman saya bangun jam 6 pagi supaya sempat mengunjungi kuil Zenko-Ji yang ternyata adalah salah satu kuil tertua di Jepang. Karena udah tau bakal dingin banget, saya memakai legging dan sweater yang dilengkapi dengan teknologi heattech sebagai penghangat (belinya di Uniqlo Jakarta). 

Dari penginapan menuju kuil Zenko-Ji cukup memakan waktu 5-10 menit saja. Yang bikin bahagia, saya ketemu pohon sakura yang masih ada bunganya (walaupun bunga sakuranya udah lemes). Padahal, musim bunga sakura sudah berakhir sekitar akhir Maret. 

Horeeee ketemu Sakuraaaa

Dalam perjalanan menuju kuil Zenko-Ji pun menyenangkan. Saya melewati rumah-rumah bergaya lawas yang sulit dijumpai selama di Tokyo. Sebelum memasuki area kuil pun, saya melewati deretan toko-toko penjual souvenir yang lagi-lagi bergaya lawas. 

Gerbang besar kuil Zenko-Ji

Deretan toko bergaya lawas di sekitar kuil Zenko-Ji

Sampai di bangunan kuil, saya pikir bakalan sepi karena masih jam 6 pagi. Tapi ternyata kuil Zenko-Ji udah lumayan rame. Bentuk kuil Zenko-Ji sebetulnya ga jauh beda sama kuil Senso-Ji di Tokyo (namanya kok mirip-mirip ya). Di bagian depan ada tungku besar untuk menancapkan dupa. Di bagian teras ada kotak untuk memasukkan persembahan (berupa uang, bukan sayur mayur hasil bumi). Di bagian dalam ada biksu dan masyarakat yang sedang berdoa (di dalam kuil ga boleh foto-foto).

Pas lagi liat-liat kuil bagian dalam, tiba-tiba ada keramaian! Orang-orang pada keluar dari kuil untuk berbaris di depan tangga. Bahkan saking penuhnya, sampai ada yang berjejalan di teras kuil. Ternyata, saat itu adalah pergantian biksu besar. Jadi saat biksu besar mau masuk ke kuil, masyarakat berbaris untuk memohon berkat. Begitu pun saat biksu besar keluar, masyarakat berbaris lagi untuk memohon berkat.

Pagi-pagi kuil Zenko-Ji udah rame

Memohon berkat dari biksu besar

Puas melihat keagungan kuil Zenko-Ji, kami pun bergegas kembali ke penginapan. Setelah mandi dan sarapan, kami berjalan kaki menuju terminal Nagano selama kurang lebih 15 menit. Sampai di terminal sih rada bingung mau naik bis yang mana. Bis untuk menuju Ogizawa ternyata ada di bagian belakang terminal, tepatnya di platform 25. Saat itu penumpang bis dari Nagano menuju Ogizawa ternyata ga banyak. Cuma ada saya dan teman saya, 4 orang anak muda dan satu keluarga dari Indonesia juga. Tinggal menujukka tiket terusan yang sudah kita beli, supir bus pun akan mengijinkan kita naik bus tanpa biaya lagi.

Saya agak lupa perjalanan dari Nagano ke Ogizawa memakan waktu berapa lama. Kalau ga salah sih sekitar 2 jam. Selama perjalanan, kadang saya melihat ada deretan pohon sakura yang masih berbunga. Ada sakura pink, ada juga sakura putih. Sayangnya kita ga boleh berhenti buat foto-foto. Jadi ya cukup dilihat dan dikenang dalam hati.

Deretan bunga sakura dalam perjalanan Nagano-Ogizawa. Photo by Silvano Hajid.

Deretan gunung salju mulai nampak di kejauhan

Semakin mendekat ke Ogizawa, di kanan kiri jalan mulai nampak potongan-potongan es beku. Sampai di stasiun Ogizawa, saya langsung takjub melihat salju beneran untuk pertama kali. Sebetulnya pengen banget langsung pegang. Tapi sudah ada garis pembatas supaya turis ga masuk ke area salju. 

