Tag Archives: ta phrom

Perjalanan ke Angkor Wat – cukup satu hari

Standar

​Sekitar pukul 8 malam saya dan 2 orang teman saya sampai di kota Siem Reap. Minibus yang kami tumpangi dari Phnom Penh memelankan lajunya saat memasuki tempat pemberhentian. Pool minibus yang mirip seperti pool travel di Jakarta. Meskipun belum berhenti sepenuhnya, minibus sudah dikelilingi orang-orang yang berteriak dalam bahasa lokal (dan tentunya saya ga paham mereka ngomong apa). Ternyata mereka adalah supir tuktuk yang menawarkan jasanya pada penumpang minibus. Turun dari minibus, kami disambut bak selebriti yang dikelilingi paparazi. Kami bingung mau pilih tukang tuktuk yang mana.
Kebingungan kami berlangsung cukup lama, sampai-sampai hanya tinggal satu tuktuk saja yang belum berhasil merayu penumpang. Celakanya, saat kami mau tawar menawar harga sama si tukang tuktuk, ternyata dia ga bisa berbahasa Inggris. Seorang bapak-bapak berusia 40-an mendatangi kami untuk membantu. Ternyata bapak-bapak ini adalah teman si tukang tuktuk juga. Tawar menawar pun kami lakukan dengan si bapak yang lumayan lancar berbahasa Inggris. Tarif tuktuk untuk mengantar kami ke hotel di sekitar Angkor Night Market mencapai kesepakatan. Nggak cuma itu, kami juga ditawari menggunakan jasa tuktuknya untuk mengantar kami ke kawasan Angkor Wat keesokan paginya. Dengan catatan, tukang tuktuk akan datang jam 5 pagi dan jika ternyata kami bangun kesiangan, kami tetap harus membayar tarif yang sudah disepakati.
Tuktuk pun membawa kami menuju Hotel Bayon Boutique yang letaknya agak jauh dari pool travel. Bapak-bapak tadi pun ikut mengantar kami dan menceritakan sedikit tentang Siem Reap. Si bapak juga kadang mengajak kami bercanda (yang menurut kami jayus) dan lama-kelamaan, bercandaan si bapak makin menjurus ke arah porno. Bersamaan dengan itu, tuktuk membawa kami ke jalan-jalan kecil, jauh dari jalan raya. Jalanan makin lama makin kecil dan gelap. Bukan lagi jalan aspal, tapi jalan tanah berbatu-batu. Si bapak masih terus mengeluarkan candaan berbau porno, sementara kami tertawa kecut sambil melirik satu sama lain. Mau dibawa kemana kita???
Tuktuk berhenti di jalanan sepi dan si supir bicara pada si bapak (yang lagi-lagi saya ga paham mereka ngomong apa). Si bapak mulai menelepon. Kami pun mencoba bersikap santai sambil mengobrol. Isi obrolan pun tak jauh dari kecemasan kami yang sedang berada di tempat sepi.
Kami bisa bernafas lega setelah si bapak bilang kalau jalan yang kita lalui salah. Tuktuk memutar arah dan kami kembali melewati jalanan yang tidak terlalu sepi. Sampailah kami ke hotel dan si bapak mengingatkan kami untuk bangun subuh supaya bisa melihat matahari terbit di Angkor Wat.
Di hotel, kami menemukan beberapa brosur tentang Angkor Wat dalam bahasa Inggris. Dari brosur itulah kami mendapat informasi kalau turis harus berpakaian sopan jika mengunjungi Angkor Wat. Pakaian harus berlengan dan celana harus menutupi lutut. Bukan persyaratan yang sulit, karena saya ga mungkin berpakaian seksi. Dua teman perempuan saya pun ga pernah berpakaian serba terbuka. 
Kami bukanlah manusia yang terbiasa bangun pagi, apalagi saat liburan. Tapi demi melihat matahari terbit, kami bisa bangun subuh dan menemui tukang tuktuk yang ternyata sudah datang dari jam 4 pagi (kali ini tanpa si bapak cabul). Tuktuk membawa kami ke jalan raya menuju Angkor Wat. Di jalan, kami menemui tuktuk-tuktuk lain yang membawa turis dari berbagai negara. 
Tak lama, kami sampai ke sebuah gedung baru berarsitektur ala Kamboja. Saya pikir sudah sampai, tapi ternyata gedung itu hanyalah tempat penjualan tiket. Saat memasuki gedung, sebanyak 31 loket yang dibuka dipenuhi antrian manusia. Kami langsung memilih antrian yang kira-kira ga terlalu panjang. Sampai di loket, kami difoto untuk dicetak di tiket seharga 20 Dollar Amerika (per 1 Februari 2017, harga tiket 37 dollar). Setelah semua mendapat tiket one-day-pass, kami kembali ke tuktuk untuk melanjutkan perjalanan menuju Angkor Wat.

