Tag Archives: meiji temple

Hidup Hemat (atau pelit?) di Tokyo

Standar

Mengunjungi negara Jepang adalah salah satu cita-cita saya sejak jaman kuliah, sekitar 11 tahun yang lalu (iye gw tua!). Perkenalan saya dengan Jepang bukan dari musik, film atau pun buku sejarah. Saya justru mengenal Jepang dengan berbagai kebiasaan dan tradisinya dari komik, yang pernah saya ceritakan di sini. Saking pinginnya ke Jepang dan saking cintanya sama gratisan, saya sampai ikut kuis segala (walaupun tetep ga menang huft). 

Tanggal 30 April 2017 saya dan seorang teman berangkat dari bandara Soekarno Hatta terminal 2F menuju bandara Haneda di Tokyo. Agak impulsif sih, karena tiket seharga 4,8 juta pp baru dibeli sebulan sebelumnya. Waktu saya berangkat, belum ada penerbangan AirAsia dari Indonesia langsung ke Jepang. Jadi saya harur transit di Kuala Lumpur dulu selama 4 jam. Setelah penerbangan sekitar 7 jam, sampailah saya di Bandara Haneda sekitar pukul 22.30 waktu setempat (jam di Jepang sama kaya WIT).

Karena liburan ke Jepang adalah liburan hemat, saya dan teman saya sengaja untuk menginap di bandara semalam biar ga perlu keluar duit buat hotel. Soalnya, harga penginapan di Jepang lumayan mahal kalo dibandingin negara-negara Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi seperti Thailand, Kamboja dan Vietnam.

Menginap di bandara ternyata jadi pilihan buat traveler (kere) seperti saya. Di lantai 2 bagian kedatangan, kursi-kursi tunggu sudah dipenuhi manusia-manusia selonjoran. Sebetulnya sih saya sudah dapat kursi panjang buat ngelurusin kaki. Tapi, di ruang tunggu lantai 2 ga ada colokan buat ngecharge henpon. Ada colokan sih di meja dekat kursi panjang, tapi jumlahnya sangat terbatas. Akhirnya saya memilih hijrah ke lantai 3 bagian keberangkatan yang jumlah colokannya melimpah. Tapi resikonya, saya ga bisa selonjoran karena kursi panjangnya dipakai duduk oleh fakir colokan seperti saya. Ga papa lah berkorban dikit, yang penting baterai henpon penuh buat foto-foto keesokan harinya. 

Suasana lantai 2 bandara Haneda yang dipenuhi treveler (kere)

Pukul 5 pagi, langit di Tokyo sudah terang. Tapi saya menunggu jam 6 pagi sebelum pergi dari bandara, karena harus mengambil wifi portable Telecom yang sudah saya pesan sebelumnya dari Jakarta. Setelah mengambil wifi portable dan sarapan di Lawson lantai dasar (saya jatuh cinta sama yakitori kulit ayam Lawson!), saya mencari jalan keluar untuk pergi dari bandara. Untuk menuju pusat kota, sebetulnya ada beberapa alternatif seperti naik bus (saya ga tau tarifnya berapa) atau naik taksi dengan tarif ¥7.000 (berdasarkan info google maps, kalo dirupiahkan sekitar IDR840.000). Mahal. Mending duitnya buat beli sepatu. Hahaha.. Pilihan untuk keluar dari bandara jatuh pada monorail dengan harga tiket ¥340 menuju Tenozu Isle.


Transportasi mahal di Tokyo

Keberangkatan saya ke Jepang bisa dibilang mendadak dan kurang riset. Jadi saya ga sempat cari tahu berapa tarif kereta maupun bus untuk keliling Tokyo. Karena saya cukup lama ngendon di bandara, jadi saya bisa cari info ke tourist office di lantai 2. Dari brosur yang saya baca-baca, ada info tentang Tokyo Subway Pass. Buat yang pernah ke Singapore, mirip-mirip lah sama kartu Singapore Tourist Pass yang bisa dipake untuk naik kereta dan bus. Tapi Tokyo Subway Pass cuma bisa dipakai untuk Tokyo Metro dan Toei Subway. Selain dua line kereta itu ada line kereta lain, tapi ga bisa pakai si kartu sakti alias harus bayar lagi. 

Logo kereta yang bisa pakai kartu sakti. Selain logo itu, sebaiknya dihindari karena harus bayar lagi.