Pengen banget megang es nya tapi ga boleh

Dari Ogizawa lah perjalanan Alpine Route kita mulai. Di Ogizawa, kita naik bus menuju ke bendungan Kurobe. Perjalanan menuju Kurobe DAM sih ga istimewa karena hanya melewati terowongan buatan. Jadi ga ada pemandangan apa-apa. Satu-satunya hiburan hanya informasi tentang Alpine route di TV bagian depan yang menggunakan bahasa Jepang. Istimewanya, bus yang kita naiki bukan bus biasa. Bus bergerak dengan tenaga listrik yang dihantarkan melalui tiang besi mirip bombom car.

Selfie di depan bus bombom car. Tapi blur.

Setelah turun dari bus, kita berjalan kaki melewati terowongan menuju bendungan Kurobe yang dikelilingin gunung-gunung bersalju. Kurobe dam merupakan bendungan terbesar di Jepang. Saat musim panas, biasanya aliran air akan dibuka dan debura airnya akan menghasilkan pelangi. Tapi karena lagi musim semi dan masih bersalju, jadi kita ga bisa liat pelanginya.

Kurobe dam kaya di Swiss yaa.. (padahal belom pernah ke Swiss)

Selfie di Kurobe dam sambil bawa gembolan

Puas melihat bendungan dan gunung-gunung salju, waktunya naik ke gunung salju beneran. Kita ga perlu susah-susah mendaki gunung lewati lembah kok. Sudah ada kereta yang relnya miring untuk membawa kita ke puncak bukit bernama cable car. Saya pernah naik kereta sejenis di Penang, Malaysia. Karena cukup unik dan jarang dilihat, banyak turis yang mengabadikan gambar si kereta sebelum naik.

Perjalanan ke puncak belum berakhir dengan kereta rel miring. Masih ada ropeway alias kereta gantung yang bisa memuat puluhan manusia ke puncak gunung salju. Saat naik kereta miring maupun kereta gantung, para turis akan berebutan untuk duduk atau berdiri di dekat jendela. Termasuk saya. Hahahahaa.. Masa udah jauh-jauh ke Tateyama tapi ga bisa foto-foto karena salah posisi.

Kereta miring di Alpine Route

Ropeway Alpine Route

Pemandangan dari dalam ropeway

Selfie di dalam kereta gantung. Abaikan Silpano dan rambut njegrik saya.

Ini dia yang ditunggu-tunggu. Puncak Tateyama! Selain melihat gunung salju dari ketinggian, pengunjung juga bisa mainan salju di titik ini. Akhirnya saya bisa megang salju beneran! 

Ternyata salju itu dingin bro! (Menurut nganaaa). Kalau soal dingin sih mungkin ga jauh beda sama bunga es di kulkas. Tapi suhu udara yang sangat dingin di pegunungan membuat saya ga berani berlama-lama kalo megang salju. Sempat lah sok-sok an mau bikin boneka salju ala Olaf-nya Frozen. Tapi baru bikin bola salju kecil aja dinginnya udah kebangetan. 

Satu lagi yang wajib dilihat kalo udah di Tateyama. Jalanan dengan dinding salju! Selama bulan Mei-Juni, biasanya dinding salju alias snow wall bisa dilihat pengunjung. 

Salju pertama dalam hidup. Pake kacamata item karena pantulan cahaya matahari ke salju bikin silau.

Jalan di antara dinding salju

Area Tateyama tutup jam 5 sore. Bus untuk menuju kota Toyama biasanya juga berakhir sekitar pukul 5 sore. Walaupun menyengangkan, harus ingat waktu untuk pulang. Dari titik terkahir di Tateyama menuju kota Toyama, kita menggunakan kereta tua selama 1 jam-an. Karena udah capek dan batre habis, saya ga sempat foto-fotoin kereta tuanya. Yang pasti, sampai di stasiun Toyama tiket terusan akan dimita oleh petugas. Padahal tadinya tiket terusan itu bakal saya jadikan kenang-kenangan.

