Tag Archives: Jakarta

akhirnya gue ke puncak Monas!

Standar

Sejak empat tahun yang lalu, saya sudah tinggal dan kerja di Jakarta. Sejak awal sih saya udah punya KTP Jakarta, yang artinya saya bisa mendapatkan segala fasilitas yang diperuntukka bagi warga Jakarta. Tapi walaupun udah empat tahun di Jakarta, saya belum pernah mengunjungi salah satu bangunan simbol kota Jakarta secara utuh.

Waktu SMP dulu, sekitar 12 tahun yang lalu sih saya pernah ke Jakarta dan mengunjungi Monas. Tapi waktu itu cuma masuk sebentar doang di bagian diorama dan pembacaan teks proklamasi 1945. Saya nggak sempat naik ke puncak menara, padahal pengen banget.

Sejak tinggal di Jakarta pun saya udah beberapa kali ke Monas, tapi buat liputan atau live report doang. Jadi ya tetep aja belum pernah ke puncak menara, yang artinya belum lengkap status saya sebagai warga Jakarta. hehehe.. *agak lebay*

Dulu sih masih sedikit temen-temen asal Jogja yang tinggal di Jakarta. Kalopun ada ya nggak akrab-akrab banget, jadi rada sungkan kalo mau ngajak jalan-jalan unyu keliling Jakarta. Untungnya sekarang udah banyak teman-teman dekat yang pindah ke Jakarta. Jadi udah bisa ngajakin keliling kota Jakarta (buat jalan-jalan, bukan buat kerja).

Akhir 2012 kemaren, saya dan teman-teman pernah mengagendakan untuk mengunjungi Monas. Tapi karena kesibukan masing-masing dan tempat tinggal yang berjauhan, kami baru sempat ke Monas dua minggu yang lalu. Jadi pada hari minggu siang, pas matahari lagi baik hati memancarkan sinarnya, saya dan teman-teman janjian di Monas.

Image

Buat janjian ketemu aja, udah ada drama yang mewarnai. Karena sama-sama belum pernah ke Monas naik motor, kita nggak tahu di mana harus parkir motor. Kita emang pengennya parkir yang resmi, bukan yang di pinggir jalan nggak jelas. Biasanya sih saya ke Monas pake mobil operasional kantor, jadi nggak terlalu susah buat cari parkir. Ternyata parkiran motor pengunjung Monas sama kaya pintu masuk untuk mobil, yaitu di parkiran IRTI.

Udah ketemu parkiran dan bisa masuk halaman Monas ternyata belum menyelesaikan masalah. Kita nggak tau kalo mau masuk ke area menaranya harus lewat mana.Jadilah kami berkeliling pagar Monas sambil berpanas-panasan. Sampe kulit saya jadi hitam. *lhah emang biasane putih?* Buat masuk ke area menara ternyata kami harus nyebrang dulu, terus masuk lewat terowongan bawah tanah. 

Setelah lewat terowongan, kami langsung beli tiket buat masuk ke Monas seharga 5.000 rupiah. Itu tiket untuk orang dewasa. Harganya paling tinggi jika dibandingkan dengan harga tiket masuk untuk anak-anak dan mahasiswa. Kami pikir tiket itu udah bisa membawa kami ke puncak menara. Ternyata belum. Tiket itu cuma buat masuk ke dalam monumen yang isinya diorama dari jaman kerajaan-kerajaan sampai jaman kemerdekaan. Bagus sih dioramanya, kita bisa belajar sejarah sedikit-sedikit. 

Image

Diorama sejarah ada di keempat sisi ruangan di dalam Monas. Di tengah-tengah diorama ada ruangan luas semacam lobi. Di situlah banyak orang-orang istirahat sambil ngadem, bahkan ada yang sampe gelar tiker seolah-olah lagi piknik di rerumputan.

Puas melihat-lihat diorama, kami naik ke bagian atas monumen. Nah di situlah kami harus beli tiket lagi untuk bisa ke puncak menara. Harga tiket untuk dewasa 10.000 rupiah. Tadinya sih kami pengen ngaku-ngaku sebagai mahasiswa biar dapet harga murah, toh wujud kita masih mendukung kok kalo ngaku jadi mahasiswa. Tapi ternyata harus pake kartu mahasiswa segala, jadi ya mau nggak mau kita bayar harga dewasa. *pelit*

Drama selanjutnya dimulai. Karena itu hari minggu, buanyak banget masyarakat yang pengen naik ke puncak Monas. Kaget banget liat antrian di depan pintu masuk lift, isinya manusia semua. Ya udahlah, namanya pengen naik ke puncak emang harus ada perjuangannya. Sama kaya hidup, kalo pengen menuju puncak kesuksesan ya kita harus berjalan selangkah demi selangkah dan kudu sabar.