One day pass ticket

Di Angkor Wat, ratusan turis sudah duduk-duduk cantik di pinggir kolam untuk menanti sang mentari muncul dari balik deretan candi. Beberapa hanya memandang takjub saat matahari mulai menampakkan wujudnya. Sebagian besar langsung beraksi dengan kamera DSLR, kamera poket maupun ponsel untuk mengabadikan momen magis tersebut.

Pertama kali sunrise-an di luar negeri

Pemburu sunrise di Angkor Wat

Setelah atraksi matahari terbit usai, para turis mulai meninggalkan area kolam untuk berkeliling di Angkor Wat. Begitu juga kami, yang berkeliling sambil berfoto di setiap sudut candi yang kira-kira instagramable. Di pusat candi, kami melihat orang-orang mengantri. Ternyata untuk naik ke bagian utama candi, pengunjung harus bergantian. Di sekitar antrian, ada petugas yang berpatroli untuk melihat kelayakan berpakaian pengunjung. Kalau ada turis yang berpakaian tidak sopan, petugas akan menyuruhnya keluar dari antrian. Meskipun di brosur maupun website di internet sudah ada info tentang tata cara berpakaian, saya heran kenala ada saja turis yang hanya memakai tank top dan celana super pendek. Angkor Wat memang candi yang sudah diakui Unesco sebagai peninggalan bersejarah dan menjadi tujuan wisata turis dari berbagai belahan dunia. Tapi bagaimanapun, Angkor Wat merupakan bangunan yang sampai sekarang masih digunakan untuk beribadah oleh umat Buddha.

Puncak bangunan candi di Angkor Wat

Puas mengelilingi Angkor Wat, kami menuju ke warung-warung makan yang terdapat di sekitar candi. Di sekitar warung-warung tenda, banyak anak kecil berusia 10 tahunan yang menawarkan kartu pos seharga 1 dollar untuk 10 lembar. “Waaann daaleee.. (Kemudian mereka akan mulai menghitung jumlah kartu pos satu persatu) wan tu sri fo faif sik seven eit nein ten”. Meskipun kami tidak tertarik untuk membeli, mereka terus menawarkan kartu pos dengan penawaran yang unik. Bukan menurunkan harga, mereka malah menaikkan harganya. “Oke two dollar / no / ok three / piye to ki bocah? (Ni anak gimana sih?)”.

Itu penampakan dua bocah penjual kartu pos yang pantang menyerah

Dari Angkor Wat, kami menuju candi lain di kawasan Angkor Wat. Seperti candi Bayon yang memikiki ciri khas berupa wajah-wajah sang Buddha dan Ta Phrom yang menjadi lokasi pembuatan film Tomb Raider. Di sekitar Ta Phrom, lagi-lagi kami ditawari suvenir oleh anak-anak. Kali ini bukan kartu pos, melainkan magnet. Karena sebelumnya kami sudah membeli suvenir di Phnom Penh, jadi kami tidak tertarik membeli magnet dari si bocah. Tapi dengan muka melas, si bocah terus menurunkan harga tanpa kami tawar, sampai harga yang ditawarkan lebih rendah daripada di Phnom Penh. Akhirnya kami pun luluh dan membeli dari si bocah.

Bocah melas penjual magnet

Area Angkor Wat sangat luas, sehingga tak cukup satu hari untuk mengelilingi semua candi. Dalam satu hari, kami hanya bisa mengunjungi Angkor Wat, Bayon dan Ta Phrom. Kalau pingin berkeliling ke semua area Angkor Wat, Anda bisa membeli 3 days pass seharga 62 dollar atau 7 days pass seharga 72 dollar.

Sok candid di sekitar Angkor Wat

Yang ini namanya candi Bayon. Candi seribu wajah.

Selfie di Bayon

Ta Phrom yang jadi lokasi syuting film Tomb Raider

Nature wins!