Pemandangan berupa salju dan pegunungan bersalju biasanya hanya bisa dilihat pada musim semi bulan Mei-Juni. Sementara pada musim panas maupun gugur, pemandangan bukan lagi berupa salju, melainkan pepohonan dengan warna daun menguning. Pada musim dingin, Tateyama-Kurobe Alpine Route tidak dibuka untuk umum.

Tiket terusan yang saya gunakan sebetulnya bisa dipakai untuk perjalanan Nagano-Toyama atau sebaliknya, Toyama-Nagano. Kita tinggal memilih mau menelusuri gunung Tateyama dari kota mana. Hanya saja, terusan hanya bisa digunakan one way, tidak bisa bolak balik. Menurut saya sih, kalau pengen melihat salju lebih menyenangkan dari Nagano menuju Toyama. Tensinya cenderung naik. Dari melihat Kurobe dam (yang setelah melihat puncak gunung salju ternyata ge terlalu istimewa), sampai melihat dinding salju dan bermain salju sepuasnya. Kalau dibalik melihat dan bermain salju dulu, baru melihat dam kayanya kurang asik. 

Karena baru pertama kali datang ke tempat sedingin itu, bibir saya sampai kering dan pecah-pecah. Untung di minimarket ada lipbalm khusus untuk mengobati bibir pecah-pecah. 

Perjalanan saya ke Jepang bisa dibilang dadakan dan menghabiskan dana lumayan banyak. Tapi kan uang bisa dicari. Pengalaman, kesempatan dan umur ga bisa diulang. 😃

Hidup Hemat (atau pelit?) di Tokyo

Standar

Mengunjungi negara Jepang adalah salah satu cita-cita saya sejak jaman kuliah, sekitar 11 tahun yang lalu (iye gw tua!). Perkenalan saya dengan Jepang bukan dari musik, film atau pun buku sejarah. Saya justru mengenal Jepang dengan berbagai kebiasaan dan tradisinya dari komik, yang pernah saya ceritakan di sini. Saking pinginnya ke Jepang dan saking cintanya sama gratisan, saya sampai ikut kuis segala (walaupun tetep ga menang huft). 

Tanggal 30 April 2017 saya dan seorang teman berangkat dari bandara Soekarno Hatta terminal 2F menuju bandara Haneda di Tokyo. Agak impulsif sih, karena tiket seharga 4,8 juta pp baru dibeli sebulan sebelumnya. Waktu saya berangkat, belum ada penerbangan AirAsia dari Indonesia langsung ke Jepang. Jadi saya harur transit di Kuala Lumpur dulu selama 4 jam. Setelah penerbangan sekitar 7 jam, sampailah saya di Bandara Haneda sekitar pukul 22.30 waktu setempat (jam di Jepang sama kaya WIT).

Karena liburan ke Jepang adalah liburan hemat, saya dan teman saya sengaja untuk menginap di bandara semalam biar ga perlu keluar duit buat hotel. Soalnya, harga penginapan di Jepang lumayan mahal kalo dibandingin negara-negara Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi seperti Thailand, Kamboja dan Vietnam.

Menginap di bandara ternyata jadi pilihan buat traveler (kere) seperti saya. Di lantai 2 bagian kedatangan, kursi-kursi tunggu sudah dipenuhi manusia-manusia selonjoran. Sebetulnya sih saya sudah dapat kursi panjang buat ngelurusin kaki. Tapi, di ruang tunggu lantai 2 ga ada colokan buat ngecharge henpon. Ada colokan sih di meja dekat kursi panjang, tapi jumlahnya sangat terbatas. Akhirnya saya memilih hijrah ke lantai 3 bagian keberangkatan yang jumlah colokannya melimpah. Tapi resikonya, saya ga bisa selonjoran karena kursi panjangnya dipakai duduk oleh fakir colokan seperti saya. Ga papa lah berkorban dikit, yang penting baterai henpon penuh buat foto-foto keesokan harinya. 