Image

Kami berdiri di antrian paling belakang sekitar jam 12. Sambil ngantri, kami pun bercerita tentang kehidupan sehari-hari kami di Jakarta. Untung perginya sama teman-teman akrab, jadi nggak terlalu boring nunggu antrian yang kaya nunggu pembagian sembako. Saking asiknya nunggu sambil ngobrol, kami jarang banget pegang henpon buat sekedar update status atau foto-foto. Pokoknya quality time with friends deh..

Tiga jam kemudian.. Ya, tiga jam kemudian kami baru nyampe di depan lift. Apesnya, saya harus ketinggalan di bawah sementara dua temen saya udah naik duluan gara-gara liftnya penuh. Lift di Monas agak aneh, bangunan setinggi itu itungannya cuma 3 lantai. Jadi dari lantai satu ke lantai dua cuma bentar, nah dari lantai dua ke lantai tiga alias puncak Monas tuh panjaaaaaaannngg banget. 

Sampai di puncak, kami langsung disuguhi pemandangan kota Jakarta. Emang inilah yang pengen banget kami lihat dari puncak Monas. Di keempat sisinya kita bisa melihat Jakarta di berbagai penjuru. Dari atas kami bisa melihat hutan beton yang mengelilingi ibukota. Manusia yang ada di halaman Monas pun jadi kelihatan kecil banget, asik deh pokoknya. Di puncak menara juga ada teropong yang bisa dipake buat melihat Jakarta lebih dekat. Mungkin karena usia teropongnya udah tua, jadi lensanya udah nggak terlalu jelas. 

Image

 

Image

Oya, di atas tuh anginnya kenceng banget. Seperti kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon, hembusan angin di puncak juga semakin kencang. Jadi nggak cuma di puncak Monas aja yang hembusang anginnya kencang, di kehidupan kita pun kalo udah mencapai posisi yang tinggi, kita bakal merasakan banyak angin yang pengen merobohkan kita. 

Waktu kami sampai di puncak, cuaca udah mulai mendung, beda banget sama cuaca waktu kami sampai di Monas. Selain anginnya kenceng, kami mulai merasakan titik-titik air menerpa wajah kami, yang artinya kami sudah harus turun. Tiga jam penantian di bawah dan kami cuma menikmati pemandangan di puncak selama 15 menit. Tapi nggak papa, yang penting kami udah merasakan pengalaman yang menurut kami berharga. Bukan di mananya, tapi dengan siapa kita di sana. ^^

Dan untuk turun pun, kami masih harus ngantri buat masuk lift. Nggak sepanjang pas ngantri di bawah sih, tapi tetep aja harus berdiri lagi selama beberapa menit buat turun ke halaman. Turunnya pun ternyata bukan ke lantai satu, tapi di lantai dua yang merupakan “alas”nya menara. Di situ kita bisa keluar dan foto-foto lagi, Hihihi.. Karena waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, kami harus segera meninggalkan area menara karena udah mau ditutup. Dari lantai dua ke lantai satu kami harus menuruni tangga yang berputar-putar dan lumayan jauh. 

Sekarang saya sudah resmi menjadi warga Jakarta seutuhnya. Udah pernah masuk dan naik ke puncak Monas yang membutuhkan perjuangan panjang. Kalo kamu, udah pernah ke puncak Monas belum? ^^

gajah di mata orang buta

Standar

Pernahkah anda mendengar cerita tentang 3 orang buta mendeskripsikan gajah? Jadi begini ceritanya..

Ada 3 orang buta yang baru pertama kali bertemu gajah. Karena tidak bisa melihat, mereka hanya meraba-raba gajah untuk mengetahui seperti apakah bentuk gajah itu. Namun tiap orang meraba bagian tubuh yang berbeda. Orang buta yang memegang bagian telinga berkata bahwa gajah itu tipis seperti kipas. Orang buta yang meraba bagian kaki mendeskripsikan gajah seperti batang pohon yang kuat. Orang ketiga yang meraba bagian belalai berpendapat bahwa gajah itu panjang dan lentur seperti ular.

Tiap orang buta mendeskripsikan gajah sesuai dengan apa yang mereka rasakan. Pengetahuan akan bentuk gajah akan terus tertanam dalam pikiran mereka, jika tidak ada yang memberi tahu bahwa itu hanyalah bagian tubuh gajah. Mereka juga bisa mencari tahu dengan meraba bentuk keseluruhan gajah, sehingga tidak lagi berpikir bahwa gajah hanyalah seperti ular atau seperti kipas atau batang pohon.