Ada 3 jenis kartu Tokyo Metro Subway Pass. Kartu 24 jam seharga ¥800, kartu 48 jam seharga ¥1.200 dan kartu 72 jam seharga ¥1500. Menurut saya sih jauh lebih hemat daripada beli tiket ngeteng. Kalau tiket ngeteng, tarifnya bisa mencapai ¥170-¥310 sekali trip. Dalam sehari saya bisa melakukan beberapa trip, belum kalo pake nyasar. Kalau mau ngeteng, ada alternatif lain selain bayar cash di mesin pembelian tiket, yaitu menggunakan kartu Pasmo dan Suica (semacam e-money yang bisa dipake buat bayar di mini market juga). Tapi kalau pakai e-money tersebut, tarifnya cuma didiskon ¥5 saja. Jadi itungannya tetep mahal. Jalur kereta Tokyo Metro dan Toei mencakup hampir seluruh kawasan Tokyo kok, cuma kudu pinter-pinter baca peta biar tau nyambung-nyambungin jalur yang ga nyambung. Misalnya kalo kita pengen ke Shibuya dari Shinjuku, ga ada akses langsung dengan Tokyo Metro Line. Adanya akses kereta JR Yamada Line. Tapi bisa aja diakali dengan naik kereta ke Akasuka dulu, baru nyambung ke Shibuya. Menunggu kereta datang juga ga lama kok. Lima menit sudah paling lama untuk menunggu kedatangan kereta. Palingan hindari jam-jam orang masuk dan pulang kantor, karena bakal lumayan penuh.

Kartu sakti dan peta yang menentukan jalanku. Tanpanya, aku tak berguna bagai butiran debu.

Kalau baca komik, orang-orang Jepang pergi dan pulang kerja naik kereta. Baju kerja pun rapi banget, pakai jas lengkap dengan dasi. Saya pikir itu cuma ada di komik, tapi ternyata beneran orang-orang kerja bajunya rapi banget. Berbanding terbalik sama baju kerja saya yang kadang pakai seragam, kadang bebas sesuai kebutuhan liputan.

Pekerja-pekerja keluar dari stasiun Tokyo Teleport, Odaiba


Makanan serba mahal

Tokyo merupakan salah satu kota termahal di dunia. Sebagai warga negara Indonesia yang terbiasa makan murah, harga makanan di Tokyo lumayan bikin nyesek. Sekali makan, saya bisa menghabiskan sekitar ¥500 (kalo dirupiahin IDR60.000). Padahal ya makanan biasa aja, semacam ramen maupun rice bowl pinggir jalan. Sekedar jajan pinggir jalan pun lumayan mahal. Harga takoyaki misalnya, dibanderol ¥600 untuk isi 8 biji. 

Namanya lagi di negeri orang, pasti pengen ngicipin makanan yang jadi ciri khasnya. Tapi ada baiknya kalo kita harus ngirit sesekali. Teman perjalanan saya membawa dendeng dari Jakarta, sementara saya bawa abon. Cukup beli nasi di mini market, perut udah ga bakal teriak-teriak lagi. Harga nasi sekitar ¥270 per 3 box. Jadi kami membagi 2 masing-masing 1,5 box. Kalau mau tambahan lauk, bisa juga beli yakitori di Lawson yang harganya lumayan murah, yaitu ¥127. SEKALI LAGI, SAYA PALING SUKA YAKITORI KULIT AYAM! Enak! Buat sarapan, bisa beli onigiri di convenience store juga dengan harga ¥100.

Ngirit sih boleh aja, tapi saya ga mau juga terlalu pelit pada diri sendiri. Walaupun ada kalanya ngirit, ada kalanya saya beli makanan yang harganya lumayan mahal. Di pasar ikan Tsukiji, banyak warung-warung sushi bertebaran. Tapi teman saya mengajak ke Sushizanmai yang konon sudah terkenal se-galaksi bimasakti. Harga sushinya sih bervariasi, tapi saya memilih paket sushi yang lumayan lengkap tapi ga mahal-mahal amat.

Entahlah ini namanya paket apa, harganya ¥2.000

Kalau untuk minuman, harga sebotol air mineral ukuran 600ml biasanya dibanderol ¥90-130, baik di mini market maupun vending machine. Di seluruh penjuru Tokyo, vending machine minuman bisa ditemui di manapun. Jadi ga perlu kuatir kalau lagi jalan tiba-tiba kehausan. Kalau mau hemat, sebetulnya bisa mengisi ulang di keran air minum. Tapi kok saya jarang menemui keran begituan di Tokyo. Alternatifnya, pagi sebelum berangkat plesir saya mengisi ulang air minum di hotel. Hotel-hotel (murah) di Tokyo menyediakan air minum gratis bagi para tamu. Jadi lumayan hemat buat biaya air minum.

Vending machine minuman di salah satu sudut Shibuya. Ajaibnya, semua vending machine yang saya temui ga ada yang rusak.