Suasana lantai 2 bandara Haneda yang dipenuhi treveler (kere)

Pukul 5 pagi, langit di Tokyo sudah terang. Tapi saya menunggu jam 6 pagi sebelum pergi dari bandara, karena harus mengambil wifi portable Telecom yang sudah saya pesan sebelumnya dari Jakarta. Setelah mengambil wifi portable dan sarapan di Lawson lantai dasar (saya jatuh cinta sama yakitori kulit ayam Lawson!), saya mencari jalan keluar untuk pergi dari bandara. Untuk menuju pusat kota, sebetulnya ada beberapa alternatif seperti naik bus (saya ga tau tarifnya berapa) atau naik taksi dengan tarif ¥7.000 (berdasarkan info google maps, kalo dirupiahkan sekitar IDR840.000). Mahal. Mending duitnya buat beli sepatu. Hahaha.. Pilihan untuk keluar dari bandara jatuh pada monorail dengan harga tiket ¥340 menuju Tenozu Isle.


Transportasi mahal di Tokyo

Keberangkatan saya ke Jepang bisa dibilang mendadak dan kurang riset. Jadi saya ga sempat cari tahu berapa tarif kereta maupun bus untuk keliling Tokyo. Karena saya cukup lama ngendon di bandara, jadi saya bisa cari info ke tourist office di lantai 2. Dari brosur yang saya baca-baca, ada info tentang Tokyo Subway Pass. Buat yang pernah ke Singapore, mirip-mirip lah sama kartu Singapore Tourist Pass yang bisa dipake untuk naik kereta dan bus. Tapi Tokyo Subway Pass cuma bisa dipakai untuk Tokyo Metro dan Toei Subway. Selain dua line kereta itu ada line kereta lain, tapi ga bisa pakai si kartu sakti alias harus bayar lagi. 

Logo kereta yang bisa pakai kartu sakti. Selain logo itu, sebaiknya dihindari karena harus bayar lagi.

Ada 3 jenis kartu Tokyo Metro Subway Pass. Kartu 24 jam seharga ¥800, kartu 48 jam seharga ¥1.200 dan kartu 72 jam seharga ¥1500. Menurut saya sih jauh lebih hemat daripada beli tiket ngeteng. Kalau tiket ngeteng, tarifnya bisa mencapai ¥170-¥310 sekali trip. Dalam sehari saya bisa melakukan beberapa trip, belum kalo pake nyasar. Kalau mau ngeteng, ada alternatif lain selain bayar cash di mesin pembelian tiket, yaitu menggunakan kartu Pasmo dan Suica (semacam e-money yang bisa dipake buat bayar di mini market juga). Tapi kalau pakai e-money tersebut, tarifnya cuma didiskon ¥5 saja. Jadi itungannya tetep mahal. Jalur kereta Tokyo Metro dan Toei mencakup hampir seluruh kawasan Tokyo kok, cuma kudu pinter-pinter baca peta biar tau nyambung-nyambungin jalur yang ga nyambung. Misalnya kalo kita pengen ke Shibuya dari Shinjuku, ga ada akses langsung dengan Tokyo Metro Line. Adanya akses kereta JR Yamada Line. Tapi bisa aja diakali dengan naik kereta ke Akasuka dulu, baru nyambung ke Shibuya. Menunggu kereta datang juga ga lama kok. Lima menit sudah paling lama untuk menunggu kedatangan kereta. Palingan hindari jam-jam orang masuk dan pulang kantor, karena bakal lumayan penuh.

Kartu sakti dan peta yang menentukan jalanku. Tanpanya, aku tak berguna bagai butiran debu.

Kalau baca komik, orang-orang Jepang pergi dan pulang kerja naik kereta. Baju kerja pun rapi banget, pakai jas lengkap dengan dasi. Saya pikir itu cuma ada di komik, tapi ternyata beneran orang-orang kerja bajunya rapi banget. Berbanding terbalik sama baju kerja saya yang kadang pakai seragam, kadang bebas sesuai kebutuhan liputan.