Tadi sore saya menonton sebuah program TV di National Geopraphic Adventure channel yang bernama Ultimate Traveler. Program bergenre reality show itu bercerita tentang 6 pemuda asal Inggris yang harus berpetualang dari Jakarta menuju Flores hanya bermodalkan peta dan uang saku 200 ribu rupiah per hari.

Saya tidak tahu apakah reality show buatan Nat Geo sama seperti buatan production house di Indonesia, yang banyak unsur rekayasanya. Namun yang pasti, pada episode yang saya saksikan tadi sore, keenam pemuda yang terdiri dari 3 pria dan 3 wanita itu baru pertama kali datang di Jakarta. Begitu turun dari bandara, mereka berkumpul di suatu tempat untuk kemudian mencari tempat menginap. Dalam perjalanan, mereka melihat gubuk-gubuk di pinggiran jalan tol dan berkata bahwa sepertinya mereka berada di negara yang sangat miskin.

Keenam pemuda itu digambarkan melewati jalanan Jakarta yang super sibuk dan macet. Ada satu adegan dimana keenam orang peserta melewati pedagang-pedagang buah dan salah seorang pemudi menutup hidung seolah-olah ada bau menyengat. Saya tidak tau apa yang dia cium. Namun gambar yang saya lihat, ia hanya melewati pedagang buah pisang. Jadi apanya yang bau?

Drama masih berlanjut saat mereka mendapat hotel untuk menginap. Sebagai orang Indonesia yang sudah 3 tahun tinggal di Jakarta, saya tidak tahu di mana mereka menginap. Yang pasti, mereka menginap di hotel dengan tarif 120 ribu per malam. Peserta membagi diri menjadi 2 kelompok, sehingga tiap kamar dihuni oleh 3 orang. Jadi tiap orang harus membayar 40 ribu rupiah, atau seperlima dari uang saku mereka.

Namanya hotel murah meriah, wajar lah ya kalo kondisinya ga bagus. Para peserta seolah terlihat syok harus bermalam di tempat seperti itu. Batin saya, kalo mau yang enak ya harganya mahal cuy!

Selain program Ultimate Traveler, program Don’t Tell My Mother juga pernah mengangkat tentang Indonesia. Ada 4 hal yang dibahas di program itu. Pertama adalah tentang polisi syariah di Aceh. Kedua adalah tentang kehidupan masyarakat transgender di Yogyakarta. Ketiga adalah pembahasan sebuah pemakaman mewah bernama San Diego Hills di sekitar Jakarta. Terakhir, program ini menggambarkan nasib orang utan di Kalimantan, yang dibandingkan dengan kerjasama antara alam dan manusia di perkebunan kopi luwak.

Dari kedua program tersebut, dapat saya lihat bagaimana Indonesia di mata dunia Internasional. Namun sayangnya, masyarakat internasional hanya melihat sebagian kecil Indonesia dari program-program TV tersebut. Terus terang, jika seandainya saya adalah warga negara asing dan baru pertama kali melihat tentang Indonesia melalui program Ultimate Traveler itu, saya tidak tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. Padahal, masih banyak hal tentang Indonesia yang belum mereka lihat.

Seperti 3 orang buta yang mendeskripsikan gajah berbeda-beda, orang yang hanya melihat sebagian kecil tentang Indonesia dapat berpikir bahwa Indonesia bukan negara yang nyaman untuk dikunjungi. Memang benar bahwa masih banyak kemiskinan, birokrasi yang njelimet, keamanan yang belum sepenuhnya terjamin atau udara yang tidak bersih. Namun masih ada lho budaya Indonesia yang menarik. Masih ada alam yang masih alami dan menarik untuk dikunjungi. Masih banyak kuliner lezat yang menanti untuk disantap.

Mungkin ini PR bagi orang Indonesia, untuk turut menjaga supaya Indonesia menjadi negara yang layak untuk dikunjungi. Supaya masyarakat internasional dapat melihat Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya sepenggal kisah yang disaksikan melalui media. Seperti mata uang yang memiliki 2 sisi, setiap hal pasti juga memiliki 2 sisi, termasuk Indonesia. Indonesia isinya bukan yang buruk-buruk aja kok. Banyak hal-hal positif yang dapat kita kenalkan pada dunia internasional.

🙂

“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7).

Kenapa Jakarta?