Tokyo versi modern

Saking demennya sama Jepang, waktu belajar photoshop jaman kuliah dulu saya pernah bikin foto seolah-olah lagi di Tokyo, berlatar belakang gemerlapnya lampu-lampu di kawasan pertokoan. Siapa sangka di tahun 2017 ini saya bisa melihat langsung warna-warni lampu pertokoan di kota Tokyo, baik di kawasan Shinjuku, Akihabara maupun Shibuya. Pusat-pusat shopping di Tokyo tersebut bisa diakses melalui jaringan rel kereta Tokyo Metro. 

Halan halan di Akihabara. Tapi ga ketemu AKB48.

Selfie di Shibuya Cross

Shibuya Cross malam hari

Saya berada di Jepang dari tanggal 30 April sampai 7 Mei. Ternyata, tanggal tersebut pas banget dengan Golden Week, hari liburnya orang Jepang. Ada untungnya ada ruginya juga sih. Untungnya, banyak diskonan di pusat-pusat perbelanjaan. Ruginya, saya gagal ke Osaka karena tiket bus sudah sold out semua. Kegagalan saya ke Osaka akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Kita ngomongin untungnya aja lah yaa.. Berkat Golden Week, turis asing yang belanja di Jepang bisa bebas pajak kalau menunjukkan paspor. Di toko Onitsuka Tiger Shibuya, banyak banget turis asing yang memanfaatkan momen bebas pajak dengan pembelanjaan minimal ¥5.000. Di toko Onitsuka Tiger tersebut, sebagian besar orang Indonesia yang belanja, termasuk saya. 😱 Selain bebas pajak, ada juga tambahan diskon 5%. Sebagai pecinta diskonan minimal 50%, sebetulnya saya merasa terhina. Tapi setelah dikurangi pajak plus diskon 5% tersebut, harga sepatu jauh lebih murah dibandingkan harga di toko online Indonesia.

Shibuya nggak cuma terkenal sama wisata belanja, tapi wisata nyeberang jalan. Rada aneh sih, orang-orang nyeberang jalan aja bisa jadi atraksi wisata gratis. Selama 50 detik, lampu lalu lintas di Shibuya Cross merah. Orang-orang yang mau nyeberang dari keempat sisi langsung melintas secara berbarengan. Salah satu lokasi untuk melihat Shibuya Cross dari ketinggian adalah di lantai dua Starbucks gedung Tsutaya. Penyeberangan lewat zebra cross di Tokyo memang super aman. Kendaraan bakal mengalah pada pejalan kaki yang lagi nyeberang. Berbanding terbalik dengan kota Ho Chi Minh di Vietnam, mau nyeberang aja berasa harus mempertaruhkan nyawa. Tapi di sudut-sudut kota Tokyo seperti Nishi-Azabu, Kiba maupun Minami-Senju yang relatif sepi, ada juga sih akamsi yang asal nyeberang tanpa mempedulikan lampu penyeberangan maupun zebra cross. Tapi karena sepi, jadi ya aman-aman aja.

Kalau ngomongin Shibuya, salah satu ikon yang terkenal adalah anjing Hachiko. Saking terkenalnya, kalau mau foto sama patung Hachiko di depan stasiun Shibuya kudu ngantri sama turis-turis lain. 

Selfie sama Hachiko ❤

Ada satu lagi tempat belanja yang cukup menarik, yaitu di stasiun Tokyo. Meskipun judulnya statsiun, di bagian basement ada juga tempat untuk berbelanja. Tenant yang sengaja saya datangi sampai berlama-lama dan teman saya bete adalah Tomica Shop. Buat yang demen mobil-mobilan Tomica, tempat ini adalah surga! Harga Tomica reguler ga jauh beda sama di Jakarta sih, yaitu ¥450 belum termasuk pajak. Sementara untuk Tomica Premium harganya ¥800-900 belum termasuk pajak. Meskipun dati segi harga ga jauh beda, tapi barangnya komplit. 

Tomica Shop di Stasiun Tokyo

Salah satu hasil buruan di Tomica Shop


Wisata kuil di Tokyo

Di balik gemerlapnya lampu-lampu kota Tokyo, masih tersimpan warisan budaya leluhur berupa kuil yang bisa dijumpai di beberapa tempat di Tokyo. Enaknya, wisata ke kuil-kuil ga dipungut biaya alias gratiiisss.

Salah satu kuil yang wajib dikunjungi adalah kuil Sensoji di Asakusa. Kuil Sensoji adalah kuil terbesar di kota Tokyo. Saya datang ke kuil Sensoji hari Jumat tanggal 5 Mei. Ternyataa.. dari tanggal 5-7 Mei ada perayaan Sanja Matsuri untuk menghormati tiga orang pendiri Sensoji. Jadi saat saya mengunjungi Kuil Sensoji, suasananya rameeeee banget. Karena baru hari pertama, festival Sanja Matsuri yang saya lihat baru mulai dari parade anak-anak. Konon di puncak Sanja Matsuri, suasananya jauh lebih ramai.