Pekerja-pekerja keluar dari stasiun Tokyo Teleport, Odaiba


Makanan serba mahal

Tokyo merupakan salah satu kota termahal di dunia. Sebagai warga negara Indonesia yang terbiasa makan murah, harga makanan di Tokyo lumayan bikin nyesek. Sekali makan, saya bisa menghabiskan sekitar ¥500 (kalo dirupiahin IDR60.000). Padahal ya makanan biasa aja, semacam ramen maupun rice bowl pinggir jalan. Sekedar jajan pinggir jalan pun lumayan mahal. Harga takoyaki misalnya, dibanderol ¥600 untuk isi 8 biji. 

Namanya lagi di negeri orang, pasti pengen ngicipin makanan yang jadi ciri khasnya. Tapi ada baiknya kalo kita harus ngirit sesekali. Teman perjalanan saya membawa dendeng dari Jakarta, sementara saya bawa abon. Cukup beli nasi di mini market, perut udah ga bakal teriak-teriak lagi. Harga nasi sekitar ¥270 per 3 box. Jadi kami membagi 2 masing-masing 1,5 box. Kalau mau tambahan lauk, bisa juga beli yakitori di Lawson yang harganya lumayan murah, yaitu ¥127. SEKALI LAGI, SAYA PALING SUKA YAKITORI KULIT AYAM! Enak! Buat sarapan, bisa beli onigiri di convenience store juga dengan harga ¥100.

Ngirit sih boleh aja, tapi saya ga mau juga terlalu pelit pada diri sendiri. Walaupun ada kalanya ngirit, ada kalanya saya beli makanan yang harganya lumayan mahal. Di pasar ikan Tsukiji, banyak warung-warung sushi bertebaran. Tapi teman saya mengajak ke Sushizanmai yang konon sudah terkenal se-galaksi bimasakti. Harga sushinya sih bervariasi, tapi saya memilih paket sushi yang lumayan lengkap tapi ga mahal-mahal amat.

Entahlah ini namanya paket apa, harganya ¥2.000

Kalau untuk minuman, harga sebotol air mineral ukuran 600ml biasanya dibanderol ¥90-130, baik di mini market maupun vending machine. Di seluruh penjuru Tokyo, vending machine minuman bisa ditemui di manapun. Jadi ga perlu kuatir kalau lagi jalan tiba-tiba kehausan. Kalau mau hemat, sebetulnya bisa mengisi ulang di keran air minum. Tapi kok saya jarang menemui keran begituan di Tokyo. Alternatifnya, pagi sebelum berangkat plesir saya mengisi ulang air minum di hotel. Hotel-hotel (murah) di Tokyo menyediakan air minum gratis bagi para tamu. Jadi lumayan hemat buat biaya air minum.

Vending machine minuman di salah satu sudut Shibuya. Ajaibnya, semua vending machine yang saya temui ga ada yang rusak.


Tokyo versi modern

Saking demennya sama Jepang, waktu belajar photoshop jaman kuliah dulu saya pernah bikin foto seolah-olah lagi di Tokyo, berlatar belakang gemerlapnya lampu-lampu di kawasan pertokoan. Siapa sangka di tahun 2017 ini saya bisa melihat langsung warna-warni lampu pertokoan di kota Tokyo, baik di kawasan Shinjuku, Akihabara maupun Shibuya. Pusat-pusat shopping di Tokyo tersebut bisa diakses melalui jaringan rel kereta Tokyo Metro. 

Halan halan di Akihabara. Tapi ga ketemu AKB48.

Selfie di Shibuya Cross

Shibuya Cross malam hari

Saya berada di Jepang dari tanggal 30 April sampai 7 Mei. Ternyata, tanggal tersebut pas banget dengan Golden Week, hari liburnya orang Jepang. Ada untungnya ada ruginya juga sih. Untungnya, banyak diskonan di pusat-pusat perbelanjaan. Ruginya, saya gagal ke Osaka karena tiket bus sudah sold out semua. Kegagalan saya ke Osaka akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Kita ngomongin untungnya aja lah yaa.. Berkat Golden Week, turis asing yang belanja di Jepang bisa bebas pajak kalau menunjukkan paspor. Di toko Onitsuka Tiger Shibuya, banyak banget turis asing yang memanfaatkan momen bebas pajak dengan pembelanjaan minimal ¥5.000. Di toko Onitsuka Tiger tersebut, sebagian besar orang Indonesia yang belanja, termasuk saya. 😱 Selain bebas pajak, ada juga tambahan diskon 5%. Sebagai pecinta diskonan minimal 50%, sebetulnya saya merasa terhina. Tapi setelah dikurangi pajak plus diskon 5% tersebut, harga sepatu jauh lebih murah dibandingkan harga di toko online Indonesia.

