Tag Archives: pulang kampung

lebaran dan tradisinya

Standar

Dua hari yang lalu baru saja kita merayakan Idul Fitri. Hari kemenangan umat muslim setelah berpuasa satu bulan lamanya. Tidak makan dan tidak minum selama lebih dari 12 jam, dan yang paling penting adalah menahan amarah dan hawa nafsu.

Di Indonesia, Idul Fitri tidak hanya dirayakan oleh umat muslim saja. Semua orang ikut merasakan aura kemenangan dan sukacita di hari Idul Fitri. Semua orang ikut bersalam-salaman dan bersilaturahmi. Dan yang jelas, di hari Idul Fitri ada kebiasaan masyarakat Indonesia yang lumayan heboh, yaitu pulang kampung.

Menjelang hari Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong mudik ke kampung halaman untuk berlebaran. Dan bukan hanya umat muslim saja yang pulang kampung. Tidak melihat agama dan status sosial, yang namanya lebaran ya pasti pulang kampung. Entah naik mobil yang nyaman tapi tetep kena macet, entah naik motor yang murah meriah tapi rawan kecelakaan, entah berdesakan di dalam kereta ekonomi, pokoknya yang penting pulang kampung.

Nah, ngomong-ngomong soal pulang kampung, seminggu sebelum hari raya saya diberi kesempatan untuk meliput dan melaporkan secara langsung tradisi mudik tersebut. Di Trans7, kami menyebutnya program “Ayo Mudik”. Jelas banyak pengalaman baru di ketiga lokasi saya berada, yaitu di pertigaan Widasari di Indramayu, pertigaan Pejagan di Brebes, dan masjid At Taqwa di Cirebon.

Melakukan peliputan yang berkaitan dengan arus mudik hampir sama dengan peliputan di Jakarta. Hanya saja, saya harus memikirkan tenggat waktu yang sangat terbatas. Selain itu, durasi dari tayangan juga patut diperhitungkan. Dan yang pasti, banyak hal-hal unik yang saya temui selama meliput di jalur pantura.

Melihat pemudik yang menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor tentu sudah biasa. Namun bagaimana dengan pemudik yang menggunakan sepeda kayuh? Saya baru pertama kali melihat ada pemudik yang menggunakan sepeda dari Bekasi menuju Tegal. Sepedanya pun bukan sepeda biasa, namun sepeda unik yang ban belakangnya berukuran jauh lebih besar dari ban biasa.

Ada juga pemudik yang menggunakan mobil barang atau pick up yang sudah diberi atap sehingga dapat dijadikan tempat berteduh. Dan tidak main-main, di bagian bak belakang dapat menampung hingga 12 orang, ditambah dengan barang yang begitu buanyak. Saya yang hanya selama setengah jam mengikuti perjalanan mereka dalam mobil, merasa sangat kegerahan dan kesempitan. Namun mereka dapat berathan semalaman hingga siang hari, yang tujuannya tentu saja untuk bertemu dengan keluarga di kampung.

Selain cara unik pemudik, saya juga bertemu orang-orang di balik layar yang mengatur kelancaran arus lalu lintas. Saya bertemu para petugas polisi yang selalu siaga mengatur lalu lintas dan segera bertindak jika terjadi sesuatu. Saya bertemu petugas dinas perhubungan yang setia mgnhitung setiap kendaraan yang melintas. Saya juga bertemu petugas dari mabes Polri yang mengoperasikan mobil MC3 (mobile command control center), dimana di dalamnya terdapat monitor-monitor CCTV yang dapat mengawasi arus kendaraan di sepanjang jalur pantura.

Dari orang-orang tersebut, saya melihat bahwa bukan hanya kami, kaum wartawan saja yang tidak libur pada hari Idul Fitri. Mereka pun sama seperti kami. Bahkan ada juga yang tidak pernah berlebaran bersama keluarga selama 6 tahun berturut-turut. Selain mereka, masih ada petugas pintu tol, sopir bus, petugas rumah sakit, dan pekerja-pekerja lainnya yang harus tetap bekerja di hari lebaran.

Saya membayangkan diri saya sendiri, jika misalkan di hari Natal besok saya masih harus bekerja dan tidak bisa berkumpul bersama keluarga. Pasti sangat menyedihkan. Namun itulah pilihan saya dan juga teman-teman yang mengharuskan siap siaga sekalipun di hari raya.

Dan pengalaman bekerja di hari raya, pasti menjadi kenangan tersendiri di masa tua nanti. Saya pun sangat menikmati dalam program “Ayo Mudik” ini. Menjadi bagian dari sesuatu yang besar, tentu menjadi pengalaman tak terlupakan. Apalagi, kejadian-kejadian lucu yang membuat bibir ini tersenyum saat mengingatnya.

Selamat hari raya Idul Fitri 1432 Hijriyah.
Mohon maaf lahir dan batin.

πŸ™‚