Andreas selfie di kuil Sensoji

Parade anak-anak di festival Sanja Matsuri

Di sekitar kuil Sensoji ada deretan kios-kios yang menjual berbagai macam hal. Jajanan, mainan dan pernak-pernik untuk oleh-oleh. Tapi ya gitu. Harganya mahaaaall. Satu buah magnet kulkas harganya ¥400-600. Terlalu mahal buat kantong saya yang pas-pas an. Jadi karena harganya mahal, saya ga beliin oleh-oleh untuk siapapun. Dibilang pelit saya ga peduli, daripada beli oleh-oleh tapi ga bisa makan. 😱

Selain kuil Sensoji, ada juga kuil Nezu di bagian utara Tokyo. Di kuil ini ada deretan gerbang yang selama ini cuma bisa saya lihat di foto instagram orang-orang.

Di Nezu Shrine. Foto: Silvano Hajid

Ada kuil Meiji yang letaknya tak jauh dari Shibuya. Serta kuil Bentendo di tengah-tengah Ueno Park.

Pas ke kuil Meiji, ada pernikahan tradisional Jepang

Kuil Bentendo di tengah Danau Shinobazu


Istana kekaisaran Jepang

Jepang adalah negara monarki yang bertahan cukup lama. Istana kekaisaran yang terletak di tengah kota, tak jauh dari stasiun Tokyo menjadi salah satu daya tarik wisata. Tapiiiii.. istana kekaisaran ga bisa dikunjungi kaya di Thailand maupun Kamboja. Konon, dalam setahun istana kekaisaran Jepang hanya dua kali dibuka untuk umum. Turis yang ingin melihat istana kekaisaran cuma bisa menengok dari kejauhan di jembatan Nijubashi. 

Cuma bisa melihat dari kejauhan tanpa memiliki. Kaya kamu. Iya.. Kamuu..


Patung Liberty di Tokyo

Nggak cuma kota New York yang punya patung Liberty. Di Tokyo juga ada, tepatnya di Odaiba. Untuk menuju ke Odaiba, kita ga bisa pakai Tokyo Metro Subway Pass. Jalur ke Odaiba cuma dilalui Rinkai Line yang artinya kita kudu bayar lagi untuk naik kereta. Ukuran patung Liberty nya memang nggak sebesar di kota New York. Dan sepertinya, Odaiba Statue of Liberty belum menjadi salah satu tujuan turis yang datang ke Tokyo. Bahkan, nampaknya orang Jepang sendiri ga ngeh ada patung Liberty. Soalnya pas udah di pinggir pantai, saya nanya ke anak muda yang lagi nongkrong di sekitar situ. Saya nanyain soal patung Liberty dan mereka ga tau sama sekali.

Mirip New York lah yaaa..


Tokyo Tower

Menara setinggi 332.6 meter yang berdiri tegak di kawasan Minato merupakan salah satu ikon utama Tokyo. Untuk menuju ke sana, saya berhenti di stasiun Akabanebashi menggunakan Tokyo Metro Subway Pass. Keluar dari stasiun Akabanebashi, sosok megah Tokyo Tower langsung terlihat. Saat mengunjungi Tokyo Tower, kebetulan pas menjelang perayaan koinobori, perayaan untuk anak laki-laki di Jepang. Jadi di pelataran Tokyo Tower, terpasang ratusan layang-layang koinobori warna-warni. Untuk naik ke menara dan melihat Tokyo dari ketinggian, sebetulnya nggak mahal. Cuma ¥900 saja. Tapi entah kenapa saya nggak kepingin naik. Ntar aja naik menara Eiffel kalo suatu hari berkesempataj mengunjungi Paris. Jadi saya cuma foto-foto aja dengan latar belakang menara Tokyo. 

Koinobori warna warni di pelataran Tokyo Tower

Foto di taman seberang Tokyo Tower

Kalau ke Jepang, biasanya turis akan mengunjungi Tokyo Disneyland maupun Universal Studio di Osaka. Tadinya saya berniat ke Universal Studio karena pengen ke wahana Harry Potternya. Harga tiket Universal Studio maupun Disneyland sama-sama mahal, sekitar 900 ribuan kalo dirupiahkan. Akhirnya saya ga mengunjungi keduanya. Bukan karena pelit, tapi saya lebih memilih berkunjung ke gunung salju Tateyama dengan tarif lebih mahal, yaitu ¥9000 atau sekitar 1 juta rupiah. Cerita soal gunung salju Tateyama akan saya ceritakan di episode lain.

Sampai jumpa!