Shibuya nggak cuma terkenal sama wisata belanja, tapi wisata nyeberang jalan. Rada aneh sih, orang-orang nyeberang jalan aja bisa jadi atraksi wisata gratis. Selama 50 detik, lampu lalu lintas di Shibuya Cross merah. Orang-orang yang mau nyeberang dari keempat sisi langsung melintas secara berbarengan. Salah satu lokasi untuk melihat Shibuya Cross dari ketinggian adalah di lantai dua Starbucks gedung Tsutaya. Penyeberangan lewat zebra cross di Tokyo memang super aman. Kendaraan bakal mengalah pada pejalan kaki yang lagi nyeberang. Berbanding terbalik dengan kota Ho Chi Minh di Vietnam, mau nyeberang aja berasa harus mempertaruhkan nyawa. Tapi di sudut-sudut kota Tokyo seperti Nishi-Azabu, Kiba maupun Minami-Senju yang relatif sepi, ada juga sih akamsi yang asal nyeberang tanpa mempedulikan lampu penyeberangan maupun zebra cross. Tapi karena sepi, jadi ya aman-aman aja.

Kalau ngomongin Shibuya, salah satu ikon yang terkenal adalah anjing Hachiko. Saking terkenalnya, kalau mau foto sama patung Hachiko di depan stasiun Shibuya kudu ngantri sama turis-turis lain. 

Selfie sama Hachiko ❤

Ada satu lagi tempat belanja yang cukup menarik, yaitu di stasiun Tokyo. Meskipun judulnya statsiun, di bagian basement ada juga tempat untuk berbelanja. Tenant yang sengaja saya datangi sampai berlama-lama dan teman saya bete adalah Tomica Shop. Buat yang demen mobil-mobilan Tomica, tempat ini adalah surga! Harga Tomica reguler ga jauh beda sama di Jakarta sih, yaitu ¥450 belum termasuk pajak. Sementara untuk Tomica Premium harganya ¥800-900 belum termasuk pajak. Meskipun dati segi harga ga jauh beda, tapi barangnya komplit. 

Tomica Shop di Stasiun Tokyo

Salah satu hasil buruan di Tomica Shop


Wisata kuil di Tokyo

Di balik gemerlapnya lampu-lampu kota Tokyo, masih tersimpan warisan budaya leluhur berupa kuil yang bisa dijumpai di beberapa tempat di Tokyo. Enaknya, wisata ke kuil-kuil ga dipungut biaya alias gratiiisss.

Salah satu kuil yang wajib dikunjungi adalah kuil Sensoji di Asakusa. Kuil Sensoji adalah kuil terbesar di kota Tokyo. Saya datang ke kuil Sensoji hari Jumat tanggal 5 Mei. Ternyataa.. dari tanggal 5-7 Mei ada perayaan Sanja Matsuri untuk menghormati tiga orang pendiri Sensoji. Jadi saat saya mengunjungi Kuil Sensoji, suasananya rameeeee banget. Karena baru hari pertama, festival Sanja Matsuri yang saya lihat baru mulai dari parade anak-anak. Konon di puncak Sanja Matsuri, suasananya jauh lebih ramai.

Andreas selfie di kuil Sensoji

Parade anak-anak di festival Sanja Matsuri

Di sekitar kuil Sensoji ada deretan kios-kios yang menjual berbagai macam hal. Jajanan, mainan dan pernak-pernik untuk oleh-oleh. Tapi ya gitu. Harganya mahaaaall. Satu buah magnet kulkas harganya ¥400-600. Terlalu mahal buat kantong saya yang pas-pas an. Jadi karena harganya mahal, saya ga beliin oleh-oleh untuk siapapun. Dibilang pelit saya ga peduli, daripada beli oleh-oleh tapi ga bisa makan. 😱

Selain kuil Sensoji, ada juga kuil Nezu di bagian utara Tokyo. Di kuil ini ada deretan gerbang yang selama ini cuma bisa saya lihat di foto instagram orang-orang.