Standar

Semua orang Indonesia tentu tahu apa itu Jakarta. Kota besar yang merupakan ibukota negara Indonesia ini merupakan salah satu kota tersibuk di dunia. Bahkan ada pepatah mengatakan “Jakarta tak pernah mati”. Pepatah tersebut memang cocok untuk keadaan kota Jakarta yang tidak pernah sepi, bahkan di pagi buta sekalipun. Maka tak heran jika di Jakarta banyak terdapat mini market dan restoran cepat saji yang buka 24 jam.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 2001. Waktu itu saya ke Jakarta dalam rangka studi wisata yang diadakan sekolah saya. Sudah menjadi tradisi di sekolah saya bahwa siswa kelas 3 SMP akan berstudi wisata ke luar kota. Pada saat itu kami selaku siswa diberi 3 macam pilihan untuk kota yang akan dikunjungi, yaitu Jakarta, Bali atau Jakarta-Bogor-Bandung. Setelah diadakan jajak pendapat, diputuskan bahwa kami akan berstudi wisata ke Jakarta-Bogor-Bandung.

Sebagai remaja berusia 14 tahun, kemegahan kota Jakarta begitu menakjubkan. Saya melihat begitu banyak gedung pencakar langit. Begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Saya juga melihat secara langsung bangunan bernama monas yang merupakan simbol kota Jakarta. Saya dan rombongan mengunjungi beberapa tempat wisata dan sejarah, seperti Dufan, Lubang Buaya, Monas, Keong Mas, Mangga Dua, PP Iptek dan sebagainya.

Selain kekaguman saya tentang kemegahan Jakarta, pada saat itu saya juga prihatin pada polusi dan kemacetan di kota ini. Sebagai rombongan studi wisata, tentu saya pergi dari tempat yang satu ketempat yang lain menggunakan bus besar. Saya merasakan lamanya berada dalam perjalanan karena macet dimana-mana. Saya juga melihat dari kejauhan, gedung-gedung pencakar langit seperti tertutup kabut yang ternyata adalah polusi kendaraan bermotor.

Ketika saya dan rombongan meninggalkan Jakarta, saya bertanya-tanya dalam hati apakah suatu hari nanti saya dapat kembali ke kota ini. Kini sudah 10 tahun berlalu sejak saat itu dan sudah 2 tahun lebih saya tinggal di Jakarta. 2 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berkenalan dengan kota Jakarta. Kota yang nampak indah dan megah jika dilihat dari kejauhan. Kota yang menjanjikan impian dan kesuksesan bagi siapa saja yang datang untuk mengadu nasib.

2 tahun tinggal di Jakarta, saya melihat beberapa hal menyebalkan dari kota ini. Saya tidak suka kendaraan umum seperti Metro Mini, Kopaja, angkot dan bajaj yang berasap tebal dan berjalan seenak wudelnya sendiri. Saya tidak suka kemacetan yang merusak mood dan menyebabkan saya terlambat. Saya tidak suka genangan air yang menyebabkan kendaraan hampir mogok. Saya yakin hal yang saya alami tersebut pasti dialami juga oleh penduduk Jakarta lainnya.

Jika begitu banyak hal menyebalkan di Jakarta, lantas mengapa saya masih mau tinggal di sini? Jakarta bukan hanya sekedar Ibukota negara. Jakarta adalah pusat dari berbagai hal di Indonesia. Pusat pemerintahan, pusat perekonomian, pusat bisnis, pusat hiburan, pusat informasi dan pusat-pusat lainnya. Passion saya adalah bekerja di bidang jurnalistik televisi dan saya memang ingin bekerja di stasiun televisi nasional. Nah, karena semua stasiun TV nasional ada di Jakarta, maka mau tidak mau saya berusaha untuk mendapatkan apa yang saya inginkan di kota ini.

Tidak salah jika banyak orang ingin tinggal dan bekerja di Jakarta. Yang salah adalah orang-orang yang datang tanpa tujuan, tanpa pendidikan dan tanpa ketrampilan. Jika apa yang kita inginkan hanya ada di Jakarta, maka tidak ada salahnya jika kita mencoba dan berusaha mendapatkannya. Namun jika apa yang kita impikan dan cita-citakan masih terbuka di tempat lain, maka sebaiknya kita mencoba juga di tempat itu.

Saat ini saya belum menjadi “orang sukses” di Jakarta. Namun saya yakin, dengan kerja keras dan doa, suatu hari nanti saya akan menjadi orang sukses di kota ini. Menjadi seorang jurnalis televisi yang baik dan berprestasi. Saya yakin bahwa kita dapat menjadi orang sukses di bidang apapun yang kita geluti jika kita selalu yakin dan percaya.

🙂