Di Nezu Shrine. Foto: Silvano Hajid

Ada kuil Meiji yang letaknya tak jauh dari Shibuya. Serta kuil Bentendo di tengah-tengah Ueno Park.

Pas ke kuil Meiji, ada pernikahan tradisional Jepang

Kuil Bentendo di tengah Danau Shinobazu


Istana kekaisaran Jepang

Jepang adalah negara monarki yang bertahan cukup lama. Istana kekaisaran yang terletak di tengah kota, tak jauh dari stasiun Tokyo menjadi salah satu daya tarik wisata. Tapiiiii.. istana kekaisaran ga bisa dikunjungi kaya di Thailand maupun Kamboja. Konon, dalam setahun istana kekaisaran Jepang hanya dua kali dibuka untuk umum. Turis yang ingin melihat istana kekaisaran cuma bisa menengok dari kejauhan di jembatan Nijubashi. 

Cuma bisa melihat dari kejauhan tanpa memiliki. Kaya kamu. Iya.. Kamuu..


Patung Liberty di Tokyo

Nggak cuma kota New York yang punya patung Liberty. Di Tokyo juga ada, tepatnya di Odaiba. Untuk menuju ke Odaiba, kita ga bisa pakai Tokyo Metro Subway Pass. Jalur ke Odaiba cuma dilalui Rinkai Line yang artinya kita kudu bayar lagi untuk naik kereta. Ukuran patung Liberty nya memang nggak sebesar di kota New York. Dan sepertinya, Odaiba Statue of Liberty belum menjadi salah satu tujuan turis yang datang ke Tokyo. Bahkan, nampaknya orang Jepang sendiri ga ngeh ada patung Liberty. Soalnya pas udah di pinggir pantai, saya nanya ke anak muda yang lagi nongkrong di sekitar situ. Saya nanyain soal patung Liberty dan mereka ga tau sama sekali.

Mirip New York lah yaaa..


Tokyo Tower

Menara setinggi 332.6 meter yang berdiri tegak di kawasan Minato merupakan salah satu ikon utama Tokyo. Untuk menuju ke sana, saya berhenti di stasiun Akabanebashi menggunakan Tokyo Metro Subway Pass. Keluar dari stasiun Akabanebashi, sosok megah Tokyo Tower langsung terlihat. Saat mengunjungi Tokyo Tower, kebetulan pas menjelang perayaan koinobori, perayaan untuk anak laki-laki di Jepang. Jadi di pelataran Tokyo Tower, terpasang ratusan layang-layang koinobori warna-warni. Untuk naik ke menara dan melihat Tokyo dari ketinggian, sebetulnya nggak mahal. Cuma ¥900 saja. Tapi entah kenapa saya nggak kepingin naik. Ntar aja naik menara Eiffel kalo suatu hari berkesempataj mengunjungi Paris. Jadi saya cuma foto-foto aja dengan latar belakang menara Tokyo. 

Koinobori warna warni di pelataran Tokyo Tower

Foto di taman seberang Tokyo Tower

Kalau ke Jepang, biasanya turis akan mengunjungi Tokyo Disneyland maupun Universal Studio di Osaka. Tadinya saya berniat ke Universal Studio karena pengen ke wahana Harry Potternya. Harga tiket Universal Studio maupun Disneyland sama-sama mahal, sekitar 900 ribuan kalo dirupiahkan. Akhirnya saya ga mengunjungi keduanya. Bukan karena pelit, tapi saya lebih memilih berkunjung ke gunung salju Tateyama dengan tarif lebih mahal, yaitu ¥9000 atau sekitar 1 juta rupiah. Cerita soal gunung salju Tateyama akan saya ceritakan di episode lain.

Sampai jumpa!